Cast:
ALL SUPER JUNIOR MEMBERS


#Chapter 32#

"Hyung...?"

Leeteuk diam. Menoleh pun tidak. Kibum mengulangi panggilan nya.

"Leeteuk Hyung..."

Leeteuk tetap bergeming. Akhirnya, Kibum mendekati Leeteuk. Berjongkok di hadapan Leeteuk yang sedang tidur menyamping sembari menyelimuti tubuhnya.

"Kami akan mengadakan upacara untuk mengantar kepergian Henry. Kau mau ikut mengantarnya?"

Leeteuk menatap Kibum perlahan. Air mata nya kembali mengalir. Menggeleng pelan.

"Ayolah," bujuk Kibum. "Hen akan sedih jika kamu terus begini, Hyung. Apa kau tidak ingin bertemu dengan Hen untuk yang terakhir kali nya?"

"Terakhir kali nya? Apa aku tak akan bertemu dengannya lagi?" tanya Leeteuk. Pelan.

"Setelah ini, dia akan pergi, Hyung. Maka, keluarlah untuk menemuinya."

"Apa dia akan menyalahkan ku? Dia pasti menyalahkan ku," tangis Leeteuk. Kibum segera menghapus airmata Leeteuk.

"Dia bahkan masih melindungi mu sampai akhir hidupnya, Hyung. Mana mungkin Hen akan menyalahkan mu? Ini bukan salahmu. Ini adalah... takdir."

"Buka Hen," geleng Leeteuk, "tapi Kyuhyun dan Siwon. Mereka berteriak pada ku. Mereka mengatakan bahwa aku harus bertanggung jawab. Lalu apa yang bisa ku lakukan?" tangis Leeteuk lagi. "Aku akan melakukan apapun untuk bisa membawa Hen kembali. Tapi mereka tidak memberitahu ku apa yang harus ku lakukan untuk bertanggung jawab. Lalu aku harus bagaimana?!"

Kibum memeluk Leeteuk. Mendekap nya hingga Leeteuk bisa menenggelamkan wajah dan tangisannya di dada Kibum. Kibum mengerti apa yang terjadi. Sejak semalam, dia juga menangis terus sembari memeluk tubuh Henry yang sudah dingin. Mendengarkan cerita sesungguhnya dari Siwon, karena Kyuhyun memilih diam, dan Leeteuk mengurung diri nya di kamar. Menangis terus dan tidak mau bicara sama sekali.

"Mereka tidak menyalahkan mu. Mereka tidak ingin kau melakukan hal yang akan menyakiti diri mu juga. Mereka ingin kau menghargai usaha Hen untuk melindungi mu. Dan berterima kasih untuk usaha nya itu. Mengertilah, Hyung..."

"Aku hanya tidak ingin di tinggal Hen lagi... Aku.. Aku..." Leeteuk masih menangis, terisak sedih.

"Sekarang, temui lah Henry, Hyung," ucap Kibum lembut. Sekuat tenaga, dia berusaha agar tenang. Walau sebenarnya dia juga ingin menangis meraung seperti Leeteuk.

Kibum merasakan anggukan pelan dari Leeteuk, membuatnya perlahan melepaskan dekapannya. Kibum lalu membantu Leeteuk untuk duduk di ranjangnya, lalu menangkupkan tangannya di kedua pipi Leeteuk.

"Hyung, Hen akan sangat bahagia jika kamu mau mengantarnya sampai akhir. Ingat itu, arra?"

Leeteuk menatap Kibum, menemukan ketulusan dan kesungguhan Kibum dalam kata dan tatapannya, hingga tanpa sadar dia mengangguk.

Kibum lalu membantu Leeteuk bangun, dan keluar dari kamarnya setelah semalaman mengurung dirinya sendiri di ruangan itu. Menjauhkan dirinya sendiri dari dunia luar, untuk tenggelam dalam dunia nya sendiri.

