The Mermaid and The Prince
The Merman and The Prince © Maxitron
Romance/Fantasy
Akashi x Fem!Kuroko
I don't own the story. The story belongs to wattpad author Maxitron with original title The Merman and The Prince. I've asked her permission to translate and change it into genderswitch. Once again, this story IS NOT MINE.
DLDR!
Kami berjalan terhuyung menuju geladak. Para orang dewasa memegangi anak-anak sementara aku memimpin jalan bersama si kembar di kedua lenganku. Darah menggenangi lantai geladak dan aku bisa melihat empat bajak laut lain tengah membuang tubuh-tubuh tak bernyawa ke pinggiran, sementara satu lagi mengamankan ikatan tali empat orang yang berhasil selamat dari serangan. Wolf berada di antara mereka, dengan luka yang terus mengeluarkan darah di wajahnya.
Aku memandang pria botak bertubuh besar yang terus berada di sisinya dan melihat raksasa berambut ungu melempar tubuh tak berdaya itu ke lautan. Luka menganga di dadanya. Merasakan pandanganku, si pemuda berkacamata menyeringai.
"Hanya pengecut yang menggunakan cambuk pada yang lemah. Aku melihatnya di bawah, anak laki-laki itu. Punggungnya tampak sembuh dengan baik. Terjadi beberapa saat yang lalu, kan?"
Aku menatap sepasang manik hijaunya, entah kenapa tak bisa menyusun kebohongan.
"Ya, tak lama setelah kami tertangkap."
Seorang bocah yang membantuku merawat anak yang terluka melangkah maju dan berbohong dengan mudahnya. Aku menyelinap mundur ke tengah-tengah kerumunan sementara mereka bergerak mengelilingiku. Merasakan dingin yang tiba-tiba menusuk, aku mendongak untuk melihat sang kapten bajak laut tengah menatapku. Aku segera berpaling saat merasakan wajahku memerah. Aku tidak terbiasa menjadi pusat perhatian dan tatapan matanya seakan menembus jauh ke dalam jiwaku, masuk ke dalam pikiran terdalamku.
"Apa yang akan kau lakukan dengan mereka?"
Sang kapten berbalik dan memanggil dua orang lain yang tengah membantu si raksasa ungu menyingkirkan mayat-mayat.
"Daiki, Ryouta, kemarilah."
Pemuda pertama berkulit pucat serta memiliki surai terang dan sepasang mata kuning. Kebalikan dengannya, pemuda berikutnya memiliki kulit gelap dengan rambut navy serta sepasang mata senada. Mereka berdua menyeringai lebar, membuat anak-anak mundur ketakutan. Seringai mereka layaknya predator, terutama si pemuda berkulit gelap yang terlihat menakutkan seperti orang gila. Keduanya menjulurkan pisau belati dan Akashi melangkah maju, mengisyaratkan benda tajam itu kemudian mereka yang terikat.
"Ini adalah kesempatan yang kutawarkan pada kalian untuk bebas dan membalas dendam. Orang-orang ini telah merenggut kalian dari rumah, menyakiti kalian dan juga orang yang kalian sayangi. Mereka adalah binatang dan karenanya aku memberi kalian hak untuk membunuh mereka."
Berpasang-pasang mata melebar. Sebagian besar orang menggelengkan kepala sementara beberapa memasang wajah berpikir.
"Kau tidak bisa mengharapkan kami untuk membunuh orang! Kami bukan pembunuh, kami bukan bajak laut!"
Anak laki-laki yang sebelumnya berbicara kini berteriak dan gadis kecil di sebelahnya mengangguk, meski aku bisa melihat keraguan yang tercetak di beberapa wajah.
"Dan apa yang akan terjadi dengan kami?"
Sepasang mata dwiwarna itu kembali menatapku, namun kali ini aku balik menatapnya—dalam hati memohon agar wajahku tak memerah.
"Sesuai keinginan kalian, kami bisa memulangkan kalian ke rumah atau menurunkan kalian di mana pun yang kalian inginkan."
Aku mengangkat alis terkejut, begitu juga dengan yang lain.
"Hanya seperti itu? Kalian tidak akan mencoba untuk menjual kami seperti yang mereka lakukan?"
