Black Sekirei no Ashikabi
Salam sejahtera...
Terima kasih dan maafkan diriku yang membuat kalian lama menunggu. Author punya banyak alasan terkait dengan hal itu seperti ini dan itu. Diantaranya adalah; Ada banyaknya anime baru untuk ditonton, Novel borongan untuk dibaca, komik untuk dibaca, masalah teknis imajinasi yang membutuhkan relaksitasi otak, tumpukan komik baru untuk dinikmati, dan lain-lain, jadi aku mulai agak sibuk...
Kehidupanku sebenarnya sangat monoton jika tidak bisa dibilang sangat saja tidak ada alien manis seperti sekirei yang akan melindungi dan mencerahkan kehidupanku jadi aku hanya berimajinasi tentang banyak hal dan mencoba menjalinnya kedalam sebuah cerita untuk beberapa hiburan demi kewarasanku diatara tugas dan pekerjaan rumah dunia nyata yang menumpuk 24/7.
Aku mungkin berlebihan, tapi, jangan repot-repot mencoba untuk memahaminya. Sejujurnya itu kurang penting dan mungkin akan mampu membuat kepalamu meledak karena berbagai hal yang tidak mampu kujelaskan.Sekian keluh-kesah curahan hatiku (?).
Bagaimanapun ini hari liburku.
Jadi selamat membaca XD
Izumo Inn.
Menyesap teh hijaunya dengan tenang, Namikaze-san duduk seiza diatas bantal, sabar mendengarkan dengan tenang penjelasan singkat skema pristiwa kejadian yang menimpanya dari Miya yang membuat senyum polos, sambil duduk dengan seiza rapi disampingnya. Minato dkk (Musubi, Kusano, Matsu, Tsukiumi) duduk berjejer dengan rapi dengan posisi seiza yang sama dilantai didepan mereka dengan punggung tegak dan beberapa orang tambahan seperti #03. Kazehana, pengikut sertaan #10. Uzume, dan tamu lain yang merupakan pasangan ashikabi dan sekirei yang sedang melakukan permainan hide and seek dengan MBI saat ini; Haruka Shigi dan #95 Kunoh.
Naruto menghela nafas, menatap malas kerumunan didepannya, pria pirang pucat itu mencatat dalam diam pandangan takut, waspada, dan ragu-ragu di wajah Shigi dan Kunoh ang diarahkan padanya setiap detik per menit saat keduanya merasa dia tidak melihat atau terlalu fokus pada penjelasan land lady dan terlalu malas untuk peduli. Pilihan pakaiannya saat ini mungkin sangat menjelaskan reaksi itu. Penjelasan identitasnya sebagai ashikabi dari Miya; yang sepertinya terlihat tidak mengancam dimata mereka, pada akhirnya sedikit membantu meringankan perasaan mereka. Ditambah dengan Minato yang berusaha sekuat tenaga menyakinkan bahwa dia tidak berbaya, agak menggelikan, tapi berhasil membujuk keduanya untuk mempercayainya.
Alasan semua orang menyerangnya beberapa saat yang lalu karena mereka sepertinya mengira dia penyusup; yang mungkin ada benarnya, tapi dia memiliki kondisi khusus dari pemilik sebelumnya. Apalagi dengan tambahan dandanannya dan lingkungannya yang gelap. Dan untuk ramennya... saat dia tiba (Masuk tanpa salam atau mengikutsertakan pemberitahuan apapun), Miya sedang memasak didapur untuk keperluan pesta, Kazehana sedang menunggu kesempatan emas untuk mengambil sake Miya, Minato dan Shigi sedang bersama Matsu di ruang rahasia, Uzume belum pulang, dan yang lain sedang mandi bersama. Lalu saat di turun dari atap ke dapur untuk mempersiapkan ramennya, Miya ada ruang tamu (tidak ada yang memperhatikan), Musubi sepertinya memeriksa microwave dan menemukan ramennya ketika dia kembali keatap. Baiklah...
Alis Naruto berkedut karena kesal meskipun wajahnya tetap tenang, dan dia kemudian menghela nafas. Ada fakta bahwa dia tidak mungkin bisa menyalahkan gadis polos dan lincah favorit Karasuba saat gadis itu sudah meminta maaf. Miya ada dibaliknya dengan senyuman dan miasma ungu pekat hannya yang terwujud seolah menantangnya untuk menolak permintaan maaf tulus sekirei #88. Jelas tidak membantu karena semua orang mulai melihat kearahnya.
