Cerita ini terinspirasi dari anime Yaoi Jepang berjudul Kami-sama Darling yang dibuat oleh Aiba Kyouko. Aku hanya mengganti nama tokoh dan beberapa alur cerita mungkin sedikit berbeda.
Selamat membaca!
.
.
.
"Sesuai janjiku dulu, aku, Kim Taehyung, bersumpah akan terus melindungimu mulai dari sekarang, love."
"Hahh.. Hahh.. Hahh.."
Yoongi berlari kencang menjauhi rumah tersebut. Sesekali dirinya melihat ke arah belakang untuk memastikan orang asing bernama Kim Taehyung tersebut tidak mengikutinya.
"Dasar manusia gila. Oh shit! Gara-gara dia aku terlambat ke kampus. Hueeee eomma!" Mata kecilnya terus-terusan melirik jam tangan yang melingkar apik di tangan kirinya, pukul 8:40! Itu artinya, 10 menit lagi bel masuk kelas akan berbunyi!
"Sial! Sial! Sial!" Yoongi terus berlari, sampai sebuah suara mengintrupsi kegiatan berlarinya.
"Yoong!"
Ckittt!
Yoongi berhenti. 'Perasaan ada yang memangilku' batinnya. Ia menoleh ke belakang dan terkejut saat dilihatnya Jimin sedang berjalan santai ke arahnya sambil mengibaskan rambutnya ke belakang, khas Jimin sekali.
Mulutnya membentuk senyuman lebar kala ia berada di hadapan Yoongi, merangkul pinggang sang sahabat dan membuat keduanya berhadapan.
"A.. Apa yang kau lakukan disini Jim?" Jimin tertawa renyah mendengar jawaban terbata Yoongi.
"Aku? Tentu saja menemuimu sayang. Hahah- Ouch! Ya Yoong! Kenapa menyikutku?"
Yoongi mencebik. "Salah sendiri mengataiku sayang. Aku ini bukan pacarmu tahu." Tanpa merasa bersalah, ia melepaskan diri secara paksa dari pelukan Jimin. Keningnya menyerngit kala melihat wajah Jimin merah seperti orang mabuk.
"Heh bantet. Mukamu kenapa? Kok merah?"
Secara tak sadar, punggung tangannya refleks menyentuh kening Jimin. Serius, dirinya khawatir melihat Jimin begini. Setahunya, Jimin itu paling tidak bisa minum alkohol. Buat apa minum alkohol untuk mabuk kalau mencium bau ketiak Jungkook saja ia mabuk sampai muntah?
Jimin diam saja, tak bereaksi apa-apa. Matanya masih memandang wajah Yoongi yang menampilkan raut khawatir.
"Tet! Kok diam saja? Kau sakit? Kalau sakit sebaikny- AH!"
Tiba-tiba saja Jimin mencengkram kedua tangan Yoongi dan mendorongnya ke dinding dengan Jimin yang mengukungnya erat, sehingga tidak ada jarak lagi diantara keduanya. Bahkan dada dan hidung keduanya bersentuhan.
Kaki Jimin pun tak tinggal diam, ia menempatkannya di antara kaki Yoongi dan sedikit menekan bagian selatan Yoongi sehingga pria manis itu tidak bisa kabur begitu saja.
"Aku ini apa bagimu?" Suara Jimin melirih. Yoongi terhenyak, entah mengapa bibirnya kelu untuk menjawab. Ia memilih diam saat dirasa aura Jimin semakin mendominasinya.
"Jawab aku Yoong." Tanya sekali lagi.
"Kau.. Apa maksudmu Jim? Tentu saja kau sahabatku. Memang apa lagi? Hahaha." Air muka Jimin berubah keruh. "Sahabat ya?"
"Ya, kau sahabatku yang paling berharga Jim." Ujar Yoongi dengan gummy smilenya yang menggemaskan. Entah mengapa senyum Yoongi yang cantik itu mengundang nafsu Jimin untuk membawa pria manis itu ke ranjangnya dan melakukan hal yang 'iya-iya'.
"Begitu? Apa sahabat boleh melakukan ini?" Satu tangan Jimin membingkai wajah Yoongi dan tangan yang satu lagi menuju bagian belakang Yoongi lalu meremasnya pelan. Perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah sayu Yoongi dan memiringkan kepalanya serta memajukan bibirnya berusaha mencium Yoongi.
"Ahhhh.. Jwimmhhhh!"
Saat kedua bibir tersebut hampir bersatu, pelukan mereka terlepas begitu saja karena Yoongi tertarik ke arah samping dengan banyak benang merah tak kasat mata yang terikat di kedua pergelangan tangan dan pinggangnya.
"Apa-apaan ini! Kim Taehyung?!" Bola mata Yoongi hampir saja keluar ketika ia melihat siapa dalang di balik semua ini.
"Hai sayang. Kita bertemu lagi rupanya."
Taehyung mengarahkan tangan Yoongi yang masih terbalut benang merah untuk melingkar di pinggangnya sementara dirinya memeluk pria manis itu dari samping, sambil matanya melirik sinis Jimin yang ada di hadapannya. (Jadi di sini Taehyung bisa mengeluarkan benang merah yang tidak terlihat dan mengendalikan sesuatu yang dililit olehnya, semacam kalau main boneka marionette itu loh)
"Berani-beraninya. Kau. Menyentuh. Milikku."
