Cast :
ALL SUPER JUNIOR MEMBERS

WARNING : NC17++ ; YAOI
RATED : M (MATURE)

NOTED : Di chapter ini, ada adegan dewasa nya. Kalau belum cukup umur, jangan coba coba buat baca, ya. Kalo masih bandel, resiko tanggung pembaca. Ngga terima bashing abis bacanya. Thanks.


#Chapter 19#

~The Hidden Memoar~

Leeteuk terduduk sedih di ranjang milik nya di kamar nya sendiri. Sudah dua hari dia tidak tahu kabar Ryeowook lagi sejak Heechul menyembuhkan nya. Meskipun dia melihat sendiri bagaimana Ryeowook kembali pulih, tapi dia masih belum tenang karena di belum melihat Ryeowook sadar. Hati kecil nya merasa ada sesuatu yang salah. Dan rasanya ingin sekali dia melarikan diri dari kamarnya dan melihat Ryeowook, hanya untuk memastikan bahwa Ryeowook sudah lebih baik.

Tapi dia tahu, dia tak bisa melakukan nya. Ini perjanjiannya dengan Heechul. Heechul memang tidak mengurungnya. Tapi Heechul meminta nya untuk tidak menemui Ryeowook lagi selamanya. Dan dia menyanggupinya.

Dia tahu, dengan kemampuan malaikatnya, dia bisa dengan mudah ke tempat Ryeowook, lalu kembali lagi ke kamarnya dalam waktu yang sama. Tapi, sebagai malaikat, menjaga janji adalah yang terpenting.

Ingatan nya kembali ke masa lalu. Masa dimana semuanya di mulai. Masa dimana dia di bunuh oleh Ryeowook menggunakan senjatanya sendiri, walaupun mereka adalah kakak adik dan merupakan malaikat malaikat terpilih. Dengan Heechul di belakang Ryeowook, yang memanasi Ryeowook agar membunuhnya. Jadi, sebenarnya, Heechul lah yang telah membunuhnya. Atau menyebabkan nya terbunuh.

Tunggu dulu.

Leeteuk tercekat. Lalu membandingkan Heechul yang sekarang dan di masa lalu.

Ah, tidak. Heechul yang dulu dan sekarang selalu sama. Melindungi nya sampai kapan pun. Dan bukan mencoba membunuh nya.

Lalu, apa benar saat itu terjadi, yang mempengaruhi Ryeowook adalah Heechul?

Leeteuk terpejam. Mencoba mengingat kejadian saat itu. Meski hampir mati, tapi dia juga mendengar Yesung berteriak memanggilnya. Kemudian suara Hangeng, dan terakhir... Heechul.

Mata Leeteuk terbuka lagi lebih lebar. Siapa itu? Siapa yang menghasut Ryeowook? Siapa yang memanggilnya? Apakah dua dua nya benar benar Heechul?

Leeteuk mencoba mengingat lagi. Lalu dia menyadari tiga hal yang mengganjal.

Yang pertama, kemampuan Heechul.

Heechul, tidak akan terjatuh separah itu saat terkena sinar yang di pantulkan nya saat Ryeowook menyerangnya dulu. Apalagi terluka. Ralat. Heechul tidak akan memar sedikit pun karena sinar putih saat itu di keluarkan oleh Ryeowook. Dan bukan di keluarkan oleh nya. Pemilik asli tongkat itu.

Kedua, suara Heechul.

Suara Heechul memang lembut dan selalu menenangkan. Tapi jika dia sedang bersikap seperti iblis, suaranya tidak lembut. Suaranya terdengar tajam dan licik. Sementara, saat menghasut Ryeowook dulu, suara itu terdengar bagai suara yang begitu pandai menggoda dan merayu.

Dan yang terakhir... mata Heechul.

Mata Heechul selalu berwarna coklat terang dan berubah menjadi kilat keunguan hanya saat marah. Sayap Heechul dan bahkan asap iblis miliknya pun berwarna hitam keunguan. Tapi sewaktu itu, bukan warna warna itu yang di lihatnya. Warna mata Heechul saat berusaha menghasut Ryeowook saat itu tidak ungu, maupun coklat. Akan tetapi... berpendar kehijauan.