Jadi dia sekarang adalah orang jahatnya.
Naruto kembali menghela nafas, meletakkan cangkir teh hijaunya, meraba dan meraih melalui lengan yukatanya dan mengeluarkan kipas baja khasnya. Dia membukannya dengan gerakan cepat pergelangan tangannya, memperlihatkan kanji api kecil sederhana betangannya. Mata birunya menatap bosan kearah acak, mengamati dan menilai kelompok didepannya sebelum menutup kipasnya dengan jentikan tangannya.
Tidak butuh waktu lama untuk membubarkan sidang darurat Namikaze-san dan melanjutkan pesta perpisahan yang tertunda, segera setelah Namikaze-san meninggalkan ruangan dan berjalan keluar dengan land lady mengekor dibelakangnya. Namikaze-san sepertinya cukup nyaman memegang kipas baja yang tertutup didepan wajahnya.
Mereka berada ditempat yang sepi dibalik pintu shoji ruang kerja Takehito dulu saat Miya akhirnya memutuskan untuk bicara pada ashikabinya.
"Jadi... Bagaimana menurutmu, Sensei?." Tanyanya dengan lembut.
"Hm..." Naruto berbalik kearah mantan muridnya, mata birunya yang bosan berkedip dengan senyuman lembut. "Tidak ada yang istimewa. Apa yang kamu harapkan?." Dia menyatakan singkat, memberitahunya bahwa dia sudah tahu sejak awal.
Miya menggelengkan kepalanya. "Rencana mereka itu agak ceroboh. Jadi-
"Kamu ingin aku membantu mereka?" Naruto memotong apapun yang akan Miya katakan, mendekati mantan muridnya dengan langkah tenang dan terukur, membawa tangan kanannya ke wajah Miya.
Cokelat kemerahan Miya bertemu biru cerulean ashikabinya.
"Kamu ingin aku membantu mereka, Miya?." Naruto mengulangi pertanyaannya dan Miya hanya meraih tangan pucat diwajahnya, menyeringgai main-main kearah ashikabinya.
"Tidak." Katanya yakin.
"Begitu."
"Tentu saja."
x
x
x
"Kamu mulai lamban, gagak kecil." Si pirang pucat itu melengkungkan matanya, tersenyum mengejek.
"APA?!" Karasuba mengeram, berhenti mengayunkan pedangnya, tapi kemudian menggeser berat badannya ke kaki kanannya dan mengecam dengan tendangan kuat mengincar kepala pirang handlernya. Si pirang hanya menghindar, mata itu tidak terlihat geli saat mengamati tanah yang hancur dibawah tekanan kekuatan zero four, menempatkan pedangnya sendiri didepan untuk memblokir serangan dengan kedua tangan.
Kedua bilah nodachi itu melakukan kontak, menciptakan percikan bunga api kecil gesekan logam. Karasuba menyeringgai seperti orang gila sambil terus menerus meluncurkan serangannya, pedang handlernya menusuk daging kulitnya sebelum dia menendangnya mundur. Karasuba tergelincir sebelum si pirang pucat mengangkat pedangnya keudara dan mengayunkannya secara vertikal kebawah untuk membelah tubuhnya menjadi dua.
Zero four cepat-cepat melompat kesamping untuk menghindar, namun selubung pedang memukul kepalanya dengan telak. Dering bel berbunyi keras setelahnya dan empat sekirei lain maju ke medan pertempuran.
"Aku...belum...menyerah."Karasuba bangkit dan mendesis sebelum bergegas berdiri dan menyelubungkan pedangnya. Dia akan mundur untuk bergabung dengan barisan, tapi berbalik ketika merasakan tangan menarik haorinya dan melihat handler pirangnya dengan tatapan bertanya.
"Kamu kuat... Karasuba." Kata si pirang. "Tapi hari ini kamu terlalu lamban dan pertahananmu terbuka lebar." Handlernya berguman cukup lembut sehingga hanya dia yang bisa mendengarnya. Mata sang Zero Four melebar saat itu. Dan cepat menyadari maksud si pirang. Kimononya robek di sepanjang lengan baju dan memiliki banyak luka yang menutupinya. Wajah dan tangannya ditutupi jelaga dan dia memiliki memar di kulit porselinnya yang mengisyaratkan dimana si pirang berhasil menyerangnya. Sementara si pirang hanya mendapatkan beberapa goresan. Menjelaskan akurasi tempur zero four yang tidak seperti biasanya.
