Chapter 6 -

Hari demi hari terus silih berganti dan tanpa terasa sudah satu bulan Luhan terperangkap di tubuh Baekhyun meskipun sedikit agak sulit tapi Luhan berusaha menyesuaikan diri pada lingkungan Baekhyun berada.

Di sekolah pun menjadi heboh karena Byun Baekhyun yang di kenal tidak memiliki hati itu mendadak berubah menjadi orang yang super baik hati dan suka merendah diri. Mereka pun sudah akrab dengan Baekhyun yang sekarang, tanpa ragu lagi mereka mulai menyapa Baekhyun di jalan bahkan Baekhyun suka di minta bantuan oleh OSIS sekolah bila ada event dan tentu dengan senang hati Baekhyun menolong mereka.

Bibir milik Chanyeol membuat kurva ketika melihat Baekhyun yang sedang membantu teman – temannya mendekor dinding kelas dengan beberapa pita yang memanjang berwarna – warni dalam rangka memperingati ulang tahun sekolah.

"Chanyeol-ah!"

Tubuh tinggi itu tersentak menyadarkannya dari kegiatan mari-menatap-Baekhyun-yang-sedang-menghias-dinding. Kepala Chanyeol menoleh mendapati gadis manis berambut panjang yang sedang tersenyum padanya.

"Kau sedang melakukan apa?"

"O-oh, Irene-ah. Tentu saja sedang melipat kertas origami ini membentuk burung." Ujar Chanyeol sambil menunjukan kertas origami berwarna biru yang setengah jadi pada Irene. Gadis itu mengangguk kemudian menarik tangan Chanyeol.

"Kau bisa membantuku?" Tanya Irene yang membuat satu alis Chanyeol terangkat. "Membantu apa?"

Irene menunjukan sebuah lampu – lampu kecil yang memanjang di hadapan Chanyeol. "Aku ingin memasang ini di langit – langit kelas tapi kau tau sendirikan tubuhku sangatlah pendek dan juga hanya kau satu – satunya 'manusia tiang' di kelas ini."

"Tapi aku tidak bisa memasangnya."

"Kau tenang saja, Kau hanya perlu mengangkat tubuhku yang pendek ini di bahumu dan aku yang akan memasangkan lampu – lampu ini. Gampang kan?"

Setelah mendengar ide dari Irene, Chanyeol nampak berpikir sejenak. "Baiklah, tapi jika tubuhmu sangat berat aku akan langsung menurunkanmu."

"Call!"

Irene menarik tangan Chanyeol di bawah sebuah tempat yang akan di pasangkan oleh lampu – lampu itu. Sebenarnya Chanyeol tidak ingin melakukannya apalagi di saat ada Baekhyun pasti majikannya itu akan marah tapi mengingat Baekhyun yang sekarang sepertinya Chanyeol tidak perlu meminta izin pada Baekhyun.

Irene menarik – narik tubuh Chanyeol agar segera berjongkok dan Chanyeol menurutinya. Irene pun mulai duduk di antara kedua bahu tegap milik Chanyeol dan pria itu langsung mencoba berdiri dengan Irene yang sudah siap memasang lampu.

"Ah, ternyata kau memang berat." Keluh Chanyeol mendapat kekehan pelan dari Irene di atasnya . "Enak saja, aku tidak terlalu berat kok. Tadi pagi sarapan hanya dengan memakan satu buah apel saja."

"Ya ya ya, jangan banyak mengoceh Irene-ah. Cepat lakukan pekerjaanmu itu, sungguhan ini beratnya tubuhmu."

"Hehehe, maaf maaf. Aku akan melakukannya dengan cepat."

Aksi Chanyeol dan juga Irene membuat murid di kelasnya bersorak riuh termasuk membuat Baekhyun membalikan tubuhnya dan menatap objek yang saat ini di riuhkan oleh teman – teman kelasnya.

"Wah ternyata Chanyeol dan Irene terlihat sangat cocok." Ujar salah satu murid perempuan bernama Heera kepada Baekhyun. "Apa mereka sedang menjalin sebuah hubungan?" Tanya teman perempuannya yang lain. Mendadak Baekhyun di kerumuni oleh teman – teman perempuannya yang kelewat ingin tahu tentang pasangan itu.

"Kenapa bertanya kepadaku?" kini Baekhyun yang balik bertanya kepada teman – temannya dan menatap mereka dengan bingung.

"Kau kan teman dekatnya, Baekhyun-ah. Setiap hari kalian bagaikan perangko dan amplop yang selalu menempel satu sama lain. Pasti Chanyeol menceritakan seluruh kisah cintanya padamu, kan?"

