Chapter 8 –
Langit telah berganti menjadi senja dan matahari terlihat ingin terbenam dengan tumpukan awan yang sangat indah. Di bawah langit senja yang indah terdapat banyak aktifitas manusia di tanah bumi termasuk dua pemuda yang tengah berjalan menuju suatu tempat.
Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi Luhan dan Baekhyun karena akhirnya mereka dapat bertemu dan banyak membagi kisah mereka. Meskipun ini pertama kalinya mereka bertemu sepertinya mereka langsung cepat akrab satu sama lain/.
"Oh hyung, sebaiknya kau memberitahu Chanyeol sekarang. Pasti anak itu sangat mengkhawatirkanmu saat ini." Ujar Baekhyun yang masih berada di dalam tubuh Luhan. Pemuda di sampingnya berdecak, mengoreksi ucapan Baekhyun. "Bukan mengkhawatirkanku, tapi dia mengkhawatirkan seorang Byun Baekhyun."
Baekhyun terkekeh mendengarnya sedangkan Luhan langsung mengikuti perintah Baekhyun dengan mengeluarkan ponselnya dan menghidupkannya. Sebentar lagi mereka akan sampai di rumah nenek Luhan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Mata Luhan membulat ketika ponselnya yang telah selesai booting tiba – tiba saja mendapatkan sederet pesan chat dari Chanyeol membuat ponselnya tak berhenti bergetar karena notifikasinya.
[Kau mematikan ponselmu?] 10:45
[Ada apa denganmu?] 10:57
[Dimana kau sekarang?] 11:45
[Kau baik – baik saja kan?] 12:56
[Kenapa kau seperti ini?] 13:33
[Apa aku membuat kesalahan?] 14:42
[Kau akan terus mematikan ponselmu?] 15:12
[Kau tak kasihan padaku?] 16:13
[Aku mengkhawatirkanmu, ByunBaek.] 16:20
[Jika kau sudah mengaktifkan ponselmu, segera hubungi aku.] 17:00
[Ah sial, aku benar – benar penasaran kau sedang berada dimana, Baek!?] 18:17
Merasa ingin tahu karena sedari tadi Luhan hanya terdiam, Baekhyun menolehkan kepalanya pada ponsel yang sedang di pegang Luhan. Di layar ponsel Luhan, Baekhyun bisa membaca beberapa pesan yang di kirimkan oleh Chanyeol cukup banyak membuatnya tersenyum geli.
Chanyeol tak pernah berubah ketika Baekhyun menghilang dari pandangannya dengan waktu cukup lama pasti akan mengirimi pesan yang cukup banyak.
"Coba kau hubungi dia, hyung. Sepertinya ia benar – benar khawatir padamu." Seru Baekhyun pada Luhan yang di jawab anggukan olehnya. Luhan langsung menghubungi nomor ponsel Chanyeol.
[Hallo? Byun Baekhyun!]
Luhan menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika Chanyeol dengan suara beratnya berteriak dari sebrang. "Kenapa kau berteriak seperti itu?"
[Kau tidak tahu betapa gilanya aku mengkhawatirkanmu?!]
"Ah, maaf – maaf. Sekarang bisakah kau menjemputku di Busan?"
[Sekarang kau berada di Busan? Apa yang kau lakukan di sana?]
"Tidak bisakah kau tidak banyak bertanya dan jemput aku sekarang disini? Akan ku kirim alamat lengkapnya."
[Baiklah. Tunggu aku.]
"Hm, aku akan menunggumu."
Setelah itu Luhan mematikan sambungan teleponnya dan segera mengirimi alamat lengkap rumah neneknya pada Chanyeol. Saat ini mereka telah sampai di depan rumah Luhan. Pria keturunan China itu terharu setelah sekian lama tidak menginjakan kakinya ke sana.
Baekhyun menyuruhnya masuk. Luhan mengangguk dan mengikuti langkah Baekhyun yang membuka pintu rumahnya.
"Aku pulang." Teriak Baekhyun sambil membuka sepatunya begitupun dengan Luhan di belakangnya. Suara langkah kaki mendekat membuat Luhan mendongkakan kepalanya. Ia sangat merindukan orang itu, neneknya yang cerewet dan yang perduli padanya. Rasanya ia ingin memeluknya dengan erat.
"Omo! Kau siapa?!" Pekik sang nenek terkejut melihat penampilan cucunya yang berubah. Baekhyun menghembuskan napasnya. "Ini aku nek."
