Orang ke-tiga pt. 2

Kiba berusaha mengatur suasana hatinya dipagi ini. Ia masih tidak bisa berfikir dengan jernih, kenapa pagi-pagi seperti ini istrinya malah menampar dirinya tanpa ada alasan yang jelas. Raut wajah Tenten setelah menampar Kiba hanya biasa saja, ia malah tidak memerdulikan perasaan Kiba yang kaget campur dengan bingung.

"Sabar Kiba, sabar," Kiba berusaha menenangkan dirinya yang masih syok berat akibat kejadian pagi barusan. Tenten yang mendengar perkataan Kiba barusan tambah kesal setengah mati.

"Apa dia bilang? Sabar? Harusnya aku yang bilang. Dasar menyebalkan."

Tenten langsung pergi, dengan mood yang tidak bisa didefinisikan. Rasanya ia jadi ingin menangis ketika tau apa yang terjadi sekarang, sedangkan Kiba yang masih belum bisa menerimanya menahan tangan Istrinya yang keras kepala ini dengan pelan tapi pasti.

"Aku butuh penjelasan," Tenten dengan raut wajah yang kesal bercampur ingin menangis pun menghempaskan tangan Kiba dengan keras. Ia menatap Kiba dengan mata yang sudah memerah.

"Harusnya kau itu berfikir, kenapa bertanya padaku!"

"Aku sudah berfikir dengan keras, tapi aku memang tidak melakukan kesalahan apapun padamu Tenten."

Tenten tersenyum meremehkan, ia menyeka air matanya yang hampir keluar, "Tidak melakukan kesalahan? Bullshit."

Suasan disekitar mereka mendadak menjadi tambah mencengkam, Kiba sadar betul jika Tenten sekarang dalam mode yang sangat marah. Jadi bicara selembut apapun pasti akan dijawab dengan nada yang ketus dan sedikit bentakan. Yah dapat dilihat dari sebelum-sebelumnya nada bicara dan perkataannya. Kiba tidak mau ambil pusing lagi, lebih baik dia bertanya pada orang yang menyebabkan masalah dipagi ini.

Kiba menghembuskan nafas kasar, ia beranjak pergi dari tempat ini, itu adalah pikiran yang tepat baginya. Tenten yang sadar betul jika suaminya ini ingin pergi tanpa perasaan bersalah pun berteriak kesal, marah dan sedih sekaligus.

"KIBAAAA!!! Hiks.. hiks.."

Kiba tetap saja berjalan kepintu keluar kamarnya. Ia bermaksud untuk mengambil sesuatu diruang tengah apartemennya. Tenten yang sudah kesal dan marah karena perkataanya tidak didengar oleh suaminya pun menghempaskan tubuhnya dengan kasar di ranjang. Sesekali juga ia menendang-nendang semua yang ada diranjang, selimut dan bantal pun sudah berserakan dilantai.

"Hiks.. Hikss.. AAAA.. Kiba kau jahattttt.."

Tenten menangis dengan sesegukan, disertai juga dengan teriakan-teriakan kesal karena sang suami tidak memperdulikannya lagi. Siapa yang tidak kesal coba jika berada diposisi Tenten?

Beberapa menit Kiba keluar, akhirnya ia datang lagi dengan membawa benda persegi empat canggih yang sudah pasti itu adalah ponsel. Tenten yang mendengar suara pintu kamarnya terbuka pun cepat-cepat bangun dan berlari ke arah Kiba dengan air mata yang masih mengalir dengan deras. Ia sekarang sudah tepat didepan Kiba.

"Kiba! hiks.. hiks.."

Kiba yang tau jika Tenten memanggil namanya disertai dengan tangisan pilu berusaha mengabaikannya, ia berjalan terus ke arah meja kerjanya tanpa menatap Tenten sedikit pun. Tenten yang merasa diabaikan pun tambah menangis lagi, "KIBAAAA!!!.. hiks.. Hiks.. JAHAT!!!..."

Kiba tetap berusaha menulikan telinganya, ia harus mencari tau kenapa Tenten sekarang ini marah-marah padanya. Ia mengobrak-abrik meja kerjanya dan akhirnya, benda yang ia cari ketemu.

Buku telepon.

Itu adalah benda yang ia cari. Ia mencari-cari nomor telpon ibunya karena di ponsel yang sekarang ia pegang ini, ia tidak mensave nomor orang-orang terdekatnya karena ponsel ini baru beberapa hari ia beli. Ia beli ponsel ini juga karena ia berfirasat jika dalam beberapa hari ponselnya yang lama akan rusak, dan bagaikan peramal yang mempunyai kekuatan mistis hal tersebut ternyata benar.

Kiba menekan tombol hijau dilayar ponselnya.

Tutt... Tut...

Masih belum tersambung. Sambil menunggu sang ibu mengangkat telponnya, Kiba menengok ke arah Tenten yang sekarang ini sudah berguling-guling dilantai sambil menendang-nendang pintu, tidak lupa suara tangisannya yang kecang. Berbagai macam umpatan pun keluar dari mulut istrinya.

Ya beginilah sifat asli Tenten..

Manja dan kekanakan.

Sifat yang selalu mampu membuat Kiba kesal bersamaan dengan senang.

"Moshi-moshi, dengan keluarga Inuzuka."

"Ini aku Kiba bu."

"Oh Kiba. Kenapa pakai nomor baru, nomor lamamu kemana?"

"Masih ada. Tapi ponsel ku sekarang rusak nih gara-gara Ibu."

"Gara-gara Ibu?"

"Iya. Yasudah lah lupakan, ibu bicara apa pada Tenten?"

"AAAA!!! KIBA BRENGSEK, LIHAT SAJA. NANTI HIKSS..hiksss.."

