Usai berbicara dengan rektor, Agon pergi untuk menemui pria bernama Earl Tom ini di sebuah klub malam tepatnya di Roppongi. Walau masih siang hari tapi sudah sangat ramai. Ia ke sana seorang diri, saat mencari sosoknya Agon terbelalak melihat seorang pria dengan rambut hitam lurus, mata emas tajam, dan senyum khas yang sering ia lihat. Wajahnya entah mengapa mirip Hiruma. Yang membedakan mereka adalah tingkah dan ekspresinya, juga gayanya. Ekspresi pria itu lebih kelihatan mengerikan dibanding dengan sang iblis.

Dia juga melihat pria itu di kelilingi oleh banyak wanita cantik, tak tanggung-tanggung ada beberapa yang duduk di pangkuannya. Agon semakin tertarik pada pria itu, ia mendekat padanya dengan senyumannya yang biasanya ia gunakan untuk menantang lawan.

"Oi, kau pria bernama Earl Tom itu kan?" tanyanya, ia berhasil membuat pria itu terbelalak, kemudian senyum simpul terlihat di wajah pria yang ada di depannya.

"Benar. Ada perlu apa denganku? Ah sebelumnya kau itu siapa? Kenapa di Jepang ada sampah yang melihat orang lain dengan tatapan sampah seperti itu?" kedua matanya seketika menajam, bagai ujung pedang yang runcing.

Entah mengapa namun melihat tatapan matanya membuat Agon membeku, ia merasa bahwa orang di hadapannya itu benar-benar berbahaya.

"Apa kau tahu siapa aku? Setidaknya belajarlah untuk menunduk, sampah." Earl bangkit dan mendekatkan dirinya pada Agon, ia hanya menepuk lembut pundaknya. Namun Agon terjatuh begitu saja, ia merasa kakinya ditekan begitu saja hingga terjatuh.

"Ketahui tempatmu." Kata Earl yang pergi dari klub malam itu.

Agon terduduk diam di lantai, ia masih tak berkutik setelah dengan mudah di jatuhkan. Sementara Earl pergi entah kemana. Di lain pihak, Mamori tengah bersiap untuk melihat pertandingan persahabatan antara Enma dengan Oujo. Ini adalah langkah mereka untuk mengantisipasi tim Saikyoudai.

"Cerberus, kau ikut denganku..." Mamori menggendong anjing itu dengan penuh perhatian, ia menyiapkan kamera, tape recorder, juga beberapa buku catatan untuknya.

"Baiklah semuanya maaf karena hari ini aku tidak bisa menemani latihan kalian, Hiruma-kun, dan Karin juga menghilang. Pastikan kalian melakukan yang terbaik!" kata Mamori menyemangati. Semua anggota tim pun berseru bersemangat.

Dengan barang bawaannya yang berat Mamori sama sekali tak mengeluh, ia memasuki kereta yang cukup ramai. Berdesak-desakan dan terhimpit, rasanya panas dan lelah, tapi ia tetap melakoni pekerjaannya.

Sesampainya di stadium ia duduk di bangku paling depan, cukup banyak pengunjung untuk latih tanding antar universitas. Tidak heran karena mereka semua adalah tim unggulan saat di SMA.

Mamori membuka tasnya, sebelumnya ia membuat Cerberus duduk di sampingnya, kemudian ia mulai mengeluarkan video, dan tape recorder juga beberapa alat tulisnya.

"Minggir, aku mau duduk." Kata seseorang dengan kasarnya, Mamori menyingkirkan tasnya dari kursi di sebelah kirinya. Ia menunduk meminta maaf karena kerakusannya mengambil tiga kursi.

"Maafkan aku..." ucapnya lembut, ia pun mengambil tasnya dan meletakkannya di bawah kaki.

Padahal tinggal beberapa menit saja pertandingan dimulai namun seorang pria dengan topi rajut warna hitam mengambil tas sport Mamori. Gadis itu terkejut dan berusaha mengejar, suasana yang ramai membuatnya kesulitan keluar dari tempat duduk.

