The Mermaid and The Prince

The Merman and The Prince © Maxitron

Romance/Fantasy

Akashi x Fem!Kuroko

I don't own the story. The story belongs to wattpad author Maxitron with original title The Merman and The Prince. I've asked her permission to translate and change it into genderswitch. Once again, this story IS NOT MINE.

DLDR!


Kuroko's Pov

Aku berusaha menghentikan air mataku. Sejak kecil, ibu dan ayah telah melatihku untuk tidak menangis, untuk melawan air mataku dan menyembunyikannya dari mata-mata yang mengawasi. Namun, aku baru saja membunuh orang, kehilangan keluarga, dan saat aku mengingat terakhir kalinya aku melihat pamanku dan janjinya untuk menghabiskan waktu bersama, aku tidak bisa menahannya lagi. Air mata yang telah menggenang tumpah begitu saja. Rambutku mulai bersinar seiring dengan cairan asin yang mengalir deras membasahi wajahku.

Aku mendengar sentakan nafas tertahan dari para bajak laut di belakangku dan berbalik untuk bertemu pandang dengan Akashi. Dia tidak menunjukkan raut terkejut atas perubahanku. Sebaliknya, dia hanya mengangguk kecil.

"Sekarang kita tahu kenapa dia memberimu belenggu. Tak perlu berduka cita atas nyawa yang kau ambil, kau hanya membalaskan dendam orang-orangmu. Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan awak yang tersisa ini?"

Aku berbalik ke arah tiga orang yang menunduk memandangi mayat kapten mereka sebelum mendongak dan menatapku dengan mata melebar ketakutan. Aku berlutut untuk mengambil belati yang sempat terjatuh, menyelipkannya ke ikat pinggangku dan berbalik menjauh.

"Biar laut menentukan takdir mereka."

Berjalan setegak mungkin dengan martabat yang tersisa dan belenggu yang merantai kedua kakiku, aku kembali pada kelompok tahanan budak, memperhatikan dengan hati tercubit saat beberapa menjauh dariku. Mungkin yang dikatakan pria itu memang benar, kami para duyung adalah makhluk buas.

"Bawa mereka ke Red Emperor dan tenggelamkan kapal ini ke dasar lautan!"

Kami dituntun menyeberangi sebuah papan menuju kapal bajak laut sebelum digiring ke bagian sudut kapal, tempat sebuah naungan telah dipersiapkan. Para budak yang kini telah bebas segera duduk sementara aku pergi mendekati pagar dan mengawasi kapal di seberang yang kini berkobar oleh api.

Tiga awak yang tersisa digantung di pinggiran kapal dan terombang-ambing bersama ombak. Aku tidak peduli jika mereka hidup atau mati. Aku telah meminta kapten untuk membiarkan laut memutuskan, namun sebagian diriku berharap kaumku akan menemukan mereka dan memberikan hukuman yang pantas. Aku terkejut saat Akashi mengangguk dan meninggalkan mereka tetap terikat ketika kapal mulai terlalap api.

Aku duduk seorang diri di bagian depan kapal yang meluncur melintasi ombak. Kakiku yang masih terbelenggu menggantung di tepian saat air laut menyipratiku, membuat perubahanku tetap bertahan. Semua orang di atas kapal telah mengetahui rahasiaku dan entah kenapa ada sebuah perasaan nyaman karena tak perlu menyembunyikannya. Aku mencintai lautan, namun di saat yang sama juga takut padanya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak punya rumah atau keluarga, dan sekarang aku berada di bawah belas kasihan sekelompok bajak laut.

Red Emperor adalah kapal yang besar. Tak satu pun tali berjumbai atau pagar mengelupas terlihat. Geladak tampak bersih dan mengkilap dengan sekumpulan layar berwarna merah gelap. Bendera yang berkibar menggambarkan sepasang mata emas dan merah yang terletak di bawah sebuah mahkota. Aku telah mendengar cerita dan rumor tentang bajak laut yang berlayar di bawah bendera itu. Tak ada yang selamat dari serangan mereka. Kapal-kapal ditenggelamkan, emas dirampas dan para awak dibunuh.

