Cast :
ALL SUPER JUNIOR MEMBERS


"Tidakkah kau tahu, bahwa jika kita mendengar orang yang kita sayangi sedang sakit, maka seberapa pun kita bersumpah untuk tidak menemuinya, pada akhirnya kita akan mengingkari sumpah itu hanya untuk memastikan bahwa dia baik baik saja? - Heechul"


#Chapter 27#

"Astaga, ada apa lagi sih ini?" keluh Donghae, saat dia menemukan kakaknya tengah duduk diam dengan mata terpejam, sementara keadaan mansion nya seperti habis di terjang segerombolan gajah.

"Hae, bantu aku..."

Donghae segera menghampiri kakaknya. "Ada apa Hyung?"

Sungmin hanya mengulurkan tangannya, yang di sambut Donghae. Dan seketika, Donghae terbelalak kaget menatapi Sungmin.

"Kau di racuni Hyuk?!"

Sungmin hanya mengangguk lemah. Dan Donghae segera memegangi tangan Sungmin.

"Keluarkan racunnya, Hyung!"

"Sudah ku coba, Hae... tapi tetap... ukhh.. tubuhku.. lemah... tak bisa... sembuh... cepat..."

"Mau ku bawa Ryeowook kesini?"

Sungmin menatapi Donghae, lalu menggeleng. "Aku... tidak boleh... menerima.. bantuannya..."

"Kenapa?" decak Donghae tak sabar.

"Aku... masih harus... mengambil Kibum..."

"Kau gila?! Masih mau menuruti Hangeng?! Tidakkah kau tahu perbuatan itu hanya sia sia?! Dia cuma ingin memperalat mu agar dia bisa mengambil Malaikat itu kembali! Bahkan dia sekarang mengorbankan klan nya sendiri untuk bertarung dengan para iblis itu!"

Sungmin menatapi Donghae dengan wajah lemah campur bingung. "Bagaimana.. kau.. tahu?"

Donghae kelabakan sejenak. Lalu dia segera mengalihkan topik. "Baiklah jika kamu tidak ingin meminta bantuan Ryeowook. Kau harus istirahat untuk mengembalikan tenaga dan memulihkan mu."

"Hae...," Sungmin menahan Donghae saat Donghae hendak membantunya bangun, "Katakan... yang sebenar.. nya..."

Donghae menghela napas. Dalam sekejap, mereka berdua sudah ada di kamar Sungmin. Donghae segera mendorong pelan tubuh Sungmin agar berbaring di tempat tidur milik Sungmin yang jarang di pakai, karena yah, Vampire tidak perlu tidur untuk mengisi tenaga seperti manusia. Kegunaan ranjang mereka adalah saat saat mereka butuh memulihkan kekuatan mereka, atau sekedar iseng.

"Tidurlah Hyung. Aku tidak bisa membantu mengeluarkan racun Hyuk. Kau harus berusaha sendiri."

"Bagaimana... dengan... cerita.. tadi..?"

"Memang kapan aku pernah berjanji akan menceritakan nya?"

Sungmin hanya menatap Donghae tanpa daya. Lalu memejamkan matanya.

"Baiklah. Aku memang belum waktu nya untuk tahu. Terima kasih Hae."

"Sama sama."


"Apa sih, yang kau inginkan, Kim Heechul? Bukankah kau sudah mengatakan akan berhenti di sampingnya? Mengapa sekarang meragukan keputusan mu lagi?"

"Tidakkah kau tahu, bahwa jika kita mendengar orang yang kita sayangi sedang sakit, maka seberapa pun kita bersumpah untuk tidak menemuinya, pada akhirnya kita akan mengingkari sumpah itu hanya untuk memastikan bahwa dia baik baik saja?"

Tentu saja Yesung tahu. Saat ini pun, rasanya dia ingin sekali mendobrak masuk ke dalam kamar Leeteuk hanya untuk melihat bahwa manusia yang telah di lindunginya sepenuh hati selama belasan tahun itu baik baik saja. Atau berusaha mengobati dan merawatnya.

