Chapter 2 – The End of a Life (Hunhan)
Sebuah balon kecil berisi air itu melayang dan pecah saat tepat balon itu mengenai kepala seorang pria mungil berkacamata bulat sehingga sebagian rambut dan wajahnya basah. Seolah sudah sering terjadi seperti ini, kepalanya hanya bisa menunduk merasakan perasaan malu dan terhinanya seorang diri.
"Oh Sial, Kim Jongin kau tepat mengenai kepalanya." Ujar lelaki bermata sipit itu dengan datar pada teman sekawannya yang berkulit tan. Pria bernama Kim Jongin itu tertawa keras seraya menepuk – nepuk dadanya dengan perasaan bangga.
"Oh jelas, itu karena aku adalah Kim Jongin. Kau mau melihatnya lagi Sehun-ah? Aku masih memiliki satu." Jongin mengangkat satu balon berwarna kuning itu ke udara namun dengan cepat Sehun mengambil balon itu dan langsung melemparkannya pada sang target.
"Lemparanmu sungguh jelek, Oh sehun." Ejek Jongin ketika lemparan balon itu hanya mengenai dada pria berkacamata itu sehingga membuat seragamnya basah. Sehun meludah ke sampingnya merasa kesal karena lemparannya tak tepat pada sasarannya. Pria yang sedari tadi menunduk itu memberanikan diri untuk mendongkak sebentar kemudian menunduk kembali.
"Hentikan, ku mohon." Ujarnya begitu lirih. Wajah, rambut dan juga seragamnya sudah basah dan jangan lupakan tatapan teman sekelasnya memandang jijik dirinya. Mendengar itu Sehun melangkah maju menuju targetnya dengan seringai khasnya.
"Kau berani menghentikan kesenanganku, Xi Luhan?" Alis sebelah Sehun terangkat dan tangan kanan besar Sehun mengangkat dagu kecil Luhan dan jangan lupakan tatapan mengintimidasi khas Sehun. Luhan hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat menahan ketakutannya saat ini.
"Jawab aku brengsek!" Teriak Sehun melepaskan kasar dagu Luhan sehingga tubuh mungil Luhan membentur papan tulis di belakangnya. Punggung Luhan begitu nyeri ketika dengan kuat punggungnya bertabrakan dengan papan tulis yang keras.
Di belakang Sehun, Jongin dan teman – teman yang lainnya hanya tertawa mengejek Luhan. Tidak ada yang berani menyelamatkan Luhan ketika Sehun sedang bersenang – senang – membully – Luhan. Bukannya tak ada yang berani tetapi tak ada satu murid pun yang perduli dengan Luhan. Bahkan teman sekelasnya sangat jijik pada Luhan karena Luhan adalah siswa yang miskin berbeda kasta dengan mereka.
Sehun mengambil penghapus papan tulis yang tergeletak di lantai kemudian ia mengarahkan penghapus itu pada pipi Luhan. Ia menepuk – nepukkan penghapus itu pada pipi Luhan sehingga meninggalkan noda hitam bekas cairan spidol di pipi Luhan.
"Kau tau Luhan? Entah kenapa melihat wajahmu membuatku marah dan merasa muak." Bisik Sehun di depan wajah Luhan. Setelah itu bel tanda masuk pun berbunyi membuat Sehun mendesah pelan. "Ah, beruntungnya kau Luhan lagi – lagi di selamatkan oleh bel sekolah. Jadi anak baik tanpa aku disini, oke?"
Sehun menepuk – nepuk sedikit keras pada kepala Luhan sebelum akhirnya meninggalkan kelas Luhan bersama Jongin, temannya. Merasa sudah aman, Luhan pun bangkit dan berjalan menuju tempat duduknya yang terletak yang paling belakang sendirian. Bahkan teman – teman sekelasnya pun mengucilkannya.
