Oke...Olalala~
Hey apa kabar... Mina-sama :D
Aku sepertinya akhirnya kembali untuk melanjutkan cerita gaje ini. Akan ada banyak typo, jadi harap maklum karena jariku rada-rada malas mengulang ketikan di hape.
Publish lewat hape juga punya banyak masalah.
Nilai matematikaku turun dengan sangat drastis, tolong doakan agar aku bisa cepat mengatasi masalah itu.
Aku merasa itu akan akan terbunuh sebentar lagi jika aku menunda cerita ini hingga 2 tahun yang akan mendatang.
Aku tahu mungkin beberapa pembaca semakin mengkhawatirkan word yang menyiksa dan alur yang kadang diringkas.
Tapi aku berharap kalian menyukai yang satu ini
Jadi selamat membaca.
Warn: Typographical Everywhere.
Diclaimer; jelas tokohnya bukan milikku.
Sekirei...
Adalah makhluk luar angkasa bertenaga super dengan kode genetik yang mirip dengan manusia.
Nama mereka diambil dari burung Wagtail Jepang.
Tahun 1999, 20 tahun yang lalu, sebuah pulau tiba-tiba muncul dari laut dekat Jepang; yang dengan cepat di eksplorasi oleh dua mahasiswa, Minaka Hiroto dan Takami Sahashi. Mereka menemukan seorang wanita dewasa bersama delapan embrio dan sembilan puluh sembilan telur yang telah dibuahi.
Mereka menyebutnya 'sekirei'.
Minaka menggunakan teknologi tinggi dari kapal sekirei untuk mengumpulkan sumberdaya dan kekayaan juga kekuatan untuk membentuk MBI, mengambil alih pulau itu dan menyatakannya sebagai ekstrateritorialitas di bawah kendalinya.
S-plan (rencana sekirei) terbentuk setelahnya.
X
X
X
Bau amis darah bercampur bau kematian pekat diudara dan tanah basah sisa-sisa hujan memenuhi indra penciumannya yang lebih terlatih jika dibandingkan dengan hidung manusia normal lainnya. Mata birunya yang kosong tanpa ekspresi mengamati sekelilingnya. Nodachi ditangannya di banjiri warna merah darah pekat yang mengalir melewati bilahnya. kondisinya juga tidak lebih baik, darah menciprati jas putih labnya, rambut dan wajahnya dan menjadi noda yang jelas di kaca matanya.
Selusin mayat berseragam tentara terbaring mati dikakinya.
"Bagaimana keadaanmu Naruto-kun?." Suara Minaka bertanya dengan muram melalui earphone yang dipakainya.
"Semuanya baik-baik saja, Sensei." Jawabnya datar.
"Kembalilah dan jangan terlalu memaksakan diri oke."
"Aku mengerti."
Naruto tahu bahwa dia telah melakukan sesuatu yang salah dengan membantai spesiesnya sendiri. Dia sudah menjadi seorang pembunuh. Tapi tidak masalah, itu adalah bagian dari sifat manusia. Dan tidak ada yang salah dengan bertahan.
Remaja pucat enam belas tahun itu menyarungkan pedangnya . Mata birunya dengan dingin menatap kearah lempengan batu dibelakangnya, tepatnya kearah sosok yang bersembunyi dibaliknya, memberi peringatan terakhir sebelum berjalan pergi. Tugasnya untuk mengatasi setiap penyusup yang dikirim dibagian pulau yang tidak terlindungi sudah selesai. Dia bergerak menuju ketempat dimana para muridnya telah bergerak untuk membantai setiap pasukan tentara musuh.
Ketika dia tiba dia tidak terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dibawahnya adalah medan perang, sebuah pembantaian sepihak, oleh para burung-burung yang mencoba melindungi saudara mereka yang masih tertidur.
XXXX
"Ini hari yang luar biasa!." seorang pria derang rambut putih yang tertata dengan gaya aneh berteriak kelangit sambil berdiri diujung menara untuk mengawasi hamparan luas penjuru Shinto Teito dari segala arah. Dia menyeringgai pada dirinya sendiri, mencondongkan kepalanya saat cahaya memantul dari kaca matanya. Matanya tertuju pada setiap bagian kota dan berseri-seri dengan kembiraan dan kegiraang yang tak terkendali, mengangkat kedua lengannya di masing sisi tubuhnya membentang lebar. Dia menyeringgai, dan kembali berteriak riuh lagi seolah ingin seisi kota mendengarnya.