Tapi dia tahu untuk mengatur perasaannya. Seumur hidupnya, dalam hati nya, cuma ada Leeteuk baginya. Leeteuk yang manapun, dalam wujud apapun, dia tetap ingin melindunginya. Tetap ingin di sampingnya. Membuatnya tersenyum di saat dia sedih, atau menenangkannya di saat dia ketakutan atau khawatir. Dan jika dia mengikuti kemauan hatinya, dia pasti akan menjadi ekor permanen Leeteuk. Kemanapun bersama, selalu berada dekatnya, dan apapun itu.

Nyatanya, dia cukup tahu diri bahwa dia iblis dan orang yang di sukainya adalah malaikat. Dia cukup tahu diri bahwa orang yang di sukainya sudah memiliki tunangan. Dia juga cukup tahu diri, untuk tidak berebut orang yang di sukainya dengan kakaknya sendiri. Dan di atas semua itu, dia tidak ingin orang yang di sukainya kerepotan atas perasaannya. Karena semua alasan itu, maka Yesung memutuskan untuk diam. Dan bersikap biasa saja.

"Aku tidak tahu," jawab Yesung cuek, "tapi aku tahu bahwa kau peduli dengan Teuki. Jadi, mana yang kau pilih? Menghindarinya demi keselamatan dirinya, atau di sampingnya dan membahayakan nya?"

Heechul menunduk lama. Lalu menggeleng pelan. "Aku mau di sampingnya dan melindungi dirinya..."

"Itu tidak ada dalam pilihan yang ku ajukan tadi," decak Yesung. "Kenapa tidak menyerah saja? Jauh lebih baik ketimbang terus menjadi hantu bagi nya, kan?"

"Aku mengerti," Heechul mengacak rambutnya frustasi, "Tapi aku..."

"Sudahlah, lagipula dengan seluruh adegan pertengkaran kau dengan Teuki tadi, aku tak heran jika dia bersikeras tidak mau menemui kita."

"Dan itu salah ku lagi? Kau menyalahkan ku lagi?" sergah Heechul.

"Tidak. Tak ada yang salah. Kita berniat melindunginya. Sementara dia ingin kita di sampingnya. Yang salah adalah Yang Mulia. Memisahkan kita seenaknya."

Heechul menghela napas. "Jika bukan karena kutukan ini, aku tak akan pernah sudi menuruti perintah nya. Dia atasan Teuki, bukan atasan ku. Dia tidak berhak memerintahku."

Yesung tertawa kecil. "Yang Mulia adalah atasan semua makhluk, kau tahu?"

"Tidak juga. Bukankah Teuki sering menarik kita untuk menghormati Pemilik Dunia? Bukankah Dia adalah pemilik kekuasaan tertinggi?"

"Tuhan, maksudmu? Seperti nya iya. Tuhan yang pertama, dan Yang Mulia adalah yang kedua."

"Apapun itu," decak Heechul, "tapi berarti kita hanya harus menaati perintah Tuhan, bukan? Dan bukan perintah dari Yang Mulia yang sok berkuasa?"

"Jangan menentangnya, Kim Heechul. Kau harus ingat bahwa tugas kita di sini adalah mengembalikan Teuki pada takdir yang seharusnya. Jika kau menentangnya, bukan hanya kau tidak bisa melaksanakan tugas, tapi kau juga akan menyeret ku dan Teuki untuk musnah bersama."

"Cih. Kau pikir aku peduli denganmu?"

Yesung tertawa lagi. "Jika tidak peduli, kau tidak akan menjadi perisai untukku dan berhadapan dengan Teuki."

"Sesuka mu lah."


"Sudah ada kabar dari Henry, Bum?"

Kibum yang tengah sibuk menekan nekan ponsel miliknya, menggeleng pelan. Leeteuk hanya menghela napas.

