Chapter 7 - Meet
.
[Luhan sebagai Luhan dan Baekhyun sebagai Baekhyun]
.
"Luhan-ssi."
"Baekhyun-ssi."
Yang pertama kali menyadari dan mengenali wajah di hadapannya adalah Baekhyun. Dia sungguh tidak tahu akan kedatangan Luhan hari ini dan bertemu di krematorium ini, tapi jika di pikir – pikir lagi Luhan pasti akan datang ke sini untuk bertemu ibunya. Pandangan matanya teralih pada sebuket mawar putih yang berada di genggaman Luhan.
"Kau ingin melihat ibumu?" Tanya Baekhyun dan dengan sedikit canggung Luhan mengangguk. Seakan mengerti tubuhnya ia bergeser sedikit agar Luhan dapat ruang lebih untuk melihat ibunya.
Luhan memajukan langkah mendekati ruang ibunya berada. Ia meletakan sebuket bunga di samping guci yang sudah ada mawar putih di sebelahnya. Jari – jarinya meraih sebuah figuran yang teramat ia rindukan.
Ibunya. Dia sangat merindukan ibunya.
"Ibu, aku datang." Ujarnya dengan pelan. Seperti roll film, sekilas memori kebersamaan dengan ibunya mulai bermunculan dia kepalanya membuat genangan air di pelupuk matanya terjatuh. Ibunya yang lemah lembut, penuh kasih sayang dan juga seorang pekerja keras.
"Aku merindukanmu, ibu." Tak kuasa lagi, Luhan menangis sesegukan di depan abu ibunya. Baekhyun yang melihat itu segera mendekat ke arah Luhan dan mengusap bahunya mencoba memberinya kekuatan.
"Ibumu pasti merindukanmu juga dari atas sana, Luhan-ssi."
Luhan menganggukan kepalanya menyetujui perkataan Baekhyun. Ia menghapus airmatanya yang terlanjur mengalir di pipinya, kepalanya menoleh pada Baekhyun yang sedang tersenyum padanya.
"Terima kasih, Baekhyun-ssi."
"Oh ya, karena kau sudah berada di sini. Apa kau membawa dompetku?" Dengan cepat Luhan mengganggukan kepalanya. "Tentu saja aku membawanya." Jawabnya dengan wajah yang cerah.
"Bagus. Apa kau masih ingin berada di sini? Aku ingin keluar menghirup udara segar." Luhan nampak terdiam sejenak lalu ia kembali menghadap foto ibunya. "Ibu, aku pamit pulang. Jika ada waktu lagi aku pasti akan mengunjungimu." Luhan membungkukan badannya sembilan puluh derajat pada foto Ibunya.
Setelah selesai semua, Luhan mengajak Baekhyun keluar dari krematorium. Mereka berjalan beriringan.
"Hyung." Panggil Baekhyun tiba – tiba membuat Luhan memberhentikan langkahnya dan menoleh pada Baekhyun dengan tatapan bingung.
"A-apa?"
"Bolehkah aku memanggilmu seperti itu? itu karena kau lebih tua daripadaku." Jawab Baekhyun yang membuat Luhan tersenyum. "Tentu saja boleh. Jadi aku bisa berbicara banmal denganmu?"
"Tentu saja."
Mereka kembali melanjutkan perjalanannya namun ketika sampai gerbang ada sesuatu yang menarik membuat Baekhyun menghentikan langkahnya. Pandangannya menatap satu objek manusia yang berpakaian rapih dengan jas hitam dan tidak lupa membawa sebuket bunga mawar putih berjalan memasuki krematorium.
Menyadari Baekhyun yang tidak ada di sampingnya membuat Luhan menoleh ke belakang dan mendapati Baekhyun yang terdiam di sana. Ia menghampiri Baekhyun dan menepuk bahunya pelan.
"Ada apa, Baekhyun?"
"Hyung, apa paman Kyuhyun mampir ke rumah?" Tanya Baekhyun. Luhan berpikir sejenak dan kemudian berkata. "Paman Kyuhyun? Maksudmu Tuan Oh? Yah dia kemarin mampir ke rumah dan memberikan bingkisan tapi maaf, aku lupa membawanya."
Baekhyun menganggukan kepalanya bergumam tak jelas, pandangan matanya teralih pada bangunan besar disana bernama Krematorium. Ia mengerutkan dahinya bingung, siapa yang paman Kyuhyun temui? Paman Kyuhyun memang sangat tertutup dengan semua hal pribadinya termasuk siapa saja keluarganya sejak Baekhyun kecil mengenal Paman Kyuhyun. Ia mengenal Kyuhyun hanya sebagai sahabat dari kedua orang tuanya dan Kyuhyun yang begitu menyayangi Baekhyun.
