The Mermaid and The Prince

The Merman and The Prince © Maxitron

Romance/Fantasy

Akashi x Fem!Kuroko

I don't own the story. The story belongs to wattpad author Maxitron with original title The Merman and The Prince. I've asked her permission to translate and change it into genderswitch. Once again, this story IS NOT MINE.

DLDR!


Kuroko's Pov

Ketika aku berjalan menuruni tangga menuju dapur, aku melihat seorang pemuda tengah sibuk mengiris kentang. Dia mendongak saat aku masuk. Surai hitamnya jatuh menutupi salah satu matanya. Aku menyapanya malu-malu.

"Um, hai, aku Kuroko. Akash—maksudku, kapten Akashi menyuruhku turun kemari untuk membantu."

Senyum lebar terukir di wajahnya dan dia melangkah maju untuk menjabat tanganku. Aku bisa melihat tahi lalat kecil di bawah matanya.

"Well, senang bertemu denganmu, Kuroko-chan! Aku Himuro, biasa membantu Murasakibara di dapur. Dengan banyaknya pendatang baru yang muncul kami memang menjadi sangat sibuk. Kalau begitu bisakah kau memulainya dengan mencuci piring-piring kotor di sana?"

Aku mengangguk dan segera melakukan yang dimintanya. Himuro adalah tipe orang periang dan selalu mengajakku bicara selama bekerja, membuatku sedikit bersantai di dekatnya. Aku mulai merasa yakin jika mereka memang lebih dari sekedar bajak laut biasa.

Aku telah selesai mencuci piring terakhir dan tengah mengusap wajahku yang penuh peluh ketika sebuah suara terdengar di belakangku.

"Kerja yang bagus, Kuro-chin."

Aku berbalik terkejut, menemukan diriku berhadapan dengan sebuah dada bidang yang lebar. Aku melangkah mundur dan mendongak untuk bertatapan dengan pemuda bersurai ungu bernama Murasakibara. Dia memiliki tinggi hampir tujuh kaki dan aku menelan ludah gugup saat dia menunduk ke arahku dan menjulurkan tangannya. Aku terlonjak kaget, namun ternyata dia hanya ingin memberiku sebuah permen. Aku menerimanya sambil menggumamkan terimakasih sementara dia mengambil permen lain dan memakannya. Aku mengikutinya dan berseru pelan menikmati rasanya.

"Hmm, ini benar-benar enak!"

Murasakibara tersenyum padaku. Sepasang mata ungunya berbinar.

"Enak, kan? Ini, kau harus mencoba yang ini, dan ini, oh dan yang ini juga!"

Dia mulai menggeledah saku-sakunya untuk mengambil berbagai macam permen dan menjejalkannya ke tanganku. Himuro tertawa kecil dari tempatnya berdiri.

"Dia sangat menyukai makanan manis, tapi tak ada seorang pun di sini memiliki selera sama dengannya. Aku yakin kalian bisa berteman baik."

Aku tersenyum ke arah pemuda bersurai gelap itu dan mulai merapikan piring-piring yang telah kucuci saat aku melihat sebuah pergerakan dari sudut mataku. Apa mereka baru saja berciuman? Aku merasakan wajahku merona menyadari aku telah menyaksikan momen rahasia mereka berdua. Aku buru-buru melanjutkan pekerjaanku, memberi mereka sedikit privasi.

"Bisakah kalian berdua berhenti saling memakan wajah satu sama lain? Tidakkah kalian lihat jika kalian telah membuat teman kecil kita ini malu?"

Aku menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang pemuda berkulit gelap masuk diikuti pemuda berambut pirang, dua sosok yang secara tak langsung memberiku senjata di kapal pedagang budak. Rasa malu dan bersalah segera memenuhiku dan aku kembali merapikan piring untuk makan siang nanti saat sebuah tangan mendarat di bahuku. Aku mendongak dan bertemu dengan sepasang mata sehangat bunga matahari yang tersenyum ke arahku.

"Kau melakukan hal yang benar."

"Dan hebat jika kau tanya padaku!"

Si pemuda berkulit gelap mendekat dan melingkarkan lengannya di bahuku. Kise dan Aomine, aku ingat nama mereka. Mereka selalu terlihat bersama bahkan saat melakukan latihan. Aku sempat terpaku dengan keahlian berpedang mereka saat melihat mereka berlatih suatu hari di geladak. Mereka lawan yang seimbang, namun dari yang kulihat Aomine mempunyai gerakan yang sangat cepat dan sulit ditebak yang membuat Kise kewalahan.

