"Ini Akashi Seijuurou, tunanganmu."

Pertama kali Kuroko melihat sepasang manik dwiwarna itu menatapnya adalah pertengahan musim semi di usianya yang ke-19. Meski hanya lewat selembar kertas, tapi ia dapat merasakan hatinya yang bergetar tiap kali ia mencuri kesempatan untuk memandanginya.

Ia jatuh cinta.

Pada selembar foto.

Lucu sekali.

Entah siapa yang merapal sihir padanya, namun kehadiran foto itu sedikit demi sedikit merubah dunianya. Hingga tanpa disadari ia selalu membawa benda itu bersamanya.

Kuroko masih ingat raut shock orang tuanya saat ia mengutarakan keinginannya satu tahun kemudian.

"Aku ingin kembali ke Jepang."

Satu kalimat sakral yang tak pernah ia sangka akan dikatakannya terucap saat itu, mengundang lelehan air mata dari orang tuanya. Setelah itu semuanya berjalan bagai mimpi. Bagaimana ia disambut oleh pelukan hangat wanita bersurai merah yang selanjutnya ia kenal sebagai Akashi Shiori setibanya dirinya di bandara, bagaimana ia berdiri di depan pintu penthouse Akashi Seijuurou dengan perasaan tak menentu, bagaimana jantungnya berhenti berdetak saat akhirnya ia dapat menatap langsung manik dwiwarna itu, dan—

—bagaimana jantungnya serasa dihempaskan ke tanah mendengar nada dingin yang membuatnya membeku saat itu juga.

Semua gambaran akan sosok lembut Akashi Seijuurou yang ia ciptakan di kepalanya lenyap begitu saja. Seketika ia merasa seluruh tubuhnya menggigil. Ia ingin kembali ke tempat orang tuanya. Ia tidak ingin berada di sini. Betapa naif dirinya berpikir semua akan berjalan lancar sesuai harapannya.

Tapi kemudian ia teringat akan ekspresi orang tuanya dan sadar bahwa ia tidak bisa mundur. Ia telah membuat keputusan dan ia harus mampu menanggung segala resikonya.

Ia yakin dirinya memiliki kesempatan bersama Akashi.

Namun, kalimat yang ia dengar hari ini seolah meruntuhkan pertahanan terakhirnya.

"Aku ingin kau membatalkan pertunangan ini."

Ia hanya bisa tercenung.

"Kenapa?"

'Kenapa...' ia membatin pilu, 'Kenapa dirinya datang kesini?'

.

.

My Beautiful Nerd

Romance/Hurt/Drama

Akashi x Fem!Kuroko

Kuroko no Basuke Tadatoshi Fujimaki

DLDR!

.

.

He is a sex god

.

.

"Aku baik-baik saja... Yah, aku bersama Kagami-kun sekarang... Tidak, Akashi-kun memperlakukanku dengan sangat baik... Hm, aku mengerti... Aku juga mencintai Ibu, sampai jumpa..."

Kuroko memutus sambungan telepon bersamaan dengan Kagami yang tiba dengan senampan penuh burger dan satu cup vanilla milkshake. Ia menerima minuman itu dengan suka hati dan menyeruputnya, sementara Kagami langsung melahap roti lapis berlemaknya rakus.

"Terima kasih."

Kagami mendengus. "Akashi-kun memperlakukanku dengan sangat baik, huh? Bullshit!"

"Setidaknya dia tidak sepenuhnya mengabaikanku lagi."

Yah, hubungannya dengan Akashi memang tidak langsung membaik secara drastis, tapi paling tidak pemuda itu mau menyapanya dan menganggapnya ada.

"Asal kau tahu, aku masih kesal padamu karena menyembunyikan fakta sepenting itu dariku dan membuatku harus mendengarnya dari orang lain. Kapan kau berencana akan memberitahuku, eoh?"

Kuroko menunduk. "Maaf."

Kagami menghela nafas panjang lalu bersandar dan mengacak rambutnya kasar. "Aku mengenalmu dengan sangat baik dan menganggapmu seperti saudaraku sendiri, Kuroko. Aku hanya tidak ingin kau terluka lagi."