"Apa yang...?" Karasuba menghentikan dirinya untuk mendengar apa yang akan dikatakan si pirang sakit-sakitan itu dan berjalan kearah empat sekirei lainnya untuk mengatur dirinya kedalam barisan. Hatinya bergemuruh dengan marah dengan alasan yang sepenuhnya tidak dia mengerti dan membuatnya semakin hyepersensitive, dia menenangkan dirinya agar tidak menusuk zero five disampingnya atau Kazehana yang bersiul main-main.
lalu Minaka bertepuk tangan dengan heboh, menarik semua perhatian kearahnya
x
x
x
Karasuba bangun dari tempatnya berbaring dan langsung dihadapkan dengan warna biru gelap langit-langit kamarnya di sayap kanan gedung MBI.
Desahan lelah meluncur keluar dari bibir tipisnya dan dia beringsut keluar dari tempat tidur. Rambut peraknya tergelincir tanpa ikatan menggesek kain lembut seprai dan selimut sebelum mengudara saat pemiliknya sepenuhnya berdiri dan berjalan kearah jendela yang terbuka. Langit pagi menuju siang hari menyambut Karasuba.
Seperti biasa, tidak ada yang cukup berani untuk mengetuk pintu untuk mengusik tidurnya.
"Mimpi?" bibir tipisnya bersenandung lembut. Ardenalin masih menempel dikulitnya. Tangannya meraba-raba lengannya untuk menemukan bekas luka hantu dalam mimpinya lalu dengan langkah cepat dia menyerbu ke kamar mandi, menatap cermin wastafel dengan mata lebar, dan dia gemetar. Wajah pucat si pirang dalam mimpinya balik menatap dengan padangan aneh geli di mata biru cerulean yang telindung kacamata bundar menyebalkan. "Kamu kuat...Karasuba" Kata itu berdengung ditelinganya. Zero Four merasakan matanya basah.
Dia ingat...
Itu adalah... pertamakalinya pria pucat sakit-sakitan yang menjadi pengawas lapangannya dan empat sekirei pertama lainnya itu benar-benar memanggilnya dengan namanya. Dia ingat...
Tapi hal itu tidak membuatnya senang sedikitpun. Dia anehnya merasa kecewa, rentan dan lemah. Perasaan dihatinya berdengung mengingat bagaimana kata itu tepatnya diucapkan, suara bariton halus remaja tujuh belas tahunan, lembut berbisik...
Pria pucat itu tidak tersenyum.
Karasuba mencengkram sisi wastefel, meremukkan benda tidak bersalah itu. Dia terenggah-enggah, tenggorokannya terasa kering dan dia tersedak air liurnya sendiri. Gadis berambut perak itu tidak bisa banyak melakukan apapun, otaknya berjuang untuk mengingat sesuatu. Zero four menggertakkan giginya. Sulit.
Dalam keadaan normal cermin itu pasti hancur bersama dinding dibaliknya saat Karasuba membawa tinjunya yang terkepal untuk melampiaskan frustasinya. Tapi tidak kali ini, Karasuba hanya menatap cermin, kearah bayangan kabur imajinatif yang berkedip didepannya. Senyum tersendat diwajahnya.
"Siapa..." gumamnya serak. Bertanya dengan hampir putus asa, tiba-tiba merasa terlalu lelah dengan guncangan mentalnya.
XXXX
Izumo Inn.
Miya tiba-tiba menghentikan tangannya untuk menuangkan cairan teh kecangkir. Mata coklatnya melirik diam pada Naruto yang duduk diteras memandang langit cerah tanpa awan di atasnya dengan mata yang melengkung, tersenyum.
"Jangan Khawatir Miya." Bisiknya tanpa melihat kearahnya, masih tersenyum. Tapi Miya tahu bahwa senyum itu tidak menjanjikan apapun.