"Kenapa, Baekhyun-ah? Apa ada masalah?" Tanya Luhan lagi yang sangat penasaran apa yang sedang Baekhyun pikirkan. Baekhyun menggeleng pelan kemudian tersenyum pada Luhan seolah tak terjadi apa – apa.
"Tidak hyung, ayo kita pergi."
.
.
Present
- What If -
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Xi Luhan
Oh Sehun
YAOI, SHOUNEN – AI, BOYS LOVE, BOYXBOY
Cerita ini murni punya saya. Dilarang plagiat/copas tanpa izin.
Tolong hargai saya.
.
.
Byun Baekhyun seorang yang sangat menyukai perkelahian. Park Chanyeol si pelayan setia Baekhyun. Di kehidupan lainnya terdapat Xi Luhan si korban Bullying dan Oh Sehun yang sangat menyukai membully Luhan. Dan sebuah kejadian yang tak pernah di duga oleh mereka. Jiwa Baekhyun dan Luhan tertukar?!
.
.
Sudah beberapa kali Chanyeol mengetuk pintu kamar Baekhyun namun tak kunjung mendapatkan jawaban dari sang pemilik. Ini sudah siang untuk masuk sekolah meskipun sekolah memberikan tenggang waktu untuk siswa karena hari ini adalah persiapan menuju puncak perayaan sekolahnya dan sedari tadi Chanyeol sama sekali tidak melihat Baekhyun turun dari kamarnya. Jadi disinilah dia di depan kamar Baekhyun.
Dengan rasa kesal sedikit, Chanyeol membuka pintu kamar Baekhyun dengan perlahan. Tak perduli jika nantinya Baekhyun akan memakinya seperti beberapa minggu yang lalu ketika Chanyeol sudah tak sabar menunggu Baekhyun akhirnya ia masuk ke dalam kamar Baekhyun dan sialnya saat itu Baekhyun sedang memakai celananya lantas Baekhyun mengoceh panjang lebar pada Chanyeol.
Satu alis Chanyeol terangkat ketika ia tidak menemukan siapapun di dalam kamar Baekhyun. Apa Baekhyun sedang mandi? Tapi tidak terdengar suara air yang terjatuh dari kamar mandinya.
Langkah kaki panjangnya maju ke arah kamar mandi dan mengetuknya beberapa kali. "Baek? Kau sedang mandi? Apa kau di dalam?" merasa tak mendapatkan jawaban juga, dengan sedikit keberanian Chanyeol membuka pintu kamar mandi.
Sama seperti di dalam kamarnya yang terlihat tidak ada siapapun. Di dalam shower room terlihat beberapa tetesan air, seperti habis di pakai. Apa Baekhyun sudah berangkat sekolah duluan? Tapi tumben sekali tidak seperti biasanya. Tapi jika diingat – ingat hari ini Baekhyun akan mengadakan gladi resik untuk tampil di acara sekolahnya.
Satu lagi yang membuat Chanyeol terheran – heran. Sejak kapan Baekhyun senang bernyanyi? Memang Baekhyun itu memiliki suara yang bagus jika bernyanyi tapi setahu Chanyeol, majikannya itu tidak terlalu suka memberikan banyak suara di hidupnya. Tapi melihat Baekhyun yang sekarang, bukankah itu hal bagus? Baekhyun mau merubah dirinya dengan perlahan dan menjadi orang yang lebih baik?
Mata Chanyeol membulat ketika matanya tak sengaja melihat arloji yang melingkar di tangan kanannya. Sial dia sudah sangat terlambat maka dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju keluar dari kamar Baekhyun.
Kaki panjangnya turun dari tangga dengan cepat, matanya melihat sang ibu yang juga sedang berjalan. "Ibu, ibu lihat Baekhyun tidak?" Tanyanya membuat ibu Chanyeol terdiam sejenak. "Tidak lihat, memang di kamarnya tidak ada?"
Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Coba kau telepon ponselnya." Chanyeol menggangguk menerima saran dari sang ibu, ia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Baekhyun.
Ekspresinya berubah ketika panggilannya terjawab oleh Baekhyun. "Kau dimana, Baek?" tanya Chanyeol dengan cepat karena saat ini ia merasa khawatir dengan Baekhyun.
[Aku sedang berada di suatu tempat.]
"Dimana? Kau sendirian?"
[Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tenang saja, aku bersama seorang teman.]
"Kenapa? Apa tempat itu aman? Teman? Teman siapa? Apa aku mengenalnya juga?"
[Jika kau ingin tahu, aku akan memberitahu nanti malam. Eerr... tidak sih, tapi tenang saja dia orang yang sangat baik.]
