Chapter 3 – A New Life
Baekhyun menggerakan jari – jari lentiknya ketika alam bawah sadarnya menyuruhnya untuk terbangun yang sudah beberapa hari tak sadarkan diri. Perlahan matanya terbuka, tak lama kembali di pejamkannya lagi untuk membiasakan dengan cahaya yang menerangi di dalam ruangan itu.
Kepalanya terasa pening bukan main. Kemudian ujung matanya melirik ke arah sekeliling ruangan tersebut. Ia menghela napasnya ketika ia mendapati dirinya berada sendirian di sini. Baekhyun menyimpulkan jika saat ini pasti dirinya sedang berada di dalam rumah sakit karena selang infus yang menusuk di tangan kirinya.
Suara decitan pintu membuat Luhan menoleh pada sumber suara. Seseorang dengan tinggi di atas yang lengkap memakai seragam sekolah membuat Baekhyun mengerutkan dahinya bingung.
"B-Baekhyun-ah! Kau sudah sadar?" Tanya pria tinggi itu bername tag Park Chanyeol di seragam sekolahnya. Baekhyun yang masih bingung dengan keadaannya hanya bisa menggangguk. Chanyeol yang tanpa memperdulikan tatapan bingung Baekhyun langsung memeluk tubuh Baekhyun erat. Ia merasa sangat bersyukur ketika Baekhyun sudah kembali membuka matanya.
"Syukurlah, Baek. Kau sudah sadar. Aku sangat senang." Baekhyun hanya terdiam, ia bingung untuk membalas perkataan Chanyeol. Baekhyun melepaskan pelukan Chanyeol, ia merasa kurang menyukai tindakan Chanyeol.
"Kau ingin minum?" Tanya Chanyeol yang di jawab anggukan oleh Baekhyun. Dengan segera Chanyeol mengambil gelas yang berisi air putih di atas meja nakas lalu memberikannya pada Baekhyun.
Baekhyun hendak menerima gelas tersebut namun ketika ia melihat tangannya ke atas ada sesuatu yang aneh. Ini bukanlah tangan miliknya. Jari ini seperti jari milik wanita. Tunggu, apa ini tubuh seorang wanita?
Kepala Baekhyun menunduk memastikan yang berada di bawah sana. Tidak ada dua bukit kembar yang menggantung di dadanya dan juga ia merasakan sesuatu yang berada di selangkangannya. Kemudian perasa Baekhyun mengatakan ada sebuah perban yang melilit pinggangnya.
"Kenapa dengan pinggangku?" Tanya Baekhyun seraya meraba perban yang melilit pinggangnya. Chanyeol tersenyum pedih. "Kau tertusuk, Baek."
Baekhyun menambah kerutan di dahinya. Ini terlalu membuatnya terkejut dan sekaligus terlalu membingungkan. Luka di tusuk? Seingatnya ia tidak ada yang menusuk pinggangnya sebelum ia melompat terjun ke dalam laut dan seingatnya lagi namanya masih Xi Luhan bukanlah Baekhyun seperti yang pria itu sebutkan.
"Kau baik – baik saja?" Tanya Chanyeol dengan nada khawatirnya melihat tingkah Baekhyun yang seperti orang kebingungan. Belum Baekhyun menjawab pertanyaan dari Chanyeol suara ketukan pintu membuat dua manusia itu menoleh pada sumber suara.
Pria berjas putih dan di belakangnya seorang wanita muda tersenyum ramah pada Baekhyun maupun Chanyeol. "Bagaimana dengan perasaanmu saat ini, Tuan Byun Baekhyun?"
.
.
AdillAdill
Present
- What If -
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Xi Luhan
Oh Sehun
YAOI, SHOUNEN – AI, BOYS LOVE, BOYXBOY
Cerita ini murni punya saya. Dilarang plagiat/copas tanpa izin.
Tolong hargai saya.
.
.
Byun Baekhyun seorang yang sangat menyukai perkelahian. Park Chanyeol si pelayan setia Baekhyun. Di kehidupan lainnya terdapat Xi Luhan si korban Bullying dan Oh Sehun yang sangat menyukai membully Luhan. Dan sebuah kejadian yang tak pernah di duga oleh mereka. Jiwa Baekhyun dan Luhan tertukar?!