Ia juga tidak bisa dengan mudah berteriak, karena suasana yang sedang ramai-ramainya. Orang juga terlalu asik dengan pembukaan kedua tim.

"Permisi, maaf tapi tolong jaga anjingku sebentar aku akan segera kembali." Kata Mamori pada pria di sampingnya, ia menyelinap meminta izin supaya bisa keluar dari deretan penonton.

Ia berhasil lewat dan berlari mengejar si pencuri hingga keluar stadium, namun sayang ia tak bisa mengejarnya lebih jauh lagi. Sampai akhirnya pria yang duduk di sebelah Mamori menggendong Cerberus dengan tidak benar. Ia membuat anjing itu terlihat kesakitan. Pria itu berdiri tepat di sampingnya.

"Cerberus!? Hei lepaskan anjingku! Kau menyakitinya!" seru Mamori menyuruh pria itu melepaskan anjing Hiruma.

"Berisik! Wanita Jepang memang merepotkan." Katanya, ia pergi sebentar menuju stand pendaftaran dan meminjam gunting. Dengan jarak yang cukup jauh dan ramainya orang ia melempar gunting itu.

Semua orang berteriak berbahaya namun ia mengabaikannya, dan yang mengejutkan hal itu tepat mengenai sasaran.

Pencuri yang tengah berlari menghentikan langkahnya karena gunting yang tiba-tiba melayang tepat menggores pipi kanannya. Ia terjatuh dengan lemas, bahkan tak bisa bergerak sama sekali.

Mamori dan pria misterius itu berlari mendekati si pencuri, Mamori mengambil tasnya, sedangkan pria itu membisikkan sesuatu padanya.

"Hm?" Mamori memiringkan kepalanya bingung, ia ingin tahu apa yang dibicarakan oleh si pria. Namun beberapa detik kemudian wajah pencuri itu justru berubah menjadi sangat putus asa dan seperti hancur.

Mamori tertegun, ia tidak berani berkomentar apapun. Setelah pencuri itu pergi, barulah Mamori berterima kasih padanya. Dan masih menyuruh pria itu melepaskan Cerberus.

"Tolong lepaskan dia, dia terlihat kesakitan." Kata Mamori memelas, Cerberus yang biasanya terlihat sangar dan gahar ketakutan dan kesakitan.

"Anjing jelek seperti ini lebih baik mati saja! Aku benci melihatnya." Pria itu melempar Cerberus, Mamori menangkapnya dan langsung menggendongnya dengan benar.

Ia menatap pria itu dengan tatapan tajam dan marah, sedangkan sang pria justru tersenyum dengan mengerikan. Mamori berdiri di depannya dan menunduk.

"Terima kasih karena telah menolongku, tetapi jangan pernah menyakiti anjingku lagi!" ucap Mamori tegas.

"Heeee kalau begitu bilang pada anjingmu untuk mati saja sanah." Balas pria itu dingin, Mamori geram dengan ucapannya, ia menampar pria itu kemudian menunduk dan pergi.

"Brengsek!" seru pria itu dengan wajah yang amat mengerikan.

"Wajahnya mirip dengan Youichi, tapi sifatnya sangat bengis..." batin Mamori masih kesal, ia memutuskan untuk kembali ke stadium namun pertandingan sudah setengah jalan. Mamori mengelus lembut dan menenangkan Cerberus. Wajahnya terlihat sangat kecewa, namun beruntung karena dapat melihat hasil akhir dengan kemenangan Enma maka itu semakin memperjelas, bahwa Enma Fires lebih kuat.

Mamori pun memutuskan untuk pergi, ia melihat jam tangannya kemudian bergegas menuju ke kafe tempat dia bekerja.

Ia mengganti pakaiannya dan bekerja seperti biasa, selama dalam masa pertandingan Yamato diberi waktu kerja 3 hari seminggu, dan hari ini dia libur. Karena itu hanya Mamori sendiri yang berjaga dengan seniornya yang lain. Sebelumnya pekerjaannya sudah dialihkan pada Karin, tapi gadis itu justru menghilang entah kemana.

