The Mermaid and The Prince

The Merman and The Prince © Maxitron

Romance/Fantasy

Akashi x Fem!Kuroko

I don't own the story. The story belongs to wattpad author Maxitron with original title The Merman and The Prince. I've asked her permission to translate and change it into genderswitch. Once again, this story IS NOT MINE.

DLDR!


Kuroko's Pov

Aku berdiri di samping Akashi dengan hoodie menutupi kepalaku saat kapal perlahan menepi ke dermaga, memandang pulau yang telah menjadi rumahku selama delapan belas tahun terakhir ini. Kami telah berhenti di tepian dekat sebuah pantai siang tadi, di mana Aomine dan Kise membawa orang-orang menaiki perahu kecil dan mengirim mereka ke daratan. Tak seorang pun berbicara padaku mengingat apa yang telah kulakukan di kapal pedagang budak. Anak yang kusembuhkan menjabat tanganku dan si kembar melambai malu-malu, namun sisanya mengabaikanku. Well, aku tidak bisa menyalahkan mereka. Aku sendiri masih terkejut dengan perbuatanku, meski aku yakin akan melakukannya lagi seandainya waktu terulang.

Beberapa jam usai matahari terbenam, Midorima membawa kapal menuju dermaga. Orang-orang sekitar merayakan kembalinya anak-anak yang diculik. Mereka yang berasal dari pulau lain ditempatkan di penginapan dan akan diantar pulang besok pagi oleh penduduk pulau. Akashi telah menurunkan benderanya sehingga kapalnya sekarang hanya terlihat seperti kapal pedagang lainnya.

"Siap untuk pergi?"

Aku mengangguk dan mengikuti Akashi menuruni kapal, sementara Aomine dan Kise berlalu untuk membayar biaya masuk dermaga dan mengumpulkan bahan persediaan.

Malam dipenuhi dengan tawa. Pasar malam yang menjual makanan dan minuman hangat tampak ramai oleh pengunjung. Anak-anak berlari di sepanjang jalan, tertawa dan bermain. Aku mengira semua akan berubah, namun sepertinya akulah satu-satunya yang berubah. Semua terasa salah. Seakan merasakan kegelisahanku, Akashi memegang sikuku dan dengan cepat menuntunku melewati keramaian hingga kami berhenti di jalan kecil menuju rumahku. Dia membalikan tubuhku agar menghadapnya dan menarik lepas hoodie-ku setelah memastikan tak ada seorang pun di sekitar kami.

"Kau yakin tentang ini?"

Aku menatapnya dan tenggelam dalam manik dwiwarna itu untuk sesaat, lalu mengangguk.

"Aku perlu melihatnya."

Aku menyusuri jalan kecil itu diikuti Akashi di belakangku. Biasanya aku akan melihat cahaya di atas bukit, namun malam ini tak ada apa pun di sana. Tak ada cahaya maupun suara, hanya keheningan dan sesekali siulan burung hantu dari kejauhan. Aku berhenti begitu tiba di puncak. Hatiku serasa diremas kuat melihat pemandangan di depanku.

Semua hilang. Sisa-sisa puing yang menghitam berserakan di tempat sebuah mansion besar pernah berdiri kokoh. Bau busuk dari asap dan jelaga masih mencemari area sekitar. Tak jauh dari reruntuhan, terdapat sebuah palang kayu berukirkan sejumlah nama dengan bunga dan lilin mengelilinginya. Aku melangkah mendekat dan melihat nama-nama yang tak lain adalah daftar nama korban. Aku menemukan nama pamanku di bagian teratas dan lututku lemas seketika. Aku akan terjatuh seandainya Akashi tidak menangkapku, mendekapku ke dalam dadanya sementara aku menatap daftar nama itu dengan mata memanas.

"Siapa di sana?"

Aku mendengar suara seseorang mendekat, namun tak bisa menghentikan air mata yang kini mengaliri pipiku. Akashi menarik hoodie ke atas kepalaku dan terus mendekap wajahku ke dadanya.

"Hanya pengunjung dari kapal. Rekanku memiliki teman yang bekerja di tempat ini. Apa yang terjadi?"

Aku mendengar langkah kaki diikuti sebuah desahan. Aku mengenali suara itu. Dia adalah kakek tua penjaga rumah kami.

"Doaku menyertai temanmu, anak muda. Aku juga bekerja di rumah ini dulu. Banyak orang baik meninggal. Aku selamat karena tidak tinggal di sini. Aku punya pondok kecil di pinggir kota, tempatku tinggal bersama putriku."

