Selamat datang kembali untuk diriku! Akhirnya laptop dan kepala author gaje ini telah diperbaiki dari virus malas dan bosan yang berlebihan!.

Apa kabar para pembaca!.

Terimakasih pada kalian yang telah mensupport author untuk terus melanjutkan cerita ini. Author terharu, meski keadaan word yang menyedihkan belum bisa teratasi dengan baik.

Benar, cerita telah memasuki season kedua dalam sekirei verse. Bagi kalian yang membuutuhkan informasi dasar tentang sekirei, jangan sungkan untuk segera mencaritahu di google karena cerita ini akan menjadi gaje dalam pandangan umum bagi mereka yang tidak pernah mengikuti cerita sekirei karya Gokurakuin Sakurako dan author tidak akan secara Cuma-Cuma memberikan informasi indah yang bermanfaat.

Author sudah mengumpulkan beberapa informasi penting yang sangat diperlukan, jadi begitulah dan begitulah dan bla bla bla...

Diclaimer : Saya tidak memiliki hak klaim pada Sekirei maupun Naruto. Gokurakuin Sakurako dan masashi Kishishimoto memang memiliki hak penuh klaim, tapi cerita ini milikku.

Warn; Typo Everywhere, karena author adalah manusia yang tidak bisa terlepas dari salah dan juga dosa serta khilaf yang direncanakan.

Rate; T

Pairing; NaruKaraMiya

~Selamat Membaca~

Sebelumnya;

Naruto dengan tenang mendudukkan dirinya di tepi sebuah gedung tinggi. Mata biru ceruleannya tanpa ekspresi mengamati bentuk awan-awan mengambang yang berhembus lambat dilangit biru cerah diatasnya. Dia mengenakan kimono gading dengan pola daun musim gugur, obi merah tua dan haori cokelat gelap tersampir dibahunya. Ditangannya kipas berpanel bajanya mengepak terbuka menutupi wajah pucatnya untuk menghindari sinar matahari yang memaksa masuk ke rentina matanya.

Dia menjentikkan jarinya untuk melipat kipas bajanya saat matanya melihat sosok bayangan mendekat kearahnya dari sisi gedung lain. Hidungnya berkerut dengan nyaman mencium bau kematian yang mengguar seperti jejak dibelakang sosok itu, seorang wanita yang sudah dikenalnya, dengan rambut abu-abu dan satu tangan mencengkram erat ganggang nodachi yang berselubung di pinggang ramping sampai buku-buku jarinya memutih dan ganggang kayu retak dibawah tekanan kekuatan cengkramannya. Wajahnya mengeras.

Mata abu-abu baja yang telah kehilangan ekspresi bosan-ramahnya dan kini menatap tajam kearah mata biru kosong tanpa ekspresi didepannya.

X
X
X

Rencana sekirei, merupakan kompetisi yang berbahaya dan sangat mematikanꟷpermainan hidup dan mati, yang dibuat oleh CEO MBI, Minaka Hiroto, yang mengaharuskan setiap pasangan ashikabi dan sekirei bertempur dengan pasangan ashikabi dan sekirei yang lain untuk merebutkan posisi teratas sampai hanya ada satu yang tersisa demi mewujudkan Era para Dewa.

Hubungan sekirei dan ashikabi mereka adalah hal yang aneh dan rumit. Menurut logika kamu bisa mengambarkannya seperti hubungan intim, kekasih, sahabat, keluarga, atasan dan bawahan, tuan dan budak, hingga sebuah aliansi.

Bagi Chiho Hidaka, yang sudah kehilangan keluarganya sejak usia muda, rencana sekirei itu memiliki berkah tersendiri pada kehidupannya. Dia bertemu dengan teman yang menjadi maksud dan tujuannya untuk melanjutkan hidupnya; Sekirei no. #10, Uzume.

Dia mencintai Uzume yang selalu ceria berusaha menghiburnya dan mengunjunginya setiap hari di kamar inapnya di rumah sakit. Sebagai ashikabi dari gadis itu dia merasa sangat tidak berguna karena penyakitnya membuatnya tidak bisa melakukan apapun. Apalagi saat hubungannya dan Uzume sebagai pasangan ashikabi dan sekirei telah mendeteksi berbagai perasaan cemas dan takut dari sekireinya.

Chiho tidak tahu apa, tapi dia yakin bahwa itu pasti disebabkan oleh keadaannya dan dia tidak bisa melakukan apapun, dia merasa lemah, dia tidak berguna. Dari jendela kamar rumah sakit yang ditempatinya langit luar terlihat sangat biru, awan mengambang, dan beberapa burung terbang bebas. Chiho kembali menundukkan kepalanya. Senyumnya sedikit melebar.