Usai dengan pekerjaannya Mamori pergi, ia bergegas menuju apartemen Hiruma berharap sang iblis sudah berada di sana, namun ketika membuka pintu ia tidak melihat sepatunya.

Mamori menekuk wajahnya sedikit murung, ia meletakkan Cerberus kemudian membaringkan tubuhmya di atas sofa.

Mamori mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Hiruma, namun hasilnya nihil. Gadis itu menaikkan kakinya, ia menyembunyikan wajahnya di dalam lututnya.

"Kenapa rasanya sangat sepi ya." Batinnya yang semakin erat memeluk kakinya, tak berapa lama ia sedikit terkejut karena sesuatu yang lembut datang menghampirinya. Mamori mendongak dan mendapati Cerberus meminta makanan, ia tersenyum dan bangkit.

"Aku tidak sendiri, ada Cerberus di sini." Katanya, saat membuka lemari makanan kesayangan sang anjing sudah habis. Ia memutuskan untuk keluar membeli makanannya dan meninggalkan Cerberus sendirian.

"Sudah pukul 11, aku harus bergegas." Batinnya yang melangkah cepat, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Namun semua tidak berjalan mulus ketika Mamori hendak kembali ke apartemennya, ia dihadang oleh beberapa pria yang sedang mabuk.

"Wah wah ada seorang gadis cantik yang belanja sendirian. Mau kami temani?" ucapnya, Mamori menjawab dengan lembut dan polosnya.

"Tidak usah terima kasih." Balasnya yang melangkahi para pria itu, namun satu dari mereka menarik tangannya.

"Sangat tidak baik bagi kami kalau sampai membiarkan gadis secantik dirimu kesepian." Mamori semakin merasa tidak aman, jalanan saat itu sangat sepi. Mau tidak mau ia harus menghadapi pria mabuk itu seorang diri.

Mamori masih menolaknya dengan lembut, namun mereka justru semakin kasar dengan menarik-narik tangan Mamori.

"Jangan dekati aku!" seru Mamori kesal melepaskan genggaman tangan salah satu pria.

"Sialan! Dasar wanita jalang!" pria itu terlihat jengkel dan hendak menampar gadis malang yang sudah ketakutan itu. Mamori memejamkan matanya dan menggenggam bingkisannya erat sembari berharap sang iblis datang menolongnya.

"Youichi-kun!" batinnya, dan harapannya berhasil.

"Hei sampah, dia mainanku. Kalau kau menyentuhnya seutas rambut pun, aku akan menghajarmu." Mamori mendongak melihat pria di hadapannya.

"Eh? Dia pria yang tadi siang kan?" batinnya memandangi punggungnya, pria itu saling beradu mulut dengan orang-orang yang meggoda Mamori. Untunglah mereka tidak sampai ke perkelahian, hanya saja para pria yang bermain-main itu berlari ketakutan.

"Ano... Maaf karena telah merepotkanmu, dan te-terima kasih telah menolongku dua kali." Kata Mamori dengan senyumannya, ia menunduk dengan sopan.

"Kau pikir yang seperti itu gratis? Aku sudah membantumu dua kali, kau benar-benar pembawa masalah." Balasnya sinis, mendengar balasannya membuat Mamori sedikit jengkel.

"Tidak ada yang meminta bantuanmu! Kalau tidak mau membantu ya tidak usah bantu!" seru Mamori kesal, pria itu pun mulai kesal. Ia menatap tajam Mamori yang berani menantangnya, sedangkan Mamori yang dipandangi hanya terheran.

"Apa yang kau lihat?" tanyanya dengan nada sedikit keras.

"Kau benar-benar berani padaku? Kau tidak tahu siapa aku?" pria itu mendekati Mamori dan memandangnya dengan tajam dan menusuk. Mamori mulai merasa khawatir, ia berkeringat hanya karena dipandangi pria asing itu.

