The Mermaid and The Prince

The Merman and The Prince © Maxitron

Romance/Fantasy

Akashi x Fem!Kuroko

I don't own the story. The story belongs to wattpad author Maxitron with original title The Merman and The Prince. I've asked her persmission to translate and change it into genderswitch. Once again, this story IS NOT MINE.

DLDR!


Kuroko's Pov

Setelah kejadian semalam, tempat tidurku berpindah dari dapur ke kamar Akashi. Kise memekik heboh ketika dia mendapatiku dan Akashi tidur bersama di bawah meja. Sebuah pukulan di kepala dari Murasakibara berhasil menghentikan segala bentuk godaan lain, meski aku masih dapat menangkap senyum diam-diam yang terpasang di wajah mereka setiap kali melihatku.

Pagi itu, usai sarapan dan mencoba mengabaikan tatapan-tatapan penuh arti ke arahku, Akashi memberitahu kami perubahan rutenya.

"Aku ingin kembali ke Teiko."

Desahan segera memenuhi ruangan dan aku mendongak dari mangkuk buburku untuk melihat senyum senang di wajah mereka.

"Ah, kita akan pulang."

Takao bersandar pada Midorima yang melingkarkan lengannya di pinggang ramping pemuda bersurai hitam itu. Aku telah memperhatikan jika semua orang di sini tampak berpasangan. Aku melirik Aomine dan Kise, bertanya-tanya dalam hati untuk keseratus kalinya seandainya mereka adalah pasangan. Terkadang mereka terlihat bahagia bersama, namun di lain waktu mereka juga kerap bertengkar.

"Kau akan menyukainya di sana!" Kise berseru seraya melompat dan meletakkan lengannya di bahuku, menarikku mendekat. "Aku akan menunjukkan padamu sebuah danau tak berdasar yang menakjubkan!"

Detik berikutnya Aomine sudah berada di sisiku yang lain dan menarikku dari cengkraman Kise.

"Tidak bisa! Kau akan pergi berburu denganku!"

Suara deheman dari Midorima segera mengalihkan perhatian mereka ke arah sang kapten yang tengah tersenyum. Senyum dingin yang tidak mencapai matanya. Dengan cepat mereka segera melepasku dan kembali duduk.

"Satu-satunya masalah yang kita hadapi adalah butuh waktu sebulan untuk mencapai pulau, sementara bulan purnama akan datang kurang dari seminggu. Aku tidak ingin berada di laut dan mengambil resiko."

Semua mata mengarah padaku dan aku menelan ludah gugup. Aku mengingat malam di mana semuanya berubah, malam saat aku tidak bisa menolak panggilan laut. Seberapa burukkah sekarang ketika tak ada daratan sejauh mata memandang?

"Kita bisa pergi ke pulau tengkorak. Memang sedikit melenceng dari rute saat ini, tapi kita bisa tiba di sana sehari sebelum malam bulan purnama jika cuaca mendukung. Kita juga bisa menjual barang dan mengisi persediaan untuk perjalanan."

Akashi mengangguk setuju.

"Baiklah. Segera atur rutenya, Shin."


Aku berbaring di atas ranjang dengan Akashi di sebelahku, membelai rambutku lembut. Aku masih tidak percaya bahwa aku tengah berada di dekapan pemuda rupawan ini, bahwa dia memiliki perasaan terhadapku. Aku tidak bisa tidur, jantungku berdegup keras di dadaku hingga aku yakin dia mendengarnya. Namun, pemuda bersurai merah itu tak menunjukkan tanda apa pun dan terus menyapukan jari-jarinya di rambutku.

"Jadi, apa itu Teiko?"

"Itu adalah nama pulau tempat kami tumbuh."

"Aku tidak pernah mendengarnya. Apa itu pulau besar?"

"Cukup besar. Sebuah pulau berbentuk U dengan masing-masing ujung yang hampir bertemu, namun menyisakan sedikit ruang bagi kapal untuk berlayar melewati jalan kecil menuju teluk yang terbentuk di sana. Itulah rumah kami. Kau pasti belum pernah mendengarnya," dia melanjutkan dengan nada pahit.

"Dulu, terdapat sebuah kerajaan besar di sana sebelum dihancurkan bertahun-tahun lalu. Sekarang, tak ada orang yang tinggal di sana kecuali kami. Pelaut mengira pulau itu berhantu."

"Apa yang terjadi dengan kerajaan dan orang-orang yang tinggal di sana?"

