Chapter 4 – New Enemy
Dia adalah Byun Baekhyun yang selama empat hari ini harus terjebak di dalam tubuh seorang yang bernama Xi Luhan dan sejujurnya Baekhyun tak pernah menyangka akan kejadian yang seperti ini. Meskipun begitu, Baekhyun sangat tertarik bagaimana menjalani kehidupan seorang Xi Luhan itu yang hanya tinggal bersama seorang Nenek yang sangat perhatian dan menyayanginya. Baekhyun iri.
Baekhyun kembali menatap tubuh kurus Luhan di balik pantulan cermin yang seperti kekurangan gizi. Hanya ada handuk berwarna hitam yang melilit pinggang rampingnya karena ia baru saja menyelesaikan kegiatan mandinya.
Senyuman tipis di bibir Luhan mengembang. Tangannya terangkat ke bagian rambut hitamnya yang telah menutupi matanya sebagian, dan menurutnya ini begitu risih. Akhirnya ia mengambil sebuah minyak rambut yang ia beli kemarin dengan hasil meminjam uang Nenek – Untung saja, Nenek tidak marah ketika ia meminta uang untuk membeli minyak rambut ini – kemudian ia usapkan di seluruh bagian rambutnya dan beberapa rambut yang mengganggu di bagian matanya ia tata ke belakang begitu rapih hingga ia kini sedikit terlihat menarik meskipun masih ada kacamata tebal nan bulat yang masih memberi nilai minus.
"Nanti akan ku belikan kontak lens atau kacamata yang lebih fashionable." Gumamnya pada wajah Luhan.
Kemudian ia mengambil celana sekolah yang berwarna biru tua dan memakainya dengan cepat begitu pun ia mengambil kemeja putih dengan lambang sekolah yang berada di dada sebelah kirinya memakainya dan sama sekali tidak memasukan kemeja itu ke dalam celananya dan tak lupa ia menyimpul asal dasi yang menggantung longgar di lehernya.
Benar – benar style seorang Byun Baekhyun.
Setelah merasa sudah pantas, Baekhyun mengambil tasnya dan kalinya melangkah menuju keluar kamar dan menyapa sang nenek yang sedang menyiapkan sarapan.
Nenek Luhan yang sedang menaruh beberapa mangkuk berisi lauk pauk ke meja terkejut melihat penampilan sang cucu yang nampak berbeda. Mata sipitnya melebar beberapa inchi dan mulutnya hampir menjatuhkan dagunya. Wanita tua itu beberapa kali megusap kedua matanya takut matanya salah melihat apa yang ada di hadapannya sekarang.
"Luhan-ah?" panggilnya untuk menyakinkan apa yang ia lihat kini. Yang di panggil hanya tersenyum kecil kemudian duduk di sebrang neneknya.
"Ada apa denganmu hari ini, Luhan?"
"Hanya ingin mencoba sesuatu yang baru, Nek." Kata Luhan dengan santainya sembari menyambar nasi dan potongan daging ikan dengan sumpitnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Sesuatu yang baru apa maksudmu? Hari ini kau minta antar oleh Paman Lee? Tumben sekali tidak seperti biasanya."
"Nenek tidak ingat peraturan di meja makan'kah? Padahal baru kemarin nenek mengingatkanku dan sekarang nenek melanggarnya. Tidak boleh berbicara banyak di meja makan."
"Hanya berkomentar sedikit, kok." Sang Nenek merenggut tak suka seperti anak gadis dan itu membuat Baekhyun menahan tawa gelinya sambil berusaha tetap memakan sarapannya dengan tenang. Bagaimana bisa wanita tua itu bersikap aneh layaknya anak gadis.
Kringg... Kringgg...
Suara bel sepeda dari arah depan rumahnya membuat dua orang manusia itu menyadari kehadiran Paman Lee yang baru saja datang menjemput. Sang Nenek bangkit dan menghampiri Paman Lee di depan rumahnya.