Leeteuk melangkah pelan, di bimbing oleh Kibum, untuk menuju satu tempat dimana foto Henry terpasang dengan hiasan bunga di sekitarnya. Foto yang sangat kontras dengan perasaan yang timbul saat melihatnya. Foto itu menampilkan senyuman Henry yang ceria. Namun saat melihatnya, rasanya begitu pedih seperti menyayat kulit sendiri.

Leeteuk membungkukkan tubuhnya di hadapan foto Henry. Menahan segala air mata nya yang hampir tumpah lagi. Dia tidak boleh menangis di hadapan Henry. Membungkuk lama, sebelum akhirnya dia menegakkan kembali tubuhnya, dan berjalan perlahan. Mengelus kotak kayu berukir, tempat Henry di simpan di dalamnya.

"Hen..." lirih nya pelan. Suaranya terdengar serak. Menghapus butir air mata yang jatuh tiba tiba, menegarkan dirinya sendiri.

Tapi lalu, sesuatu, atau seseorang, mendorong tubuhnya dengan sangat keras, dan penuh dengan emosi. Jika tidak ada Kibum yang dengan sigap menangkapnya di belakang, Leeteuk yakin pasti dia akan jatuh terpental dengan mudah.

"Kembalikan anakku!"

Leeteuk terpana. Di hadapannya, seorang yeoja berpakaian serba hitam, menatapnya dengan penuh marah dan di sertai tangisan.

"Karena orang yang tidak berguna seperti mu, Henry yang menanggung akibatnya! Kenapa harus anakku yang menjadi korban mu?!"

Ah ya, Leeteuk lupa. Henry tidak seperti dirinya dan Kibum. Henry memiliki orangtua yang lengkap. Kakak kakak yang begitu baik. Dan Henry adalah yang terkecil di keluarganya. Memiliki anak yang patuh, adik yang periang, yang juga merupakan murid pandai, tentu saja menyakitkan jika kehilangannya. Dan itu semua kesalahannya.

Leeteuk tertunduk. "Maaf..."

Ibu Henry membalas ucapan Leeteuk dengan menampar Leeteuk telak di pipinya.

"Eommoni!" Kibum segera menarik Leeteuk, melindunginya. Sementara Leeteuk hanya terpaku menerima tamparan yang dia rasa dia memang pantas untuk di tampar.

"Kamu membela pembunuh sahabatmu, Bum?! Kamu membela nya?!"

"Bukan dia yang membunuh Hen, Eommoni! Harap anda mengerti!"

"Apa yang harus aku mengerti, huh?! Alasan kenapa anakku yang harus menjadi korban?! Kenapa bukan dia saja yang menjadi korban lebih dulu, baru aku mungkin bisa mengerti!"

"Jika anda ingin korban lain selain Henry, aku siap menggantikan posisi Henry!" seru Kibum. "Dan kebetulan, aku tidak punya Ibu dan Ayah lagi, sehingga Ibu dan Ayah ku tidak akan menyalahkan orang yang ku sukai karena aku menyelamatkan orang itu dari maut!"

"A-apa?"

Kibum menghela napas pelan. "Tenanglah dulu, Eommoni..."

"Bum, lebih baik aku tidak keluar," bisik Leeteuk, dan dengan langkah yang cepat, dia kembali masuk ke dalam 'sangkarnya' dan mengunci diri.

Kibum menghela napas melihat Leeteuk tak ingin meladeni ucapannya sama sekali, dan karena banyak orang yang mulai berkumpul demi memuaskan rasa ingin tahu nya saja.

Perlahan Kibum mendekati Ibu Henry, yang sudah di peluk oleh Ayah Henry.

"Eommoni, mungkin aku akan terdengar tidak adil untukmu, namun aku mengerti mengapa Hen melakukan hal itu."

Ibu Henry masih menangis dalam pelukan suaminya. Namun itu tidak membuat Kibum berhenti bicara. Atau membela Leeteuk, lebih tepatnya.

