Cast :
ALL SUPER JUNIOR MEMBERS


#Chapter 31#

"Jadi begitu rupanya? Kau berpura pura lupa ingatan, heh?"

Leeteuk bersembunyi ketakutan di balik tubuh Donghae. Sementara Donghae, berhadapan dengan kedua kakaknya, Sungmin dan Eunhyuk. "Tolong jangan sakiti dia, Hyung!"

"Kau itu di pihak siapa? Kami atau dia?" geram Sungmin, sementara Eunhyuk hanya menyunggingkan senyum sinis.

"Hyung! Aku di pihak yang benar! Mengapa kau ingin memburu orang yang tidak bersalah terus?"

"Terus?" Sungmin memicingkan matanya, menyipit melihat ke arah Donghae. "Dia bersalah karena telah merebut Yesung dari ku!"

"Yesung siapa?" bisik Leeteuk gemetar. Tangannya erat memegangi lengan Donghae.

Donghae tidak menjawab pertanyaan Leeteuk. "Dan kau akan merebut malaikat yang ku sukai, Hyung!"

"A-apa?"

Seketika bayangan masa lalu mereka melintas. Terutama tentang Donghae.

Saat itu, Donghae kecil sedang menangis tersengguk. Dan Leeteuk menghampirinya.

"Ada apa? Adik kecil kenapa menangis?" tanya Leeteuk.

Donghae menjawab, "Ae lapal. Tapi tak ada makanan yang enak buat Ae. Ae lapal. Mau mati laca nya."

Leeteuk memperhatikan Donghae dengan cermat, lalu mengulurkan tangan kanannya. Berkata, "coba gigit tanganku."

Donghae ikut menatap tangan Leeteuk. Lalu tertunduk lagi. "Ae tidak bica mengigit," ucap Donghae sedih.

"Kenapa tidak bisa?" tanya Leeteuk.

"Ae akan belcala kalau menyakiti olang lain," ucap Donghae, polos.

"Tak apa. Gigitan mu tidak akan menyakiti ku," balas Leeteuk, menenangkan. Donghae menatapnya. Airmata nya bergulir.

"Tidak mau. Yung baik, Ae tidak mau menyakiti Yung yang baik." Donghae masih bersikeras. Walaupun kedua tangannya sudah mendekap perutnya yang mati rasa.

"Tak apa, adik kecil, kamu tak akan menyakiti ku. Adik kecil juga baik, jadi adik kecil tidak akan lapar lagi. Ayolah," bujuk Leeteuk, kembali menyodorkan tangannya.

"Tidak mau... tidak mau...," ucap Donghae sembari menangis, menggeleng geleng.

Leeteuk menatapnya dengan kebingungan. "Kalau adik kecil tidak mau menggigit, nanti aku yang akan menyayat tangan ku. Kamu mau melihat ku menyakiti diriku sendiri?" tanyanya kemudian.

"Jangan...," lirih Donghae, "Yung baik tidak bole menyakiti dili cendili. Allaco, Ae akan menggigit Yung. Tapi Ae minta cedikit caja, ne? Nanti Yung mati kalau Ae minta banyak. Eottae?" tawar Donghae.

"Bukankah kamu lapar? Makan lebih banyak saja juga tidak akan mencelakaiku. Kamu tenang saja," bujuk Leeteuk lagi.

"Ae maunya gitu!" ucap Donghae keras kepala. "Ae cukup kok, bialpun cedikit. Ne?"

"Baiklah. Terserah Ae," ucap Leeteuk mengalah, kali ini mengulurkan kedua tangannya kehadapan Donghae, "kamu boleh pilih mau gigit yang mana," tambah Leeteuk, tersenyum manis.

Perlahan, Donghae kecil mendekati Leeteuk. Menggenggam tangan kanan Leeteuk. "Ae pilih ini," ujarnya, lalu mulai menancapkan gigi taring nya di tangan kanan Leeteuk. Dan menghisap darah Leeteuk yang mengalir di tangan kanannya itu.

Leeteuk terpejam. Meringis sedikit, menahan kesakitannya supaya Donghae tidak menangis lagi jika melihat nya kesakitan. Tapi dia merasakan, Donghae menepati janji nya. Dia hanya menghisap darahnya sedikit, dari yang seharusnya. Mungkin tidak ada sepersepuluhnya dari darah yang ada di tubuhnya. Padahal menurut pengetahuannya, seorang anak vampire di haruskan menghisap paling sedikit adalah sepuluh persen dari jumlah darah di tubuh manusia.