"Selamat pagi! Cuaca sangat cerah pagi ini!" sapa Paman Lee dengan nada semangatnya, meskipun telah berkepala empat Paman Lee adalah sosok yang memiliki semangat tinggi dan pantang menyerah tak lupa selalu bersyukur.
"Selamat pagi juga, kau sudah sarapan? Jika belum kita bisa sarapan bersama." Ajak Nenek pada Paman Lee namun Beliau hanya menggeleng pelan. "Tenang, aku sudah sarapan bersama istriku. Apa Luhan sudah siap?"
"Kau yakin ingin mengantar Luhan ke sekolah?" Tanya Nenek dengan sedikit ragu. Paman Lee menggosok tengkuknya, "Sebenarnya sih tidak terlalu yakin tapi dia yang minta kemarin mau bagaimana lagi?" di akhiri oleh kekehan dari Paman Lee.
Nenek menggangguk mengerti. "Akan ku panggilkan Luhan dulu, kau tunggulah sebentar." Setelah melihat Paman Lee mengangguk, Nenek kembali ke dalam rumahnya dan melihat Luhan sudah merapikan piring kotor miliknya dan menaruhnya di washbasin.
"Paman Lee sudah menunggumu," ujar sang Nenek dan di jawab anggukan oleh Luhan. "Baiklah kalau begitu aku pamit, Nek." Luhan mengambil tasnya dan menyampirkannya di pundak sebelah kanan.
Sama seperti Nenek, Paman Lee yang melihat Luhan yang baru keluar rumah berpenampilan berbeda cukup membuatnya sedikit aneh. "Apa yang terjadi hari ini Luhan-ah?"
Luhan yang sedang memakai sepatunya cuman memberi respon, "Hah?"
"Penampilanmu berbeda dari biasanya. Apa kau ingin menarik perhatian untuk seseorang yang kau sukai di sekolah?"
Setelah Luhan selesai memakai sepatunya kemudian ia bangkit dan menghampiri Paman Lee, "Tidak juga, ayo berangkat." Luhan pun segera duduk di tempat belakang Paman Lee.
"Hati – hati di jalan. Belajar yang rajin Luhan-ah!" Ujar sang Nenek
Luhan hanya mengangkat jempolnya ke atas sebagai jawabannya dan Paman Lee mulai menggoes sepedanya. Kedua roda sepeda itu mulai bergerak jalan dan sebisa mungkin Baekhyun menghapal jalan yang akan menuju ke sekolahnya agar ia bisa berangkat seorang diri tanpa merepotkan Paman Lee lagi.
"Paman, ban sepedamu tidak kempes'kan?"
"Tidak kecuali jika kau kebanyakan dosa hahaha... "
.
.
AdillAdill
Present
- What If -
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Xi Luhan
Oh Sehun
YAOI, SHOUNEN – AI, BOYS LOVE, BOYXBOY
Cerita ini murni punya saya. Dilarang plagiat/copas tanpa izin.
Tolong hargai saya.
.
.
Byun Baekhyun seorang yang sangat menyukai perkelahian. Park Chanyeol si pelayan setia Baekhyun. Di kehidupan lainnya terdapat Xi Luhan si korban Bullying dan Oh Sehun yang sangat menyukai membully Luhan. Dan sebuah kejadian yang tak pernah di duga oleh mereka. Jiwa Baekhyun dan Luhan tertukar?!
.
.
Roda sepeda itu perlahan terhenti di sekitar siswa siswi yang akan memasuki pintu gerbang Busan High School salah satu sekolah elit yang berada di Busan. Dimana hanya terdapat murid kaya raya dan juga yang berotak cerdas saja lah yang bisa menimba ilmu di sana termasuk Luhan yang sudah mati – matian bisa bersekolah di sana dengan gratis karena beasiswa yang ia peroleh.
"Nah kita sudah sampai." Ujar Paman Lee yang membuat Baekhyun bangkit dari duduknya. Ia menatap dengan tatapan datar pada gedung sekolah yang akan ia tempati kemudian pandangannya teralih pada Paman Lee yang tersenyum padanya.