"Tapi Baek –"
Chanyeol menatap tak percaya ke layar ponselnya, Baekhyun memutuskan sambungan teleponnya. Ibu Chanyeol ikut menatap anaknya khawatir. Tak ingin menyerah, Chanyeol kembali menghubungi Baekhyun namun nomor Baekhyun langsung tidak aktif. Ia berdecak kesal membuat ibunya bertambah bingung.
"Ada apa? Apa Tuan muda baik – baik saja?"
"Aku berharap dia baik – baik saja, dia berada di suatu tempat tapi ia tidak bilang berada dimana. Nanti malam ia akan memberitahuku."
Ibu Chanyeol tersenyum untuk menenangkan sang anak karena ia tahu pasti saat ini Chanyeol merasa sangat khawatir pada Baekhyun. Sejak dulu Chanyeol di perintahkan oleh Tuan Byun untuk selalu senantiasa di samping Baekhyun apapun yang terjadi dan menjadikan Baekhyun sebagai prioritasnya tak perduli nyawanya sekalipun. Ia berdoa di dalam hati semoga saja Tuan Byun dan Nyonya Byun tidak pulang sampai saat malam hari tiba.
"Tenanglah, lebih baik kau berangkat sekolah sekarang." Ujarnya lembut pada anak semata wayangnya. Chanyeol menganggukan kepalanya.
"Baiklah, aku berangkat ke sekolah dulu."
"Ya, hati – hati."
.
.
Semilir angin yang menyegarkan menyapa kulit wajah Luhan ketika ia membuka kaca jendela bus yang sedang di tumpangi oleh Luhan dan Baekhyun. Ia menghirup dalam – dalam udara yang begitu ia rindukan. Sangat segar dan menyenangkan bisa kembali ke kota ini. Baekhyun yang duduk disampingnya hanya tersenyum geli melihat tingkah Luhan yang berada di tubuhnya.
"Apa departerment storenya masih jauh?" Tanya Baekhyun pada Luhan yang membuat pemuda itu menutup kaca jendelanya dan beralih melihat Baekhyun yang berada di dalam tubuhnya.
"Sebentar lagi akan sampai, tenang saja." Ujar Luhan dengan sedikit tersenyum. Sesuatu yang bergetar di celananya membuat Luhan dengan segera merogoh kantong celananya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel milik Baekhyun.
"Dari siapa?" Tanya Baekhyun sedikit melirik ke arah layar ponsel yang berada di genggaman Luhan. "Kau tidak memberitahu Chanyeol jika pergi ke sini?"
Luhan menggeleng pelan. "Aku tidak ingin ia tahu jika aku sedang mengunjungi ibuku, nanti dia akan curiga." Baekhyun mengganggukan kepalanya. "Angkat saja dulu." Perintah Baekhyun yang langsung di turuti oleh Luhan. Ia menaruh ponsel di tengah – tengah antara dirinya dan juga Baekhyun lalu me-loundspeaker ponselnya.
[Kau dimana, Baek?]
Suara berat Chanyeol terdengar disana membuat Baekhyun terdiam karena merindukan Chanyeol.
"Aku sedang berada di suatu tempat."
[Dimana? Kau sendirian?]
"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tenang saja, aku bersama seorang teman."
[Kenapa? Apa tempat itu aman? Teman? Teman siapa? Apa aku mengenalnya juga?]
Mata Luhan melirik ke arah Baekhyun yang sampai saat ini masih terdiam memperhatikannya.
"Jika kau ingin tahu, aku akan memberitahu nanti malam. Eerr... tidak sih, tapi tenang saja dia orang yang sangat baik."
[Tapi Baek –]
Jemari Luhan menekan ikon merah untuk memutuskan pembicaraanya dengan Chanyeol dan dengan tiba – tiba Baekhyun merebut ponsel itu membuat Luhan terkejut. Dengan wajah santai Baekhyun mengeluarkan baterai ponselnya.
"Chanyeol bisa memantaumu dengan gps di ponsel ini." Jelasnya dan memberikannya kembali pada Luhan. Pantas saja, Chanyeol bisa menemukannya dengan cepat kecuali untuk hari ini karena Luhan pergi pagi – pagi buta sehingga seisi rumah tidak ada yg mengetahui.
Bus berhenti di sebuah halte tepat di depan sebuah gedung departerment store yang cukup besar. Baekhyun dan juga Luhan segera turun dari bus tersebut.
"Kau ingin membeli apa saja disini?" Tanya Luhan berjalan di samping Baekhyun. "Banyak yang harus ku beli, hyung. Terutama ponsel."
Luhan mengganggukan kepalanya mengerti. Tentu saja Baekhyun sangat perlu ponsel untuk bisa menghubunginya. Kaki mereka terhenti di sebuah toko yang menjual ponsel berlogo apel di gigit.
