Chapter 7: Trick Threat 2
Baiklah, dengan segenap kesadaran yang hakiki, aku mengakui bahwa aku agak malas mengetik apapun di papan pengumuman kemarin karena kuotaku yang sekarat. Bukan berarti aku mau membuat satu baris kata disana hanya untuk mengatasi rasa bosanku yang berlebihan. Aku merencanakan ini dan itu tapi aku bukan penyampai kata terbaik didunia. Aku sibuk mencari informasi tentang alur cerita sebenarnya sekirei verse sebelum menuliskannya untuk membuat orang seperti kalian senang.
Cerita ini tidak memberiku sesuatu yang bermanfaat untuk didapat. Tidak ada uang atau imbalan. Karena itulah kalian tidak bisa menyuruhku berkeliling ke kiri dan ke kanan. Jadi berhentilah membaca jika kau tidak menyukai cerita dan jangan hina kerja kerasku.
Cerita ada untuk dibaca. Aku hanya menulisnya untuk menikmati duniaku dan aku meminta pembaca untuk perbaikan agar mereka ikut senang sepertiku.
Aku sibuk.
Tokoh dalam cerita ini juga bukan milikku. Cobalah tenang.
Ini ceritaku dan aku adalah sang penentu takdir dalam cerita ini.
Like a Bos.
MBI, Puncak gedung utama.
Matahari dengan tenang tenggelam dicakrawala, membiarkan warna jingga kemerahan menghiasi langit, dan mulai mempersiapkan pergantian hari.
Naruto mendongak untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik ke langit. Sudah mulai gelap. Dia mengibaskan kipas bajanya, melepaskan gelombang kejut diudara tanpa tujuan. Ekspresi datar muncul diwajahnya saat dia menyadari tindakan kecilnya sangat bersahabat dengan angin hingga hampir menerbangkan direktur Minaka Hiroto dari tempat bertenggernya.
"Sedikit lagi." Takami memberikan komentarnya.
"KALIAN INGIN AKU CEPAT MATI!." Pria eksentrik itu beteriak protes. Dia hampir jatuh dari ketinggian yang akan menghancurkan tulang-tulangnya menjadi bubur.
Detik selanjutnya Minaka hanya bisa menghela nafas depresi ketika teriakannya jatuh di telinga tuli. Natsuo sepertinya adalah satu-satunya yang kurang terhibur dengan situasi aneh tersebut. Bukan berarti tangan kanan kepercayaan direktur itu mau repot-repot meratapi kemungkinan kematian atasannya. "Lupakan saja." Gumamnya menyerah.
"Jadi!, kamu akhirnya datang juga. Aku sudah menunggumu, Naruto-kun!." Minaka berusaha melupakan episode kecilnya dan melebarkan kedua tangannya untuk menyambut mantan mangangnya. "Sepertinya kamu juga membawa Natsuo-kun kesini, apa ini ada hubungannya dengan burung kecilmu." Minaka melirik ke arah tangan kanannya.
"Tidak, belum. Dia bisa bersenang-senang sebentar." Jawab Naruto, tersenyum.
Natsuo mengerinyit bingung, Memperhatikan dengan seksama percakapan kedua pria yang sama-sama aneh dengan cara yang berbeda itu. Kedua atasannya itu sepertinya mengenal Naruto. Dia diam-diam bertanya kenapa Takami memilih diam saja.
"Sayang sekali." Minaka kecewa.
"Itu bukan masalahku." Kata Naruto. Pria pucat itu menoleh kearah Natsuo yang sepenuhnya bingung dengan situasi dan sepertinya mulai merasa di abaikan. "Kamu juga sepertinya tidak mengatakan apapun pada ashikabi itu." Dia tersenyum sinis.
"Sebenarnya apa maksud kalian?." Natsuo bertanya keras. Matanya menatap tajam kedua pria itu, meminta penjelasan. Sudah cukup, dia dibuat bingung hingga hampir depresi. Pria pucat yang menyebut dirinya Naruto itu tahu sesuatu yang mungkin mengancam sesuatu yang penting untuknya dan Minaka Hiroto menyembunyikannya. Pria dewasa muda itu mulai gelisah ditempatnnya.
Takami Sahashi memejamkan mata dibelakangnya sebelum diam-diam keluar dari ruangan. Wanita itu juga tahu sesuatu. Pasti. Beberapa saat kemudian Natsuo berhasil menenang dirinya dan mengarahkan otak briliannya untuk mengumpulkan semua informasi yang didapatnya dari semua petunjuk samar kedua pria aneh itu. Dan dia yakin akan sesuatu tapi itu tidak membawanya kemanapun.
