Hey~ semuanya.cerita ini makin gaje kan?. Author baru saja menyelesaikan Urusan didunia nyata seperti Ujian tertentu karena Author masih pelajar. Cerita ini seharusnya di Update beberapa hari setelah chapter ke 4.
untuk informasi ana belum menonton sekirei season ke-3 jadi kurang menghayati tapi author tahu seluk beluk persimpangan ceritanya.sebelum ada yang protes, Mikogami itu memang nama kecil sebenarnya Hayato. tapi author terlalu baik hati untuk menyunting cerita seblum cerita itu selesai.sebenarnya, author juga pemalas jadi author tidak akan menyuruh Naruto untuk menyelamatkan Uzume.untuk keadaan word pendek yang mengenaskan, alasan utamanya adalah update kecepetan.sedangkan alasan update kecepetan adalah author yang bosan karena tidak punya kerjaan lain. dan mengetik di handphone itu ribet, publikasinya harus melalui aplikasi yang diselingi error, hal itu mendukung ketidak rapian tulisan author dan beberapa kata yang hilang atau berubah. akibat kuota sekarat. tapi ana janji akan tetap berusaha. #curhat.yang terakhir sekirei Naruto hanya Miya dan Karasuba. mereka merupakan favorit author.cerita ini juga akan membuatmu stress jadi hentikanlah membaca jika mata kalian mulai berdarah.demikianlah
~selamat membaca~
Karasuba sedang dalam situasi ingin menghancurkan sesuatu. Bertemu Musubi berhasil menangani sedikit rasa frustasinya. Tapi bertemu dengan Miya kembali mengingatkannya akan sesuatu hal tertentu yang dilupakannya lagi. Dia bisa menekan keinginan untuk melompat dan membunuh sekirei 01 detik itu karena sangat yakin akan kalah. Dia sudah sengaja tidak membawa pedang yang pastinya akan mengitimidasi penghuni Izumo. Demi Muu-chan.
Dia mengamati wajah baru pillar, mengatakan Miya terlihat senang mungkin akan meremehkan. Apa yang terjadi?
Ketika mereka akhirnya berpaspasan, zero four mencium bau yang jelas bukan milik perempuan. Apalagi Miya. Bau itu tidak akan pernah akan disadari sekirei lain terlebih manusia. Hidung tajamnya sebagai sekirei telah dilatih sesuai kemampuannya oleh seseorang dengan cermat. Dan itu membuatnya marah entah bagaimana.
Dia berhasil mengendalikan keinginannya untuk menhancurkan zero one lagi. Tapi dia membuat tindakan serangan pura-pura dengan niat asli yang tertahan. Merebut apel tanpa membayar dan melenggang pergi. Dia merasa perlu melakukannya untuk hal terbaik didunia.
Zero four benar-benar kesal.
Tapi darimana dia mengetahui maniak apel Miya?.
Karasuba merasa Ingatannya adalah musuhnya saat ini.
Xxxx
Izumo inn.
"Miya, kau terlambat." Naruto melempar pernyataan datar dengan nada bosan ketika Miya memasuki dapur.
Pria pucat itu jelas tidak terlihat 'pada tempatnya' karena yukata perak sutra mengkilap yang dikenakannya. Dia terlihat lebih dari siap untuk menghadapi upacara penting daripada memasak.
"Aku bertemu Karasuba dijalan." Miya menjawab tenang tanpa melewatkan ekpresi sedih sekilas terlihat diwajah Ashikabinya.
Miya tidak perlu meluangkan waktunya untuk memperhatikan hal ganjil dalam percakapan dimana Asikabinya seharusnya tidak melewatkan hal penting seperti invansi seorang wanita psiko tertentu diwilayah utara. Naruto tidak dikenal karena banyak memperhatikan sesuatu saat dia tidak memperhatikan. Demi kebaikan semesta... pria itu pasti telah mendekam didapur untuk semua priode ketika zero four memiliki waktunya dengan Muu-chan.
Ramen yang dimasaknya menjelaskan banyak hal.
Ramen Banzai!.
"Oh... apa gagak kecil itu baik-baik saja." Naruto bertanya ceria. 'apakah ingatannya baik-baik saja.'
"Ya." Miya tersenyum menghadap Naruto yang sibuk memotong wortel. 'Ya, dia masih kehilangan ingatannya.'
Miya melihat Naruto tersenyum. Senyuman geli khasnya. Dia mengingat sesuatu tentang gadis peraknya.
Tidak, Miya tidak akan pernah marah lagi. Kenyataan bahwa Naruto mencintai zero four selalu akan ada. Bahkan jika salah satu dari mereka kehilangan ingatannya. Miya tahu ketika Karasuba yang biasa tenang dan hormat itu mencoba membuatnya kesal dengan mencuri apelnya.
Dia tidak keberatan berada diposisi kedua. Miya telah membuat Takehito menikahinya, pria itu mencintainya seperti seorang kakak, dia selalu tahu tentang perasaan Miya pada asisten mudanya yang sudah mengundurkan diri. Dan pria itu hanya menikahinya atas persetujuannya untuk melindunginya dari rencana sekirei. Miya juga akan selalu menghormati Asama-san sebagai suami pertamanya.
Asama Miya mencintai Namikaze Naruto lebih dari apapun, lebih dari Asama Takehito, lebih dari sekirei, lebih dari hidupnya.
Karena itu, Miya tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh.
Apelnya adalah cerita lain.
"Hey...Miya. Garamnya."
"Oh, ini dia!."
"Terimakasih, Miya."