Kesimpulan terakhir yang di dapat Leeteuk setelah menyadari semua fakta mengerikan itu...

Tak salah lagi. Leeteuk mengeretakkan giginya.

"Sial!"


"Oy, Hyung! Sedang apa kau?"

Kibum memberengut saat tiba tiba lamunan nya di putus dengan teriakan ceria yang di lakukan Henry. "Sedang mandi."

"Oh ya?" Henry memiringkan kepalanya. "Sepertinya tidak basah. Perlu di tambah?" ujarnya sembari mengangkat gelas yang ada di depan Kibum dan menyunggingkan cengiran lebar nya. Yang membuat Kibum semakin cemberut.

"Ku pastikan kau akan mandi bersama ku, Hen. Lihat saja."

"Tenang, Hyung," Henry menjawab dengan suara pongah nya, "aku sudah mandi. Lagipula, aku tak mau mandi berdua dengan mu. Bisa mimpi buruk."

"Kurang ajar. Siapa yang mengajak mu mandi berdua? Kau mulai sinting ya?!" umpat Kibum.

Henry tertawa puas mendengar umpatan Kibum. "Jadi, kau sudah cukup manusiawi untuk menceritakan masalah mu kali ini?"

Kibum melongo sejenak. "Seperti nya kau selalu tahu kalau aku punya masalah, ya?"

"Di dahi mu, tertulis besar besar : SAYA PUNYA MASALAH."

"Kau pikir, dahi ku itu papan tulis?"

Henry tertawa lagi. "Papan tulis transparan. Jadi, kenapa lagi?"

Kibum menghela napas sejenak. Teringat percakapannya dengan kedua Hyung nya semalam. "Hyungdeul menyuruhku tinggal di rumah Leeteuk Hyung."

Henry mengerucutkan bibirnya. "Waeyo?"

"Mereka takut dengan keselamatan ku."

"Tinggal dengan ku saja," ucap Henry lagi. Kibum mengangkat bahu.

"Sudah ku katakan. Tapi mereka tetap bersikeras menyuruh ku ke rumah Leeteuk Hyung."

"KangHyung dan WookHyung yang menyuruh mu?"

Kibum menatap Henry dengan jengkel. "Tak bisakah kau menyebut mereka dengan sebutan yang lebih baik?"

"Yah...," Henry mengangkat bahunya. "Lagipula, memangnya kenapa dengan keselamatan mu?"

"Ehem..," Kibum berdeham sejenak, "katanya, Vampire akan mengincar ku."

Henry tertawa geli. "Memangnya mereka bukan Vampire?"

"Mereka Vampire palsu," tukas Kibum, "jadi mana bisa melawan Vampire asli yang jutaan kali lebih kuat dari mereka?"

"Bahkan Heechul Hyung dan Yesung Hyung pun takut dengan mereka. Apanya yang palsu?"

"Mereka takut Leeteuk Hyung yang celaka, bodoh," cela Kibum, "kalau Leeteuk Hyung di bandingkan dengan Kangin Hyung dan Ryeowook Hyung, tentu saja mereka cemas."

Henry merengut. "Aku juga pasti cemas jika Leeteuk Hyung di sekitar mereka."

Kibum mengangkat alisnya. "Kau masih mencemaskan Leeteuk Hyung?"

Henry menaikkan ujung bibir nya. "Tentu saja. Aku masih menyukai nya. Ani. Aku mencintainya."

"Kalau begitu, kenapa masih marah padanya?" Kibum menatap Henry.

Henry menunduk. "Setelah semua kebodohan ku karena menghindarinya, membuat nya sedih, dan aku masih menyukainya. Tapi aku tidak ingin terluka lagi karena dekat dekat dengannya, lalu melihat dia mempedulikan orang lain selain aku. Itu menyakitkan, Hyung. Kau juga tahu itu."

"Memang. Tapi menurut ku itu bukan alasan," Kibum menepuk pelan pundak Henry. "Asal kau tahu, jika dia menyuruh ku menyingkir secara terang terangan pun, aku tak akan pergi dengan mudah. Perasaan ku pada nya tidak sedangkal itu. Itulah yang membuatku memilih bertahan di samping nya, saat seluruh dunia membenci nya. Dan aku juga tahu, kau sangat bodoh."