"Ingin ku jemput juga?" Tanya Paman Lee yang jawab gelengan oleh Luhan. "Tidak perlu, mengantarkan ku seperti ini pasti merepotkan anda."
Paman Lee terkekeh. "Tidak kok, kebetulan Paman ingin pergi memancing ke laut." Luhan tersenyum kepada Paman Lee kemudian ia membungkuk sedikit kepadanya. "Terima kasih telah mengantarku Paman."
"Jangan sungkan, Luhan-ah. Baiklah kalau begitu Paman pergi dulu. Fighting!" Luhan terkekeh pelan kemudian mengganggukan kepalanya.
Ketika sepeda Paman Lee sudah tak terlihat lagi dengan langkah santainya Luhan masuk ke dalam sekolahnya dengan memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya. Saat memasuki lobby sekolah mendadak telinga Luhan terasa panas karena banyak yang membicarakan tentang penampilannya saat ini namun ia tidak mau memperdulikannya.
Mata Luhan tertuju pada mading sekolah karena terdapat denah sekolah besar ini. Alisnya terangkat satu ketika mencari dimana ruang kelasnya. Menggangguk mengerti ketika ia berhasil mengingat jalan mana saja yang harus ia lewati untuk sampai ke ruang kelasnya.
Langkah santai menuju ruang kelasnya menarik perhatian beberapa siswa siswi yang berada di tempat karena cara jalan Luhan benar – benar berbeda saat ini, biasanya Luhan yang nerd akan berjalan pelan sambil menundukan kepalanya dalam – dalam namun kali ini? Berjalan santai dengan dagu di angkat. Sungguh seperti bukan Luhan meskipun tubuh itu milik Luhan.
Luhan terhenti saat ia sampai di teras kelasnya, ia membuka pintu belakang kelasnya dan masu ke dalam kelas namun Luhan terhenti sejenak meneliti seisi ruang kelas dimana Luhan biasanya duduk.
Luhan mendengus geli ketika ia telah menemukan tempatnya. Tidak sulit menemukannya memang karena satu – satunya meja yang penuh coretan yang berada paling belakang sendiri adalah tempatnya. Kakinya perlahan berjalan menuju tempatnya, benar saja karena di sana banyak tulisan berupa umpatan – umpatan kasar yang di tuju untuk Luhan.
Ia menaruh tasnya dan kemudian duduk di kursinya. Kedua tangannya melipat di atas meja dan kepalanya ia jatuhkan di sana, ia mulai memejamkan matanya. Kebiasaan Baekhyun ketika menunggu hingga jam masuk tiba.
Baru saja ia akan mendapatkan mimpi, suara ketukan di atas mejanya mengganggu tidurnya. Luhan mencebikan bibirnya kesal.
"Benar – benar sulit di percaya, Xi Luhan tertidur di kelas." Suara barithone yang menjengkelkan terdengar begitu keras namun tak mampu membuat Luhan mengangkat kepalanya. Ia sedang malas meladeninya.
"Hei, Xi Luhan kau tidak mendengar kami?" Suara yang berbeda terdengar di dekat telinga Luhan.
"Pergilah, jangan mengganggu pagiku." Ujar Luhan seolah memperingati mereka namun sedetik kemudian yang ia dengar adalah tawaan mengejek keras yang di tujukan padanya.
Luhan merasakan kepalanya di tepuk – tepuk agak keras membuatnya menggeramkan giginya mencoba menahan emosi. "Hei, bagaimana jika kami tidak mau pergi? Kau ingin apa? Ah, aku sangat menan – "
Dengan gerakan cepat Luhan mengambil tangan yang sedari tadi menepuk – nepuk kepalanya kemudian ia bangun dan memelitirkan tangan orang itu ke belakang tubuhnya dan membuatnya terjatuh ke depan. Kejadian ini begitu cepat hingga membuat seluruh siswa siswi yang berada di kelas menatapnya terkejut.
"Sudah ku peringatkan bukan?" Kata Luhan dengan intonasi santainya.
"Akh! Brengsek! Lepaskan!" jeritnya kesakitan.
