Lovable — Sebelas
Haikyuu! © Furudate Haruichi
Pairing: Ushijima Wakatoshi/Tsukishima Kei
Rated: T
Warning: Boys love, OOC, absurd, typo-typo bertebaran, plot ancur, dll (lol)
.
.
.
Dai ichi.
"Gomenasai."
"Ah iie, itu bukan salahmu."
Ushijima mengangguk.
Itu hanyalah pertemuan singkat yang wajar bagi Tsukishima, dan sebenarnya pun ia tidak perlu permintaan maaf dari orang yang telah melukai tangannya hanya karena ia terlalu kuat dalam menghempas bola—dalam sebuah pertandingan resmi untuk memperebutkan posisi puncak. Bukannya itu wajar? Jika seseorang terlalu terpacu mengejar kemenangan dan mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk itu? Kini Tsukishima yang malah tidak mengerti dengan pemikiran sang kapten dari Shiratorizawa itu.
Dai ni.
Grip.
Genggam mengerat itu sudah bagai pelecehan bagi Tsukishima, namun dalam pertandingan, di depan ratusan, ah tidak, mungkin sampai seribu lebih penonton yang menyaksikan akhir laga antara Karasuno koukousei dan Shiratorizawa koukousei itu, ia tidak bisa bertingkah ceroboh dengan memutus paksa jabat tangannya dengan sang kapten sekaligus ace musuhnya—Ushijima Wakatoshi.
Dai san.
"Kau, nomer 11 Karasuno kah?"
Tsukishima menoleh ke sumber suara, "Dan kau kapten Shiratorizawa."
"Tidak, aku—mantan kapten."
"Ahsou, sumanai."
"Ushijima Wakatoshi," Ushijima menawarkan tangannya.
Beberapa saat Tsukishima terpaku, kemudian dengan ragu menjabat uluran Ushijima, "Tsukishima Kei."
Dai yon.
"Jadi, Tsukishima-san," Tsukishima menoleh, "sampai disini, arah mana yang harus kuambil?"
Tsukishima melihat ke jalan, "Ah, uh, kiri."
Ushijima mengikuti arahan si blonde sampai di depan rumahnya. Dengan Tsukishima membungkuk sopan setelah melayangkan ucapan terimakasih begitu sampai.
"Um, apa kita akan bertemu lagi?"
"Karena kita punya hobi yang sama, itu mungkin."
Ushijima mengangkat sudut bibirnya naik, "Kalau begitu sampai jumpa, Tsukishima-san."
"Sampai…, jumpa."
Dai go.
"Ah, Tsukishima-san."
Tsukishima mengalihkan atensinya dari strawberry shortcake yang sudah setengah termakan di depannya, mendongak untuk kembali menemukan manik hitam kehijauan itu.
"Ushijima...,—san?"
Dia mengenakan pakaian trainingnya, warna putih dan ungu muda yang menjelaskan tempatnya bersekolah terlihat bagus ia kenakan, satu kepala earphone menggantung di dadanya, sementara Tsukishima dapat melihat kabel kepala satunya naik ke telinga kanan sang ace, kabel yang lebih besar terhubung dan menghilang di sakunya.
Ushiwaka terlihat bagus seperti biasanya, tatapan tegas dan ukuran tubuhnya yang mengintimidasi itu.
Tapi tunggu, bahkan dia masih berlatih di saat seperti ini? Bukankah ia sudah kelas tiga? Ah tapi, dia juga dimasukkan ke jejeran pemain muda nasional. Itu wajar saja.
"Sendirian?" tanya Ushijima, gelas plastik berisi jus ditangan.
"Ya."
"Kalau begitu, boleh aku duduk di sini?"
"Eh?!" si kacamata terperangah, "tidak meneruskan latihan pagimu?—tapi, silahkan."
Ushijima menaruh gelas jusnya di meja sebelum menempati kursi di hadapan Tsukishima, "Tidak sopan jika aku minum sambil berlari. Dan kau, apa yang kau lakukan? Kau masih kelas satu dan tinggal menghitung hari sampai pertandingan nasional dimulai, kenapa kau malah bermalas-malasan?"
Si blonde menekuk wajahnya, tangannya memainkan garpu pada kuenya. Lalu, ia mendongak dan tersenyum, "Yah, maaf saja aku tidak sekuat dirimu."