"Lu-luhan? Itu kau?" Sang nenek bertanya tak percaya. Ia kagum dengan perubahan sang cucu yang sangat berbeda dari sebelumnya. Tidak ada kacamata yang bertengger di hidungnya, warna rambutnya pun berubah menjadi warna cokelat tua dengan potongan rambut yang sangat modern.
"Tentu saja ini aku cucumu dan perkenalkan ini Byun Baekhyun temanku dari Seoul." Luhan membungkukan badannya pada sang nenek setelah Baekhyun memperkenalkannya. Rasanya begitu canggung ia lakukan karena pada dasarnya Luhan memang cucu aslinya. "Annyeong haseo nenek."
Nenek Luhan tersenyum melihat Luhan yang masih berada di tubuh milik Baekhyun. "Aku tidak menyangka jika Luhan mempunyai teman jauh dari Seoul. Ayo silahkan masuk." Ajak nenek pada mereka untuk masuk ke dalam rumahnya.
Luhan dan Baekhyun duduk di ruang tengah sedangkan sang nenek, beliau sedang sibuk berada di dapur. Luhan sedari tadi menahan airmatanya untuk tidak terjatuh di hadapan sang nenek, Baekhyun yang melihat gelagat Luhan hanya tersenyum kecil. Ia tahu jika Luhan saat ini pasti ingin memeluknya.
"Kau ingin memeluk nenek hyung?" Tanya Baekhyun dengan sedikit berbisik. Luhan tersentak mendengar pertanyaan Baekhyun, ia menolehkan kepalanya untuk menatap Baekhyun dengan tatapan 'Bagaimana caranya?'
Baekhyun tersenyum misterius kemudian menarik tangan Luhan hingga ke dapur dimana ada neneknya yang sedang memasak memunggungi mereka. Dengan ekspresi wajahnya Baekhyun menyuruhnya untuk memeluk punggung sang nenek.
Dengan sedikit ragu Luhan memeluknya dan membuat sang nenek terkejut. "Astaga!"
"Maaf nek, Baekhyun memeluk nenek karena saat melihat nenek tadi ia jadi merindukan neneknya." Ujar Baekhyun dengan santai. Luhan yang saat ini masih memeluk neneknya hanya menganggukan kepalanya.
Nenek Luhan menyunggingkan senyumannya kemudian ia berbalik dan ikut memeluk Luhan erat. "Teman Luhan akan kuanggap sebagai cucuku juga jadi jangan ragu untuk memelukku kembali. Terima kasih sudah mau berteman dengan Luhan."
"Nenek..."
Setelah mengatakan itu Luhan langsung terisak di pelukan sang nenek dan sampai jam makan malam tiba akhirnya Luhan berhenti menangis. Mereka makan bersama meskipun tidak banyak makanan yang di atas meja dan Luhan sangat bersyukur akhirnya ia dapat makan bersama lagi dengan sang nenek.
Setelah selesai makan dan membereskannya Luhan tertidur di kamarnya karena merasa lelah dan juga mengantuk sedangkan Baekhyun, ia membantu sang nenek untuk menyiapkan semua bahan yang akan di jual besok oleh sang nenek.
"Aku tidak menyangka akhirnya kau memiliki banyak teman Luhan-ah." Kata sang nenek mengawali pembicaraan mereka. Baekhyun mengerutkan dahinya. "Satu bukan banyak nek." Jawabnya sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Ah, tadi siang kata Paman Lee kemarin malam ada temanmu mengintip ke arah rumah kita. Dia memakai seragam yang sama denganmu Luhan."
"Benarkah? Seingatku aku tidak punya teman akrab di sekolah." Gumamnya. Ia mengingat – ingat adakah orang baik di sekolahnya tapi nyatanya tidak ada yang baik padanya selama di sekolah.
"Benarkah?"
"PERMISI!"
Mereka berdua terkejut mendengar suara teriakan dari depan rumahnya. Baekhyun mengenal suara berat ini, suara yang ia rindukan selama ini. Baekhyun menyuruh sang nenek untuk tetap berada di tempat sementara ia pergi ke depan untuk melihat tamunya.
Ketika Baekhyun berhasil membuka pintu depan, jantungnya seakan berhenti di tempatnya. Seorang pria jangkung dengan berkaos puih di lapisi oleh kemeja yang tidak di kancingkan berwarna hitam di tambah celana jins berwarna hitam dan jangan lupakan rambut hitamnya yang ia tata ke belakang menambah kesan mempesona. Chanyeol tidak berubah sama sekali.