Kali ini Kuroko menggigit bibirnya, namun tak mengatakan apapun. Selanjutnya ia terkesiap saat merasakan sebuah tangan besar dan hangat mendarat di kepalanya. Mendongak, ia dihadapkan dengan mata sipit Kagami yang tengah tersenyum lebar.

"Yah, aku memang belum mengatakannya, tapi bagaimanapun aku senang melihatmu kembali, Kuroko."

Kuroko tertegun. Kagami-kun...

"Jauhkan tangan berminyakmu dari rambutku, Kagami-kun."

"A-apa?! Hei, aku sedang berusaha menghiburmu!" Kagami berseru terbata dengan wajah memerah, membuat Kuroko tak mampu menahan tawa. Pemuda itu pun akhirnya ikut tertawa bersamanya.

Kuroko tak tahu seperti apa jadinya bila Kagami tak ada di sampingnya—mungkin dirinya benar-benar akan terbang pulang usai mendapat penolakan dari Akashi. Bagaimanapun ia bersyukur dirinya memilih untuk tinggal.

"Kau bebas nanti malam?"

"Hmm, aku hanya memiliki shift siang di Seirin hari ini. Ada apa?"

"Makan malamlah di rumahku. Ibuku datang berkunjung kemarin dan membawa banyak sekali makanan dan oleh-oleh untukmu. Dia ribut sekali berkata ingin bertemu denganmu, tapi mendadak ada urusan dan terpaksa pulang."

Kuroko terkekeh pelan. Tentu saja ia sangat mengenal Nyonya Kagami yang bagaikan ibu keduanya. Bahkan bukan rahasia lagi jika wanita itu sempat menginginkannya sebagai sosok menantu sebelum akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak perempuan saja.

"Baiklah, aku akan mampir setelah shift-ku berakhir."

"Sankyu, Kuroko! Sampaikan salamku pada Riko dan yang lain."

"Hm."

.

.

.

"Bye, Kuroko nee-chan!"

"Bye, Hiroshi-kun, Kanade-chan! Hati-hati di jalan!"

Kuroko melambaikan tangannya, memperhatikan dengan seksama hingga dua sosok kecil itu tenggelam di balik kaca jendela sebuah mobil yang perlahan bergerak menjauhi halaman gedung.

"Apa Hiroshi dan Kanade sudah pulang?"

Kuroko berbalik, mendapati seorang wanita berambut cokelat pendek dengan setelan kasual berjalan menghampirinya. Sebuah apron merah bergambarkan wajah beruang disertai tulisan 'Seirin' melekat di tubuh kurusnya. Apron yang sama dengan yang dikenakannya.

"Ya, Ibunya baru saja menjemput mereka."

Hyuga Riko, wanita itu, mendesah lega. "Baguslah. Kedua anak itu tidak mau berbaur dan hanya mau menempel padamu. Padahal kau juga repot mengurus yang lain. Kami sungguh sangat terbantu, Kuroko-chan."

"Aku menyukai anak-anak dan sama sekali tidak merasa direpotkan."

Riko tersenyum mendengarnya lalu menggandengnya masuk sambil bergumam, "Aku masih penasaran, bagaimana bisa si Bakagami itu punya teman malaikat sepertimu? Kau yakin kalian tidak berpacaran?"

Kuroko terkekeh. "Tentu saja tidak. Dia sudah seperti kakak bagiku."

Riko menepuk dahinya dengan gerakan dramatis. "Langsung ditolak! Aku sungguh merasa kasihan padamu, Bakagami!"

Seirin adalah tempat jasa penitipan anak yang dikelola oleh sepasang suami-istri bernama Hyuga Junpei dan Hyuga Riko. Keduanya adalah senior Kagami di kampus yang baru saja lulus tahun lalu. Dari pemuda merah itulah Kuroko mendapatkan rekomendasi untuk bekerja di sana.

"Ah, Kuroko! Kebetulan sekali. Mau ikut mencari makan malam bersamaku dan Izuki? Shift-mu sudah berakhir, kan?"