Naruto Namikaze adalah seorang ashikabi sepertinya. Pria pirang pucat itu tidak beraliansi dengan siapapun, dia netral. Tidak ada petunjuk tentang siapa dan berapa banyak sekirei yang dia miliki. Natsuo beramsusi bahwa si pirang memiliki pengaruh yang cukup tinggi dalam rencana sekirei jika Minaka menaruh minat padanya. Dan kipas ditangan pria itu jelas berbahaya, gelombang kejut itu bukan sesuatu yang bisa diayunkan oleh benda seperti kipas biasa meskipun benda itu terlihat terbuat dari besi. Ralat; Pria itu jauh lebih berbahaya. Natsuo tidak tahu apapun.
"Ini tentang Zero Four." Kata sang direktur memulai penjelasannya, melirik kearah Naruto yang sepertinya telah memberikan isyarat untuk melanjutkan. Natsuo memilih menyimpan komentarnya dan memperhatikan dengan penuh minat kearah sang direktur. Ada apa dengan karasuba?. Itu adalah hal yang ingin dia ketahui.
"Kami sudah memberitahumu tentang keadaan khususnya kan?."
Natsuo menggangguk mengiyakan. "Maksudmu tentang masalah haus darahnya. Ada apa dengan itu?." Wajah sang direktur terlihat serius, tidak ada tawa. Natsuo mulai bertanya-tanya apa yang salah secara mental 'kenapa' sampai dia kemudian dia dikejutkan oleh tatapan es dari mata biru yang menusuk.
"Karasuba adalah tipe khusus, rasa haus darahnya diperlukan. Tapi itu bukan masalahnya." Sang direktur tersenyum. "Masalahnya bahwa dia sudah disayapi oleh ashikabi lain sebelum dia datang padamu." Senyum sang direktung melebar menjadi seringgai. Natsuo mulai takut dengan fakta bahwa otaknya sudah selesai menghubungkan titik-titik itu.
"Ta-tapi bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi." Natsuo menggertakkan giginya. Dia tidak tahu bahwa hal itu bisa dilakukan. Bagaimana?, bukankan seorang sekirei tidak bisa memiliki lebih dari satu ashikabi?. Atau ada banyak hal yang tidak dia ketahui tentang permainan aneh ini... apa itu?.
"Aku memberinya izin untuk melebarkan setengah sayapnya, tapi aku tidak tahu bahwa gagak kecil itu akan memilih Ashikabi tanpa reaksi." Kata Naruto. "Aku adalah ashikabi dari Zero Four. Aku memberinya izin, artinya dia bisa mencium setiap pria atau wanita disepanjang jalan dan mendapatkan sayap untuk membuka setengah kekuatan noritonya tanpa terkecuali."
Kedua pria itu tertegun dengan informasi baru yang diberikan si pirang. Natsuo menatapnya dengan mata lebar. Minaka jelas memanfaatkan situasi itu untuk memperluas pemahamannya sendiri.
"Apa yang... Bagaimana denganmu?." Natsuo bertanya keras. Emosinya mulai tidak stabil. Sesuatu tentang keadaan ini membuatnya teringat tentang kematian kekasihnya. "Kamu Ashikabinya kan?. Ashikabi dan sekirei berbagi perasan yang sama. Bagaimana dengan-
Naruto memejamkan matanya, tersenyum. Dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kedua pria diatap. Sengatan angin dingin menyapu kulitnya dan dia menggigil.
'Nah, itu bukan sesuatu yang kuharapkan. Lucu.'
Diatap kedua pria itu mengawasi punggung Naruto yang menghilang dibalik pintu masuk. Setelah si pirang menghilang dari pandangan mereka, Pria yang lebih tua dari keduanya menatap aneh yang lebih muda.
"Kupikir kamu ingin menghancurkan sesuatu, bukankah itu jauh lebih mudah dengan Karasuba ada dipihakmu. Natsuo-kun." Sang direktur mengusap rambutnya yang memutih karena stres dalam pekerjaannya berkat otak jeniusnya. Dia mengamati tangan kanannya yang sepertinya termenung dalam diam. Ekspresi pria dewasa muda di blokir oleh bayangan rambutnya.
