The Mermaid and The Prince
The Merman and The Prince © Maxitron
Romance/Fantasy
Akashi x Fem!Kuroko
I don't own the story. The story belongs to wattpad author Maxitron with original title The Merman and The Prince. I've ask her permission to translate and change it into genderswitch. Once again, this story IS NOT MINE.
DLDR!
"Jadi, muatan apa yang biasanya kalian bawa?"
Lagi. Kedutan kecil yang terlihat di mata kiri pria itu setiap dia mengatakan kebohongan.
"Sebagian besar makanan untuk perjalanan pendek, dan rempah-rempah serta barang-barang mewah untuk perjalanan panjang."
Ini adalah kunjungan kedua kapten hari ini. Aku berhasil menyelinap ke pintu dan menyelipkan sepotong kecil benang ke grendel pintu sementara pria itu menyiapkan makan siang kami. Ketika dia pergi dan menguncinya nanti, pintu tidak akan terkunci sempurna sehingga aku bisa mendobraknya terbuka.
Selama makan, aku mulai bertanya-tanya seputar kehidupannya beserta kapal yang tengah kami naiki. Saat itulah aku memperhatikan kebiasaan kecil yang dimilikinya. Dia akan menjadi pemain kartu yang buruk.
Aku meneguk rum yang dituangkan olehnya, menatapnya melalui bibir cangkir. Dia menyembunyikan sesuatu dan semakin aku berbicara dengannya, semakin aku merasa telah membuat kesalahan dengan menaiki kapal ini. Melihatnya merapikan piring kotor dan bersiap pergi, aku menghela nafas dalam sebelum menanyakannya pertanyaan terakhir.
"Apakah kau pernah melihat kaumku setelah kau menyelamatkan mereka?"
Dia berbalik dan aku melihat kedutan itu lagi. Jantungku berdegup keras.
"Tidak. Setelah kami menyelamatkan mereka, mereka pergi ke lautan dan aku tidak pernah melihat mereka lagi sejak saat itu. Kenapa?"
Aku berusaha mempertahankan raut wajahku agar terlihat tenang dan mengangkat kedua bahuku. "Aku berharap kau bisa membantuku menemukan beberapa orang dari kaumku."
"Sayang sekali, tapi maafkan aku, gadis kecil. Aku akan melihatmu lagi makan malam nanti."
Dia menutup pintu dan menguncinya. Aku duduk terdiam untuk beberapa saat, merenungkan kesimpulan yang aku dapatkan. Dia berbohong. Tentang apa yang sebenarnya dia lakukan dengan kapalnya dan apa yang sesungguhnya terjadi dengan duyung yang dia 'selamatkan'. Aku percaya dia bukan pemburu, tapi dia adalah sesuatu yang lain. Bagaimana pun ada banyak orang di luar sana yang menginginkan kaum kami.
Aku menunggu selama sesaat sebelum melangkah pelan ke arah pintu dan menempelkan telingaku. Tak ada suara apa pun di luar. Aku mendorong pintu hingga terbuka, cukup untukku menyelinap keluar, dan menyembunyikan diri di balik bayanganku. Menutup pintu, aku mengamati sekeliling. Tampak sejumlah pria di geladak tengah mengobrol dan meminyaki beberapa tali. Satu orang berdiri di kemudi sedangkan yang lainnya berada di atas menara pengintai.
Aku menyusup menuju ruang kapten, menunggu hingga memastikan tak ada seorang pun yang melihat, lalu menyelinap masuk, menutup pintu dan melepaskan penyamaranku. Aku tidak ingin membuang energiku saat tak dibutuhkan.
Ruangan itu tampak rapi dan elegan. Permadani melapisi lantai. Sebuah lukisan tergantung di dinding di belakang sebuah meja mahoni besar, sementara di pojok ruangan terdapat sebuah tempat tidur lipat yang terbuat dari kain sutera.