"Da-Dasar hentai! Cabul! Apa yang kau lihat? Te-tentu saja aku berani padamu atau tiga pria tadi. Kalian tidak ada bedanya!" Seru Mamori kesal, kali ini pria itu juga sudah sangat kesal. Ia menggenggam tangan Mamori kasar dan erat hingga membuat gadis itu sedikit ketakutan dan kesakitan.

"Diam!" seru pria yang tidak diketahui namanya, ia mendekatkan wajahnya pada Mamori seperti ingin mengancam. Namun kemudian merasakan tangan gadis cantik itu gemetar juga air mata yang mengalir membuat kedua matanya membulat. Senyuman di bibirnya melebar.

"A-Apa yang kau mau?" tanya Mamori masih melawan, pria dengan rambut hitam itu melepaskan tangannya.

"Dasar bodoh." Katanya yang pergi meninggalkan Mamori seorang diri.

"Tunggu!" seru Mamori, ia menghapus air matanya dan mengejar pria itu.

"Aku minta maaf karena membentakmu dan berbuat kasar padamu. Ini sebagai hadiah terima kasih." Ucapnya sedikit terisak, Mamori memberikan sebuah plester luka di telapak tangannya yang terluka karena goresan para preman tadi. Tangannya masih gemetar ketika memberinya plester luka itu.

"Terima kasih atas bantuannya." Mamori menundukkan kepalanya dan berpamitan pergi.

"Kau pikir bisa pergi begitu saja?" Pria itu menarik tangan Mamori dan mencuri bibirnya. Ia membuat Mamori terpojokkan di tembok. Mamori sangat terkejut dengan perlakuannya, belum lagi saat tangan pria itu mulai membuka roknya. Ia berpindah dari bibir ke leher Mamori, gadis itu sangat lemas namun juga berusaha melawan.

"Nikmati saja spesial servis ini." Tambahnya, namun Mamori justru menangis.

"Youichi…" panggilnya, mendengar kata itu membuat pria itu terkejut dan langsung melepaskan Mamori. Matanya menajam, raut wajahnya terlihat amat sangat kesal.

Mamori menggunakan kesempatannya untuk lari. Ia membawa makanan Cerberus bersamanya dan lari dengan air mata.

"Youichi… Hahahaha aku menemukanmu!" serunya diikuti tawa yang cukup keras, ia menempelkan plester yang ada di tanggannya ke bibirnya sambil tersenyum.

"Sekarang kau yang akan mati, kak…" katanya.

"Oi Tom! Apa yang kau lakukan di sini? Kau bisa dikira orang cabul. Ya memang sih kau cabul." Tiba-tiba seorang pria dengan rambut blonde dan mata silver datang. Ia mengenakan banyak tato di tubuhnya yang tinggi dan kekar.

"Hahahaha kau tidak boleh berkata demikian Dante, lihat moodnya sedang bagus." Balas laki-laki dengan tubuh yang tidak kalah indah. Kulitnya hitam ototnya pun terbentuk dengan baik, tingginya bahkan hampir dua meter.

"Ini jarang terjadi, kapten kita terlihat bersemangat melawan sampah. Ia bahkan meninggalkan Faulk, Aaron, Carson, Larry dan yang lainnya untuk terlebih dahulu terbang ke Jepang. " Tambah pria lain dengan mata tajam merah berambut ikal.

"Diamlah Dante, Deion, Eric... Kita kemari untuk bersenang-senang, kakakku sangat bodoh jika ia beranggapan bisa menang melawan tim yang dia sendiri buat." Kata pria yang berhasil menolong Mamori itu, rupanya dia adalah musuh selanjutnya bagi Saikyoudai. Pria yang membuat Mamori dan timnya penasaran, pria yang dikatakan sangat berbahaya, Earl Tom bersama ketiga pemainnya yang lain.

"Aku dengar kakakmu berada di Amerika bersama gadis cantik, mungkin dia berlibur bersama kekasihnya?" tanya pria rambut pirang, Dante posisi Reciever.

"Dia kabur? Hahahaha dan lagi siapa gadis itu? Bukankah akan lebih indah kalau kita juga hancurkan wanita itu? Atau kita hancurkan terlebih dulu harapannya di depan kekasihnya? Ahahahaha ini sangat menyenangkan!" seru Earl Tom dengan nada yang sangat keras dan bersemangat.

