Cast :
ALL SUPER JUNIOR MEMBERS


"Jika mereka tidak berkicau denganku sehari saja, seperti ada kepingan puzzle dalam hati ku yang lepas, dan membuatnya tidak sempurna. - Leeteuk"


#Chapter 29#

"Memang nya malaikat bisa semudah itu hilang ingatan, ya?"

Ryeowook menatap Eunhyuk dengan curiga. "Kau ini kenapa tiba tiba baik dengan Leeteuk Hyung? Ada apa?"

Eunhyuk balik menatap Ryeowook, mengeluarkan aura yang seketika menggigilkan Ryeowook. Ah ya, Ryeowook lupa, kalau Eunhyuk adalah sosok Vampire yang paling menakutkan, bahkan untuk kedua saudara kandungnya sekalipun.

"Tidak apa apa," jawab Eunhyuk sembari menyunggingkan senyum manis khas nya, "hanya saja tidak seru memburu nya jika dia hanya terpontang panting melarikan diri dari ku daripada beradu kekuatan seperti sebelum sebelumnya."

"Pergilah, Hyuk," ucap Kangin pelan. Dan seketika, tatapan Eunhyuk jatuh pada Kangin.

"Dia takut padamu," lanjut Kangin, menyadari tiba tiba bulu kuduknya meremang. Pasti ulah Eunhyuk. "Jika dia melihatmu di sini, dia bisa pingsan lagi."

Eunhyuk menggeleng. "Kau pikir aku setan?"

"Kau bukan setan, tapi vampire. Kenyataan yang tidak kalah menakutkan," timpal Kyuhyun, yang sudah berdiri di ambang pintu rumah Leeteuk. Di belakangnya, sudah ada saudara saudaranya yang lain.

"Oh, dia belum pergi juga ya?" ucap Kibum. Kepalanya menyembul dari balik tubuh Kyuhyun. Bersembunyi dari Eunhyuk yang mungkin saja juga memburunya, berhubung kakaknya sangat bernafsu mengejarnya.

Eunhyuk menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Kibum. Daripada komentar Kyuhyun, dia jauh lebih tersinggung mendengar pertanyaan polos dari manusia lemah macam Kibum yang jelas jelas mengusirnya secara tersirat.

"Kenapa sih satu keluarga merepotkan seperti kalian selalu hobi mengusir tamu? Apa kalian tidak belajar sopan santun sewaktu masih menjadi manusia, ya?!"

"Seperti kau mengerti kesopanan saja, Hyuk!" timpal Hangeng, menyeruak masuk dan langsung menghampiri Leeteuk. Dengan segera, Hangeng memegang pergelangan tangan Leeteuk.

"Dia... lupa ingatan lagi? Bagaimana bisa? Bukankah selubung ingatannya sudah kau buka, Ryeowook?"

Ryeowook menggeleng. "Kali ini, ingatannya tidak di selubungi, melainkan di buang. Dan hanya ada satu memori di kepalanya."

"Memori apa?" tanya Hangeng, dan yang lain ikut mendengarkan dengan wajah penuh ingin tahu.

Ryeowook memandangi Eunhyuk. Yang lain juga ikut memandangi Eunhyuk saat melihat arah mata Ryeowook.

"Apa?" Eunhyuk merasa tidak nyaman saat semua orang memandanginya dengan wajah penuh pertanyaan.

"Apa... Leeteuk Hyung telah bertemu seseorang yang kau kenal?"

"Apa? Siapa? Apa maksudmu?"

"Maksudku... dalam ingatan Leeteuk Hyung... aku melihat kau... dan orang itu, kau memanggilnya dengan sebutan 'Master'. Siapa dia?"

Eunhyuk langsung membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Ryeowook. Seketika, bola matanya berubah menjadi kehijauan.

Hangeng dengan sigap menarik Eunhyuk menjauh dari tempat Leeteuk, saat melihat perubahan Eunhyuk. "Tenanglah."

"Apa maksudmu?!" teriak Eunhyuk. Tanpa kendali.

Ryeowook mengulang kata katanya menjadi lebih pelan. "Karena... dalam ingatan Leeteuk Hyung yang ku lihat, orang itu lah yang telah menghapus seluruh memori Leeteuk Hyung, dan mengganti nya dengan satu memori itu. Memori saat.. eum..."

"Lanjutkan kata kata mu!" perintah Eunhyuk dengan suara keras.

