pt.3
"Cepat katakan padaku siapa orang itu?!" Tenten mulai berteriak didepan Kiba dengan frustasi, tidak lupa ia masih memukuli Kiba dengan bantal yang ia pegang. Air matanya semakin mengalir dengan deras, Kiba yang dipukuli tidak memberontak sama sekali. Hal ini lah yang membuat Tenten semakin kesal, jika Kiba tidak menjawab pertanyaannya malah pasrah dipukuli olehnya seperti sekarang Tenten dapat mengambil keputusan jika hal itu benar.
Tenten tersenyum miris, "Oh God. Ternyata benar kau berselingkuh dengan wanita lain kan hiks?"
Kiba yang mendengar hal tersebut tidak bisa menahan tawanya sendiri, Tenten yang mendengar hal itu tambah kesal. Kenapa orang didepannya ini tidak merasa bersalah sama sekali?
"Dasar breng-"
Kiba dengan cepat membekap mulut Tenten.
"Tidak boleh berkata kasar sayang."
Plak
Tenten menampar pipi Kiba kembali. Kiba yang ditampar hanya bisa menampilkan senyum bodoh andalannya, dengan gerakan cepat ia langsung memeluk istrinya. Tenten yang dipeluk tiba-tiba oleh sang suami pun terdiam sesaat, ia bingung dengan sikap dari suaminya ini. Dari awal mereka bertengkar, sang suami tidak pernah menjawab pertanyaannya atau menjelaskan sesuatu padanya. Tapi sekarang? Ia tanpa rasa bersalah memeluk dirinya seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
Tapi pada nyatanya memang tidak terjadi apa-apa kan hohoho.
"Ya Tuhan hiks.."
Tenten masih meneteskan air mata, sedangkan Kiba. Ia mengeratkan pelukannya pada sang istri, tidak lupa ia memberikan kecupan-kecupan singkat di dahi Tenten. Tenten yang diperlakukan seperti ini hanya bisa diam karena hati dan tubuhnya tidak sinkron. Hatinya mengatakan tidak, tapi tubuhnya mengatakan iya. Setelah memberikan kecupan singkat di dahi sang istri, Kiba menghapus air mata yang masih mengalir di wajah sang istri, setelah menghapus air mata Tenten ia bergerak mengelus wajah sembab dihadapannya dengan lembut. Tidak lupa senyuman yang paling tampan yang dimiliki Kiba ia keluarkan hanya dihadapan sang istri.
Pertanyaan utama, memangnya ada senyuman tampan versi Kiba?
Mungkin ada, jika dilihat dari mata Tenten.
"Aku akan jelaskan maksud ibu tadi. Jangan memotong ucapan ku dan jangan ada kekerasan lagi sebelum penjelasan ku selesai. Janji?"
Tenten mengangguk.
"Baguslah."
"Yasudah cepat katakan."
"Maksud ibu orang ketiga itu bukan seperti yang kau pikirkan, orang ketiga yang ibu maksud adalah anak."
"Anak?"
Kiba mengangguk disertai senyum, "Iya anak. Maksud dari positif adalah kau sudah hamil anakku atau belum."
Tenten terdiam seolah sedang berfikir. Beberapa saat kemudian ia berteriak.
"AAA... Kiba bodoh!" Tenten langsung memukul Kiba dengan bantal yang ia pegang sedari tadi. Kiba tertawa keras setelah melihat respon istrinya.
"Bodoh.. bodoh.. bodoh... "
"Ahaha siapa yang bodoh? Kau sendiri yang terlalu berlebihan hahaha.."
"Kau yang tidak jelas bicaranya, bukan aku yang berlebihan!"
Bugh bugh
"Eh eh, tapi kau memang berlebihan."
Bugh bugh
"Aku tidak berlebihannn!"
"AAAA... KIBA BRENGSEK LIHAT SAJA NANTI! Siapa yang mengatakan itu hahahaha."