"Tolong berikan aku ponsel yang terbaru." Ujar Baekhyun kepada pegawai itu kemudian kepalanya menoleh pada Luhan. "Dompetku, hyung." Dengan cepat Luhan mengeluarkan dompet kulit milik Baekhyun dan memberikannya pada Baekhyun.
Dahi Baekhyun mengerut ketika melihat isi di dalam dompetnya dan membuat Luhan menatapnya dengan bingung.
"Ada apa, Baekhyun-ah?"
"Hyung, kau tidak pernah membuka dompetku ya?" Tanya Baekhyun karena isi dompetnya sama sekali tidak berubah termasuk nominal uangnya.
Luhan hanya bisa menyengir. Meskipun sejak pertama baekhyun selalu mengatakan jika Luhan boleh memakai apapun termasuk kekayaannya tapi Luhan tidak pernah menyentuhnya karena itu milik Baekhyun bukan miliknya.
"Tidak. aku tidak berani."
Pegawai itu memberikan kotak ponsel baru yang masih tersegel pada Baekhyun. "Ingin di masukan sekalian sim cardnya?" Tawar pegawai itu yang di jawab anggukan oleh Baekhyun. Pegawai itu langsung melakukan pekerjaannya.
"Kau yakin mau membeli ponsel ini, Baekhyun-ah?" Tanya Luhan menatap Baekhyun dengan ragu. Menurutnya ponsel yang Baekhyun beli adalah keluaran terbaru pasti sangatlah mahal.
"Kenapa?"
"Yeah, kau tau sendiri Baek. Nenek pasti akan curiga jika kau mempunyai ponsel sebagus dan semahal itu." Baekhyun terkekeh mendengar penjelasan Luhan. "Benar juga tapi tenang saja, aku akan berhati – hati dengan ponsel ini agar tidak ketahuan nenek."
"Ini Tuan ponsel anda." Baekhyun memberikan credit cardnya pada pegawai itu sebagai alat pembayarannya. Setelah semua prosedur pembayaran selesai Baekhyun dan Luhan segera pergi dari toko itu.
Satu barang yang sangat Baekhyun butuhkan sudah ada di tangannya, setidaknya ini bisa membantu Baekhyun untuk menghubungi Luhan jika keadaan darurat. Kaki mereka kembali melangkah untuk mengelilingi luasnya departerment store ini.
"Kau ingin membeli apa lagi?"
"Ah aku ingat. Aku harus membeli sesuatu yang sangat – sangat penting. Ayo hyung." Tangan Luhan di tarik oleh Baekhyun untuk mengikuti langkah kakinya pergi. Baekhyun baru saja berhasil mengingat sesuatu yang sedari tadi ingin dia beli. Sebuah barang yang sudah membuat hatinya sedikit kesal.
Kaki mereka terhenti di section peralatan electronik. Luhan menatap bingung Baekhyun yang sedang mengeluarkan senyum setannya membuatnya sedikit bergidik. Apa yang sedang Baekhyun itu pikirkan?
Baekhyun menghampiri seorang pegawai yang sedang melakukan pengecekan barang. "Apa di sini menjual vacuum cleaner?" Tanya Baekhyun pada pegawai itu. "Tentu, kami menjual semua barang electronik termasuk vacuum cleaner yang anda butuhkan."
"Bagus. Berikan aku 10 vacuum cleaner yang terbaik disini."
Luhan melebarkan matanya ketika mendengar Baekhyun dengan santainya mengatakan itu. Pegawai itu langsung mengarahkan mereka untuk melihat vacuum cleanernya.
"Untuk apa semua vacuum cleaner itu, Baekhyun-ah?" Tanya Luhan yang masih terheran dengan Baekhyun. Pemuda di sebelahnya itu mengeluarkan senyum misteriusnya.
"Untuk menyumpal mulut seseorang." Katanya kemudian mengeluarkan tawa jahatnya. Mendengar itu membuat Luhan bergidik ngeri menatap Baekhyun di sampingnya.
.
.
Jam istirahat biasanya akan di gunakan untuk makan siang ataupun untuk bermain dengan teman – teman namun tidak untuk Oh Sehun. Ia masih terdiam di dalam kelasnya sendirian meskipun Jongin dan teman – teman lainnya sudah mengajaknya makan siang di kantin tapi pria itu malah menolak dan menyuruh mereka untuk pergi duluan ke kantin.
Bukan tanpa alasan Sehun terdiam seperti ini. Banyaknya masalah yang menganggunya pikirannya. Memang tidak bagus jika masih semuda ini memiliki banyak masalah tapi mau bagaimana lagi hidupnya terlalu rumit untuk orang lain mengerti.