"Cuda, Yung," ucap Donghae riang, melepaskan gigitannya dari tangan Leeteuk. Leeteuk tersenyum.

"Bagaimana? Kamu sudah tidak lapar?" tanya Leeteuk.

"Ne. Ae kenyang," ucap Donghae dengan wajah senang, mengelus perutnya, "Ae campai cuca gelak. Uuu."

Leeteuk tertawa kecil mendengar ucapan polos dari Donghae.

"Aa, apa Yung malaikat?" tanya Donghae tiba tiba.

Leeteuk mengangguk. "Memang kenapa?"

"Pantac. Ae kenyang cekali. Kata Appa, dala malaikat bica membuat Ae embul, walau cuma mengicap cekali. Ae tidak mengelti, tapi Ae cekalang embul ni..." Donghae membusungkan perutnya ke depan Leeteuk, lalu mengelusnya.

Leeteuk tertawa lagi. "Benarkah? Kalau begitu, Ae harus sering sering menemui ku supaya Ae cepat besar."

Kali ini, Donghae yang tertawa geli. "Yung nanti kala becal cama Ae."

"Biar saja. Aku senang jika Ae senang begini. Jangan menangis lagi, mengerti?"

Donghae mengangguk. "Gomawo Yung. Ae pelgi dulu. Oya, nama Ae itu bukan Ae yang dali tadi Yung cebut. Nama Ae itu Dong Ae. Alla?"

Leeteuk mengangguk, walau tidak mengerti. Melambaikan tangan pada Donghae yang berlari menjauhinya sembari melambaikan tangannya juga. Dan tiba tiba, Donghae menghilang.

Sejak itu lah, Donghae memilki kekuatan yang tidak dimiliki oleh para Vampire lainnya. Yaitu, teleport. Dan perisai. Kekuatan Leeteuk yang terbagi karena darah Leeteuk telah menyerap ketubuhnya.

Sejak saat itu pula, Donghae menyatakan diri nya sebagai pelindung Leeteuk. Sampai saat ini.

"Kau jangan bercanda, Hae! Dia itu manusia! Dia bukan malaikat!"

"Bagiku, dia masih malaikat, Hyung!" ketus Donghae, merentangkan tangannya di depan Leeteuk yang masih bersembunyi di balik tubuhnya.

"Hae, kamu begitu tertipu oleh wajah polosnya," ucap Eunhyuk dengan suara halus, namun aura yang di keluarkannya begitu mengerikan.

"Oh ya, tentu. Aku menyukai wajah polosnya di banding wajah polosmu, Hyuk! Wajahnya yang polos adalah wajah asli dirinya yang berupa malaikat. Sedangkan dirimu, berwajah polos hanya untuk mencelakakan orang lain yang tidak bersalah!"

Eunhyuk memiringkan kepalanya. "Adikku sudah berani menentangku, eh?"

"Menentang?!" Donghae menatap tajam ke arah Eunhyuk. "Lebih tepatnya adalah, mengatakan kejujuran!"

"Pergi dari nya, Hae!" hardik Sungmin. Di tangannya, sudah terpancar sinar kuning, yang sewaktu waktu bisa di lontarkannya pada siapapun. Namun Donghae tak bergeming.

"Akan ku ingat diri mu, Hyung. Juga Hyuk. Aku akan mengatakan pada Appa dan Eomma jika kalian berusaha membunuh penyelamat ku!"

"Hae... jangan...," lirih Leeteuk, mencoba menarik Donghae mundur. "Jika dia ingin aku, maka berikan saja aku pada mereka..."

"Dia pintar, Hae," Eunhyuk mengedikkan bahunya ke arah Leeteuk, "turuti saja ucapannya."

"Hyuk Jae Hyung ku tersayang... kau bahkan rela mati untuk orang yang kau sayangi. Kau juga rela menjadi budak demi nya. Dan kau, Sungmin Hyung ku tersayang... demi seorang Yesung, kau berlatih habis habisan, kau tega membunuh satu per satu orang terdekatnya, bahkan sekarang, tega membunuh orang yang telah di lindunginya sekian tahun. Jadi, apa salah, jika aku juga melakukan hal yang sama seperti kalian?"