Kilasan pertemuan pertamanya dengan sekirei berambut coklat ceria itu melintas di kepalanya.

Semuanya akan baik-baik saja.

Chiho mengalihkan tatapannya dari jendela saat suara pintu terbuka dengan deritan pelan terdengar dan seseorang memasuki kamar inapnya. Rambut coklat dan senyum minta maaf diwajah sekireinya. Chiho hanya bisa menawarkan senyumannya, menyambut Uzume, menyakinkan dirinya sekali lagi secara mental.

Semuanya akan baik-baik saja. Pasti.

XXXX

Karasuba melompat-lompat melewati susunan gedung-gedung wilayah Barat Shinto Teito, dia menghentikan langkahnya ketika perasaan aneh tak asing yang menghantuinya beberapa minggu terakhir ini, kemudian dia mempercepat langkahnya dengan tergesa-gesa memasuki area kontruksi yang sepi, sambil mencari-cari sumber suar yang mengganggunya, seakan memohon untuk ditemukan tapi juga secara bersamaan menyuruhnya menjauh.

Dia menemukannya.

Disana duduk di tepi sebuah gedung tinggi, lebih tinggi dari yang lain di daerah itu, seorang pria berambut pirang panjang yang diikat dengan ekor kuda rendah, mengadahkan kepalanya kelangit. Dia menahan gemetar aneh dari rapuh dan kemarahan dan meletakkan tangannya di ganggang nodachinya. Panas dan sensasi membakar dalam dirinya. Pria itu menyadari kehadirannya dan berbalik kearahnya. Angin bertiup kencang diudara.

Sesuatu tentang mata biru itu terasa tidak asing baginya dan Karasuba merasakan emosinya berkobar seakan ingin melahapnya. Karasuba bisa dengan jelas mencium bau darah halus yang tersembunyi dengan baik dari arah pria pucat itu. Untuk sesaat Karasuba bisa melihat bayangan ilusi seorang pria lain dengan rambut pirang yang sama menatapnya dengan tatapan geli dan meremehkan dari mata biru dibalik kacamata bundar. Buku jari-jarinya memutih dan ganggang kayu retak dibawah tekanan kekuatan cengkramannya. Wajahnya mengeras, menatap tajam kolam biru kosong yang balik menatap kearahnya tanpa ekspresi.

Karasuba menatap wajah pucat itu, mencatat tidak adanya kaca mata bundar mencurigakan dan sinar geli disana, rambut pirang itu sudah lebih panjang, tidak ada pedang lain di tangannya; hanya kipas aneh dengan ukuran yang tidak biasa. Dengan tangan yang masih mencengkram erat pedangnya zero four akhirnya bertanya.

"Bolehkah aku menanyakan sesuatu yang aneh?."

XXXX

"Bolehkah aku menanyakan sesuatu yang aneh?" Zero four bertanya.

Pria pirang itu menggangguk, masih diam, bahkan tidak terkejut ataupun berkedip sedikitpun saat dia melompati gedung untuk sampai tepat di hadapan pria itu langsung. Itu bukan hal yang biasa; normalnya tidak ada orang yang bisa melompati gedung dengan jarak yang mengesankan tanpa banyak usaha, dan terlalu aneh bagi manusia untuk tidak bereaksi pada tindakannya yang tiba-tiba, pembunuh atau bukan, kecuali jika pria pirang kebetulan adalah seorang ashikabi, karena pria itu jelas bukan sekirei (tidak pernah ada berita tentang mahkluk spritual manapun yang mampu dijelaskan dan diterima oleh logika masa kini selain sekirei (mereka alien); bukan berarti itu bisa diterima dengan mudah oleh akal)

Zero four mendekat."Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Ya."

"apakah aku pernah mengenalmu?."

"..."

"..."

Menghembuskan nafasnya pelan, Karasuba mengarahkan abu-abu bajanya hanya untuk menatap kolam biru mata pria pucat didepannya,mencari-cari sesuatu disana. "Kamu siapa?" Katanya, suaranya nyaris tidak terdengar.

Pria pirang pucat itu mengarahkan wajahnya kembali menghadap langit.

"Jadi kamu tidak mengingatku, Karasuba."

Bukan Zero four, bukan Gagak kecil, tanpa sufix apapun. Pria pucat itu menyapanya dengan menyebut namanya dengan suara datar dan wajah tanpa ekspresi. Dan dia tidak tersenyum. Karasuba merasakan cengkraman pada pedangnya melonggar dan dia menunduk, rambut membayangi wajahnya.