Mengikuti ashikabinya, Miya memandang langit diatas mereka. Itu benar-benar cerah tanpa sedikitpun goresan awan, Biru yang jernih, lembut megantung memberi gambaran luas langit diatas mereka terlihat sangat dia masih merasakan rasa sakit dihatinya yang bukan miliknya dari ashikabinya. Sang pillar sekirei menggeser tubuhnya untuk mengambil tempat duduk lebih dekat di samping ashikabinya. Rasa lega menyisirnya saat rasa sakit itu mulai dengan tenang menyusut hingga mulai sedikit memudar meski masih ada.
Mereka hanya duduk berdampingan disana tanpa mengatakan sepatah katapun lagi dengan cangkir teh panas di tangan. Pemandangan yang cukup aneh mengingat matahari yang bersinar menyengat dilangit sepertinya tidak mengganggu keduanya.
XXXX
Sayap Kanan Gedung Utama MBI.
Ada area yang dikhususkan untuk menjadi fasilitas taman hiburan khusus untuk sekirei di dalam gedung utama MBI, masih dalam wilayah sayap kanan gedung utama, dan sangat luas. Karasuba duduk dengan nyaman sambil memoles nodachi kesayangannya, menyingkirkan noda darah dari bilahnya, berusaha sebaik mungkin menjaga ketajaman pedang yang sudah menemaninya sejak lama itu. Beberapa meter dari tempatnya ada Natsuo yang mengamatinya dengan intensitas baru dimata yang tidak begitu dia pedulikan. Pikiran gadis perak itu ada ditempat lain.
Sekirei #104 Haihane dan #103 Benitsubasa, dua sekirei lain Natsuo Ichinomiya yang menjadi anggota resmi disiplinary skuad generasi ke-3 dibawah komando Karasuba, sedang menikmati kehangatan kolam renang taman hiburan mereka dengan riang. Benitsubasa sepertinya berusaha memperlihatkan beberapa asetnya pada sang ashikabi yang tidak banyak memperhatikan dan Haihane sepertinya cukup puas dengan melempar ejekan pada sekirei berambut merah muda itu. Sayangnya pikiran Natsuo juga ada ditempat lain.
Benitsubasa agak kecewa.
Beberapa menit telah berlalu sebelum handphone Natsuo berdering keras. Ada pesan sekaligus misi dari Minaka.
'Ada beberapa pemberontak kecil berani diUtara malam ini. Segera bereskan.'
Waktunya bersiap untuk berburu.
XXXX
(TIME SKIP)
Malam datang dengan cepat dan keributan diUtara segera dimulai. Ada banyak ledakan dan pohon-pohon raksasa tumbuh di sepanjang jalan. Petugas keamanan disibukkan untuk menahan massa pria dan wanita dan mencegah penduduk sipil mendekati area pertempuran. Petir di langit berkumpul menggetarkan, mengancam dan berbahaya.
Tidak ada yang istimewa, tapi cukup menghibur. Berpasang-pasang mata mengamati pristiwa kecil itu dengan tenang dari kejauhan, mengumpulkan gagasan dan komentar untuk menebak-nebak akhir permainan. Beberapa sudah siap mengulurkan tangan untuk membantu jika diperlukan, beberapa dari mereka sudah sangat siap untuk masuk dan merobek semuanya, dan sisanya acuh tak acuh menunggu hasil akhir dengan sabar ditempat mereka.
Cahaya murni merah muda ditembakkan dari jembatan dan kekuatan besar dilepaskan ke atmosfer. Naruto melengkungkan matanya, tersenyum saat dia merasakan sensansi hangat kegembiraan dan haus darah juga kerinduan yang bukan miliknya terkirim dengan getaran satu arah dari sekirei pertamanya. Dia bisa merasakan Miya memeluknya dari belakang, kepala dengan rambut ungu halus bersandar di bahunya. Naruto sedikit bergeser untuk membiarkan dirinya merasa nyaman dengan Miya masih menempel dipunggungnya, memeluk tubuhnya erat.
Malam itu terlalu dingin.
XXXX
Keesokan harinya.
Gedung Utama MBI.
Minaka bersenandung riang menghirup kopi pekat di tangannya. Agaknya seseorang telah membuatnya terlalu pahit untuk kebijakan yang ditetapkan oleh lidahnya dengan cukup baik, namun, dengan beberapa gula, rasanya tidak lagi seburuk tujuannya diciptakan.
"Ah hidup itu indah..." desahnya sambil menyandarkan punggungnya ke sofa lembut dibelakangnya.