Seorang wanita berdiri beberapa meter jauhnya, mengabaikan teriakan gila direktur MBI, rokok terselip diantara bibirnya dan bekas luka membentang diatas mata kirinya. Tapi jelas sekali bahwa wanita ramping itu berusaha menekan iritasi dan jijik; tahu bahwa pristiwa aneh ini akan terus berulang. Saat dia melihat kedepan pada kejenakaan pria eksentrik itu dia tidak bisa tidak bertanya-tanya bagaimana hal itu bisa terjadi, dimana ada fakta bahwa dia pernah jatuh cinta padanya dan kenyataan bahwa pria bodoh itu adalah ayah dari dua anaknya.
Memutuskan bahwa dia sudah muak, wanita itu akhirnya mengambil tindakan terbaik; dengan melempar batu pada atasan konyolnya, untuk menangani situasi. Meleset. Pria itu berbalik seketika dengan mata lebar sebelum menyeringgai.
"Itu tidak baik, Takami-kun." Pria itu berkata, pura-pura patah hati ketika dia berbalik untuk mengawasi kota.
Takami tidak terhibur. "Berhentilah berteriak!." Dia menghembuskan asap dari bibirnya. "Apa kamu akan serius sesekali." Katanya sambil memijat pelipisnya.
"Zero one sudah bersayap Takami-kun." Minaka menyatakan dengan ceria, menyengir lebar, menunggu dengan sabar agar Takami segera memproses informasi baru itu.
Takami berdiri, tampak bingung selama beberapa detik dan melihat Minaka mulai tertawa.
"A-APA." Wanita itu mundur beberapa langkah.
"Tapi... Bagaimana." Suaranya terdengar kebingungan.
Minaka tersenyum lebar saat takami merespon pernyataannya tepat seperti apa yang dia harapkan. Takami tidak akan melemparinya dengan clipboard dan batu ataupun menendangnya dari menara seperti beberapa minggu lalu dalam situasi ini. Berita Zero one yang telah disayapi akan menjadi titik penting yang menentukan jalannya rencana sekirei. Itu bukan masalah kecil yang bisa kamu kesampingkan karena keselamatan dunia dipertaruhkan, Sang Pillar adalah satu-satunya anomali yang bahkan tidak akan mampu dihadapi oleh teknologi MBI. Bagaimanapun teknologi itu dihasilkan dari kapal 'sekirei' itu sendiri. Dan Takami dengan jelas mengetahui konsekuensi yang mulai perdebatkan didepannya.
Minaka tidak pernah berharap kurang dari wanita yang melahirkan kedua anaknya, satu-satunya wanita yang dia cintai. Terlepas dari adanya masalah di keluarganya, dia tidak bisa melakukan peran sebagai ayah untuk sekarang karena tugasnya sebagai game master dan CEO MBI lebih penting. Setelah permainan ini berakhir, Era para Dewa terwujud dan warisannya terus hidup──
Jadi Minaka menyebutkan satu nama pria yang sudah dipastikan memiliki potensi untuk memegang peran puncak terpenting dalam permainan ini.
"Naruto Namikaze"
Takami tidak memerlukan pertanyaan kedua untuk mencari tahu apa maksudnya.
XXXX
Mikogami Mansion.
Mikogami Hayato sekali lagi menemukan dirinya berdiri dilorong didepan kamar Naruto Namikaze; sang kakak. Karena kesopanan yang ditanamkan sejak kecil oleh kedua orangtua dan para pelayan juga sebagai cerminan dari sikapnya sebagai bagian dari keluarga elite dan ashikabi selatan, dia mengetuk pintu.
"Kakak bodoh!, sarapan sudah siap!." Hayato berseru, mengetuk pintu dengan keras, cemberut diwajahnya. Tuan muda Mikogami sedang kesal, jadi dia melamppiskannya pada pintu kamar kakaknya yang kebetulan adalah milik dari orang yang membuatnya kesal.
Oke sekarang kenapa itu terjadi?.
Kita semua tahu bahwa Hayato-kun adalah adik manis yang mengagumi sosok tinggi kakaknya yang sebelumnya selalu ada disisinya saat pria dan wanita yang dipanggilnya ayah dan ibu disibukkan oleh pekerjaan membangun imperium bisnis Mikogami inc. Lalu kenapa?. Biarkan kita melewatkan bagian ini dulu.
Jadi, pada dasarnya Hayato dibiarkan berdiri dilorong sebentar, berpikir keras apakah dia harus mendobrak pintu mahoni polos didepannya atau mengerahkan kekuatan terakhirnya untuk dengan sabar menunggu seseorang pucat tertentu agar segera bangun dan membuka pintu. Pilihan pertama sepertinya agak menggoda dan Hayato menyeringgai. Tapi sebelum dia sempat melakukan tindakan dalam rencana jahat batinnya, pintu akhirnya terbuka dengan suara pelan.