Ia mengambil tisu basah dan mengusapkannya di seluruh wajahnya agar noda hitam di pipinya menghilang. Luhan berusaha menahan tangisnya sebelum gurunya masuk ke dalam kelas dan memulai pelajarannya.
.
.
AdillAdill Present
- What If -
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Xi Luhan
Oh Sehun
YAOI, SHOUNEN – AI, BOYS LOVE, BOYXBOY
Romance, Family, M-preg, School-life
Cerita ini murni punya saya. dilarang plagiat/copas tanpa izin
Tolong hargai saya
.
.
Byun Baekhyun seorang yang sangat menyukai perkelahian. Park Chanyeol si pelayan setia Baekhyun. Di kehidupan lainnya terdapat Xi Luhan si korban Bullying dan Oh Sehun yang sangat menyukai membully Luhan.
.
.
Luhan menghentikan langkahnya ketika melihat sang nenek mendorong gerobak yang berisi barang – barang bekas. Ia tersenyum miris melihat neneknya yang sudah setua ini tetap bekerja untuk dirinya. Langkah kakinya menghampiri neneknya dan membantu sang nenek untuk mendorongnya.
"Sudah kubilang, nenek tidak perlu bekerja seperti ini." Ujar Luhan dengan nada marah yang ia buat – buat. Nenek Luhan terkejut mendapati cucunya yang membantu mendorong gerobak dan juga berkata dengan nada marah seperti itu.
"Kau sudah pulang sekolah? Bagaimana sekolahmu?" Seolah tak menanggapi ocehan yang terlontar di mulut cucunya tadi, sang nenek malah menanyai hal lain untuk mengalihkan topik. Ia masih ingin mengumpulkan uang untuk Luhan karena sebentar lagi Luhan akan masuk ke universitas meskipun Luhan menolak itu karena biayanya yang sangat tinggi. Masuk ke salah satu sekolah elit dengan beasiswa saja sudah bersyukur.
Luhan hanya mengerucutkan bibirnya. "Jika kau belum pulang, untuk apa aku disini membantumu mendorong gerobak rongsokan ini?" Sang nenek terkekeh menanggapi ocehan Luhan.
Hanya tinggal beberapa meter lagi untuk sampai di rumah kecil Luhan dan neneknya. Halaman rumahnya pun penuh dengan beberapa barang rongsokkan yang kalau di jual lumayan untuk menghasilkan uang dan juga di sana terdapat sepeda tua yang ia kenali.
"Oh! Paman Lee!" Ujar Luhan ketika menyadari ada seseorang sedang menunggu di depan rumahnya. Serasa di panggil, pria paruh baya itu menoleh dan mendapati Luhan dan juga Neneknya sedang menaruh gerobak di sudut halaman rumah.
"Kau baru pulang Luhan?" Tanya Paman Lee yang di balas anggukan oleh Luhan. "Ada apa kau kemari, Tuan Lee?" Kini Nenek Luhan yang bertanya dan menyuruh Paman Lee untuk duduk di depan terasnya sedangkan Luhan sedang melepaskan sepatunya.
Paman Lee mengeluarkan ikan – ikan dari kantong plastiknya. "Hari ini aku memancing dan mendapatkan banyak ikan. Sayang jika tidak di berikan untukmu dan Luhan." Kata Paman Lee bersemangat menunjukkan hasil tangkapannya pada dua orang yang ia kenal sejak lama. Nenek Luhan terkekeh.
"Huwa Paman, kau mendapatkan banyak ikan." Puji Luhan pada hasil tangkapan Paman Lee yang membuat lelaki paruh baya itu menepuk dadanya bangga. "Aku ini yang terbaik dalam hal memancing ikan, Luhan-ah."
"Ya ampun! Kau tidak perlu repot – repot untuk memberikannya pada kami." Meskipun Nenek Luhan sudah berbicara seperti itu, Paman Lee tetap menggeleng tak setuju. "Tidak, tidak. Kau dan Luhan sudah kuanggap sebagai saudaraku. Terimalah! Kau tidak ingin membuat pekerjaanku sia – sia kan?" Kembali – Nenek Luhan terkekeh kemudian ia menerima ikan – ikan itu dengan senang hati.