Luhan menarik name tag di baju anak laki – laki yang mengganggunya. "Oh Sehun." Bisiknya kemudian ia mengeluarkan senyum setan andalannya. "Kau tau, sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini tapi kau mengabaikan peringatanku."
"Brengsek, lepaskan Sehun!" Seseorang menarik tubuh mungil Luhan hingga tangan Sehun terbebas. Luhan menatap orang yang menarik dirinya dengan datar dan tak lupa melihat name tag yang berada di kemejanya. Kim Jongin. Hanya untuk menandai, manusia mana saja yang telah mengganggunya.
Sehun menatap tajam ke arah Luhan sementara tangan yang tadi di pelintirnya cukup membuatnya merasa kesakitan bukan main, ia mengibas- ngibaskannya agar rasa sakit itu cepat menghilang. Ini pertama kalinya Luhan memberontak padanya apalagi sampai bersikap kasar padanya.
"Sudah empat hari tidak masuk sekolah dan sekarang kau mencoba melawanku?" Tanya Sehun pada Luhan yang kini menatapnya dengan tatapan datar bukan seperti Luhan biasanya yang hanya mampu menunduk dalam saja.
Luhan mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saja?" Ujarnya begitu santai yang membuat Sehun menaikan satu alisnya. "Kau yakin?"
Satu sisi bibir Luhan terangkat. "Kenapa tidak, Sehun-ssi?"
Ekspresi dan intonasi Luhan membuat Sehun mengerutkan dahinya tak suka. Satu jenis pertanyaan yang terus saja menari – nari indah di otaknya adalah 'Apa yang terjadi pada Luhan? Kenapa bisa di bersikap seperti itu?' oke ini dua jenis pertanyaan.
Suara bel yang biasanya menghentikan aksi bullying Sehun kini terdengar di seluruh penjuru sekolah termasuk ruang kelas Luhan. Seringai Sehun kembali muncul begitu juga dengan rasa kepercayaan dirinya yang sempat down. Tidak mungkin dia bisa dengan mudahnya di kalahkan oleh Luhan, sampai kapanpun hanya Sehun yang menang dan akan Sehun pastikan jika sebentar lagi Luhan kehilangan rasa kepercayaan dirinya itu.
"Oh well, lagi – lagi kau di selamatkan oleh bel – "
"Bagaimana jika saat bel itu tidak berbunyi, apa yang akan kau lakukan?"
"Kau menantangku?"
"Hanya jika kau merasa saja."
"Apa?" Dahi Sehun berkerut tak suka melihat Luhan yang beraninya menantang dan ia benar – benar tidak menyukai intonasi suaranya yang terdengar mengejek Sehun seperti itu.
"Breng – "
"Oh Sehun-ssi, Kim Jongin-ssi ini bukan kelas kalian, bukan kah kelas kalian 2B?" Guru Song yang baru saja masuk ke dalam kelas terlihat bingung ketika ada Sehun dan Jongin di kelas 3A. Perkataannya guru itu membuat Sehun menatapnya tajam dan mengingat wajah guru itu karena ia sudah merasa lebih dari jengkel karena teguran guru itu.
Seringai Luhan bertambah tinggi ketika mengetahui jika dua orang mengganggunya ini adalah adik kelasnya. "Pintu keluar ada di sebelah sana, adik manis." Ujarnya ke arah Sehun dan juga Jongin sambil mengarahkan tangannya ke pintu keluar.
Sehun mengepalkan kedua tangannya dan menggeram kesal. "Sialan." Umpatnya melangkahkan kakinya keluar dan tak lupa Jongin yang mengikutinya dari belakang. Melihat mereka berdua telah menghilang dari kelasnya Luhan kembali ke tempat duduknya dan Guru Song memulai pelajarannya.
.
.
