Chapter 5 – Who Are You?

Pagi yang indah memaksa Luhan yang berada di dalam tubuh Baekhyun kini untuk segera bangun namun kasur yang benar – benar membuatnya nyaman ini seolah menghentikan niatan Luhan untuk segera bangun. Kapan lagi ia menikmati kasur super nyaman seperti ini, jika pun ada pasti akan dia berikan untuk sang nenek agar bisa tidur lebih nyenyak lagi tanpa mengeluh punggungnya yang selalu sakit.

Pendingin ruangan juga membuatnya begitu malas hanya untuk sekedar membuka mata apalagi selimut yang cukup tebal namun begitu lembut. Ah, Baekhyun benar – benar orang yang sangat beruntung di dunia ini membuat Luhan iri.

Kaki dan tangannya bergerak kesana – kemari tanpa membuka kedua matanya seolah sedang menikmati kasurnya yang begitu nyaman tanpa ia ketahui jika itu membuat sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya menahan senyum gelinya.

"Ah, ini benar – benar nyaman." Tubuh itu terus saja bergerak namun sebuah tangan menggenggam lengannya cukup kuat sehingga gerakannya terhenti.

"Jangan banyak bergerak, Baek. Ingat lukamu." Mendengar suara berat itu membuat Baekhyun membuka matanya lebar kemudian menoleh ke samping dan mendapati sosok Chanyeol yang sedang menatapnya tajam.

Baekhyun mengerutkan dahinya. "Sedang apa kau disini?" Tanya Baekhyun namun Chanyeol tidak membalas tapi menarik – narik tubuh Baekhyun hingga pria mungil itu bangun dan berdiri di samping ranjang bersamanya.

"Menurutmu apa? Tentu saja hari ini kau akan kembali bersekolah. Bukankah kau sendiri yang memintanya?" Chanyeol menarik tubuh Baekhyung hingga masuk ke dalam kamar mandi.

Baekhyun hanya terdiam dan membenarkan perkataan Chanyeol. Ini hari kedua sejak Baekhyun sudah di perbolehkan pulang namun ia terlalu bosan jika hanya berada di rumah sedangkan Chanyeol bersekolah maka dari itu semalam Baekhyun merengek untuk bisa kembali masuk sekolah.

Awalnya Chanyeol ragu untuk menyetujuinya karena tidak biasanya Baekhyun merengek minta masuk sekolah biasanya jika Chanyeol yang meminta karena Chanyeol akan merasa kesepian jika tidak ada Baekhyun di sekolah. Ketika Chanyeol menyetujuinya Baekhyun bersorak senang dan itu membuat Chanyeol sangat gemas.

Melihat Baekhyun hanya terdiam Chanyeol berinisiatif membuka kancing piyama milik Baekhyun namun majikannya itu malah memekik seperti wanita yang akan di perkosa. Chanyeol mengerutkan dahinya bingung menatap ke arah Baekhyun dengan wajah paniknya.

"K-kau mau apa?!" Tanya Baekhyun begitu terkejut atas tindakan Chanyeol, ia merapatkan piyamanya yang tadi tersentuh oleh Chanyeol. Di dalam hatinya ia mendengus kesal, pelayan apanya?! Pelayan mesum maksud si Baekhyun itu.

Chanyeol menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal. "Memandikanmu tentu saja." Balas Chanyeol dengan nada santainya. Kini alis Baekhyun yang menyatu. Memandikan?! Yang benar saja!

"Memandikanku? Memangnya kau pikir aku bayi?" Kini Chanyeol menggaruk pipinya. Ia merasa bingung dengan tingkah Baekhyun saat ini. "Ya tentu saja bukan, tapi biasanya jika sedang sakit kau pasti minta di mandikan olehku meskipun kau tak mengatakannya secara langsung sekalipun."

Oh What The – Baekhyun itu sebenarnya manusia yang seperti apa? Kenapa membiarkan pelayannya memandikannya? Jika Baekhyun itu seorang bayi mungkin Luhan akan memakluminya tapi Baekhyun itu sudah besar. Apa Baekhyun itu orang mesum?

"A-aku bisa mandi sendiri, kau tunggu di luar saja." Ujar Baekhyun yang di balas oleh anggukan oleh Chanyeol. Baekhyun menatap punggung besar milik Chanyeol hingga menghilang di balik pintu kamar mandi.

Mata Baekhyun beralih pada washbasin mirror yang menampilkan seluruh tubuhnya yang masih lengkap menggunakan piyama. Baekhyun mengeluarkan ekspresi marah pada cermin itu.