"Aku akan melakukan apapun!" teriak Donghae lagi. "Bahkan aku akan melakukan hal sepengecut apapun untuk melindunginya!"

Dan bersamaan dengan teriakan itu, Donghae berbalik. Memeluk erat Leeteuk. Dan menghilang.


"Jadi, sudah bisa menjelaskan pada kami, kenapa kau tiba tiba muncul di sini dan meminta seluruh Wolfhound berkumpul di sini?" tanya Heechul.

Donghae meringis. "Bukan sifatku untuk nyasar di sini. Perkumpulan para guguk lucu dan hantu bersayap. Tapi aku tak punya pilihan."

"Kau kesini untuk mencela?" gerutu Zhoumi.

"Bukan mencela. Sudah menjadi bawaanku untuk jujur," Donghae balas menggerutu, "siapa suruh aku nurut meminum darah malaikat? Sampai sekarang, jujur nya tidak hilang hilang."

"Minum darah malaikat?" pelotot Henry dan Kibum seketika.

"Eh...," Donghae menatap Henry dan Kibum dengan wajah tidak enak. Dia paling anti dekat dekat dengan manusia, jika bukan waktu nya untuk 'santap malam'.

"Sudah sudah," lerai Kangin dan Yesung bersamaan. "Itu ada ceritanya," tambah Yesung.

"Dia itu Vampire, kan?" tunjuk Henry ke arah Donghae. "Pasti dia sudah menghisap darah Leeteuk Hyung sampai Leeteuk Hyung hilang ingatan!"

"Sembarangan!" Donghae segera menepis tangan Henry yang menunjuknya, "bukan aku yang membuatnya lupa, ya! Tolong di catat!"

"Lalu?!" todong Kibum. Donghae meringis. Lalu pandangannya menuju Hangeng.

"Coba kau ceritakan, Shinigami!"

Hangeng menatap Donghae dengan kesal. "Jangan panggil aku begitu!"

"Aku tidak mau di timpa kesialan setelah menyebut nama asli mu," balas Donghae, mencibir ke arah Hangeng.

Hangeng mendengus kesal. "Saat dia masih kecil, dia di tolong Soo. Soo memberikannya darah miliknya. Soo tidak tahu, kalau meminum darah nya itu bisa membuat yang meminumnya memiliki beberapa kekuatan dasar yang dia punya. Termasuk sifatnya, baik dan buruk. Dalam kasus Donghae, yang terserap oleh tubuhnya, adalah kekuatan teleport, kekuatan perisai, pembaca pikiran. Dan sifat baik yang di serap nya adalah sifat jujur, baik hati, peduli. Sifat buruknya...," Hangeng menghela napas, "Soo tidak punya sifat buruk."

"Mana mungkin?" sergah Donghae cepat. "Aku selalu ingin memukul orang jika emosi. Dan aku juga tidak bisa mengendalikan emosi ku. Bukannya itu juga sifat nya?"

"Enak saja. Kalau dia punya sifat seperti itu, aku sudah berkali kali remuk di tangannya, Vampire!" tukas Hangeng kesal.

"Jadi, itu sifat siapa?" tanya Donghae polos.

"Tentu saja sifat mu!" seru Siwon dan Kyuhyun tiba tiba, dengan serempak. Lalu keduanya tertawa kecil sembari melakukan highfive. Dan kemudian kembali lagi menekuni aktifitasnya. Berguling guling di lantai.

"Ah ya, aku lupa," tambah Hangeng, "satu satu nya sifat jelek milik Soo, adalah terlalu polos. Untung dia pintar. Jadi tidak terlalu mudah di tipu."

"Kalau begitu, aku juga mau meminum darahnya," cengir Ryeowook.

Hangeng menggeleng. "Harus Soo sendiri yang menyodorkan darahnya. Jika darah miliknya di minum paksa, justru darahnya akan menjadi racun. Bahkan Donghae yang meminum darah yang di sodorkan Soo sendiri saja masih mengandung racun."

"Racun?" sambar Donghae, heran. "Aku tidak pernah keracunan, kok."

"Ada saatnya, kamu akan sangat lemah. Ada saat nya, kamu tidak bisa mengendalikan emosi. Dan ada saatnya, kamu tidak bisa mengenali lawan dan kawan. Pernahkah kamu seperti itu?"

"Pernah," Ryeowook yang menyahut, "Dia pernah menghajar ku habis habisan. Pernah bertekuk lutut di depan Eunhyuk. Pernah juga diam saja saat kedua Hyung nya di serang Leeteuk Hyung."