Baekhyun terdiam beberapa saat sebelum akhirnya suara Chanyeol menyentaknya kembali ke alam sadarnya. "Permisi, benarkah ini rumah Xi Luhan? Apa kau Xi Luhan?"
"Ya benar." Jawabnya singkat dan dapat Baekhyun lihat senyuman Chanyeol yang selalu membuat hatinya tenang. "Apa Baekhyun berada di sini? Aku Park Chanyeol yang akan mengantarkan Baekhyun pulang."
Baekhyun melangkah untuk membuka pintu pagar. "Ya, Baekhyun ada di dalam ia sedang tertidur. Silahkan masuk." Chanyeol menganggukan kepalanya dan berjalan masuk meninggalkan Baekhyun yang masih setia berdiri di sana menatap punggung besar milik Chanyeol.
Jadi seperti ini yang di rasakan Luhan saat bertemu dengan neneknya? Ingin memeluknya tapi tidak bisa sama sekali ia lakukan.
Chanyeol menolehkan kepalanya ke belakang saat merasakan pria yang tadi membukakan pintu pagar belum kunjung datang menghampirinya. "Ada apa Luhan-ssi?"
Baekhyun menggeleng cepat kemudian tersenyum kecil dan menghampiri Chanyeol. "Tidak ada apa – apa. Mari masuk."
Ia ingin sekali mengatakan jika dirinya adalah Byun Baekhyun yang asli tapi itu semua harus ia pendam di dalam hati sampai akhirnya ia bisa keluar dari tubuh Luhan.
.
.
Present
- What If -
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Xi Luhan
Oh Sehun
YAOI, SHOUNEN – AI, BOYS LOVE, BOYXBOY
Cerita ini murni punya saya. Dilarang plagiat/copas tanpa izin.
Tolong hargai saya.
.
.
Byun Baekhyun seorang yang sangat menyukai perkelahian. Park Chanyeol si pelayan setia Baekhyun. Di kehidupan lainnya terdapat Xi Luhan si korban Bullying dan Oh Sehun yang sangat menyukai membully Luhan. Dan sebuah kejadian yang tak pernah di duga oleh mereka. Jiwa Baekhyun dan Luhan tertukar?!
.
.
[Baekhyun sebagai Luhan, Luhan sebagai Baekhyun]
.
.
Kedua tangannya mengepal kuat seakan emosinya yang memuncak sedang berada di genggamannya. Rahangnya menguat, pandangan matanya menelusuri setiap sudut yang ia lewati. Ia harus mencari orang itu, seseorang yang membuat emosinya memuncak dari kemarin yang sudah ia tahan.
Tak ia perdulikan tatapan – tatapan bingung yang mengarah padanya ketika ia sampai di kelas 2B. Matanya mencari dengan cepat di setiap wajah murid yang berada di dalam kelas sampai akhirnya ia menemukan satu wajah yang sudah tidak asing lagi. Wajah yang ingin ia hancurkan saat ini juga.
Ia melangkahkan kakinya cepat kepada salah satu murid yang sedang duduk di mejanya yang paling belakang berada di pojok kelas sambil membaca sebuah buku komik dan tanpa banyak kata yang keluar Luhan segera menarik kerah seragam orang itu dan memukul wajahnya telak membuat beberapa murid perempuan memekik terkejut. Dan salah satu dari teman Sehun pergi keluar untuk melaporkan kejadian ini pada guru mereka.
Sehun yang menjadi korban terkejut melihat aksi Luhan yang dengan tiba – tiba menyerangnya. "Apa yang kau lakukan?!" Teriaknya pada Luhan yang wajahnya sudah memerah menahan amarah.
"Katakan itu pada Xi Luhan, brengsek!" Luhan kembali menyerang Sehun bertubi – tubi. Namun pukulan kelima dapat Sehun tahan dan membalikan keadaan, Sehun membalas menyerah wajah Luhan juga.
Dapat kesempatan, Luhan menendang perut Sehun sehingga pria itu terdorong ke belakang. Luhan masih menatap bengis Sehun dan kembali menyerangnya. Murid lain hanya berani menatap perkelahian antara Luhan dan Sehun tanpa berani memisahkan mereka sampai akhirnya ada suara yang mengintrupsi mereka.