Suara Kiyoshi Teppei, sahabat pasangan Hyuga yang sering datang membantu, menyambutnya begitu ia memasuki ruang karyawan. Hari ini pun pemuda itu tampak meluangkan waktu untuk datang di sela-sela kegiatan kuliahnya.

"Senpai," sapa Kuroko. "Maaf, tapi aku akan pergi ke tempat Kagami-kun setelah ini."

"Begitukah? Sayang sekali."

"Yah, sepertinya kau harus membatalkan acaramu, Kuroko."

Pintu di belakangnya terbuka, menampakkan sosok salah satu rekan kerjanya, Izuki Shun. Kuroko menatap pemuda bersurai hitam itu tak mengerti, sementara yang ditatap hanya mengangkat bahu.

"Seseorang mencarimu di depan. Kau tahu, saudaramu yang pernah pingsan disini beberapa hari lalu. Ternyata dia tampak mengerikan dalam keadaan sadar," tambah Izuki bergidik.

Kuroko mengerjap. "Akashi-kun...?"

Ia bisa melihatnya. Sosok merah yang duduk elegan bak bangsawan di lobi sederhana Seirin. Untuk sesaat ia menahan nafas. Dengan kemeja hitam dan setelan jas abu-abu formal yang dibiarkan tak terkancing, surai merah yang tertata sedemikian rupa, parfum maskulin yang menguar kuat namun lembut, hingga wajah rupawan yang tak terbantahkan, sosok itu bagaikan jelmaan sex god yang membuat wanita mana pun meleleh hanya dengan melihatnya.

Terbukti dengan beberapa ibu muda yang terang-terangan menatapnya tak berkedip dengan wajah memerah. Riko yang tengah menyajikan secangkir minuman bahkan terlihat salah tingkah.

"Si-silahkan."

Saat itu juga kedua mata mereka bertemu. Selanjutnya, ia mendengar suara selembut velvet yang selalu berhasil menggetarkan hatinya itu berbicara.

"Terima kasih. Tapi kami sedang terburu-buru. Ayo, Tetsuna."

Dengan gerakan flawless, pemuda itu berdiri dan menarik tangannya begitu ia mendekat. Bingung, Kuroko hanya mengikutinya setelah membungkuk pamit pada Riko dan tamu lain yang tampak speechless.

Di luar, Akashi membawanya memasuki mobil yang dikendarai sopir. Kuroko hanya mampu terdiam, bahkan ketika mobil mulai melaju atas perintah pemuda itu. Baru setelah beberapa menit terlewat, ia menemukan kembali suaranya.

"Kita mau ke mana?"

"Ada tempat yang harus kita datangi," jawab Akashi singkat, sementara matanya tak lepas dari layar tablet di tangan.

Melirik sekilas, Kuroko dapat melihat layar yang menampilkan sebuah grafik disertai angka-angka yang tak ia mengerti—detik itu juga tahu bahwa pemuda di sebelahnya sedang tidak bisa diganggu. Alhasil perjalanan berlangsung hening.

Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah butik ternama yang tampak mahal. Mengikuti Akashi yang telah turun dari mobil dan berjalan mendahuluinya, mereka disambut oleh seorang pria(atau wanita?) bersurai hitam legam dengan bulu mata lentik yang langsung berseru semangat begitu melihat mereka.

"Sei-chan! Kenapa mendadak sekali! Kalau kau memberitahuku lebih awal, aku akan menyiapkan semua koleksiku yang lain!"

Oke, ternyata pria.

"Tak apa, Reo. Yang ada di sini sudah lebih dari cukup."

"Tapi, tapi, ini pertama kalinya kau datang mencari pakaian wanita! Aku jadi penasaran seperti apa wanita spesial ini. Di mana dia?" Pria bernama Reo itu memutar-mutar kepalanya dan Kuroko tahu dia tengah mencarinya.

"Aku di sini."

Selanjutnya, pekikan feminim terdengar.

"Oh, astaga! Siapa si imut ini? Maaf tidak melihatmu, sayang."

Kuroko berusaha untuk tidak memutar bola matanya.

"Dia temanku, Kuroko Tetsuna. Tetsuna, ini Mibuchi Reo, teman lama sekaligus rekan bisnis."