Hayato menarik nafas dalam, Mikogami muda akan segera mengatakan sesuatu untuk memulai ceramahnya tentang keterlambatan kakak angkatnya dan bagaimana semua orang dibuat lelah menunggu dimeja makan, lalu perjanjian tradisi suci Mikogami yang mengharuskan anggota keluarga makan bersama di meja makan kecuali jika beberapa keadaan terjadi yang mencegah khadiran anggota tersebut yang harus disaampaikan pada kepala pelayan agar─
Orang yang berdiri didepannya bukanlah Naruto.
Hayato berkedip beberapa kali untuk memastikan penglihatannya.
Didepannya, bersandar didepan pintu mahoni yang terbuka adalah sosok dengan set mata cokelat kemerahan yang seharusnya biru menatapnya dengan pandangan setengah terbuka, mungkin lelah, dan rambut ungu yang seharunya pirang tergerai dipunggungnya juga kulit gading sehat menggantikan kulit pucat khas kakaknya.
Hayato segera melihat sekeliling untuk memastikan tempatnya berdiri, mencari-cari kemungkinan bahwa dia tersesat dirumahnya sendiri dan telah mengetuk pintu ruangan yang salah. Tapi dia terlalu yakin dengan coretan kertas kanji yang tertempel didinding didekatnya. Kecuali kakaknya entah bagaimana mengecat rambutnya, memakai soft lens, dan Hayato sudah gagal mengenali jenis kelamin kakaknya karena yukata putih kebesaran yang dipakai berantakan oleh sosok asing didepannya dengan jelas sedikit memperlihatkan aset yang seharusnya hanya dimiliki setiap wanita di dadanya dan ada fakta bahwa kakaknya jauh lebih tinggi dari pada orang didepannya.
Setelah berhasil mengumpulkan kewarasannya, Hayato akhirnya menyatakan hal pertama yang terlintas dikepalannya. "Eh,Kamu... siapa?."
XXXX
Suasana di meja makan Mikogami diisi keheningan. Sepertinya ada tamu tak dikenal yang kini mengambil posisi disamping kanan kursi kepala keluarga yang kosong. Hayato Mikogami sudah mengambil kursi didepannya, sebelah kiri kursi kepala keluarga. Mutsu duduk disamping ashikabinya dengan protektif, tegang dan waspada. Lelaki jangkung itu memaksa dirinya untuk tetap tenang meskipun tangannya tetap diatas pedangnya. Tapi tamu mereka melambaikan tangannya seolah mengusir sesuatu diiudara, dan tersenyum ramah, menawarkan isyarat damai diam-diam yang akhirnya membuat sekirei #05 akhirnya benar-benar tenang.
"Ah... namaku Miya, ashikabiku adalah Naruto Namikaze." Dia memperkenalkan diri dengan senyum ramah ketika mereka semua akhirnya menyelesaikan sarapan mereka.
Mata Mutsu melebar, sekirei lain di ruangan itu hanya mengerenyit pada kurangnya informasi tapi acuh karena mungkin tamu mereka ingin menjaga nomornya tetap rahasia. Sementara itu mata Hayato sudah berbinar menatap tamu mereka kagum.
Kakaknya juga adalah seorang ashikabi seperti dia, itu artinya kakaknya akan bergabung dengan permainan ini dan mereka akan bertarung suatu saat nanti karena kakaknya harus mengikuti peraturan yang ditetapkan game master dimana pertarungan akan diharuskan.
Dia tidak terlalu bodoh untuk berpikir bahwa kakaknya akan menjadi target yang mudah dikalahkan karena dia sudah dengan jelas merasakan tegang dan kewaspadaan dari sekirei terkuatnya seketika saat wanita berambut ungu yang memanggil dirinya Miya itu memasuki ruangan bersamanya. Tidak sulit untuknya menyimpulkan bahwa Mutsu mengenal sekirei baru kakaknya.
Kakaknya adalah mantan ilmuan yang pernah ditugaskan dibawah bimbingan langsung Minaka Hiroto, sang Game Master sendiri. Ada kemungkinan bahwa kakaknya lebih mengetahui banyak hal tentang sekirei. Dan Mutsu juga memanggilnya 'sensei' yang Hayato yakini bukan hanya karena kakaknya adalah ilmuan yang dikenal Mutsu.
