Cast :
ALL SUPER JUNIOR MEMBERS
"Masalahnya, berjanji dengan mu itu tidak sama dengan yang lain nya. Berjanji padamu, maka aku harus menepati nya sebaik mungkin. - Heechul"
#Chapter 22#
"Hentikan, Soo... Jangan membuat dirimu kembali terikat takdir yang sama..."
"Siapa kamu?" Leeteuk memiringkan kepalanya, menatap datar pada seseorang yang sedari tadi memanggilnya dengan sebutan 'Soo'.
"Aku, Kyungie mu.."
Leeteuk memegangi kepalanya tiba tiba, lalu bergerak limbung, dan Heechul adalah orang pertama yang menyambutnya.
"Teuki? Gwaenchana?"
Leeteuk mendongak. Menatap Heechul. Sesaat, Heechul merasa Leeteuk tak mengenalinya, menimbulkan perih dalam hatinya. Tapi lalu, Leeteuk menjatuhkan dirinya dalam pelukan Heechul. Menangis dalam pelukannya, meskipun di tonton oleh banyak orang.
"Aku tidak ingin ingatan ini... aku tidak ingin mengingatnya. Chul Chul, tolong hapus semua ingatan ku ini..."
Rasa yang lebih sakit dibanding bertarung mati matian yang pernah di rasakan Heechul adalah, saat dia menyaksikan Leeteuk menangis tanpa daya seperti ini. Heechul mengeratkan pelukannya. Berusaha meredam isak Leeteuk dalam pelukannya.
Heechul merentangkan kedua sayapnya. Sembari memeluk Leeteuk, dia melayang memasuki rumah yang pernah di tinggalkan nya. Rumah yang sebenarnya sudah di tempatinya begitu lama bersama dengan Leeteuk dan Yesung.
"Kau sudah dewasa, apa tidak malu menangis begini?" Heechul mengelus pelan rambut Leeteuk. Samar samar, dia mencium aroma wine menguar dari tubuh Leeteuk. Dan setiba nya di kamar Leeteuk, dia terbelalak melihat betapa kamar itu sangat berantakan dan, tentu saja, ada berbotol botol wine yang sudah kosong menggeletak begitu saja dengan sembarangan.
Dia menatap Leeteuk yang masih terisak pelan meski sudah mulai terlihat tenang. Tak ada jawaban sama sekali yang berniat di berikan oleh Leeteuk.
"Soo... Jung Soo ya..."
Heechul menoleh ke arah pemilik suara. "Han, tolong jangan menganggu Leeteuk lagi."
"Tidak bisa, Heechul. Aku menunggu begitu lama untuk hari ini."
"Pergi!" teriak Leeteuk, memeluk Heechul erat. "Aku hanya mau Heechul di sini. Aku tidak mengenal mu!"
"Jangan bohong, Soo. Aku tahu ingatan mu telah pulih."
"Aku tidak mengenal mu. Pergi!"
"Han, ku mohon, pergi lah," ucap Heechul, merasakan tubuh Leeteuk yang gemetar. "Tolong pergi."
"Biar ku urus," ucap Yesung tiba tiba, ada di samping Hangeng, lalu menyeret nya pergi. Sementara Kangin, Ryeowook dan Kibum hanya memperhatikan Leeteuk dan Heechul dari luar kamar Leeteuk. Tak berani masuk lebih jauh, sekaligus menjaga agar tidak ada Vampire jahat lain yang menerobos rumah Leeteuk lagi seperti tadi. Meski Sungmin dan Eunhyuk sudah di usir pergi oleh Yesung saat Heechul membawa Leeteuk masuk, tetap saja mereka cemas. Apalagi, sedari tadi, mereka tidak melihat Donghae bersama Sungmin dan Eunhyuk.
"Bagaimana, Hyung? Kau tidak apa apa?" baru saja Kangin, Kibum dan Ryeowook memikirkannya, orang itu sudah muncul mendadak di kamar Leeteuk. Tentu saja. Karena kemampuan Donghae adalah teleport.
Leeteuk mengangguk lemah, sementara Donghae menggeleng. "Aku heran, kenapa kau mau di kuasai pikiran masa lalu mu?"
Heechul menatap Donghae tajam. "Vampire bau jangan ikut ikut masuk ke kamar Leeteuk. Kau membuat yang lain dalam masalah."
"Tenang saja, aku sudah menyembunyikan bau darah ku dan juga aura Vampire ku, Iblis jelek. Lagipula, aku juga sudah pakai parfum."
"Pantas bau nya semakin tidak jelas," cela Heechul, "dasar Vampire gadungan."