"Hey, Byun Baekhyun. Aku Xi Luhan, dan aku tidak tahu kau manusia yang seperti apa tapi ini sangat keterlaluan." Tangan Baekhyun terangkat dan menunjuk – nunjuk ke arah cermin. "Bagaimana bisa kau membiarkan Chanyeol memandikanmu? Kau tidak takut dia melakukan hal aneh padamu?"

Luhan terdiam sejenak, tangannya turun ke sisi tubuhnya dan tatapannya menjadi sendu. "Apa kau mau bernasib sama sepertiku? Seperti Xi Luhan yang sudah kotor." Kepalanya tertunduk dan airmatanya terjatuh di kala ia mengingat kembali malam yang menjijikan itu, dimana Sehun memperkosanya.

Kemudian kepalanya terangkat."Bagaimana pun saat ini aku berada di dalam tubuhmu Baekhyun-ssi. Tubuhmu ini ku pikir cukup kuat, aku berjanji akan menjaga tubuhmu dengan baik dan sangat baik." Luhan mengatakan itu dengan menampilkan senyum terbaiknya.

Kemudian Baekhyun berbalik menuju shower room dan membuka bajunya dan memulai ritual mandinya.

.

.

Present

- What If -

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Xi Luhan

Oh Sehun

YAOI, SHOUNEN – AI, BOYS LOVE, BOYXBOY

Cerita ini murni punya saya. Dilarang plagiat/copas tanpa izin.

Tolong hargai saya.

.

.

Byun Baekhyun seorang yang sangat menyukai perkelahian. Park Chanyeol si pelayan setia Baekhyun. Di kehidupan lainnya terdapat Xi Luhan si korban Bullying dan Oh Sehun yang sangat menyukai membully Luhan. Dan sebuah kejadian yang tak pernah di duga oleh mereka. Jiwa Baekhyun dan Luhan tertukar?!

.

.

Chanyeol tersenyum ketika melihat Baekhyun yang telah lengkap dengan seragamnya menuruni tangga. Namun seketika senyumnya menurun dan menggantikan dengan mulutnya yang terbuka lebar ketika melihat penampilan Baekhyun yang sedikit aneh. Sejak kapan rambut Baekhyun menjadi rapih dan sangat klimis seperti itu? Dan sejak kapan Baekhyun menyukai kerapihan hingga seragamnya benar – benar rapi seperti itu. Dasi yang di ikat sempurna hingga seperti mencekik lehernya dan juga kemeja seragamnya yang dimasukan ke dalam celana dan blazernya yang ia kenakan dan lengkap dengan mengancinginya. Baekhyun benar – benar aneh saat ini.

"C-chanyeol? A-ada apa?" Baekhyun melambaikan tangannya di depan mata besar Chanyeol. Pelayannya itu menjadi salah tingkah dan tiba – tiba perasaan aneh melingkupinya.

"Baekhyun."

"Ya?"

"Kau baik – baik saja?"

"Aku Baik."

"Kau yakin ingin bersekolah hari ini?"

Baekhyun menggangguk semangat. "Ya tentu saja! Ayo sarapan terlebih dahulu, aku sangat lapar." Jari lentik Baekhyun menarik lengan Chanyeol hingga ke meja makan. Pria tinggi itu hanya diam saja tanpa berkomentar hingga Baekhyun menariknya ke meja makan. Di sana ada Ibu Chanyeol yang sedang menata meja makan.

"Selamat pagi, Bibi." Sapa Baekhyun dengan senyumnya dan sedikit membungkuk ke arah Ibu Chanyeol. "Selamat pagi, Tuan muda. Ingin sarapan?"

Baekhyun mengangguk kemudian menarik salah satu kursi yang berada di meja makan dan mendudukinya. Ibu Chanyeol menaruh roti isi di hadapan Baekhyun. Pria mungil itu mengucapkan terima kasih pada Ibu Chanyeol dan kini pandangannya teralih pada pelayan pribadinya yang masih berdiri mematung di sana.

"Chanyeol-ah? Kenapa masih berada di situ? Ayo sarapan bersama." Chanyeol menjawabnya dengan gelengan. Tentu saja ia tidak bisa ikut sarapan bersama dengan majikannya jika berada di meja makan ini. Ini sudah peraturan mutlak keluarga Byun.

"Habiskan sarapanmu cepat. Aku akan menunggumu di depan."

Baru saja Baekhyun membuka mulutnya tapi Chanyeol sudah membalikan tubuh tingginya dan berjalan meninggalkan ruang makan. Luhan sama sekali tidak mengerti kenapa Chanyeol tidak ingin sarapan bersamanya di sini? Padahalkan niatnya baik untuk mengajaknya mengisi perut bersama disini.