Aku berjalan mengitari ruangan menuju meja, mengamati kertas-kertas yang berserakan di atasnya. Beberapa peta menunjukkan serangkaian pulau diikuti tanda silang kecil yang menyertai tiap pulau, termasuk pulauku. Aku mengernyit, penasaran apa arti dibaliknya.
Kertas selanjutnya berisi daftar muatan kapal dengan jumlah yang menurutku terlalu kecil. Jika benar ini yang dia perdagangkan, maka hasilnya hanya akan cukup untuk hidup sederhana, tidak untuk semua kemewahan di ruangan ini. Aku baru menyadarinya di gudang tempatku terkurung pagi ini. Tidak terdapat banyak muatan di dalamnya mempertimbangkan ukuran kapal dan jumlah awak.
Aku membuka-buka laci, tapi tak dapat menemukan apa pun. Aku hampir menyerah hingga sebuah tonjolan tak rata tertangkap mataku. Aku menyentuh dan menekannya. Bunyi klik pelan terdengar, menampakkan sebuah laci tersembunyi. Aku meraih selembar kertas di dalamnya. Kertas yang berisi daftar pulau disertai berbagai deskripsi di sebelahnya.
Anak perempuan tujuh tahun berambut hitam, anak laki-laki empat tahun berambut pirang.
Daftar terus berlanjut dan mataku berhenti di nama pulauku dengan deskripsi tentang dua anak laki-laki lima tahun berambut pirang tertulis di sampingnya. Jantungku mencelos saat aku melihat catatan kecil di bawah.
Putri duyung biru tertangkap, harga didiskusikan.
Aku mendengar beberapa suara di luar pintu dan mengenali salah satunya sebagai kapten Wolf. Dengan cepat aku meletakkan kembali kertas itu ke dalam laci dan menutupnya sebelum menarik bayangan ke sekelilingku dan bersembunyi di pojok ruangan. Pintu terbuka dan kapten Wolf melangkah masuk bersama seorang pria bertubuh besar dan berkepala botak. Bekas luka memanjang di pelipis kiri hingga sudut mulut pria itu, membuatnya tampak memberengut. Sebuah cambuk melekat di ikat pinggangnya.
"Aku sudah menyuruhmu untuk menjaga mereka agar tetap diam. Aku tidak bisa membiarkan putri duyung itu menyadari apa yang kita lakukan. Dia mempercayaiku dan aku berencana untuk menjaganya tetap begitu. Kita akan mendapatkan lebih banyak darinya jika dia tidak terluka."
"Itu adalah ulah salah satu awak yang kita rekrut dari Pavo."
"Aku tidak peduli. Tugasmu adalah menjaga mereka tetap di tempat dan diam."
"Jangan khawatir, aku akan mengurusnya."
Pria botak itu menepuk cambuk di ikat pinggangnya dan aku merasa mual.
"Kita tidak akan mendengar satu cicitan pun dari mereka."
Tiba-tiba kapal berayun tajam ke arah kiri, membuatku berseru kaget dan terjatuh seiring dengan hilangnya penyamaranku. Dua pria itu berputar untuk melihatku dan senyum suram muncul di wajah kapten.
"Kemampuan yang sungguh menyusahkan."
Si pria bertubuh besar mendekatiku dan menarik segenggam rambutku, menyentakku berdiri. Aku mendesis kesakitan.
"Bodoh! Jangan rambutnya! Jika kau merusaknya kita tidak akan mendapat banyak emas!"
Menggerutu, dia melepasnya dan beralih mencengkram bagian belakang leherku. Kapten Wolf menutun kami keluar ruangannya dan aku melihat sebuah kapal berlayar di sebelah kiri kapal kami.
"Bajak laut sialan. Kurung dia bersama yang lain. Kita harus segera pergi dari sini!"
Perintah itu ditujukan kepada pemegang kemudi yang menyentuh topinya sebagai tanda mengiyakan. Wolf menggiring kami ke bawah geladak dan aku bisa mendengar isakan di dekatku.
