Cast :
ALL SUPER JUNIOR MEMBERS


"Aku tak mengerti mengapa aku juga ikut bersedih mendengar kata kata mu, yang terasa seperti menancapkan duri satu persatu ke kulitku. - Leeteuk"


#Chapter 30#

"Lama lama aku juga ikut gila, kalau bergaul dengan mu terus, kau tahu?"

"Ah, kau terlalu berlebihan, Teuk."

Leeteuk menatapi Shindong, menggeleng sejenak. "Terserah lah. Jadi, apa rencana mu?"

"Membunuh mu, sudah pasti kan?"

"Iya sih," Leeteuk tertawa kecil, "setelah pembicaraan kita selesai, kau harus membuang lagi ingatan ku tentang ini, mengerti?"

"Tenang saja. Aku adalah sang Master. Aku tak akan melupakan hal sepele itu."

"Justru karena hal sepele, aku harus mengingatkan mu."

"Ya ya ya, terserah lah."

"Lalu bagaimana dengan Eunhyuk?"

"Dia sudah mendekati mu?"

"Sudah. Berkali kali dia mau meracuni ku, tapi entah dia cerobohnya minta ampun, atau memang tidak berani melakukannya, dia selalu saja ketahuan saat memasukkan racun."

"Jangan lupa, ada Wolfhound di samping mu. Selain dia memiliki kemampuan melihat masa depan, dia juga memiliki penciuman yang tajam. Malaikat maut seperti itu tentu saja lebih licik dari kita semua."

Leeteuk tertawa kecil. "Soal licik, kau tidak terkalahkan, tau?"

"Aku tahu. Tapi dia memiliki Siwon dan Kyuhyun. Dua otak itu bisa mengalahkan Einsten sekalipun."

"Jangan berlebihan," ujar Leeteuk, tertawa lagi, "mereka juga punya kelemahan, kan?"

"Aku tahu, tapi Siwon nampaknya sudah mencurigai sosok ku sebagai teman mu. Jika dia tahu rahasia ini, aku tak dapat menebak pihak mana yang akan di bela nya."

"Yah, setidaknya, sifat polos ku bisa sedikit mempengaruhi nya kan?"

"Sifat polos?" Shindong tertawa, "pura pura polos, maksudmu? Kau itu harusnya mendapat piala Oscar atau semacam nya, karena sudah menipu habis habisan para Iblis, Wolfhound, Vampire dan manusia sekalipun dengan akting mu itu."

"Hei, kau menghina ku atau mencela ku?"

"Aku memuji mu, tau. Lagipula, itu sebabnya kan, aku mempercayakan mutiara ku ada di tubuh mu? Kau itu benar benar malaikat sempurna, Teuk."

Leeteuk menggeleng. "Aku hanya ingin mengembalikan keadaan, Dongie. Kau tahu kan kalau penyebab semua ini terjadi adalah karena Eunhyuk? Eunhyuk lah yang harus bertanggung jawab. Meski dia melakukan semua itu karena dia ingin melindungi Ryeowook, nyatanya, dia justru mencelakakan adikku itu lebih jauh."

"Tapi dia masih memiliki hati, Teuk. Dia tidak tega meracuni mu, arti nya dia masih punya sifat baik, kan?"

"Dia tidak berani, Dongie. Bukan tidak tega. Dari awal sudah ku katakan, kan? Dia tega menyihir Ryeowook, agar mau di sentuh oleh nya. Apa kau pikir dia tidak tega jika di suruh meracuni ku? Membunuhku saja dia bisa melakukannya."

Shindong setengah termenung, memikirkan kata kata Leeteuk. "Eh, bagaimana kalau prediksi mu salah?"

"Malaikat tidak mungkin salah."

"Jangan sombong. Sekarang kamu itu manusia. Manusia itu lemah, baik fisik, batin, maupun otak. Kamu harus tahu, dalam hukum manusia, menyingkap kejahatan harus memiliki bukti."

"Eh, bukti itu bisa di buat, tahu? Lagipula, yang ku curigai ini bukan manusia, tapi Vampire. Memangnya Vampire akan meninggalkan bukti, kalau dia sedang melakukan kejahatan?"

"Ada," Shindong nyengir, "kalau dia sedang bersantap malam, bagaimana?"

"Ha ha, lucu," gerutu Leeteuk.

