Harry Potter © J. K. Rowling
[Direkomendasikan sambil mendengarkan lagu instrumental, link di bio]
.
Seminggu ini kabar burung sedang ramai dibicarakan di Hogsmeade, membuat semua orang resah. Poster-poster bertuliskan 'dicari' ditempeli di papan informasi dan di tembok-tembok kusam. Poster itu berisi potret wajah lelaki yang terlihat kurus, rambutnya digambar acak-acakan. Rumornya ia adalah pembunuh kejam yang kabur dari penjara bawah tanah Azkaban. Aku melihat nama pembunuh itu ditulis besar-besar. Sirius Black.
Kata Hagrid aku harus berhati-hati setiap saat mulai sekarang. Entah maksud apa dari perkataan Hagrid itu. Ia pun selalu menghindari pertanyaanku mengenai Bangsawan berpakaian gelap yang tak sengaja kujumpai dua minggu lalu. Hagrid pasti tahu sesuatu.
.
Sepulang dari memanen tomat di halaman belakang rumah keluarga Weasley, aku mendengar sekelompok orang bercakap-cakap. Kubuka pintu dapur dengan perlahan, mencoba meredam suara deritnya yang menyalak nyaring. Telingaku mendengar suara yang cukup familier ketika aku melepas tas keranjang terisi penuh oleh tomat besar.
"Ia pasti tak akan tahu kalau Harry kita sembunyikan di sini."
Profesor Dumbledore.
Dengan hati-hati aku mendudukan diri di sebelah keranjang tomat di atas dipan. Jutaan pertanyaan menyentak otak, gugup menyergapku. Kudapati diriku tengah menguping lebih jauh. Ron dan anak-anak Mr. Weasley yang lain belum selesai memanen tomat. Sedangkan Ginny pergi ke penggilingan Hermione. Kuharap mereka tak segera kembali.
"Tetapi, Sir, tetap saja kami khawatir," kudengar suara Ms. Weasley yang terengah, mendesak. "Aku tahu kalau tempat ini adalah tempat terpencil, tetapi bukan berarti tempat ini tak bisa ditemukan. Cepat atau lambat 'ia' pasti akan kemari."
"Molly benar, Sir. Kami tak berani membayangkan kalau 'ia' akan―kami mohon, Sir, demi keselamatan Harry."
Pernyataan Mr. Weasley membuatku terkesiap. Siapa itu 'ia'? Mengapa 'ia' tak boleh kemari? Dan apa sangkut pautnya denganku?
"Harry sudah berumur lima belas tahun. Ia sudah cukup dewasa untuk memahami situasi ini dan jika Harry ikut Anda ke Ibu kota, itu akan jauh lebih aman untuknya."
"Ibu kota tak akan cocok untuk Harry, Arthur. Dan kau tahu benar alasan mengapa Harry kutitipkan padamu."
"Tetapi, Sir, 'ia' di sana pasti tak bisa menyentuh Harry. 'Ia' adalah Buron yang paling dicari di seantero negeri. 'Ia' tak bisa berkutik di Ibu kota," suara Mr. Weasley terdengar menuntut. Aku terdiam, masih mencuri dengar dengan pikiran kalut. Hingga pernyataan dari Ms. Weasley seolah menikam otak, aku membeku.
"Sudah cukup 'ia' merenggut James dan Lily dari kita, Sir. Kumohon bawalah Harry ke Ibu kota, kami takut ia tak lagi aman di sini. Sirius Black pasti akan menemukan tempat ini, Sir."
Saat itu aku tak melihat Ron, Fred dan George yang tengah membuka pintu dapur dengan kekehan. Dan aku tak menyadari bahwa bahuku menubruk mereka hingga membuat bola-bola tomat mereka melompat-lompat dari tas keranjang. Aku juga tak mengerti kenapa aku berlari sekuat tenaga menuju padang gandum yang gundul. Yang kuinginkan hanya berteriak sekuat tenaga. Mata panas seolah terbakar dan lidahku mengecap guyuran air asin. Aku tak pernah merasa seterpuruk ini dalam hidup.
.
.
Tiga hari ini aku tak bisa tidur. Risauku terlihat jelas untuk Ron. Ia memang tak bisa kubohongi, mendesak tentang tingkahku yang menurutnya tak biasa ini. Tetapi aku tetap bungkam. Di dalam otak, aku merencanakan berlembar-lembar skenario lain.
Di pagi buta berikutnya aku membuka pintu dapur, satu jam sebelum Ms. Weasley bangun―anggota keluarga Weasley pertama yang giat bangun pagi. Udara dingin seketika menusuk tulang. Kurapatkan jubah kumalku dan menyamankan posisi tas kainku yang buluk.
Ketika aku hendak menutup pintu dapur, sebuah suara yang tak mungkin meluncur di pagi buta ini mengejutkanku, "Harry?"
Aku berbalik. Kulihat Ron berdiri diujung meja makan dengan ekspresi heran dan marah yang bercampur. Aku mengalihkan pandangan.
"Aku akan pergi, Ron."
