"Ta-Tapi itu sedikit mendadak kan? Maksudku, aku tidak bisa meninggalkan Jepang." Mamori mengalihkan wajahnya, ia terlihat sangat sedih begitu pula dengan Hiruma yang terlihat kecewa. Pria itu menutup matanya dan berjalan pergi.
"Youichi?" Panggil Mamori dengan nada yang sedikit bergetar.
"Cepatlah, aku lelah." Balas Hiruma datar, Mamori sedikit terbebani dengan pertanyaan Hiruma sebelumnya, apa yang pria itu maksud adalah tinggal bersamanya di Amerika.
Bukan berarti Mamori tidak ingin tinggal bersama dengannya, apalagi menjalani hidup dengan pria yang dicintainya. Tentu saja Mamori ingin mendukung Hiruma dimana dan di saat apapun juga. Hanya saja tinggal di negeri dimana kau tidak tahu siapapun membuatnya sedikit takut, Mamori sama sekali tidak pernah berpikir akan tinggal di Amerika. Sejak kecil ia tumbuh di Jepang, walau beberapa kerabatnya ada di sana tapi tetap saja tinggal di negeri orang asing membuatnya cemas. Sama ketika kedua orang tuanya akan berangkat ke Amerika, baginya Jepang adalah rumahnya.
"Apakah harus berakhir seperti ini?" batinnya, ia kembali terdiam. Menyadari kekasihnya tidak mengikuti jalannya membuat Hiruma menoleh.
"Oi manajer bodoh, sudah kubilang aku lelah. Percepat jalanmu bo-" belum selesai mengatakan kalimatnya kedua mata Hiruma membulat. Ia tertegun melihat Mamori menitikkan air matanya deras. Dia mengigit bibir bagian bawahnya menahan agar isak tangis tak terdengar.
Hiruma berjalan perlahan mendekatinya, ia masih tidak mengeluarkan sepatah kata.
"Maafkan aku tiba-tiba menangis tanpa sebab. Kau pasti lelah kan? Sebaiknya kita pulang." Kata Mamori mengusap air matanya sembari tersenyum. Hiruma masih terdiam dan mendekatinya hingga ia berdiri tepat di depannya. Hiruma menarik tangan gadis di hadapannya dan mencium bibirnya. Melihat Hiruma yang melakukan hal itu tiba-tiba membuat Mamori terkejut, namun ia kembali meneteskan air mata.
Hiruma melepasnya perlahan, ia dapat melihat tangan Mamori yang gemetar.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Hiruma lembut, Mamori kini tidak bisa menghentikan tangisannya.
Ia masih mengunci bibirnya, namun Hiruma kembali meyakinkannya. Dia tidak mau kekasihnya menyimpan bebannya seorang diri.
"Aku takut... Aku takut bila Youichi-kun pergi, aku tidak bisa berada di sampingmu. Aku tidak bisa membayangkannya bila kau harus hidup seorang diri di negeri asing." Mamori menangis dengan kencangnya, namun yang lebih terkejut adalah Hiruma. Ia benar-benar lupa bahwa kekasihnya adalah seorang malaikat.
"Aku benar-benar egois, aku berjanji untuk selalu mendukungmu tapi kenyataannya aku yang berkhianat." Mamori terisak sembari mengusap air matanya, melihatnya begitu sudah cukup membuat Hiruma bahagia. Ia mendekap tubuh gadisnya dengan sangat lembut.
"Kau baru sadar kalau kau bodoh? Selain bodoh kau sangat menjengkelkan, egois, cerewet, dan selalu berkata tentang kata-kata yang bisa membuatku gila." Kata Hiruma, Mamori hanya terisak di dalam dekapannya.
"Aku takut bila kau meninggalkanku." Mamori membalas dekapannya.
"Haa? Jadi kau pikir aku akan menemukan dirimu yang lain di luar negeri ini? Itu akan sangat merepotkan, cukup kau yang ada di sini. Itu semua sudah cukup." Mamori tertegun, ia kembali menangis mendengar kata-kata manis Hiruma. Tapi kemudian Mamori melepaskan pelukannya.
"Apa kau akan pergi ke luar negeri?" tanyanya dengan raut wajah terkejut. Hiruma juga sedikit berkeringat ketika Mamori menanyakannya hal itu.
"Ah, hanya tiga hari. Aku harus pergi ke Amerika." Balasnya, namun dibalik itu semua ia terlihat menyimpan misteri.
"Benarkah?" tanya Mamori kembali. Hiruma terdiam tidak membalasnya, ia hendak mengatakan sesuatu namun Mamori justru tersenyum lembut terlebih dulu.