Sejak Minato Sahashi dan para kroni pendukungnya menghiburnya dengan rencana pembrontakan kecil di wilayah utara dan berhasil lolos tanpa hadiah istimewa zero four, perlahan-lahan dia membuat pasangan ashikabi dan sekirei lain mulai termotivasi untuk mencoba menantang game master dalam wilayah kekuasaannya dan menerima nasib mengenaskan kekejaman favoritisme.
Ada alasan kenapa Haruka Shigi dan no #95 Kunoh berhasil keluar dari Shintou Teito hidup-hidup. Itu karena bocah Sasashi bermain pahlawan dan akhirnya diselamatkan keberuntungan.
Terlalu beruntung dalam kamusnya; menjadi ashikabi dari sekirei no #88 sehingga menunda murka zero four dan memiliki lebih dari tiga sekirei kuat juga lebih dari satu singel number sekirei adalah satu hal, tapi berada dibawah perlindungan hannya Utara yang tidak tertanggi sekaligus pria paling berbahaya untuk S-plan, ditambah lagi dengan menjadi bayi laki-laki momma. Pasti menyenangkan sekali menjadi Minato Sahashi.
Naruto Namikaze tidak akan bergabung dengan permainan dengan sekireinya dalam waktu dekat. Keadaan itu akan menguntungkan Sahashi dan pesaing lain karena 'Last Bos' sepertinya cukup nyaman ditempatnya, dan memilih permainan duduk dan menonton. Dua single number sekirei terakhir yang belum bersayap tidak akan banyak membuat perbedaan, bahkan jika Sahashi berhasil menyayapi keduanya sekaligus. Itu hanya akan memberikan ide main baru untuk Minaka.
Minaka tertawa, seringgai menyebalkan diwajahnya dan matanya bersinar dalam antusiasme kekanakan sampai wajahnya disiram dengan cairan dingin es yang seharusnya masih berada digelas yang dipegang Takami, dan direktur karismatik itu menjatuhkan kopinya di pangkuannya. Teriakan nyaring "PANAS!" Minaka memenuhi ruangan. Tapi setelahnya pria itu bingung selama beberapa detik karena dinginnya air es masih terasa baik membeku dikepalanya. Tapi kopinya terasa lebih panas. Begitulah cara si jenius menyibukkan diri dengan berdebat dengan dirinya sendiri tentang kontras yang dia rasakan di kepala dan pangkuannya. "Hmm hebat sekali!" dan dia berseru secara konstan seolah hal itu adalah penemuan penting abad ini.
Takami terlihat tidak cukup puas menonton situasi Minaka lalu menggali telephone disaku jasnya dan memutar nomor untuk menelpon dua anak tertentu yang berkeliaran secara terpisah oleh takdir di Shintou Teito.
"Halo, Minato. Apa kepalamu baik-baik saja?." Wanita itu bertanya pada putranya jelas menghawatirkan kewarasan si sulung, Suara lain yang bukan milik putranya; jelas perempuan, menyuarakan jawaban cerdas 'Hah' di telephone jelas kebingungan dan Takami memutuskan panggilannya tampa repot-repot mencurigai idntitas sipenjawab telephone lalu kembali memutar nomor lain dan mendekatkan telephonenya ketelinga untuk menelpon. Kali ini untuk putrinya yang sedang tersesat dengan sukses di wilayah utara, wanita itu kembali menanyakan hal yang sama tapi dengan cepat memutuskan panggilannya tanpa menunggu jawaban lain.
Bayi-bayinya masih bisa diselamatkan.
Semoga.
To Be Continued.
Terima kasih karena sudah membaca.
Jangan lupa kirim beberapa komentar untuk bab baru ini.
Tidak ada banyak hal yang bisa kukatan tentang tidandakanku yang tiba-tiba meringkas kejadian penting di sekirei verse karena seperti yang Naruto katakan; itu tidak istimewa.
Naruto tidak akan banyak mengambil peran dalam kejadian sekirei verse, disini Minato terlalu naif. Seperti yang bisa diharapkan dari gelarnya; Tenshin no Ashikabi.
Minaka sepertinya sangat suka mempermainkan putra sulungnya itu dan Takami seperti tidak pernah khawatir karena Minaka tidak akan melakukan sesuatu seperti membunuh putra mereka.
Sekian.