Xxxx
Saat makan siang siap, para penghuni izumo dikumpulkan diruang makan. Termasuk Uzume yang kali ini memiliki waktu luang untuk bergabung. Gadis sekirei itu menatap aneh kehadiran pria pucat asing dimeja makan. Dia adalah satu-satunya yang belum mengetahui tentang Namikaze-san. Minato sudah tenang ditempat duduknya disamping Musubi yang berhasil memenangkan lomba janken dan kusano kecil dipangkuannya lalu Naruto duduk didepannya. Yang lainnya hanya mengikuti tata krama sopan santun dimeja makan karena takut akan kuasa hannya Miya.
Mereka memiliki tamu untuk dihormati.
Suasana yang berat adalah hasilnya.
"Kita bertemu lagi Minato-kun." Naruto menyapa anak mantan atasannya dengan senyuman. "Mutsu, kau bisa keluar." Tambahnya masih dengan senyuman, disertai dengan tindakan melempar sendok sup kepemilik kepala merah tertentu.
"Dan kalian tidak perlu takut, aku tidak menggigit. Ya kan, Miya."
"Ara...sensei, kau menakuti mereka."
"Eeh... benarkah."
Dan suasana dimeja makan tidak lagi tegang. Mereka semua makan dengan tenang. Tanpa pengecualian untuk Matsu yang kini memiliki memar di dahinya.
Lemparan Naruto selalu tepat sasaran. Fakta itu tidak membantunya sedikitpun.
Namikaze-san adalah yang memasak makanan kali ini, dan semua orang tahu masakan Namikaze-san terasa jauh lebih baik dari masakan land lady. Bukan berarti mereka bisa mengatakannya dengan keras. Tapi Miya sudah pasti tahu. Wanita hannya utara itu sudah membuat rencana brilian untuk mempelajari tehnik masak ashikabinya dan merebut gelar koki terbaik.
Sebagai pillar, Miya selalu cepat mempelajari banyak hal.
Tidak ada yang salah dengan penyalah gunaan kekuatan. Ashikabinya sendiri adalah seorang pria yang menyalahgunakan benda seperti kipas untuk dijadikan senjata.
Ah...Miya lupa memperkenalkan Ashikabinya pada Uzume, gadis itu sudah pergi setelah selesai mencuci piring makannya sendiri. Terburu-buru.
Paling tidak dia bisa melakukannya nanti.
xxxx
Setelah sesi makan siang berakhir, Minato secara mengejutkan dipanggil untuk menghadap oleh Namikaze-san yang terlihat ramah.
"Ah..Iya, Namikaze-san."
"Takami bilang kau gagal masuk universitas dua kali. Apa maksudnya?." Naruto bertanya ramah, langsung menyatakan titik masalah kenapa dia dipanggil.
Minato akan segera mengatakan sesuatu tapi kipas baja khas Namikaze-san sudah mencium kepalanya. Itu tidak membuatnya terluka tapi rasa sakitnya adalah hadiahnya.
"Kenapa kau bisa tidak lulus." Keramahannya mulai mengancam.
Pemuda didepannya tidak mungkin bodoh, dia sendiri telah melatihnya sejak Takami memerintahkannya untuk merawat kedua anaknya beberapa kali. Meskipun Naruto tidak pernah mengajarinya dalam bela diri, dia cukup yakin kapasitas otak anak itu cukup tinggi.
Dia menghela nafas pelan, melirik bosan murid tidak resminya yang kini duduk kaku dalam posisi seizanya. Naruto bisa merasakan beberapa pasang mata mengintip dibalik pintu―mereka sebenarnya cukup berisik.
"Latih kepercayaan dirimu, kau tidak perlu belajar lebih keras lagi, dan jangan kacaukan ujianmu." Perintahnya sudah jelas.
"Baik." Dan Minato menerimanya dengan hormat.
Kali ini dia mengenal tongkat kayu dimasa lalu yang sering menyapa kepalanya dan adiknya dimasa lalu.
Namikaze-san adalah orang yang mengerikan.
Xxxx
Namikaze-san hanya berkunjung ke Izumo saat waktu sebelum makan siang. Dia akan pergi begitu makan siang berakhir kesuatu tempat.
Namikaze-san bilang bahwa Pekerjaannya adalah penulis. Tapi dia dulu adalah sejenis dokter yang merawat Matsu dan teman-temannya saat masih kecil. Secara harfiah.
Minato tidak memikirkan fakta itu lebih jauh. Dan mempercayai informasi yang diberikan Namikaze-san. Matsu memilih tutup mulut, Naruto memang tidak akan marah tapi Miya akan membunuhnya.
Rahasia adalah rahasia.
Naruto tidak pernah membuatnya menjadi rahasia, orang disekelilingnyalah yang mencoba bermain rahasia. Dan dia tidak pernah keberatan.
Itu tidak masalah.
Sekarang, dia perlu mengunjungi seseorang tawanan rumah sakit. Teman kecilnya yang lain, gadis ceria dan sakit-sakitan,
Chiho-chan.
xxxx
Karasuba: aku hanya lewat ya...
Miya: Apa kamu ingat sesuatu?
Karasuba: Tidak, tapi aku merasa melupakan sesuatu yang penting.
Miya: Apa maksudmu ?!.( curiga, waspada, mulai bersiap untuk kemungkinan terbterburuk).
Karasuba: Tadi aku lupa membunuh siAuthor.
Miya: Kita bisa melakukannya bersama sekarang.
Karasuba: Aku setuju
SAYONARA THE READERS!!!
I'LL GO ON THE HEAVENS.