"Ada apa ini?! Oh Sehun? Xi Luhan?" suara berat Guru Kim membuat gerakan tangan Luhan terhenti di udara. "Kalian berkelahi lagi?! Ini sudah tidak bisa di toleri lagi, Oh Sehun dan Xi Luhan ikut ke ruanganku!"
Luhan melepaskan cengkramannya dengan kasar lalu bangkit dan mengikuti langkah kaki Guru Kim begitupula dengan Sehun. Ia masih tidak mengerti ada masalah apa dengan Xi Luhan itu sampai berani memukulnya yang ngomong – ngomong terasa sangat sakit.
Mereka tidak di tempatkan di ruang konseling tapi saat ini mereka sedang duduk di depan kepala sekolah. Karena menurut Guru Kim mereka sudah keterlaluan membuat keributan di pagi hari dan juga untuk Xi Luhan yang membuat Oh Sehun babak belur seperti ini.
Kepala sekolah Kang hanya menggeleng – gelengkan kepalanya melihat kedua murid yang tidak asing lagi baginya sedang duduk di hadapannya dengan wajah yang babak belur. Xi Luhan, murid keturunan China itu peraih beasiswa penuh yang sangatlah pandai dan tidak ada catatan buruk sepanjang hidupnya sampai akhirnya hari ini tiba dan juga Oh Sehun anak dari sahabatnya yang merupakan anak pemegang saham terbesar di sekolahnya.
"Saya tidak mengerti kenapa kalian bertingkah seperti ini, terutama kau Xi Luhan. Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba – tiba bertingkah brutal seperti ini? Kau tau apa konsekuensi yang bisa kau dapatkan jika bertindak seperti ini? Beasiswa-mu akan di cabut sepenuhnya, Xi Luhan."
Mendengar itu Luhan membulatkan matanya. Ia baru menyadari jika ia bukanlah Byun Baekhyun yang bisa bertindak seperti ini sesuka hatinya. Jika beasiswa Luhan benar – benar di cabut karena hal ini apa yang harus ia katakan pada Luhan disana?
"A-apa? Beasiswa? Tidak, ku-kumohon."
"Ck, kau itu bodoh atau apa? Sudah seperti ini baru memohon agar tidak di cabut beasiswamu. Memang apa salahku Xi Luhan? Pagi – pagi seperti ini kau sudah menghancurkan wajahku."
Luhan kembali menatap Sehun tajam. Oh haruskah ia katakan kepada kepala sekolah jika pria brengsek di sampingnya ini sudah pernah memperkosa Luhan dan membuatnya hampir bunuh diri?
"Sudah, sudah hentikan. Kalian tunggulah karena sebentar lagi Tuan Oh akan datang kemari." Mendengar itu membuat Sehun berdecak dan membuang wajahnya. Dia sangat benci ketika ayahnya datang ke sekolah meskipun dia tahu jika ayahnya datang ke sekolah bukan untuk melihatnya.
Suara ketukan pintu membuat mereka terdiam. Kepala sekolah Kang menyuruhnya untuk masuk dan beberapa saat kemudian muncullah seseorang yang tak asing bagi Luhan. Sehun mendengus ketika orang itu datang ke ruangan ini.
"Ada apa ini? Sehun? Luhan? Ada apa dengan wajah kalian?" Tanya Tuan Oh ketika melihat wajah Luhan dan Sehun secara bergantian.
Sehun bangkit dari duduknya. "Kau bisa bertanya pada orang itu kenapa ia melakukannya padaku." Setelah mengucapkan itu Sehun segera beranjak dari ruangan kepala sekolah dan meninggalkan Luhan, ayahnya dan kepala sekolah di sana.
"Ada apa ini?" Tanyanya kepada kepala Sekolah dan juga pada Luhan meskipun Luhan masih tidak menjawab. Ia masih terdiam menatap lelaki yang tidak asing di hadapannya, dia adalah Paman Kyuhyun. Seseorang yang kemarin ia lihat di krematorium dan juga seseorang yang selama ini baik pada Baekhyun.
"Mereka berkelahi. Saya tidak tahu pasti kenapa mereka berkelahi dan ini sangat membahayakan untuk beasiswa Luhan, Tuan Oh."
"Saya mengerti, Tuan Kang. Bisakah kau meninggalkan kami berdua saja? Siapa tau Luhan akan berbicara pada saya alasan ia berkelahi dan juga saya bisa mempertimbangkan beasiswanya." Kepala sekolah Kang mengangguk dan mengikuti intruksi dari Kyuhyun untuk meninggalkan ruanganya.