Aku menyesali ucapanku segera setelah aku mengatakannya. Sepasang manik unik itu tampak berkobar dalam kemarahan saat dia menatapku tajam sebelum kemudian kembali pada orang-orang yang terikat. Dia meludah di depan mereka.
"Aku membenci para pedagang budak dan tidak akan pernah turun ke level mereka. Kau bisa melompat dari kapal jika kau ingin, tapi ketahuilah jika pulau terdekat masih beratus-ratus mil jauhnya."
Aku menggigit bibirku dan memandang mereka yang tertangkap. Wolf menatap kami tajam seakan menantang kami untuk membuat pergerakan.
"Kau harus melakukannya, Kuroko. Bunuh mereka."
Aku menunduk shock ke arah salah satu si kembar, tak yakin dengan apa yang baru saja kudengar. Keduanya menangis dalam diam seraya memandang nanar orang-orang yang telah menculik mereka.
"Mereka menikam ayah ketika mereka mencoba membawa kami."
Hatiku mencelos saat teringat akan tukang roti baik hati yang selalu memberiku kue kering gratis tiap kali aku melakukan pekerjaan di kota. Aku berdoa semoga dia baik-baik saja. Sang kapten, Akashi, berlutut dan menatap si kembar.
"Ayah kalian baik-baik saja. Kami baru saja mendapatkan kabar dari pulau kalian. Begitulah cara kami menemukan kapal ini."
"Benarkah?"
Pemuda bersurai merah itu mengangguk dan si kembar bersorak gembira sebelum berpelukan satu sama lain dan menangis. Untuk sesaat aku merasakan sentakan rasa hormat pada bajak laut itu.
"Mereka tidak akan melakukan apa pun. Mereka hanya anak-anak sedangkan yang lain terlalu pengecut untuk membela diri mereka sendiri," ejek Wolf masih memandang tajam kami. Beberapa anak-anak yang masih ketakutan menjauh mundur.
"Kalian telah membunuh lebih dari separuh awakku. Ijinkan aku memberi kalian emas dan sebagai gantinya lepaskanlah kami. Aku akan membersihkan tanganku dari perdagangan budak. Sebutkan hargamu dan biarkan kami pergi. Oh, dan biarkan juga aku membawa gadis berambut biru itu."
"Satu-satunya yang dibelenggu? Kenapa? Kenapa kau memberinya rantai tambahan?"
Perutku terasa melilit saat lagi-lagi aku menjadi pusat perhatian. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan bajak laut lakukan begitu mereka mengenaliku sebagai putri duyung. Setidaknya sebagai budak aku memiliki kesempatan untuk pulang dan bertemu kembali dengan pamanku dan Kagami. Namun, jika mereka menemukan identitasku yang sebenarnya aku tidak akan pernah bebas.
"Dia adalah budak pribadiku. Seandainya kau memeriksa daftar muatan, kau akan lihat jika dia tidak dijual."
"Lucu sekali, budak pribadimu, huh? Berapa lama dia bekerja untukmu? Karena dia terlihat terlalu bersih dan sehat untuk menjadi budak."
Akashi meraihku dan aku tertarik maju sambil sedikit terhuyung, terbebani oleh belenggu di kedua kakiku. Manik emas dan merah itu mengamatiku lekat dan wajahku merona saat merasakan tatapannya yang seolah membelaiku.
"Dia cantik, tapi masih terlihat polos dan murni, jadi mohon maaf bila aku tidak mempercayai kata-katamu. Kupikir gadis ini adalah keponakan almarhum penguasa pulau yang diduga telah mati dalam kebakaran."
Wajah Wolf mengkerut marah saat menyadari kebohongannya telah terbongkar, namun aku hanya dapat membeku saat kata-kata kapten berambut merah itu menamparku.
"Tunggu, pamanku... meninggal?
Dunia di sekitarku seakan runtuh dan tenggelam dalam keheningan. Akashi menoleh padaku dan untuk sesaat aku melihat sekelebat penyesalan di wajahnya sebelum dia menggantinya kembali dengan raut tanpa ekspresi.
"Para pemburu membakar habis rumah beserta pamanmu dan para pelayan yang masih terjebak di dalamnya. Mereka pergi ke mansionmu usai orang-orang ini mengirim mereka."