"Bahkan aku iri pada Hen. Seandainya aku bisa bertukar tempat dengannya, aku ingin menghabiskan sisa waktu ku dengan seseorang yang paling berarti di hati ku, Eommoni. Aku juga ingin mendapat tempat spesial dalam hati seseorang yang ku sukai."

"Kami mengerti, Bum," ucap Ayah Henry, menghela napas dengan berat. Wajahnya yang biasa tampan dan ramah, hari ini terlihat kelam dan lelah di mata Kibum. Kibum tahu kejadian ini memang terlalu berat untuk mereka. Kehilangan anak mereka satu satunya, tentu saja sangat berdampak pada mereka. Henry adalah satu satunya harapan mereka. Dan kini harapan mereka pergi meninggalkan mereka. Orangtua mana yang merelakan anak yang di sayanginya, pergi meninggalkan mereka? Bahkan jika orangtua itu memiliki sepuluh anak, tak ada orangtua yang rela membiarkan salah satu anak nya pergi selamanya meninggalkan mereka.

"Aku tahu aku tidak adil menyalahkan orang itu," ujar Ibu Henry, pelan dengan suaranya yang gemetar. "Namun aku tidak bisa menahan diriku. Saat melihat wajahnya pertama kali, aku begitu marah karena wajah itu begitu polos, tak ada ekspresi sama sekali dalam wajahnya. Padahal karena dia, Henry... ah.."

Kibum tertunduk. Sejujurnya, dia mengerti mengapa orangtua Henry begitu marah terhadap Leeteuk. Walaupun Leeteuk tak bersalah, tapi jika saja Leeteuk mau memperlihatkan perasaan sedihnya, orangtua Henry pasti akan berpikir bahwa anak mereka melakukan sesuatu yang berarti. Tapi Leeteuk justru menampilkan sisi tegarnya, membuat orangtua Henry salah paham dan menganggap Leeteuk tidak punya perasaan bersalah sama sekali, atau mungkin yang lebih tepatnya lagi, tak peduli sama sekali pada Henry.

"Orang itu, adalah orang yang paling terpukul, Eommoni. Dia justru selalu menyalahkan dirinya. Berharap dia saja yang ada di dalam kotak itu dan bukannya Henry. Berdoa setiap detik pada Tuhan untuk mengulang waktu dan bertukar tempat dengan Henry. Wajah polos yang Eommoni lihat, adalah wajahnya yang berusaha tegar, setelah semalaman tak berhenti menangis. Dia berusaha tegar, untuk Henry. Dia tidak ingin Henry sedih karena dia menangis saat mengantarnya pergi. Aku yang memaksa nya untuk keluar, Eommoni. Aku yang memintanya untuk menemani Henry ke tempat terakhirnya. Jika ingin menyalahkan, salahkan aku saja, Eommoni, Abonim."

"Sudahlah," ujar Ayah Henry, menengahi. Lalu menenangkan istrinya. "Ini adalah jalan hidup milik anak kita. Kita tak bisa menolak kehendak Tuhan, ataupun menyalahkan siapapun dalam hidup anak kita. Ini adalah takdir untuk kita dan anak kita."

Kibum hanya diam mendengarnya. Kata kata itu terdengar menghibur, namun ada nada pahit yang menyedihkan dalam kata kata penghiburan itu.

"Aku mengerti," kata Ibu Henry, "lebih baik kita mengurus anak kita dengan baik hingga menuju tempat terakhirnya yang tanpa kita."

Lalu keduanya meninggalkan Kibum. Sementara Kibum hanya tertunduk. Seakan ribuan panah sedang berlomba menikam hati nya dan membuatnya luka.

Kata kata itu memang bukan untuknya. Bahkan bukan juga untuk siapapun. Tapi rasanya menyakitkan. Pantas saja Leeteuk tidak ingin mendengarnya. Kata kata seperti itu justru membuat perasaan lebih tertekan ketimbang di salahkan terang terangan.