"Eh, Vampire baru yang sok tau, biar ku beritahu ya, semua yang kau sebutkan itu bukan saat saat aku keracunan, bodoh! Pertama, aku menghajar mu karena kau hampir mencelakakan keluarga ku. Kedua, aku berlutut di depan Eunhyuk, karena aura Eunhyuk sedang menyerangku. Kau tahu? Tidak boleh berkelahi antar keluarga. Jadi aku mengalah. Lalu ketiga, aku diam saja karena aku mengenali Leeteuk sebagai malaikat penyelamatku. Jelas? Mengerti? Paham? Dasar anak sok tau!"

"Huh, alasan!" cibir Ryeowook, Kibum, dan Henry bersamaan. Donghae melengos kesal.

"Tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak punya pikiran positif!"

Yang lain tergelak. Tapi lalu Yesung menengahi. "Tolong jangan membahas Vampire, Iblis, Shinigami dan Wolfhound lagi. Teuki datang. Dia hanya boleh mendengar kata 'manusia'."

"Kau sendiri sudah menggambarkan identitasmu, Yesung!" ucap Heechul kesal.

Yesung hanya tersenyum, lalu menempelkan telunjuknya di bibirnya. Isyarat untuk tidak mengatakan apapun lagi.

"Eum..." Leeteuk mengerucutkan bibirnya, melihat suasana tiba tiba senyap setelah dia masuk, padahal tadi dia sempat mendengar ada gelak tawa.

"Kenapa?" Yesung bergerak lebih dulu, menghampiri Leeteuk.

"Tadi di kamar, aku mendengar kalian tertawa tawa, tapi kemudian menghilang begitu saja saat aku sudah di sini," adu Leeteuk, wajahnya merengut.

Yesung menahan napas, gemas rasanya melihat wajah Leeteuk yang seperti itu. Dulu, saat mereka masih bersama, Yesung bisa dengan bebas mencubiti pipi Leeteuk yang sedang merajuk, menariknya hingga bibir Leeteuk memaksa membentuk senyuman. Tapi itu dulu.

"Mana mungkin kami tertawa saat kau tidak ada?" Heechul buru buru menyela. Dia tidak tahan juga melihat Leeteuk merajuk. Jika Leeteuk berwajah seperti itu terus dalam waktu lama, bisa di pastikan, kebiasaan lama Heechul juga pasti akan muncul. Menggigit bahu Leeteuk sampai Leeteuk menimpuk nya dengan benda apapun yang ada di sekitarnya.

Tapi dia dan Yesung tidak bisa melakukan nya lagi. Keadaan mereka sedang canggung. Mereka yang memilih meninggalkan Leeteuk, membuat Leeteuk berkali kali celaka. Dan yang terakhir, membuat Leeteuk kehilangan seluruh memori nya. Sebuah penyesalan yang begitu dalam di hati Heechul. Dan dia yakin, Yesung juga merasakan hal itu.

"Kau mau bergabung, Hyung?" tanya Ryeowook. Tangannya terulur ke arah Leeteuk. Leeteuk segera menyambut tangan Ryeowook. Wajahnya kembali riang.

"Tentu saja."

"Tak heran setengah dari penghuni ruangan ini jatuh cinta pada Tuan Malaikat," ujar Siwon pelan, menggelengkan kepalanya. Dan Kyuhyun mengangguk.

"Dia memiliki sepasang mutiara. Mutiara mutiara itu bisa membuat orang yang mengenal pemiliknya begitu lama, menjadi jatuh cinta dengan perasaan abadi untuknya."

"Singkatnya, cinta mati. Tapi aku tidak heran. Tuan Malaikat memiliki begitu banyak sifat baik. Tanpa kedua mutiara di dalam tubuhnya itu pun, dia bisa mendapatkan banyak cinta dari orang lain."

"Ya. Tapi aneh. Mutiara hitam itu tidak melebur sama sekali dengan tubuhnya, Wonnie. Sementara mutiara yang putih sudah melebur sebagian dengan tubuh nya. Mutiara itu memang saling membantu, tapi mengapa yang satu setengah lebur, tapi yang satu lagi masih utuh?"