Tak mau menunggu Chanyeol lebih lama, Baekhyun bangkit serta tangan kanannya menggenggam roti isi yang tadi di sajikan oleh Ibu Chanyeol dan melangkahkan kakinya menuju depan rumahnya yang sudah ada Chanyeol menunggunya.

"Kau sudah selesai sarapannya?" Tanya Chanyeol ketika Baekhyun mendatanginya. Bibir tipis itu memaju beberapa centi dan tatapan sebal ia kirim untuk Chanyeol yang kini memandangnya heran.

"Kau kira aku bisa makan dengan tenang sementara kau sedang menungguku disini?" Chanyeol terkekeh pelan kemudian mengacak rambut Baekhyun dengan gemas dan itu membuat Baekhyun mendadak panik karena tatanan rambutnya berantakan.

"Ah! Kau merusak tatanan rambutku!" Ujarnya kesal sambil merapikan kembali rambutnya dengan tangan kirinya yang tidak memegang roti isi. Chanyeol tersenyum kecil kemudian tangannya terulur. "Berikan tasmu."

Baekhyun yang sudah selesai dengan kegiatan menata kembali rambutnya kini memandang bingung Chanyeol. "Untuk apa? Aku bisa membawanya sendiri."

Chanyeol menatap Baekhyun dengan bingung. Ini pertama kalinya Baekhyun protes ketika Chanyeol ingin membawa tasnya namun lamunannya buyar begitu saja ketika Baekhyun melempar tasnya kepada Chanyeol yang untungnya reflek Chanyeol begitu bagus.

"B-bawa tasku!" Baekhyun terlihat gugup ketika mengatakannya. Ia menampilkan wajah percaya dirinya kemudian memakan roti isinya sambil berjalan membelakangi Chanyeol. Pria bertubuh tinggi itu menatap Baekhyun dengan tatapan aneh.

"Baekhyun-ah! Kau salah jalan!" Teriakan Chanyeol membuat tubuh Baekhyun terhenti seketika dan menegang dalam saat bersamaan. Dalam hatinya Luhan meruntuki kebodohannya.

Baekhyun membalikan tubuhnya dengan tetap memasang wajah percaya dirinya. "A-aku tahu! H-hanya saja –" Mata Baekhyun bergerak gelisah setiap sudut daerah ini dan matanya membulat ketika keberuntungan untuk mengelabui Chanyeol ada di depan mata.

Tubuh Baekhyun membungkuk untuk memungut sebuah kaleng soda bekas di dekat tempatnya berdiri lalu menunjukannya pada Chanyeol. "Lihat? Ada sampah. Aku akan membuang ini pada tempatnya."

Chanyeol yang awalnya ingin menyangkal kemudian hanya bisa mengangguk. Sungguh hari ini majikannya begitu aneh. Setelah membuang sampah Baekhyun berjalan menghampiri Chanyeol dengan wajah riang yang tak pernah lepas.

"Ayo kita berangkat." Chanyeol menggangguk dan kemudian langkah kakinya berjalan ke arah yang berlawanan dengan yang Baekhyun lalui tadi. Baekhyun di sampinganya hanya bisa berjalan sambil menundukan kepalanya. Betapa memalukannya kejadian tadi, jika Chanyeol tahu bahwa yang berada di dalam tubuh Baekhyun bukanlah Baekhyun yang asli mungkin saja ia akan di kirim ke rumah sakit jiwa oleh Chanyeol.

Mereka menuju sekolah menggunakan bus dan memakan waktu lima belas menit untuk sampai di sekolah. Luhan terdiam menatap sekolah besar di hadapannya beberapa saat, ia sungguh tak percaya bahwa Baekhyun masuk ke sekolah biasa tidak seperti yang ia bayangkan jika Baekhyun pasti bersekolah di sekolah bertaraf internasional.

Chanyeol yang merasa tak ada Baekhyun kemudian menoleh ke belakang dan menatap bingung Baekhyun yang masih betah berdiri di depan gerbang sekolah. Ia menghampiri Baekhyun dan menepuk pundaknya hingga membuat Baekhyun terkejut.

"Ada apa?" Tanya Chanyeol dan Baekhyun menjawabnya dengan menggeleng seraya menunjukan senyumannya agar Chanyeol tidak mencurigainya namun Luhan salah, itu justru membuat Chanyeol merasa ada yang aneh pada diri majikannya.

"Kau yakin?"

"Yakin, ayo masuk."