Alis Baekhyun terangkat satu menanggapi pernyataan dari temannya. Tapi yang sebenarnya Chanyeol sama sekali tidak pernah menceritakan kisah cintanya, bercerita tentang orang yang di sukai pun tak pernah mendengarnya. Chanyeol memang tidak suka membahas percintaannya jika mereka sedang mengobrol.

"Apa Chanyeol tidak menceritakan kisah cintanya padamu?"

Baekhyun menggeleng pelan.

"Menceritakan orang yang sedang ia sukai saat ini?"

Baekhyun kembali menggelengkan kepalanya.

"Padahal pria untuk seukuran Chanyeol terbilang sangat tampan dengan tubuh yang proposional seperti itu. Sayang, jika saat ini ia belum memiliki seorang kekasih. Tapi melihat interaksi antara Chanyeol dan Irene belakangan ini seperti sepasang kekasih, aku jadi curiga sebenarnya mereka memang sepasang kekasih tapi tidak memberitahukan kepada seluruh orang."

"Kenapa memang?" Baekhyun bertanya. Beberapa teman perempuan Baekhyun yang ikut menyimak analisa Heera tentang hubungan Chanyeol dan Irene pun memandang wajah yang sangat serius pada Heera.

"Karena ia tidak ingin menyakiti hatimu, Baek."

"Maksudnya?

"Tentu saja, kau kan sahabatnya mana mungkin Chanyeol meninggalkan sahabat setianya untuk mengalami masa jomblo sendirian karena dari itu untuk menjaga hatimu jadi ia merahasiakan hubungannya. Oh ya ngomong – ngomong ini hanya sebatas pemikiranku saja ya, jangan di ambil serius." Beberapa orang disana mengangguk setuju termasuk Baekhyun yang membenarkan analisa Heera.

"Tapi Baek, bagaimana jika mereka memang benar – benar menjadi sepasang kekasih apa kau akan menyetujui hubungan mereka?"

Baekhyun nampak berpikir sejenak kemudian menganggukan kepalanya dan tersenyum kepada Heera. "Tentu saja aku menyetujuinya."

.

.

Present

- What If -

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Xi Luhan

Oh Sehun

YAOI, SHOUNEN – AI, BOYS LOVE, BOYXBOY

Cerita ini murni punya saya. Dilarang plagiat/copas tanpa izin.

Tolong hargai saya.

.

.

Byun Baekhyun seorang yang sangat menyukai perkelahian. Park Chanyeol si pelayan setia Baekhyun. Di kehidupan lainnya terdapat Xi Luhan si korban Bullying dan Oh Sehun yang sangat menyukai membully Luhan. Dan sebuah kejadian yang tak pernah di duga oleh mereka. Jiwa Baekhyun dan Luhan tertukar?!

.

.

Di dalam tubuh Baekhyun terdapat jiwa Luhan yang sedang merenungkan tentang pembicaraannya bersama Heera tadi siang di kelas mengenai hubungan Chanyeol dan juga Irene yang terlihat seperti sepasang kekasih.

Jika Chanyeol dan Irene benar – benar menjadi sepasang kekasih, apa yang akan terjadi jika Baekhyun yang asli mengetahui berita ini? Apa kah setuju dengan pendapatnya untuk menyetujui mereka atau sebaliknya? Tapi jika Baekhyun tidak menyetujui hubungan Chanyeol karena apa ya? Tidak ada alasan Baekhyun melarang Chanyeol untuk menjalin hubungan kan? Bagaimana pun sebagai majikan yang baik pasti Baekhyun akan memberikan kebebasan pada pelayan setianya.

Memikirkan hal itu membuat Luhan tak sadar jika kepalanya menabrak punggung lebar Chanyeol yang mendadak terhenti di depannya.

Ia mengusap – usapkan dahinya yang berdenyut. "Jika kau ingin berhenti berjalan setidaknya beritahu aku." Gerutunya dengan kesal namun sama sekali tidak mendapat sahutan dari Chanyeol dan dengan rasa penasaran kepala Baekhyun menyembul dari punggung lebar Chanyeol dan melihat yang terjadi sebenaranya.

"Hai manis, sudah lama tidak bertemu kan?" salah satu dari tiga pria di sebrang sana menyapanya sok akrab. Tiga orang di sana sama sekali tidak Luhan kenal, apa mereka teman lama Baekhyun?

Baekhyun menatap bingung Chanyeol yang masih terdiam. "Ada apa?" Tanya Luhan pada Chanyeol. Pria bertubuh tinggi itu menoleh pada Baekhyun dan menahan tangan Baekhyun agar ia tetap pada posisinya.

"Kau hanya perlu diam, Baek. Biarkan kali ini saja aku mengahabisi mereka."

"Whoah, ternyata ada pahlawan kesiangan untuk melindungi seorang Byun Baekhyun. Ada apa ini? Apa seorang Byun Baekhyun sudah kehilangan kekuatannya?"