"Halo, Tet-chan! Senang bertemu denganmu. Teman Sei-chan adalah temanku juga. Kau bisa memanggilku Reo-nee, oke?"

Kuroko hanya terdiam ketika Mibuchi meraih tangannya dan mengecupnya, terlalu fokus pada dadanya yang serasa tercubit mendengar pernyataan Akashi barusan.

'Teman ya...'

Ia tersenyum pahit dalam hati.

"Baiklah, kuserahkan dia padamu, Reo."

"Oke, Sei-chan!"

Dan selanjutnya ia terkesiap saat pemuda gemulai itu sudah berada di belakangnya dan mendorong pundaknya lembut.

"T-tunggu, Akashi-kun... Kau masih belum memberitahuku alasanmu membawaku kemari..."

Akashi menatapnya datar. "Ada pesta yang harus dihadiri orang tuaku malam ini, dan kita diminta pergi menggantikan mereka."

Wajah Kuroko memucat. "Pe-pesta?"

Pikirannya mendadak kosong. Ia hanya terdiam kaku dan tak melawan ketika Mibuchi membawanya ke bagian belakang butik. Bahkan saat pemuda itu dengan semangat menyodorkannya berbagai macam gaun dari yang sederhana hingga yang glamour dan sexy, ia hanya menurut dan mencobanya satu-persatu.

Pekikan kemayu dan bayangan yang menatap dirinya di balik cerminlah yang kemudian menyadarkannya.

"Oh my god! Perfect! Tersisa sentuhan akhir dan kau akan menjadi putri malam ini, Tet-chan!"

Rok panjang maroon dan kaos putih kebesaran yang menutupi tubuh kurus itu kini lenyap digantikan sebuah mini dress manis tanpa lengan berwarna navy. Brokat menghias bagian ujung bawah dan dada, dilanjutkan dengan aksen transparan hingga kerah leher. Setiap bagian tubuh ditonjolkan dengan apik—sangat sempurna untuk bentuk tubuhnya yang memang akan membuat wanita manapun iri.

"Sei-chan pasti akan terpesona padamu! Hihihi..."

Tidak.

Rasa dingin mulai merasuk tubuh Kuroko melihat sosok yang seakan mencemoohnya dari balik cermin. Bayang-bayang masa lalu yang terkunci rapat mau tak mau mulai berkelebat dan membuatnya menggigil.

Mendadak ia merasa mual.

"Nah, sekarang ijinkan jemari-jemari terampilku ini menyihirmu!"

Detik berikutnya, ia sudah duduk di atas kursi masih dengan sosok mencemooh yang mengikutinya. Dan ketika sebuah tangan bergerak menyentuh kacamatanya, ia membulatkan mata. Panik melandanya. Reflek, ia menampar tangan itu menjauh.

"Astaga, kau benar-benar seperti malaikat!"

"Malaikat penggoda maksudmu? Hahahah..."

"Tidak usah takut, manis. Akan kami antar kau ke surga malam ini juga."

"Tidak!"

"T-tet-chan?"

Kuroko berdiri. Nafasnya memburu. Dadanya sesak. Matanya mulai memanas tanpa bisa dicegah.

"Ma-maafkan aku."

Tanpa menghiraukan wajah yang masih memandangnya shock dan takut, ia bergegas pergi dengan wajah menunduk. Langkah panjangnya dengan segera membawanya keluar butik, melewati Akashi yang tengah berdiri sambil menelepon di depan gedung. Ia bisa mendengar seruan terkejut pemuda itu.

"Tetsuna?"

Ia mengabaikannya dan mempercepat langkahnya hingga menjadi setengah berlari.

"Tunggu, Tetsuna!"

Dan saat sudut matanya menangkap sebuah taksi melaju mendekat, tanpa pikir panjang ia segera menghentikannya. Menoleh terakhir kali pada Akashi yang tiba-tiba berhenti dan terpaku menatapnya, ia menutup pintu.

Saat itulah ia tersadar jika air mata sudah membanjiri wajahnya. Ia menutup mulutnya, menahan isakan yang mungkin keluar.