Tangan kanan Chanyeol di tarik oleh Baekhyun untuk segera masuk ke dalam sekolahnya namun sedetik kemudian ia menyesal telah menarik Chanyeol karena ia sama sekali tidak tahu di mana kelasnya.

"Chanyeol-ah, kita kelas berapa?" Tanya Baekhyun sedikit berbisik ke arah Chanyeol. "Tentu saja kelas 2-3, Kenapa tiba – tiba bertanya? Kau lupa?"

Pertanyaan Chanyeol membuat Baekhyun mengusap belakang lehernya dengan gugup. "Oh – i-itu, hm –"

Bruk!

Tubuh baekhyun terjungkal ke belakang dengan posisi terduduk, ia meringis cukup kesakitan karena bokong indahnya terlebih dahulu mencium lantai keramik yang cukup menyakitkan dan di hadapannya ada seorang murid laki – laki yang berseragam sama dengannya sedang menampilkan wajah terkejutnya karena murid laki – laki tadi menabrak tubuh Baekhyun cukup kencang.

Chanyeol pun juga terkejut dengan kejadian cepat tadi. Tubuhnya pun langsung bergerak membantu Baekhyun berdiri. "Kau tidak apa – apa, Baek?"

"Ba-baekhyun Sunbaenim. Ma-ma-maafkan saya!" Murid laki – laki itu langsung menurunkan tubuhnya untuk berlutut karena bagaimana pun tidak ada satu orang pun yang ingin berurusan dengan Baekhyun jika tidak tamatlah sudah hidupmu. Setidaknya itulah pendapat murid di sekolah ini.

Baekhyun terkejut dengan apa yang di lakukan oleh murid laki – laki di hadapannya. Ia segera menyuruh murid itu untuk bangun karena tidak sepatutnya ia melakukan hal memalukan ini apalagi menabrak tubuhnya secara tak sengaja seperti tadi.

"Apa yang kau lakukan? Cepat bangun. Tidak seharusnya sampai seperti ini." Baekhyun menarik tangan murid laki – laki itu dan perlakuan Baekhyun sungguh membuat murid lain menghentikan aktifitasnya untuk melihat kejadian langka seorang Byun Baekhyun.

"Ini tidak apa – apa. Aku bahkan tidak terluka sedikit pun – yeah walaupun bokongku sedikit merasa sakit tapi itu tidak apa – apa. Jadi jangan berlutut lagi seperti tadi, ini masalah kecil kok."

Semua murid membulatkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka termasuk Chanyeol yang terheran Baekhyun mengucapkan hal – hal berbau rendah hati seperti ini. Jika Baekhyun yang ia kenal pasti orang itu terkena sedikitnya satu bogeman dari Baekhyun karena sudah berani menyentuhnya – menabrak atau mendorong – karena Baekhyun tak suka di usik.

"Ti-tidak. i-ini salahku! Mohon maafkan aku!" Murid itu membungkuk – bungkukan badannya berkali – kali kepada Baekhyun membuat hati Luhan sedikit meringis melihatnya. Harus sampai seperti ini jika ingin di maafkan oleh Baekhyun?

Baekhyun menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. "Sudah ku maafkan. Sekarang hentikan itu, aku akan risih melihatnya." Murid laki – laki itu menghentikan aksinya dan menatap Baekhyun dengan senyum.

"Terima kasih, Sunbaenim." Ia membungkuk sebentar sebelum akhirnya pergi meninggalkan Baekhyun yang tersenyum juga padanya. Mata sipit Baekhyun melirik Chanyeol yang sedari tadi terdiam menatapnya dengan pandangan aneh.

"Chanyeol-ah? Ke-kenapa? Kau membuatku takut dengan menatapku seperti itu."

"Kau sebenarnya siapa?!"


.

.

Sebulan sudah Baekhyun terperangkap di tubuh Luhan dan selama sebulan juga ia berhasil melawan tindakan bullying yang tak pernah oleh Sehun dan Jongin. Baekhyun memang sudah berjanji untuk tidak melakukan kekerasan selama ia berada di tubuh Luhan bagaimana pun juga saat ini ia berada di tubuh orang lain. Ia hanya tidak ingin membuat masalah pada orang lain.

Saat ini Luhan sedang makan sendirian dengan tenang di kantin sekolah namun tetap saja suara ribut di sini membuat ketenangannya sedikit terusik apalagi suara Kim Jongin yang berteriak mengumumkan sebuah informasi untuk seluruh murid sekolah.

"HOI! Ada berita penting!"

Semua murid terdiam mendengar Jongin berseru dengan hebohnya. Sehun yang sedang makan siang pun merasa tertarik apa yang Jongin bawa.