Kibum mengalihkan pandangannya ke arah foto Henry. Foto itu seolah balas memandanginya. Senyuman yang tadinya terlihat ceria, sekarang terlihat seperti sedang tersenyum dengan penuh rasa bersalah. Pandangan Henry di foto itu seolah meminta maaf padanya. Dan setelah beberapa kali mengerjap pun, pemandangan itu tidak berubah, maka Kibum yakin jika Henry juga bersedih untuk nya.

Tanpa mempedulikan pandangan heran orang lain yang melihatnya, Kibum menyunggingkan senyum tulus untuk sahabat terbaiknya itu. "Aku baik baik saja, tenanglah. Aku akan menanggungnya, jadi aku minta kamu harus selalu bahagia disana."

Perlahan namun terjadi, foto itu kembali seperti pemandangan semula. Foto Henry yang tersenyum manis. Kibum tersenyum lagi, kali ini dengan lega.

"Aku tak akan melanggar kepercayaanmu. Terima kasih telah mempercayaiku."


"Sudahlah. Bukan salah mu jika sampai jatuh korban seperti itu."

Leeteuk menatap Shindong dengan datar. "Bukan kamu yang kehilangan orang yang kamu sayang. Kamu tidak tahu rasanya."

"Tapi terus menerus bersedih dan menyalahkan diri sendiri, memangnya bisa membawanya kembali?"

"Tak usah menceramahi ku!"

"Tidak. Aku tak mau repot repot seperti itu. Tapi harus nya kau tahu, pasti akan ada korban dalam pertempuran mu dengan Eunhyuk. Dan pastinya, akan lebih banyak yang berasal dari pihak mu."

"Cukup. Jangan lagi di teruskan."

"Kau mau menyerah? Lalu kembalikan mutiara ku."

"Aku juga tidak minta kau berikan pada ku. Untuk apa? Tanpa mutiara dari mu aku juga sudah punya satu."

"Dasar malaikat bodoh!" ujar Shindong gemas. "Lalu kau akan terjebak lagi dalam takdir yang sama? Eh, kau pikir aku mau diam saja melihat mu menyeret nyeret Ryeowook lagi dalam takdir menjengkelkan itu? Sudah tiga kali kelahiran, sudah cukup untuknya. Dia bisa jadi manusia selamanya jika mengandalkan kemampuan mu yang itu itu saja, tahu?!"

"Kalau kau mau, kau boleh menemui Wook, menceritakan segalanya padanya. Aku tidak melarang."

"Kau ini semakin bodoh atau gila, ya? Kau kena racun apa sih, dari Hyuk?"

"Racun hati, kau tahu? Pesuruh mu itu sudah sukses memasukkan racun di hati ku. Sekarang rasanya aku ingin mencekik dia dan menguburnya hidup hidup."

"Sadis sekali," Shindong menggelengkan kepalanya. "Apa kau benar benar terlahir dari malaikat yang lembut, eh?"

"Apa apaan?" sergah Leeteuk, "hanya menguburnya hidup hidup itu tidak sadis, tahu?!"

"Yah, terserah lah. Tapi harus nya sekarang kau sudah mengerti, kan, posisi mu? Sudah tidak bisa mengelak lagi. Lebih baik kau segera merencanakan sesuatu..."

"Aku tahu. Aku akan melakukan ini untuk Henry."


"Teuki?"

Leeteuk menoleh, matanya yang sayu sedikit berbinar melihat sosok itu.

"Yesung?"

"Hai," Yesung tersenyum, "bagaimana keadaan mu?"

Leeteuk menunduk. "Tidak baik. Henry... pergi.."

"Aku sudah mendengarnya. Aku dan Heechul, sudah tahu. Siwon yang menceritakannya."

"Semua salahku, iya kan?"