'Kagami-kun...'

.

.

.

Malam itu terasa sangat panjang dan melelahkan bagi Kuroko. Usai kabur dari Akashi dengan cara yang sangat tidak sopan dan pastinya membuat pemuda itu marah, ia mendapati dirinya berada di depan pintu apartemen Kagami—kusut dan berantakan. Tasnya tertinggal. Dress pilihan Mibuchi bahkan masih melekat di tubuhnya.

Ia masih ingat raut terkejut Kagami saat membukakan pintu. Namun, pemuda itu tak berkata apa-apa dan hanya menuntunnya masuk sebelum membayar taksi yang masih setia menunggu. Tak ada rentetan pertanyaan yang datang bertubi-tubi, hanya secangkir susu vanilla panas dan suara televisi yang dinyalakan pemuda itu untuk mengisi keheningan.

Kagami bahkan sempat meninggalkannya sebentar dan kembali dengan sekotak kue vanilla, membuat mood-nya mau tak mau mulai membaik. Kagami selalu punya cara untuk mengatasinya. Dan tanpa bercerita pun, ia yakin Kagami tahu keadaannya.

Yah, pemuda itu tahu segala tentangnya.

Menjelang larut malam, Kagami menyuruhnya pulang kendati ia sudah bertekad untuk bermalam di sana. Ia tidak siap menghadapi Akashi yang kemungkinan besar sedang marah padanya. Padahal hubungan mereka baru saja membaik, kenapa ia malah mengacaukannya?

"Bagaimana pun orang tuamu menitipkanmu padanya. Dia pasti khawatir sekarang."

Dan di sinilah Kuroko sekarang, tepat pukul sebelas malam, di depan sebuah gedung apartemen yang menjulang tinggi dengan angkuhnya, Akashi Residences. Apakah ia belum memberitahu jika tunangannya ini adalah pewaris tunggal sebuah grup konglomerat yang menguasai jaringan properti Jepang bahkan Asia? Dengan Akashi Hotel yang terletak di jantung kota Tokyo sebagai base operasinya, pemuda itu memilih tinggal di penthouse milik Akashi Residence yang terletak tak jauh dari hotel agar memudahkannya dalam bekerja. Penthouse yang kini mereka tinggali bersama.

Menoleh terakhir kali pada Kagami yang mengantarnya, Kuroko melangkahkan kaki memasuki lobi dengan gugup. Bagaimana jika Akashi benar-benar marah padanya? Apakah pemuda itu akan kembali bersikap dingin padanya?

Tanpa sadar kedua matanya memanas. Ia tidak ingin hal itu terjadi.

Pertanyaannya terjawab begitu pintu lift khusus yang akan membawanya langsung menuju penthouse terbuka dan menampakkan sosok merah tampan berbalut pakaian kasual.

Manik ruby dan gold melebar menatapnya sebelum kemudian menyipit, diikuti suara sedingin es yang menembus gendang telinganya.

"Masuk."

Kuroko menelan ludah gugup.

Keheningan mengisi sangkar besi yang entah kenapa berjalan begitu lambat. Akashi tak mengucapkan sepatah kata pun, namun aura yang dikeluarkan pemuda itu sudah mampu membuatnya susah bernafas. Hingga saat mereka memasuki penthouse, pemuda itu pun kembali membuka suara.

"Dari mana saja kau?"

"A-aku..."

"Tiba-tiba pergi dengan penampilan seperti itu... Kau tidak tahu aku mencarimu kemana-mana?"

Kuroko menunduk. "Ma-maaf..."

"Aku bahkan harus melewatkan pesta dan memberi penjelasan panjang lebar pada orang tuaku."

Kepalanya tertunduk semakin dalam. "Ma-maafkan aku..."

"Kau benar-benar menyusahkan, kau tahu itu?"

Kali ini ia memejamkan mata. Hatinya serasa tertohok.

Selanjutnya, terdengar desahan pendek diikuti dua buah benda yang disodorkan padanya. Sebuah ransel dan paper bag berisi bajunya yang tertinggal di butik.

"Ini."