"Kau menusuknya tepat di bawah tulang dan menembus jantungnya! Itu gerakan yang sangat sulit. Apa kau pernah berlatih?"

Aku menggeleng, tak ingin mengingat perasaan saat nyawa pria itu tercabut atau darahnya yang menempel di tanganku.

"Aku tidak pernah memegang pisau belati sebelumnya."

"Hmmm, bakat alami kalau begitu! Kau harus berlatih untuk mengasahnya. Kau bisa menjadi ahli pedang yang hebat, atau lebih baiknya lagi," ucapnya seraya mengedip, "bajak laut yang mengagumkan."

Dia melepaskanku dan beranjak mendekati Murasakibara. Kise telah berada di samping pemuda bertubuh raksasa itu, meloncat-loncat penuh semangat.

"Oh, wanginya sangat enak. Bisakah kita makan sekarang?"

"Tamu terlebih dulu."

"Aww, ayolah! Biarkan aku mencicipinya, ya?"

Murasakibara memukul kepala pemuda pirang itu dengan sendok sup di tangannya.

"Tamu dulu, baru kau bisa makan!"

Aku mengamati mereka yang saling mengolok-olok satu sama lain dan berpikir jika mereka terlihat seperti sebuah keluarga. Semua senyum dan candaan itu mau tak mau mengingatkanku pada masa-masa kecilku bersama Kagami sebelum situasi menjadi semakin sulit untuk untukku menyembunyikan identitasku.

"Kau adalah tamu, Kuro-chin. Jadi, kau yang pertama makan."

Aku memekik kecil saat pemuda raksasa berambut ungu itu mengangkatku dan mendudukkanku di kursi seolah aku tidak lebih besar dari seorang anak kecil. Kemudian dia meletakkan semangkuk rebusan di depanku bertepatan dengan perutku yang berbunyi memalukan. Seisi ruangan tertawa dan aku menunduk untuk menyembunyikan wajahku yang memerah.

Mereka semua pergi ke atas untuk membagikan makanan, meninggalkanku berdua bersama Himuro. Aku mulai menyuap makananku, merasakan segarnya ikan yang dibumbui berbagai macam rempah-rempah serta sup yang mengental oleh kentang. Ini sangat enak. Himuro memberiku sepotong roti dan aku dengan senang hati mencelupkannya ke dalam sup sebelum memakannya. Saat yang lain kembali ke dapur, aku telah menghabiskan setengah mangkuk.

"Kau akan membuat koki mana pun senang," ucap Murasakibara seraya menambahkan sesendok penuh ke mangkukku. Aku tersenyum membalasnya. Meski duduk dia tetap menjulang begitu tinggi.

Semua bajak laut telah duduk di tempat masing-masing saat Himuro dan Murasakibara membagikan satu-persatu semangkuk rebusan hangat. Sepertiku, mereka mulai menyantapnya dengan tak sabar. Ruangan hening dan hanya diisi oleh suara kunyahan dan sesekali gumaman untuk mengambilkan roti atau garam. Berada di meja ini entah kenapa membuatku merasa menjadi bagian dari mereka. Aku tidak merasa seperti orang luar atau pun monster.

Aku merasa menjadi diriku sendiri.


Akashi's Pov

Apa yang sedang para awakku lakukan? Aku berdiri di geladak dan memperhatikan suasana yang tidak biasanya sepi. Sudut tempat anak-anak yang kami selamatkan berada tampak tenang karena mereka tengah tidur siang, namun biasanya aku akan melihat Ryouta dan Daiki berdebat tentang hal tak penting atau berlatih menggunakan pedang mereka. Selain itu tak ada pemuda raksasa duduk di tengah geladak sambil memakan manisan atau pun pemuda berkacamata yang ingin membuat rencana hidupku untuk setahun kedepan.

Aku berjalan menuju kemudi dan melihat Takao berdiri di sana, mengawasi jauh lautan bebas di depan kami. Biasanya dia akan berada di menara pengintai, dengan mata setajam elangnya yang telah banyak membantu kami di saat-saat tertentu. Dia menghentikan kegiatan menjelajahnya dan mengangguk saat aku mendekat.

"Menggantikan Shin?"

Pemuda bersurai gelap itu kembali mengangguk, matanya kembali memandang lautan luas di depan.

"Ya, Shin-chan baru saja pergi untuk minum teh dan makan siang," ucapnya sedikit mengernyit, kemudian mendongak ke arah matahari sambil mengangkat tangan untuk menghalangi matanya. "Hmm, sudah sekitar satu atau dua jam yang lalu."