"Kau pedagang budak."
"Tentu saja. Itu jauh lebih menguntungkan daripada menjual rempah-rempah dan kain."
"Lalu apa yang kau katakan tentang menyelamatkan kaumku? Semua itu bohong?"
"Oh, tidak. Aku membenci pemburu untuk apa yang mereka lakukan. Membunuh duyung? Sungguh perbuatan yang sia-sia. Kami membawa beberapa yang dapat kami temukan dan menjual mereka pada orang-orang yang akan menyimpanmu hidup-hidup. Apa kau tahu berapa tinggi harga yang aku dapatkan dengan menjual sebotol kecil darahmu? Bahkan sehelai rambutmu?"
Dia menggenggam rambutku dan menyisirnya dengan jari-jarinya. Aku menahan dorongan untuk bergetar jijik. Kami melanjutkan perjalanan hingga dia berhenti di sebuah sel kurungan dan aku bisa melihat sekelompok wajah penuh ketakutan yang menatap kami. Wolf membuka pintu dengan kuncinya dan pria yang memegangiku segera mendorongku masuk. Wolf kemudian mengambil sepasang belenggu dari dinding terdekat, memasangkannya ke kedua kakiku sementara pria botak itu menahanku.
"Ini akan menghentikanmu untuk berubah bentuk dan mencoba kabur. Kau akan membuatku kaya raya, Kuroko."
Dia menepuk pelan pipiku sebelum keduanya pergi.
"Kuroko?"
Aku berbalik mendengar sebuah suara familiar dan melihat sepasang bocah laki-laki kembar berdiri sambil bergenggaman tangan. Surai pirang mereka kusut sementara garis-garis air mata menghias wajah mereka. Aku mengenali keduanya sebagai penduduk pulauku, tepatnya anak dari seorang tukang roti. Melihatku, mereka segera berlari mendekat dan menjatuhkan diri ke dalam pelukanku, terisak lirih.
"Apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa berada di sini?"
"Beberapa pria menakutkan masuk ke kamar kami di malam hari dan menutup kepala kami dengan karung sebelum membawa kami kemari. Apa mereka melakukan hal yang sama padamu?"
Aku tidak perlu memberitahu mereka tentangku yang dengan bodohnya telah menyelundup masuk ke dalam kapal pedagang budak. Jadi, aku pun hanya mengangguk. Sebuah rintihan kecil menarik perhatianku dan aku mendekat untuk melihat seorang anak laki-laki berbaring tengkurap di lantai sementara sepasang pria dan wanita berusia sekitar dua puluhan mencoba membersihkan punggungnya.
Walau dengan penerangan buruk, aku bisa melihat punggungnya yang dipenuhi luka menyilang disertai bau darah. Jelas ini adalah bekas cambuk pria besar brengsek itu. Aku memberi isyarat pada si kembar untuk tetap diam di belakangku sebelum berlutut.
"Seberapa parah lukanya?"
Pasangan itu menatapku dan si wanita menggeleng.
"Sangat buruk. Kami tidak punya kain tambahan dan air untuk membersihkannya."
Aku menggigit bibir saat sebuah ide menghampiriku. Rahasiaku telah terbongkar, bukankah tak ada alasan untuk terus menyembunyikannya?
"Apa ada celah di mana air laut masuk?"
Si pria menunjuk dinding belakang dan aku bisa melihat jika tempat itu sedikit basah.
"Tapi tidak cukup untuk membersihkan lukanya."
"Aku hanya perlu sedikit. Bawa dia mendekat."
Aku bergerak secepat belenggu di kakiku mengijinkan dan duduk di sudut ruangan. Mereka menyeret anak yang terluka itu mendekat dan meletakannya di sebelahku. Menarik nafas dalam, aku meraup sedikit air dengan tanganku, mengabaikan pekikan terkejut saat tangan dan rambutku mulai bersinar. Aku menangkupkan kedua tanganku seiring dengan sisik yang muncul di masing-masing punggung tangan seperti aku merasakannya di telapak tanganku. Kemudian aku membukannya, memperlihatkan air yang kini ikut bercahaya.