"Tak ada yang menyalahkan mu, Teuki," ucap Yesung lembut. Menghampiri Leeteuk dan duduk di sampingnya. "Apa kau tidak keluar sama sekali seminggu ini?"

"Keluar. Untuk mengantar Henry."

"Selebihnya tidak?"

Leeteuk menggeleng. "Di balik pintu itu, banyak sekali kenangan ku tentang Henry. Aku belum cukup kuat untuk membuka nya."

"Selain tentang Henry, bukankah kamu juga memiliki kenangan tentang Kibum, Ryeowook, Kangin? Mereka mencemaskan mu. Apa tidak apa apa, membuat mereka terus khawatir padamu?"

Leeteuk menatap Yesung. "Bagaimana dengan mu?"

"Aku juga. Aku khawatir sekali. Sayangnya, aku baru mendengar berita tentang mu dan Henry hari ini. Maka aku langsung kesini. Aku ingin melihat mu. Ternyata, tak ada senyum sama sekali untukku dari mu."

Leeteuk mencoba menarik bibirnya untuk tersenyum, tapi jadi terlihat meringis di mata Yesung.

Yesung tertawa kecil. "Sudahlah, tak perlu di paksakan."

Leeteuk tiba tiba meneteskan airmata. Yang langsung di seka oleh Yesung. "Eh? Kau kenapa?"

"Yang biasa membuat ku tersenyum sudah tidak ada lagi," lirih Leeteuk.

"Kalau kau mengijinkan, aku akan menggantikan tempat Henry untuk selalu menghiburmu. Bagaimana?" tawar Yesung.

"Bagaimana caranya?"

Yesung menyunggingkan senyum nya yang misterius. "Tutup dulu mata mu."

Leeteuk melakukan apa yang di suruh Yesung. Menutup matanya dengan rapat. Tak lama kemudian, dia mendengar suara Yesung lagi.

"Kau sudah boleh membuka mata mu lagi."

Leeteuk membuka matanya. Dan langsung terbelalak kaget.

"Ini... dimana?"

Yesung tertawa kecil. "Tentu saja di kamarmu."

"Tapi... kamar ku tidak penuh... seperti ini..."

Di kamar Leeteuk, sekarang penuh dengan balon yang melayang perlahan, dengan tali tali pita yang beruraian, juga burung burung yang terbuat dari kertas warna warni yang terikat di tali tali pita balon tersebut. Beberapa dari balon itu juga menerbangkan kertas kertas bertulisan.

Leeteuk memandangi dengan takjub, dan Yesung mengambil sebuah balon yang melintas di depannya, menarik tali nya dan memberikannya pada Leeteuk.

"Coba di baca," pinta Yesung, sembari mengangsurkan kertas yang terikat di tali balon itu.

Leeteuk membacanya pelan pelan. "Kau akan tertawa jika membacanya."

Leeteuk kembali menatap Yesung sembari menahan senyum. "Maksudnya apa?"

"Tuh kan, tersenyum," kerling Yesung, membuat Leeteuk tergelak kecil.

"Ide mu ini aneh, Yesungie."

"Biar saja. Itu kan ciri khas ku."

Leeteuk tergelak lagi. "Maksudmu, kau juga aneh, begitu?"

"Kau tahu aku seperti apa, Teuki," jawab Yesung, menatap lurus ke arah Leeteuk.

Leeteuk menunduk, salah tingkah tiba tiba. Lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. "Wah, ada kertas yang berbentuk hati," tunjuknya, mengalihkan pembicaraan.

Yesung hanya tersenyum melihat Leeteuk yang tiba tiba mengalihkan pembicaraan mereka. "Mau ku ambilkan?"

"Aku ingin mengambilnya sendiri," ujarnya, lalu beranjak bangun. Mencoba menangkap balon dengan kertas berbentuk hati itu, yang melayang layang rendah di sekitarnya.

Yesung memperhatikan Leeteuk yang menangkap balon itu. Yang lalu membaca isi tulisan yang ada dalam kertas itu. Hanya melihatnya tanpa berkomentar apapun.