.
.
"Kondisi Tuan Byun Baekhyun semakin membaik. Lukanya pun sudah hampir mengering sempurna." Ujar Dokter bername tag Kim Junmyeon dengan senyuman terbaikknya pada Chanyeol setelah memeriksa kondisi Baekhyun. "Kemungkinan lusa besok dia sudah boleh pulang." Lanjut kata sang Dokter yang membuat senyum Chanyeol melebar.
"Baiklah, Tuan Byun Baekhyun beristirahatlah yang cukup. Saya permisi." Sebelum pergi Dokter dan Suster itu membungkuk pada Chanyeol dan Baekhyun. Setelah Dokter dan Suster itu pergi, Chanyeol langsung melompat duduk di sisi ranjang Baekhyun.
Baekhyun menunduk malu ketika Chanyeol memperhatikannya dengan senyuman yang sangat menawan. Chanyeol yang melihat gelagat aneh Baekhyun dengan perlahan ia mengangkat dagu Baekhyun sehingga tatapan mereka berdua bertemu.
"Baek? Kenapa? Apa kau merasa sakit?" Raut wajah Chanyeol menjadi khawatir karena sedari tadi Baekhyun hanya terdiam.
Baekhyun – Luhan – menggeleng pelan ketika Chanyeol menanyai keadaannya. "Aku ingin ke kamar mandi." Pinta Baekhyun dengan suara pelan nyaris berbisik. Chanyeol hanya menggangguk dan membantu Baekhyun berdiri kemudian berjalan ke kamar mandi dengan di papahnya.
"Kau yakin tak ingin aku temani?" Tanya Chanyeol menahan tangan Baekhyun ketika pria mungil itu hendak masuk ke dalam kamar mandi. Baekhyun menggeleng pelan kemudian berjalan pelan masuk ke dalam kamar mandi.
Ia bejalan menuju washbasin dan menatap pantulan orang asing dari balik cermin. Mata sipit itu membulat lebar ketika melihat rupanya sekarang. Ia mengangkat tangan kanannya untuk meraba wajahnya asing itu dengan perlahan.
Matanya nampak lebih sipit dari mata aslinya kemudian bentuk hidungnya pun agak sedikit berbeda lalu jemari lentik itu turun menuju bibir yang terlihat lebih tipis dari bibir miliknya sebelumnya. Dan juga penglihatannya begitu bagus tak seperti Luhan yang sangat membutuhkan kacamata bulatnya untuk melihat.
Rambutnya pun jadi berwarna coklat dan hampir sembilan puluh tujuh persen Luhan berubah menjadi seseorang yang bernama Baekhyun. Apa kini mereka sedang bertukar jiwa? Bertukar tubuh? Tapi bagaimana bisa? Bukannya seharusnya ia sudah mati karena sudah tenggelam ke dalam laut? Mengingat kejadian semalam sebelum ia membunuh dirinya membuat hati Luhan kembali remuk.
Namun senyum tipis tergores di wajah manis Baekhyun yang masih ada beberapa luka lebam yang hampir sembuh. Setidaknya Tuhan masih sayang padanya karena dengan seperti ini Luhan tidak akan pernah bertemu lagi dengan Sehun – pria yang sukses menghancurkan hatinya menjadi berkeping – keping yeah setidaknya hanya sementara bagaimana pun ia harus kembali kepada kehidupan aslinya dan tidak ingin merusak kehidupan Baekhyun dengan kesialannya.
Suara ketukan pintu menyadarkan Baekhyun – Luhan – kembali ke alam sadarnya.
"Baekhyun-ah? Kau baik – baik saja di dalam?" Tak mau membuat Chanyeol kembali khawatir, Baekhyun segera membuka pintu kamar mandi dan seperti dugaannya Chanyeol menampilkan raut wajah khawatir.
Baekhyun tersenyum kecil, "Aku baik – baik saja." Ujarnya dengan pelan membuat Chanyeol membawa tubuh mungil Baekhyun ke dalam rengkuhanya.