"Baiklah, baiklah. Aku menerimanya. Ah ya, tunggu sebentar. Kemarin malam aku membuat Kimchi. Luhan tolong ambilkan kimchi di kulkas." Menurut pada perintah sang Nenek, Luhan langsung berjalan menuju dapur dan mengambil kimchi di dalam kulkas dan tak lupa mengambil tempat makan untuk di kimchi yang akan di bawa pulang oleh Paman Lee.
"Ini Nek. Aku ingin mandi dulu." Ujar Luhan menaruh kimchi di smaping Neneknya. "Kau akan bekerja hari ini, Luhan?" Tanya Paman Lee yang di jawab anggukan oleh Luhan. "Ah, Baiklah. Sekalian akan ku antar ke tempat kerjamu."
"Apa tidak merepotkan?" Tanya Nenek Luhan dan di jawab gelengan oleh Paman Lee. "Luhan sudah kuanggap seperti anak ku sendiri, Tak apa."
Luhan tersenyum kemudian pamit untuk mandi. "Kau ingin melanjutkan Luhan kemana?" Tanya Paman Lee selagi Nenek Luhan memasukkan beberapa sendok ke dalam tampat makan itu.
"Menurutmu, Universitas mana yang terbaik?" Tanya Nenek Luhan bersemangat. "Di Seoul banyak Universitas terbaik. Aku juga memiliki saudara di Seoul kau bisa menitipkan Luhan pada Saudaraku."
Nenek Luhan menggeleng tak setuju atas saran yang di berikan oleh Paman Lee – yeah kecuali sarannya yang pertama untuk memasukkan Luhan ke salah satu Universitas di Seoul. Paman Lee yang melihat perubahan raut wajah wanita di hadapannya menatap bingung. "Kenapa?"
"Aku tak ingin merepotkan saudaramu. Luhan itu anak yang pandai dan dia sangat mandiri pasti dia sependapat denganku yang tidak ingin merepotkan saudaramu itu."
Paman Lee tersenyum kemudian menggangguk setuju. "Ya, baiklah terserahmu sajalah."
.
- What If -
.
Luhan terus saja melakukan pekerjaannya mencuci piring – piring kotor di sebuah restoran. Seolah tak ada hentinya piring kotor itu terus saja berdatangan. Setiap ia baru saja selesai dengan beberapa piring bersih, piring kotor baru akan datang minta di bersihkan. Maklum saja karena saat ini adalah jam makan malam jadi banyak pelanggan akan menghabiskan makan malam mereka disini.
"Hei Luhan, piring kotor ini masih sangat banyak jika kau kerja dengan lelet seperti itu kapan selesainya? Kerja yang cepat!"
Luhan tersentak kemudian melakukan pekerjaannya dengan segera setelah pria tua gendut itu membentaknya yang kemudian pergi untuk melihat keadaan restorannya. Di mata atasannya, Luhan itu sama saja dengan serangga kecil yang pasti akan menggangu aktifitas manusia. Luhan tak menyadari jika ia menyenggol tumpukkan piring kotor ketika hendak mengambil sabun lagi menyebabkan suara pecahan cukup keras dan menarik perhatian orang – orang yang berada di luar.
Luhan meruntuki kebodohannya. Pasti akan menjadi kacau semuanya.
"Apa yang telah terjadi, Xi Luhan?!" Bentak sang manager melihat kekacauan yang telah di buat oleh Luhan. Tubuh mungil Luhan terus – menerus membungkuk sembilan puluh derajat menghadap ke arah manager sambil menggumakan kata maaf. Namun pria gendut itu tidak perduli dengan permintaan maafnya, ia manarik paksa tubuh mungil Luhan keluar restoran dari pintu belakang.
