Keesokan harinya Mamori terbangun, ia berada dalam dekapan sang iblis di atas kasurnya. Meski semalam berdebat dan Hiruma gagal melancarkan aksinya, tapi ia tetap mendekap Mamori dengan lembut.

Mamori bergegas menuju kamar mandi, ia membasuh tubuhnya kemudian bersiap. Setelahnya Mamori pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Dia menunggu kekasihnya bangun namun yang ditunggu justru tak kunjung menampakkan dirinya. Mamori melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 7.

"Apa yang dilakukannya? Hari ini dia menyuruh semua orang berlatih bukan?" ucapnya sedikit kesal, Mamori masuk ke dalam kamarnya dengan apron rocket bear kesayangannya.

"Youichi..." panggilnya lembut namun dengan nada sedikit tinggi. Ia mendekati Hiruma yang masih terlelap, tadinya dia ingin berteriak kesal, namun melihat wajah Hiruma yang terlelap membuatnya terdiam. Ia duduk di sampingnya dan memandangi sang iblis yang masih menutup matanya, perlahan-lahan Mamori mengusap lembut rambutnya.

Ia menyingkirkan beberapa rambut yang menghalangi wajahnya.

"Hn? Kukira rambutnya tajam dan kaku, ternyata sangat lembut." Ucap Mamori pelan sembari tertegun, ia terus mengusapnya hingga senyum terlintas di wajahnya. Mamori mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Hiruma. Sadar dengan kelakukannya ia bergegas bangkit dan meninggalkan Hiruma. Wajahnya sangat merah akibat perbuatannya sendiri.

Sementara Hiruma, ia mengalihkan wajahnya yang juga memerah.

"Dasar wanita bodoh." Ucapnya menyembunyikan wajahnya. Usai kejadian itu Hiruma keluar dengan wajahnya yang biasa, sedangkan Mamori malah terlihat gugup. Melihat kegugupannya membuat keisengan Hiruma muncul di pagi hari. Ia menggoda Mamori yang jelas-jelas sangat mudah untuk digoda.

Mereka berdua pergi ke universitas bersama-sama, sesampainya di sana semua orang sudah mulai melakukan pemanasan. Bahkan ada yang sudah mulai berlatih dengan serius didampingi Karin.

Mamori tersenyum menyapa semua anggotanya, sedangkan Hiruma hanya terlihat acuh. Ia pergi untuk mengganti pakaiannya.

Mamori menjelaskan latihan yang akan mereka jalankan selama 3 minggu ke depan. Saat sedang menjelaskan sebagian rinciannya, pelatih mereka datang.

Dia hanyalah seorang pelatih american football biasa dan mantan pemain NFL Jepang, namanya Akaashi Hirato. Akaashi mendekati Mamori dan seluruh anggota timnya, ia berbicara tentang sesuatu, baru mulai berbicara 5 menit tapi sudah membuat semua orang terkejut.

"EH!? KENAPA SEKARANG!?" seru semuanya bersamaan.

Yang dibicarakan Akaashi tidak jauh mengenai masalah American Football Youth World Cup tiga tahun yang lalu. Dulu Marco seorang sponsor yang juga mantan pemain NFL Amerika memberikan hadiah sebanyak 3 Miliar Dollar atau lebih tepatnya 300 Miliar Yen, juga eklusif rekruitmen menjadi NFL player untuk tim San Antonio Armadilos. Namun Marco sama sekali tidak mengungkitnya sebulan setelah pertandingan, ini menyebabkan banyak kontroversi. Semua orang merasa kecewa padanya, tapi mereka juga tidak tahu apa sebabnya.

"Marco menghubungiku. Dia akan membawa tim american football dari negerinya. Sebelumnya dia memberitahuku alasan belum mengumumkan pemenang untuk Youth World Cup lalu." Jelas Akaashi, ia terdiam cukup lama. Hal itu membuat semua orang cemas juga khawatir di satu sisi. Mereka merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, Mamori melihat sekelilingnya mencari sang kapten.

Namun tak berapa lama yang terlihat justru Sena berlari bersama Suzuna, Riku, Monta, Kurita. Dan dari sisi lain terlihat beberapa orang lainnya datang mendekat, Kid, Musashi, dan Gaou. Semuanya berkumpul ikut mengerumuni anggota Saikyoudai.

"Sena? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Mamori heran, diikuti Yamato, Taka, dan anggota lainnya. Mereka berbicara terbata-bata, hingga akhirnya Akaashi yang berbicara.