"Memori saat... kau... dan orang itu... sedang... bercinta..."


"Apa... apa kau... yang menjebak Leeteuk, Master?"

Orang itu menyeringai. "Apa kau bisa melakukan apa yang ku lakukan, hai slave ku tersayang?"

Eunhyuk menunduk. "Bukan kah... kau menyuruh ku melakukan tugas ini? Apa itu artinya, kau tidak lagi mempercayaiku?"

"Oh, tugas mu tetap harus kau lakukan. Aku hanya melakukan apa yang menjadi bagian ku saja. Untuk membantu mu, kau tahu?"

"Membantu... apa?"

"Membantu melupakan kekuatannya, membantu membuatnya melupakanmu, dan juga membantu agar dia tidak bisa mempengaruhimu."

Eunhyuk terperangah menatap masternya. Pikiran buruk tiba tiba berkelebat. Namun, dia tak berani menanyakan lebih lanjut. Takut bahwa master nya mengetahui apa yang tidak seharusnya.

Tapi Eunhyuk tidak bisa mengelak dari masternya itu. Entah merupakan kecerobohannya sendiri, atau memang masternya sangat lihai.

"Kau tahu? Kau sudah menjual tubuh dan hidup mu pada ku karena Ryeowook. Jadi, walaupun Ryeowook sudah mati berkali kali, hidup berkali kali, selama nya kau adalah milikku. Bahkan jika kau juga mati berkali kali, hidup berkali kali, kau masih menjadi milik ku. Mengerti?"

Eunhyuk hanya mengangguk pelan. Lalu menunduk.

'Untung hanya tubuh dan hidup ku saja yang kau miliki. Bukan hati dan pikiran ku,' kata Eunhyuk dalam hati.

"Oh, dan tentu saja satu lagi," timpal Sang Master, menyentakkan pikiran Eunhyuk.

"Ya?"

"Mulai besok, kau harus mendekati Leeteuk juga. Dia adalah manusia sekarang. Ingatannya tak akan kembali lagi. Seperti yang pernah ku katakan, jika kau tidak bisa menyerang tubuh luarnya, serang tubuh dalamnya! Mengerti?!"

Eunhyuk mematung sesaat. Mungkinkah?

'Malaikat itu benar benar tidak beruntung karena memiliki takdir mengerikan seperti ini.'


"Hyung, ingat aku?"

"Tentu saja. Kau Kibum, dan kau Henry. Mana mungkin aku tidak ingat kalian?"

"Kalau aku?"

"Kamu...," Leeteuk diam sejenak. Mencoba mengenali wajah yang ada di depannya. Yang menatapnya dengan penuh ingin tahu. "Ryeo... wook?"

"Bingo," ucap Ryeowook dengan senang. "Bagaimana dengan nya?" tanya Ryeowook lagi sembari menunjuk ke arah Kangin.

"Eum...," Leeteuk memperhatikan sejenak, "Kangin?" ucap nya setengah ragu.

Kangin bertepuk tangan kecil. "Benar. Kau hebat, Hyung," puji nya.

Leeteuk tersenyum canggung. "Lalu kenapa kalian seperti bermain tebak tebakan dengan ku, sih? Memang nya aku gegar otak?"

"Kami takut kau melupakan kami karena kau sudah menyaingi putri tidur, Hyung," sergah Henry cepat.

Leeteuk menatapnya heran. "Putri tidur?"

"Kau tidur hingga seminggu lamanya. Bukankah mau bersaing dengan putri tidur?"

Leeteuk meringis mendengar jawaban Henry. "Mian, aku pasti merepotkan kalian ya?"

"Yaa!" Kibum langsung menjitak Henry, "lihat ulahmu. Gara gara kamu, Leeteuk Hyung jadi bicara begitu kan?!"

"Ah, ani, bukan begitu maksud ku, Hyung," Henry lari dari Kibum dan bersembunyi di belakang Leeteuk, "aku hanya ingin Leeteuk Hyung tahu kalau kita semua mengkhawatirkannya. Makanya aku bicara begitu supaya Leeteuk Hyung tidak tidur terus dalam jangka panjang seperti kemarin. Aku salah bicara ya, Hyung?" ujar Henry sembari mengerucutkan bibirnya.

Leeteuk tersenyum sembari mengelus pelan rambut Henry. "Mianhae, membuat mu khawatir. Aku tak akan melakukannya lagi."