"Apa dia marah lagi pada ku?"

"Dia bukan tipe orang pemarah, Hyung. Apa kau tidak tahu itu?"

"Aku tahu, tapi...," Leeteuk menunduk, memainkan ujung selimut yang berada di dekatnya, "aku hanya takut seperti itu."

Kibum tersenyum mendengar nya. "Dia tidak pernah marah pada mu."

Leeteuk menatapnya dengan tatapan polosnya, yang selalu bisa meluluhkan hati Kibum. "Benarkah? Yang waktu dulu itu?"

"Itu karena kau menyakiti hati nya. Menyebut nama Ryeowook Hyung di hadapannya. Dia merasa kau tidak membutuhkan kami, lalu menarikku untuk ikut menjauh dari mu."

Leeteuk kembali menunduk, kali ini dengan sedih. "Maafkan aku. Aku sama sekali tidak tahu ucapanku menyakiti kalian. Aku memang bodoh."

"Kalau kau bodoh, kau tidak akan di terima masuk di kampus kita sekarang dan mendapatkan beasiswa, Hyung," ujar Kibum sembari tertawa kecil. Leeteuk meringis mendengar nya.

"Yah, bukan itu maksudku. Hanya saja, aku tak pandai menjaga perasaan orang lain. Aku tak pandai menebak isi hati orang lain. Bahkan aku tak pernah mengerti apa yang ada dalam pikiran setiap orang."

"Dan jika kau bisa semua itu, kau bukan lah Leeteuk, tapi Tuhan."

"Tapi kau bisa mengerti," kilah Leeteuk, "kau mengerti apa yang ku pikirkan, kau selalu bisa menebak isi hati ku, dan kau juga selalu baik hati dan tidak pernah menyakitiku. Dan kau bukan Tuhan, benar kan?"

"Memang benar," Kibum meringis geli mendengar ucapan Leeteuk, "Dan itu semua ada alasannya, Hyung. Kau mau tahu?"

Leeteuk mengangguk semangat. "Apa itu?"

Kibum mengelus pelan pipi Leeteuk yang tengah menatapnya dengan penuh minat, "Alasan aku bisa melakukan semua itu, karena aku menyayangi mu. Apapun ku lakukan asal bisa membuatmu tersenyum, Hyung. Dan aku tidak akan membiarkan mu menangis lagi. Puas dengan jawabanku?"

Leeteuk terpana sejenak mendengar jawaban Kibum, lalu dia menggeleng. "Aku selalu menyakiti mu, bagaimana mungkin masih ada rasa sayang di hati mu untukku? Jangan membohongiku, Bum."

"Yaa! Kapan aku pernah membohongi mu?"

"Saat ini."

"Hyung!" Kibum menatap Leeteuk dengan frustasi, sementara Leeteuk kembali menunduk, menghindari tatapan Kibum, "Apa kau tidak bisa melihatnya?! Ku dengar kau itu sejenis Malaikat. Bukankah malaikat itu bisa membaca perasaan dan pikiran seseorang?! Tidakkah kau membaca nya sekarang?!"

"Aku bukan malaikat, aku hanya manusia biasa, Bum. Aku juga bisa meninggal seperti manusia pada umumnya."

"Jangan mengalihkan topik, Hyung!"

Tapi Leeteuk hanya menatap Kibum dengan wajah tanpa daya dalam waktu lama, membuat Kibum terdiam canggung, dan kemudian bertanya, "Apa kau akan terus bersama ku, Kim Kibum?"

Kibum menatap setengah tak percaya dengan pertanyaan Leeteuk, "Dengan sepenuh hatiku, Hyung."

TBC~


Jeongmal mianhamnida karena update ff nya di minggu ini :( author lg sakit dan ilang ilham(?) makanya jadi nya cuma segini doank *pout* maap pake banget yakkk untuk chap ini~~ mudah2an minggu depan masuk update seru yah~ annyeong~