Henry tertawa lirih mendengar celaan Kibum, "memang nya aku dunia?"

"Untuk nya, di benci oleh mu, sama saja seperti di benci dunia," jelas Kibum.

Henry menatap Kibum sejenak. "Jinjja?"

"Tanya saja pada nya sendiri," Kibum mengedikkan bahu nya.

"Huh?" Henry menoleh ke belakang mengikuti arah pandangan Kibum, lalu berbalik lagi, dan melotot pada Kibum.

"Kenapa tidak bilang kalau dia sedang mendekat?" desisnya tertahan.

Kibum tertawa tertahan. Namun, sebelum dia sempat menyahuti Henry, suara Leeteuk yang halus menyela pembicaraan mereka.

"Ah, boleh aku bergabung dengan kalian?" tanya Leeteuk hati hati. Napasnya agak tersengal, membuat Henry dan Kibum keheranan.

"Kau lari, Hyung?" tanya Kibum, memastikan. Leeteuk tersenyum canggung.

"Aku... hanya... eum...," Leeteuk melirik canggung ke arah Henry. Dan Kibum juga menatapi Henry, mengikuti Leeteuk.

Henry memasang wajah datar. "Kalau maksud mu berlari karena tak ingin keduluan aku yang kabur, ku beritahu saja, aku bisa kabur bahkan walau kau sudah di sini."

"Hen!"

"Yah...," ucap Leeteuk dengan lirih, menyela Kibum yang hendak menghardik Henry. "Aku hanya ingin meminta maaf pada kalian." Leeteuk menunduk. Airmata nya menitik. "Maaf..."

Lalu Leeteuk berbalik. Melangkah pergi menjauhi mereka dengan langkah yang pelan. Menunduk gontai.

"Hyung!" Henry menarik tangan Leeteuk. Lalu memeluknya dengan cepat. Leeteuk kaget sejenak.

"Hen...?"

"Katamu mau bergabung dengan kami?"

"Kau... bukannya... ung..." Leeteuk tak jadi melanjutkan pertanyaannya.

"Aku kenapa? Kamu mau bilang kalau aku masih marah pada mu? Masih membenci mu? Begitu?"

Terasa anggukan dari Leeteuk yang masih di pelukan Henry. "Aku sangat merindukan kalian. Tapi kalian menolakku. Menjauhi ku. Membuatku merasa di buang. Aku memang egois, Hen. Aku ingin kalian tetap di samping ku. Aku... menyayangi kalian..."

"Kau menangis, Hyung?" Henry melepaskan pelukannya. Menatap Leeteuk. Leeteuk hanya menunduk. Wajahnya memerah.

"Baju mu basah," ucap Kibum enteng, menunjuk baju Henry. Henry menahan senyum.

"Aku tahu. Tapi aku ingin dengar langsung dari yang bersangkutan," balasnya pada Kibum.

"Eh..." Leeteuk salah tingkah, melihat baju Henry di bagian dada nya, ada bekas titik air yang membasah.

Henry dan Kibum berpandangan, lalu tertawa kecil. "Gwaenchana, Hyung. Maaf, aku sudah bertindak bodoh, belakangan ini," ucap Henry sembari mengelus pipi Leeteuk yang agak lengket karena airmata.

"Yah, aku juga minta maaf, Hyung. Karena tidak bisa mengatur bocah kekanakan ini, dan justru ikut ikutan menghindari mu. Padahal, aku rindu sekali dengan mu."

Leeteuk menyunggingkan senyum nya dengan canggung. Wajahnya merona. "Jadi... kalian.. sudah tidak marah padaku?"

"Tentu saja. Lagipula, mana mungkin aku tega melihat malaikat menangis begini? Apalagi, malaikat itu menangis karena ku," gurau Henry.

"Aku sudah tidak tega dari lama," timpal Kibum, "tapi kau menarikku menjauh dari nya. Sepertinya dosa ku semakin besar karena membuat malaikat menangis dan membiarkan nya."

"Ng..." Leeteuk menggaruk belakang kepalanya dengan canggung, "kenapa kalian memanggilku malaikat?"