Kyuhyun menghampiri Luhan yang sedang menundukan kepalanya. Ia duduk di sampingnya, tempat yang tadi Sehun duduki. Kyuhyun tersenyum kecil menatap ke arah Luhan.
"Aku percaya jika kau tidak salah, Luhan." Serunya memecahi keheningan mereka. Luhan mendongkakan kepalanya dan menatap Kyuhyun tak percaya. Kenapa Paman Kyuhyun bisa mempercayainya semudah ini? Apa hubungan Luhan dan Paman Kyuhyun juga sangat dekat seperti dengannya?
"Pasti Sehun berbuat sesuatu yang buruk padamu sehingga membuatmu marah besar dan menghajarnya kan?" Luhan masih terdiam dan masih mendengarkan Kyuhyun berbicara. "Maafkan Sehun ya? Anak nakal itu memang kurang perhatian dariku karena aku harus mengurus bisnisku di Seoul sedangkan dia tidak mau ikut denganku ke Seoul dan malah ingin menetap di sini. Jadi bisa kah kau katakan alasan menghajar Sehun?"
Baekhyun baru mengetahui fakta ini. Fakta yang membuatnya sedikit terkejut karena Paman Kyuhyun yang dia kenal sedikit tertutup dengan keluarga yang di milikinya. Ternyata Paman Kyuhyun adalah ayah dari Oh Sehun? Bagaimana bisa dunia sesempit ini?
"Kau masih ingin terdiam dan tidak ingin mengatakan apapun?" Luhan menatap Kyuhyun dengan sedikit ragu sebelum akhirnya bibir mungilnya mengeluarkan suara. "S-saya tidak bisa memberitahu alasannya dan juga t-tolong jangan cabut beasiswaku." Mohonnya dengan lirih.
Kyuhyun tersenyum kecil. "Baiklah tidak apa – apa jika kau tidak ingin mengatakannya. Kau sudah ku anggap seperti anakku sendiri, Luhan. Tentu aku tidak akan mempersulitmu."
"Be-benarkah?"
"Tentu saja. Ngomong – ngomong, kau sangat manis tanpa menggunakan kacamatamu, Luhan. Kau mirip seperti dia." Ujar Kyuhyun tanpa sadar.
Luhan memiringkan wajahnya menatap Kyuhyun dengan bingung, ia tidak mengerti 'dia' yang di maksud oleh Kyuhyun. "Kau sangat manis seperti ibumu."
"Uh?"
Tersadar ke alam sadarnya membuat Kyuhyun menggelengkan kepalanya cepat Kemudian ia menunjuk luka lebam di wajah Luhan. "Lukamu, bagaimana? Ingin ku obati?"
Luhan menggeleng cepat. "Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan paman. Aku bisa pergi ke ruang kesehatan untuk mengobatinya sendiri." Ujarnya. Kyuhyun mengangguk mengerti. "Baiklah."
Luhan bangkit dari duduknya. Ia membungkus sekali di hadapan Kyuhyun. "Aku permisi. Terima kasih, Paman." Luhan berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah meninggalkan Kyuhyun yang masih sibuk terdiam memikirkan berbagai macam hal.
Luhan berjalan sebentar ke ruang kesehatan yang letaknya tak terlalu jauh dari ruang kepala sekolah. Tidak ada orang yang menjaga jadi Luhan mengambil kotak obat sendiri dan menggunakannya di salah satu ranjang di sana.
"Ternyata kekuatanmu meningkat ya, Xi Luhan." Mata rusa milik Luhan bergerak menatap sebuah objek di sampingnya ketika sebuah tirai di buka menampilkan Sehun yang sedang duduk di ranjang sebelah sambil menatapnya.
Luhan mencoba mengabaikannya dan melanjutkan pekerjaannya mengobati lukannya meskipun sedikit sulit karena dia melakukannya seorang diri.
Merasa terabaikan Sehun bangkit dari duduknya mengambil kapas di tangan Luhan. Tubuh tingginya pun bergerak untuk berpindah di hadapan Luhan. "Biar aku yang mengobatimu." Sehun menambah beberapa tetesan alkohol di kapas dan mulai membersihkan luka di wajah Luhan membuat pria mungil itu meringis.
"Kurang baik apa diriku? Sudah kena pukul olehmu tapi tetap saja membantumu mengobati lukamu." Sehun terus saja mengoceh membuat Luhan mendengus. Ia mengambil kapas yang ada di tangan Sehun lagi. "Aku tak perlu bantuanmu."