Awalnya Baekhyun merasa takut tak mengerti apa yang guru sampaikan tetapi ketika ia melihat beberapa soal yang entah mengapa terasa mudah ia mengerjakannya. Mungkin karena otak Xi Luhan benar – benar di asa sehingga ia tidak menemukan kesulitan sama sekali tapi tetap saja dalam hati Baekhyun mengerang, kenapa ia bisa terjebak di tubuh seseorang yang sebentar lagi akan menghadapi ujian kelulusan dan itu tandanya ia harus bersungguh – sungguh belajar agar bisa lulus dan tidak mengecewakan sang Nenek.
Jika saja Luhan itu seperti Baekhyun – perekonomiannya – ia pasti tak perlu repot – repot untuk belajar karena meskipun tanpa belajar ia pasti akan lulus karena uang bisa memperlancar segala hal termasuk meluluskan anak yang malas belajar.
Baekhyun itu tidak termasuk anak cerdas maupun anak bodoh – karena ia sangat percaya tidak ada seorang anak yang bodoh hanya malas saja – otaknya standar tidak kurang tidak lebih. Tapi Baekhyun akui jika ia jarang membaca buku di rumah, ia hanya akan memperhatikan dengan sungguh – sungguh ketika guru itu menerangkan. Jika ada tugas ia pasti selalu mengerjakannya bersama Chanyeol. Mengingat Chanyeol ia jadi merindukan manusia kelebihan kalsium itu.
Luhan Bangkit dari tempatnya ketika guru fisika itu keluar karena sudah waktunya makan siang. Langkahnya berjalan santai dan tak lupa memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia berjalan menuju kantin sekolah.
Saat pertama kali ia masuk ke dalam kantin banyak tatapan – tatapan aneh mengarah padanya namun ia berusaha untuk mengabaikannya. Antrian untuk mengambil jatah makan siang cukup panjang mengingat yang bersekolah di sini bukan hanya dirinya. Maju perlahan demi perlahan mendekati counter yang tersedia, entah kenapa telinga Luhan sangat sensitif ketika ada beberapa orang yang membicarakannya.
"Kau lihat tadi pagi? Luhan sunbae berani melawan Sehun-ssi."
"Benarkah? Ku dengar ia tenggelam di laut saat berenang."
"Apa – apaan itu orang, sudah tau tidak bisa berenang tapi berenang di laut haha.."
"Tumben Luhan Sunbae makan di kantin. Tak biasanya."
Baekhyun mencoba menghiraukan apa yang yang di bicarakan oleh beberapa siswi di kantin ini yang memang hobi bergosip. Setelah mengucapkan terima kasih Luhan menerima jatah makan siangnya dan matanya meliar ke seluruh ruangan untuk mencari tempat kosong.
Tuk –
Luhan merasakan bahu kanannya yang terasa sakit dan juga basah. Ia melirik ke arah bahunya terdapat potongan karet balon menempel di sana. "Ah, mereka memang brengsek." Gumam Luhan dengan santainya.
"Ah sial, kau selalu tidak tepat pada sasaran." Suara mengejek itu membuat Luhan menoleh pada sumber suara. Disana ada Kim Jongin dan Oh Sehun. "Berikan aku balonmu lagi, kali ini akan tepat sasaran." Sehun mengadahkan tangannya pada Jongin untuk meminta balon airnya lagi dan tatapannya tak lepas dari Luhan.
Tatapan dan senyum mengejek ia berikan untuk Sehun seolah menatang apa yang akan di berikan Sehun untuknya. Tak ingin berlarut Luhan mengambil tempat di pojok dekat dengan jendela besar di dalam ruangan itu. Menu hari ini ada daging teriyaki, sup sayur dan juga ada kimchi setidaknya Baekhyun masih menyukai menu ini.
Luhan mulai mengambil sumpit dan mulai memakan beberapa daging dan juga nasinya. Dan makan siang hikmatnya harus terganggu ketika dua manusia itu datang menghampiri mejanya dan berdiri di hadapannya.
"Wah, lihat. Kantin kita kedatangan tamu istimewa." Ujar Sehun dengan suara yang mendramatisir. Lagi – Luhan mencoba mengabaikannya dan tetap melanjutkan makannya tak perduli apapun yang pengganggu itu bicarakan.