Donghae mengangkat bahunya. "Lebih baik aku dibanding Iblis yeoja."
Heechul melotot. "Kau buta? Aku ini namja."
"Dengan rambut panjang begitu mau di akui sebagai namja?" cibir Donghae, "sama sekali tidak pantas, kau tahu? Coba berkaca lah dengan cermin yang kebetulan sedang ada di sampingmu itu."
"Kau mencari masalah dengan ku, Vampire gila?"
"Kau yang mulai duluan, Iblis sinting."
"Sudah, cukup," sela Leeteuk pelan, namun bisa menahan kata kata Heechul yang hendak membalas Donghae lagi.
Donghae menyeringai puas, sementara Heechul memberengut. Namun hanya sebentar, karena Leeteuk menyandarkan dirinya pada Heechul lagi, dan memejamkan mata.
"Ku mohon, jangan pergi. Jangan pernah pergi lagi meninggalkan ku..."
Heechul menghela napas. "Kau juga tahu aku harus pergi, Teuki..."
"Kenapa?" Leeteuk terisak pelan. "Kau tidak mau marah pada ku? Aku menghabiskan seluruh wine yang kau kumpulkan. Aku tidak menyentuh makanan sama sekali. Aku bolos kuliah dan aku juga mengacak acak kamar ku."
Heechul memeluknya lebih erat. "Aku tidak akan marah padamu. Dan kamar mu bisa ku bereskan lagi."
"Kau tidak marah padaku?"
"Kau mau aku marah?"
"Marah saja padaku," Leeteuk menangis lagi, "aku tidak suka kau marah pada Donghae hanya karena masalah kecil, namun tidak memarahi ku karena kekacauan yang ku buat. Kenapa tidak marah? Harusnya kau lebih marah."
"Teuki..." Heechul mengelus lembut rambut Leeteuk yang kini berwarna abu abu.
"Ehm, sebenarnya aku tidak mau menyela adegan romantis ini," ujar Donghae, membuat Heechul menoleh ke arah nya, sementara Leeteuk tetap diam di dalam dekapan Heechul, "Tapi sepertinya..."
"Yesung sedang berkelahi dengan para Wolfhound," ucap Leeteuk pelan, menyambung kata kata Donghae.
"Bagaimana bisa?" Heechul terbelalak.
"Karena Yesung mencegah Hangeng masuk ke dalam. Dan begitupun dengan Kangin, Ryeowook dan Kibum," tambah Donghae.
Heechul ingin beranjak, namun kedua tangan Leeteuk memeluknya dengan erat. "Mau kemana?"
"Membantu Yesung, tentu saja."
"Aku bisa membantu nya, asal kau berjanji untuk tetap bersama ku."
"Teuki... sudah ku katakan, aku tak bisa..."
"Kalau begitu, aku tak akan membiarkan mu pergi," ucap Leeteuk lagi, sembari mengeratkan pelukannya.
"Leeteukie..."
"Aku tak membiarkan mu pergi, Chul Chul. Tidak boleh!"
"Mengertilah," ronta Heechul pelan, "Yesung adalah adikku. Mana mungkin aku tidak membantunya?"
"Aku tidak mau mengerti. Kau saja tidak mau mengerti dan menuruti permintaan ku!"
"Hanya kali ini, Leeteukie. Hanya kali ini aku tidak menuruti keinginan mu. Sebelum nya, apa aku pernah membantah keinginan mu?"
"Justru itu. Aku egois. Karena kau memanjakan ku, aku menjadi egois. Aku ingin kau dan Yesung tetap di sini. Aku juga ingin membantu Yesung. Lalu apa salah nya berjanji untuk tidak meninggalkan ku lagi?"
"Masalahnya, berjanji dengan mu itu tidak sama dengan yang lain nya. Berjanji padamu, maka aku harus menepati nya sebaik mungkin."
"Kalau begitu, tepati janji mu!"
"Aku tidak ingin berjanji!" Heechul menyentakkan kedua tangan Leeteuk dan menjaga jarak dengannya. "Aku tidak ingin menjanjikan hal yang tak bisa ku tepati, padamu. Mengerti?!"
"Jika kau melangkah satu kali lagi, aku akan membunuhmu," ucap Leeteuk dengan suara rendah, membuat Heechul menahan langkahnya saat hendak keluar dari kamar Leeteuk.
"Bunuh saja," balas Heechul pelan, "aku sudah tahu aku akan mati di tangan mu, Leeteukie."