"Mereka berdua setiap lima menit sekali, bergantian memanggil manggil nama mu saat kau pingsan kemarin, Hyung," jelas Ryeowook, ikut tersenyum melihat ulah adiknya dan teman adiknya itu yang bermanja manja pada Leeteuk sedari tadi, "Jadi, saat kau tertidur kemarin, ada dua burung kecil nan ribut yang selalu berkicau di sampingmu."

"Kecil? Aku lebih tinggi dari mu, Hyung!" protes Kibum.

"Burung? Aku tidak punya sayap, Hyung!" Henry ikut memprotes.

Leeteuk nyengir lebih lebar lagi mendengar penjelasan Ryeowook dan protes protes yang menyangkal penjelasan itu. "Ya, mereka memang dua burung kecil imut yang hobi berkicau. Aku senang jika mereka sedang berkicau, Wook. Membuatku merasa di temani. Lagipula, aku sayang pada mereka. Jika mereka tidak berkicau denganku sehari saja, seperti ada kepingan puzzle dalam hati ku yang lepas, dan membuatnya tidak sempurna."

"Hyung, so sweet," peluk Henry langsung.

"Hyung, awesome," tambah Kibum, ikut memeluk Leeteuk. Membuat Ryeowook dan Kangin meringis.

"Apa mereka selalu begini pada mu, Hyung?" tanya Kangin. Leeteuk mengangguk.

"Oh ya, tapi aku tidak tahu, bagaimana kita bisa bertemu lagi, ya? Bukankah kalian sekeluarga pergi ke Jepang?"

"Ehm, itu...," Ryeowook dan Kangin gelagapan sejenak, sementara Kibum dan Henry diam saja.

"Kan kita bertemu di kampus, Hyung, saat kami mengantarkan Kibum ke sana," ceplos Kangin langsung, sementara Kibum langsung melihat kakaknya itu dengan tatapan ngeri.

"Oh ya? Kita ketemu di kampus? Aku tidak ingat," ucap Leeteuk dengan alis bertaut. Mencoba berpikir.

"Sudah sudah, tak ingat tak perlu di paksa, Hyung," Ryeowook berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan, "lebih baik kau istirahat saja. Tubuhmu masih lemah, Hyung."

Leeteuk hanya memandangi Ryeowook dengan polos saat Ryeowook mencoba membuatnya kembali tidur.

"Apa?" tanya Ryeowook risih.

"Yang pucat itu kamu, Wook. Kenapa aku terus yang di suruh tidur? Aku juga bosan tidur. Kan aku sudah tidur seminggu penuh?"

Kibum dan Henry otomatis melepaskan pelukan mereka, lalu menyingkir dari Leeteuk, dan Kangin membaringkan lagi Leeteuk di tempat tidur nya.

"Wae?"

"Kami semua ingin kau cepat sembuh, Hyung. Dan satu satunya pengobatan terbaik adalah istirahat. Mau kah kamu menuruti kami, Hyung?" ucap Kangin dengan lembut. Tersenyum manis ke arah Leeteuk.

Leeteuk mengerucutkan bibirnya sejenak, "tapi kalian juga harus istirahat, arra? Terutama kau dan Ryeowook, Kangin. Kalian berdua pucat sekali."

Kangin tersenyum sekali lagi. "Arraseo. Tidurlah Hyung."

"Ne."

"Jaljayo, Hyung."

"Neodo jaljayo, Kangin."

Kangin menutup pintu kamar Leeteuk, setelah semua orang yang ada di dalamnya ikut keluar. Lalu menatap Ryeowook dengan wajah geli.

"Kenapa Hyung?" tanya Ryeowook, sembari menahan senyum.

"Leeteuk Hyung itu, seperti nya dia benar benar hilang ingatan ya?"

"Tentu saja. Memangnya kau pikir aku berbohong saat mengatakan isi memori nya kosong?"

"Tidak sih," Kangin menyunggingkan senyum lucunya, "tapi aneh saja mendengar dia mengatakan kita harus istirahat karena wajah kita pucat. Vampire memang berwajah pucat kan?"

Kibum dan Henry terkikik pelan mendengar gurauan Kangin, sementara Ryeowook ikut tersenyum lucu, "Yah, mulai sekarang kita harus memakai blush on dan lipgloss pink supaya Leeteuk Hyung tidak menyuruh kita istirahat terus hanya karena wajah kita pucat."

TBC~


see you next week for new update, guys~ comment and review please? thank you ^^