"Tutup mulut sialanmu itu, Bajingan!" Seru Chanyeol dengan wajah yang sangat marah pada mereka yang disana atau lebih tepatnya ke arah Daehyun. Laki – laki itu langsung di drop out dari sekolah ketika sekolah mengetahui jika Daehyun terlibat pada kejadian penusukan yang terjadi pada Baekhyun dan akhirnya Daehyun bisa bertemu kembali dengan Baekhyun setelah hukumannya selesai.

"Serang dia, kawan. Aku ingin melihat pria tinggi itu bisa berkelahi juga atau tidak, mengingat dia tak pernah ikut berkelahi." Sesuai dengan perintah Daehyun, kedua temannya langsung maju berlari untuk menyerang Chanyeol dan juga Baekhyun. Melihat itu, Chanyeol segera menberikan tasnya pada Baekhyun.

"Maaf Baekhyun tapi inilah tugasku yang sesungguhnya. Melindungimu." Setelah mengucapkan itu tubuh Chanyeol maju dan mulai menghidar beberapa serangan yang di layangkan oleh kedua orang asing itu.

Baekhyun hanya bisa terdiam menatap perkelahian Chanyeol dengan menggenggam erat tas milik Chanyeol. Melihat Baekhyun yang seperti itu tentu menarik perhatian Daehyun yang juga terdiam di tempatnya.

Ada apa dengan Byun Baekhyun? Kenapa tatapannya seperti orang yang memiliki orang ketakutan luar biasa pada sebuah perkelahian? Bukankah jika sudah menyangkut perkelahian Baekhyun ikut menggila? Apa jangan – jangan karena insiden penusukan itu dia jadi trauma dengan perkelahian?

Banyaknya tanda tanya menari – nari di atas kepala Daehyun sampai tidak menyadari jika ada satu tubuh terkapar penuh dengan luka lebam dan juga sedikit darah tergeletak di ujung sepatunya. Alisnya naik satu melihat salah satu temannya sudah tak sadarkan diri lalu pandangannya tertuju pada temannya yang sedang di hajar habis – habisan oleh Chanyeol. Satu sisi bibirnya terangkat ketika melihat kejadian menarik di hadapannya.

"Chanyeol-ah! Hentikan, kau bisa membunuh orang!" Seru Baekhyun menarik – narik tangan Chanyeol agar segera menghentikan aksi gilanya untuk tidak membunuh namun pada kenyataannya Chanyeol tidak berhenti dan mengabaikan semua perkataan Baekhyun.

Di dalam hati Luhan menggeram dengan kesal. "Hentikan kubilang! Kau bisa membunuhnya, Park Chanyeol. Hentikan, ini perintah dariku!"

Tangan Chanyeol berhenti di udara ketika mendengar kata 'perintah' dari mulut Baekhyun. Hanya inilah satu – satunya yang dapat menghentikan aksi Chanyeol. Tangannya ia turunkan namun tatapan tak lepas dari lawannya yang berada di bawahnya.

Perlahan tubuh Chanyeol bangkit dan berdiri di samping Baekhyun saat itu juga teman Daehyun yang tadi di hajar Chanyeol segera bangkit dan berjalan ke arah Daehyun yang masih terdiam.

Baekhyun melihat wajah penuh luka lebam dan ada beberapa noda darah milik Chanyeol dan juga tangan – tangan besar Chanyeol ikut terluka. Dalam hati Luhan meringis melihat Chanyeol sampai seperti ini.

"Kau tidak apa – apa, Baek?"

Rasanya ingin sekali Luhan meneriaki wajah Chanyeol yang penuh luka lebam seharusnya ia yang bertanya seperti itu dengan rasa khawatir yang luar biasa. "Katakan itu pada wajahmu yang penuh dengan luka itu, Park Chanyeol."

Menanggapinya Chanyeol hanya bisa tersenyum. Setidaknya tugasnya kali ini benar – benar di jalankan dengan baik olehnya yaitu melindungi majikannya dengan jiwa raganya.

Suara tepuk tangan menyadarkan mereka dan membuat mereka menolehkan ke sumber suara. "Well, ternyata seorang Park Chanyeol bisa berkelahi juga. Kupikir kau hanya bisa bersembunyi di balik tubuh seorang Byun Baekhyun saja saat berkelahi."

"Sudah ku bilang tutup sialanmu itu, Keparat!"

"Whoah, santai saja bung. Kurasa kali ini cukup karena benar – benar tidak menarik jika seorang Byun Baekhyun tidak ikut berkelahi juga. Omong – omong, apa yang terjadi padamu Byun Baekhyun? Apa kau kini merasa takut untuk berkelahi?"