"Mulai saat ini kau di pecat Xi Luhan! Jangan datang lagi kemari!" Bentakknya setelah itu meninggalkan Luhan sendirian di luar. Luhan berusaha menahan emosinya keluar – lagi.
Ia melangkah menjauh dari restoran yang bahkan belum genap seminggu memperkerjakannya. Ia bingung untuk mendapatkan pekerjaan yang baru karena ia sama sekali tidak memiliki teman – ataupun koneksi untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang bisa memperkerjakan siswa sekolah yang akan menghadapi ujian.
Langkahnya tak tentu arah, ia tidak mungkin untuk pulang sekarang karena nanti pasti neneknya akan menanyainya dan Luhan tidak ingin membuat neneknya itu khawatir jika ia baru saja di pecat dengan secara tidak hormat itu.
Luhan melepaskan kacamatanya karena kacamatanya sedikit berembun dan tentu saja itu mengganggu penglihatannya. Ia mengusapkan kacamatanya pada ujung kaosnya untuk menghilangkan embunnya. Ia memasangkan kembali kacamatanya dan matanya sedikit melebar ketika di hadapannya ada seseorang yang tak asing berdiri seraya menatapnya begitu tajam.
Di sebrang jalan sana ada dia – Oh Sehun sedang menatapnya. Luhan menelan ludahnya susah. Luhan berdoa dalam hatinya agar Sehun tidak melihatnya. Sungguh, dia sudah lelah berurusan dengan Sehun, cukup ia di bully di sekolah saja. Dia ingin hidup tenang tanpa adanya gangguan Sehun.
Luhan menundukan kepalanya dan berjalan secara perlahan. Namun Luhan itu selalu bernasib sial bahkan ketika saat seperti ini pun dewi fortuna enggan untuk membantunya. Lengan itu di tahan oleh Sehun dan di tarik untuk mengikutinya.
Luhan menatap bingung ke arah punggung lebar Sehun seketika ia meringis ketika cengkraman di lengannya menguat. "Hentikan, ku mohon." Seolah angin yang berhembus, Sehun sama sekali tidak mengubris perkataan Luhan.
Langkah besar Sehun sampai ke sebuah rumah yang tidak terlalu besar maupun kecil. Dengan mudah ia membuka pintu itu dan setelah masuk, Sehun membawa Luhan menuju sebuah kamar yang berdominan berwarna hitam dan putih itu.
Ia melempar tubuh mungil Luhan di atas ranjang miliknya kemudian menatapnya datar. Luhan pun hanya bisa meringis atas perlakuan kasar Sehun kepadanya.
"Xi Luhan,"
Tubuh Sehun mendekat ke arah pria mungil yang tiba – tiba saja merasakan perasaan yang tidak mengenakkan.
"M-mau apa kau?" Tanya Luhan dengan tubuh yang gemetaran. Ia ingin menghindar namun ia kalah cepat dengan Sehun yang sudah menindih tubuh mungilnya. Mata tajamnya mengamati detail semua yang berada di wajah Luhan.
Ia menarik kacamata Luhan sehingga mata rusa itu terlihat begitu indah di wajah Luhan. Sehun mendekatkan wajahnya dengan wajah Luhan dan Luhan bisa merasakan bau alkohol yang sangat menyengat dari mulut Sehun.
Kedua bibir mereka bertemu dan dengan rasa ketakutan Luhan menutup matanya berbeda dengan Sehun yang menutup matanya karena untuk bisa menikmati bibir Luhan. Sehun menghisap bibir atas dan bawah milik Luhan secara bergantian.
Luhan membuka matanya lebar terkejut atas aksi yang Sehun lakukan pada bibirnya. Tangannya mendorong – dorong dada besar yang menghimpit tubuhnya. Namun kekuatannya tak begitu cukup kuat untuk mengalahkan Oh Sehun.