"Ini... aku tak mengerti..."

"Apa?"

Leeteuk melihat ke arah Yesung. Menggaruk belakang kepalanya dengan wajah bingung. "Apa maksudnya?"

"Baca saja."

"Sudah. Tapi tak mengerti."

"Lalu bagaimana caranya kau bisa mendapat beasiswa di sekolah mu selama ini?"

Leeteuk merengut. "Tak ada hubungannya dengan beasiswa." Lalu dia terdiam sejenak. "Eh? Bagaimana kau tahu aku dapat beasiswa?"

Yesung membulatkan matanya. Tersenyum lucu. "Bukankah kamu yang melupakan kami? Aku dan Heechul yang kau lupakan, bukan kami yang menguntitmu, jika itu yang kau pikirkan."

"Ah..." Leeteuk meringis. "Aku tidak tahu kau bisa membaca pikiran juga."

"Aku hanya membaca raut wajahmu. Kau memandangku dengan tatapan aneh, seolah berpikir apa aku menguntit mu selama ini padahal kita baru kenal, oh atau lebih tepatnya, kau baru mengenalku. Teuki, aku dan Heechul sudah mengenalmu lebih lama dari yang kau ingat."

Leeteuk tersenyum. "Masuk akal. Ternyata aku memang benar benar lupa ingatan, ya?"

"Kau... tidak tahu?"

Leeteuk menggeleng. "Tidak di beritahu, lebih tepatnya. Aku tidak mengerti ingatan ingatan apa yang mereka berikan padaku. Mengarang kejadian kejadian yang bahkan aku tak tahu kapan terjadi nya. Aku juga tak tahu apa kejadian itu benar atau hanya buatan mereka. Satu satu nya yang aku yakini benar, adalah saat kau menggambar untukku. Suasana nya sangat familiar dan nyaman. Mungkin itu sebabnya aku merasa dekat dengan mu..."

"Tentu saja, aku juga merasa begitu," tambah Yesung, saat melihat Leeteuk kembali menunduk. "Dan aku ingin selalu dekat dengan mu seperti ini terus."

Dengan cepat, Leeteuk kembali mendongak. Menatap ke arah Yesung dengan wajah bingung. Yesung mengerling ke arah kertas yang masih di pegangi Leeteuk. Dan tatapan Leeteuk mengarah lagi pada kertas yang masih ada di tangannya. Perlahan senyum nya mulai terkembang dengan manis.

Alasanku di sini adalah karena mu.


Heechul menghela napas. "Kita sudah tidak bisa menghindar lagi."

"Menghindar untuk apa?!" sergah Hangeng. "Dia sudah membunuh adikku! Dia harus membayarnya! Jika tidak ada yang mau maju, biar aku yang menghadapinya!"

"Tak ada yang ingin menghindar, Han. Tenangkan dirimu. Kita semua sedih, di sini." Zhoumi mengingatkan.

Kyuhyun tertunduk. "Aku ingin sekali memeluk Ibu Henry dan Ayah Henry, tapi tak bisa ku lakukan karena aku bukanlah Kyuhyun di mata mereka. Aku adalah Husk untuk mereka. Setelah semua barang barang Henry selesai di urus, kita juga akan di bawa sebagai Husk, Nutz, Laz dan Max. Bagaimana cara kita membalaskan dendam Henry pada Vampire gila itu?!"

"Maaf ku ralat," sela Siwon, "Tuan Hen tidak mendendam, apalagi saat terakhirnya. Yang mendendam di sini adalah kita. Tapi bukan itu yang ingin ku bahas sekarang. Aku hanya ingin mengulang pertanyaan Kyu dan pernyataan Han tadi. Cara untuk menghadapi Vampire itu."

"Ah ya," Heechul menatap Siwon dengan penuh minat. "Bagaimana caranya?"