Tapi berbeda dengan tanggapan orang-orang yang menerima sarkasnya, si helai gelap menanggap dengan senyuman, "Kulihat kau memang jauh berbeda dari si chibi teman setimu itu."
"Jika kau menyamakan kami sejak awal, aku menyimpulkan kau bukan seorang yang cerdas, Ushijima-san."
"Tidak, aku sudah tahu, dan kepribadianmu itu," jeda, "aku suka."
Suka.
Suka.
Suka.
Dai roku.
To: Ushijima Wakatoshi
Ushijima-san, apa kau keberatan jika aku berlatih denganmu minggu ini?
To: Ushijima Wakatoshi
Maaf tapi, aku ingin meningkatkan blok ku. Dan spike mu sejauh ini menjadi yang paling sulit kuatasi. Aku perlu lebih kuat jika lawanku nanti adalah Bokuto-san
From: Ushijima Wakatoshi
Ya, tentu. Datang kerumahku, kukirim alamatnya nanti
Nan—
Dai nana.
"Ugh. Seperti biasa, spike-mu sungguh bertenaga."
"Butuh beberapa waktu sampai kau bisa terbiasa. Dan dengan tubuh kurusmu itu, butuh beberapa tahun untuk bisa memblok 70 persen dari spike-ku."
Tsukishima menyeringai, "Hanya 70 persen setelah beberapa tahun huh?"
Koi.
Dai hachi.
"Ushijima-san?"
"Ah, Tsukishima-san. Sudah berhenti bermalas-malasan?"
Ushijima memelankan larinya perlahan sampai ia berhenti di depan dua pemuda yang juga sedang lari pagi itu.
"Mau bagaimana lagi. Hanya tersisa dua minggu sampai pertandingan tingkat nasional diadakan," jawab Tsukishima datar seperti biasa.
"Ah soudesuka."
"Tsu—tsukki, se—sejak kapan kau dekat dengan kapten dari Shiratorizawa."
"Aku—"
"Mantan kapten bukankah begitu?"
"Tsu—tsukkiii…"
Dai kyuu.
"Beli sepatu lagi?"
"Hm, sepatuku sudah rusak."
"Tunggu, bukankah itu baru sekitar 15 hari yang lalu kau membelinya?"
"Ya, tapi sekarang itu sudah robek, kualitasnya buruk, jadi aku ingin coba mencari yang lebih kokoh."
Ushijima balik menatap si blonde.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?"
"Sedang mencari pads baru."
"Tidak bersama si bintik itu?"
"Ah, Yamaguchi sudah beberapa waktu ini sibuk melatih service-nya."
"Oh."
Dai juu.
From: Ushijima Wakatoshi
Tsukishima, bisakah kita bertemu setelah kau selesai dengan kegiatan klubmu?
To: Ushijima Wakatoshi
Hanya sebentar. Ada apa tiba-tiba ingin bertemu?
From: Ushijima Wakatoshi
Aku ingin bicara. Kutunggu di depan toko dekat sekolahmu.
To: Ushijima Wakatoshi
Ah baik.
Dai juu-ichi.
Tsukishima berjalan pulang, ia sendirian karena teman setimnya semua masih berlatih. Biasanya ia belum pulang di jam itu, namuin kali ini ia minta ijin untuk selesai lebih awal.
Semua itu tentunya karena seorang Ushiwaka yang memintanya, dan tiap langkahnya, Tsukishima merasakan detak jantungnya semakin berisik. Nyatanya ia tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya, toh ini hanya pertemuan yang wajar dengan sang mantan kapten dari Shiratorizawa. Ya itu wajar—kan?
Tidak ketika dilihatnya Ushijima Wakatoshi berdiri di depannya, wajah terlihat gusar, dan tubuhnya yang tegang itu terlihat dari balik jersey putih dan ungu muda itu.
Lalu mata mereka kembali bertemu, dan Tsukishima sudah tahu, apa yang akan dikatakan oleh pemuda kekar bersurai gelap di hadapannya itu.
"Tsukishima Kei, maukah kau menjadi kekasihku?"
.
.
.
END
.
.
.
A/N: Ganiat nerusin sebenernya, toh ini fanfik buat event, tapi ide ini ngganjel(?) dikepala jadi ga fokus seharian. Maaf ini abal banget, maklum lama ga nulis fanfik;;;;;;;;;;;;; (tambahan, maaf kalau plotnya kecepetan, ini buatnya ngebut, mungkin bakal diedit lagi besok /deep bow/)