Ucapannya bak air dingin yang membasuhku dan aku merasa seolah tanah di bawahku bergerak menelanku. Mati. Rumah terbakar. Pamanku, satu-satunya keluargaku yang tersisa, telah mati. Aku tidak sadar kakiku telah bergerak sampai aku mendapati diriku berdiri di depan Wolf, belati di genggamanku. Dia menatapku dan apa pun yang dilihatnya membuat seringainya menghilang seketika.
"Kuroko, kau bukan pembunuh."
"Jadi, kau adalah pedagang yang memberitahu mereka tempat di mana mereka bisa menemukan gadis berambut biru?"
Dia menjilat bibirnya, matanya melirik belati di tanganku. Aku menggenggamnya sangat erat hingga pangkalnya melukai telapak tanganku.
"Dengar, aku—"
"Benar atau tidak, jika kaulah yang telah memberitahu para pemburu untuk pergi ke mansion?"
"Apa kau lebih memilih aku membiarkan mereka meneror orang-orang di kedai? Aku harus menyingkirkan mereka! Lagipula aku bahkan tidak yakin kau adalah orang yang mereka cari sampai aku melihat—" dia melebarkan mata dan terbatuk, darah keluar dari mulut dan mengalir melewati dagunya. Dia menunduk untuk melihat pisau di tanganku telah menancap di dadanya.
Aku membungkuk, menatapnya dengan wajah dingin dan kaku. Dia balik menatapku dan aku menunggu hingga kedua matanya meredup sempurna sebelum menarik pisau itu keluar dan menegakkan tubuh. Menutup mata, aku mendongak. Aku telah merenggut nyawa seseorang, tapi dia juga telah mengambilnya dariku. Aku tidak punya keluarga dan rumah untuk kembali.
"Paman, Kagami..." bisikku pada langit. Pisau terlepas dari tanganku dan isakan lolos dari mulutku. Aku menangis.
Kagami's Pov
Aku berdiri di atas bukit seraya memandang bangunan yang terbakar habis di depanku. Api menjalar begitu cepat dan tanpa ampun hingga tak menyisakan apa pun selain puing-puing hangus. Aku mencengkram lenganku yang terbalut perban dan mengernyit saat merasakan perih di kulitku.
Aku mengalami luka bakar serius ketika bangunan mulai runtuh. Aku mencoba masuk dan menyelamatkan yang lain, namun puing-puing yang terjatuh menimpaku dan membuatku tak sadarkan diri. Salah satu penduduk desa menemukanku dan berusaha menarikku keluar sampai kemudian api melalap bagian kiri tubuhku. Rambutku hangus dan aku harus memotongnya pendek.
"Maafkan aku, Tuan. Aku telah gagal."
Aku membungkuk dalam pada reruntuhan di depanku. Kebakaran itu tak menyisakan satu tubuh pun untuk dikubur sehingga penduduk kota memutuskan untuk membangun monumen sebagai bentuk penghormatan untuk semua nyawa yang melayang hari itu. Nama Kuroko akan ikut tertulis dan aku tidak mengoreksinya. Jika dunia berpikir nona muda bersurai biru itu telah meninggal, maka akan semakin sedikit orang yang dapat melacaknya. Aku tahu dia masih hidup. Yang harus kulakukan hanyalah menemukannya.
"Kali ini aku tidak akan gagal. Demi kau dan orang tuanya, aku akan menemukan Kuroko dan melindunginya."
Aku berbalik, mengernyit saat kakiku menolak untuk bergerak. Aku belum sepenuhnya sembuh, tapi aku tidak memiliki banyak waktu. Aku berjalan menuju dermaga, tempat di mana sebuah kapal telah menunggu untuk berlayar. Ini adalah saatnya untuk menemukan Kuroko dan membawanya pulang.
.
.
.
To be continued...
Poor Kuroko :(
Rabendaa Violant : Momen akakuro ada di next chap #spoiler XD
ryu elchan : Hmmm... entahlah? Wkwk, tunggu saja kelanjutannya ;)
nimuixkim90 : Ga ada yang nyangka akashi jadi bajak laut ya? Tapi judulnya juga sudah benar kok ;)
Yume shin, kurobas : Makasih, ini sudah dilanjut ^^
Arisa Ezakiya : Ngg, bisa dibilang kagami itu orang yang dipercayakan untuk menjaga kuroko? Jadi ya sudah dianggap keluarga dan saudara gitu ^^
.
.
.
Thanks for read!
Last, review?
