The Mermaid and The Prince

The Merman and The Prince © Maxitron

Romance/Fantasy

Akashi x Fem!Kuroko

I don't own the story. The story belongs to wattpad author Maxitron with original title The Merman and The Prince. I've asked her permission to translate and change it into genderswitch. Once again, this story IS NOT MINE.

DLDR!


Kuroko's Pov

Dengan cepat aku beradaptasi dengan kehidupan di Red Emperor dan tak butuh waktu lama bagiku untuk benar-benar menganggapnya rumah. Aku berganti dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, mempelajari tali temali serta berbagai hal yang bisa kulakukan. Aku menyukai ketinggian dan mampu memanjat jaring-jaring serta tiang dengan mudah sehingga Akashi memberiku tugas menangani layar dan menara pengintai bersama Takao.

Aomine dan Kise melatihku bermain pedang yang dengan cepat dan mudah kukuasai. Melempar pisau adalah keahlianku, namun mereka juga mengajariku cara bertarung menggunakan dua pedang kecil yang lebih menyerupai pisau belati berukuran panjang. Aku tidak bisa menahan berat pedang normal sehingga mereka menyesuaikan gaya bertarungku. Meski begitu, mereka memberitahuku jika aku tidak perlu ikut pertarungan yang sesungguhnya. Mereka menginginkanku tetap aman sampai aku merasa nyaman tinggal di sini. Selain itu, Akashi tidak ingin memaksaku melakukan hal yang tidak kuhendaki.

Midorima bertugas mengajariku cara menentukan arah menggunakan rasi bintang dan sebuah benda logam kecil berjarum bernama kompas. Dia hendak mengajariku cara meramal cuaca, namun inderaku sebagai duyung sendiri cukup tajam terhadap perubahan sekecil apa pun pada angin dan laut. Aku bisa merasakannya seolah mereka mengalir di darahku. Karenanya, sudah menjadi hal yang biasa melihatku berdiri di balik pagar dengan kaki telanjang dan wajah melawan angin, mengoreksi jalan yang sedang diambil guna melewati arus laut yang kuat.

Perubahan terbesar adalah Akashi yang tampak menghindariku. Kesibukan di kapal memang membuat kami sulit bertemu, namun dua minggu berlalu dan aku tersadar jika interaksi yang kami lakukan hanyalah saat dia memberiku perintah atau bertukar sapa. Kami tidak pernah benar-benar berbicara sejak malam aku memutuskan untuk bergabung dengan awaknya. Aku membahasnya sambil lalu pada Murasakibara saat membantunya menyiapkan makan malam.

"Jangan mengkhawatirkan Aka-chin, dia memang terkadang seperti itu. Banyak yang ada di pikirannya, seperti sasaran kami berikutnya, pelabuhan berikutnya, atau rute yang harus diambil. Dia juga harus bergerak ekstra hati-hati dengan adanya kau ada di sini sekarang. Kami tidak ingin para pemburu menemukanmu dan tidak semua bajak laut memiliki moral tinggi seperti kapten kami."

Aku hanya bergumam kecil seraya menghidangkan sup ke dalam mangkuk. Pemuda ungu itu mungkin benar, tapi aku masih merasa jika dia sedang menghindariku. Aku memikirkan kembali ucapanku di pulau malam itu dan tak merasa telah mengatakan hal yang membuatnya tak nyaman. Lebih dari itu, kata-katanyalah yang membangkitkan harapanku. Dia bilang jika dia menginginkanku berada di sisinya. Di sisinya, bukan bagian dari awaknya. Aku merasakan pipiku menghangat saat orang yang tengah kupikirkan tiba-tiba muncul di dapur. Dia melirikku sekilas sebelum menatap Murasakibara.

"Aku akan makan di kamarku. Katakan pada Shin untuk mengambil shift pertama dan aku akan menggantikannya tengah malam nanti."

Dia meraih semangkuk sup dan aku mengulurkannya sepotong roti. Dia menggumamkan terima kasih tanpa menoleh ke arahku sebelum melangkah kembali menaiki tangga. Perutku terasa hampa dan dadaku berdenyut sakit memandang sosoknya yang menjauh. Sebuah tangan berlumuran tepung mendarat di bahuku dan aku mendongak untuk bertemu dengan sepasang mata ungu yang melembut.

"Dia hanya sedang kelelahan. Ini."

Dia mengambil sebungkus permen dari salah satu sakunya dan memberikannya padaku sebelum berbalik untuk kembali bekerja. Aku memasukkannya ke dalam mulutku. Manis, namun tetap tak dapat melenyapkan rasa masam yang tertinggal akibat perlakuan dingin Akashi.