"Baiklah, jangan ngamuk hanya karena gurauan ku," ujar Shindong menenangkan, "hanya saja, aku ingin kau memikirkan lagi dari awal. Memang semua yang kau ingat itu mengarah pada Eunhyuk, tapi bagaimana jika ada yang menjadikannya seolah olah tertuduh? Eunhyuk akan mati jika dia membunuhmu. Tapi, itu hanya akan terjadi jika memang dia yang bertanggung jawab. Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika orang itu juga membuat Eunhyuk seolah menanggung kesalahan yang tidak dia perbuat?"

"Kenapa sih kau begitu membelanya, Dongie? Apa karena dia sudah bertahun tahun menjadi alat mu, atau karena kau mulai menyayangi alat mu itu?"

"Jangan berkata sesadis itu untuknya, Teuk. Sangat tidak sesuai dengan image mu di sini."

"Sadis? Aku hanya bertanya kenyataan pada mu. Bisa saja kan, kau jatuh hati pada Vampire yang sudah bertahun tahun menjadi slave mu itu?"

"Hei, kau yang menyuruh ku untuk mengikatnya, ingat?"

"Tidak tuh, kan kau sudah membuang seluruh ingatanku."

"Dasar malaikat menyebalkan. Kurasa kau sudah terkontaminasi Heechul dan Kyuhyun, ya!"

"Entahlah. Sepertinya aku terkontaminasi lebih banyak darimu. Hehehe."


"Kau... siapa?"

Heechul menatap Leeteuk dengan tidak percaya. Menatapnya sekaligus mencoba menembus isi kepala Leeteuk. Semakin terbelalak karena dia bisa menembus masuk, dan tak menemukan satupun memori tentang dirinya, bahkan juga Yesung.

"Teuki...?" bisik Heechul, bersuara lirih sementara Leeteuk hanya memandangi Heechul dengan wajah bingung.

"Dia... hilang ingatan, Hyung," ujar Kibum dengan wajah tidak enak, "hanya kami... err... para manusia.. yang di ingatnya."

"Memang dia bukan manusia?" sergah Leeteuk cepat, sebelum Heechul atau Yesung mengatakan apa apa lagi.

"Kami makhluk ilusi," jawab Yesung, tersenyum manis pada Leeteuk. Dan Leeteuk langsung memandangi Yesung, dengan penuh minat.

"Seperti apa, misalnya?" tanya Leeteuk ingin tahu.

"Hei Angel, tidak baik terlalu ingin tahu urusan orang," sambar Zhoumi cepat.

"Nama ku bukan Angel. Dan aku ingin tahu," Leeteuk masih menatapi Yesung, memasang wajah merajuk, "tak bolehkah?"

"Boleh," ucap Yesung, "apa yang ingin kamu tahu, Teuki?"

"Eum...," Leeteuk terlihat berpikir, "tadi kau bilang, kau itu makhluk ilusi... ilusi yang seperti apa yang menggambarkan dirimu?"

"Kau ingin aku menggambar?" tanya Yesung sembari tertawa kecil.

Leeteuk berpikir sejenak. "Boleh juga. Jika kau langsung mengubah diri mu disini, aku mungkin akan ketakutan."

"Oke. Bisa berikan aku pensil dan kertas?"

Leeteuk segera beranjak dari duduk nya dan mencari barang yang di minta Yesung. Sementara yang lain memelototi Yesung, termasuk kakaknya.

Yesung memasang senyum polosnya, mengedikkan kedua bahu dan menggeleng.

Tak lama, Leeteuk kembali dan membawa barang barang yang diminta Yesung. Lalu menyerahkan barang barang itu pada yang meminta. Dan duduk di sebelah Yesung tanpa sungkan.

Yesung mengangkat kedua alisnya saat Leeteuk duduk di sampingnya. Senyum senyum namun tidak memprotes kelakuan Leeteuk.

"Ayo gambar," pinta Leeteuk dengan suara manja. Suara yang menarik memori Yesung kembali ke masa saat dia bersama Leeteuk kecil. Saat ini, suasana nya benar benar sama persis dengan masa lalu itu. Bahkan sesuatu yang ingin di gambarnya pun, sama persis.