"Kau menikmati makan siangmu ya? Kalau begitu habiskan juga makan siangku ya."
Dan seperti di drama – drama tv yang selalu ibu Chanyeol tonton, si brengsek Sehun dan Jongin menumpahkan makan siangnya ke dalam makan siang Luhan yang membuat Luhan membanting sumpitnya dengan santai kemudian bangkit dan menatap tajam pada Sehun, karena suara yang terus – terusan mengganggu itu adalah suara menjengkelkan milik Sehun.
"Oh ya? Bagaimana jika – " pandangan mata Luhan mengarah pada tempat makan siangnya yang sudah tak tercampur dengan makanan Sehun maupun Jongin. Sebuah senyum terkembang di wajah manis Luhan. "Kau merasakannya juga!"
Dengan gerakan cepat Luhan mengangkat tempat makan dan melemparkan isi makannya ke arah Sehun sehingga makanan itu tumpah dan membasahi bagian depan seragam Sehun. Pria berwajah datar itu memejamkan matanya menahan emosi yang tiba – tiba langsung naik ke ubun – ubun.
Semua orang yang berada di kantin terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Luhan terhadap Sehun karena yang mereka tahu jika Luhan itu tak lebih dari korban bullying Sehun yang tak berani melakukan apapun untuk membalas perbuatan Sehun namun kali ini? Benar – benar membuat mereka terkejut. Jika perlakuan Luhan tadi pagi hanya bisa di lihat oleh orang di kelasnya namun saat ini seluruh orang telah mengetahuinya.
"Menikmati makan siangmu, Oh Sehun-ssi?" Tanya Luhan dengan nada dan wajah bersahabatnya andalannya.
"Brengsek!"
Sehun meraih kerah kemeja Luhan, kepalan di tangannya menguat dan hendak melayangkan pukulan di wajah Luhan namun suara berat dari lelaki tua mengintrupsinya.
"Ada apa ini?! Oh Sehun? Xi Luhan?" Guru Kim – guru olahraga dengan tongkat di genggamanya melihat Sehun dan juga Luhan yang sedang bersitegang. Apalagi dengan posisi Sehun yang ingin memukul Luhan.
Sehun masih menatap tajam kedua mata rusa itu dengan jarak yang begitu dekat. Ia memperhatikan mata Luhan yang di dalamnya tak ada ketakutan sama sekali yang ada hanya tatapan menantang dan mengejek untuknya.
"Urusan kita belum selesai, brengsek."
"Ya, dengan senang hati aku menunggu." Sehun melepaskan cengkramannya setelah Luhan mengatakan hal yang harus ia terima akibatnya. Sehun akan membalasnya lebih kejam lagi daripada yang Luhan berikan tadi. Sungguh ini adalah kejadian yang cukup memalukan untuk Sehun karena bisa – bisanya korban bullyingnya menyiram makan siang ke seragamnya hingga seragamnya basah bercampur nasi dan kawan – kawannya.
Tuk – Tuk
"Kalian ingin menjadi berandalan, hah?!"
Luhan maupun Sehun meringis kesakitan, mengusap – usap kepala mereka yang tadi terkena sasaran tongkat milik Guru Kim. Meskipun sudah tua kemampuan dalam memukul anak yang nakal sungguh gila dan kini yang di rasakan oleh Luhan dan Sehun.
"Sekarang ikut saya!" Perintahnya dengan tegas. Guru Kim membalikan tubuhnya namun Sehun maupun Luhan masih saling menatap meskipun tangan mereka masih mengusap – usap kepala mereka.
Sehun memandang Luhan dengan kejinya namun berbanding terbalik dengan Luhan yang malah menatapnya dengan tatapan santainya. Baekhyun yang beada di dalam diri Luhan memang ingin menantang Sehun, jika hanya menganggunya dengan suara – suara tidak begitu ia perdulikan tetapi jika sudah ada sentuhan fisik – karena Baekhyun itu tidak suka jika oang lain menyentuh tubuhnya kecuali Chanyeol – ia pasti akan melawannya dan biasanya akan membalasnya lebih kejam.