Angin bergerak ringan diudara

Karasuba melesat dengan tangan terulur, mengenggam pedang, mengarahkan bilahnya kearah pria pucat yang terlihat tidak memperhatikan didepannya. Pria itu mengangkat kipasnya dengan cepat untuk memblokir serangan marah Karasuba dan menahannya dengan kedua tangan sebelum melompat mundur sambil menghindari ayunan nodachi panjang dengan tenang ke belakang.

Karasuba melompat mengejarnya, menebas diagonal kearah lawannya. Dia menahan diri, tentu saja, dia harus melakukannya jika tidak gedung tempatnya dan si pirang itu bertarung akan berubah menjadi puing-puing. Zero four tidak ingin Takami memberinya ceramah tentang fenomena kehancuran gedung dikota meskipun daerah tempatnya ini lebih sepi. Tapi hanya menunggu waktu saja sampai amarahnya meningkat dan sabetan pedangnya mulai mengiris-iris beton keras dan untuk memperparah situasi, keadaan pria asing yang relatif hampir tidak terluka berhasil membuatnya kesal.

"Kutanya siapa kau?!" Zero four mendesis marah dan menyerang lagi. Pria pucat itu melepaskan gelombang sayatan angin solid dari kipas baja ditangannya. Karasuba hanya menepisnya tanpa usaha dan maju untuk melanjutkan serangannya, sayatan pedangnya hanya berhasil memberikan goresan bersih pada pipi lawannya, dia harus mundur dari jangkauan tendangan kaki pria itu dan berdiri beberapa meter didepannya.

"Kenapa tiba-tiba."Pria itu berkata datar sambil menarik kakinya dari udara. Dia berdiri tegak , tangannya teracung menodongkan kipas bajanya yang terlipat, sekarang rusak, kearah sekirei berambut abu-abu didepannya. "jangan menyerang tanpa alasan. Apalagi dengan gerakan setengah-tengah seperti itu."

"Apa maksudmu." Zere four tetap ditempatnya, menatapnya dengan pegangan erat pada ganggang pedangnya. Menahan dirinya untuk tidak segera menyerang pria pirang itu.

"Apa yang kamu khawatirkan, Karasuba." Itu bukan pertanyaan. "Kamu kuat Karasuba. Tapi kamu yang sekarang belum bisa membunuhku."

Dia menyentakkan kipas bajanya."Sama seperti kamu belum pernah bisa membunuh Yumeꟷ

Sekirei berambut perak itu tersentak marah dan menyerang bahkan sebelum pria pucat didepannya sempat menyelesaikan kalimatnya. Dia meluncurkan dirinya ke pria itu, menyematkannya ke dinding dengan keras dan menempatkan bilah tajam pedangnya ke leher pucatnya hingga mengeluarkan darah. Zero four bisa mendengar dengan jelas bunyi tulang rusuk rapuh pria pucat itu retak dan dia memuntahkan darah dari mulutnya.

"jangan main-main denganku!." Karasuba menggeram dengan tatapan tajam. Rasa sesak memenuhi dadanya dan dia membenci perasaan itu, tangannya bergetar, mengenggam erat pedang didepan pria pucat yang hanya menatapnya dengan tatapan kosong, seolah menantangnya untuk melanjutkan tindakannya.

Yume adalah orang yang paling dekat dengan apa yang setiap orang bisa sebut 'teman' untuk Karasuba sebelum sekirei takdir itu memilih mengorbankan dirinya, inti sekireinya, jiwanya, untuk menyelamatkan #88 Musubi. Hal itu tidak pernah membantu Zero four dalam hal apapun selain menambahkan dan memupuk kebencian pada dirinya.

Rahang Karasuba mengepal erat, dia bisa merasakan rasa sakit yang lebih nyata menusuk-nusuk tangannya, Tsuka dari pedangnya sudah hampur robek hingga bilah Nakago mampu melukainya karena cengkramannya, tangannya sedikit berdarah dibalik sarung tangannya. Bukan berarti dia peduli. Dia menatap langsung kearah kolam biru kosong itu. Bau darah pria itu memenuhi indra penciumannya, dan itu terasa tidak asing, bau yang dikenalnya dengan baik dari masa lalu yang tidak bisa di ingatnya. Jauh sebelum dia mengenal sekirei takdir Yume, milik orang yangꟷ

"Aku Naruto." Wajah pria itu netral, tanpa ekspresi. "Kamu lengah, Karasuba." Dia menyeringgai dan Karasuba hanya mampu tertegun diam dengan mata terbelak saat genggamannya tiba-tiba tersasa kosong dan nodachinya melayang jauh, terlempar ke belakangnya dari atap gedung berantakan itu dalam satu gerakan.