"Cuma ada satu penjelasan, Kyu," seringai Siwon, "mutiara hitam itu baru. Artinya, ada yang menaruh mutiara hitam itu di dalam tubuhnya, baru baru ini. Kapan? Mungkin dalam 20 tahun terakhir ini. Asal kau tahu, tubuh yang istimewa, bisa memproduksi sebuah mutiara. Mutiara bisa sempurna dalam waktu 500 tahun. Dan mutiara akan melebur, kembali menyatu dengan tubuh pemiliknya, dalam jangka waktu yang sangat panjang."

"Aku pusing mendengar penjelasanmu," sela Kyuhyun, menggerutu. "Inti nya saja."

"Tadi aku sudah menyebutkan intinya, Kyu," Siwon meleletkan lidahnya, "Kau ini bagaimana?"

"Yah, aku cuma mau kesimpulannya saja. Kau menerangkan sepanjang itu juga tak ada gunanya, tau?"

"Kesimpulannya, Tuan Malaikat mendapatkan mutiara hitam itu baru baru ini. Mungkin saat dia kecil, ada yang menanamkan mutiara itu?"

"Si Iblis itu?" tanya Kyuhyun. Siwon menggeleng.

"Kedua iblis itu tidak punya mutiara. Hidup ratusan tahun pun percuma. Mereka sih tidak punya kecantikan hati sama sekali."

Kyuhyun tertawa geli. "Aku baru tahu kalau Iblis bisa memiliki hati yang cantik."

Siwon mengangkat bahu. "Setidaknya, Iblis yang sayapnya merah itu memiliki hati yang jauh lebih baik di banding Iblis sayap ungu itu."

"Eh? Kau juga bisa melihat sayap mereka? Siapa yang ungu? Siapa yang merah?"

Siwon memandangi Kyuhyun. Menatapnya heran. "Kau bisa melihat mutiara yang ada di dalam tubuh Malaikat, kenapa tidak bisa melihat sayap Iblis yang ada di luar tubuh mereka?"

"Entah. Jelaskan saja padaku mana yang ungu dan mana yang merah."

"Yang bersayap ungu, rambutnya panjang. Berwajah seperti yeoja. Punya aura terang namun menghanyutkan dan menyesatkan. Yang bersayap merah, rambutnya pendek. Aura nya lebih kelam tapi menenangkan. Dan lebih tampan ketimbang yang bersayap ungu."

Kyuhyun tertawa lagi. "Lebih tampan siapa daripada aku?"

"Tentu saja lebih tampan aku."

"Dasar!"

"Hehehe~."


"Hyung... sepertinya ada yang mengikuti kita."

"Aku juga merasa begitu, Hen. Tapi aku tidak melihat sosoknya."

"Kalau begitu, berpeganganlah pada ku lebih erat, Hyung. Aku akan meningkatkan kecepatanku."

Leeteuk segera mengeratkan pelukannya dan Henry segera melesat menembus pekat malam dengan motor miliknya. Namun tiba tiba, Eunhyuk muncul di hadapannya, membuat Henry terkejut dan mendadak menarik rem demi menghindari tabrakan. Namun jarak begitu tipis, sedangkan Eunhyuk sama sekali tidak bergeming dari tempatnya, membuat Henry tanpa pikir panjang segera membelokkan motornya ke arah kiri. Dan tak bisa menahan lagi, mereka berdua terguling jatuh dari motor, dan motor Henry pun meluncur setengah meter dari tempat mereka jatuh.

"Uwahh!"

"Ahh!"

"Hyung! Kamu baik baik saja?!"

"Ne... ukh.."

Tertatih, Henry bergegas menuju ke arah Leeteuk, membantunya untuk bangkit.

Eunhyuk menyunggingkan senyum tipis. "Tidak baik mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi begitu. Seperti di kejar setan saja."

Henry mengenali sosok Eunhyuk, apalagi sosok itu semakin gencar mengejar Leeteuk akhir akhir ini. "Yah, tentu saja. Di kejar olehmu, tak beda jauh dengan di kejar setan."

"Kau manusia, rupa nya bernyali juga ya? Kau tahu siapa yang kau hadapi sekarang?"

"Setan. Benar kan?"

Eunhyuk menggelengkan kepalanya. Berdecak. "Kenapa kau bergaul dengan manusia macam ini, Leeteuk Hyung?"

Leeteuk tidak menjawab. Dia hanya menarik narik lengan Henry yang ada di depannya. Menyembunyikan diri. "Kita pergi saja, Hen," ucapnya lirih.