"Ada apa Jongin-ah?"

"Buat kalian yang akan pulang sekolah nanti lebih baik waspada! Karena Sekolah Seungri siang ini akan balas dendam pada sekolah kita. Kalau kalian tidak ingin mati, lebih baik lepas semua atribut sekolah kita."

Seluruh murid di dalam kantin pun menatap ngeri kecuali Luhan kemudian keadaan di kantin kembali berisik. Luhan hanya meliriknya sekilas dan kembali melanjutkan makan siangnya, ia tidak perlu dengan apa yang Jongin katakan.

Setelah mengumumkan itu Jongin berjalan menuju meja di mana Sehun berada. "Ini gawat, Man." Seru Jongin menduduki pantatnya di sebelah Sehun. Pria berwajah datar itu menatap nasinya tanpa minat.

"Mereka meminta korban lagi?"

"Yeah, sepertinya begitu."

Pegangan pada sumpitnya menguat. "Sialnya kakak kelas kita seperti banci semua, tidak ada yang berani melawan Seungri sialan." Ujarnya dengan pelan kemudian kepalanya menoleh pada Jongin di sebelahnya. "Pastikan si keparat Kris tidak menyentuh murid kita, biar aku sendiri yang akan melawan mereka."

Sehun begitu optimis dan sangat yakin dengan apa yang ia katakan semuanya pada Jongin meskipun sahabatnya itu menatapnya tak percaya. Hanya Sehunlah yang memiliki keberanian dalam hal seperti ini karena rata – rata murid laki – laki dari sekolah Busan lebih suka mementingkan dirinya sendiri dengan belajar terus menerus tanpa terikat masalah seperti ini.

"Kau gila!? Bisa jadi kau yang akan menjadi korban! Tidak – tidak, kita akan meminta bantuan pada Jongdae seperti biasa."

"Ya, lakukan seperti itu terus dan buat sekolah kita semakin hina di Busan! Biarkan aku yang membalas mereka, percayakan semuanya padaku."

Jongin hanya bisa terdiam dan menatap punggung Sehun yang semakin menjauh dari pandangannya. Sekolah Seungri dan juga sekolah Busan memang musuh bebuyutan, mereka sering melakukan aksi – aksi kekerasan dan sialnya sekolah Seungri adalah yang terkuat saat ini karena ia memiliki seorang senior pemimpin yang sangat di takuti, Kris Wu namun pengecualian untuk Sehun karena ia tidak takut sama sekali dengan Kris.

Dan juga selama ini Busan sering meminta tolong pada sekolah Ahnyang, di mana sahabat Jongin yang bernama Jongdae bersekolah. Meskipun sekolah Ahnyang selalu bersedia membantu sekolah Busan menghadapi sekolah Seungri namun pada kenyataan yang Sehun dengar jika sekolah Ahnyang menjelek – jelekan sekolah Busan yang di anggap sebagai sekolah pengecut dan banci itulah mengapa kali ini Sehun menolak ide yang Jongin berikan tadi.

Sehun berjalan menuju toilet dengan wajah kesalnya dan rasa kesalnya bertambah ketika di dalam toilet ada seorang pria yang membuatnya semakin muak akhir – akhir ini karena sikap melawannya. Sehun itu adalah tipikal orang yang tak suka di lawan apalagi dengan pria semacam Luhan ini.

Ia berdiri di depan standing urine yang bersebelah dengan Luhan yang sedang membuang urinnya juga, meskipun tidak terlalu dekat jaraknya.

"Ku dengar kau akan berkelahi, ya? Atau istilah lainnya apa ya? Tawuran?" Luhan membuka suaranya tanpa di duga membuat Sehun menoleh sebentar ke arahnya. Ia tidak menjawab pertanyaan Luhan karena ia mulai membuka resleting celana seragamnya.

Luhan yang sudah selesai pun berjalan ke arahnya kemudian menepuk – nepuk pelan bahu Sehun dan tak lupa membisikan sesuatu yang membuat senyum setannya keluar di bibirnya. "Yang semangat ya? Jangan sampai mati, kalau kau mati siapa yang akan membullyku lagi?"

Setelah mengatakan itu Luhan berjalan keluar dari toilet meninggalkan Sehun yang masih terdiam meskipun acara membuang urinnya sudah selesai. Sentuhan Luhan membuat jantungnya berdegub kencang dan seperti merasakan aliran listrik yang aneh.