Sehun menatap Luhan serius. "Kudengar kau bunuh diri di hari itu?" Luhan menatapnya sejenak kemudian melanjutkan pekerjaannya. "Jangan membuatku ingin memukulmu lagi." Gumamnya. Ia mengambil sebuah plester dan menempelkannya di sudut bibirnya.
Pria di hadapan Luhan mendengus. "Jadi kau bunuh diri karena hal itu saja?"
Dahi Luhan mengeryit tak suka. "Hal itu saja? Kau pikir pemerkosaan adalah sesuatu yang menyenangkan?!" Amarah Luhan mulai sedikit terpancing kembali oleh ucapan Sehun.
"Kau tau," Sehun mengeluarkan seringainya. "Itu bahkan hanya sebagian kecil dari semua dendamku padamu."
"Kenapa kau harus dendam padaku, Oh Sehun?" Satu alis Luhan terangkat. Ia menatap Sehun dengan tatapan penasaran. Ya Baekhyun saat ini sangat penasaran kenapa seorang Oh Sehun selalu mengganggu hidup Xi Luhan.
"Tentu saja karena ibumu sudah mati jadi kaulah tujuan utamaku untuk membalas dendam." Satu sudut bibir Sehun terangkat. "Kau jangan berpura – pura tidak tahu apa penyebab ibuku meninggal yang sebenarnya, Xi Luhan." Sehun menatap Luhan begitu tajam. Tiba – tiba saja kenangan buruk beberapa tahun yang lalu itu muncul di benak Sehun.
"Apa kau bertemu dengannya lagi? Aku sedang sakit, Kyuhyun! Demi Tuhan, istrimu ini sedang sakit!"
Sehun sangat benci ketika kalimat itu selalu datang sebagai mimpi buruknya yang tiap malam selalu menghantuinya.
.
.
Di sebuah ruang kelas yang penuh dengan hiasan di setiap sudut dindingnya membuat kesan indah dan meriah di dalamnya. Beberapa murid sibuk bersenda gurau dengan temannya termasuk Luhan yang berada di dalam tubuh Baekhyun yang sedang bercengkrama dengan salah satu gadis populer bernama Irene. Sedangkan Chanyeol? Pemuda itu sedang asik sendiri di samping Baekhyun dengan gitar kesayangannya.
"Kau yakini ingin menyanyikan lagu ini denganku?" Tanya Baekhyun yang sedang memegang selembar kertas yang berisikan lirik dari sebuah lagu. Irene mengangguk semangat.
"Aku sangat suka lagu itu dan juga lagu itu sangat mudah. Ayo kita nyanyikan bersama di atas panggung." Ujar Irene dengan semangatnya.
Baekhyun melirik ke arah Chanyeol yang sedang sibuk bersama gitarnya kemudian menggelengkan kepalanya. "Ku pikir, aku tidak pantas menyanyikannya bersamamu, Irene." Ujarnya pada Irene. Gadis berambut pirang itu menatap Baekhyun bingung.
"Apa maksudmu?" Tanyanya.
Baekhyun mengibaskan tangannya, menyuruh Irene untuk mendekat. Gadis itu menurut dan dengan segera Baekhyun mendekatkan mulutnya di depan telinga Irene. "Kau menyukai Chanyeol, kan?"
Pertanyaan Baekhyun sontak membuat wajah Irene memerah. Ia kembali memundurkan wajahnya. Baekhyun tersenyum geli melihat Irene yang salah tingkah. "Aku akan membantumu." Bisik Baekhyun pada Irene agar Chanyeol tidak mendengarnya.
"Mem-membantu apa Baekhyun-ah?"
Baekhyun tidak menjawab hanya tersenyum misterius pada Irene lalu pandangannya teralih pada Chanyeol yang masih asik dengan gitarnya.
"Chanyeol-ah." Panggil Baekhyun yang membuat Chanyeol menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Baekhyun.
"Uh?"
Baekhyun tersenyum aneh pada Chanyeol sebelum akhirnya ia mengeluarkan suara. "Sepertinya tenggorokanku mendadak agak sakit. Kau gantikan aku tampil di atas panggung bersama Irene nanti malam ya?" Pinta Baekhyun.
Sebelumnya Chanyeol memang di minta oleh Baekhyun dan Irene untuk jadi pengiring mereka menggunakan gitarnya tapi dia tidak pernah menyangka jika Baekhyun akan memintannya seperti itu. "Aku tidak bisa bernyanyi, Baek." Tolak Chanyeol.