Kita lihat saja seberapa lama wajah mulus Luhan akan bertahan tanpa adanya luka Lebam yang biasa Baekhyun ciptakan karena berkelahi dan Baekhyun tidak menjaminnya seratus persen karena bagaimana pun Baekhyun sangat sulit mengendalikan emosinya.
Ia sangat penasaran apa yang akan Sehun lakukan padanya. Sebenarnya ia mengutuk sikap Luhan yang tidak melawan pada Sehun, seharusnya Luhan bisa seperti dirinya saat ini melawan Sehun agar anak laki – laki itu berhenti mengganggunya bukan menjadi sasaran empuknya.
Suara mengelegar milik Guru Kim kembali keluar sehingga Sehun maupun Luhan yang sedang tenggelam dalam pikirannya masing – masing tersadar.
"Mau sampai kapan kalian di sana?! Ingin ku tambah hukuman kalian?!"
Dengan langkah seribu penuh dengusan mereka – Luhan dan Sehun – berjalan mengikuti langkah Guru Kim.
.
.
TBC
.
[Epilog]
Setelah melihat Baekhyun mengangguk, Chanyeol keluar dari ruang kamar inap Baekhyun dan kakinya melangkah menuju ruangan Dokter Kim. Sepanjang perjalanan otaknya kembali memikirkan sifat aneh Baekhyun yang tak berselera dengan roti kesukaannya, biasanya majikan mungilnya itu akan menatapnya penuh binar dan tanpa mengatakan apapun ia langsung memakannya meskipun Chanyeol tidak memberitahu jika ia membawa roti kesukaannya karena hidung Baekhyun pasti lebih cepat menciumnya. Tidak seperti tadi, itu benar – benar di luar kebiasaan Baekhyun.
Ponselnya yang berada di sakunya bergetar tanda ada panggilan masuk. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.
Ia menahan napasnya sesaat ketika ingin mengangkat panggilan tersebut. "Ya Tuan Besar?" Sapa Chanyeol dengan tegas.
[Aku sudah berada di lobby.]
"Baiklah, saya akan segera ke sana."
Chanyeol mengehela napasnya kasar ketika panggilannya dengan Tuan Besarnya teputus kemudian ia mengacak – acak kasar rambutnya dan melangkahkan kaki panjangnya dengan cepat agar majikannya tidak menunggu terlalu lama.
Setela tiba di lobby dan menemukan dua orang yang ia kenal, Chanyeol langsung menghampiri dan membungkuk sembilan puluh derajat penuh di hadapan mereka.
"Selamat sore Tuan dan Nyonya Besar." Sapa Chanyeol kepada dua orang majikannya yang tak lain adalah kedua orang tua Baekhyun.
"Chanyeol-ah dimana Baekhyun? Bagaimana kondisinya?" Tanya Nyonya Byun yang terlihat sangat panik. "Tuan muda Baekhyun berada di ruang inap Crstyal nomor dua dan Tuan muda Baekhyun baru saja sadar." Jelas Chanyeol dengan tegas pada orang tua Baekhyun.
Nyonya Byun berbicara pada suaminya. "Aku ingin melihat Baekhyun." Tuan Byun tersenyum mengangguk kemudian berkata, "Kau duluan saja, aku ada urusan sebentar dengan Chanyeol."
Nyonya Byun menggangguk kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari dua orang pria yang berbeda generasi tersebut. Tuan Byun memasang wajah datarnya pada Chanyeol. "Ikuti aku."
Tuan Byun melangkahkan kakinya begitu pun dengan Chanyeol yang mengekor di belakangnya. Kaki mereka telah sampai di belakang rumah sakit yang tak ada siapapun kecuali mereka. Chanyeol dalam bahaya besar.
"Apa yang terjadi?"
Pertanyaan Tuan Byun yang seharusnya di jawab dengan kalimat namun di jawab dengan sebuah bungkukan sembilan puluh derajat dari Chanyeol dan itu membuat Tuan Byun menggeram tak suka.
"Maafkan saya yang lalai menjaga Baekhyun."