Kuroko menerimanya dengan ragu. Tampak raut wajah Akashi yang perlahan melembut.

"Aku sudah memasukkan nomorku ke dalam ponselmu. Segera hubungi aku jika kau terlambat pulang atau berencana bemalam di luar. Pastikan aku tahu keberadaanmu. Dan yang jelas, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Mengerti?"

Kuroko mengangguk kaku.

"Bagus."

"A-ano, gaunnya..." Ia menunjuk gaun yang masih dikenakannya.

"Simpan saja," ucap pemuda itu pendek, tapi kemudian menyipit seakan baru menyadari sesuatu. "Jaket siapa itu?"

"Ah," Kuroko melirik jaket hitam kebesaran yang hampir menenggelamkan tubuhnya, "Ini milik temanku."

"Pria?"

"Ya."

Akashi terdiam, tampak ingin bertanya lebih lanjut, tapi kemudian hanya berkata singkat, "Sudah malam, lebih baik kau tidur sekarang."

Kuroko hanya mengangguk seraya memandang punggung tegap yang perlahan menjauh.

Punggung yang sepertinya hanya akan mampu ia impikan.

.

.

.

"Hahahah, Aominecchi kalah lagi-ssu!"

"Aku tidak tau kau begitu menyukai jus Momoi, Aomine."

"Sepertinya kau harus membuatnya lagi, Momo-chin~"

"Tenang saja, Mukkun. Aku sudah membuat stok yang cukup banyak untuk kalian semua! Ayo, Dai-chan!"

"Berisik! Berikan gelas itu padaku!"

"Hahahah, ini seru sekali!"

Semua tertawa dan bersorak saat pemuda berkulit gelap dengan wajah pucat memejamkan mata sebelum menegak habis minuman di tangannya—segelas penuh cairan berwarna hijau pekat yang membuat siapa pun mual hanya dengan melihatnya. Warna biru yang senada dengan rambutnya mulai memenuhi wajah pemuda itu dan sorakan makin membahana begitu tubuh itu terkapar dengan busa mengalir di mulutnya.

"Next round, minna?"

"Yeay!"

Kuroko hanya menyaksikan pemandangan di depannya datar. Diliriknya tubuh yang masih tergelatak terabaikan di sudut sambil membatin, 'Kenapa pula aku ada di sini?'

Oh well, ingatkan dirinya yang kemarin menerima undangan Akashi dan teman-temannya untuk menikmati hot springs di akhir pekan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenal pemuda itu lebih dekat, tentu saja ia menerimanya. Ia hanya tak menyangka akan seramai dan seberisik ini.

Usai makan malam dan berendam, mereka memutuskan untuk bermain kartu di kamar para pria dengan sebuah hukuman bagi yang kalah di tiap putaran untuk meminum jus buatan Momoi. Awalnya Kuroko tak mengerti apa yang salah dengan sebuah jus, sampai gadis bersurai pink yang langsung lengket padanya begitu bertemu itu datang membawa semangkuk raksasa cairan berbau menyengat yang membuat suasana horror seketika.

Untuk pertama kalinya Kuroko bersyukur sang ibu telah memaksanya untuk belajar memasak sejak dini, sekaligus bersyukur karena saat ini ia hanya menjadi penonton bersama Momoi.

Gadis yang duduk di sebelahnya itu telah berbaik hati memperkenalkan teman-temannya—atau lebih tepatnya mengoceh panjang lebar hingga membuat telinganya sakit. Dan kini, ia memperhatikan dengan penuh ketertarikan orang-orang yang konon telah menjadi sahabat Akashi sejak kecil.

Yang pertama adalah pemuda bersurai hijau dan berkacamata yang tengah mengamati deretan kartu di tangannya dengan serius, Midorima Shintarou. Tipe serius dan kaku yang tsundere, tapi anehnya sangat mempercayai ramalan bintang dan keranjingan dengan sebuah horoskop bernama Oha-Asa. Keluarganya memiliki sejumlah rumah sakit yang beroperasi di kota-kota besar di Jepang.