Henry menepuk pelan jari jari yang bertaut di lengannya. Mencoba menenangkan Leeteuk. "Apapun yang terjadi, aku akan melindungi mu."

"Begitu, heh?" Eunhyuk menyeringai. "Bahkan jika kau mati sekalipun?"

"Bahkan jika aku mati sekalipun," ucap Henry. Membalas tatapan Eunhyuk.

"Baiklah. Aku tidak akan terlalu kejam padamu. Mari kita lihat, sejauh apa kau berhasil melindunginya!"

Lalu, Eunhyuk mulai mengarahkan sinar hijau milik nya ke arah Henry. Henry dengan sigap menarik Leeteuk yang terluka akibat terjatuh tadi, menghindari sinar hijau yang tampak mengerikan itu. Dan bekas sinar hijau yang meleset itu, mengenai tanah kosong yang langsung menghitam seperti terbakar.

"Gerakanmu lumayan cepat," puji Eunhyuk, "rupanya kau bisa bersaing dengan ku di level satu."

Leeteuk menarik pundak Henry dengan ketakutan. "Ayo kita pergi saja," ucapnya dengan suara gemetar. Tapi Henry lagi lagi hanya menyentuh jari Leeteuk.

"Hyung, tolong lakukan sebisa mu."

Henry kembali menghindari lagi sinar hijau dari Eunhyuk sembari menarik Leeteuk agar terus berada di belakangnya. Hingga mereka terdesak di tepi jalan. Dengan jurang yang penuh pepohonan yang terlihat lebat, yang seolah siap menyambut mereka jika mereka terjun bebas dari tepi jalan itu.

"Oke. Mari kita masuk level dua," seringai Eunhyuk, menyadari posisi nya sudah berada di atas angin. Apalagi Henry juga sudah beberapa kali terkena kilatan dari sinar miliknya, hingga tubuhnya berlumuran darah. Darah segar yang benar benar menggoda bagi Eunhyuk.

Henry hanya bisa terbelalak, saat sinar itu telak ke arah nya. Sedetik kemudian, dia berbalik. Memeluk Leeteuk dan mengorbankan punggungnya yang terkena sinar mematikan milik Eunhyuk tersebut.

Dan kedua nya jatuh dalam jurang. Bergulingan di atas batu kerikil tajam tanpa bisa di hentikan. Dan sementara Leeteuk berteriak histeris, Henry bertahan menahan suaranya, berusaha melindungi seseorang yang ada di pelukannya. Seseorang yang berarti baginya. Dan kemudian, dia memikirkan Siwon dan Kyuhyun.

Dalam sekejap, Siwon dan Kyuhyun muncul, menahan mereka berdua agar tidak berguling lebih jauh lagi.

Henry belum melepaskan pelukannya pada Leeteuk. Matanya terkatup. Namun pelukannya erat, bahkan tangannya melindungi kepala Leeteuk agar tidak berbenturan dengan benda keras.

"Tuan! Buka mata mu! Lepaskan Leeteuk, Tuan!" seru Kyuhyun. Mereka berdua sibuk menolong Henry dan Leeteuk yang sudah terluka parah.

Henry mendengar nya. Tangannya perlahan melemah. Membuka pelukannya pada Leeteuk. Leeteuk kembali pada kesadarannya. Sekuat tenaga dia berusaha membuka mata dan sadar.

"Hyung...," lirih Henry. Matanya masih terkatup. Siwon dan Kyuhyun segera menolong mereka masing masing.

"Tuan Hen... anda harus membuka mata anda!" ujar Siwon panik. Menyadari bahwa denyut milik Tuan nya sudah hampir tak terasa.

"Terima... kasih... kalian... di sini...," lirih Henry. "Husk... Max..."

Leeteuk mendengar ucapan Henry, bersusah payah untuk bangkit dan mencoba menyadarkan Henry. Kyuhyun yang memapah Leeteuk, membiarkan Leeteuk berbuat sesuai keinginannya. Kyuhyun juga sangat khawatir dengan Henry. Kesedihan tiba tiba melanda ketiga nya.

"Jangan... jangan, Hen..." Leeteuk mencoba terus menyadarkan Henry. Mengguncang tubuh Henry. Berharap Henry membuka matanya.