Naruto juga sepertinya bisa dengan mudah mengalahkan Mutsu seperti terakhir kali. Dan sekarang dia memiliki sekirei yang sangat kuat disampingnya.
Semuanya hal ini membuatnya semakin bersemangat. Permainan ini akan semakin menarik!.
Kakaknya akan menjadi lawan yang tangguh.
Hayato segera memalingkan wajahnya ke arah kepala pelayan keluarganya.
"Jadi dimana kakakku, Hasegawa-san?." Dia bertanya.
"Naruto-sama mengatakan bahwa beliau akan keluar sebentar, tuan muda." Jelas sang kepala pelayan. "Beliau juga mengatakan bahwa Miya-sama bisa menginap di kamarnya lagi seperti kemarin malam dan beliau berpesan akan kembali setelah makan malam."
Untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, wajah semua orang diruangan itu mulai mengeluarkan warna merah cerah─ kecuali untuk Akitsu, yang penasaran; menatap ke arah tamu mereka yang tersenyum lembut di tempat duduknya. Lalu miasma ungu pekat menyeramkan menyebar di ruangan dan Hannya menakutkan terwujud.
"Ara... apakah ada yang salah?." Dia bertanya dengan senyum manis yang entah bagaimana terlihat sangat mengancam bagi hampir semua orang.
XXXX
Naruto dengan tenang mendudukkan dirinya di tepi sebuah gedung tinggi. Mata biru ceruleannya tanpa ekspresi mengamati bentuk awan-awan mengambang yang berhembus lambat dilangit biru cerah diatasnya. Dia mengenakan kimono dengan pola daun musim gugur, obi merah tua dan haori cokelat gelap tersampir dibahunya. Ditangannya kipas berpanel bajanya mengepak terbuka menutupi wajah pucatnya untuk menghindari sinar matahari yang memaksa masuk ke rentina matanya.
Dia menjentikkan jarinya untuk melipat kipas bajanya saat matanya melihat sosok bayangan mendekat kearahnya dari sisi gedung lain. Hidungnya berkerut dengan nyaman mencium bau kematian yang mengguar seperti jejak dibelakang sosok itu, seorang wanita yang sudah dikenalnya, dengan rambut abu-abu dan satu tangan mencengkram erat ganggang nodachi yang berselubung di pinggang ramping sampai buku-buku jarinya memutih dan ganggang kayu retak dibawah tekanan kekuatan cengkramannya. Wajahnya mengeras.
Mata abu-abu baja yang telah kehilangan ekspresi bosan-ramahnya dan kini menatap tajam kearah mata biru kosong tanpa ekspresi didepannya.
To Be Continued
Aku, berpikir mungkin aku bisa menambahkan beberapa pemain ekstra dari Naruto verse ke dunia sekirei. Itu akan menjadi ide bagus, aku bisa memasangkannya dengan beberapa sekirei di daftar yang tidak disebutkan, atau membuat perannya sebagai sampingan seperti yang lain dan tentunya akan membantu pirang favorit kami. Atau mungkin saja aku bisa menambahkan beberapa gadis di Naruto verse untuk dijadikan sekirei.
Ada 108 sekirei dan Sakurako-san (pengarang asli Sekirei) belum pernah menyebutkan semuanya. Oke, mungkin karena itu merepotkan (?).
Abaikan.
Nah pokoknya, aku sangat membutuhkan saran untuk mewujudkan hal itu, tapi ini semua tergantung keadaan yang akan membawa cerita berkembang.
Bagi penggemar NaruMiya, sangat disayangkan bahwa aku sudah memberikan peringkat T ke cerita yang mencegahku untuk menampilkan adegan lebih jauh. Aku akan membiarkan kalian berimajinasi sendiri tentang hal itu XD.
Baiklah, aku rasa aku tidak memiliki maksud apapun. Sungguh :)))
Untuk penggemar NaruKara yang mendorong kalian untuk membaca cerita ini, aku minta maaf sebesar-besarnya. Penderitaan mereka mungkin masih panjang. (Tergantung)
Benar sekali, akan ada bab-bab yang masih dalam perjalanan panjang didepan. Begitulah.
Akhir-akhir ini aku sedang berusaha memanjangkan word. Chapter trick treath 1-3 itu memang harus dipisahkan untuk kepentingan Author dan imajinasinya. Biarkan saja tetap seperti itu dan kami semua mencintai Hannya dan Gagak perak kami.
Adios! Ciao!
Akumatsukami Log Out.
┌▪└ⱡ●□Ⱪꙋꜩ ꚌꜾꚒ꙯Ꙡꙣ