"Maafkan aku, Baek. Maafkan aku yang lalai menjagamu." Ia mengeratkan pelukannya pada Baekhyun. Menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Baekhyun.
Baekhyun yang bingung untuk menanggapi seperti apa yang bisa ia lakukan hanya mengganggukan kepalanya. "Aku berjanji akan lebih waspada dan melindungimu sekuat jiwa ragaku."
Sekali lagi Baekhyun menggangguk dan menepuk pelan bahu Chanyeol. Pria tinggi itu pun menarik tubuhnya kemudian membantu Baekhyun untuk berjalan kembali ke tempat tidurnya. Ia juga membantu Baekhyun untuk menyelimutinya.
"Lekaslah sembuh Baekhyun-ah."
.
.
Chanyeol kembali memasuki kamar rawat majikannya dengan menenteng sebuah bungkus makanan setelah ia izin kembali ke rumah untuk mengambil beberapa keperluan tadi Chanyeol mampir ke sebuah toko kue dan membeli beberapa roti berisi selai stroberi kesukaannya.
"Oh, What can I do?
Life is beautiful but you dont have a clue
Sun and ocean blue
Their magnificence, it dont make sense to you
Black beauty."
Senyum Chanyeol semakin melebar ketika melihat Baekhyun sedang bersenandung ria seraya memperhatikan keluar jendela. "Aku tidak tahu jika kau suka bernyanyi, Baek." Ujar Chanyeol menghampiri Baekhyun dan meletakkan bungkusan makanan di hadapan Baekhyun.
Baekhyun tersenyum malu kemudian tangannya terulur untuk membuka bungkusan itu seketika aroma roti yang begitu lezat menguar. "ini untukku?" Kekehan suara berat Chanyeol membuat baekhyun mengerutkan dahinya.
"Memangnya siapa lagi yang begitu gila menyukai roti yang bahkan rasanya tak karuan."
"Rotinya tak enak?" Tanya Baekhyun dengan sedikit ragu membuat Chanyeol menyatukan kedua alisnya. "Kenapa bertanya seperti itu?"
Menyadari kesalahannya Baekhyun segera menggelengkan kepalanya dengan cepat kemudian mengambil satu roti dan memakannya dengan perlahan. Kunyahan Baekhyun memelan ketika menyadari apa yang Chanyeol katakan benar.
Lidah Luhan tidak begitu menyukai stroberi dan kini ia setuju dengan pendapat Chanyeol tentang roti isi selai stroberi ini dengan rasa tak karuan. "Kau tak makan?"
"Tidak, untukmu saja. Aku sudah kenyang tadi, ayo cepat habiskan."
Baekhyun menggenggam roti yang telah ia gigit dengan ragu. Tidak mungkin ia menghabiskan roti dengan rasa yang kurang ia suka sebanyak ini. Chanyeol menatap Baekhyun dengan khawatir karena Baekhyun terdiam cukup lama dan hanya memandangi roti yang berada di genggamannya.
"Baekhyun? Kau tak apa?" Baekhyun menggeleng pelan ketika suara berat Chanyeol menyapanya.
"Aku bosan, bisa kah kita keluar?" Tanya Baekhyun hanya untuk mengalihkan agar ia tidak memakan roti yang rasanya tak karuan itu. Chanyeol bangkit dari duduk kemudian tersenyum kecil. "Akan ku tanya Dokter Kim terlebih dahulu. Tunggulah."
Chanyeol menghilang dari pandangan Baekhyun ketika pintu itu tertutup dan hanya menyisakan dirinya. Baekhyun – Luhan – menghelakan napasnya berat kemudian menatap roti yang berada di genggamannya.
Sebuah getaran di atas meja nakas membuatnya terkejut bukan main dan hampir menjatuhkan roti yang berada di gemgamannya. Ia melihat sebuah benda persegi panjang yang tipis terus bergetar. Penasaran, ia mengambilnya dan nomor tak ia kenal tertera pada layar ponsel yang memanggilnya. Dan dengan sedkit keberanian ia menggeser icon berwarna hijau itu dengan perlahan.