"Siapa sebenarnya dia, siapa sebenarnya Naruto Namikaze itu. Direktur?." Dia bergumam.
"Kamu ingin tahu?."
Natsuo menggangguk sambil termenung. Minaka ingin menyebutnya begitu. Sang direktur kembali menhela nafas, " Aku tidak tahu kenapa kamu peduli. Mungkin karena kamu sekarang menyadari bahwa ada yang salah pada Karasuba atau sepenjang garis itu...
Naruto adalah mangangku dulu dan dia adalah orang pertama yang bisa bertarung dengan sekirei hanya dengan kipas, maksudku pedang. Dia melatih skuad disiplin generasi pertama ketulang. Meskipun dia agak menghindari Karasuba."
"Dia mungkin tidak tahu, tapi karasuba dan pillar sekirei sudah menunjukkan reaksi beberapa kali. Kami mengamati mereka tapi tiba-tiba ada yang terjadi diantara ketiganya sejak Zero Four bersayap. Itu agak aneh dan kemudian dia meninggalkan MBI."
Sang direktur menarik nafasnya menatap ke arah tangan kanannya. Kenapa dia harus ditempatkan disituasi ini. Dia diam-diam mengingat nodachi tajam yang kini digantikan oleh kipas tangan yang entah kenapa terlihat lebih mengimintimidasinya.
"Nah, jawaban dari pertanyaanmu tadi Natsuo-kun, adalah bahwa... Aku tidak tahu."
'Tidak pernah ada yang tahu.'
X X X X
Keesokan harinya.
Mikogami Mansion.
"Kakak, apa kamu didalam?."Hayato mengetuk pintu mahoni kamar tidur Naruto pelan. Dia akan membangunkan kakaknya untuk sarapan seperti biasanya dalam beberapa hari terakhir sejak kepulangan kakaknya ke rumah. Dan Naruto tidak pernah menjadi orang pagi.
Hayoto menunggu beberapa saat sebelum membuka pintu. Dia bisa melihat Kakaknya masih berbaring malas diatas ranjangnya, sekilas semua orang mungkin akan berpikir bahwa dia benar-benar orang sakit yang memerlukan banyak istirahat untuk kelangsungan hidupnya. Tapi Hayato bukan orang lain, dia adalah adik kecil manis Naruto Namikaze. Jadi dia melakukan apa yang orang lain tidak akan lakukan dalam situasi itu.
"Kakak, Apakah kamu sakit?." Dia bertanya, pura-pura khawatir.
Kakaknya sepertinya menikmati kehangatan kasur dan hanya sedikit berguling untuk menghadapnya. Wajahnya pucat, tapi itu tidak aneh. Pria pirang sakit-sakitan itu kadang melakukan hal ini dan berhasil menipunya beberapa kali dimasa lalu. Hayato meneringgai dalam hati 'Aku tidak akan terjebak seperti dulu, kakak'.
Naruto tersenyum lemah memberi isyarat untuknya mendekat dan dia mematuhinya dengan tenang. "Maaf Hayato, saat ini aku sedang tidak enak badan." katanya dengan suara lemah.
Hayato mengerenyit, membawa tangannya kewajah kakaknya; Panas!. Naruto batuk beberapa kali. Sekarang Hayato mulai khawatir ditempatnya. Mungkin saja kakaknya benar-benar sakit kali ini (meskipun dia memang hampir selalu sakit). Apa yang salah?, haruskah dia memanggil dokter?, tidak, dia harus membawanya kerumah sakit!.
dan Hayato mulai panik sendiri sampai suara Naruto mencegahnya berpikir lebih jauh.
" Ada apa Hayato?"
"Tidak ada apa-apa! Sungguh!" Hayato melambaikan tangannya, kakaknya sepertinya kurang peduli dan dia selamat. "pokoknya, kak. apa kamu memerlukan sesuatu?"
''Tentu, bisakah kamu membawakanku ramen."
''Mutsu akan membawakanmu bubur."Kata Hayato datar berjalan pergi menuju pintu.
BLAM
Pintu terbanting keras dibelakangnya.