"Bukankah ini sudah jelas... Bahwa pemenang dari MVP untuk World Cup ada di Jepang." Sekali lagi perkataannya membuat semua orang terkejut. Mereka mulai menebak dan mengira-ngira siapa yang akan menjadi pemenangnya.

Tapi di sisi lain Sena justru merasa murung, hal itu langsung ditanggapi oleh Mamori.

"Apa ada yang salah Sena?" tanya Mamori lembut, Sena pun mengangguk dan memutuskan berbicara.

"Un, sebenarnya tadi pagi Panther-kun mengabariku. Ini sangat mendadak bahkan dia menghubungiku di saat masih pukul 3 pagi." Sena menunduk, ia mulai menceritakan percakapannya.

Saat Panther mengubunginya, dia terdengar sangat terpukul. Padahal ini adalah kali pertama mereka berhubungan kembali, namun sepertinya Panther dalam suasana hati yang tidak baik.

Ia mulai kembali membicarakan World Cup, seminggu setelah kepulangan tim Jepang, tepat saat Marco hendak mengumumkan pemenangnya, seorang pria datang dengan tim amefutonya. Mereka menantang tim Amerika untuk bertanding. Hal itu tadinya membuat semua orang termasuk Mr. Don atau yang dikenal dengan 'Pria yang mengendalikan segalanya' menganggap remeh tim itu.

Namun sesuatu mengerikan terjadi, baru beberapa detik defense mereka hancur dengan mudah. Dan dengan satu quarter mereka sudah bisa mencetak skor 20-6. Mendengar hal itu membuat Sena merinding, begitu juga dengan yang lain. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa di luar sana, di Amerika sana, masih terdapat banyak tim yang mengejutkan.

"Semua gelar milik Tim Amerika berhasil diambilnya dengan mudah. Belum lagi sifat pria itu sangat rendah, dia lebih brutal, dan seenaknya. Kata-katanya benar-benar membuat siapapun terluka sekali mendengarnya. Dia adalah tim street football yang berhasil mengalahkan tim Bulldogs yang merupakan tim NFL New York. Dan kini menjadi tim street football terbaik dimanapun. Kaptennya adalah Earl Tom." Jelas Sena.

Ia cukup membuat semua orang terdiam, seperti apa bocah laki-laki yang baru berumur 20 tahun yang lebih brutal dan ganas dari Agon itu. Karena pnasaran akhirnya Yamato mengangkat tangannya, ia menanyakan siapa yang mendapatkan hadiah itu.

"Itu adalah Panther-kun..." balas Sena, tidak ada yang terkejut sama sekali mendengar itu. Namun yang membuat mereka penasaran, kenapa hal ini dihubungkan dengan mereka. Terlebih lagi Marco membawa tim itu ke Jepang, mereka sama sekali tidak mengerti.

"Itu karena Marco tidak terima dengan penghinaan yang telah mereka lakukan pada Tim Amerika." Tiba-tiba saja Hiruma datang, ia sudah lengkap dengan seragamnya, juga permen karet mintnya.

"Ha? Lalu apa hubungannya dengan tim ini?" tanya Agon sedikit jengkel.

"Apa kalian masih belum paham? Dia ingin membuat kita menjatuhkan monster ini." Hiruma terlihat sangat serius, ia sudah memperlihatkan banyak wajah seriusnya, namun kali ini sepertinya sedikit gawat.

"Kali ini Marco akan membawa banyak orang hebat dari Amerika kemari. Saat di Rice Bowl nanti, akan banyak pelatih bahkan kapten NFL dari berbagai tim yang akan mulai merekrut anggota baru." Jelas Hiruma.

"Bukankah sebelumnya juga sudah banyak?" tanya Yamato, Sena dan yang lainnya terkejut. Mereka sama sekali tidak menyadarinya.

"Kali ini tepat di final dia akan membawa pria bernama Earl Tom sialan ini kemari. Dia bahkan mungkin tidak akan melihat pertandingan kita. Tapi yang menang di Rice Bowl akan menghadapinya." Tambah Hiruma, Sena dan anggota lain dari Enma Fires terlihat kebingungan. Mereka masih belum mengerti sampai akhirnya berteriak terkejut.

"Apakah itu maksud dari tujuan Panther-kun menghubungiku!?" Seru Sena terkejut, semua orang hanya melihatnya geli karena terlalu polos.