Mungkin yang orang lain lihat Oh Sehun pasti sangat bangga memiliki seorang ayah yang berhati mulia seperti Oh Kyuhyun namun pada kenyataannya ia sama sekali tidak bangga bahkan cenderung membenci itu semua.
Dan kini masalah baru terjadi di hidupnya. Sebenarnya sih bukan masalah yang berat tapi mengingat kejadian semalam membuat Sehun terus saja terdiam memikirkannya hal – hal yang tidak berguna, contohnya saja Xi Luhan itu.
"Oh Sehun? Kau kenapa? Ada masalah?"
Sehun terkejut ketika di hadapannya sudah ada Jongin yang membuyarkan lamunannya itu tengah menatapnya khawatir. Sehun menggeleng pelan dan bergumam mengatakan jika ia baik – baik saja.
Jongin memberikan sebungkus roti dan sekotak susu pada Sehun. "Kau tidak ikut ke kantin dan kau belum makan siang kan? Ini untukmu." Sehun menerimanya dan mulai memakan roti itu. Merasa Sehun belum mengeluarkan suaranya juga sangat berbeda dari biasanya, Jongin kembali membuka mulutnya.
"Maaf untuk yang kemarin aku tidak bisa membantumu melawan Kris."
Kunyahan pada roti itu terhenti seketika ia dapat mendengar suara Jongin yang sepertinya sangat menyesal. Ia melirik ke arah Jongin di hadapannya yang sedang tertunduk.
Sehun memang sedikit agak kesal kemarin ketika Jongin mengatakan ia tidak bisa membantunya melawan Kris dikarenakan ibunya yang berada di rumah sakit menelponnya dan menyuruhnya menemani ibunya. Tapi setelah ia tahu alasan Jongin tidak bisa membantunya, Sehun sama sekali tidak marah malah menurutnya Jongin mengambil keputusan yang tepat untuk menemani sang ibu di rumah sakit.
"Tak perlu minta maaf. Aku sudah menyelesaikan semuanya." Ujarnya menenangkan sang sahabat sambil menepuk pelan bahu Jongin. Kepala Jongin yang tadi tertunduk kini mendongkak menatap Sehun tak percaya.
"Kau memaafkanku?" Tanya jongin yang membuat Sehun memutar bola matanya ke atas. "Kubilang tak perlu minta maaf."
"Baiklah – baiklah. Oh ya ku dengar kau di bantu seseorang saat melawan Kris. Siapa orang itu? Katanya dia senior di sekolah kita." Sehun terdiam mendengar pertanyaan Jongin. Apa ia harus mengatakannya jika yang membantunya adalah Xi Luhan?
"Kau tau dari siapa?" Kini Sehun yang balik bertanya pada Jongin. Pemuda berkulit tan itu menggaruk rambut belakangnya yang mendadak gatal. "Entahlah, banyak orang yang mengatakan jika kau di bantu oleh seseorang saat melawan Kris dan banyak yang menduga orang itu adalah Xi Luhan."
"Kenapa harus Luhan?" Satu alis Sehun terangkat ketika nama itu di sebut. Jongin menghembuskan napasnya sebelum menjawab. "Aku tidak tahu pasti kenapa harus Luhan tapi katanya ada teman kita yang melihat Luhan dengan wajah penuh lebam saat pulang di malam hari. Yeah – aku tidak mengerti kenapa mereka harus mencurigai Luhan. Dan dengan rasa penasaranku juga aku bertanya padamu Sehun. Apa itu benar jika yang membantumu adalah Xi Luhan?"
Jongin menatap Sehun dengan rasa penuh penasaran. Kalau itu benar adanya akan sangat konyol menurut Jongin.
Sehun mendengus ketika Jongin bersuara 'Jika yang membantumu adalah Xi Luhan.' Membantu? Apa yang yang membantu? Bahkan orang itu membuat luka lebam Sehun jadi bertambah banyak karena harus melindungi orang itu.
"Hey Sehun. Itu benar atau tidak?"
"Ya benar orang itu adalah Luhan tapi aku tidak suka saat orang lain mengira seorang Oh Sehun di bantu oleh Luhan saat melawan Kris."
"Memangnya kenapa? Ada dia benar – benar tidak membantumu melawan Kris?" Jongin menatap Sehun dengan ekspresi bingung. Sehun menujuk wajahnya yang terdapat beberapa luka lebam di wajahnya. "Kalau membantu pasti meringankan pekerjaan orang lain bukan membuat pekerjaan orang lain semakin sulitkan? Dan lihat ini hasil dari membantu Xi Luhan itu."
Jongin melebarkan matanya. "Dia ikut memukulmu?!"