XXXX

Mikogami Mansion.

Miya dengan baik bisa melihat pemandangan indah dari jingga matahari terbenam melalui balkon kamar ashikabinya. Tenang dan membuatnya nyaman dengan aroma kehadiran ashikabinya disekelilingnya, memenuhi ruangan, pengingat bahwa dia benar-benar menerima sayap dari pengawas, handler, dan guru; anak laki-laki berani aneh pendiam dengan pesona yang tidak bisa dia mengerti sebelumnya dan dia cintai, Ashikabinya, Naruto Namikaze.

Zero one menyandarkan punggungnya di dinding dan kembali menatap langit jingga diatasnya. Tangannya dengan tenang mencengkram cangkir tehnya. Sangat berhati-hati agar tidak memecahkannya. Dia bisa merasakan seluruh penghuni rumah besar Mikogami bergerak disekelilingnya dan titik-titik kecil sinar jejak sekirei ditempat itu berkedip malu-malu, menyebar.

Ikatannya dengan Naruto menghubungkannya dengan perasaan peringatan yang jelas bahwa keamanan ashikabinya sedanng dipertanyakan. Miya memejamkan matanya, keningnya berkerut sebentar sebelum dia menghembuskan nafas pelan. Dia menyesap tehnya.

Sore itu terlalu tenang untuk seleranya.

XXXX

Sanada Nishi tidak tahu harus mengatakan apa. Disuatu waktu dia sedang bersenang-senang dengan para sekirei manisnya sebelum dia harus pergi untuk membeli beberapa makanan ringan dan beberapa soda, di waktu berikutnya dia merasakan pertempuran hebat di dekatnya, jadi dia bergegas mencari sumbernya. Apa yang dia temukan membuat darahnya berdesir dan dia dengan terpesona mengawasi pertempuran didepan matanya. Dia tidak tahu siapa yang bertengkar diatas puncak gedung tinggi itu, tapi jelas keduanya bukan manusia dimatanya.

Sanada tidak bisa memenuhi keinginan batinnya yang bersorak menyuruhnya untuk melihat pertarungan dari dekat, tapi pikiran rasional di sudut kepalanya dan instingnya menjerit menyuruhnya menjauh segera dari sana.

Ada dua orang, salah satunya menggunakan pedang panjang dan mengenakan sebuah setelan tradisional Jepang berupa haori abu-abu gelap dan kimono modern dengan rambut abu-abu yang diikat ekor kuda lawannya adalah seorang yang menggunakan sejenis kipas ꟷjika dia mempercayai matanyaꟷ sebagai senjata dan juga menggunakan setelan tradisional Jepang berupa haori cokelat gelap dan kimono tradisonal dengan rambut pirang panjang Yang sepertinya cukup puas diam ditempat dengan menghindari dan memblokir setiap rentetan kombinasi serangan marah si kepala perak.

Mereka bertarung sambil beberapa kali berbicara, ada saat dimana mereka bertarung dengan santai dan tidak berbahaya seperti spar pada umumnya (mungkin), tapi kemudian segera berubah menjadi pertarungan dengan tujuan untuk saling membunuh. Mereka meningkatkan kecepatan mereka, saling berhadapan dengan gerakan terecana dan sempurna, ketika salah satu dari mereka menyerang maka yang lainnya akan maju untuk bertahan dan mundur untuk menunggu kesempatan. Bunyi benturan logam dan ayunan gelombang suara terdengar dengan sangat jelas diudara. Sanada menggigil ketika dia merasakan intensitas pertempuran keduanya dari tempatnya berdiri (bersembunyi).

Firasatnya mengatakan bahwa seorang dengan pedang akan segera menyapu keberadaannya tanpa pertanyaan dan firasatnya yang lain mengatakan bahwa seorang dengan kipas itu jauh lebih berbahaya.

Mereka adalah monster.

Sanada tidak pernah tahu berapa lama dia bersembunyi untuk mengamati pertempuran kedua kombatan itu ketika dia akhirnya memutuskan untuk mejauh dari medan pertempuran. Lagi pula ketiga sekirei kecilnya pasti sudah mulai khawatir karena dia sepertinya menghilang cukup lama.

XXXX

Kaos putih, jaket kulit dan celana jeans lusuh, rambut cokelat berantakan, dan penampilan tidak rapi. Seo Kaoru adalah contoh sempurna dari jenis pria pengangguran kasar, tidak memiliki otak, dan keras kepala, pemalas, dan juga sangat tidak beruntung. dengan kata lain; pria sampah tidak berguna, menurut definisi Miya. Dan dia adalah seorang freelancer berusia dua puluh lima tahun dengan motto hidup "Kami menyelesaikan masalah anda dengan harga."Pada saat yang bersamaan, dia adalah ashikabi resmi dari sekirei kembar #11 Hikari dan #12 Hibiki. Keduanya adalah sekirei tipe pengguna petir dan di paksa tinggal hidup berkecukupan dibawah standar bersama ashikabi mereka yang luar biasa tidak berguna.

