The Mermaid and The Prince

The Merman and The Prince © Maxitron

Romance/Fantasy

Akashi x Fem!Kuroko

I don't own the story. The story belongs to wattpad author Maxitron with original title The Merman and The Prince. I've ask her permission to translate and change it into genderswitch. Once again, this story IS NOT MINE.

DLDR!


Suara teriakan membangunkanku dari tidur dan aku terduduk dengan mata melebar, panik. Aku berusaha turun dari tempat tidur dan berlari menuju jendela. Pintu gerbang kediaman kami terbakar dan aku bisa melihat sekelompok orang menyerupai bayangan berusaha memasuki rumah.

Pintu kamarku menjeblak terbuka. Aku menoleh terkejut dengan jantung berdegup, namun mendesah lega saat melihat Kagami. Pemuda itu masuk ke dalam, membuka paksa lemariku dan mengambil sebuah tas yang tersembunyi di sudut bawah serta sepasang sepatu boot dan jaket ber-hoodie.

Jantungku mencelos melihat tas itu. Bertahun-tahun lalu dia dan pamanku mengepaknya untukku guna berjaga-jaga seandainya rahasiaku terbongkar dan aku harus melarikan diri. Di dalamnya terdapat baju, uang dan beberapa botol air serta makanan kaleng.

"Aku tidak ingin pergi."

Kagami mengabaikan ucapanku, melempar jaket ke arahku dan membungkuk untuk memakaikan sepatu di kakiku. Aku membiarkannya, terlalu shock untuk menyadari apa yang tengah terjadi. Selanjutnya, aku mendengar gedoran di pintu dan sebuah suara yang berteriak lantang.

"Buka pintunya! Kami tahu gadis itu adalah putri duyung! Berikan dia dengan damai dan tak ada yang akan terluka!"

Aku terbelalak menatap Kagami yang mendecakkan lidahnya sebelum menarik tanganku dan membawaku keluar kamar. Kami berlari ke ujung rumah dan menerobos masuk ke sebuah ruang kantor kecil tepat ketika aku mendengar pintu utama terdobrak paksa.

Kagami mengunci pintu dan menahannya dengan lemari sementara aku memakai jaketku dengan tangan bergetar. Dia menyerahkan tasnya padaku kemudian bergerak mendekati dinding, meraba-rabanya seolah mencari sesuatu, seraya menjelaskan semua yang terjadi.

Sekelompok pria tiba di pulau dengan sebuah kapal tengah malam ini. Mereka pergi ke kedai minuman dan mengancam orang-orang untuk memberi mereka informasi mengenai gadis berambut biru. Pemilik kedai segera mengirim seseorang untuk memperingati kami, namun para penjahat itu mengikuti dengan cepat usai mendapatkan informasi tentangku dari seorang pedagang yang merupakan pengunjung pulau.

Bunyi 'klik' kecil memenuhi ruangan dan sebuah papan di dinding bergerak ke arah dalam membentuk jalan. Itu adalah pintu keluar rahasia yang kami miliki. Kagami berbalik, memakaikan tas di punggungku dan menatapku untuk sesaat. Kesedihan tergambar di wajahnya saat dia menarikku ke pelukannya.

"Kumohon, aku tidak bisa melakukan ini."

Kami selalu membuat rencana untuk saat-saat ini, tapi aku tidak pernah berpikir hal ini akan benar-benar terjadi. Aku selalu berhati-hati dan pulau kami adalah pulau kecil. Semua terjadi karena aku pergi keluar malam itu dan kekuatan laut memerangkapku. Air mata menggenang di kedua mataku ketika Kagami mundur dan menarik pedangnya. Bunyi derap kaki terdengar di luar.

"Kau bisa. Kau lebih pintar dan kuat dari yang kau bayangkan. Aku akan segera menyusulmu."

"Hei, pintu ini terkunci!"

Teriakan dan gedoran di pintu membuatku melompat terkejut. Kagami membungkuk dan mencium kepalaku.

"Pergi."

Menggigit bibir, aku merangkak ke dalam jalan rahasia kecil yang segera Kagami tutup di belakangku. Kegelapan total langsung menyelimutiku saat aku bergerak secepat dan setenang yang aku bisa dengan tangan di sepanjang dinding yang menuntunku. Di belakang, aku bisa mendengar teriakan dan jeritan semua penghuni rumah serta penyusup yang mencoba mendobrak pintu ruangan tempat Kagami telah menunggu.