"Halo?"
[Halo, Apa ini Xi Luhan?]
Baekhyun melebarkan kedua mata sipitnya ketika mendengar suara yang sangat familiar terdengar dari sebrang.
"Ya, aku Xi Luhan. Apa kau – "
[Benar, aku Byun Baekhyun.]
Baekhyun menutup mulutnya tak percaya.
"Jadi kita benar – benar bertukar tubuh?"
[Untungnya adalah iya. Mulai sekarang kau jalani hidup sebagai Byun Baekhyun dan kau boleh menikmati seluruh fasilitas yang ku punya.]
"Tu-tunggu, apa kau yakin dengan semua ini?"
Suara kekehan terdengar dari sebrang.
[Ya, dan kau harus merahasiakannya jika tidak akan ku pastikan jika kau berakhir di rumah sakit jiwa.]
"Tapi, apakah kau akan menjaga Nenek ku dengan baik?"
[Ya, tentu saja karena sudah empat hari ini aku hidup sebagai Xi Luhan. Sejujurnya aku telah menghubungi mu sejak dua hari yang lalu meminjam ponsel Paman Lee tapi yang mengangkat telepon ku selalu Chanyeol. Ngomong – ngomong Chanyeol dia adalah pelayan pribadimu mulai sekarang.]
"Jadi Chanyeol-sshi adalah pelayan pribadi? Ku pikir dia kekasihmu."
[Tidak, dia hanya seorang pelayan pribadiku karena Ibunya yang merupakan pelayan setia di rumahku. Oh iya, kau sekolah dimana dan kelas berapa? Besok kata Nenek aku sudah boleh bersekolah.]
"Aku bersekolah di Busan High School dan aku berada di kelas 3-A. Jika kau tidak tahu di mana sekolahnya kau bisa meminta tolong pada Paman Lee untuk mengantarkanmu ke sekolah."
[Baiklah, aku mengerti.]
"Lalu bagaimana dengan sekolahmu dan kelasmu?"
[Tak perlu khawatir, Chanyeol akan setia berada di sampingmu. Lagipula aku dan Chanyeol satu sekolah dan satu kelas.]
"Baiklah, e-hm Baekhyun-ssi jika ada waktu bisakah kita bertemu?"
[Ya tentu saja, mari bertemu jika ada waktu.]
"Maaf, kita tidak bisa sering berkomunikasi karena aku tak memiliki ponsel."
[Ya, tak apa. Aku mengerti. Akan ku telepon lagi lewat ponsel milik Paman Lee.]
"Itu pasti akan sangat merepotkan."
[Kau benar. Ya sudah, aku harus mengembalikan ponsel milik Paman Lee. Jaga kesehatanmu, Luhan-ssi.]
"Ya kau juga Baekhyun-ssi."
Baekhyun memperhatikan ponselnya yang menghitam kemudia padangannya teralih pada sebuah pintu yang terbuka yang menampilkan seorang wanita cantik dengan pakaian formalnya dan juga bekas air mata yang mengalir di pipinya yang putih.
"Baekhyun-ah. Maafkan Ibu baru bisa menjengukmu sekarang." Wanita yang menyebut dirinya sebagai Ibu itu memeluk Baekhyun begitu erat. Baekhyun tersenyum.
"Tidak apa – apa, bu."
Ibu Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap sang putra semata wayang dengan tatapan tak percaya. Baekhyun yang merasa ada yang aneh dengan wanita di hadapannya pun menanyainya.
"Ibu. Apa ada yang salah?"
Ibu Baekhyun membasahi bibirnya yang terasa kelu kemudian kembali memeluk putra kesayangannya. "Tidak ada yang salah sayang, Ibu hanya senang kau memanggil Ibu lagi untuk sekian lamanya."
Dalam hati Luhan meringis. Kenapa bisa wanita yang mengaku sebagai Ibu Baekhyun ini berbicara seperti itu? Apa Baekhyun dan Ibunya dulu tidak akur?
Wanita itu kembali melepaskan pelukannya dan menatap Baekhyun dengan rasa khawatir. "Jadi bagaimana dengan keadaanmu sekarang? Katanya kau tertusuk? Bagaimana bisa?"