"Kalau begitu aku akan menunggumu." Ucapnya, kini Hiruma mengalihkan wajahnya dan berjalan pergi.
Dari raut wajahnya terdapat sedikit penyesalan, ia seperti hendak menyatakan sesuatu namun tidak bisa, karena senyum Mamori yang begitu tulus.
Baru beberapa menit berjalan ponsel Mamori berdering, ia mengangkatnya.
"Akaashi-san? Ada yang bisa kubantu?" tanya Mamori, mendengar nama pelatihnya disebut membuat Hiruma penasaran. Ia menoleh sedikit, dan melihat Mamori yang juga kebingungan.
"Eh? Besok? Tapi bagaimana dengan-" Mamori terdiam, ia tidak bisa menjawab apa-apa lagi karena panggilannya berakhir begitu saja.
"Ada apa dengan orang tua sialan itu?" tanya Hiruma, Mamori terlihat gugup menjawabnya.
"Ah tidak apa-apa, dia cuma ingin agar aku datang lebih awal besok." Balas Mamori tersenyum. Keduanya kembali berjalan bersama, di apartemen mereka melakukan hal biasa. Mandi, makan, kemudian menyusun latihan.
Mereka menonton video pertandingan Enma Fires dan mengamatinya, Mamori sangat cekatan mengerjakannya. Sedangkan Hiruma masih tak berkutik dengan laptopnya.
Tepat tengah malam Mamori sudah terlelap di meja, ia menyatukan kedua tangannya dan menggunakannya sebagai bantal.
"Cih, kalau sudah tidak kuat sebaiknya tidur bodoh." Ucap Hiruma, ia bangkit dan menopang tubuh malaikat yang terlelap.
"Maafkan aku Youichi-kun..." Hiruma tertegun mendengar bisikan yang sangat lembut dari bibirnya. Ia melihat wajah Mamori yang terlelap dengan air mata menetes jatuh ke pipinya.
"Bodoh, kau tidak salah sama sekali." Balas Hiruma yang membawa Mamori ke kamarnya.
Usai membaringkan dan menyelimutinya, Hiruma kembali ke depan ruang tv. Ia memandangi laptopnya yang menyala seorang diri. Tak berapa lama sebuah email masuk muncul, dengan segera Hiruma membuka dan membacanya.
"Aku dengar kau akan melakukan pertandingan final 3 minggu lagi. Dan bila menang kau akan melawan Earl, apa kau akan bisa melawannya Youichi? Adikmu..." Begitulah isi emailnya, Hiruma tahu pasti alamat email yang mengiriminya surat, tidak lain adalah ayahnya.
Hiruma berdecih dan menghapus emailnya, ia menutup laptopnya dengan kasar dan berbaring di atas sofanya yang empuk.
"Sialan, kupikir dia sudah mati." Batinnya.
Keesokan harinya Mamori terbangun tanpa kekasihnya, ia bangkit dan mengikat satu rambutnya kemudian mencari sosok iblis berambut blonde.
"Youichi..." panggilnya, namun ia tidak bisa menemukannya dimanapun. Cerberus masih terlelap di atas sofa dengan nyenyaknya.
"Apa dia sudah pergi kampus?" batin Mamori, akhirnya ia memutuskan untuk cepat menyusulnya. Tapi yang lebih penting adalah panggilan dari pelatihnya kemarin malam. Mamori menyiapkan dirinya dan keluar bersama dengan Cerberus, ini merupakan jadwal dia untuk jalan-jalan.
Mamori menaiki kereta sambil membawa Cerberus dengan tas jinjingnya, ia mendekap anjing itu dengan penuh perhatian.
Sesampainya di lapangan belum ada seorang pun yang datang, dia pun memutuskan untuk mengeluarkan Cerberus dari tasnya.
"Dengar ya, jangan berbuat yang tidak-tidak atau nanti aku akan mengurangi porsi makan malammu." Kata Mamori pada anjing penjaga neraka itu. Dan dengan mudahnya sang anjing menurutinya, ia mulai berkeliaran ke sana kemari.
Sedangkan Mamori terduduk sendirian di sebelah lapangan, ia memandangi jamnya terus menerus.
"Sudah siang kan, tapi kenapa tidak ada yang datang..." batinnya sedikit cemas, lima menit selanjutnya Akaashi datang. Ia terlihat sangat kacau, pakaiannya memang rapi dan tak biasa, tapi tatanan rambut dan susunan pakaiannya sudah jauh dengan kata rapi.