"Hyung... apa.. pun... yang.. ukh.. terjadi...," Henry berhenti sejenak, mencoba mengumpulkan sisa kekuatannya, berusaha tersenyum manis untuk Leeteuk. Senyum yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya. "Aku... akan... melindungi... mu..."

Lalu tangan Henry terkulai. Bersamaan dengan itu, Kyuhyun dan Siwon memejamkan mata mereka. Menahan airmata yang tiba tiba menyerbu untuk keluar. Leeteuk berteriak histeris. Dengan sisa tenaganya, dia berusaha mengguncangkan Henry lebih kencang lagi. Lagi dan lagi. Leeteuk sampai harus di tahan oleh Kyuhyun.

"Berhentilah. Kau hanya akan membuatnya kesakitan."

"Tidak boleh!" histeris Leeteuk. Dia berusaha menahan darah yang mengalir di kepala Henry, menutup aliran itu dengan tangannya. "Dia tidak boleh meninggalkan ku! Dia berjanji untuk terus di sampingku! Katakan pada ku bahwa dia hanya pingsan karena kesakitan!"

"Dia sudah meninggal," ucap Siwon pelan. Namun jelas. Dan untuk kata kata itu, dia mendapat tamparan dari Leeteuk.

"Dia keluarga mu!" histeris Leeteuk. "Mana boleh kau menyumpahinya seperti itu?! Dia adikmu! Dia paling dekat dengan mu! Dia paling mempercayai mu! Kenapa sekarang kau tidak mau menolong nya?!"

"Aku tidak bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal!" teriak Siwon, kemarahannya bangkit, di sertai rasa sakit dan sedih yang terpancar di kedua matanya. Kyuhyun langsung memeluk Leeteuk, bermaksud melindunginya dari amukan Siwon.

"Kau jahat!" raung Leeteuk. "Kalian jahat! Kalian hanya membiarkan dia pergi! Kalian suka jika aku berpisah dengannya! Jika ingin memisahkan kami, bukan seperti ini caranya!"

"Seharusnya kami yang menyalahkanmu," bisik Kyuhyun dengan suara dingin, masih memeluknya. "Karena bersikeras melindungi mu, kami harus kehilangan saudara kami. Lalu apa tanggung jawab mu? Jika dia mau menyerahkan mu, tentu dia masih di sini dengan kami."

"Kyu!" Siwon terbelalak mendengar ucapan Kyuhyun yang tak berbelas kasihan sama sekali. Yang terlihat jelas seolah menampar Leeteuk dengan sangat keras. Hingga Leeteuk terdiam seketika dari jeritan histerisnya sedari tadi.

"Kami tidak suka jika melindungimu. Kami tidak suka saudara kami mempertaruhkan nyawa nya untuk mu. Dan taruhan nyawa itu sia sia karena orang yang di lindungi nya justru sama sekali tidak menyayanginya."

"Hentikan, Kyu. Hentikan."

Perlahan, Kyuhyun melepaskan pelukannya pada Leeteuk. Tak di pedulikannya peringatan dari Siwon. Dia hanya ingin terus mengatakan apa yang ada di pikirannya.

"Kau yang membuatnya pergi," ujar Kyuhyun lagi. Matanya menatap Leeteuk dengan tajam. "Kau yang mengusirnya pergi dari kami. Bukan kami yang membiarkannya pergi, tapi kau yang memaksa nya untuk pergi dari kami."

Leeteuk menggeleng pelan. Menatap Henry yang kini terlihat dengan tertidur pulas. "Bukan aku... Henry tidak apa apa... dia hanya pingsan..."

"Dia meninggal! Karena mu!" kecam Kyuhyun lagi.

Leeteuk menutup kedua telinganya. Menggeleng. "Bukan aku.."

Siwon memegangi kepalanya yang tiba tiba berdenyut.

"Kita harus pergi dari sini dan membawa Tuan Hen," tegas Siwon.

Kyuhyun mengangguk. Siwon segera memeluk tubuh dingin Henry, dan Kyuhyun memegangi lengan Leeteuk. Dalam sekejap, keempatnya menghilang.

"Eh?" Eunhyuk tiba sesaat setelah mereka menghilang. "Bagaimana bisa mereka hilang? Apa mereka lolos dari sinar mematikan milikku? Huh. Dasar Malaikat menyusahkan!"

TBC-


update^^ kali ini warning nya deathing chara ya~ mian kalo bias kalian yg jadi korban, kkk~ review plis? gomawo^^