Baekhyun hanya terdiam karena memang tidak tahu harus berbicara apa pada orang asing di hadapannya tapi berbeda dengan Chanyeol, pria tinggi itu hanya bisa mendengus kesal mendengar ocehan tak berguna Daehyun.

"Takut kau bilang? Bahkan kau pernah di buat hampir mati oleh Baekhyun, jika kau ingat. Jangan berharap Baekhyun akan ikut berkelahi lagi karena mulai saat ini lawanmu adalah aku, Park Chanyeol."

"Wah wah wah, terlibat drama menyedihkan apa ini. Terserah, dirimu atau Baekhyun tetap saja akan mati di tanganku. Ayo kawan kita pergi." Ajak Daehyun pada temannya dan tak lupa membawa temannya yang tak sadarkan diri.

Chanyeol menghembuskan napasnya lega ketika Daehyun dan teman – temannya sudah tak terlihat lagi di netranya. Tangannya kembali mengambil tasnya yang masih berada di pelukan Baekhyun.

"Apa ucapannya sungguhan?" Tanya Baekhyun. Chanyeol yang memakai tasnya hanya bisa tersenyum. "Itu tidak akan terjadi, Baek. Tenang saja. Ayo pulang."

Baekhyun menganggukan kepalanya meskipun ia merasa khawatir atas ancaman yang Daehyun berikan. Luhan meringis ketika mengingat Baekhyun terlibat dengan orang semenyeramkan Daehyun, tapi untung saja di sisi Baekhyun selalu ada Chanyeol yang bersedia melindunginya.

Perjalanan pulang mereka untungnya tidak berlangsung lama karena tenaga Chanyeol sudah terkuras habis dengan perkelahian tadi dan mereka telah sampai di rumah besar Baekhyun yang selalu terasa sepi. Bahkan Luhan mengira jika rumah Baekhyun adalah rumah hantu saking sunyinya. Tidak terlalu banyak orang yang menghuni rumah sebesar ini, hanya dirinya, Chanyeol dan juga ibu Chanyeol. Sebenarnya masih ada dua orang yang bertugas bersih – bersih tapi mereka tidak menetap di rumah Baekhyun seperti ibu Chanyeol.

Kedua orang tua Baekhyun? Entahlah, Luhan tidak melihatnya lagi semenjak di rumah sakit. Mereka hanya memberi kabar seminggu sekali dengan mengirimi sebuah E-mail.

Tubuh Chanyeol di dudukan di sofa di ruang tengah oleh Baekhyun. Ibu Chanyeol yang tak sengaja lewat pun memekik terkejut melihat wajah sang anak yang penuh luka lebam.

"Astaga, Chanyeol-ah! Apa yang terjadi padamu, nak?" ibu Chanyeol menghampiri anak semata wayangnya. Melihat wajah panik ibunya membuat Chanyeol tersenyum kecil. "Bukan masalah besar, bu."

"Tuan muda! Tuan muda tidak apa – apa kan? Tidak ada yang terluka sedikit pun kan? Apa ada yang terasa sakit?"

Siapa sangka jika dengan cepat ibu Chanyeol langsung berbalik menghadap Baekhyun yang memborongnya dengan sederet pertanyaan yang membuat Chanyeol memutar bola matanya malas. Sebenarnya siapa anak kandungnya sih?

"Aku tidak apa – apa bi, tenang saja. Ah, aku ingin mengambil kotak obat dulu." Baekhyun hendak bangkit namun di tahan oleh ibu Chanyeol. "Tuan muda lebih baik beristirahat saja di kamar biar saya yang mengurus anak nakal ini."

Mendengar itu dengan cepat Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Tidak bibi. Biarkan aku saja yang mengobati Chanyeol, ah kebetulan aku ingin makan yang manis – manis tolong buatkan ya bi."

Ibu Chanyeol ingin memprotes namun tak terlaksana karena tangannya lebih dulu di tarik oleh Baekhyun menuju dapur sekalian Baekhyun mengambil kotak p3knya yang berada di sana.

Baekhyun kembali dengan kotak obat di tangannya. Ia duduk di samping Chanyeol yang sedang memejamkan matanya. Tangan mungilnya mencoba menuangkan alkohol pada sebuah kapas dan menaruhnya di luka lebam Chanyeol membuat pria bertelinga peri itu membuka matanya terkejut merasakan sakit tiba – tiba.

"Ah, Baek seharusnya kau memberitahuku dulu." Ujar Chanyeol dan mengubah posisi duduknya agar Baekhyun bisa mengobatinya. Baekhyun terkekeh pelan lalu melanjutkan kegiatannya mengobati Chanyeol.

"Maaf ya, jika sakit katakan saja."

"Iya – Akh."