Mendengar suara celotehan dan tawa dari bawah, aku beranjak menuju dapur dan berhenti di depan pintu, mengagumi pemandangan di depanku. Semua awakku tengah berdiri dan duduk mengelilingi si duyung biru mungil. Senyum terlukis di wajah gadis itu saat mendengarkan Kise bercerita, sementara di sebelahnya Aomine menambahkan bagian-bagian yang dilupakan pemuda pirang itu. Murasakibara duduk di samping Kuroko, menambahkan permen demi permen ke pangkuan sang duyung yang kini tampak penuh oleh tumpukan manisan itu.

Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Kuroko saat dia tertawa. Suaranya begitu merdu dan menghangatkan hatiku. Shintarou yang selalu waspada melihatku berdiri di pintu dan mendekat, secangkir teh di tangannya dan dia mengangguk ke arah yang lain.

"Aku menemukan mereka di sini, mengajari gadis itu cara melempar pisau. Dia punya bakat."

Pemuda itu menunjuk sebuah tong dan aku bisa melihat sejumlah pisau menancap rapi di tengahnya. Hanya dua yang tidak tepat sasaran.

"Dia dengan cepat berteman dengan semuanya, terutama Murasakibara. Bagaimana orang bisa makan manisan sebanyak itu, aku tidak akan pernah tahu. Kise seperti biasa selalu tertarik dengan sesuatu yang baru dan menyenangkan, sementara Aomine tentu saja terkagum dengan keahliannya menggunakan pisau. Dia bisa bergabung tanpa masalah."

Aku bisa merasakan tatapan matanya yang mengarah padaku. Dia selalu tahu apa yang kupikirkan dan aku memang sering memikirkan duyung biru itu akhir-akhir ini.

"Bukan hakmu untuk memutuskan."

"Memang tidak. Itu hakmu dan haknya. Dia tidak punya tempat untuk pergi, Seijurou. Rumahnya telah dihancurkan dan rahasianya telah terbongkar."

"Dia tidak akan aman bersama kita."

"Dia juga tidak akan aman seorang diri. Seseorang akan membocorkan identitasnya dan dia akan diburu lagi. Kau tahu itu. Jika dia tidak bisa pergi ke lautan, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah memberinya tempat tinggal."

Aku menggerutu, tidak membantah atau pun menyetujui perkataannya. Yang lain menyadari keberadaanku dan senyum Kuroko melebar melihatku, membuat dadaku berdebar kencang.

"Apa kau mau secangkir teh? Aku membuatnya."

Dia melihat sekeliling mencari ceret lalu menyadari tumpukan besar permen di pangkuannya. Dia menatap bergantian permen-permen itu dan ceret yang jauh dari jangkauan. Raut wajahnya tampak sedih dan bingung, membuatku tak bisa menahan tawaku. Para awakku melirik terkejut sementara Kuroko balas tertawa kecil.

"Tidak, terimakasih. Mungkin lain kali aku akan dengan senang hati mencoba sesuatu yang kau buat."

Kata-kata yang terucap tanpa pikir panjang, namun mampu membuat wajah gadis itu merona. Yang lain saling bertukar senyum diam-diam, namun segera berpaling begitu aku menatap mereka tajam.

"Aku kesini untuk memberitahumu jika kita akan tiba di pulaumu malam ini. Kita akan menurunkan orang-orang di pantai yang sepi namun cukup dekat dengan kota sehingga mereka bisa berjalan pulang dengan aman, kemudian kau dan aku bisa menyelinap ke kota untuk melihat rumahmu."

Sekelebat bayangan menutupi binar di matanya dan senyumnya sedikit meredup, namun dia mengangguk.

"Terimakasih."

Tak ingin membuat raut sedih itu bertahan di wajahnya, aku melangkah masuk dan mulai menuangkan secangkir teh untuk diriku sendiri.

"Nah, bagaimana kalau sekarang kita coba teh buatan putri duyung yang terkenal ini?"

Senyumnya kembali merekah saat aku menyesap tehnya dan untuk kedua kalinya dalam hari ini aku ingin mencium bibir merah itu.

.

.

.

To be continued...

Duh, tinggal cium aja bang :*

Apdet terakhir sebelum lebaran~

Terimakasih untuk semua yang sudah menyempatkan diri membaca dan mereview ff ini. Mohon maaf jika selama ini terdapat kesalahan dalam penulisan, termasuk kata-kata yang mungkin menyinggung perasaan teman-teman *bow*

Selamat hari raya Idul Fitri bagi yang merayakan! \^o^/

See ya~ ^^/