"Memang kenapa? Max saja boleh memanggil mu begitu," sela Henry.

"Max?" ulang Leeteuk polos.

"Siwon Hyung," jelas Kibum geli. Dan Leeteuk mengangguk mengerti.

"Cuma karena dia memanggilku begitu?"

"Iya. Kenapa? Aku tidak boleh memanggilmu begitu?" Henry memprotes.

"Eum, menurut ku, sih, karena memang kamu mirip malaikat, Hyung," Kibum langsung menyela sebelum Leeteuk sempat menjawab pertanyaan Henry.

"Eum...," Leeteuk hanya memandangi mereka masih dengan canggung.

"Ah ya, Hyung," Kibum melompat ke depan Leeteuk dan dalam sekejap mengambil alihnya dari Henry, membuat Henry merengut. "Boleh aku menginap di rumah mu untuk waktu yang tidak di pastikan?"

Leeteuk mengangguk dengan pandangan bertanya tanya. Dan Kibum menyadarinya. Tapi dia tidak menjelaskan apapun.

"Kali ini kau tidak boleh ikut!" tunjuk Kibum langsung ke arah Henry yang baru saja ingin menyahuti mereka.

"Yaa! Wae?!"

"Aku punya urusan dengan Leeteuk Hyung dan dua bodyguard nya," kerling Kibum. Lalu berpaling lagi pada Leeteuk. "Thanks Hyung."


"Kau cukup lambat untuk ukuran Vampire senior."

Eunhyuk memasuki ruangan gelap dengan gema suara itu. "Aku hanya berhati hati."

"Kehati hatian mu tidak berpengaruh lagi. Bahkan kemampuan mu tidak berguna. Dan masalah yang kau timbulkan, juga tidak berguna."

"Mengapa? Masalah itu tidak lagi berfungsi?"

"Bukan itu saja. Masalah itu bahkan akan menjadi bumerang buat mu. Kau sudah menghadapi nya, kan?"

"Lebih kuat dari yang ku bayangkan," gumam Eunhyuk.

"Itulah kecerobohan mu. Ku peringatkan, sebaiknya berhati hati dengan orang itu. Dia tidak bodoh. Kau tahu?"

Eunhyuk mengangguk kaku. "Aku tahu, Master."

"Bagus. Sekarang, kau tahu tugas mu?"

Eunhyuk mendekati pemilik suara itu. "Aku tahu."

"Show me."

Eunhyuk membuka baju nya. Yang di iringi oleh musik menghentak yang tiba tiba muncul dan menggema di ruangan gelap itu. Eunhyuk mulai menari dengan gesit. Lama lama, tarian nya menjurus ke arah erotis. Dia mendekati satu satu nya orang yang ada di ruangan gelap itu, meliukkan tubuhnya ke tubuh orang itu.

"Touch me, Master," bisik Eunhyuk kepada orang itu.

Orang yang di panggil Master oleh Eunhyuk itu merengkuh pinggang Eunhyuk. Menariknya dan memeluknya. Dia menyusupkan wajahnya ke leher Eunhyuk. Menjilati nya dengan nikmat. Sementara Eunhyuk menggeliat erotis merasakan sentuhan basah di leher nya.

Eunhyuk ikut menyusupkan wajahnya ke leher Master nya itu. Mengecup cuping telinga Master nya dan melumatnya perlahan. Sementara kedua tangan nya sudah memeluk tubuh Masternya dan mengelus punggungnya.

Lalu Eunhyuk menciumi leher Sang Master, yang kemudian menandai nya. Mengetahui itu, Master nya langsung melepaskan pelukannya. Menghempaskan Eunhyuk ke lantai.

"Mas... ter?" Eunhyuk memanggil dengan lirih. Antara rasa sakit dan rasa kecewa karena sentuhan dari Masternya terlepas dari nya.

"Jangan pernah menandai ku," ucapnya dingin. Tapi lalu, dia membantu Eunhyuk berdiri lagi. Dengan sihirnya, tiba tiba saja Eunhyuk sudah terikat.

"Hanya aku yang boleh menandai mu. Bukan sebaliknya."