Aku melihat topeng tanpa ekspresi kembali menghias wajah Akashi dan aku sadar aku tidak akan mendengarkan apa pun lebih lanjut darinya.

"Aku tahu. Kau tidak bisa mengatakannya."

Dia menarikku lebih dekat dan mendaratkan ciuman di kepalaku.

"Maafkan aku, tapi akan lebih mudah jika aku menunjukkannya padamu sebelum memberitahumu rinciannya. Semua akan terlihat masuk akal ketika kita sampai di Teiko."

Aku mengangguk dan menenggelamkan wajahku ke dadanya.

"Sekarang, mari tidur sebelum shift kita tiba."


Hari berlalu dengan angin berpihak kepada kami dan tampaknya kami akan sampai ke pulau tanpa masalah. Dua hari sebelum bulan purnama, aku tengah duduk di geladak dan berlatih simpul tali ketika aku merasakan perubahan pada angin. Berdiri, aku menoleh ke arah kapal ini melaju dan mengendus udara. Aku bisa mencium bau hujan di udara bersamaan dengan angin yang terasa bergerak menjauh. Aku segera menjatuhkan tali di tanganku dan memanjat jaring serta tali ke menara pengintai tempat Takao sedang beristirahat. Dia mengangkat topi dari wajahnya begitu mendengarku mendekat. Aku memandang lurus ke arah timur.

"Ada apa, Kuroko?"

"Sebuah badai. Cukup besar juga, kurasa."

Dia berdiri dan memandang lautan di depan kami dengan tangan di atas matanya. Jauh di sana, sepasang mata tajamnya bisa melihat awan gelap menghias langit.

"Hmm, sepertinya memang ada sesuatu di sana. Inderamu untuk hal ini lebih baik daripada aku. Kita harus memberitahu Akashi."

Aku mengangguk dan dengan mulus meluncur turun dari tali sementara Midorima mengawasiku sambil menggelengkan kepala. Mereka semua begitu terkejut dengan keberanian dan ketenanganku menghadapi ketinggian.

Akashi berdiri di depan mejanya, memperhitungkan posisi kami. Dia mendongak ketika aku masuk dan tersenyum begitu melihatku.

"Sepertinya kita bisa sampai malam ini."

"Kurasa tidak. Ada badai mendekat."

Dia mengernyit dan melihat kembali petanya.

"Seberapa besar? Bisakah kita melewatinya seperti terakhir kali?"

Indera keenamku terhadap cuaca pernah menolong kami sebelumnya, membantu kami melewati badai kecil beberapa hari lalu tanpa membuang banyak waktu.

"Kurasa tidak. Kita akan tetap terjebak walau kita menjaga posisi saat ini ataupun mengubah arah."

"Hmm, kita akan tetap akan bertahan di posisi kita kalau begitu. Red Emperor dibuat untuk lautan liar, tapi akan lebih aman untuk langsung menerjangnya. Beritahu yang lain untuk segera mengikat semuanya. Aku ingin kau dan Takao mengamankan layar-layar kecil."

Satu jam kemudian, badai yang kuprediksi mulai menampakan diri. Awan gelap membentang dari kaki langit dan angin mulai menampar-nampar bajuku, mencoba menjatuhkanku dari tiang saat aku mengamankan satu sudut layar segitiga kecil sementara Takao mengikat sudut lainnya.

"Cukup, kalian berdua turunlah!"

Suara Akashi terdengar jelas di tengah amukan angin dan kami segera meluncur turun ke geladak. Takao berlari ke tempat Aomine yang sedang duduk di sebuah bangku kecil, menyiapkan dayung panjang. Di sisi lain kapal, duduk Murasakibara dan Kise dengan dayung lain. Himuro berlari mengelilingi mereka dan aku bisa melihat dia tengah mengencangkan tali di pinggang mereka yang terikat di pagar. Akashi mengisyaratkanku untuk mendekat ke tempat dia berdiri di kemudi bersama Midorima. Sama seperti yang lain, mereka berdua terikat tali yang terlilit aman di tiang. Pemuda bersurai merah itu mengikat tali di pinggangku dan aku merasakan tubuhku menggigil saat deru badai mulai mengelilingi kami. Dia meraih pipiku dan berteriak di tengah keributan yang ada.

"Kita akan menghadapi badai ini. Yang lain akan menggunakan dayung untuk membantu kapal melewati ombak sementara aku dan Shin akan mengendalikan kemudi. Kau tetaplah berada di dekat tiang dan bantu Himuro menggayung air keluar kapal."

Dia pasti melihat ketakutan di mataku saat aku melirik badai yang mulai memerangkap kami.