Baekhyun mengobati luka Chanyeol dengan telaten dan tanpa bersuara sesekali bibir mungil itu terbuka ikut meringis jika Chanyeol merasakan kesakitan.

Dengan jarak sedekat ini Chanyeol bisa melihat wajah manis Baekhyun yang tanpa adanya luka lebam. Chanyeol senang akhir – akhir ini sifat Baekhyun berubah menjadi yang lebih baik. Biasanya yang berada di posisi Baekhyun saat ini adalah dirinya, mengobati luka – luka Baekhyun menjadi tugas wajib sehari – hari bagi Chanyeol namun kali ini Baekhyun lah yang mengobati lukanya. Itu membuatnya merasa senang juga.

"Kenapa senyum – senyum seperti itu?" Tanya Baekhyun yang melihat gelagat aneh Chanyeol.

"Kau tau Baek, biasanya aku yang mengobati lukamu dan kini kau yang mengobati lukaku."

"Dan itu yang membuatmu tersenyum?"

"Yeah, rasanya ini pertama kalinya kau melakukan ini padaku." Jelas Chanyeol yang membuat Baekhyun terkekeh pelan. Suara tawa itu terhenti ketika ia teringat akan sesuatu yang mengganjal hatinya.

"Oh iya, Chanyeol-ah ada yang ingin ku tanyakan."

"Apa itu?"

Baekhyun terdiam sejenak begitu pun dengan aktivitas tangannya yang ikut terhenti karena ia sudah selesai mengobati luka Chanyeol. Sejujurnya ia agak ragu menanyakan ini tapi hati kecil selalu menyuruhnya untuk menanyakan hal ini agar tidak ada rasa mengganjal lagi.

"Apa ada orang yang kau sukai saat ini?" Tanya Baekhyun yang membuat ekspresi Chanyeol berubah seketika. "Kenapa bertanya hal itu?"

"S-sudah jawab saja."

"Ada."

"Apakah itu Bae Irene?"

"A-apa?"

"Yeah – maksudku jika orang itu adalah Irene akan sangat bagus. Kalian berdua sangat cocok dan jika kau butuh bantuan untuk mendapatkan Irene aku akan senang hati membantumu."

"T-tunggu Baek, maksudmu –"

"Selamat sore Baekhyun-ah, Chan – astaga! Apa yang terjadi padamu?"

Seorang pria dengan stelan jas hitam yang baru saja masuk ke dalam rumah Baekhyun nampak terkejut setelah melihat wajah Chanyeol yang penuh luka lebam. Pria yang akan memasuki usia kepala empat itu menghampiri Chanyeol dan duduk di sampingnya.

"Apa yang terjadi?"

"Hanya kecelakaan kecil, Tuan Kyuhyun." Jawab Chanyeol dengan tenang. Berbeda dengan Chanyeol, Baekhyun menatap pria itu dengan rasa terkejut bukan main.

Luhan mengenal pria ini. Pria yang berbaik hati menawarkan sebuah beasiswa full di sekolah Busan padanya secara cuma – cuma meskipun tetap saja Luhan harus melewatinya dengan beberapa tes dan sialnya lagi, dia adalah ayah dari Oh Sehun!

Kenapa dunia bisa sesempit ini?!

"Hallo Baekhyun? Kenapa menatap paman seperti itu?" Tanya Kyuhyun pada Baekhyun dengan melambaikan tangannya pada Baekhyun kemudian kepalanya menoleh pada Chanyeol seolah meminta jawaban namun Chanyeol hanya menaikan bahunya tak tahu.

"T-tuan Oh!" Baekhyun bangkit dan membungkuk hormat pada Kyuhyun membuat pria tampan itu terkekeh pelan melihat tingkah Baekhyun.

"Paman tau, paman salah karena meninggalkanmu tanpa kabar selama hampir dua bulan di Jepang untuk urusan bisnis apalagi paman tidak menjengukmu setelah ada insiden kau tertusuk jadi jangan bertingkah aneh seperti itu, Baekhyun-ah."

Luhan sama sekali tidak tahu jika hubungan Baekhyun dengan ayah dari Sehun itu bisa di bilang akrab dan dengan canggung Baekhyun kembali duduk.

Hampir melupakan sesuatu Kyuhyun memberikan beberapa bingkisan untuk Baekhyun dan Chanyeol. "Hanya inilah satu – satunya yang bisa menyogokmu supaya tidak marah lagi pada paman dan juga untuk Chanyeol."

"Terima kasih, Tuan Kyuhyun."

"T-terima kasih, paman."

"Sama – sama. Sepertinya kalian belum mandi ya? Mandilah dulu kalian bau keringat. Dan Chanyeol-ah, setelah kau mandi bisakah menemuiku? Ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan denganmu."