Eunhyuk mengangguk pasrah. "Baik, Master."

Dan lalu, di ruangan gelap itu, terdengar desahan desahan erotis di sertai pekikan kecil, yang tentu saja berasal dari mulut Eunhyuk. Sepanjang malam.


Heechul memperhatikan Leeteuk dari belakang, saat Leeteuk sedang menyiram bunga bunga yang ada di pekarangannya dengan hati hati. Dengan senyum yang terkembang di wajahnya.

Leeteuk menoleh, saat merasa ada yang memperhatikan nya sedari tadi. "Chul Chul... wae?"

"Kenapa kau begitu manis, eum?"

"Eh?"

"Aku jatuh cinta pada mu sedari dulu. Berharap bersama mu, di samping mu, melindungi mu dengan tangan ku sendiri. Tapi, aku tahu, kita berbeda."

"Chul Chul... apa yang kau katakan?"

Heechul mendekati Leeteuk. Mata coklat nya yang selalu menenangkan bagi Leeteuk, kini terasa seperti hendak membaca seluruh pikirannya. Tapi Heechul tidak bisa lagi membaca pikirannya. Tak heran. Heechul bisa membaca pikiran semua makhluk hidup yang kemampuannya berada di bawah nya. Tapi, bagi yang memiliki kemampuan berada di atasnya, Heechul tidak mampu menjangkau nya. Dan Leeteuk adalah salah satunya. Tentunya karena dia sudah memiliki kemampuan dan ingatannya tentang dirinya sendiri.

"Aku tahu, kau menyembunyikan sesuatu dari ku," ujar Heechul dengan senyum lembut, sesuatu yang sering di lakukannya hanya jika berdua dengan Leeteuk saja, "dan aku tak akan menanyakan hal itu padamu."

Leeteuk memandanginya dengan bingung bercampur cemas. Apakah ucapan Heechul ini, menyiratkan bahwa dia sudah tahu kalau Leeteuk telah mendapatkan ingatannya kembali?

"Tapi aku ingin jujur," lanjut Heechul lagi, "hal yang harusnya ku lakukan dari dulu, semenjak kita pertama kali saling mengenal. Bahwa aku menyukai mu."

Heechul memandangi Leeteuk yang menatapnya dengan wajah takjub, lalu tersenyum lagi. "Aku hanya menyukai mu, saat itu. Tapi lalu, dengan segala kebaikan mu, kau tidak memusuhi ku yang sangat bertolak belakang dengan mu. Menerima ku apa adanya. Dan tidak takut sama sekali padaku. Harusnya aku yang takut padamu, tapi pembawaan dirimu tidak menyeramkan, namun begitu lembut dan menyenangkan. Dan entah sejak kapan, pandangan ku hanya tertuju pada mu."

"Chullie...?" Leeteuk mencoba meraih tangan Heechul. Menggenggam nya dengan lembut. Membuat Heechul kembali tersenyum tulus untuk nya.

"Tapi lalu, sesuatu mengubah mu. Kau memusuhi ku, menjauhi ku. Tanpa aku mengerti mengapa kau bertindak begitu. Leeteuk ku adalah Malaikat sempurna. Mengapa tiba tiba perilaku mu berubah? Aku hanya bisa menjauhi mu, sampai peristiwa itu terjadi..."

Leeteuk mulai mengerti arah pembicaraan Heechul. Tapi dia tetap memasang wajah polos dan pandangan bertanya tanya.

"Maaf aku tak bisa menolongmu saat itu. Tapi tak bisa juga melepasmu. Hingga kau ada di sini bersama ku. Aku tak ingin lagi kehilangan mu. Walau tak bisa memiliki mu, setidak nya aku tak lagi kehilangan mu. Kau mengerti, kan? Itu sebabnya, aku mengajukan syarat itu pada mu. Tolong jangan memasang wajah sedih dan tertekan lagi sepanjang hari. Aku tidak tahan melihat nya."

"Heechullie...," Leeteuk perlahan menyentuh pipi Heechul, untuk menghapus kristal bening yang mengalir turun. Membuat Heechul menunduk.

