Cast:
ALL SUPER JUNIOR MEMBERS


"Seseorang yang paling tenang dalam semua ini. Yang paling tenang, justru yang paling bahaya. - Siwon"


#Chapter 26#

"Hyung?"

"Ah, Bum, silakan masuk."

Kibum menatap Leeteuk yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidur nya. Kaki dan tangannya di penuhi plester dan kapas kapas dengan bau obat merah menguar di sekitar kamarnya.

"Benar nih, kamu tidak mengijinkan Heechul Hyung dan Yesung Hyung menjenguk mu?"

Leeteuk memalingkan wajah. "Mereka akan bertanya macam macam jika melihat keadaan ku."

Kibum menghela napas. "Kau tahu, Hyung? Aku juga ingin sekali bertanya kenapa kamu menjadi seperti ini. Sekujur tubuh luka luka. Bahkan Ryeowook Hyung pun tidak bisa menyembuhkan dengan cepat seperti biasanya. Andai aku bisa bertanya, tapi kamu melarangku. Sedangkan mereka? Kamu takut mereka bertanya macam macam karena kamu tidak mau berbohong pada mereka. Kenapa pilih kasih pada ku, Hyung?"

"Pilih kasih?" Leeteuk menatap Kibum dengan bingung. "Maksudnya?"

"Sudahlah. Aku akan menyampaikan pada mereka."

Lalu Kibum keluar begitu saja, meninggalkan Leeteuk yang menatap arah perginya Kibum dengan tatapan bingung.

"Mengapa aku masih tidak bisa memahami hati Kibum yang bersedih? Kakak macam apa aku ini?"


"Eomma, masak apa? Biar ku bantu?"

"Tak usah, Hen. Kau duduk tenang dengan Appa mu saja."

Henry masih mengelilingi Ibunya. "Aku bosan. Aku ingin belajar masak juga."

"Baiklah baiklah," Ibu Henry tertawa. "Jadi, apa yang ingin kau masak?"

"Yang mudah, dan enak?"

"Masak ramyun?"

"Eomma," Henry mengerucutkan bibirnya, "kau mau buat anak mu ini mati muda?"

Ibu nya langsung menjitak pelan kepala putranya. "Bicara sembarangan lagi, ku buat ucapanmu menjadi kenyataan. Mengerti?"

Henry tertawa kecil. "Arraseo, Eomma."

"Oh ya, sepertinya, dari kemarin, Eomma tidak melihat Husk, Max, Laz, dan Nutz. Kemana mereka? Apa kau meninggalkannya di sana?"

Henry menyunggingkan cengirannya. "Aku menitipkan mereka pada seorang temanku. Agak repot naik kereta dengan empat makhluk besar itu, Eomma. Lagipula, aku di sini hanya sepanjang libur kuliah saja. Tidak lama lama meninggalkan mereka, Eomma."

Ibunya tersenyum dan mengangguk, lalu mengelus pelan kepala putranya. "Eomma mengerti. Terserah menurut mu yang baik saja, Sayang."

Henry membalas anggukan Ibunya masih di sertai cengiran di wajahnya. 'Seandai nya Eomma tahu siapa mereka.'


"Kau bodoh!"

Eunhyuk tersungkur jatuh, ditahannya untuk tidak menjerit. Bagaimana pun sakitnya, dia tidak boleh menjerit. Menjerit artinya akan lebih banyak lagi kesakitan yang akan di tanggungnya. "Maaf, Master.."

"Dia itu manusia! Hanya manusia! Kau Vampire dan punya otak, bukan?! Atau otak mu itu sudah berkarat karena tidak pernah di pakai selama ratusan tahun ini?!"

Eunhyuk menggigit bibir bawahnya diam diam. Dia ingin sekali membalas perkataan orang itu, namun dia masih ingat posisi nya. Melawannya, berarti kiamat untuk dirinya sendiri. Bukannya berarti mati, karena Eunhyuk justru berharap kadang dia lebih baik di bunuh saja. Tapi karena jika dia melawan, dia akan di siksa secara fisik dan batin. Raga dan jiwa. Kesakitan nya dua kali lipat di banding kematian. Berkali kali rasanya Eunhyuk merasa akan segera menghadap Raja Neraka, tapi tidak pernah terjadi. Betapa Eunhyuk justru lebih berharap bertemu Raja Neraka saja ketimbang orang yang ada di hadapannya ini. Ah bukan, bukan orang. Karena dia juga bukan manusia, vampire, bahkan iblis atau apapun itu.

Eunhyuk tidak mengerti apa dan siapa dia. Sifat nya benar benar luar biasa jahat. Penyiksa, berhati dingin, dan licik sekali. Mengerikan.

Hanya demi Ryeowook lah, dia bertahan sampai rasanya nyaris mati di tangannya. Dan karena Ryeowook juga, dia mau sampai sekarang ada di sampingnya.