"Aku yakin Enma juga menjadi salah satu yang telah Marco hubungi. Untuk saat ini kita tidak tahu berapa banyak hadiah yang akan diberikan olehnya, tapi yang penting adalah bagaimana bisa kita mengalahkannya." Jelas Hiruma, semua orang mengangguk mengerti. Mereka tidak peduli siapapun yang akan menang di Rice Bowl, dan melawan Earl Tom, semuanya akan saling membantu.

Usai percakapan yang menegangkan di pagi hari, para pemain dari Enma dan yang lainnya kembali untuk berlatih, begitu juga anggota Saikyoudai. Yamato mengganti pakaiannya, ia berlatih bersama dengan Taka. Melihatnya berlatih sedikit membuat Mamori kesal.

"Yamato-kun! Bukankah dokter melarangmu untuk melakukan latihan?" seru Mamori dari sisi lapangan.

"Jangan khawatir Mamori-san! Aku baik-baik saja, malah kalau tidak berlatih otot-ototku akan tegang." Balas Yamato yang bersiap melempar bola.

Mamori terlihat cemas, tapi itu percuma saja, baik Hiruma atau Yamato atau siapapun itu tidak akan berhenti bermain walau tubuh mereka hancur. Dan di situlah tugas manajer yang sesungguhnya.

Manajer cantik itu mulai mencari sosok pria rambut ikal, matanya menyorot ke setiap lapangan.

"Karin-chan, dimana Agon?" tanyanya pada Karin.

"Tadi aku melihatnya pergi begitu saja setelah mendengar penjelasan Sena." Balas Karin polos, Mamori merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi lagi.

Sementara itu Agon terlihat jengkel, ia menyusuri jalan menuju ruang klub. Dia hendak menanyakan hadiah uang untuk pertandingan berikutnya pada Akaashi.

Saat hendak membuka pintu ia berhenti dan memutuskan untuk menguping percakapan Hiruma dan Akaashi secara pribadi.

"Kau tahu kan, Hiruma-kun? Pria bernama Earl Tom ini mencarimu." Kata sang pelatih dengan nada sedikit bergetar, di sisi lain Hiruma hanya terdiam. Ia menggelembungkan permen karetnya dan masih terus memoles senjatanya.

"Bukankah kau sudah mendapatkan penawaran untuk pergi ke NFL? Kalau tidak salah kau bahkan sudah memiliki seragammu di San Antonio Armadilo." Kini mendengar pelatihnya berkata begitu membuat Agon sangat terkejut.

Ia tidak menyangka bahwa Hiruma sudah mendapatkan tawaran yang selalu diinginkannya secepat itu. Belum lagi pemain yang telah merampas semua gelar pemain Amerika mengincarnya.

Agon pergi meninggalkan ruang klub dan menyusun sebuah rencana, ia memutuskan untuk kembali ke lapangan.

"Agon-kun, lihat ini sebentar. Ini adalah latihan yang akan kau-" Belum selesai Mamori bicara, Agon sudah membuatnya terdiam.

"Jangan berisik dasar wanita jalang, aku sedang berpikir." Balas Agon dengan wajah mengancam, Mamori tertegun mendengarnya, tapi ia masih bisa mengontrol emosinya.

"Tapi-" kini Agon benar-benar sudah mengeluarkan ekspresi sangarnya. Dengan cepat Akaba datang dan melerainya, ia berhasil membuat Agon pergi dari Mamori.

Sedangkan manajer mereka hanya memandangi Agon bingung, ia mulai tahu setiap karakter timnya yang baru. Sesuatu memang telah terjadi padanya, Agon merasa kesal bila apa yang diinginkannya tidak sesuai rencana.

Usai latihan dan segala urusan di kampusnya, Mamori bergegas menuju ke kafe tempat dia bekerja. Sebelum berangkat Akaashi memanggilnya, dia membicarakan sedikit tentang Earl Tom. Hingga akhirnya meminta Mamori menjadi guidenya selama di Jepang. Tentu saja hal itu membuat Mamori sangat terkejut, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan pria-pria yang terdengar berperangai buruk itu. Namun sang pelatih terus memaksanya, sampai akhirnya Mamori berkata iya.

Di jalan Mamori berjalan dengan lemas, ia sudah cukup lelah dengan semua pekerjaannya. Belum lagi sekarang ia harus menyiapkan kesukaan para tim Amerika yang bahkan wajahnya belum ia lihat.