Baekhyun terdiam. Ia bingung bagaimana menjelaskan bagian tertusuk karena ia tidak tahu sama sekali bagaimana bisa seorang Baekhyun tertusuk di pinggangnya.
"Baiklah jika kau tidak ingin bercerita, Ibu mengerti."
Seorang pria paru baya memasuki ruangan Baekhyun dengan stelan jas formal yang masih lengkapi tubuhnya. "Maaf, aku terlambat tadi ada sedikit urusan dengan Chanyeol." Pria itu tersenyum pada Baekhyun dan Ibu Baekhyun menghampiri suaminya sejak 18 tahun yang lalu.
"Tidak apa – apa sayang. Dan juga pasti kau tak akan mempercayai ini." Bisik Ibu Baekhyun. "Tidak mempercayai apa?"
"Coba peluk Baekhyun."
"Apa kau yakin?"
"Ya, aku sangat yakin."
Dengan perlahn namun pasti tangan besar itu memeluk tubuh mungil Baekhyun. Sedangkan yang di peluk hanya bisa terdiam saja dengan sedikit senyuman canggung.
"Baekhyun?"
"Ya?"
"Ayah sangat mengkhawatirkanmu,"
Rasanya Luhan ingin menangis setelah mendengar kata – kata yang seharusnya di tujukan pada Baekhyun yang asli. Karena bagaimana pun ia merindukan kedua orang tuanya. Baekhyun benar – benar orang yang beruntung.
"Keadaanku sudah baik – baik saja, Ayah."
"Baguslah, Nak. Ayah harap kau lekas sembuh."
Setelah mengatakan itu, suara yang berasal dari ponsel sang ayah terdengar begitu mengganggu momen keluarga kecil itu dengan gerakan malas Ayah Baekhyun menerima panggilan tersebut.
"Ya, ada apa?"
"..."
"Oh Baiklah, saya dan istri saya akan segera ke sana. Pastikan semuanya stabil hingga saya tiba disana."
Setelah sambungannya terputus Ayahnya menoleh ke arah istrinya dengan tatapan 'Kita harus segera pergi' kemudian pandangannya teralih pada Baekhyun yang menatapnya dengan tatapan bingung. Tatapan penuh penyesalan ia berika pada anak laki – lakinya.
"Maafkan kami Baekhyun-ah. Kami harus segera pergi, ada sesuatu yang harus kami selesaikan. Kau tak apa kan jika harus kami tinggal?"
"Ya, tidak apa – apa lagipula ada Chanyeol yang menemaniku."
Ayah dan Ibu Baekhyun menghampirinya kemudian memeluknya dengan bersamaan. "Maafkan kami, Baekhyun-ah. Ibu akan meneleponmu nanti."
"Jaga kesehatanmu dan sampaikan maafku untuk Chanyeol."
Baekhyun yang tak mengerti maksud sang ayah hanya bisa menggangguk saja. Setelah memberikan kecupan di kening Baekhyun pasangan itu pergi keluar dari kamar rawat inap milik Baekhyun.
Tak lama berselang Chanyeol kembali membawakan kursi roda untuk membantu Baekhyun keluar kamar. "Kata Dokter Kim, Kau boleh keluar hanya saja tidak boleh terlalu lama." Baekhyun menatap Chanyeol dengan bingung. Pasalnya ada beberapa luka lebam yang hinggap di wajahnya. Perasaan sebelumnya tak ada luka seperti itu.
"Kau kenapa Baek? –"
"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Baekhyun dengan khawatir. Chanyeol sedikit tertegun kemudian tersenyum kecil sembari meraba luka – luka lebam di wajahnya.
"Tak usah khawatir, ini hanya luka kecil. Sudah ku obati sendiri."
"Apa ini ulah Ayah?"
"Bukan Baek! Sudahlah tak usah di pikirkan, Ayo katanya bosan ingin keluar kamar?"
Chanyeol membantu Baekhyun untuk duduk di kursi roda, tak lupa menyampirkan selimut di atas pangkuan Baekhyun agar Baekhyun tidak merasa kedinginan lalu tatapan mata Chanyeol beralih pada roti – roti yang ia beli tadi.