"Dia... bukan manusia biasa, Master. Dia reinkarnasi dari malaikat tingkat tinggi," ujar Eunhyuk, mencoba memberi tahu.

"Tubuhnya itu manusia! Hanya karena ada mutiara ku di dalam tubuhnya, bukan berarti dia tidak bisa mati, bodoh! Serang tubuh nya yang berupa onggokan daging itu! Jika tidak bisa dari luar, masukkan dalam tubuhnya! Kau itu peniru, yang seperti itu saja kau tak terpikir?! Benar benar bodoh!"

"Caranya?"

"Berikan dia racun! Yang menewaskan dia dalam rasa sakit yang sangat menyiksa. Pasti saangat menyenangkan melihatnya."

Eunhyuk bisa melihat senyum keji yang di sunggingkan Masternya itu, membuat perasaannya tidak enak. Jujur saja, selicik apapun dia, dia tak pernah menyangka akan di suruh meracuni manusia. Memang pernah terpikir, tapi dia bahkan menepis sendiri pemikiran tersebut. Kini mendengar kata racun dan proses meracuninya, membuat dia menahan napas beberapa detik.

'Jika aku sampai bisa melakukan hal keji macam itu, ku pastikan aku tak akan lagi punya hati!'


Siwon dan Kyuhyun sedang berlarian di hutan kecil yang ada di belakang rumah Henry, dalam wujud berbulu mereka. Kejar kejaran dan berlomba memanjat pohon. Keduanya sedang di tinggal Hangeng dan Zhoumi, juga Henry, tuan mereka, entah kemana.

"Tidakkah ini aneh, Max?"

"Aneh apa?"

"Cerita dari Laz mengenai legenda tentang kita. Aku sama sekali tidak mengerti."

"Perlu ku ulang semua yang di ceritakan Han?" ujar Siwon sembari mengubah dirinya kembali menjadi sosok tinggi dan tampan dengan penampilan wajah nya yang maskulin.

Kyuhyun ikut mengubah dirinya seperti yang di lakukan Siwon. "Memangnya kau pikir aku pelupa?"

Siwon terkekeh pelan. "Yah, bisa saja, kan? Kakek Kyu~."

Kyuhyun mendengus mendengar ejekan Siwon. "Kau mau menjelaskan atau tidak?"

"Hm, yang bisa ku ambil kesimpulan dari semua cerita Han adalah, membunuh pusatnya itu langsung."

"Hah? Kau tidak salah? Sepanjang ingatan ku yang tidak pernah salah ini, rasanya Han tidak pernah menyinggung harus membunuh Leeteuk. Yang benar saja kau?!"

"Memangnya aku bilang Tuan Malaikat yang harus di bunuh?" ujar Siwon sembari menatapi Kyuhyun dengan bingung.

"Lalu?"

"Tapi bisa juga. Pusat nya itu adalah Tuan Malaikat. Tapi memang ada yang aneh."

"Dari tadi sudah ku katakan, Siwon sok pintar! Grrr!"

"Hihihi, kau ini selalu saja sewot padaku."

Kyuhyun menatapi Siwon sembari cemberut. Memang Kyuhyun paling kesal jika Siwon sudah bersikap polos seperti itu. Atau bercanda jika di ajak bicara serius. Bukan tidak suka, tapi Kyuhyun tahu Siwon sedang merencakan sesuatu yang tak ingin di beritahukannya pada yang lain, sehingga mengalihkan pembicaraan. Dan jika itu rencana miliknya, sudah pasti dia tidak akan pernah melibatkan yang lain dan membahayakan dirinya sendiri.

Lalu apa guna dirinya jika dia sama sekali tidak bisa membantu?

"Kalau begitu, cepat jelaskan!"

Siwon menatapi Kyuhyun. "Kau tahu, yang paling jelas dari cerita Han kemarin adalah, kita, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tuan Malaikat. Yang punya hubungan adalah Han. Han menghubungkan masalah nya dengan kita, hanya karena kita adalah saudara nya. Itulah masalahnya."

"Dan...?"

"Dan, ku rasa, dia hanya ingin mengembalikan Tuan Malaikat seperti dulu."

"Aku tahu itu. Oh, kata mu, harus membunuh pusat nya dulu. Kau sudah tahu siapa?"

Siwon tersenyum dengan wajah lucu. "Menurut mu?"

Kyuhyun mengernyitkan alisnya. Menggeleng.

"Seseorang yang paling tenang dalam semua ini. Yang paling tenang, justru yang paling bahaya. Tuan Malaikat tidak punya banyak teman, termasuk kita. Jadi, yang paling mencurigakan, adalah yang paling tenang di antara teman yang di miliki Tuan Malaikat."

TBC-


Update dengan agak maksa karena di chapt ini sama sekali ga ada ilham(?) but minta komen nya ya^^ thanks~