"Tapi akhirnya aku mengerti, perasaan tak bisa memaksa kita melakukan hal sebaliknya. Aku mengerti sekali. Untuk itulah, hari ini, aku akan mencabut seluruh pengawasan ku pada mu. Juga syarat ku yang terakhir. Dengan kata lain, hari ini, kau akan menjadi seorang Leeteuk yang tanpa bayang bayang Heechul dan Yesung. Biar aku yang pergi dengan Yesung."

Heechul menoleh ke arah pintu, dan Leeteuk mengikuti arah pandangnya. Dan mendapati ada sosok Yesung di sana.

Leeteuk menatap Heechul dengan cemas. "Kajima."

Heechul membulatkan matanya. Tersenyum lucu, walau kini mata nya mulai di penuhi kristal kristal bening lainnya yang siap jatuh. "Wae?"

"Kajima. Kajima." Leeteuk menggenggam tangan Heechul dengan erat. "Jebal..."

Yesung menghampiri Heechul dan Leeteuk. Menepuk pelan bahu Leeteuk. "Aku pamit."

"Andwae! Andwae!" jerit Leeteuk. Dia langsung memeluk lengan Yesung, dengan genggaman tangan nya di Heechul juga menguat. "Jangan meninggalkan ku!"

"Leeteukie...," Yesung berusaha melepaskan pelukan Leeteuk dengan pelan pelan, "kau sudah bisa menjaga diri mu sendiri. Kau sudah tidak membutuhkan kami. Ini saat nya kami berdua kembali ke tempat asal kami."

"Kalian mau meninggalkan ku?" tanya Leeteuk histeris.

Heechul melepaskan genggaman tangan Leeteuk padanya, dan melayang menjauh.

"Kau tidak membutuhkan kami lagi," ucapnya, mengulang kata kata Yesung dengan suara yang lebih kaku.

Leeteuk menggeleng. "Aku membutuhkan kalian!"

Yesung melayang menghindari Leeteuk dan menghampiri Heechul. "Berangkat sekarang?"

"Heechul jahat!" teriak Leeteuk saat dia melihat Heechul mengangguk menjawab pertanyaan Yesung. "Untuk apa selama ini kau bersama ku?!"

"Hanya untuk melindungimu," jawab Yesung, mewakili Heechul yang tidak dapat mengatakan apapun. "Dulu kau begitu lemah. Itu sebabnya kami datang. Tapi sekarang, kau sudah kuat. Kau tidak lagi membutuhkan kami."

"Baik!" jerit Leeteuk. "Pergi saja! Lindungi diri kalian sendiri! Seperti kata mu, Kim Heechul, perasaan tidak bisa memaksa kita melakukan hal sebaliknya! Tapi aku bisa memaksa diri ku melakukan hal yang sangat di tentang oleh hati ku saat ini!"

Selesai mengucapkan kata kata itu, Leeteuk menarik Heechul dan Yesung keluar pagar rumahnya, dan mendorongnya keluar menjauhi rumah nya.

"Silakan pergi!" bentak nya dengan isakan yang tertahan. "Ku harap, keputusan kalian adalah keputusan yang tidak di tentang oleh hati kalian sendiri! Aku benci kalian! Ku harap kalian bahagia telah menyakiti hati ku!"

Leeteuk membanting pintu pagar rumahnya. Berlari masuk dan mengunci pintu rumah setelah membantingnya lagi dengan sekuat tenaga.

Heechul menunduk sedih. "Aku memang benar benar iblis tingkat tinggi. Menyakiti hati orang yang begitu ku sayang."

Yesung menepuk bahu Heechul dengan pelan. "Ini yang terbaik. Yang Mulia tidak akan memaafkan Leeteuk jika dia sampai menemukan kita masih berada di sampingnya."

TBC-


Huweee :'( ff ini terancam tidak selesai (menggantung) nih, reader :"( eotthokhe? :"( *berlinang airmata*soalnya saia sedang mengalami dilema mesti di bawa kemana nih ff :'( endingnya sih udah kebayang di otak, nah, jalan menuju endingnya itu loh yang kagak tau :( doain yah biar saia bisa menyelesaikan ff ini meskipun tertatih tatih(?) hiks :'( *curcol dadakan*

and then, mind to review? ^^ gomawo~