Chanyeol mengangguk mengerti dan bangkit dari duduknya begitu pun dengan Baekhyun. Mereka pamit pada Kyuhyun sebelum akhirnya mereka menuju kamar masing – masing.

Setelah sampai kamar, Luhan dengan kelewat keponya membuka bingkisan yang tadi di berikan oleh Kyuhyun tapi hati kecilnya menahannya. Bagaimana pun juga ini milik Baekhyun dan Luhan tidak boleh dengan seenak jidatnya membuka barang milik orang lain.

Akan Luhan berikan besok pada Baekhyun. Yeah, Luhan hampir saja melupakan hari peringatan kematian ibunya yang jatuh pada hari esok. Maka dari itu besok pagi – pagi sekali Luhan akan pergi ke Busan.

.

.

"Ahh brengsek!"

Suara deru napas yang memburu menjadi backsound yang tepat pada malam sunyi ini. Tubuhnya ia jatuhnya di samping seorang pria mungil yang napasnya juga memburu sepertinya. Mereka nampak kelelahan dengan peluh yang membasahi rambut depan mereka.

Luka lebam pun hinggap di wajah mereka berdua, tetapi yang lebih parah di wajahnya. Pria itu menggeram kesal pada pria di sampingnya.

"Sudah ku bilang untuk segera pergi dari sini, sialan! Kau hanya bisa merepotkanku!" Serunya. Sedari tadi ia melindungi tubuh mungil itu dari serangan sehingga membuatnya selalu terkena bogem mentah dari lawannya.

Seolah tak ingin mendengar teriakan orang gila di sampingnya, pria bername tag Xi Luhan itu segera berdiri meskipun dengan sedikit sempoyongan. Sehun, pria itu mengerutkan dahinya ketika melihat Luhan beranjak.

"Mau kemana kau?"

"Tentu saja pulang." Jawabnya dengan ketus sambil memakai kembali tas punggungnya. Sehun pun ikut bangkit ketika kaki Luhan sudah menjauh dari lokasi tempatnya berkelahi, tak ia hiraukan lawannya yang tergeletak di tanah dengan bersimbah darah tak sadarkan diri termasuk Kris Wu.

Luhan mengabaikan seluruh pandangan aneh yang di berikan oleh beberapa pejalan kaki. Hari sudah malam, pasti nenek Luhan sudah selesai berjualan dan berada di rumah.

Dan benar saja ketika ia memasuki perkarangan rumah di sambut oleh jeritan neneknya melihat keadaan kacau Luhan.

"Astaga! Ya Tuhan! Apa yang terjadi padamu, Luhan? Siapa yang melakukan ini padamu?" tangan keriput itu meraba – raba setiap luka lebam di wajah Luhan membuat pria rusa itu meringis kesakitan.

"Tidak apa – apa nek."

"Ayo masuk, biar nenek obati lukamu."

Luhan menuruti setiap perkataan sang nenek saat di obati termasuk beberapa nasihat – nasihat yang di berikan oleh neneknya.

"Astaga, wajah tampan cucuku. Aish, bagaimana besok kau bertemu dengan ibumu?" gerutu sang nenek yang masih mengobati luka cucunya membuat Luhan sedikit menaikan alisnya. "Ibuku?"

Tanpa di duga, Luhan mendapat pukulan yang cukup keras di punggungnya dari sang nenek. "Dasar anak nakal! Bagaimana bisa kau melupakan hari peringatan kematian ibumu!"

"Besok nek?" Tanya Luhan lagi yang langsung mengundang amarah sang nenek – lagi. "Dasar rusa nakal!"

"Iya nek – akh!"

"Sekali lagi kau bertanya seperti itu aku akan memukulmu terus." Luhan hanya bisa mencibirnya. "Kau sudah makan?"

Luhan menggeleng pelan. "Kalau begitu segeralah makan lalu lekas tidur karena pagi – pagi kita akan berangkat ke tempat ibumu."

"Lalu sekolahku bagaimana?"

"Sebelumnya aku sudah meminta izin pada sekolah jika besok kau tidak bisa masuk sekolah. Sudah sana makan!"

"Iya iya, nenek cerewet!"

.

Dan perkataan neneknya benar – benar terjadi saat beliau mengatakan pagi – pagi mereka berangkat ke sebuah kreatorium di kota Busan bersama paman Lee yang dengan senang hati mengantar mereka. Meskipun masih mengantuk Luhan tetap ikut berjalan dan akhirnya terlelap di dalam sebuah bus.

Setelah sampai di krematorium, Luhan berjalan di belakang neneknya karena ia tidak mengetahui di mana letak abu milik Ibu Luhan. Meskipun sudah terpasang foto di setiap rak, Baekhyun tetap tidak tahu yang mana milik ibu Luhan karena di rumah Luhan ia tidak dapat menemukan foto kedua orang tua Luhan. Baekhyun yakin pasti ada namun Luhan terlalu pintar menyimpan fotonya.