"Ke mana? Dan apa-apaan ini, Harry?" suara Ron terdengar lebih marah.
"Aku harus pergi dari sini," aku menatapnya tanpa ragu. "Atau kalian yang akan dalam bahaya."
"Aku tidak mengerti arah pembicaraan ini."
"Terima kasih untuk semua yang telah kalian lakukan dan berikan padaku. Aku menghargai itu semua, sungguh. Dan semoga kalian selalu sehat," punggungku berbalik, aku menahan emosi yang mulai meletup di dadaku.
"Tunggu, Harry!" Ron setengah berteriak. "Ceritakan padaku apa masalahmu? Kita teman 'kan, sobat? Jangan seperti ini Harry."
Aku terdiam, cukup tergoda untuk menumpahkan segala kerisauanku selama ini. Tetapi tidak. "Ini masalahku, Ron. Akan kuselesaikan sendiri. Sampai jumpa di lain waktu."
Dan aku berlari sekuat tenaga. Dapat kudengar teriakan Ron yang menyalak-nyalak dan jeritan kesal Ms. Weasley yang jam tidurnya berkurang satu jam lebih cepat.
.
Langit lembayung seolah menyentilku. Aku berlari cukup lama hingga fajar menyingsing. Dan kini di depanku adalah pintu pertama dari lembaran skenario yang telah kususun. Rumah Hagrid.
Pintu terbuka sebelum kepalan tanganku menyentuhnya. Hagrid terlihat terkejut melihatku. Kail pancing dan ember kayu di tangan kanannya. "Oh, halo, Harry! Tumben sekali kau pagi-pagi menemuiku," Hagrid mempersilahkanku masuk kemudian.
"Halo, Hagrid," kurapatkan jubah kumal, dan beringsut maju.
Hagrid berbalik dariku, dengan sigap menuangkan teh dari teko besar. Asap putih mengepul-ngepul, cangkir teh itu disodorkan padaku yang tengah duduk di seberang meja makan.
"Jadi, Harry, apa yang bisa kubantu?"
Mendadak aku ragu untuk mengutarakan niatku. Aku menatap Hagrid, ia dengan sabar menunggu balasanku. Kuraih kuping cangkir, uap hangat menerpa wajahku. Tanpa sadar aku menahan napas.
"Bolehkah kupinjam salah satu kudamu untuk beberapa waktu, Hagrid? Aku ada urusan penting."
Hagrid terdiam, menatapku penuh selidik. Bibir kugigit dengan gelisah. Kalau daftar skenario ini gagal di awal, maka sia-sia saja semua rencanaku.
"Kumohon ... "
Setelah terdiam cukup lama menatapku, akhirnya Hagrid bersuara, " ... baiklah, Harry. Aku percaya padamu." Hagrid bangun dan menjauh, mendekati perapian, kemudian berbalik dan mendekatiku. lengan kananku ditarik, Hagrid menatapku sambil berkata, "apa pun masalahmu itu, Harry, semoga ini sedikit bisa membantumu."
Pandanganku beralih pada 'sesuatu' yang Hagrid letakan di telapak tanganku. Sekantung uang yang terbungkus kain kumal. Kantung itu tidaklah gemuk, tetapi aku terharu melihatnya. Dengan cepat aku menubruk Hagrid dengan pelukan. "Terima kasih banyak, Hagrid."
"Sama-sama, Harry. Dan kau bisa bersama Aragog, "Hagrid menepuk-nepuk punggungku. "Aragog tidak kupinjamkan, Harry. Aku memberikannya untukmu. Terlalu banyak kuda yang perlu kuurus."
Aku terkekeh.
Kemudian aku pergi dengan bekal buah-buahan Hagrid dari kebunnya.
Pintu pertama berhasil kulewati. Aku tidak tahu kedepannya rencanaku akan berjalan semulus ini atau tidak. Tetapi yang pasti, jika 'ia' mencariku―jika Sirius Black hendak membunuhku, maka aku siap menghadapinya.
.
.
Bersambung
Authors:
12nnth, Ini sudah saya lanjut :D
Dan terima kasih bagi yang sudah memfavoritkan dan mem-follow fanfiksi ini :D
Di chapter depan Harry akan bertemu dengan Draco, sepertinya *ditimpuk*
Saya cukup kaget dalam menulis chapter ini, karena bisa kelar dalam beberapa jam. Karena chapter pertama saya butuh berhari-hari untuk menyelesaikannya, lol. Apakah ada yang menyadari perbedaan mencolok dari chapter ini? Yup, chapter ini saya tulis lebih sederhana dan tidak sekaku di chapter awal. Jujur, saya tidak biasa menulis dari sudut pandang orang pertama. Semoga gaya tulis saya yang ini menjadi lebih nyaman untuk dibaca oleh para pembaca sekalian. Dan kemungkinan untuk chapter-chapter depan saya akan tetap merekomendasikan lagu-lagu intrumental untuk fanfiksi ini. Kritik dan saran saya terima dengan senang hati *buka tangan*