Tangan besar Sehun pun hinggap di pipi Luhan dan membelainya begitu lembut kemudian menghimpit kedua pipi Luhan untuk memperdalam ciumannya. Hati Luhan menjerit tak terima apa yang sudah Sehun lakukan ini. Dengan tenaga yang tersisa ia memukul – mukul dada dan juga bahu Sehun yang sayang sekali tidak dapat hasil mata Luhan mengalir di pipinya karena merasa sudah tidak memiliki harapan lagi untuk bebas dari rengkuhan Sehun.
Sehun melepaskan ciumannya dan menatap bibir Luhan yang berwarna merah membengkak akibat bibirnya. Mata tajam Sehun mengarahkan ke mata rusa milik Luhan yang berair. Luhan menatap mata sipit Sehun dengan perasaan ketakutan yang luar biasa.
"Hen-tikan." Lirih Luhan – lagi. Seolah mengalami gangguan pendengaran, Sehun malah melanjutkan aktifitasnya, mendaratkan bibirnya pada bibir Luhan. Tidak bergerak, tidak menghisap bibir itu hanya menempel dengan perlahan menjauh beberapa milimeter kemudian kembali mendarat di bibir Luhan dan Sehun melakukannya beberapa kali hingga akhirnya ia berhenti dan menurunkan kepalanya pada ceruk leher Luhan.
Perlahan ia mengecup kulit leher Luhan dengan lembut kemudian menghisapnya sehingga Luhan mendesah pelan. Dan tak puas hanya menghisap, Sehun bahkan menggigit – gigit kecil leher Luhan hingga meninggalkan jejak di sana.
Tangan besar Sehun beralih pada pakaian Luhan. Ia mencoba untuk menyikap kaos milik Luhan ke atas dan tangan besar itu mengelus – elus kulit perut hingga dada milik Luhan yang terasa begitu lembut. Luhan yang merasakan tangan Sehun yang sedang menggerayangi tubuhnya itu terkejut. Tangan mungilnya pun menahan pergerakan random tangan milik Sehun.
Sehun yang merasakan gangguan kesenanganya pun menghentikan aktifitas membuat tanda di leher Luhan kemudian kepala terangkat untuk menatap Luhan. Tatapan mata itu menajam. "Diam." Ujar Sehun dengan pelan namun sarat penuh perintah.
Perlahan Luhan melepaskan tangannya yang tadi menghentikan pergerakan tangan Sehun karena merasa ketakutan.
"Lepaskan pakaianmu, sekarang." Perintahnya lagi membuat aliran air mata Luhan bertambah banyak.
"Ti-tidak, ku mohon. Jangan lakukan ini." Lirihnya dengan nada memohon. Namun Sehun tak memperdulikan sama sekali perkataan Luhan, tangan besar Sehun menarik kaos yang melekat di tubuh Luhan ke atas sehingga kaos itu lolos melewati kepala Luhan dan juga kedua tangan Luhan.
Hawa dingin langsung menerpa tubuh Luhan yang sudah bertelanjang dada. Ia langsung menghalangi tubuhnya dengan kedua tangannya dan itu membuat Sehun menggeram kesal. Sehun menggapai kedua tangan Luhan yang sedari tadi menutupi tubuh Luhan dan mengangkatnya ke atas kepala Luhan.
Mata tajam Sehun menatap wajah memelas Luhan kemudian turun ke tubuh Luhan yang telanjang yang entah mengapa begitu menggairahkan. Tubuh Luhan begitu putih dan juga mulus nyaris tanpa cacat. Ia begitu memuja tubuh Luhan.
Kembali ia mencium bibir Luhan yang terasa begitu menagih dan menggairahkan. Melumatnya tanpa ampun seolah besok ia tidak dapat menikmati bibir manis milik Luhan. Bibirnya turun ke leher Luhan, kembali ia membuat tanda pada leher Luhan dan membuat Luhan mendesah.