"Jangan khawatir, Red Emperor pernah melewati yang lebih parah dari ini."

Dia mencium bibirku kilat sebelum beranjak kembali menuju kemudi dan aku pun segera melangkah terhuyung mendekati Himuro yang tengah membungkukkan badannya. Dia tersenyum menenangkan padaku dan kami berdua berpegangan pada pagar ketika kapal mulai terombang-ambing di atas ombak.

Badai melempar-lempar sebuah kapal besar seakan benda itu tak lebih dari sebuah mainan. Aku merasakan perutku mual saat sekali lagi kapal jatuh tajam menuruni ombak. Air meluap memasuki geladak. Akashi menyerukan arah kepada pendayung sementara aku dan Himuro dengan cekatan menggayung air dari kaki mereka. Hujan turun deras seiring dengan angin yang menyamarkan suara Akashi, namun mereka adalah pelaut berpengalaman dan tahu apa yang dibutuhkan saat mereka terus mendayung, menjaga kapal tetap lurus melewati ombak.

Langit begitu gelap dan satu-satunya cahaya datang dari kerlipan lentera di tiang serta rambut dan sisikku yang bersinar saat air laut mengguyurku. Kise tersenyum padaku, berkata betapa enaknya punya penerangan pribadi dan aku mencoba membalas senyumnya. Tubuhku sakit setelah berkali-kali terlempar dan tertarik kembali oleh tali pengamanku di sepanjang geladak oleh ombak. Entah berapa lama waktu berlalu sementara aku mengeluarkan air dari kapal sambil sesekali berpindah menimpakan berat badanku dari satu sisi ke sisi lain kapal untuk menjaganya tetap berada dalam jalur. Mungkin beberapa menit, bisa juga beberapa jam, namun sekian waktu berlalu deru angin pun perlahan melemah. Goncangan kapal berangsur-angsur mereda seiring dengan gulungan ombak yang mulai tenang, hingga tak lama kapal kembali melaju mulus dengan dorongan angin yang lembut.

Lelah dan perih, aku merosot jatuh dari tiang yang tengah kusandari, dalam hati terkagum-kagum saat yang lain bangkit berdiri dan mengibas-ngibaskan lengan mereka. Aku mendongak saat sebuah tangan menghalangi pandanganku. Akashi membantuku berdiri dan aku merintih merasakan sakit di tulang rusukku yang memar.

"Mari kita keringkan dirimu. Kau telah berusaha keras."

Dia menuntunku menuju kamarnya dan mulai melepaskan pakaian kami berdua. Seharusnya aku merasa malu, namun yang kuinginkan saat ini hanyalah memakai sepasang pakaian hangat dan kering. Dia melilitkan handuk ke tubuhku dan mendudukanku di atas ranjang sebelum berkata akan membawakanku sesuatu yang hangat. Aku tertidur tak lama kemudian.

"Badai telah melempar kita keluar jalur. Kita tidak akan bisa sampai ke daratan sebelum malam tiba."

Aku menyesap secangkir kopi dan bertemu pandang dengan tatapan khawatir Akashi saat dia mendongok dari petanya. Akashi, Midorima, Kise dan aku berdiri mengelilingi meja seraya mendiskusikan rencana kami. Usai badai berlalu dan semua beristirahat sejenak, Akashi melakukan beberapa perhitungan dan menyimpulkan bahwa kami masih akan berada di laut ketika bulan purnama muncul malam ini. Aku menjilat bibirku yang mendadak kering. Aku sudah dapat merasakan tarikan dan panggilan lautan.

"Kau boleh pergi. Tak seorang pun memaksamu untuk tinggal. Laut adalah rumahmu."

Aku menatap mata Akashi dan melihat setitik ketakutan di sana seandainya aku setuju dengan perkataannya. Aku menggeleng.

"Ini adalah rumahku. Aku tidak ingin berubah. Setidaknya, belum."

Senyum lega menghias wajahnya dan aku dapat merasakan hatiku menghangat. Kenapa pula aku ingin meninggalkannya?

"Kalau begitu kita bisa menempatkanmu di bawah geladak, jauh dari bulan. Kami akan bergantian menjagamu dan memastikan kau tidak berkeliaran."

Aku mendesah lega saat akhirnya masalahku terselesaikan dan Akashi menggiring yang lain keluar dari ruangan.

"Semua yang tak bertugas beristirahatlah. Kita punya malam panjang menanti kita."

.

.

.

To be continued...

Adakah yang masih ingat cerita ini?