"Omong kosong. Aku sering mendengarmu bernyanyi dan suaramu tidak terlalu buruk, Chanyeol-ah. Kau bahkan bisa ngerap." Sergah Baekhyun dengan cepat. Chanyeol menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Dia bingung untuk menjawabnya karena selain malu bernyanyi, Chanyeol juga pasti akan canggung jika hanya berdua dengan Irene.
"Ayolah, Chan. Kau tega membuat Irene bernyanyi sendiri di atas panggung? Bukankah lagu yang akan di bawakan itu lagu kesukaanmu?" Bujuk Baekhyun lagi sampai akhirnya Chanyeol menganggukan kepalanya. "Baiklah, aku akan melakukannya."
Senyum di wajah Baekhyun merekah seketika. "Aku tau, kau pasti tidak akan mengecewakanku." Lalu Baekhyun melirik ke arah Irene yang wajahnya sedikit memerah.
"Aku akan menunggu penampilan kalian. Oke?"
"Baekhyun-ah? Bisa kemari sebentar?" Panggil Heera yang di jawab acungan jempol oleh Baekhyun. "Aku ke sana dulu." Pamit Baekhyun meninggalkan pasangan adam dan hawa yang terlihat sangat canggung itu. Mereka terdiam beberapa saat, Chanyeol sibuk dengan gitarnya lagi dan Irene sesekali melirik ke arah Chanyeol.
"Heum, Chanyeol-ah." Panggil Irene yang berusaha memecahkan kecanggungaan di antara mereka. Mendengar suara Irene, Chanyeol menolehkan kepalanya pada Irene. "Ada apa?"
Kegugupan kini melanda Irene. Ia ingin mengatakan ini pada Chanyeol tapi ia terlalu gugup untuk mengungkapnya jika ia tidak melakukan ini hatinya selalu di landa kecemasan. Ia menundukan kepalanya dalam – dalam seolah menyembunyikan wajahnya yang saat ini seperti kepiting rebus.
"Aku menyukaimu. Mau kah kau menjadi pacarku?"
Irene mengucapkannya dengan lancar dan secepat kereta api membuat beberapa orang menatap ke arah mereka berdua termasuk Baekhyun yang cukup terkejut mendengar ungkapan Irene yang mendadak seperti ini langsung menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol dan Irene.
"Wah, apa itu Irene sedang mengungkapkan cintanya pada Chanyeol?"
"Nyali Irene besar juga."
"Apa Chanyeol akan menerima?"
Chanyeol terkejut atas ungkapan Irene yang secara tiba – tiba. Matanya teralih pada Baekhyun yang saat ini tersenyum padanya. Ini sungguh membuat Chanyeol tidak bisa berkata – kata.
"Jadi... bagaimana jawabanmu, Chanyeol?" Tanya Irene dengan takut – takut. Jujur, setelah ia mengungkapkan itu hatinya benar – benar lega.
"Terima... Terima... Terima"
Suara riuh teman – temannya membuat Chanyeol semakin bingung. Irene yang mendapatkan dukungan dari teman – temannya hanya bisa tersenyum optimis.
Tubuh Baekhyun mendekat ke arah dua sejoli itu, senyum senangnya tak lepas dari wajahnya. "Terima saja, Chanyeol-ah."
Di tambah Baekhyun yang memperkeruh suasana hatinya. Ia menatap Baekhyun dengan ragu kemudian pandangannya teralih pada gadis di hadapannya. Gadis kesekian kalinya menyatakan cinta padanya dan mungkin akan menjadi gadis pertama yang ia terima jika saja Baekhyun tidak mengamuk seperti sebelumnya.
"Baiklah. Aku menerimanya."
.
.
[TBC]
.
.
[Epilog]
.
.
Baekhyun menatap Luhan dengan pandangan aneh sedangkan yang sedang di tatap hanya menyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih. Tak ada perubahan apapun pada Baekhyun, Luhan menarik tangan Baekhyun untuk melanjutkan perjalanan mereka.
"Ah tenanglah, Baekhyun. Kau bisa mempercayakannya."
"Tapi hyung, aku tidak mempercayai hal ini." Protesnya untuk kesekian kalinya pada Luhan.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah rumah yang terlihat sangat sepi dan juga banyak tanaman liar di sekitarnya membuat Baekhyun semakin ragu.