Yesung mulai menggambar. Sketsa terang dan gelap yang berpadu dengan indah dan penuh kesan misterius. Hanya berupa siluet hitam dengan sayap di kedua sisinya, namun siluet itu nampak kelam, dan berbahaya.

"Ye... sung..." Leeteuk menatap takjub sketsa Yesung dengan siluet itu sebagai objek.

"Ne. Itu aku. Inilah sosokku, Teuki."

"Indah," ucap Leeteuk masih dengan wajah takjubnya. Seketika, Yesung melongo mendengarnya.

"Boleh untukku?" Leeteuk berucap lagi. Matanya kali ini menatap Yesung dengan penuh harap, dan Yesung tanpa sadar mengangguk.

"Yeayy," Leeteuk segera menarik kertas yang tadi di tangan Yesung, langsung berlari kecil ke arah kamarnya.

"Yesung?"

"Ya?"

"Kau... sadar sesuatu?" tanya Heechul.

"Apa?"

"Dia... hanya berpura pura..."

"Apa maksudmu, Hyung?"

"Dia tidak hilang ingatan," Heechul menggelengkan kepalanya. "Aku ingat, kita tidak memperkenalkan diri dari tadi karena menganggap kita pasti akan di kenalinya. Saat dia mengatakan dia tidak ingat siapa kita, aku bahkan masih terlalu terkejut dengan keadaan ini. Tapi tadi... dia mengenali gambar yang kau buat. Bahkan menyebut nama mu. Bukankah... itu artinya dia sedang berpura pura?"

"Ah... benar Hyung," ucap Yesung, seketika, otak nya merangkai informasi dari kakaknya, di tambah dengan bukti yang terjadi di depan matanya.

"Dan... dia juga tadi mengatakan bahwa jika aku berubah di depannya, mungkin dia akan ketakutan. Apa itu artinya... dia tahu bahwa jika aku berubah, pasti mengerikan, bukan?"

"Karena, kamu mengatakan bahwa kamu adalah makhluk ilusi. Jika makhluk ilusi berubah menjadi sosok manusia, maka sosok asli nya pasti akan menakutkan, bukan?" tiba tiba, Leeteuk muncul sembari tersenyum, berjalan pelan ke arah mereka yang tersentak kaget saat melihatnya. Lalu Leeteuk memperhatikan Yesung sejenak.

"Dan aku menyebut 'Yesung' hanya karena cara mu menggambar begitu lembut dan dalam, seperti bernyanyi dengan irama. Aku suka cara menggambar mu, dan juga hasil yang tercipta atas cara gambar itu. Aku tak tahu nama mu, jadi tadi sebenarnya aku memuji cara menggambar mu dan hasilnya."

"Untuk ukuran manusia biasa, kau terlalu pintar mencari alasan yang masuk akal seperti itu, Teuki," ujar Heechul.

Leeteuk menoleh ke arah Heechul, tersenyum lagi. "Oh, tentu saja. Aku bukan manusia biasa. Sedari kecil, aku selalu mendapat peringkat tertinggi, dan hingga sekarang, prestasi itu belum menurun. Dan kebetulan, aku suka dengan hal hal yang membutuhkan keahlian logika dan keterampilan merangkai kata. Jadi, mudah saja bagiku untuk melakukannya. Tapi, selain itu, aku memang mengutarakan kejujuran."

"Pintar. Teuki ku memang pintar," senyum Heechul.

"Aku bukan milikmu. Jangan memanggilku seolah olah aku adalah milikmu."

"Dan kamu menjadi lebih tegas. Bukan Teuki yang perlu di lindungi lagi seperti beberapa waktu lalu."

"Hentikan. Jangan berkata seolah olah kita sudah saling mengenal."

"Yah, memang benar. Tak perlu mengingatku. Aku tahu, tak mudah memaafkanku. Akan lebih baik jika melupakanku. Dan bersikap seolah kita tidak saling mengenal."

Leeteuk memejamkan matanya. "Hentikan. Kata kata itu terdengar begitu sedih. Aku tak mengerti mengapa aku juga ikut bersedih mendengar kata kata mu, yang terasa seperti menancapkan duri satu persatu ke kulitku."

"Sesakit itu kah? Aku bahkan tak merasakannya," seringai Heechul.

Leeteuk menatap nya lama. "Aku tahu kamu berbohong."

TBC-


Review juseyo~ gomawo^^