Malam. Utara
Malam ini sangat tenang, terlalu tenang untuk selera seorang pria pucat yang menatap jalanan wilayah utara melalui jendela mobil tanpa minat. Dia memberi isyarat pada sang sopir untuk berhenti dan turun dari mobil mewah itu dengan tenang. Haori abu-abu yang dipakainya secara keseluruhan memang merupakan seragam Disiplinary Skuad berkibar elegan dibelakangnya, dia 'meminjam'nya dari lemari gagak kecilnya saat dia berkunjung ke sayap kanan gedung MBI kemarin. Haorinya sendiri ada di belahan benua lainnya karena dia melupakannya dan meminjam dari Mutsu bukan pilihan karena anak itu sudah melemparkan haorinya untuk dilupakan dalam setiap kesempatan.
Lagipula Karasuba memiki banyak sekali salianan benda itu. Dua atau tiga lenyap secara misterius pasti besar bukanlah masalah. Itupun kalau gagak itu menyadari bahwa ada barangnya yang hilang. Orang-orang yang menatapnya jelas tidak tahu itu dan tidak ada yang bertanya.
Pria itu, Naruto, hanya mengintip beberapa barang di ruangan sekirei pertamanya. Dan kecewa dengan tidak ada hal yang menarik disana, tidak ada buku curhatan, tidak ada surat cinta, dan hal memalukan yang bisa dia jadikan alat pemerasaan pertukaran setara [Hukum alchemist-Naruto adalah seorang ilmuan sebelumnya jadi dia mengetahui teorinya]. Ruangan itu agak kosong dan suram, mewah tentu saja. Tapi tidak ada yang istimewa. Pria pirang itu harus keluar secepatnya dari ruangan itu sehingga dia tidak bisa melakukan sesuatu yang keren seperti menghiasi seluruh ruangan dengan beberapa seni yang bagus dipikirannya karena seonggok daging berjalan bernama Natsuo telah membuat kehadirannya diketahui. Jadi dia dengan enggan melepaskan ide meriah dari kepalanya dan menyapa pria muda yang terlihat tidak menyadari kehadirannya. Lebih aman untuk berpura-pura, jadi dia menjadi aktor yang baik.
Tunggu sebentar, mungkin dia bisa menyamar menjadi Karasuba. Naruto segera menghentikan langkahnya, memeriksa bayangannya di cermin di dinding toko yang kebetulan ada didekatnya. Tingginya tidak jauh berbeda zero four, dan dia bisa menyembunyikan tubuhnya disetiap lapisan yukata dan haorinya (untuk sekarang benda itu miliknya). Dia kebetulan memakai jinbei sederhana hitam polos dibalik yukata biru gelap yang dipakainya dan jika dia sedikit mewarnai rambut panjangnya dan mengikatnya seperti gaya biasa gagak itu lalu berkeliaran dengan wajah penuh senyuman. Dia yakin orang akan lari sebelum mengenalinya sebagai orang lain atau cosplayer versi pria Zero Four.
Naruto menggelengkan kepalanya keras untuk menghentikan ide dramastisnya. Setelah beberapa saat si pirang kembali melangkah ketempat tujuannya. Dia perlu menemui Miya sekarang untuk menjelaskan ketidak hadirannya saat makan siang tadi. Dan ramennya.
XXXX
Izomo inn.
Hal-hal tidak pernah selalu berjalan dengan baik seperti yang diharapkan semua orang terlebih untuk Naruto. Dia berdiri dan mengetuk pintu lalu masuk tanpa menunggu tanggapan, berkelana sepanjang koridor, menaiki tangga lantai dua, dan naik keatap.
Naruto tidak menemukan siapapun. Dimana semua orang?.
Dia memutuskan untuk diam disana sebentar dan memikirkan hidupnya. Dengan itu Naruto pun memasuki mode merenung.
Pertama, itu tentang ramennya...
Sementara itu.
Ruang rahasia Matsu.
Matsu merasa dia melewatkan sesuatu. Seolah sesuatu telah terjadi sehingga dia harus segera menyelamatkan hidupnya. Tapi mengankat bahu dan kembali mengetik dikeyboar komputer raksasanya.
Sekirei tipe otak itu menatap kedua Ashikabi didepannya.
Ashikabinya, Minato Sahashi telah memutuskan untuk membantu Ashikabi lain bernama Haruka dan sekireinya no. 92 Kunoh untuk melarikan diri dari Shinto Teito, keluar dari sistem game yang diciptakan Minaka Hiroto, dan menuju kelain tempat untuk aman.
Saatnya untuk menyusun suatu rencana.
Dengan Naruto.
Bulan terlihat terang malam itu, ditemani laskap ribuan bintang yang bersinar ceria.
Naruto berkedip.