Ketika nenek Luhan berhenti, tubuh Luhan juga ikut berhenti. Matanya pun melihat – lihat guci berbagai bentuk dan berwarna warni tempat penyimpanan abu berserta foto – foto yang menghiasi rak besar ini.

Mata rusa Luhan terhenti ketika sang nenek menaruh mawar putih di hadapan sebuah foto yang membuat jantungnya berdegub dengan cepat. Ini tidak mungkin terjadi, pasti mereka hanyalah orang yang berwajah mirip.

"Maaf baru bisa mengunjungimu, Sungmin-ah."

Matanya melebar ketika nama itu di sebut dari mulut nenek Luhan. Sungmin yang di maksud nenek Luhan pasti bukanlah orang itu. Nama Sungmin di korea banyak bukan?

Sebuah tepukan di bahunya menyadarkan lamunannya. "Kenapa hanya terdiam seperti itu, Luhan-ah? Tak ingin menyapa ibumu?" Tanya paman Lee yang sedikit aneh terhadap Luhan karena sedari tadi pemuda itu hanya terdiam.

"A-ah iya." Pandangan Baekhyun kini teralih pada foto seorang perempuan yang sangat cantik yang sedang tersenyum lembut. "I-ibu, apa kabar? A-aku merindukanmu." Ujarnya dengan pelan.

"Ini sudah tahun ke lima, Sungmin meninggalkan kita. Aku juga merindukannya." Kali ini paman Lee yang bergumam pada foto Sungmin.

Mereka saling terdiam untuk berdoa dan ketika selesai paman Lee mengusulkan untuk makan di sebuah restoran tapi Baekhyun tidak bergeming sama sekali. Ia masih terfokus menatap foto Sungmin.

"Kau tidak ingin ikut, Luhan-ah?"

Luhan menggeleng pelan ketika paman kembali menawarkannya. Akhirnya paman Lee dan juga nenek hanya bisa pasrah. "Baiklah, kau bisa pulang sendiri kan?" Luhan mengangguk pelan meskipun ia tidak yakin seratus persen bisa kembali pulang hanya dengan seorang diri.

Setelah sepeninggalan paman Lee dan juga neneknya, Baekhyun masih setia berdiri sampai jam menunjukan pukul sepuluh pagi menjelang siang. Di kepalanya banyak pemikiran – pemikiran yang tidak ia mengerti.

"P-permisi."

Baekhyun tersentak ketika seseorang menepuk pelan bahunya yang membuatnya menoleh seketika. Matanya melebar ketika melihat seseorang yang sangat – sangat ia kenal.

"Luhan-ssi."

"Baekhyun-sii."

.

.

[TBC]

.

.

[Epilog]

.

.

"Kau sebenarnya siapa?!"

Jantungnya berdegub dengan cepat ketika Chanyeol tiba – tiba bertanya seperti itu, rasa gugupnya bertambah banyak ketika Chanyeol masih tetap setia menatapnya seperti itu. Haruskah ia jujur? Tidak – tidak, jika jujur pasti Chanyeol pasti tidak akan mempercayainya dan berujung di rumah sakit jiwa persis yang di katakan Baekhyun sebelumnya.

"M-maksudmu apa? Tentu saja aku Byun Baekhyun."

"Kau tau, akhir – akhir ini kau bersikap aneh dan – "

"Hai Chanyeol!"

Perkataan Chanyeol terhenti ketika suara cempreng perempuan memanggil namanya. Pandanganya teralih pada sumber suara begitupun arah pandang Baekhyun.

"Hai, Irene." Sapa Chanyeol dengan tersenyum kecil pada gadis yang belum lama ini berteman baik dengannya. Pandangan Irene tertuju pada Baekhyun yang menatapnya dalam diam.

"O-oh Baekhyun. Kau sudah sembuh?" Tanya Irene. Gadis itu tak berharap banyak Baekhyun akan membalas pertanyaannya tapi tanpa di sangka Baekhyun tersenyum padanya.

"Yeah, kau bisa melihatnya sendiri."

Irene membulatkan matanya mendengar suara merdu nan lembut milik Baekhyun mengalun indah di telinga karena menjawab pertanyaannya. Tidak seperti biasanya pasti jika ada yang berbasa basi dengan Baekhyun, kalau tidak di jawab pasti di jawab dengan nada ketus.

Dengan sikap Baekhyun yang seperti itu mau tak mau membuat Irene mengembangkan senyumnya. "Baguslah kalau seperti itu, aku senang kau bisa kembali bersekolah."

"Terima kasih, Irene-ssi."