Aku mendengar Akashi mendesah. Kakek tua ini mulai mengoceh. Merasakan ketidaksabaran Akashi, kakek itu menggelengkan kepala dan melanjutkan.

"Malam itu para pemburu datang mencari keponakan tuan rumah kami, mengira jika dia adalah putri duyung. Kudengar mereka menolak untuk menyerahkannya sehingga pemburu pun membakar rumah ini dan mengunci semua pintu. Semua terbakar hidup-hidup, menyisakan tiga orang yang selamat. Sayang, tuan besar dan nona muda bukan salah satu dari mereka. Sungguh tragis memikirkan gadis itu adalah seorang duyung. Dia takut pada laut setelah kehilangan orangtuanya di kecelakaan kapal."

"Apa yang terjadi dengan para pemburu?"

"Mereka segera pergi setelah kehilangan buruannya, melacak kapal-kapal yang berlayar malam itu. Doaku menyertai nona muda seandainya dia ada di salah satu kapal itu. Mereka adalah monster berhati dingin."

Aku mendengar langkah kakinya menjauh, namun dadaku masih terus berdenyut nyeri seiring dengan air mata yang tak henti berjatuhan, memamerkan sisikku. Akashi terus mendekapku dan mulai menyenandungkan lagu untuk menenangkanku. Usai beberapa saat, aku mulai tenang dan tangisanku pun berhenti. Dia merenggangkan pelukannya, tampak terpana melihat wajahku, sebelum mengambil sapu tangan dan menghapus lembut air mataku.

"Mungkin kita harus menunggu sebentar sebelum kembali ke kapal."

Aku mengangguk dan kami pun duduk di bebatuan dengan punggung membelakangi reruntuhan, memandang lautan yang terbentang di hadapan kami. Untuk sesaat dia tidak kunjung berbicara dan aku sadar dia sedang menungguku.

"Aku kehilangan semuanya. Tak ada rumah, keluarga atau pun uang. Tak ada yang tersisa."

Tidak ada kesan mengasihani diri dalam suaraku, hanya kepasrahan terhadap takdirku.

"Semua tidak perlu berakhir seperti itu. Penawaranku masih berlaku."

Aku menoleh pada kapten berambut merah di sebelahku. Dia tengah menatapku lekat, matanya terpaku pada wajahku.

"Pergilah bersama kami hingga malam bulan purnama. Setelahnya kau bisa menemukan jalanmu kembali untuk bersama orang-orangmu."

Bayangan akan pergi ke lautan, menjalani hidup di bawah laut yang dingin dan gelap, seorang diri, mengirim alarm ketakutan ke seluruh tubuhku, dan seperti biasa dia tampak membaca pikiranku.

"Atau jika kau mau, kau bisa tetap tinggal. Kau terlihat akrab dengan awakku dan memiliki bakat alami dengan pisau."

Dia memalingkan wajah dan bergumam sangat pelan hingga aku tak yakin mendengarnya dengan baik, "dan aku ingin kau berada di sisiku."

Dadaku berdebar mendengar kata-katanya, mau tak mau memikirkan seperti apa rasanya hidup dengan para bajak laut. Mereka adalah kriminal di mata hukum, namun aku juga mendapati mereka sangat perhatian dan baik hati. Mereka seperti sebuah keluarga, membuatku merasa aman dan menjadi bagian dari mereka dalam beberapa hari yang kuhabiskan di Red Emperor. Mereka memberiku perasaan hangat akan sebuah ikatan dan aku mendapati diriku ingin menjaganya. Yang lebih mengejutkanku, aku juga ingin mengetahui lebih banyak tentang kapten bersurai merah dengan mata mempesona di sebelahku.

"Ya."

Suaraku amat pelan dan dia menoleh ke arahku. Aku tersenyum menatapnya. Sinar bulan menyinari kami saat aku menyampaikan sebuah keputusan yang akan mengubah jalan hidupku.

"Kumohon, ijinkan aku bergabung dengan awak kapalmu."


Kagami's Pov

Bukan pekerjaan mudah mengejar petunjuk akan perginya Kuroko. Aku mengikuti jejak yang ditinggalkan para pemburu, mempelajari sedikit informasi tentang orang-orang yang mengincar temanku itu. Mereka berlayar di sebuah kapal bernama Jabberwock, tepatnya di bawah kepemimpinan kapten bernama Nash Gold, seorang monster yang tak kenal belas kasihan dengan tato di lehernya.