Sehun berdecak kesal ketika apa yang di sampaikannya tidak tersambung dengan otak idiot milik Jongin. "Bukan seperti itu maksudku. Dia itu ternyata sangat payah dalam berkelahi tapi tetap saja keras kepala ingin ikut melawan Kris dan tentu saja aku harus melindunginya dari beberapa pukulan Kris yang sialnya sangat sakit."
Jongin terdiam sejenak sebelum akhirnya bersuara menanggapi penjelasan yang Sehun berikan. "Kau melindunginya? Apa sekarang kau mulai perduli dengannya?"
Dengan refleks jantung Sehun berdegub dengan cepat. Benar, apa sekarang Sehun mulai perduli dengan Luhan?
.
.
Hari sudah semakin siang dan membuat Baekhyun dan Luhan akhirnya memutuskan untuk beristirahat di sebuah restoran cepat saji dan sekalian untuk makan siang mereka setelah mereka berbelanja habis – habisan di departement store tadi apalagi dengan aneh Baekhyun membeli 10 vacuum cleaner sekaligus. Penampilan di tubuh Luhan pun sedikit berbeda karena saat ini tidak ada kacamata tua yang ketinggalan jaman milik Luhan, Baekhyun telah menggantinya dengan sebuah kontak lens. Sebenarnya ia tidak menyukai memakai kacamata, membuat pangkal hidung kadang terasa pegal.
Di meja mereka sudah ramai dengan berbagai hidangan seperti satu paket ayam berserta nasi – yang sudah habis mereka makan – , cola sebagai minuman mereka dan jangan lupakan es krim, kentang goreng dan juga hamburger. Baekhyun yang memesan itu semua karena ia sangat merindukan memakan makanan cepat saji itu.
"Oh ya sehabis ini aku ingin bertemu dengan nenek." Kata Luhan setelah menyeruput cola yang mengelitik lidahnya. Baekhyun yang sedang memakan hamburgernya mengulum sebuah tersenyum kemudian mengangguk menyetujui rencana Luhan.
"Baekhyun. Melihat wajahku penuh dengan luka lebam seperti itu sangat terasa aneh." Seru Luhan sambil menatap wajah asli miliknya di hadapannya membuat Baekhyun terkekeh pelan. Ia mengehentikan aksi makannya dan ikut menatap wajah asli miliknya yang sedang di isi oleh jiwa Luhan.
"Kau juga hyung. Melihat wajahku bersih tanpa adanya luka lebam sedikit pun membuatku menjadi merasa aneh. Apa tidak ada yang mengganggumu? Atau mengajakmu berkelahi?"
Luhan menganggukan kepalanya. "Kemarin ada yang mengajakku berkelahi tapi untungnya ada Chanyeol melindungiku. Kau tau, aku bukan ahlinya dalam berkelahi."
"Sudah terlihat, hyung. Chanyeol ya?" Gumam Baekhyun dengan pandangan menerawang. Baekhyun jadi merindukan Chanyeol-nya, pelayan setianya, sahabatnya dan juga cintanya. Hanya cinta yang terpendamnya.
"Kau memiliki kehidupan yang beruntung, Baekhyun. Aku sangat iri." Ujar Luhan dengan tersenyum membuat Baekhyun mendengus geli. Hidup yang beruntung? Perkataan yang sangat konyol.
"Apa yang di maksud dengan 'kehidupan yang beruntung' itu hyung? Bahkan hidupmu jauh lebih beruntung dari padaku."
"Yeah – tentu saja karena kau memiliki banyak uang, kedua orang tuamu masih hidup dan juga ada Chanyeol yang senantiasa berada di sampingmu. Sedangkan aku? Aku miskin dan hanya tinggal bersama seorang nenek. Ayahku meninggal ketika usiaku baru menginjak satu tahun sedangkan ibuku meninggal sejak lima tahun yang lalu."
"Tapi kau memiliki seorang nenek yang sangat menyayangimu bukankah itu cukup beruntung, hyung? Saat berada di kehidupanmu, aku sungguh merasa sangat nyaman. Ketika nenek memasakan makan untukku saja itu sudah membuatku senang karena sebelumnya aku tidak pernah merasa di perlakukan seperti nenek memperlakukanku dengan sangat baik."
"Hm, aku setuju dengan pendapatmu tentang nenek. Mungkin karena aku satu – satunya keluarga yang dia miliki setelah kehilangan ibuku dan kupikir keluargamu cukup menyayangimu, Baek."
Baekhyun mendengus mendengarkan 'menyayangi.' Ia menyeruput colanya terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali membuka suara. "Keluargaku menyayangiku? Itu hanyalah omong kosong, hyung. Bahkan kau tau sendiri jika mereka tidak pernah berada di rumah? Coba ku tebak, pasti kau berbicara dengan mereka bisa terhitung dengan jari satu tangan saja kan?"