"Aku tidak begitu Kiba!"
Baru Tenten ingin memukuli Kiba dengan bantal yang ia pegang, Kiba sudah berdiri dari kasur dan mencoba untuk kabur keruang tengah. Tenten yang melihatnya pun reflek mengikuti kiba juga.
"Sini kau Kiba!"
"Tidak mau. Siapa ya tadi yang berguli-guling tidak jelas dilantai sambil menendang-nendang pintu kamar hahahaha."
Kiba benar-benar tertawa dengan puas melihat ekspresi Tenten yang berdiri jauh didepannya. Sedangkan Tenten, ia hanya bisa menahan malu ketika kelakuannya beberapa menit yang lalu disebutkan. Wajah yang tadi semula sembam karena menangis sekarang berubah menjadi merah menahan malu.
"Sudah menendang pintu, banting-banting ponsel lagi. Istri siapa itu aku tidak kenal hahahah."
"KIBA!!!"
Dengan kesal ia melempar bantal yang dipegang kehadapan Kiba, sedangkan Kiba bisa menghindarinya. Terlihat dengan jelas wajah mengejek itu dihadapan Tenten, dengan kesal bercampur malu Tenten pun berbalik badan bermaksud ingin masuk lagi ke kamarnya. Sungguh saat ini ia benar-benar malu, Kiba yang melihat Tenten berjalan kearah kamar pun berlari kearah Tenten dan memeluknya dari belakang.
Dengan cepat ia mencium pipi Tenten, "Maafkan aku ya?"
Tenten menengok ke arah Kiba yang sudah menyenderkan kepalanya di bahu kiri Tenten.
"Tidak!"
Cup.
Ia mencium pipi Tenten lagi dengan cepat.
"Bilang saja malu kan karena salah hmm?"
Pipi Tenten pun memerah kembali ketika Kiba mulai membahas hal itu lagi, Kiba yang melihatnya tertawa.
"Baiklah baiklah. Kau memang malu tapi tidak mau mengakuinya."
"Iya aku mengaku, tapi masalah ini kau juga ikut salah!" Tenten menatap Kiba dengan sinis. Kiba mengecup bibir Tenten sekilas.
"Iya iya semua salah ku, sekarang kita lanjutkan tidur kita tadi."
Kiba mulai berjalan sambil mendorong tubuh Tenten yang masih berada di pelukannya agar mengikuti arahannya.
"Aku sudah tidak mengantuk tau."
"Ya tapi aku masih mengantuk."
"Yasudah tidur sendiri sana."
"Aku maunya berdua."
"Aku sekarang lapar."
Kiba berhenti, ia membalik badan Tenten agar menghadap kearahnya.
"Ingin makan apa?"
"Aku ingin makan nasi kari."
"Pesan ditempat biasa?"
"Aku ingin kau yang memasak."
Kiba membulatkan matanya.
"Aku?"
Tenten mengangguk.
"Aku tidak bisa memasak itu, kalau mau kita makan ramen nanti aku yang memasak untukmu."
"Aku maunya kari bukan ramen."
"Pesan diluar saja ya?"
"Tidak mau!"
"Minta buatkan ibu kalau begitu."
"Kalau ibu yang buatkan aku tidak akan memakannya."
"Kenapa mendadak menjadi memilih makanan? Biasanya juga tidak, apa jangan-jangan,"
"Jangan-jangan apa?"
"Kau hamil?"
Bugh.
Itu bunyi pukulan yang diberikan Tenten dikepala Kiba.
"Kemarin sudah ada flek di celana dalamku, jadi sudah pasti sekarang aku haid."
"Oh, yasudah duduk di sana dan aku coba buatkan untukmu. Jika tidak enak bagaimana?"
"Ya kau yang habiskan."
"Terus kau makan apa?"
"Ramen."
#TBC
Aduh diriku tiba-tiba kangen sama cerita ini, ada yang sama juga ga sama saya hahahha.