Seo Kaoru sudah sangat sering mendengar komentar orang lain tentang dirinya tapi pendirian hidupnya terlalu teguh untuk goyah. Dia tidak peduli itu terdengar baik atau tidak karena itu bukan masalahnya. Dia hidup dan masih akan hidup untuk melihat hari esok.

Baiklah, Dia sepertinya harus meminjam (meminta) beberapa beras dan bahan makanan lagi untuk menopang kehidupannya dan kedua sekirei dibawah lindungannya untuk hari esok pada hannya menakutkan berkedok malaikat polos tertentu di penginapan Izumo beberapa kali karena kekurangannya atau dia akan berakhir menjadi 'Seo panggang' mengingat intensitas petir Hikari dan Hibiki yang cukup membakar dan sangat menyengat karena gagal memberi mereka apa yang mereka butuhkan. Hidup tidak pernah adil dalam pandangan Seo Kaoru.

Itulah kenapa sekarang dia berdiri dengan didampingi kedua sekireinya yang mengenakan seragam tempur sekirei mereka, didepan masuk sebuah rumah mewah trasdisonal jepang, berniat dan bersiap untuk menemui klien mereka. Pekerjaan ini cukup menjajikan untuk membuanya mendapatkan upah luar biasa agar kehidupannya dimasa depan akan menjadi lebih baik untuk beberapa waktu.

Seorang pria setengah baya dengan dasi dan jas pinguin rapi membuka pintu dan memandangnya dengan iritasi yang jelas di mata abu-abu pekatnya sebelum menggangguk anggun.

" Silahkan ikuti saya, Seo Kaoru-sama."

Dan Seo tidak tahu apakah dia harus memberi pria itu tepuk tangan karena berhasil mengetahui identitasnya tanpa bertanya atau mengacunkan jempol karena keprofesialisme pria itu yang sudah dengan sukses memanggilnya dengan sebutan kehormatan tak bercela tanpa terlihat merasa iritasi atau jijik seperti sebelumnya saat dia mengekor dibelakangnya bersama Hikari dan Hibiki di sampingnya.

Jalan panjang dari koridor luas yang mereka lewati sangat mengesankan dan mereka segera dihadapkan pada seorang pria muda dengan pipa panjang ditangannya, rambut pirang berantakan, berkulit tan mengenakan kimono oranye gelap dengan corak daun maple elegan yang terbuka, memperlihatkan dada bidangnya, duduk santai dikelililngi bantal empuk dan bersandar pada wanita berambut biru dengan mata levender yang jelas tidak nyaman dengan posisinya karena kehadiran mereka, terbukti dengan rona merah dan raut gugup panik manis diwajahnya. Untuk sesaat Seo kembali mengutuk dunia pada ketidak adilan hidupnya.

Pria muda itu bangun dengan enggan tapi menyeringgai langsung kearah Seo dan mendekat dengan gerakan paling bersahabat yang seharusnya tidak pernah dilakukan oleh seorang ningrat pada seorang rakyat jelata.

"Namaku Namikaze Menma, aku ingin kamu menemukan kakakku!."

XXXX

Suara telphone berdering memenuhi ruangan biru penuh rak buku dari sebuah apartemen mewah sederhana. Seorang pria dengan rambut raven dengan jengkel megangkat ganggang telephon rumah itu dan dia menghela nafas saat suara gadis yang sangat dikenalnya terdengar dari ganggang telephone...

'Halo Sasuke-kun'

"Sakura."

'dimana kamu sekarang sasuke-kun?'

"Indonesia."

'Menma memberitahuku bahwa kamu akan berkunjung ke Teito'

"Hn."

'Eeh.. padahal aku akan ke Indonesia untuk menjemputmu!'

"Hn."

'Kenapa tidak bisa?, hei Sasuke-kun...'

"Hn."

'Menma bilang, Naruto-san juga ada di Teito. Kurasa dia tidak berbohong, aku bahkan sudah memesan tiket pesawat ke Jepang. Hei Sasuke-kun...Eh TUNggu jangan ditutup! Sasuke-kun!'

Ttuuuuut tuutꟷ

To be Continued

Terimakasih karena telah meluangkan waktu kalian yang berharga untuk membaca cerita ini.