"Akaashi-san!?" seru Mamori dengan cepat mendekat dan membantu pelatihnya berjalan.
"Sake?" tanya Mamori yang mulai terganggu dengan bau mulut pelatihnya.
"Bocah kurang ajar, aku gagal menonton pentas piano putriku karena mereka!" serunya dengan nada sedikit mabok, Mamori membantunya duduk dan memberinya air putih.
"Apa yang terjadi?" tanya Mamori penasaran. Akaashi meminum airnya dengan sekali teguk, ia benar-benar terlihat sakit.
"Bocah berandalan Marco sudah tiba lebih cepat di Jepang. Semalam aku dihubungi secara mendadak, dan ditugaskan menjadi guide mereka." Akaashi mulai menceritakan kejadian yang terjadi semalam. Saat berada di pentas piano putrinya tiba-tiba pihak universitas menghubunginya.
"Oooh pelatih... Ah Manajer juga sudah datang, kalian datang pagi sekali." Kata Yamato yang datang dengan beberapa teman-temannya yang lain.
"Oh! Apa yang terjadi padamu pelatih?" tanya Ikkyu dengan bingung diikuti anggota lainnya.
"Kebetulan kalian semua di sini. Biar kuberitahu seperti apa lawan kalian nanti." Balas Akaashi, ia mulai menceritakannya pada semua anggota tim.
Akaashi diperintahkan untuk pergi ke bandara secepatnya dan mengantar tamu istimewa Marco ke hotel mereka. Namun yang terjadi justru sangat menyeramkan, pria bernama Earl ini justru meminta Akaashi mengantarnya ke tempat hiburan Jepang nomor satu, yaitu Roppongi.
Mereka berpesta semalaman dan mengabaikan Akaashi, walau mengabaikannya namun ia tidak diperkenankan pergi.
"Kenapa tidak menolak saja? Mereka bukan orang yang sangat hebat sampai pelatih tidak bisa menolak kan?" tanya Mamori padanya.
"Tidak... Mungkin ini yang ditakutkan tim Amerika, dan bahkan Marco..." balas Akaashi dengan wajah sedikit ketakutan mengingat kejadian semalam. Hal itu semakin membuat semua orang bingung juga bertanya-tanya.
"Bila Hiruma mengancam dengan menggunakan titik lemah kita, dia tidak perlu menggunakannya. Dia cukup memberi perintah yang akan menjadi titik lemah kita. Absolute Order. Itulah yang menyebabkan timnya jadi sangat kuat." Tambah Akaashi, tangannya masih gemetar.
Semua orang meneguk liur mereka, seorang quarter back adalah control tower yang menggerakkan seluruh pemain di timnya. Hiruma memang suka mengancam, tapi dia adalah tower yang sangat bagus, kuat, dan kokoh untuk timnya. Namun mendengar ucapan Akaashi membuat semua mengira-ngira, seperti apa pria bernama Earl yang dengan mudah memimpin tim hanya dari kata-kata.
"Dia bukan hanya sekedar memberi perintah..." ucapnya disela-sela kebingungan anggota tim, Mamori mendekati pelatihnya, ia memberinya segelas air minum kembali.
"Dia seperti memasukkan kalajengking ke dalam mulutmu sehingga kau tidak bisa menolak. Aku sudah liat timnya sendiri, mereka dikuasai hawa nafsu kemenangan, dan kehancuran untuk lawannya." Semua orang terkejut mendengarnya, sepertinya kali ini lawan mereka sangat sulit untuk diatasi. Bahkan Marco pemain pro amefuto, dengan mudah tunduk dan sujud padanya.
Mendengar ucapan pelatihnya membuat Agon mendidih, entah apa yang dipikirkannya tapi pasti itu sesuatu yang buruk. Dia memang sudah menjadi anggota Saikyoudai, dan lebih bisa menghargai rekannya, namun kelakuannya masih sama dan merepotkan.
"Untuk saat ini sebaiknya pelatih pulang ke rumah dan istirahat. Aku yang akan mengawasi semuanya." Kata Mamori lembut, Akaashi pun pergi meninggalkan semua orang.
Latihan pagi hari sudah dimulai, tapi Hiruma masih belum terlihat, ini membuatnya sedikit cemas. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi nomornya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan-" berkali-kali mencoba namun tetap balasan itu yang dia terima.
"Karin juga, kenapa dia belum datang? Biasanya dia sudah ada di sini, atau jika terlambat dia pasti memberitahuku." Batin Mamori, akhirnya ia menghubungi gadis cantik itu.