Bibir Sehun kemudian turun pada puting mungil milik Luhan. Ia menjilat, menggigit – gigit kecil kemudian menghisapnya seolah puting itu dapat mengeluarkan air susu seperti wanita pada umumnya.
Salah satu tangan besar Sehun yang tidak menjaga kedua tangan Luhan beralih untuk membuka resleting pada celana Luhan sontak saja perlakuan Sehun membuat mata rusa Luhan kembali membulat.
"Ku-mohon, Jangan seperti ini – hentikan Oh Sehun. Ku mohon." Pinta Luhan dengan memohon rasa belas kasih pada Sehun. Tak apa jika Sehun membullynya di sekolah meskipun secara sadis sekalipun tapi tidak untuk ini. Sungguh ia lebih baik mati jika Sehun melakukan ini padanya.
Tubuh Luhan menggeliat untuk menghentikan aksi Sehun yang entah bagaimana sudah berhasil menyisakan celana dalamnya saja. Hatinya menjerit hancur. Dan akhirnya Luhan hanya bisa menangis dan menjerit dalam diam ketika Sehun melakukan hal bejat terhadapnya.
.
- What If -
.
Pagi hari menjelang, Luhan merasakan tubuhnya begitu remuk dan ia sangat malas untuk membuka matanya karena Luhan berharap setelah kejadian semalam ia tidak perlu membuka matanya lagi. Namun kesialan selalu menimpanya.
Mata rusa itu perlahan terbuka, matanya di suguhkan dengan wajah brengsek Sehun yang masih terlelap. Emosinya pun berkumpul menjadi satu di dadanya. Air matanya kembali tergenang di pelupuk matanya. Hati Luhan sudah berhasil di hancurkan oleh seorang brengsek seperti Oh Sehun.
Membunuh? Selintas Luhan berpikir untuk membunuh Sehun ketika kesempatan bagus seperti ini untuk melayangkan nyawa Sehun sekarang. Bisa saja ia membekap wajah Sehun dengan Bantal sampai Sehun kehabisan napas ataupun menusuk tepat di jantungnya menggunakan pisau?
Kembali Luhan perhatikan wajah terlelap penuh damai milik Sehun membuatnya berpikir jika membunuh Sehun bukanlah pilihan yang tepat, ia bisa masuk penjara dan membuat neneknya menangis histeris karena cucu satu – satunya adalah seorang pembunuh. Namun bukan hanya itu alasannya, karena Luhan saat ini memiliki perasaan pada si brengsek ini meskipun saat di sekolah dia adalah sasaran empuk untuk Sehun bully tapi tanpa ada kebohongan sedikit pun Luhan mengagumi dan begitu menyukai Sehun sejak dulu. Entahlah, Luhan harus bersyukur atau menyesal telah memiliki perasaan cinta pada pria yang semalam memperkosanya.
Tubuh mungil Luhan bangkit meskipun di bawah sana ia merasakan sakit yang luar biasa. Ia memakai kembali pakaiannya yang sempat di lempar oleh Sehun dengan kasar dan tak lupa kacamata bulatnya. Luhan segera keluar dari rumah Sehun sebelum ada yang mencurigainya apalagi sampai bertemu dengan teman seperjuangan Sehun, Kim Jongin.
Dengan langkah pelan dan sedikit meringis Luhan berjalan menuju sebuah tempat. Bukan rumahnya bersama neneknya melainkan tempat yang membuatnya bisa menenangkan dirinya. Jika ia pulang kerumah neneknya dalam kondisi seperti ini sangat tidak memungkinkan karena pastinya wanita tua itu akan panik dan bertanya apapun yang mengenai kekacauan pada Luhan. Maka lebih baik ia menghindar dan memilih tempat yang terbaik.