"Yeah itu benar, tapi apa itu yang membuatmu kurang menyukai keluargamu? Karena kedua orang tuamu sangat jarang berada di rumah?"
Baekhyun terdiam sejenak. Wajahnya tertunduk dan matanya terfokus pada bulir – bulir air yang berada di gelas colanya yang menurun perlahan ke bawah. "Bukan. Bukan karena itu aku membenci kedua orang tuaku tapi ada hal lain yang membuat perasaanku hancur kepada mereka."
Hati Luhan terenyuh mendengar suara lirih dari Baekhyun pasti masalah di hidup Baekhyun terasa sangat sulit. Dengan rasa empatinya Luhan mencondongkan sedikit wajahnya dan mencoba menatap wajah terluka Baekhyun. "Apa yang membuatmu terluka, Baekhyun-ah?"
Baekhyun mengangkat wajahnya kembali dan tersenyum kecut pada Luhan. "Bisakah kita membicarakan hal lain?"
Mendengar nada mohon Baekhyun membuat Luhan tersenyum dan mengangguk dengan canggung. "Baiklah, aku menjaga privasimu Baek. Lalu kita membicarakan apa?" Luhan memakan es krim cokelatnya di dalam sebuah cup, es krim itu sudah sedikit mencair.
Baekhyun terdiam sejenak memikirkan topik percakapan yang pas. Selintas rasa penasaran tiba ketika ia mengingat pertama kali terbangun dengan tubuh Luhan.
"Ah, aku ingin tahu kenapa kau melakukan percobaan bunuh diri dengan tenggelam di laut, hyung?" pertanyaan Baekhyun sukses membuat Luhan menghentikan segala aktivitasnya. Terdiam dan seketika kejadian malam itu kembali berputar.
Baekhyun yang melihat reaksi aneh Luhan mencoba kembali bersuara. "Apa itu privasimu juga? Kalau tidak di jawab juga tidak ap –"
"Kau ingin mengetahui kenapa aku melakukan hal itu?" Luhan tiba – tiba bersuara membuat Baekhyun sedikit terkejut.
"Y-yeah, tapi jika itu adalah privasimu. Lebih baik tidak usah bercerita, Tidak apa – apa."
Luhan tersenyum kecil. "Tidak, tidak apa – apa. Karena saat ini kau sudah berada di dalam tubuhku jadi ku pikir kau juga harus mengetahui hal ini."
"Baiklah, jadi karena apa kau melakukan itu? Apa tindak bullying yang di lakukan oleh Oh Sehun itu?" Baekhyun menatap Luhan dengan rasa penasaran yang tinggi. Jika hanya karena itu membuat Luhan bunuh diri, tanda ia harus berlatih keras – dalam hal fisik – agar bisa membalaskan dendamnya untuk Sehun.
Luhan terkekeh pelan ketika nama itu di sebut lalu tersenyum pahit mengingatnya. "Yeah, itu salah satunya tapi faktor paling utama yang membuatku nekat melakukan bunuh diri adalah kejadian di malam sebelumnya aku memutuskan untuk menghentikan kehidupanku."
"Kejadian di malam sebelumnya? Ada apa yang terjadi padamu, hyung?"
"Sehun memperkosaku di malam itu." Ucap Luhan dengan nada lirihnya. Baekhyun membulatkan matanya mendengar jawaban dari Luhan yang menurutnya sangat keterlaluan tapi sepertinya ini bukan inti dari mengapa Luhan membunuh dirinya karena Luhan itu kan bukan seorang perempuan kan? Lagi pula selama ini Sehun tidak berbuat macam – macam padanya kecuali kejadian saat di perpustakaan itu.
"Oh hyung, yang benar saja. Kau tau kan, laki – laki jika di perkosa tidak akan seperti perem – "
"Tapi aku memiliki sebuah rahim yang sama seperti wanita di dalam tubuhku, Baekhyun-ah!"
Baekhyun semakin tercengang mendengar pernyataan Luhan yang sangat mengejutkannya. Dia terdiam beberapa saat menatap Luhan yang sudah mengeluarkan air matanya. Inilah kekhawatiran Luhan selama ini, kenapa ia ingin menghentikan kehidupannya.
Jika saja ia bukanlah lelaki yang memiliki rahim, pasti dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Luhan hanya tidak ingin benih yang Sehun tembakan di dalam tubuh Luhan itu nantinya akan berkembang dan membuat kehidupannya semakin sulit. Apalagi jika sang nenek mengetahuinya.
"A-apa? K-kau bercanda kan, hyung?"
"Apa aku terlihat sedang bercanda sekarang?"