Terowongan itu menikung turun sebelum perlahan kembali seperti semula. Beberapa lama kemudian, aku berhasil keluar dan tiba di rumah kaca di depan kediaman kami. Menyelimuti tubuh dengan bayangan yang menyembunyikanku dari pandangan, aku segera berlari melewati gerbang yang masih menyala-nyala menuju kota.

Tak ada teriakan menghentikanku di sepanjang perjalanan dan aku tidak berani menoleh ke arah rumah tempatku tumbuh yang sekarang berada di bawah serangan karena aku. Aku berdoa untuk keselamatan semuanya dan bergegas menuju dermaga.

Aku menemukan kapal yang hendak berlayar dan segera naik sambil terhuyung. Dua orang pria tengah memuat beberapa tong berisi rempah-rempah serta buah-buahan ke gudang penyimpanan, dan aku menyelinap di sekitar mereka, bersembunyi di antara tong dan dinding, jauh dari pandangan.

"Apa itu yang terakhir?"

Sebuah suara terdengar.

"Ya, ikat semuanya sekarang!"

"Baiklah, lebih baik kita segera pergi. Di sana ada kapal pemburu. Aku tidak ingin berada di sini lebih lama lagi. Mereka membuatku muak, memburu dan membunuh duyung."

"Duyung bukanlah manusia. Mereka adalah ikan, makhluk buas."

"Jaga mulutmu, Nak. Mereka menyembuhkan orang sakit dan membantu mencari kekayaan di laut sebelum orang-orang seperti pemburu merusak mereka. Makhluk buas sebenarnya adalah mereka yang mulai membunuh para duyung. Tuhan membantu siapa pun yang menjadi sasaran mereka. Mereka tidak akan menyerah terhadap perburuan sekali mereka mengendusnya."

Aku merasakan kapal berayun menjauhi dermaga dan aku memeluk lututku. Air mata yang sempat tertahan kini berjatuhan mengaliri wajahku begitu tersadar aku baru saja meninggalkan satu-satunya rumah yang kumiliki. Aku membiarkan air mata turun semakin deras seiring kegelapan menyelimutiku.


"Apa ini? Penumpang gelap?"

Aku terbangun kaget dan melompat berdiri, sedikit goyah ketika kapal berayun-ayun di bawahku. Seorang pria tua, mungkin berusia diakhir lima puluhan, berdiri di depanku, berayun bersama kapal untuk menjaga keseimbangannya. Aku berusaha mencari jalan keluar, namun pria itu bertubuh besar dan menutupi satu-satunya jalan masuk.

"Hei, hei, gadis kecil.. tenanglah, oke? Aku tidak akan menyakitimu."

Dia mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa ia tidak bermaksud buruk. Aku menyadari suaranya sebagai orang yang membela kaum duyung.

"Kau memiliki rambut yang sangat cantik."

Aku memegang kepalaku, mendapati hoodie-ku telah merosot dan memperlihatkan surai biruku. Aku menatap pria di depanku, penasaran sebanyak apa yang dia tahu.

"Kami segera pergi setelah aku menyadari kapal pemburu, tapi aku mendengar jika mereka tengah mencari gadis berambut biru dan menawarkan sejumlah besar uang pada siapa pun yang bisa menangkapnya."

Jantungku mencelos mendengarnya. Dia tahu. Dia tahu aku adalah putri duyung.

"Cepat atau lambat, kabar akan terdengar sampai pelabuhan-pelabuhan jika mereka sedang mencari seorang gadis kaya berambut biru. Tetapi, jika kau menutupinya dengan syal dan mengganti bajumu dengan pakaian yang lebih menyerupai pelaut, aku yakin kau bisa melewatinya tanpa terlihat."

Aku mendongak untuk bertemu dengan sepasang mata cokelat yang tersenyum saat dia mengulurkan syal cokelatnya yang kotor. Menggumamkan terimakasih, aku menerimanya dan memakainya menutupi kepalaku, memastikan setiap helai rambut tersembunyi. Perutku berbunyi dan pria itu tertawa. Wajahku memerah.

"Tunggu di sini sebentar."

Dia meninggalkan gudang penyimpanan dan kembali beberapa saat kemudian dengan sepiring buah-buahan, dua kendi dan setumpuk pakaian. Aku memakan buah-buahan itu rakus dan meminum salah satu kendi berisi air sementara dia mulai berbicara.

"Namaku Wolf, aku adalah kapten dari kapal dagang ini. Aku akan berbicara pada awakku dan menjelaskan jika kau adalah pelarian dari salah satu pelabuhan tanpa menyebutkan pulaumu. Lebih baik tidak membiarkan imajinasi mereka berkembang liar. Mereka awak kapal yang baik, namun bahkan yang terbaik sekali pun bisa berubah begitu mencium bau emas."