Sehun tersadar ketika suara ponselnya terdengar di telinganya. Ia segera membereskan celananya dan tak lupa menekan tombol flash di standing urine, merogoh ponselnya yang berada di saku celananya dan pandangannya menjadi semakin datar melihat siapa yang meneleponnya.

"Ada apa?" Tanya Sehun dengan to the point setelah ia menggeser ikon berwarna hijau lalu meletakannya di telinga kirinya.

[Malam ini ayah akan pulang.]

Sehun mendengus remeh ketika suara di sebrang terdengar. "Pulang ke rumah? Apa aku tak salah dengar?"

[Ayah bersungguh – sungguh, Sehun-ah.]

"Ya ya ya, terserah kau mau pulang atau tidak itu bukan urusanku."

Sehun mematikan sambungan teleponnya dengan rahang yang mengeras. Disaat anak – anak lain akan senang jika ayahnya pulang ke rumah namun tidak untuk Sehun, ia tidak suka jika ayahnya pulang ke rumah karena ia tahu jika ayahnya pulang hanya ada satu tujuan. Satu tujuan yang membuat hatinya kembali teriris. Ia menaruh kembali ponselnya di dalam sakunya dan berjalan menuju kelasnya.

.

Luhan meregangkan otot – ototnya yang terasa kaku ketika bunyi suara bel pulang sudah terdengar ke penjuru sekolah termasuk di kelasnya. Bahkan ia menguap beberapa kali karena saat ini ia merasakan kantuk luar biasa akibat pelajaran sejarah yang membosankan.

Seluruh anak murid kelasnya berlomba – lomba untuk keluar dari kelas termasuk dirinya yang sedang memasukan peralatan tulisnya ke dalam tasnya.

"Luhan-ssi, jangan lupa hari ini kau piket." Itu dia si ketua kelas yang agak cerewet bernama Do Kyungsoo yang selalu memberitahu jadwal piket untuk membersihkan kelas. Pernah sekali Baekhyun tak melakukan tugas piketnya dan malah langsung pulang tentu itu membuat Kyungsoo murka pada Luhan dan di ceramahinya habis – habisan.

Luhan hanya menyahutnya dengan malas padahal hari ini ia ingin pulang cepat untuk membantu nenek yang berjualan kedai ttopoki kecil di jalan yang strategis. Baru beberapa hari ini nenek Luhan berjualan dan ini adalah usulan Paman Lee untuk membuat usaha dengan sedikit modal darinya juga.

Biasanya yang Luhan kerjakan jika sedang piket adalah menyapu kilat, tak perduli di kolong – kolong meja masih tertinggal kotoran yang terpenting ia sudah melakukan tugasnya saja dan tentu saja membuat Kyungsoo semakin murka terhadapnya.

"Luhan-ssi, tolong di sapu yang benar lantainya jangan sampai meninggalkan kotoran seperti itu." Suara menyebalkan Kyungsoo mulai terdengar di telinganya.

"Kenapa tidak pakai vacuum cleaner?" Tanya Luhan yang mengundang senyum remeh dari Kyungsoo. "Ohh, kau ingin membelikannya untuk kelas? Boleh saja."

Luhan memutar kedua matanya malas. Heol, kalau ia sudah bertemu dengan Luhan asli dan mengambil uang tabungannya pasti ia akan membelikan sepuluh vacuum cleaner dan menjejalkan di mulut menyebalkan Kyungsoo.

"Aku akan membelikannya." Ujar Luhan dengan santainya membuat Kyungsoo dan beberapa temannya yang sedang piket pun tertawa meremehkan. Luhan sedang bercanda? Ponsel saja tidak punya apalagi vacuum cleaner untuk kelas? Yang benar saja.

"Ya, akan ku tunggu meskipun sampai wisuda nanti."

"Oke. Jika aku sudah membelikan vacuum cleaner untuk kelas ini jangan memaksaku untuk melakukan piket lagi."

"Baiklah di terima. Sekarang lakukan tugas mu yang benar!"

Luhan kembali mendengus. Semasa hidupnya dulu sebagai Byun Baekhyun, ia tidak pernah melakukan hal seperti ini karena pastinya Chanyeol yang akan mengerjakannya dengan senang hati meskipun Chanyeol tidak ada pun pasti ketua kelasnya tidak akan menegurnya. Well, karena Baekhyun sangat di takuti di sekolahnya tapi saat ini dirinya adalah Xi Luhan yang selalu di pandang aneh oleh seluruh murid.

Luhan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan tanpa pamit pada Kyungsoo, ia dengan cepat menyambar tasnya dan keluar dari kelas dengan bebas. Ia berjalan cepat agar Kyungsoo tidak dapat di temukan.