Aku mendekat dan menyiramkan air itu ke punggung yang terluka, menutup mata sembari berkonsentrasi sekuat yang aku bisa. Sudah lama aku tidak melakukan ini, apalagi penyembuhan dalam skala besar seperti sekarang. Begitu aku membuka mata, luka-luka anak itu telah menutup dan nafasnya mulai teratur. Dia tertidur. Lelah, aku menyandarkan diri ke dinding.
"Kau putri duyung."
Aku mendongak dan melihat semuanya memandangku kagum. Aku mengangguk, tenggorokanku serasa tersumbat.
"Keren sekali!"
Si kembar menubrukku dan aku menggerutu ketika punggungku menghantam dinding.
"Kami janji tidak akan memberitahu siapa pun! Rahasiamu aman bersama kami!"
Aku tersenyum sedih dan mengusap rambut mereka, sementara yang lain menggeleng dengan pandangan sendu. Mereka tidak akan berkesempatan memberitahu siapa pun. Pasar budak menanti mereka sementara aku akan dijual dan berakhir sebagai bank darah selama sisa hidupku.
Kapal bergoncang ke kiri dan kami semua terhempas menabrak jeruji kurungan. Anak-anak memekik.
"Apa yang terjadi?"
Kami bisa mendengar teriakan kalut para awak di atas sana disertai bising derap kaki yang berlari kesana kemari.
"Ada kapal lain mendekat, kapal bajak laut kurasa."
Suara sepatu boots menghentak di atas kepala kami, diikuti benturan logam dan teriakan kesakitan yang menyapa telinga. Aku mengeratkan pelukanku pada si kembar yang terisak ketakutan dan menutup telinga mereka, sementara orang-orang dewasa lain berusaha menenangkan para anak-anak sambil menatap takut geladak di atas kami. Bajak laut atau pedagang budak? Siapa yang akan menang? Apa pun hasilnya hidup kami tetap terancam.
Tak lama, bunyi perkelahian menghilang disusul langkah sepatu yang terdengar menuruni tangga. Aku yang berada paling dekat dengan pintu sel kurungan mengawasi dalam diam dua pasang sepatu boots yang mendekat. Dua orang bajak laut berhenti di depan kami.
"Kami menemukan mereka! Dapat dipastikan ini adalah kapal pedagang budak!"
Pemuda yang berteriak tak lain adalah seorang bajak laut tinggi bersurai hijau dengan sepasang mata berwarna serupa yang tersembunyi di balik kacamata. Wajahnya terlihat suram melihat kami saling berimpitan di depannya.
Namun, yang menarik perhatianku adalah pemuda kedua yang tengah memandang kami dengan sepasang manik berwarna merah dan emas. Meski lebih pendek dari pemuda berambut hijau, namun kekuatan serta rasa percaya diri yang terpancar membuatnya tampak begitu besar dan mengintimidasi. Surainya yang merah senada dengan salah satu matanya, dan aku membeku ketika dia menatapku dan rambut biruku. Berbagai pikiran tampak berkelebat di balik mata dwiwarnanya.
"Aku kapten Akashi dari Red Emperor dan kapal ini sekarang adalah milikku."
.
.
.
To be continued...
Yeay! Bang Akashi akhirnya muncul XD
nimuixkim90, Arisa Ezakiya: Sip, ini sudah dilanjut ^^
Wako d'author : Wkwk, ya begitulah. Doakan semoga lancar apdetnya ya~ :)
Rabendaa Violant : Udah muncul nih si abang XD
ryu elchan : Tenang, regu penyelamat sudah datang. Oke, sip deh! Makasih ^^
.
.
.
Thanks for read!
Last, review?