"Sialan."
Satu tendangan di perut Chanyeol berhasil membuat pria tinggi itu menahan rasa sakit di perutnya dan rasa sakit itu tak hanya perut tapi juga di bagian sudut bibir, pipi dan juga pelipisnya karena Tuan Byun melayangkan pukulannya cukup kuat meskipun pria itu sudah hampir memasuki kepala lima.
Tuan Byun menyeka keringat dengan sapu tangannya setelah berhasil memberi pelajaran untuk Chanyeol yang kin sedang terkapar di tanah.
"Lakukan hal bodoh itu lagi dan kau akan merasakannya yang lebih parah lagi."
Tuan Byun merapihkan kembali jasnya dan pergi meninggalkan Chanyeol yang masih terbaring di tanah. Ia menderu kan napasnya lelah. Ini bahkan tak sebanding dengan tertusuknya Baekhyun, batinnya berbicara.
Chanyeol memejamkan matanya namun kembali terbuka ketika suara teriakan wanita mengejutkannya.
"Ya ampun! Kau kenapa? Wajahmu penuh luka! Siapa yang melakukan ini? Eh tunggu, bukankah kau Park Chanyeol?"
Chanyeol bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia memperhatikan wajah wanita muda di hadapannya. "Kau mengenalku?"
Wanita muda itu mengangguk. "Tentu saja, apa Baekhyun yang melakukan ini?"
Dahi Chanyeol berkerut tak suka ketika wanita ini menuduh Baekhyun yang macam – macam. Sedetik kemudian wanita itu menggelengkan kepalanya dengan cepat "Tapi tidak mungkin karena kalian sangat dekat. Hey, kau tidak mengenalku? Aku Bae Irene, teman sekelasmu dan juga Baekhyun."
Chanyeol menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal karena ia tidak ingat siapa saja temannya dikelas. "Tak apa jika kau tidak mengingatku. Ayo aku antar ke dalam rumah sakit, lukamu perlu di obati."
Chanyeol yang tak tahu harus berbuat apa hanya mengangguk patuh mengikuti langkah kaki mungil Irene.
.
.
Cuap cuap ga jelas :
Update lagi nih, pada khawatir dengan main pairingnya? tenang aja ini official kok, chanbaek dan hunhan ya meskipun sedikit tergoda dengan hunbaek wkwk /bacok/ tadinya aku mau publish satu cerita chanbaek yang baru tapi tanganku gatel mau update yang ini dulu wkwk. oh iya aku ngasih satu cast tambahan kurang sedap kalo kaga ada orang ketiga wkwk/rajam/ ini khusus buat chanbaek aja kalo buat hunhan di kasih juga ga ya?
pada kesel sama sifat sehun? tenang bakal di bales sama baekhyun kok secara perlahan. yang masih bingung, aduh gimana ngejelasinya ya pokoknya baekhyun sama luhan ketuker jiwanya udah gitu aja wkwk. sengaja aku cantumin nama tubuhnya bukan jiwanya karena aku pengen kalian mengebayanginya sebagai tubuhnya bukan jiwanya aku juga ga rela kok kalo Chanyeol sama Luhan atau Sehun sama Baekhyun.
yang punya pin bbm kuy berteman, jujur aku gak punya temen cbhs/hhhs jadi kalo ada apa2 tentang mereka aku kobam sendirian dikamar T^T
BIG THANKS TO :
JidatBacon, Hanna Byun614, Shenshey27, .77, akaindhe, InTane880, Taneptw307, Love654, Hunniehan,Hunexohan, Eun810, ZzzxHan, Daebaktaeluv, Yuanitadian99, Tjeyehh, Exindira, Aominechi, Hendri822, AuliaMRQ, Chanbaekisreal, Cici fu, SehunGotik, Leekyumincho AND Followers, favouriters, readernim sekalian
maaf jika ada kekurangan karena saya manusia biasa.
REVIEW LAGI? BIAR RASA PENASARAN KALIAN TEROBATI^^
Bogor, 21/07/2016 1:34