"Dia ini adalah teman nenekku, dulu sewaktu aku masih kecil aku pernah di ajak kemari. Beliau adalah cenayang yang hebat." Serunya pada Baekhyun. Tak perlu jawaban dari Baekhyun, Luhan mengetuk pintu rumah tua itu.
"Permisi nenek Hong? Apa kau di dalam?"
Di belakang Luhan, Baekhyun menatap ngeri di sekitar rumahnya. Belum lagi letak rumah ini yang berada di atas bukit, heol ini gila. Baekhyun sama sekali tidak mempercayai hal – hal semacam itu.
"Apa kau Xi Luhan?" suara serak khas wanita tua membuat bulu kuduk Baekhyun merinding namun berbeda hal dengan Luhan yang langsung mengangguk semangat. "Benar nek, ini aku Xi Luhan."
Pintu itu terbuka dengan perlahan dan menampilkan sosok wanita tua dengan balutan jubah berwarna hitam. Baekhyun menatap aneh ke arah wanita tua itu, ini gila.
Luhan membungkukan badannya dan memberi salam pada nenek itu yang di balas senyuman kecil. "Ayo silahkan masuk." Ajak nenek Hong pada Luhan dan Baekhyun.
Luhan mengangguk dan mengajak Baekhyun untuk masuk. Sedari tadi Baekhyun memang tidak menyukai ide Luhan ini untuk menemui cenayang ini untuk mengetahui cara agar mereka bisa kembali ke tubuh masing – masing karena Luhan merasa tak enak jika Baekhyun harus merasakan kehamilannya. Meskipun ia tidak terlalu yakin jika benih Sehun tumbuh di dalam tubuhnya.
Saat ini mereka telah duduk di hadapan nenek Hong yang di pisahkan oleh meja kecil yang entah apa saja yang berada di atasnya. Mata Baekhyun terus saja melihat – melihat ke sekitar ruangan yang nampak menyeramkan, tidak di pungkiri juga jika ia merasa ketakutan sekarang.
Berbeda dengan Luhan yang senyumnya seolah tak bisa lepas dari wajah manis milik Baekhyun.
"Jadi, ada hal apa kalian kemari?" Tanya sang nenek membuat Baekhyun menarik perhatian padanya. Luhan menggigit bibir bawahnya. "Begini, sebelumnya perkenalkan dia adalah Byun Baekhyun temanku."
Nenek Hong menganggukan kepala kemudian menarik telapak tangan Luhan dan juga telapak tangan milik Baekhyun. Ia sudah bisa merasakan ada hal aneh sejak anak – anak ini datang ke rumahnya.
Dengan serius nenek Hong membaca setiap garis tangan yang mereka miliki. Entah ini hanya perasaan Baekhyun atau bukan, ia melihat nenek Hong yang sedang membaca garis tangannya ini mengeluarkan air mata.
"I-ini... ini takdir yang benar – benar tak terduga. Takdir ini benar – benar sangat sulit untuk kalian mengerti."
Mendengar suara nenek Hong membuat Luhan tertarik. "Ada apa dengan takdir kami, nek?"
"Kalian saat ini benar – benar sedang bertukar jiwa?"
Luhan dan Baekhyun kompak menganggukan kepalanya. "Benar, saat ini jiwa kami sedang tertukar nek. Apa kau tau bagaimana cara agar kami kembali ke tubuh masing – masing?"
Sang cenayang terdiam sejenak. Matanya terpejam erat dan bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara. Melihat tingkah orang tua di hadapannya membuat Baekhyun dan Luhan mengerutkan dahinya.
Perlahan mata nenek Hong kembali terbuka dan bibir itu sudah terhenti bergerak. Ia menatap Luhan dan Baekhyun secara bergantian dengan tatapan seriusnya.
"Hanya ada satu cara agar kalian bisa kembali ke tubuh kalian masing – masing."
"Apa itu?"
"Tidur dan habiskan malam bersama seseorang yang mencintai kalian dengan tulus di saat bulan purnama sempurna tiba."
.
.
A/N:
sebenernya gua males nulis bagian irene nembak chanyeol :'v tapi mau gimana lagi yekan demi terwujudnya alur yang indah/?
sedikit demi sedikit udh terkuak yeh, dan cara pengembalian tubuh udh dikasih tau.
kuy review lagi, pengen tau pendapat kalian yg baca cerita absurd nan gaje ini/?
Bogor/ 8 September 2016/ 06:32