"Baek, rotimu mau di bawa juga tidak?" Tanya Chanyeol menunjuk makanan itu dan dengan pelan Baekhyun menggeleng. "Aku sudah kenyang." Pria tinggi itu hanya menggangguk mengerti dan tak mempermasalahkannya sama sekali kemudian mendorong kursi roda yang di duduki Baekhyun keluar dari kamarnya.
"Kau ingin ke mana, Baek?" Chanyeol mendorong kursi roda Baekhyun untuk masuk ke dalam lift. Baekhyun bergumam tak jelas. "Hanya di sekitar rumah sakit saja, Baek. Lusa baru kau boleh pulang." Seakan tahu apa yang sedang di pikirkan Baekhyun, Chanyeol menahan senyumnya melihat pantulan Baekhyun dari dinding lift yang terbuat dari stainless.
"Aku tak berpikir untuk pulang hanya saja aku ingin menghirup udara segar di halaman rumah sakit."
Chanyeol terdiam beberapa saat setelah mendengar perkataan Baekhyun yang menurutnya sedikit aneh namun dengan cepat ia hilangkan prasangka buruk pada Baekhyun. Suara lift menyadarkannya kemudian kembali mendorong kursi roda Baekhyun untuk keluar. "Apa pun untukmu, Baekhyun."
Mereka telah sampai di halaman rumah sakit, banyak orang yang sakit berlalu lalang dari yang hanya memakai perban di kepalanya, ada juga yang memakai kursi roda sama seperti Baekhyun.
Chanyeol duduk di bangku panjang berwarna putih dan menghadap ke arah Baekhyun. "Maaf Baek, aku sudah melaporkan kejadian ini pada pihak polisi." Ujar Chanyeol dengan berhati – hati karena ia tahu Baekhyun pasti tak akan menyukai hal ini.
"Itu Bagus," Gumam Baekhyun yang dapat membuat Chanyeol menatapnya tak percaya.
"Apa kau yakin dengan itu semua Baek? Maksudku kau tak berniat untuk membalas dendam untuk Daehyun dengan tangamu sendiri?"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan ragu. "Apa aku harus seperti itu?" Pertanyaan Baekhyun membuat Chanyeol tersenyum kecil.
"Tidak, kau tidak harus melakukan itu karena aku khawatir akan terjadi yang lebih parah terhadapmu."
Baekhyun menggangguk. "Jadi orang bernama Daehyun itu yang menusukku? Lalu dia sudah berada di kantor polisi sekarang?"
"Ya dia sudah berada di kantor polisi meskipun pihak kepolisian sempat sulit untuk menemukannya karena ia berhasil kabur tapi keberuntungan berada di pihak kita, polisi dapat membekuk Daehyun bersama kelompoknya dan kini mereka hanya tinggal menunggu jadwal sidang. Mungkin hanya Daehyun yang di bawa ke tempat khusus pembinaan remaja karena usianya masih di bawah umur dan masih berstatus pelajar. Apa menurutmu itu tak apa?"
Baekhyun yang sedari tadi mendengarkan penjelasan Chanyeol kemudian mengangguk. "Tak apa. Itu bagus untuknya."
Chanyeol yang sedikit terheran dengan sikap Baekhyun yang tak biasanya hanya bisa menggangguk pelan. Ini seperti bukan Baekhyun meski fisiknya memang terlihat seperti Baekhyun tapi sifatnya yang sedikit aneh yang membuatnya bingung. Biasanya Baekhyun tak suka jika musuhnya masuk penjara dengan mudahnya setidaknya ia harus membalas dendam atau membuat luka yang sama sepertinya baru boleh musuh itu masuk ke dalam penjara dan lagi bukan kah hukuman Daehyun cukup ringan? Biasanya Baekhyun akan menggeram tak suka kemudian menyuruh Chanyeol untuk menambahkan hukumannya.
Baekhyun yang kejam kini telah berubah. Bukankah itu baik?
.
.
TBC
.
.