"Ah Mamori-san?" jawabnya.
"Karin-chan! Dimana kau? Kenapa masih belum datang? Hari ini Hiruma-kun tidak ada di sini, aku sendirian, pelatih juga tidak ada." Keluh Mamori sedikit jengkel.
"Ah itu ma-maafkan aku tapi, ada sesuatu hal yang harus kulakukan... Sa-sampai jumpa!" putusnya, Mamori menggembungkan pipinya, tidak biasanya Karin seperti itu, dia seperti menyembunyikan sesuatu.
Tubuhnya memang berada di bench, matanya juga mengamati tiap gerak gerik anggota timnya, namun hati dan pikirannya tertuju pada satu orang... Sang Kapten.
Melihat kecemasan Mamori menarik perhatian Yamato, ia memutuskan untuk berhenti sejenak dan mendekati manajernya.
"Apa ada masalah Mamori-san?" tanya Yamato dengan senyumnya, Mamori tersadar dan mengambilkannya minum.
"Kerja bagus... Tidak ada apa-apa Yamato-kun." Balas Mamori lembut, ia kemudian beralih pada kaki Yamato. Ia mengambil perban yang baru dan menggantinya pada kakinya.
"Hm? Lebamnya sudah semakin pudar." Kata Mamori dengan senyumnya. Yamato mengangguk dan membalasnya dengan senyuman juga.
"Ini karena Mamori-san selalu menemaniku ke dokter dan tidak pernah absen barang sekali." Yamato terkekeh geli. Keduanya saling berbincang sama lain, kemudian membahas tentang perlawanannya yang akan datang dengan Earl.
Mereka akhirnya mencari-cari tentang Earl Tom di internet, dan berita tentangnya sudah sangat banyak. Semua berita di internet yang berhubungan dengannya tak jauh dari NFL dan tim amefuto Amerika lainnya. Bahkan ada sponsor dari tim yang sangat terkenal mengajukannya sebagai pelatih diusianya yang baru saja menginjak 20 tahun. Timnya juga sudah melakukan perjalanan keliling dunia melawan tim amefuto yang sebelumnya bertanding di World Cup.
"Tidak ada fotonya..." kata Mamori dan Yamato bersamaan, mereka saling tatap dengan bingung. Kemudian mencoba untuk mencarinya kembali, namun kelihatannya sangat sulit, akhirnya Yamato dan Mamori memutuskan untuk sekedar melihat seperti apa rupa pria bernama Earl ini.
Di sisi lain Agon merencanakan sesuatu, ia pergi dari latihan dan mencari sosok iblis yang biasanya membawa AK-47 bersamanya. Ia pergi ke ruang klub namun tak menemukan siapapun, akhirnya Agon memutuskan untuk mencari bukti lain di loker Hiruma. Ia dengan mudah membukanya tanpa harus merusak pintunya. Di sana terlihat beberapa dokumen latihan, laporan, juga cd rekaman pertandingan. Tidak ada yang menarik perhatiannya sampai akhirnya ia memutuskan untuk bertemu dengan rektor langsung.
Pasalnya Saikyoudai tidak begitu saja menerima tamu dari luar negeri, bahkan walau itu Hiruma sekalipun. Rektor mereka cukup tangguh untuk menghimbau batasan-batasan sang iblis.
Agon masuk dan menemui sang rektor sedang terduduk dengan beberapa tugasnya.
"Beritahu aku, siapa sebenarnya Earl Tom. Dan apa tujuannya datang ke universitas ini?" tanyanya langsung tanpa basa basi. Sang rektor hanya membenahi kacamatanya dan melihat Agon dengan mata menyipit.
"Oh? Dari klub amefuto ya? Anak buahnya Hiruma?" tanya rektor dengan senyuman. Ia mempersilahkannya duduk, namun Agon justru marah dan membentak.
"Jadi kalian tidak tahu siapa Earl Tom itu? Dia adik tiri dari Hiruma Youichi. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka berdua, tapi sepertinya pria bernama Tom ini ingin menyelesaikan masalahnya dengan kapten kalian." Balas rektor menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya.
Mendengar ucapan rektornya membuat senyum Agon mengembang, ia seperti mendapat berlian di dalam bara api. Dan untuk mengambilnya tentu saja hal yang sulit, namun ia tidak masalah harus mengalami luka bakar jika berlian memang ada di depan matanya. Lucunya mungkin yang dipikirkan Agon adalah, mengambil berlian itu dengan tangan orang lain.
"Ini baru menarik..." batinnya.