Mengamati awak kapal ini dari tempatku berada, aku bertanya-tanya apakah semua cerita itu benar. Ya, mereka memang membunuh sebagian besar pedagang budak, namun kemudian mereka mengatakan akan mengantarkan kami pulang ke dermaga. Kecuali aku. Aku tidak memiliki rumah untuk pulang dan masa depanku masih terselubungi ketidakpastian. Akankah para bajak laut itu melepaskanku setelah mengetahui jati diriku sesungguhnya?


Akashi's Pov

Malam tiba saat aku meninggalkan kamar dan meregangkan punggungku. Aku telah terkurung di dalam sepanjang hari, merencanakan pergerakan kami berikutnya setelah memulangkan para bekas tahanan serta memikirkan nasib putri duyung mungil itu. Teringat padanya, aku melirik tempat di haluan kapal yang selalu didiami olehnya. Benar saja, di sanalah gadis itu duduk, mendongak memandang bulan dengan kedua kaki terjuntai di tepian kapal.

Nafasku tercekat melihatnya. Cantik bukanlah kata yang cukup untuk menggambarkannya. Surai biru mudanya bercahaya di bawah sinar bulan sementara sisik biru keperakan yang mengkilap menghiasi lengan dan kakinya. Kebanyakan orang biasanya akan merasa jijik saat membayangkan duyung yang bersisik, namun dia terlihat begitu mempesona dengan sisik yang tak sepenuhnya menutupi kulitnya. Dia menyerupai boneka pucat yang rapuh, dengan kulit sehalus porselen dan sepasang bola mata yang berbinar. Aku akan mengira dia lemah seandainya aku tidak melihat raut di wajahnya saat dia membunuh pedagang budak itu.

Memasukkan kedua tangan ke saku celana, aku melangkah mendekatinya seraya mengangguk pada Shintarou yang tengah menjalankan kemudi. Aku berhenti di belakang gadis itu dan menyenggolnya dengan kakiku. Dia menoleh dan melebarkan matanya begitu melihatku, dengan canggung berusaha berdiri. Matanya yang menatapku dipenuhi ketakutan dan aku tahu dia sedang bertanya-tanya apa yang akan kulakukan terhadapnya. Sejujurnya aku sendiri masih tidak tahu. Seharian memikirkan pertanyaan itu dan aku masih belum menemukan jawabannya.

Berlutut, aku mengeluarkan dua logam tipis dari sakuku dan menggunakannya untuk membuka kunci pada belenggu yang terpasang di kakinya. Masih menatapku—seakan takut aku akan menyerangnya, dia menekuk lutut dan mengusap pergelangan kakinya. Aku dapat melihat warna kulitnya yang memerah.

"Duduk dan tunggulah sebentar."

Dia meloncat terkejut mendengarku dan terjatuh begitu saja ke atas lantai, membuatku berusaha menahan tawa. Sungguh menggelikan. Beranjak menuju dapur, aku bisa melihat seringai di wajah pemuda bersurai hijau yang mengamati dari balik kemudi.

Aku kembali beberapa saat kemudian dengan sepiring makanan, sekendi bir dan sebuah botol kecil. Aku meletakannya di depan duyung itu, mencoba untuk tidak menatapnya. Dia melirikku sebelum mulai menyuap makanannya, memandang penuh curiga botol di tanganku saat aku duduk menghadapnya.

"Mereka memberitahuku jika kau tidak makan bersama yang lain hari ini."

Dia menundukkan wajahnya perlahan seraya menurunkan piringnya. Untuk sesaat aku bisa melihat sekelebat rasa malu di matanya.

"Aku tidak ingin membuat mereka tidak nyaman. Mereka telah melihatku membunuh orang."

Aku mengangguk mengerti sementara dia melanjutkan memakan makanannya dengan rakus.

"Jika ada yang pantas mendapatkannya, maka dialah orangnya. Aku telah membunuh orang tak terhitung jumlahnya, namun hanya mereka yang memang pantas menerimanya. Pedagang budak itu, dia menumpuk kekayaan dengan menculik orang dan menjualnya di pasar lelang. Dia menjual kaummu pada dokter penyihir di selatan, tempat mereka dikurung dan digunakan sampai mati."