Baekhyun bungkam. Jika benar apa yang di katakan Luhan, apa mungkin saat ini ia tengah mengandung benih dari Oh – Bastard – Sehun? Di atas pahanya, kepalan tangan Baekhyun menguat. Rasanya ingin membunuh Oh Sehun saat ini juga.
.
.
[TBC]
.
.
[Epilog]
.
.
"Mau kemana kau?"
"Tentu saja pulang." Jawabnya dengan ketus sambil memakai kembali tas punggungnya. Sehun pun ikut bangkit ketika kaki Luhan sudah menjauh dari lokasi tempatnya berkelahi, tak ia hiraukan lawannya yang tergeletak di tanah dengan bersimbah darah tak sadarkan diri termasuk Kris Wu.
Sehun memperhatikan punggung sempit yang sedang berjalan di depannya dengan tatapan datar. Setiap langkah yang di gerakan oleh kaki mungil itu di ikutinya juga. Dia sendiri pun bingung kenapa mengikuti langkah kaki Luhan yang membawanya pulang ke rumah kecil milik Luhan dan neneknya tinggal selama ini.
Matanya tetap menatap Luhan yang sedang membuka pintu pagarnya sontak membuat Sehun menyembunyikan tubuhnya di balik sebuah tiang listrik yang cukup besar.
Ia mendesah lega ketika Luhan masuk ke dalam rumahnya tanpa rasa curiga jika Sehun sedari tadi mengikutinya.
"Tunggu, kenapa aku mengikutinya ya? Ah ya, aku hanya khawatir takutnya jika sekolah Seungri menyerangnya. Ya hanya itu Oh Sehun tidak ada yang lain." Sehun mulai bermonolog. Suara pekikan wanita tua membuat Sehun sedikit terkejut dan dengan rasa penasaran ia berjalan ke rumah Luhan dan mengintip dari balik pagar kayu yang cukup menghalangi tubuh besarnya. Bisa Sehun lihat jika nenek Luhan begitu mengkhawatirkan keadaan Luhan sekarang.
Tubuh Sehun terkejut ketika seseorang menepuk bahunya pelan. Otomatis tubuh Sehun berbalik dan menatap siapa yang menepuk bahunya. Dia seorang pria paruh baya dengan sepeda di sampingnya.
Sehun mengelus dadanya. "Kau menganggetkanku paman." Ujarnya. Pria di hadapannya menatap Sehun dengan bingung kemudian melihat ke arah seragam yang sedang dikenakan oleh Sehun.
"Oh kau teman sekolah Luhan?" Tanyanya dan dengan sedikit tergugup Sehun menganggukan kepalanya. "Ah iya."
"Wah, akhirnya Luhan mempunyai seorang teman. Baguslah setidaknya akan ada seorang teman yang akan menghalangi Luhan jika dia berniat bunuh diri lagi."
Sehun membulatkan matanya mendengar penuturan pria tua di hadapannya. "Bu-bunuh diri?"
"Yeah, sekitar sebulan yang lalu di minggu pagi saat aku pergi ke laut untuk memancing. Aku melihat Luhan sedang berdiri di atas batu karang lalu melompat ke laut, ku pikir dia hanya ingin berenang di pagi hari mengingat cuaca saat itu sangat bagus tapi setelah aku menunggu sekitar lima menit Luhan tidak memunculkan kepalanya dan saat itu juga aku baru ingat jika Luhan tidak pandai berenang lalu aku menolongnya."
Setelah mendengar penjelasan panjang pria itu membuat Sehun terdiam. Bibirnya benar – benar terasa kelu meskipun pria tua itu sudah pamit pergi dari hadapan Sehun. Kepalanya menoleh ke arah rumah Luhan dan dapat ia lihat dari jendela yang terbuka jika Luhan sedang di obati lukanya oleh neneknya.
Ia sungguh terkejut mengetahui fakta ini, fakta Luhan bunuh diri yang malam sebelumnya Sehun telah memperkosanya. Bukan. bukan seperti ini rencana Sehun inginkan untuk membuat Luhan hidup hancur.
Karena Sehun tidak mau Luhan mati dengan mudahnya.
.
.
A/N:
Fast update kan? wkwk sebenernya mau di update nanti hari sabtu tapi takutnya ga bisa soalnya saya mau fokus di karier eh bukan maksud kerja ngumpulin uang buat konser exo taun depan wkwk
saya kaget loh di review kemarin ada yang bisa nebak. emang ini cerita pasaran sih gampang ketebak wkwk
oh ya plis jangan ada yg ngebash my baby mumu Luhan. dia ga salah kok salahin aja saya yg buat sifat dia kayak gitu u.u ga ada maksud kok demi lancarnya alurnya cerita ini/?
nah sekian dari saya, REVIEW LAGI? kuy ahh
Bogor/30 agustus 2016/6:25