Tak satu pun cerita yang beredar tentang mereka memiliki akhir bahagia dan rasa takutku akan keselamatan Kuroko pun terus bertambah seiring berlalunya waktu. Aku tahu dia masih hidup ketika yang lain yakin dia telah mati, sampai dua pria terdampar ke pulau ini membawa cerita tentang seorang duyung berambut biru.

Aku sedang beristirahat di penginapan saat mereka datang, tampak kelaparan dan dehidrasi dengan kulit terbakar sinar matahari. Mereka diberi makan dan minuman, namun hanya sebatas itu tatkala mereka dikenali sebagai pedagang budak. Mereka hendak diserahkan ke pihak berwenang, namun aku sempat mendengar mereka menyebutkan sesuatu tentang rambut biru. Mengabaikan sakit di luka bakarku, aku segera mendekat dan meraih kasar kerah baju salah satu dari mereka. Dia memekik terkejut, namun tak ada yang bergerak menolongnya. Mereka pernah menyerang kota ini sebelumnya, tak seorang pun peduli jika mereka mendapat sedikit perlakuan kasar.

"Apa saja yang kau ketahui tentang seorang gadis berambut biru?"

"Aku tidak tahu apa yang kaubicarakan."

Kemarahan berkelebat di mataku dan sebelum aku menyadarinya, tinjuku telah memukul telak wajahnya, membuatnya terkulai di cengkramanku dengan mata yang berputar-putar.

"Aku mendengarmu mengoceh tentang seorang gadis berambut biru. Katakan padaku semua yang kautahu!"

Dia terlihat setengah sadar hingga aku pun melepasnya kasar sebelum beralih ke pria satunya yang lebih muda. Dia segera mengangkat kedua tangannya menyerah.

"Aku akan memberitahumu semua yang kutahu!"

Aku menggerutu, memintanya untuk melanjutkan. Dia menurunkan tangannya seraya melirik ke arah temannya yang babak belur.

"Seorang gadis dengan rambut biru bersembunyi di kapal kami dari kejaran pemburu. Tak ada seorang pun ingin terlibat masalah macam itu. Kemudian kapten mengenalinya sebagai seorang duyung dan kami berencana untuk menjualnya."

Geraman murka lolos dari tenggorokanku dan pria itu meloncat ketakutan. Bahkan petugas bersenjata yang mengelilingi kami pun tersentak mundur melihat mataku yang berkobar dalam kemarahan.

"Kami tidak melakukannya! Sekelompok bajak laut menabrak kapal kami dan duyung iblis itu membunuh kapten dengan pisau! Tepat menancap jantungnya!"

"Kuroko tidak akan membunuh siapa pun."

"Well, kau tidak tahu kalau begitu. Matanya penuh dengan hasrat membunuh, sama seperti semua jenisnya. Monster seperti mereka memang harus dibunuh atau—" Aku memukul wajahnya keras, membuatnya tak sadarkan diri seketika.

Sebuah tangan mendarat di bahuku dan aku menoleh untuk bertatapan dengan sepasang mata hitam ramah yang tersembunyi di balik kacamata. Hyuga adalah kapten dari kapal yang kusewa untuk menemukan Kuroko. Bahkan setelah mengetahui jika gadis yang tengah kucari adalah seorang putri duyung, dia beserta awaknya tidak berpikir dua kali untuk membantuku melanjutkan pencarian.

"Tenang, Kagami. Kita tahu dia masih hidup. Yang perlu kita lakukan hanyalah terus mencari. Dan jika yang tengah kita coba temukan adalah bajak laut, kita perlu menuju kepulauan di utara. Di sanalah biasanya tempat persembunyian mereka berada."

"Apa kau yakin tentang ini? Kalian telah mengambil begitu banyak resiko."

"Tuanmu adalah teman baik kami, begitu juga dengan nona muda. Kami akan membantumu mendapatkannya kembali dengan selamat."

.

.

.

To be continued...

Waduh nama bang Nash Gold muncul! Gimana nasib Kuroko selanjutnya?

nimuixkim90 : Wkwk, ngga akan lama kok. Just one more chapter and they will be officially together XD

Liuruna : Sama-sama :). Saya juga pernah nemu, memang kawaii deh si biru satu ini XD

Arnest sirleena : Wkwk, saya merasakan hal yang sama denganmu :'). Oke sip! ^^

Oh ya, berkaitan dengan nama Kuroko yang belum pernah disebutkan hingga chapter ini, haruskah saya menggantinya dengan nama cewek seperti Tetsuna? Atau tetap Tetsuya saja? Mohon pencerahannya ^^

.

.

.

Thanks for read!

Last, review?