Epilog
Ia terbangun mengerutkan dahinya menjadi kerutan – kerutan abstrak karena Hangover kini sedang melandanya. Pria itu mengerang ketika merasakan pening di dalam kepalanya. Tangan besarnya meraba – raba ke sekitar kasurnya guna menemukan benda tipis berbentuk persegi panjang. Mata sipitnya terbuka secara perlahan ketika benda yang ia cari tak kunjung ketemu. Tubuhnya ia bangkitkan menjadi posisi duduk dan bersandar pada headbed. Kepalanya mengadah ke atas kemudian ia menghelakan napasnya berat.
Ia terdiam untuk beberapa saat ketika menyadari seprai kasurnya begitu berantakan dan juga bau sperma yang begitu menyengat di kamarnya. Tubuhnya juga sedang keadaan full naked – yeah meskipun ia sangat suka tidur dengan half-full naked – namun ada yng berbeda saat ini.
Belum lagi semalam mimpinya begitu aneh. Ia sedang memperkosa kakak kelas culunnya – Luhan – dan seperti nyata bagaimana ia memperlakukan Luhan dengan sangat bejat dan tidak berperasaan membobolnya beberapa kali hingga Sehun merasa puas dan akhir tertidur. Pria itu – Oh Sehun mengerang seraya menarik rambutnya kasar berusaha mengingat kejadian – kejadian sebelumnya.
Oh sial, itu adalah kenyataan mengingat semalam Sehun benar – benar mabuk berat karena ia harus kembali mengingat penderitaan mendiang ibunya karena kemarin adalah pertepatan tanggal kepergian sang ibunda tercinta dan dalam perjalanan pulang ia melihat Luhan kemudian menariknya paksa dan membawanya kemari sehingga dengan kasar Sehun melakukan hal bejat itu. Ia menundukan kepalanya dan menutupi sebagaian wajahnya dengan tangan kanannya, Ada sedikit rasa penyesalan hinggap di hatinya, perasaan bersalah dan menyesal.
Namun sedetik kemudian senyum miring tercetak di bibirnya. Biarkan ia juga menderita seperti ibuku. Akan ku jamin jika kau akan ku buat lebih menderita daripada ini, brengsek!
.
.
Cuap - cuap ga jelas :
Helaww aku baru selesai mudik dan baru bisa update sekarang, sejujurnya aku lagi drop T.T mengingat dua hari satu malam harus berada di mobil u,u jangan di tanya setepos apa pantatku :'v *abaikan curhatan ga jelas
oh iya pada ga terima Luhan mati bunuh diri ya? tenang aja aku ga sekejam itu membiarkan kesayanganku mati begitu saja u,u
aku sangat berharap kalian tidak bingung dengan cerita ini, aku sengaja tetap memakai nama tubuh bukan nama jiwa, entahlah ku pikir ini akan sedikit aneh dan juga ada yang pernah baca novel "I'll be your wife" karya Jho Hyo Eun? mungkin kalo kalian udah pernah baca, novel ini juga menceritakan tentang pertukaran tubuh tapi tenang aja aku jamin ceritaku berbeda karena aku buat cerita ini sebelum aku menemukan novel itu.
mulai part ini jiwa Baekhyun dan Luhan itu sudah tertukar. bisa kembali atau tidak? entahlah tapi aku sudah memikirkannya sampai ending cerita. saat jiwa mereka tertukar aku ingin lebih fokus pada kisah hunhan karena eh spoiler lagi u,u tapi entah lah lihat respon reviewers /.\ kalo mau minta chanbaek yang banyak akan ku pikirkan. karena aku ingin buat adegan chanbaek sama hunhan sama rata
KUY REVIEW LAGI YANG BANYAK BIAR AKU SEMANGAT UNTUK UPDATE DAN RASA PENASARAN KALIAN BISA TEROBATI u,u
BIG THANKS TO :
ZzzxHan, Keziaf, Love654, Umroyaya1, Daebaktaeluv, Hunexohan, Exindira, Anggiebyun, Chanbaekisreal,
Akaindhe, Pinkbaek, Eun810, Hunniehan, Shenshey27, Taneptw307,