Dia tidak tahu mengapa. Mungkin itu karena kebosanan, atau karena dia tidak punya apa-apa untuk dinantikan, atau karena dia hanya berhenti peduli, tetapi suatu hari, sudah lama sekali, dia telah berhenti melihat dunia dalam warna.
Semuanya menjadi menjemukan, abu-abu dan monokrom.
Tidak ada bedanya, pikirnya.
Tapi entah sejak kapan langit kembali terlihat secerah itu. Lebih cerah dari yang dia ingat. Dia benar-benar tidak tahu.
Ketika dia berdiri, Angin membingkainya dengan tenang. Haori abu-abu disiplinary skuad lembut dibelakangnya. Rambut panjangnya dikuncir kebelakang. lalu dia berbalik dan memukan bahwa dia tidak sendirian.
Orang yang berdiri di ambang pintu atap, mengawasinya dengan mata ungu besar.
Miya berdiri di sana; Rambut panjang ungu tua bertiup dalam angin kencang, percikan warna ungu dan putih yang sangat cemerlang di atas kanvas gelap langit malam dan si rambut pirang pucat menemukan dirinya agak tercengang dan sedikit terkesima.
Kemudian pupilnya membesar dan dia mengayunkan wajan di tangannya dan semuanya berjalan lambat ketika Naruto menghindari lemparan kematian itu tapi tersandung dan hampir terjatuh tapi dia dengan panik menemukan keseimbangannya disaat-saat terakhir.
Sekirei zero one Miya melesat kearahnya dengan pedang katana yang terayun. Naruto terpaksa menarik Kipas berpanel baja di lengan bajunya untuk pertahanan diri.
"Hey Miya, ini aku..." Naruto tertawa gugup saat dia mengambil jalan pintas ketanah dengan melompat dan berayun turun dari atap. "Mizu iwai!" Air dengan ganas menyerang tempatnya berdiri sebelumnya.
Tendangan dan pukulan Musubi adalah apa yang selanjutnya dia dihadapi, "Heyaa!". Tanaman tumbuh secara eksplosif berusaha menjeratnya sebelum dia mengarahkan gelombang kejut untuk memotongnya.
Baik anak-anak ini ingin bermain. Naruto harus menunggu untuk menjelaskan situasinya.
Dia melihat Miya berdiri diam diatap, sepertinya terhibur dengan sesuatu. Jelas tidak ingin membantunya untuk memberikan penjelasannya tanpa gangguan.
"Mizu Iwai!" Tsukiumi terus mengerahkan gelombang airnya.
Apasih yang membuatnya harus menghadapi situasi ini!.
Dengan kesal Naruto menangkap tangan Musubi dan melemparkan gadis hyper itu ke teman berambut pirang ghoticnya. Merenggut gadis kecil untuk dijadikan sandera tanpa masalah. Mengabaikan teriakan panik 'Onii-chan' sandera.
"CUKUP!." Seperti penjahat, suaranya bergema untuk memperingatkan lawannya. Miasma ungu Hannya tercipta dibelakang tubuhnya. Menakut-nakuti mereka dengan intensitas keseriusannya.
"Jika kalian mengatakan siapa yang mencuri ramenku maka anak ini akan bebas!."
Hening...
Kata-katanya saat itu telah membuat penyerangnya sweatdrop secara masal.
"Namikaze-san?."
To Be Continued...
Omake : Ramen Story 1.
Naruto Namikaze sudah menetapkan pusat operasi mienya setelah memperoleh izin dari penguasa tempat itu sendiri. Izumo inn adalah satu dari sekian banyak, tapi tetap merupakan tempat favoritnya untuk menyembunyikan makanan berlemak itu sejak Takehito masih ada didunia orang hidup.dia akan terkutuk jika dia membiarkan Hayato melihatnya makan ramen setiap hari, sejak adik kecilnya itu mengetahui pengaruh ramen untuk kesehatan semua orang dia telah mengancam akan menghapuskan ramen dari jangkauannya.
Tapi kali ini Ramennya hilang secara misterius dari kenyamanan microwave dapur Miya. Dia meletakkannya tadi ketika tidak ada yang melihatnya datang dan itu hilang dalam waktu 3 menit selanjutnya saat pria pucat itu kembali dari sesi merenungnya sementaranya.Saat itulah Naruto memutuskan besumpah pada langit untuk membuat pelakunya menaggung siksa yang pedih dari kemarahannya.
Uyeeeerz~Akumatsukami.