"Aku juga akan membunuh Yesung," tambah Leeteuk cepat. "Saat kau sampai di depan, Yesung akan merenggang nyawa tepat di hadapan mu." Leeteuk berdiri, menghampiri Heechul dengan langkah pelan. Menatap dengan tatapan tajam. Heechul mendesah pelan.
"Aku juga tahu bahwa Yesung pasti mati di tangan mu. Kau mau mengancam ku apa lagi?"
"Jebal...," Leeteuk meraih kedua tangan Heechul, menggenggam nya erat. "Jangan tinggalkan aku, ku mohon. Apa tidak cukup untuk mu jika aku memohon seperti ini? Bukankah kau mengatakan bahwa kau mencintai ku? Tak bisakah kau di samping ku sebagai pelindung ku?"
"Jika aku di samping mu sekali lagi," Heechul melepaskan sebelah genggaman tangan Leeteuk, lalu mengelus perlahan pipi Leeteuk sembari menatapnya dengan lembut, "maka aku harus menjadi pendamping mu. Dan bukan hanya pelindung seperti yang selama ini ku lakukan. Aku ingin memiliki mu. Bukan hanya melindungi mu."
"Aku tidak keberatan," tatap Leeteuk dengan sorot mata berharap, "apa tidak boleh?"
Heechul terperangah mendengar jawaban Leeteuk. Lalu dengan cepat, dia menepiskan tangan Leeteuk, dan melayang menghindari Leeteuk, lalu terbang ke depan dan meninggalkan Leeteuk. Bicara dengannya sebentar saja sudah membuat setengah dari pikirannya menuruti keinginan Leeteuk. Apalagi jika lebih lama lagi? Dan ditambah juga dengan jawaban dan rengekan Leeteuk terhadap nya. Dia bisa kehilangan akal sehat nya dan menuruti apapun kemauan Leeteuk.
Dan akan membuat Leeteuk dalam bahaya lagi, jika dia tidak bisa mengendalikan keinginannya.
Pikirannya tentang Leeteuk buyar seketika, saat di lihat nya kedua tangan Leeteuk sudah menggenggam leher Yesung.
"Teukii!" Heechul langsung menghambur ke arah keduanya. "Lepaskan Yesung!"
Leeteuk menggeleng pelan. "Kau tidak mau berjanji pada ku. Kau meninggalkan ku begitu saja padahal aku sudah memohon mohon pada mu. Aku ingin memilih takdir ku sendiri kali ini, dan takdir ku yang ku inginkan saat ini adalah bersama kalian. Tapi kalian tidak ingin bersama ku, dan aku tidak ingin sendirian. Jadi, aku akan menyeret kalian untuk tetap bersama ku."
"Jadi maksud mu," ucap Yesung dengan tenang, walau kini lehernya sedang dalam genggaman Leeteuk, "kau ingin membunuh kami lebih dulu, lalu kau akan bunuh diri?"
Leeteuk tersenyum manis ke arah Yesung, "Wah, Yesung hebat. Mengerti sekali keinginan ku. Memang Yesung yang paling pintar."
"Bunuh aku kalau begitu," ujar Yesung, dan menutup matanya.
"Tidak boleh!"
Heechul langsung menepis tangan Leeteuk dan menempatkan dirinya diantara Leeteuk dan Yesung.
"Heechullie...," bisik Leeteuk pelan, "kau ingin bertarung dengan ku?"
Heechul tetap berdiri di depan Yesung. Diam menatap Leeteuk.
Lalu Hangeng yang berdiri di depan Leeteuk. Menjadi perisai untuk Leeteuk. "Bagaimana kalau kau menghadapi ku lebih dulu, Heechullie?"
"Han Geng, Wolfhound ku, kau sadar siapa yang kau tantang, huh?" ujar Heechul santai, namun nada suara terdengar menantang.
"Kau juga tahu dengan pasti, bahwa aku bukanlah Wolfhound yang selama ini ku tampilkan."
"Ya, melainkan sejenis dengan Leeteuk, namun sayang nya justru kau di kutuk menjadi bawahan ku. Dan terpaksa berubah menjadi Wolfhound."
"Bawahan mu? Tugasku adalah mengembalikan Jung Soo, kau tahu?"
"Stop, Han," tiba tiba, Zhoumi menyela, sementara yang mendengar pertengkaran mereka saling berpandangan bingung. "Jung Soo? Jadi, Leeteuk adalah tunangan mu?"
Hangeng menatap Zhoumi dengan tenang, "Ya. Dan kenalkan, nama ku adalah Han Kyung. Malaikat kematian."
TBC-
So short, right? :( tapi kalo ngga bersambung di bagian ini, ga seru haha xD next... review nya boleh? ^^ gomawo~