Lagi, dia menurunkan piringnya. Wajahnya memucat dan matanya memancarkan rasa takut saat dia melirikku. Suaranya begitu lirih saat dia bertanya hingga aku hampir tak mendengarnya.

"Dan kau tidak?

Untuk sesaat aku merasakan kemarahanku bergejolak dan gadis itu tersentak mundur saat aku berdiri. Aku meraih lengannya dan menariknya kasar, membuatnya merintih ketakutan.

"Seperti yang kukatakan padamu sebelumnya, aku membenci pedagang budak. Aku membunuh semua awak mereka dan menenggelamkan kapal mereka. Kemarin adalah pertama kalinya aku membiarkan beberapa hidup karena kau memintanya!"

Aku memejamkan mata dan mengambil nafas dalam. Begitu aku membukanya kembali, Kuroko tengah menunduk menatap lantai dengan bahu bergetar seakan mengharapkan sebuah pukulan. Aku menyentuh lengannya lembut dan merasa menyesal saat dia tersentak dan menjauh.

"Kau bebas untuk pergi."

Dia mendongak mendengar perkataanku dan aku bertemu dengan sepasang mata biru bulat yang terkejut. Lagi, aku terpana dengan kecantikannya, namun tak membiarkan wajahku menunjukannya.

"Kau bisa meninggalkan kapal ini dengan yang lain atau menunggu di sini sampai bulan purnama berikutnya untuk pergi bersama kaummu. Baik aku maupun awakku tidak akan menghentikanmu."

Raut wajahnya berubah cerah mendengar kata-kataku, namun dengan cepat berganti menjadi ketakutan saat dia melirik ke arah lautan.

"Kau takut terhadap laut?"

Dia duduk, mengernyit ketika kedua kakinya bertubrukan satu sama lain, dan aku ikut merebahkan diri di sebelahnya tanpa melepaskan pandanganku dari wajahnya saat dia mulai bercerita.

"Sejak aku bisa mengingat, kedua orang tuaku selalu memintaku untuk diam. Untuk tidak mengatakan pada siapa pun tentang kemampuanku, untuk menjauh dari lautan, dan setiap bulan purnama mereka akan mengunciku di dalam rumah. Kami tinggal di sebuah pondok kecil yang nyaman di hutan dekat kota. Pamanku adalah penguasa pulau sedangkan ibuku adalah adiknya, tapi orang tuaku tidak ingin aku berada di tengah pusat perhatian sehingga kami pun hidup dengan tenang dan damai. Suatu hari, di usiaku yang keenam, kami pergi menaiki kapal. Aku tidak ingat kenapa, tapi sepertinya sangat penting sehingga kami harus pergi meskipun malam itu adalah malam bulan purnama. Aku ingat saat ibu terus memelukku erat. Panggilan laut terus menarikku, tapi suara ibuku tetap menyadarkanku."

Senyum kecil menghias wajahnya saat dia bercerita tentang ibunya dan aku yakin dia tidak sadar akan air mata yang kini turun membasahi pipinya.

"Suaranya selalu menyejukanku dan nyanyiannya kerap dipuji penduduk pulau. Aku merindukannya setiap hari."

Menghela nafas gemetar, dia kembali membuka mulutnya dan aku bisa merasakan kelanjutan akhir yang tragis.

"Kemudian badai datang. Tidak banyak yang kuingat tentang malam itu kecuali badai kencang dan dingin yang menusuk tulang. Kapal mulai tenggelam dan kami semua terlempar ke lautan. Aku tidak tahu siapa di antara orang tuaku yang merupakan duyung. Mungkin aku berubah bentuk, mungkin mereka mati, namun apa pun yang terjadi malam itu, aku terdampar di pantai pulau kami sebagai satu-satunya yang selamat."

Air mata kini membentuk aliran kecil di wajahnya. Dia menekuk lutut ke arah dadanya dan menyembunyikan wajahnya.

"Aku belum pernah pergi ke laut ataupun berubah bentuk sejak saat itu."

Tawa tercekat keluar dari mulutnya.

"Bukankah itu lucu? Seorang putri duyung takut kepada laut."