"Apa sesuatu yang buruk terjadi Mamori-san?" tanya Yamato dengan senyumnya.

"Tidak, hanya saja kau dan Agon membuatku jengkel." Balas Mamori menghela nafasnya, Yamato terkekeh geli melihat wajah manajernya.

"Maaf karena merepotkanmu, tapi mendengar pria ini membuat kakiku ketakutan sampai ingin berlari. Akan kupastikan aku baik-baik saja, aku akan meminta Karin untuk mengambil pekerjaannya kembali. Mamori-san tidak usah khawatir." Pra itu tersenyum dengan lembutnya.

Melihat keyakinan Yamato membuat Mamori sedikit lega. Ia akhirnya pergi ke kafe seorang diri, di sana karyawannya yang lain menyambut hangat. Mereka memberikan selamat atas keberhasilan Saikyoudai Wizards yang berhasil melangkah menuju final. Mamori mengganti pakaiannya, kali ini ia mengepang dua rambutnya. Mau diseperti apakan gaya rambutnya, malaikat tetaplah malaikat! Belum lagi bila tersenyum, iblis pun luluh! Ya, iblis...

"Selamat datang, tu...an?" Mamori menyambut tamunya dengan senyum lembut yang kemudian berubah aneh, Hiruma terlihat menyeringai jahat memandangi kekasihnya dari atas sampai bawah. Sedangkan Mamori sudah terlihat sangat memerah, ia menutupi bagian dadanya yang sedikit terbuka, juga menarik roknya yang pendek ke bawah.

Hiruma mengambil kameranya dan memfoto Mamori yang tengah malu-malu, kini malu jengkel semua jadi satu. Ia mengantarkan Hiruma yang datang seorang diri ke tempat duduknya.

"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, tapi ini bukan saatnya bersantai kan? Kau harus cepat membuat strategi baru." Kata Mamori yang menyerahkan daftar menunya, Hiruma juga membuka laptopnya.

"Black coffee..." ucapnya datar, Mamori menghela nafasnya.

"Apa kau sudah makan?" tanya sang malaikat dengan lembutnya, namun Hiruma mengacuhkan dirinya. Ia sama sekali tidak memperdulikan gadis cantik di sampingnya.

Mamori juga sangat mengerti dengan kekasihnya itu, ia pun memutuskan untuk kembali bekerja. Setiap laki-laki atau perempuan dia sambut dengan bahagia, kebanyakan pelanggan kafe adalah pria sejak Mamori bergabung, belum lagi bila ada Karin.

Sesekali Hiruma mencuri pandang pada kekasihnya yang melayani tamu pria, ia terlihat biasa saja namun tidak dengan tamunya. Mereka selalu melihat ke lekuk tubuh gadisnya.

"Cih, dia itu bodoh ya?" batin Hiruma jengkel.

Entah apa yang terjadi pada Hiruma hari itu, dia menunggu Mamori bahkan sampai kafenya tutup. Mamori mengganti pakaiannya, ia pun keluar dan menemui Hiruma.

"Ini bukan seperti dirimu saja." Mamori sedikit terkekeh geli, ia berjalan bersama dengan Hiruma. Tidak ada suara yang mereka keluarkan sama sekali, Mamori juga hanya berpegangan tangan. Ia masih tidak menyangka bisa bersama dengan kekasihnya itu. Entah sampai kapan dia akan tetap bersamanya, entah sampai kapan mereka bisa bergandengan tangan sepanjang jalan, dan entah sampai kapan mereka akan terus tinggal bersama.

Memikirkan hal-hal seperti itu membuat Mamori terlihat murung, ia jadi teringat akan impian masa depannya.

"Youichi... Setelah kau lulus nanti, apa yang akan kau lakukan?" tanya Mamori menghentikan langkahnya. Hiruma pun ikut terhenti, ia masih tidak menjawab apapun.

"Aku ingin tinggal di Jepang dan membuka toko roti." Tambahnya sambil tersenyum lembut.

"Kau sebegitu ingin hidup memakan creampuff ya?" ledek Hiruma yang berhasil membuat Mamori jengkel. Ia menggembungkan pipinya kesal, kali ini Hiruma yang menyembunyikan senyumnya.

"Bagaimana kalau membuka toko roti di Amerika?" tanyanya, Mamori membulatkan kedua matanya. Ia tidak bisa melihat wajah Hiruma yang berada di depannya, hanya punggungnya yang lebar terlihat sangat besar dan tinggi.

"...Eh?"