Aku terbangun lewat tengah malam, merasakan kandung kemihku penuh oleh bir yang kuminum saat makan malam. Usai menuntaskan urusanku, aku kembali ke tempat tidurku di dapur yang terbuat dari tumpukan selimut di bawah meja. Waktu berlalu, namun aku tak bisa tidur kendati kapal berayun lembut di tengah ombak. Memutuskan untuk menghirup udara segar, aku keluar menuju geladak dan merapatkan jaketku saat angin dingin berhembus kuat dan membuatku bergetar. Aku berdiri sembari memandang bulan ketika sebuah suara menyadarkanku dari lamunan.

"Tak bisa tidur?"

Aku menoleh ke arah kemudi dan melihat Akashi tengah bersandar nyaman di sana. Aku menggigit bibirku lalu menggeleng. Keheningan tercipta dan aku berjalan mendekatinya. Dia menatapku sesaat sebelum kembali menghadap ke depan. Sengatan rasa sakit yang sama di dadaku muncul ketika dia tidak mau menatapku.

"Kenapa kau menghindariku? Hal buruk apa yang telah kulakukan hingga kau bahkan tak mampu menatapku!"

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku sebelum aku mampu menghentikannya. Aku buru-buru ingin minta maaf, namun bibirku terkatup rapat. Tidak. Aku ingin tahu alasan dari sikapnya selama ini.

Dia menatapku. Sepasang mata berwarna merah dan emas itu menatap lurus ke manik biruku sebelum melirik sekilas rambutku yang sedikit bersinar di bawah cahaya bulan.

"Kau tidak melakukan apa-apa," ucapnya lalu memalingkan wajah. Tenggorokanku tercekat.

"Apa kau ingin mencoba mengatakan sesuatu seperti 'masalahnya bukan ada padamu tapi padaku'? Seperti itu?"

Dia menoleh dan menatapku dingin. Rasa takut segera menyergapku saat mataku bertemu dengan sosok kapten bajak laut yang sama seperti yang pertama kali kutemui.

"Jaga ucapanmu. Aku adalah kaptenmu."

Matanya memerangkapku lama sebelum dia mengangguk pelan dan melepaskanku dari tatapannya.

"Akan lebih aman jika kau menjaga jarak. Kau tidak tahu bahaya apa yang mengelilingiku."

Suaranya lirih di tengah-tengah angin yang berhembus kencang di antara kami.

"Well, itu bukan alasan untuk menghindariku! Bahaya juga mengikutiku, atau kau lupa dengan kebakaran yang menimpa rumahku dan kematian keluargaku?"

"Kisahmu bukanlah satu-satunya kisah tragis di dunia ini. Ada begitu banyak bahaya dan kengerian di dunia ini yang tidak kau ketahui mengingat kau tumbuh di tempat nyaman yang jauh dari kegelapan dunia luar. Kau belum pernah melihat hal-hal yang kulihat dan jika aku bisa, aku akan melindungimu hingga kau tak perlu melihatnya."

"Kau tidak bisa memutuskan seenaknya. Aku memilih hidup ini, tak peduli bahaya di dalamnya. Jadi kumohon beritahu aku apa yang kau hadapi dan apa yang terjadi denganmu di masa lalu. Jangan mengabaikanku hanya karena kaupikir itu lebih aman untukku."

"Tidak. Semakin sedikit yang kau tahu, maka semakin aman juga bagimu."

Aku merasakan kemarahanku memuncak. Tanganku terkepal.

"Aku memilih hidup ini! Aku memilih untuk berdiri di sampingmu. Kau tahu segalanya tentangku, hidupku, rahasiaku, tak ada yang kusembunyikan darimu. Kenapa kau tidak mau memberitahuku?"

"Sialan, kubilang tidak, Tetsuya! Masa laluku bukanlah urusanmu!"

Kata-katanya bagaikan tamparan untukku. Dia menatapku tajam dan aku melangkah mundur dengan raut terkejut. Tak ada lagi Sei-kun ramah yang kukenal di wajah itu. Aku sedang berhadapan dengan seorang bajak laut berhati dingin yang tak segan menyakiti orang lain. Aku menggingit bibirku yang mulai bergetar lalu membungkuk sebelum berbalik dengan langkah tergesa menuju tempat tidurku, menahan air mata yang mulai menggenang di mataku.


Akashi's Pov

Aku memperhatikan Kuroko yang berlalu pergi dengan gelimangan air mata di matanya. Sebagian diriku ingin memanggilnya, menariknya ke dalam pelukanku dan mencium lembut air matanya, namun aku hanya bisa menggertakan gigi dan membiarkannya pergi.

"Tidakkah kau pikir itu sedikit kasar?"

Aku mendesah saat Shintarou melangkah keluar dari dinding tempatnya bersandar, tak terlihat olehku atau pun Kuroko.

"Lebih baik seperti ini."

"Lebih baik untuk siapa? Kau terlihat seperti ingin membunuh orang. Jika bukan karena kejadian buruk yang terus menimpanya hingga sedikit membuat hatinya tegar, dia pasti sudah menangis di depanmu."

"Kita berhasil selamat sampai saat ini dengan menjaga rahasia kita tetap menjadi... rahasia."