Isakan kecil mengakhiri kalimatnya sementara bahunya bergetar menahan kesedihan. Memasukkan botol kecil yang berisikan salep ke saku, aku mengangkat duyung biru mungil itu dan membawanya ke kamarku. Dia berusaha menghapus air matanya dan berbicara, namun hanya isakan yang lolos dari mulutnya. Aku membaringkannya ke atas ranjangku, mendorongnya kembali ketika dia berusaha bangun, lalu duduk dan mengangkat kedua kakinya ke pangkuanku.

"Menangislah sepuasmu. Tak baik memendamnya terlalu lama."

Dia menutup wajah dengan lengannya seiring dengan air matanya yang terus bercucuran. Aku mengeluarkan obat dari kantongku dan mengusapkannya ke pergelangan kakinya, memijatnya perlahan. Isakkan mulai melemah hingga saat aku menoleh, kedua matanya telah terpejam. Wajahnya tampak damai. Dia tertidur.

Aku berdiri dan menyelimuti tubuh ringkih itu sebelum merapikan rambut yang menutupi wajahnya. Dia menggumamkan namaku lirih, dan tergerak oleh suatu perasaan yang tak bisa kujelaskan, aku membungkuk dan menempelkan bibirku padanya. Sebuah sengatan listrik menyentak tubuhku dan aku segera berdiri, menutup mulutku terkejut. Sepertinya aku butuh minum dan mungkin sedikit angin segar.

Aku kembali ke kamarku saat matahari terbit dan melihat Kuroko telah bangun. Gadis itu duduk di ranjangku dengan lutut tertekuk dan wajah yang tampak berpikir dalam, tak sekalipun menoleh saat aku masuk. Aku pun berjalan menuju meja kerjaku dan mulai memeriksa beberapa laporan yang belum sempat kuselesaikan semalam.

"Kapten Akashi?"

Dia memanggilku lirih dan aku mendongak untuk bertemu sepasang mata biru indahnya, mau tak mau melirik ke arah bibir merahnya yang tampak manis. Seandainya aku tak punya kendali atas emosiku setelah bertahun-tahun latihan, aku yakin wajahku akan merona, seperti bagaimana sekarang aku mulai merasakan pipiku menghangat. Aku mengangguk, memintanya melanjutkan.

"Setibanya kita di pulauku nanti, maukah kau turun ke daratan bersamaku? Aku hanya ingin melihat apa yang terjadi dengan rumahku, dengan ke-keluargaku."

Suaranya sedikit tercekat. Dia menunduk menatap kakinya.

"Ji-jika tidak memungkinkan aku mengerti, tapi—"

"Aku akan menemanimu."

Raut gembira di wajahnya membuatku ingin maju dan menciumnya. Karenanya aku segera berdehem dan melambai ke arah pintu.

"Jika kau sudah merasa cukup beristirahat, pergilah dan bantu Atsushi di dapur. Kau akan mengenalinya dari ukuran tubuh dan rambut ungunya."

Aku tak berani menoleh saat mendengarnya bergerak menuruni ranjang, merasakan pengendalian diriku benar-benar di ujung tanduk—terimakasih pada banyaknya rum yang kutenggak semalam.

"Terimakasih, Sei-kun."

Aku mendongak terkejut mendengar nama panggilan kecilku. Kuroko tampak merona sebelum bergegas keluar dari ruangan. Untuk sesaat aku duduk terdiam sambil memandang pintu, mengingat bagaimana bibir itu bergerak menyebut namaku. Aku menenggelamkan wajah di kedua tanganku saat merasakan pipiku memerah. Aku akan jatuh dalam pesona putri duyung kecil itu jika tidak berhati-hati.

.

.

.

To be continued...

Kau memang sudah jatuh padanya Akashiiiii *gemespengincubit* XD

ryu elchan : Iya nih, kena bisikan iblis merah o.o

nimuixkim90 : Chap depan dst akan dipenuhi akakuro momen kok. Tenang aja :)

Rabendaa Violant : Gomen, saya hanya mengikuti chap aslinya. Hmmm lagi proses nih, wkwk

Arisa Ezakiya : Iya chap kemarin memang pendek. Ini udah lanjut ^^

Liuruna : Ya... mungkin? wkwk

pii : Next bakal bertebaran kok XD

Arnest sirleena : Terjawabkah semua di chap ini?

.

.

.

Thanks for read!

Last, review?