Jalannya melambat ketika ia berhasil keluar dari sekolah. Baekhyun sudah sangat hapal jalanan yang harus di lewati untuk sampai di berbagai tempat di Busan ini.

Saat ini ia sedang memikirkan harus pulang dulu ke rumah atau langsung ke tempat neneknya berjualan ya? Karena saat ini ia perlu mandi juga tapi jika dia pulang dulu nenek pasti menunggunya lama.

Sedang asik memikirkan tersebut, tubuh Luhan tiba – tiba saja terdorong ke samping oleh tubuh lainnya membuat bahu kanan dan kirinya sakit bukan main. Ia meringis kemudian melihat orang yang mendorongnya.

Wajahnya asing dengan penuh luka lebam, memakai seragam sekolah yang berbeda dengan dirinya. Dahinya mengerut kemudian mendorong tubuh yang sudah tidak sadarkan diri ke tanah.

Ia bangkit dan menatap sekumpulan remaja sedang berkelahi dengan tatapan datar. Kawasan ini memang sangat sepi jadi tempat favorit untuk tawuran dan ini bukan sekali Baekhyun lihat.

Mencoba mengabaikan dengan tak ikut campur namun bahunya di tarik ke belakang dengan kasar sehingga mau tak mau membuat tubuh mungil Luhan membalikan tubuh.

"Wah, wah lihat. Ada anak sekolah Busan juga rupanya." Suara berat itu mampu membuat pergerakan sekelompok remaja yang saling memukul itu berhenti dan menatap ke arahnya secara bersamaan tak terkecuali dua orang yang berseragam sama seperti Luhan dengan mata yang terbuka lebar.

Luhan menatap datar dengan seseorang yang ada di hadapannya dengan tangannya yang masih memegangi bahu Luhan.

"Lepaskan tangan kotormu."

Pria di hadapannya mengembangkan seringainya dan melepaskan tangannya yang berada di bahu Luhan namun tangannya malah naik ke dagu Luhan. "Oh, sebelumnya aku tidak pernah tau jika sekolah Busan memiliki murid laki – laki semanis kau."

Dan tanpa di duga Luhan menendang dada pria itu sehingga membuatnya tersungkur ke tanah. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celanannya dan berjalan menuju pria tadi. Ia membungkukan badannya dan melihat nametag yang berada di dada kiri pria itu.

"Kris Wu." Gumamnya pelan. Tubuh Luhan kembali di tarik seseorang dan saat ia menoleh ia mendapati wajah datar Sehun yang sedang menatapnya.

"Sedang apa kau di sini?"

"Tentu saja sedang perjalanan pulang." Jawabnya dengan santai.

Kris terbangun dan menatap Luhan penuh minat. "Anak ini boleh juga, aku minta yang ini dan kau akan terbebas, Oh Sehun."

Mata Sehun menajam ke arah Kris. "Oh ya? Kalau begitu langkahi mayatku dulu."

Itu bukan suara Sehun, melainkan suara Luhan yang menoleh ke arah Kris dengan wajahnya yang ramah namun penuh dengan jiwa setannya. Sehun melebarkan matanya ke arah Luhan, ia terkejut ketika Luhan mengatakan itu dengan santainya.

"Kau gila?!"

"Kau mengkhawatirkan ku?"

"Tidak!"

"Baguslah karena aku harus membereskan ini dulu."

Luhan menurunkan tasnya dan melepaskan blazer sekolahnya. Atas aksi Luhan membuat seringai Kris semakin tinggi. "Tunjukan aksi liarmu itu, manis."

"Keparat! Jangan memanggilku dengan menjijikan seperti itu!"

Luhan telah memasang kuda – kuda dan bersiap untuk menonjok wajah Kris namun tangan mungil itu berhasil di tahan oleh Kris. Tak mau menyerah Luhan kembali memukul Kris namun sayang pukulannya berhasil di tangkap oleh Kris.

Melihat adegan itu dalam hati Sehun mengumpat keras apa yang saat ini Luhan lakukan. Berkali – kali Luhan mencoba menyerang yang ada hanya Kris yang berhasil menangkapnya kembali dan itu membuat Kris terkekeh menyenangkan melihat aksi Luhan.

Merasa lelah karena sedari tadi Luhan melakukan hal yang tak berguna membuat Kris menangkap tubuh Luhan dan mendorongnya hingga tersungkur di dekat Sehun yang masih berdiri.

"Sial! Apa – apaan tangan ini!" gerutu Luhan menatap kedua tangan kosongnya dengan kesal. Luhan benar – benar orang yang sangat lemah, pasti belum pernah berkelahi membuat otot – otot di tangannya begitu lemah.