Begitu aku menghabiskan makananku, dia membalikkan badan sementara aku pergi ke pojok ruangan yang tersembunyi untuk mengganti pakaianku dengan celana cokelat dan kemeja putih berpotongan melambai. Kainnya kasar dan siapa pun tak akan menduga seorang nona muda yang melarikan diri akan mengenakan pakaian seperti ini. Ketika aku kembali, aku mengulurkan tanganku dan menjabat tangan besar sang kapten.

"Terimakasih, kapten Wolf. Namaku Kuroko."

"Apa kau putri duyung?"

Aku ragu mendengar pertanyaannya. Dia mengambil kendi kedua dan aku bisa melihat isinya yang juga penuh air, namun kali ini adalah air garam. Aku menatap pria itu, kecurigaan menyelimutiku. Menggunakan air garam di malam hari adalah cara pemburu menemukan kami.

"Aku tahu cara kerja pemburu, tapi aku bukan salah satu dari mereka. Aku pikir sangat tidak benar untuk menyiksa duyung. Aku berharap akan tiba waktunya di mana kita semua bisa hidup berdampingan kembali. Aku bekerja dengan sekelompok orang yang membantu kaummu pergi menjauh dari perairan ini dan jangkauan pemburu."

Dia mendorong kendi ke arahku, membiarkan keputusan berada di tanganku. Aku menatap kendi itu dan kapten bergantian. Dia bisa dengan mudah menyiram isi kendi itu padaku guna melihat sosokku sesungguhnya, tapi dia memberiku pilihan. Aku bergerak maju dan memasukkan tanganku ke dalam kendi. Dengan segera cahaya biru menyinari ruangan dan aku menarik tanganku untuk menunjukkannya beberapa sisik yang berkilau di punggung tanganku. Dia mendekat, matanya melebar.

"Warnanya pasti sangat bergantung pada setiap putri duyung. Aku tidak pernah melihat warna biru seperti ini. Boleh aku memegangnya?"

Aku mengangguk. Dia meraih tanganku dan membolak-baliknya, mengagumi bagaimana sisikku bersinar. Wajahnya tampak tenggelam dalam pikiran selagi dia menatap sisikku. Usai beberapa menit, aku mulai merasa tidak nyaman dan perlahan menarik tanganku, mencoba untuk tidak membuatnya marah.

"Jadi, ke mana kapal ini berlayar?"

Kemarahan berkilat di matanya saat aku mengelap tangan dengan bajuku—mengeringkannya hingga kulitku kembali seperti semula, namun dengan cepat dia menggantinya dengan senyuman, membuatku tak yakin jika aku memang melihat sesuatu.

"Membutuhkan waktu dua hari sebelum kita tiba di pelabuhan, itu pun jika cuaca mendukung. Untuk sementara, aku ingin kau tetap di sini hingga aku memastikan kesetiaan para awakku. Aku merekrut beberapa orang baru sebelum mendarat di pulaumu dan belum memiliki kesempatan untuk menginterogasi mereka. Aku akan membawakanmu makanan dan minuman, jadi tetaplah bersembunyi di sini dengan tenang."

Dia berdiri, membawa nampan dan kedua kendi bersamanya. Ketika pintu tertutup, aku mendengar bunyi tak menyenangkan saat dia menguncinya. Aku tidak mempercayainya. Pikiran itu sendiri mengejutkanku. Dia terlihat bersungguh-sungguh mengenai kebenciannya terhadap pemburu, namun senyumnya terlalu lebar seperti dipaksakan.

Aku telah bertemu orang-orang seperti itu sebelum bekerja untuk pamanku. Mereka tersenyum, namun kehangatannya tidak mencapai mata mereka. Mungkin saja dia tidak berbahaya, tapi sebagian diriku tidak ingin mengambil resiko. Tidak setelah terlempar sejauh ini dari rumahku.

Aku tidak bisa mempercayai siapa pun. Aku akan menunggu hingga kunjungan berikutnya dan memastikan dia tidak mengunci pintu begitu dia pergi. Aku perlu memastikan kapal macam apa yang telah aku naiki ini.

.

.

.

To be continued...

Terimakasih yang sudah membaca dan mereview chapter kemarin :)

SesilliaS : Iya benar, ini adalah salah satu karya Maxitron, penulis di wattpad. Saya juga suka banget cerita ini! ^^

ryu elchan : Total ada 41 chapter (o.o), tapi akan diusahain update rutin.

Violet Meh : Sipp, ini sudah dilanjut ^^

.

.

.

Thanks for read!

Last, review?