Aku menekankan kata terakhir untuk mengingatkannya dan dia hanya mengangkat bahu.

"Dan seorang putri duyung yang mampu bersembunyi selama delapan belas tahun tidak bisa?"

Aku menggerutu dan mengubah strategi.

"Lagipula dia akan segera pergi. Minggu depan bulan purnama akan muncul dan dia bisa kembali bersama orang-orangnya."

"Dia tidak pernah berubah bentuk, Seijurou, dan kita berdua tahu jika sebagian besar kaumnya telah pergi dari laut ini."

"Apa yang kau ingin aku katakan?" Aku mengangkat kedua tanganku dan menoleh untuk bertatapan dengan sepasang manik hijaunya yang tenang. Wajahku mengernyit putus asa. "Bahwa aku telah jatuh hati pada seorang putri duyung? Tidak akan ada masa depan untuk kami!"

"Kerajaan kita telah musnah, Seijurou."

Aku sedikit tersentak dan merasakan hatiku teriris mendengar kalimat tanpa emosi yang diucapkan pemuda itu.

"Kau telah melakukan tugasmu, menjaga sumpahmu pada rakyat kita selama bertahun-tahun hingga sekarang. Tak ada yang akan menghalangimu mendapat sedikit kebahagiaan di kehidupan yang suram ini."

Dia meraih roda kemudi dan mengisyaratkan tangga tak jauh dari kami. Sadar aku tidak akan bisa meyakinkannya lagi, aku memasukkan kedua tanganku ke saku celana dan berjalan menuju dapur tempat Kuroko tidur. Aku menemukannya tengah berbaring melingkar di bawah meja dengan selimut di pelukannya. Sisik menghias wajahnya dan aku merasakan hatiku tercubit menyadari dia baru saja menangis.

Aku mendekat untuk menghapus pipinya yang basah, namun berhenti ragu dan menatap tanganku, untuk sesaat melihatnya dipenuhi darah dan pikiran akan menodai kulit halus itu berkelebat di kepalaku. Sepertinya aku telah membuat suara, karena tak lama sepasang mata biru itu terbuka dan mengerjap ke arahku. Dadaku berdenyut menyakitkan saat menyaksikan wajahnya yang dipenuhi ketakutan begitu melihatku. Aku mengambil nafas gemetar. Aku harus memperbaiki keretakan di antara kami.

"Maafkan aku atas ucapanku yang kasar, Tetsuya."

Dia duduk perlahan seraya menggenggam erat selimut di dadanya.

"Sulit untukku berbicara tentang masa laluku. Aku telah melihat banyak hal mengerikan dan melakukan banyak hal kejam dengan kedua tanganku. Meski begitu, aku akan mencoba untuk terbuka padamu. Jika ada seseorang di dunia ini yang ingin kupercaya untuk mendengar ceritaku, itu adalah kau. Aku hanya tidak ingin menyakitimu atau menodaimu dengan tangan yang telah menyebabkan begitu banyak penderitaan ini."

Aku menunduk menatap tanganku, hingga tangan kecil serta pucat Kuroko meraihnya dan menariknya menuju pipinya. Aku menggigit bibirku dan menangkup pipinya, mengusapkan ibu jariku pada sisik yang terasa begitu lembut di kulitku.

"Aku juga tidak sepenuhnya tak ternodai."

Entah apa yang kupikirkan, aku mendekat dan menempelkan bibirku padanya. Dia melebarkan mata terkejut sebelum menutupnya perlahan saat aku memperdalam ciumanku. Rona menghiasi wajahnya begitu kami melepaskan diri. Aku menggenggam tangannya.

"Aku ingin membawamu ke pulau tempat tinggalku. Akan lebih mudah menunjukkan padamu tempat di mana semuanya dimulai."

Dia mengangguk dan aku membantunya kembali berbaring. Aku hendak berdiri ketika dia mengeratkan genggaman tangannya padaku.

"Bisakah kau tetap di sini sampai aku tertidur?"

Dia terlihat begitu manis hingga aku tidak bisa menolaknya. Aku pun berbaring di sebelahnya dan menariknya ke dalam pelukanku sementara kapal bergoyang pelan mengantar kami ke alam mimpi. Begitulah Murasakibara menemukan kami keesokan paginya, berbaring di bawah meja dengan Kuroko terlelap di dadaku.

.

.

.

To be continued...

Akhirnyaaaaaa *tebarkonfeti* XD

Oke, setelah mempertimbangkan matang-matang usulan yang masuk, yakni 3 lawan 2, saya memutuskan untuk mengambil yang terbanyak, yaitu Tetsuya. Maaf yang telah mengusulkan Tetsuna, kalian kalah suara :'(

Bagaimanapun terimakasih pada semua yang membaca dan mereview chapter kemarin! Untuk yang bertanya akankah Nash terpesona dengan Kuroko seperti Akashi? Hmmm, entahlah... tapi sepertinya enggak deh? Hehe

.

.

.

Thanks for read!

Last, review?