Di sebelah Midorima, ada pemuda raksasa berukuran lebih dari dua meter dengan surai ungu panjang yang membingkai wajahnya. Kontras dengan ukuran tubuhnya, Murasakibara Atsushi memiliki sifat layaknya anak kecil yang malas, lambat, dan gemar makan. Tak heran karena keluarganya mempunyai jaringan restoran Jepang yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

Selanjutnya adalah pemuda berambut kuning yang tampak berusaha mengintip kartu yang lain, Kise Ryouta. Pemuda berisik dan cerewet yang kerap menempeli Kuroko bersama Momoi. Kedua orang tuanya adalah seorang musisi dan aktris ternama. Mengikuti jejak mereka, pemuda itu terjun ke dunia entertainment sebagai seorang model. Diantara semuanya mungkin Kiselah yang paling familiar di mata Kuroko.

Terakhir, yang memiliki nasib paling mengenaskan, adalah Aomine Daiki. Dilihat sekilas, pemuda itu tampak seperti preman pasar dengan kulitnya yang gelap, gaya bicaranya yang blak-blakkan, dan kepribadiannya yang kasar. Namun di saat tertentu mudah salah tingkah dan bisa menjadi lembut—entah kenapa mengingatkan Kuroko pada Kagami. Dari penjelasan Momoi, keluarga Aomine merupakan keluarga militer yang cukup berpengaruh di negeri ini.

Awalnya Kuroko penasaran bagaimana mereka semua bisa berteman bahkan bersahabat menilik sifat yang saling bertolak belakang. Namun kini ia telah memahami satu-satunya persamaan diantara para pemuda itu, yaitu sama-sama berasal dari sebuah keluarga terkemuka dan memiliki latar belakang yang menjanjikan.

Tak heran jika kelompok mereka begitu terkenal di kampus.

Dan ketika ia melempar tatapan penuh tanda tanya pada Momoi, mau tak mau penasaran dengan latar belakangnya, gadis itu hanya menggeleng dan mengibaskan tangannya sambil tertawa.

"Tidak, tidak! Aku hanya berasal dari keluarga sederhana. Pertemananku dengan Dai-chanlah yang membuatku masuk kelompok ini."

Permainan berakhir sekitar pukul satu dini hari dengan semua terkapar kecuali Akashi. Pemuda merah itu mengisyaratkannya dan Momoi untuk segera tidur dan mereka berdua pun menurutinya.

"Kau tahu, aku saaaangattt sangat sangat sangat merestuimu dengan Akashi-kun!" seru Momoi tiba-tiba begitu keduanya memasuki kamar.

"Terima kasih," sahut Kuroko tulus, sebelum kemudian menunduk, "Tapi dia tidak menyukaiku."

"Kalau begitu buat dia menyukaimu!" sergah Momoi menggebu-gebu. Gadis itu menariknya hingga kini mereka duduk di atas tatami. "Jujur saja aku tidak tahu tipe wanita kesukaan Akashi-kun karena aku tidak pernah melihatnya serius berkencan meski banyak wanita mengantri untuknya. Tapi kau berbeda, Tetsu-chan! Kau tunangannya dan kau punya kesempatan untuk merebut hatinya!"

Melihatnya yang masih tampak ragu, gadis itu menambahkan seraya menyeringai, "Kau tahu, aku punya ide bagus. Kita akan membuat Akashi-kun melirikmu! Dan besok adalah malam puncak festival, what a perfect timing! Kau membawa yukatamu, kan?"

"Aku tidak yakin..."

"Oh, ayolah, Tetsu-chan! Kau sebenarnya memiliki wajah yang cukup manis. Yang perlu kita lakukan hanyalah memperbaiki cara berpakaianmu dan menyingkirkan kacamata tebal ini dari waj—"

"Tunggu, Momoi-san—"

Terlambat.

Gadis pink itu membeku di tempat. Tampak kedua matanya perlahan membulat.

"K-kau..."

.

.

.

To be continued...

Chapter 2 done!

Maaf menunggu lama ya minna!

Untuk fic ini bakal kubuat pendek kok, mungkin 2 atau 3 chapter lagi finish. Doakan aja semoga cepet ya! hehehe

Don't forget to follow my wattpad account for an early update!