Belum sempat menjawab pertanyaan barusan Kiba, sang ibu sudah mendengar teriakan dan tangisan serta umpatan Tenten.

"Kau apakan Tenten?!"

Kiba menghembuskan nafas kasar.

"Ibu yang apakan!? Tau-tau setelah telpon ibu terputus dia jadi seperti itu. Ibu bicara apa memangnya?"

"Masa sih? Ibu tidak percaya. Pembicaraan dengan Tenten tadi apa ya?"

"Akh, ibu. Coba ingat-ingat Ibu, aku kan tidak tau apa-apa masa tiba-tiba ditampar bu."

Ibunya setelah mendengar ucapan Kiba langsung tertawa keras. Kiba yang mendengar tawa ibunya pun mulai kesal, bukannya diingat bicara apa malah menertawakan anakknya.

Dasar ibu menyebalkan yang bentuknya kek gini nih.

"Jangan tertawa bu."

Sang ibu masih berusaha menghentikan tawanya dan beberapa detik kemudian sang ibu pun sudah bisa mengatur nafasnya.

"Huft. Ibu hanya bicara soal positive atau belum."

"Positive? Positive apanya bu?"

"Itu orang ketiga pelengkap dari rumah tangga kalian, yaitu seorang anak."

Kiba masih belum paham maksud dari pembicaraan ibunya.

"Maksudnya apa bu? aku tidak mengerti?"

"Aduh dasar bodoh. Maksud ibu Tenten sudah hamil apa belum, jadi orang ketiga itu anak kalian Kiba."

Kiba berfikir sebentar, dan beberapa detik kemudian Kiba baru sadar dan tertawa bodoh dengan kerasnya. Ibunya juga sama tertawa dari sebrang telepon.

"Ternyata Tenten hanya salah paham," itu adalah pemikiran Kiba tentang masalah ini.

Tenten yang mendengar Kiba tertawa dari telepon pun bangun dari duduknya. Ia berlari kearah Kiba dan berusaha merebut ponsel yang dipegang Kiba. Kiba yang kaget pun refleks menaikan ponselnya tinggi-tinggi agar tidak dilempar lagi oleh Tenten.

"Hahahahaha."

Kiba malah tambah tertawa dengan keras karena melihat ekspresi Tenten yang masih saja menangis dengan alasan yang menurut Kiba itu sangat konyol sekaligus lucu.

"Sini ponsel mu hiks.. hiks.."

"Iya-iya. Tunggu."

Kiba memutuskan telponnya secara sepihak. Sebelum memberikan ponselnya ia menghapus panggilan keluarnya barusan, ia ingin melihat ekspresi Tenten yang menurutnya sangat lucu.

"Ini," ia memberikan ponselnya pada Tenten. Dengan cepat Tenten pun mengambilnya, ia langsung mengecek panggilan keluar Kiba dan ternyata...

Kosong.

Pikiran-pikiran negatif mulai menghantui Tenten. Apa barusan ia berbicara dengan sangat senang seperti itu oleh perempuan yang disebut orang ketiga tersebut?

Dengan perasaan yang kecewa berat sekaligus sedih dan marah, Tenten mengembalikan ponsel Kiba.

"I-ini hiks.." Kiba pun menerimanya dengan senyuman bodohnya.

"Sudah selesai menangisnya?" tanyanya masih dengan senyuman bodoh yang menyebalkan. Tenten makin emosi ketika melihat ekspresi Kiba yang bisa dibilang itu sangat menyebalkan.

Sungguh, pria ini mampu membuat orang darah tinggi hanya dalam beberapa jam didekatnya.

"Kalau kau diam berarti tandanya sudah selesai. Nah sekarang aku lapar, mari kita sarapan," ajak Kiba tanpa bersalahnya. Ia menggenggam tangan Tenten, Tenten yang digenggam hanya diam tidak memberikan respon apapun. Ia hanya memberikan respon lewat air matanya yang sudah mengembang dipelupuk mata.

"Ayo," Kiba menarik tangan Tenten. Tapi yang ditarik tidak mau mengikuti langkah kaki Kiba, Kiba pun menengok dan ia hampir menyemburkan tawanya ketika melihat Tenten yang sudah menangis lagi.

"Hiks.. Hiks.. aaa..." Tenten langsung berlari ke kasur dan menutupi wajahnya dengan bantal. Sungguh pemandangan yang konyol sekali untuk kedua kalinya. Kiba yang tadinya ingin tertawa lagi perlahan mulai merasa kelewatan karena membuat istrinya menangis dengan tulus seperti sekarang.

Perasaan ibanya baru muncul.

Dasar suami kurang ajar memang si Kiba ini.

Kiba berjalan kearah ranjangnya. Ia duduk ditepian ranjang menatapi bantal yang sudah bergetar hebat. Tangis pilu pun sudah terdengar ditelinganya. Dengan perasaan yang bersalah, Kiba menarik bantal yang sedari tadi dipeluk Tenten dengan erat untuk menutupi tangisannya sendiri yang bisa dibilang memalukan karena menangisi seseorang yang tidak punya perasaan bersalah sedikit pun. Padahal tanpa diketahui Tenten, orang yang ia tangisi sekarang ini sangat lah peka terhadap dirinya.

"Gomen," satu kata yang mampu terucap dari mulut manusia menyebalkan yaitu Kiba.

Tenten yang sudah sangat emosi pun langsung bangkit dari ranjang dan melempari Kiba dengan bantal yang ia pegang.

TBC

Adah gimana nih, ngapa jadi ada melownya nih cerita ahahha padahal niat awal mau bikin humor aja.

Niatnya mau bikin two shoot ngapa kaga selesai-selesai ini. Kalo respon bagus ya kita lanjut, kalo engga ya tetep dilanjut lah ahahah. Author gaje kaya gini nih.