Jimin bergidik mendengar suara serak dan berat milik pria yang sekarang sedang memeluk Yoongi. Nyalinya ciut seketika kala pandangannya bertemu dengan manik biru milik Taehyung.
"Si.. Siapa kau? Dan apa hubunganmu dengan Yoongi? Yoon, kau tidak bilang kalau kau punya.. Pacar?" Tanya Jimin sangsi. Matanya masih tidak bisa beralih dari Yoongi yang kini sedang menggeliatkan badannya berusaha melepaskan diri.
"Dia bukan pacarku/Dia calon istriku."
Jawaban yang bertolak belakang tersebut terlontar secara bersamaan. Lalu Taehyung mencium pucuk kepala Yoongi sekilas sebelum melepaskan Yoongi dan diam-diam menarik benang-benang merah tersebut kembali ke dalam tangannya.
Yoongi mendengus sementara Jimin menganga tidak percaya.
"Jangan dengarkan dia, dia hanya orang gila yang membawaku pulang kemarin saat aku mabuk."
Jimin menganga untuk yang kedua kalinya. Ia menujuk Taehyung dengan jari tengahnya. "Dasar brengsek mesum! Kau apakah Yoongiku!" Teriaknya emosi.
Taehyung menyeringai jahil. Ia melirik Yoongi sebentar, "Aku hanya mencicipi tubuhnya sedikit kok. Tenang saja, lubangnya masih suci, dan itu punyaku by the way. Ada saatnya aku mencicipi seluruh tubuhnya saat kami menikah nanti. Eh tapi, aku rasa aku tidak keberatan kalau harus mencicipinya sekarang."
Blush!
Muka Yoongi merah padam, bahkan telinganya pun ikut merah. Ia memukul Taehyung sekuat tenaga. "Jaga omonganmu Kim sialan Taehyung! Aku tidak akan pernah mau dijamah olehmu sekalipun kita menikah nanti!" Oww.. Sepertinya ada yang keceplosan disini.
Taehyung menyeringai kembali. "Jadi, kau mau menikah denganku?" Tersadar dengan perkataannya tadi, Yoongi menepuk mulutnya pelan. "Dasar mulut bodoh." Ringisnya pelan.
"Dalam mimpimu sialan! Ah, aku terlambat!"
Taehyung terbahak kencang. Dilihatnya Yoongi berlari menjauh dengan muka merah padam, menyisakan dirinya dan 1 pria bantet yang kini memandangnya dengan penuh kebencian.
"Brengsek. Mesum. Bedebah gila. Penjahat kelamin." Racauan dan makian keluar dari mulut Jimin. Berani sekali pria tinggi di hadapannya menggoda calon pacarnya. Sekali lagi, calon pacarnya!
"Ucapkan itu pada dirimu sendiri yang hampir saja mencium calon istriku dan meraba-raba pantatnya. Kau pikir aku tidak lihat? Tidak punya kaca di rumah hah? Apa sebegitu miskinnya sampai kau tidak bisa membeli kaca? Kalau begitu, akan kubelikan." Ujar Taehyung sengit. Ia memutuskan untuk beranjak sebelum sebuah bogem mentah mengenai wajah tampannya.
"Urusan kita belum selesai, bajingan." Jimin menggeram marah.
Taehyung meludah. Ia melihat ke arah Jimin dan memasang senyum mengejeknya.
"Memang, urusan kita belum selesai. Tapi, aku punya urusan yang lebih penting, yaitu menjaga Yoongi dan memastikannya bahagia, itu lebih penting daripada aku harus berurusan denganmu. Jaga jarak dengannya, atau kau habis ditanganku."
Setelah mengucapkan itu, Taehyung berlalu dan meninggalkan Jimin sendiri dengan tangan yang terkepal erat disamping tubuhnya.
"Bajingan."
TBC!
Notes:
Hai.. Aku kembali!
Kalau masih ada yang tidak mengerti, biar aku jelaskan. Jadi, disini itu Taehyung adalah god, atau dewa. Taehyung aslinya ga terlihat, hanya Yoongi yang bisa ngeliat (dalam mitos, kalau god ketemu sama jodohnya, jodohnya itu bisa ngeliat dia), dan dia juga bisa memperlihatkan dirinya kalau ada kejadian genting atau kalau terpaksa untuk melindungi Yoongi. Trus dia juga bisa ngeluarin benang merah yang ga keliatan untuk, yah kalian tau lah, untuk menjerat Yoongi. Hahahhaha.
Oh ya, sebenernya Taehyung itu ga makan dan ga minum layaknya orang normal, tapi di sini kubuat dia bisa makan dan minum walaupun hanya sedikit. Biar ga terlalu aneh gitu loh. Trus pakaian nya itu ga ganti-ganti, hanbok aja terus. Sejujurnya, tadinya aku mau buat dia ga pake baju. Tapi agak sedikit melanggar kode etik ya.. wkwkw
Oke, segitu dulu aja penjelasannya. Karena menurutku ini cukup. Bagi yang merasa belum mengerti atau 'aku masih bingung nih', feel free untuk menanyakannya di kolom komentar ataupun lewat DM. Pasti akan aku balas, janji.
Semoga kalian suka dan enjoy dengan cerita ini. Maaf kalau banyak harsh words dan mature content yang tidak berkenan di hati. (berasa pidato)
Terimakasih. Arigatou. Kamsahamida. Xie-Xie. Thank You.
Bandung, 6 September 2018.
-Ugi.