"Gahahaha aku sudah tidak sabar melihatnya menderita." Tambahnya lagi, kali ini ekspresi wajahnya sungguh sangat liar, dan mengerikan. Bahkan rekan-rekannya terdiam berkeringat melihatnya.

Sudah dua minggu lebih Hiruma dan Karin tidak menampakkan dirinya, Mamori mulai cemas dan bertanya-tanya, belum lagi pertandingan mereka semakin dekat.

Mamori menghabiskan waktunya berdua hanya dengan Cerberus di apartemen Hiruma, berkali-kali dirinya menghubungi kekasihnya namun tak ada balasan.

Di kampus gosip tentang Hiruma dan Karin yang berlibur ke Amerika bersama sedang hangat diperbincangkan. Gosip itu juga tak luput dari pendengaran Anezaki Mamori.

"Eh? A-Apa memang benar begitu?" tanya Mamori pada teman satu jurusannya.

"Maafkan aku Mamo-chan, tadinya aku tidak percaya sampai seseorang menyebar foto Karin dan Hiruma yang tengah berada di Texas." Balas teman Mamori, Aki. Mendengar hal itu membuat jantung Mamori seakan berhenti berdetak.

Ia seperti dijatuhkan dari tebing yang sangat tinggi. Namun wajahnya masih bisa tersenyum menyembunyikan segala risau di hatinya.

"Ahahaha Karin-chan juga manajer tim, wajar saja kok kalau dia bersama kaptennya." Balas Mamori membela kekasihnya, temannya itu juga mengangguk memberi sisi positif. Tapi tidak semua orang di universitas menyukai Mamori.

Beberapa gadis justru sangat membencinya karena sifatnya yang peduli, ramah, dan baik hati. Mereka pikir Mamori hanya gadis cerewet di klubnya yang gemar mencari perhatian para pria di seluruh universitas. Namun pada kenyataannya Mamori memanglah gadis yang baik seperti itu, jadi mau diapakan lagi sifat alamiahnya tidak akan hilang.

"Karin-chan dan Hiruma-kun juga terlihat serasi bukan? Terkadang aku melihat keduanya seperti pasangan saat bersama." Celoteh salah satu mahasiswi.

"Ne, ne bukankah Hiruma-kun kekasihnya Anezaki? Mereka kan selalu bersama 3 tahun ini." Balas temannya, mereka saling membicarakan hubungan orang lain yang sama sekali tidak penting.

"Tidak mungkin, Anezaki kan cuma manajer sialannya. Benar kan?"

"Ehem!" dehaman Aki menghentikan percakapan mereka yang terkejut dan pergi begitu saja.

Aki melihat temannya yang tertunduk di balik pintu, ia tahu bahwa gadis itu sangat memikirkan ucapan mahasiswi lainnya.

"Mamo-chan…" panggilnya dengan nada sayu, Mamori menggelengkan kepalanya berusaha melupakan semua sesak hatinya dan tersenyum.

"Yah, aku kan manajer sialannya. Yang bisa kulakukan sekarang cuma mendampingi tim. Pertandingan nanti juga sangat sulit, Hiruma-kun pasti akan kembali." Kata Mamori menyemangati dirinya juga membuat temannya supaya tidak cemas.

Mereka saling mengobrol melepas canda, tentu saja ia masih merasa berat di hati. Namun, dia tidak ingin membuat Hiruma kecewa barang satu kalipun. Mungkin saja Hiruma punya alasan sendiri mengapa ia pergi bersama dengan Karin ke Amerika.


maaf agak telaaat, tadinya mau rilis tanggal 25 tapi gak sempeeeet :")
terima kasih buat semua yang sudah setia membaca dan menunggu, rilis tiap tanggal 25 yaaa (kalau sempet) /setanlu

author sibuk kerja dan cari kerja, doakan ya semua ;;v;;

sekali lagi terima kasiiih