"Oh bagaimana jika kita ke kelas bersama? Ayo!" ajak Irene yang di setujui oleh Chanyeol dan juga Baekhyun. Mereka berjalan beriringan membuat beberapa murid menatapnya tak percaya apalagi ketika Baekhyun berbicara akrab dengan Irene. Sungguh kejadian yang luar biasa.


"Kau sebenarnya siapa?!"

Luhan menatap datar Sehun yang berteriak di depannya seperti itu. Ia sudah menduga jika cepat atau lambat Sehun akan bertanya seperti itu karena bagaimana pun jika di lihat dari sudut pandang Baekhyun, Luhan pastilah orang yang lemah di hadapan Sehun sehingga ketika Baekhyun terjebak di dalam tubuh Luhan pasti Sehun akan curiga dengan tingkah laku Luhan yang berbeda.

"Kau bisa melihat dengan kedua bola matamu jika aku ini adalah Xi Luhan."

"Xi Luhan? Kau yakin? Tingkahmu sungguh aneh dari sepuluh tahun aku mengenal Xi Luhan selama ini."

Luhan terdiam di tempatnya sebelum sebuah seringai muncul di wajahnya. Jadi Sehun sudah mengenal Luhan selama itu? Tapi kenapa Sehun sangat membenci Luhan? Apa penyebabnya?

"Kau itu penggemarku ya?"

"A-apa?"

"Kau sampai memperhatikan ku seperti itu. Aku sungguh tersanjung." Perkataan Luhan membuat Sehun mendengus kesal dan maju selangkah di depan Luhan sehingga jarak mereka sekarang hanya tinggal beberapa centimeter kepalanya menunduk karena tubuh Luhan yang lebih pendek darinya. "Memperhatikanmu?"

Bukannya takut Luhan malah menunjukan wajah menantangnya. "Akui saja jika kau itu adalah penggemarku."

"Hei Jungho, siapkan popcorn sepertinya ada drama yang menarik disini." Suara bass dari seorang Kris Wu pada temannya yang langsung pergi untuk mencari popcorn untuk bosnya dan membuat Sehun maupun Luhan menolehkan kepalanya ke arah Kris.

"Apa? Drama ini sudah selesai?"

Sehun mau pun Luhan kembali memandang diri satu sama lain. Mereka hampir lupa jika saat ini mereka sedang berhadapan dengan sekolah Seungri yang meminta seorang korban.

"Cepat pergi dari sini, Xi Luhan." Seru Sehun dengan pelan namun tajam pada Luhan tapi saat ini Luhan mendadak menjadi kepala batu dan beranjak dari tempatnya berjalan menuju Kris.

Teman Kris yang bernama Jungho kembali dengan membawa sekotak popcorn – yang entah dari mana ia mendapatkannya secepat itu – ia memberikannya pada Kris. Mata Sehun kembali melotot ketika melihat Luhan mengambil popcorn itu dan memakannya dengan gaya santainya.

"Fuck You!"

Luhan menendang perut Kris dan membuatnya tersungkur berserta popcornnya yang bertaburan ke tanah. Baekhyun mengakui jika kaki Luhan memang kuat tidak seperti lengannya jadi setidaknya ia akan terus menendang lawannya.

Dengan emosi Kris bangkit dan melayangkan tinjunya pada Luhan yang membuat pria itu tersungkur kini. Kris berjongkok di depan dada Luhan, ia mengambil dagu Luhan agar melihatnya.

"Bersikaplah manis dan kau akan terbebas. Setuju?" Kris menawarkan sesuatu hal yang tak berguna menurut Baekhyun maka dengan cepat ia kembali menendang Kris agar menyingkir dari hadapannya.

"Dalam mimpimu, brengsek!"

"Serang mereka!" Perintah Kris pada teman – temannya dan dengan siaga Sehun maupun Luhan mengambil kuda – kuda.

"Ini ketiga kalinya ku peringatkan Xi Luhan!"

"Percayakan padaku, Oh Sehun!"

Sehun hanya bisa terdiam. Dia tidak menjawab dan mencoba fokus untuk melawan setiap lawannya yang datang padanya bertubi – tubi begitu pun dengan Luhan. Memukul baginya bunuh diri jadi yang dilakukannya hanya menghindar – berutung Luhan memiliki tubuh kecil sehingga bisa dengan gesit ia menghindar – dan juga menendang karena kakinya yang lumayan kuat. Selebihnya Sehun yang bertarung.

.

.


Luhan dan Baekhyun udah ketemu 0.0

Chanyeol dan Irene udah ada tanda - tanda 0.0

ayah Sehun ternyata orang terdekat Baekhyun 0.0

ada apa dengan ibu Luhan dan Baekhyun? 0.0

Bogor/27 agustus 2016/ 00:10