"Serahkan tuan Angel pada Vampire itu!"

"Kau gila?!" Kibum yang paling pertama berteriak.

"Kau tahu dia paling bersemangat mengejar Leeteuk Hyung!" tambah Kangin cemas.

"Mana mungkin aku bisa tenang merelakan Leeteuk Hyung di tangan Vampire itu?!" seru Ryeowook kaget. Sementara yang lain langsung memelototi Siwon.

Siwon meringis. "Astaga. Kau juga Vampire, kan?" tanya Siwon pada Ryeowook. "Dan kalian tidak bertanya pada ku, bagaimana selanjutnya, tapi langsung menyerangku dengan kata kata pesimis seperti itu. Apa tidak ingin tahu apa alasanku mengajukan namanya di garis terdepan?"

"Baiklah," Hangeng segera menyela, "coba kau jelaskan pada kami lebih detail tentang rencana mu, Won."

Siwon menyeringai. "Itu lebih baik. Dan tolong kuatkan jantung bagi yang memilikinya supaya tidak copot saat kita melaksanakan rencana yang satu ini."


"Wah. Kau berbakat jadi pencuri. Hehe."

"Ide Siwon memang benar benar mempertaruhkan nyawa ku! Pantas saja dia memberi peringatan sebelumnya," geram Heechul.

Yesung terkikik kecil. "Wah. Aku baru tahu kau punya nyawa."

"Jangan meledekku terus."

"Haha. Baiklah baiklah. Jadi, apa yang akan kita lakukan dengan benda di tangan mu itu?"

Heechul menatap benda di tangannya, lalu menyunggingkan senyum sinis miliknya.

"Di gunakan sebaik baiknya!"

TBC-


Hay hay~ update nii~ so, much much thank you for all my darling^^ :

~nekochan : hai neko chan my darling^^ makasih review nya^^ untuk semua pertanyaan mu, udah terjawab semua kan yah? heheh :D hmm, kalo ga ada deathchara ga seru say(?) kkk~ oh ya, utk penjelasan mutiara, mungkin akan di jelaskan nanti, atau tidak ada penjelasannya(?) heheh, tungguin aja yah^^ jgn bocen2 baca en review yaa^^ gomawo~

~Tyateukie13 : hai tyateukie13 my darling^^ makasih review nya^^ wks miaan nanti saia bagi darah saia deh (?) heheh tapi saia bersyukur kalo ff ini bisa bikin surprise bwd reader coz saia kadang merasa ff ini terlalu membosankan :(( mungkin terlalu panjang kali ya? tp jgn bocen2 baca en review yaa^^ gomawo~

~yunitaelf : hai yunitaelf my darling^^ makasih review nya^^ di chapter2 terbaru kykny uda rada panjang yah? tp bikin bosen ngga sih? :'( *galau* but jgn bocen2 baca en review yaa^^ gomawo~

~guest :hai my guest whose become my darling^^ makasih review nya^^ saia suka sekali komen dari kamu *atau kalian?* yang bilang kalo ff ini fresh and out of the box ^,^ tau ngga kalau hanya dgn kata2 itu, kamu uda bikin saia semangat sampe bisa slesain 2 chap sekaligus *-* thanks buat pujiannya, yaa^^ i love you all ^^ and then, jgn bocen2 baca en review yaa^^ gomawo~

~jungnaera: hai jung naera my new readers and my darling^^ makasih review nya^^ tapi saia rasa, kamu pasti udah baca sampai chap terbaru kan yah? ^^ semoga rasa penasaran kamu terjawab ya~ en jgn bocen2 baca en review yaa^^ gomawo~

~aisy: hai aisy my new readers and my darling^^ makasih review nya^^ hari ini lanjut koq~ and just info, saia update seminggu sekali tiap hari senin^^ so, jangan lupa en jgn bocen2 baca en review yaa^^ gomawo~

then, i ask you to give me review, again~ gomawo^^