Hampir memakan waktu perjalanan dua puluh menit akhirnya Luhan sampai di tempat tujuannya, ia menaiki sebuah batu karang besar. Tempatnya biasa untuk menenangkan diri di sebuah pantai yang memiliki beberapa batu karang besar dengan bibir pantai yang membentang begitu luas.
Semilir angin menyapa wajahnya yang nampak kelelahan. Pandangannya tertuju pada air berwarna biru yang nampak tenang. Ia juga ingin seperti air itu yang nampak tenang. Kenapa Tuhan memberikan hidup yang tak adil padanya? Ibu dan Ayahnya telah meninggalkan dirinya sendirian disini bersama sang Nenek kemudian kehidupan ekonomi Luhan bersama sang Nenek bisa di bilang tidak baik, Nenek Luhan bekerja kadang sebagai pengumpul barang – barang rongsokan dan kadang menjadi buruh mencuci untuk menghidupi Luhan. Neneknya hanya menyuruhnya agar Luhan rajin belajar sehingga kelak bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik maka dari itu Luhan mati – mati belajar dan tak jarang hingga jatuh sakit namun itu semua terbalaskan ketika ia mendapatkan baesiswa untuk bisa belajar di salah satu sekolah elit di Busan.
Seolah kesialan tak bosan menghampiri Luhan, di sekolah itu ia malah menjadi korban bullying. Sekolah tahu akan hal itu namun mereka seolah tak mau tahu karena mereka pikir Luhan sudah bisa di terima karena baesiswa saja sudah untung jadi mereka tak ingin repot – repot mengotori tangan mereka untuk membantu siswa bernama Xi Luhan itu apalagi jika yang membully Luhan itu adalah anak pemilik dari saham terbesar di sekolahnya. Oh bisa gawat urusannya.
"Tidak ada yang perduli lagi padaku, kecuali Nenek dan Paman Lee saja." Gumamnya pelan. Ia menghembuskan napasnya kasar kemudian kepalanya mendongkak ke atas menatap langit biru yang hari ini sangat cerah.
"Tuhan, Kau itu benar – benar ada tidak sih? Kenapa Kau tidak mau membantuku dan semakin mempersulitku? Kenapa?" Lirihnya. Air matanya berlomba – lomba untuk keluar mengingat perkataan – bullshit – Neneknya tentang keberadaan Tuhan. Neneknya bilang Tuhan selalu ada bersama kita dalam keadaan apapun tapi nyatanya saat keadaan terpuruk seperti ini Luhan tidak mendapati Tuhan membantunya.
Kemudian tubuhnya bangkit untuk berdiri. Ia melihat ke arah air yang tenang dengan pandangan yang kosong. Semoga setelah ini ia mendapatkan kehidupan yang lebih tenang dan tidak lagi ia bertemu dengan si brengsek Sehun ataupun orang – orang yang menganggunya maupun yang tidak memperdulikannya.
Luhan menggigit bibir bawahnya seolah menyakinkan keputusannya adalah yang terbaik. Nenek, maafkan aku karena sudah mengecewakanmu tapi aku benar – benar sudah tidak kuat lagi menahan ini sendirian. Semoga kau mengerti, Nek dan juga hiduplah dengan baik tanpa diriku lagi. Aku sangat – sangat menyayangimu, Nenek. Sampai jumpa lagi.
Tubuh Luhan melompat masuk ke dalam air berwarna biru yang tenang itu.
.
.
TBC
cuap - cuap :
Jangan protes sama ncnya cuman setengah, saya masih belajar buat adegan ranjang karena jujur aja tangan saya gemeteran ngetik adegan itu wkwk. ini adalah part Hunhan dan yang sebelumnya part Chanbaek, 2 chap ini hanya sebagai prolog setelah chap ini ada kejadian yang tak terduga, jadi review terus yah.
THANKS TO :
Anggiebyun | Bunda lulu | Hunniehan | Umroyaya1 | Hanna Byun614 | Love654 | Lussia Archery | Exindira|
Ada yang ga ke sebut? komen aja