"Kau ini memang benar – benar bodoh ya? Pergilah dari sini cepat." Sehun menunduk ke arah Luhan. Pria mungil itu menggeleng dengan tegas. "Tidak! aku yang akan menghabisi pria sialan itu."

"Dan membuatku harus terus melindungimu? Lebih baik ti – Hei! Xi Luhan sialan!"

Sehun menatap tak percaya punggung mungil itu yang mendadak menjadi seseorang dengan kepala batu yang sedang berjalan menuju Kris dan mencoba memukulnya kembali. Jiwa setan Baekhyun saat ini sedang menguasai tubuh Luhan meskipun tubuh Luhan terlalu lemah tak membuat setan itu berhenti.

"Kau benar – benar ingin mati ya?!" Seru Sehun menarik siku Luhan agar berhenti melakukan aksi gilanya. Ini bukan seperti Luhan biasanya, Luhan yang ia kenal bukan seorang yang nekat dan berambisius seperti ini.

"Daripada kau berusaha menghentikanku lebih baik kita bersama melawan si keparat ini."

"Kau sebenarnya siapa?!"

.

.

[TBC]


.

.

[Epilog]

.

.

Kedua mata itu tetap fokus memperhatikan segala sesuatu yang pria mungil itu lakukan. Merasa di perhatikan terus menerus pria bertubuh 176cm itu mendongkakan kepalanya sehingga pandangan mereka bertemu.

"Apa yang kau lihat?" Tanya Sehun dengan nada ketusnya membuat Luhan menyeringai. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang sedari tadi kau lihat?" Luhan kembali lagi melanjutkan tugas menaruh buku – buku di raknya sesuai dengan tempatnya.

Gara – gara perkelahiannya di kantin membuat mereka harus di hukum oleh Guru Kim dengan membereskan seluruh buku dan ruangan di perpustakaan. Luhan kebagian untuk menyusun buku – buku sedangkan Sehun membersihkan ruangan dengan kemoceng di tangannya.

"Diam saja dan lanjutkan pekerjaanmu, sialan."

"Tidak perlu kau beritahu pun tanganku tak berhenti sedikit pun."

Hati Sehun menggeram kesal ketika Luhan dengan santai membalas perkataanya dengan nada santai. Ini tidak seperti Luhan biasanya yang akan selalu tertunduk diam di hadapannya. Sehun merasa ada yang aneh pada diri Luhan apa ini akibat malam itu? Tanpa kabar selama empat hari Luhan tidak masuk ke sekolah dan sekalinya kembali dengan sifat yang aneh.

Sehun meraih tangan Luhan dan mendorong tubuh mungil itu ke dinding kemudian mengunci tubuh kecil itu agar tidak bisa lari kemana pun. Sehun tak perdulikan wajah Luhan yang kesal dan penuh dengan kerutan.

Wajah Luhan memang sedikit berbeda hari ini dengan rambut hitam yang berantakan tanpa ada minyak rambut yang biasa ia pakai. Arah pandang Sehun turun ke leher Luhan, kissmark dan bitemark buatannya hampir memudar di sana, matanya kembali naik pada bibir Luhan yang terlihat menggoda.

Meskipun malam itu ia dalam keadaan terpengaruh alkohol tapi ketika ia mengecap bibir Luhan yang entah mengapa membuatnya ingin mencicipinya terus menerus karena rasanya sangatlah manis.

"Apa yang kau lakukan, Sehun-ssi? Jangan menghambat pekerjaanku."

Sehun tak menjawab dan tetap berdiam namun wajahnya semakin lama semakin maju pada wajah Luhan hingga hanya menyisakan beberapa centimeter saja. Bahkan Luhan dapat merasakan hembusan napas Sehun yang memburu.

Mata Luhan membesar ketika bibir Sehun menempel pada bibirnya dan langsung melumat bibir bawahnya. Sehun benar – benar gila sekarang.

Dengan gerak reflek yang bagus lutut Luhan terangkat dengan keras dan tepat mengenai kejantanan Sehun membuat pria yang mencium bibirnya mundur dan memekik kesakitan. Sehun memegang kejantanannya yang terasa berdenyut – denyut dan mata tajam menatap Luhan dengan garang.

"SIALAN – "

Luhan mundur dan kembali mengambil trollynya, melanjutkan pekerjaannya sebisa mungkin untuk mengabaikan Sehun yang kini sedang bergerutu tidak jelas dengan kesakitan yang Luhan perbuat padanya.

.

.

Bogor/25 Agustus 2016/ 00:38