Chapter 9
Malam telah datang kembali, sinar bulan menyinari bumi dengan cukup baik karena kondisi hari ini pada malam hari sangatlah cerah bahkan bintang – bintang bertaburan dengan indahnya di atas langit.
Dan kesempatan ini tak di sia – siakan oleh pria tampan yang sudah memasuki kepala empat. Ia – Oh Kyuhyun, ayah dari Oh Sehun yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya sambil menatap ke arah langit malam yang indah.
Saat ini ia sedang menunggu kepulangan anaknya. Bukan tanpa alasan ia menunggu Sehun pulang, karena ada sesuatu hal yang harus ia bicarakan sebagai ayah dan anak. Hubungan keduanya sangatlah buruk semenjak ibu Sehun meninggal dunia 10 tahun yang lalu dan ia selalu ingin memperbaikinya.
Menyesal? Yeah, tentu saja. Jika saja saat itu ia tidak egois mungkin saja ibu Sehun masih berada di dunia ini atau hubungannya dengan Sehun tidaklah serenggang seperti sekarang. Penyesalan selalu berada paling akhir bukan?
Matanya bergerak cepat menghitung ada berapa jumlah bintang yang hadir malam ini. Kekanakan memang tapi Kyuhyun sangat menyukai hobi yang di miliki oleh pujaan hatinya ini.
Kyuhyun menurunkan kepalanya ketika melihat Sehun sudah berada di hadapannya yang sepertinya terkejut dengan kehadirannya di sini. Ia menampilkan senyum kecil untuk menyambut kepulangan anaknya. "Kau baru pulang?"
Sehun mengubah ekspresinya kemudian menatap datar pria yang selama ini mengaku sebagai ayahnya. "Kau perduli?"
"Tentu saja, karena kau adalah anakku." Jawab Kyuhyun dengan nada tenangnya dan senyum kecilnya. Sehun hanya berdecih mendengar jawaban Kyuhyun.
"Anakmu ya? Tapi sayangnya aku tidak pernah menganggapmu sebagai ayahku karena tidak ada seorang ayah yang lebih memilih selingkuhannya di bandingkan keluarganya."
"Jaga ucapanmu Oh Sehun."
"Apa? Itu memang kenyataannya seperti itu. Kau lebih memilih jalang itu di ban –"
Dengan secepat kilat telapak tangan Kyuhyun menampar pipi Sehun sehingga menimbulkan berkas merah di pipinya. Menyadari sikapnya Kyuhyun terkejut sendiri, sumpah itu adalah gerakan refleknya saja karena Sehun menghina seseorang yang paling berarti di hatinya.
Mendapat tamparan dari sang ayah, Sehun hanya bisa terdiam dan menatap ayahnya dengan tatapan datarnya, seperti biasa jika ia mengungkit masalah ini. Seharusnya ayahnya itu tahu jika dirinya sampai kapan pun tidak akan pernah bisa akur dengannya meskipun ia tahu jika saat ini ayahnya sedang mencoba membuat keadaan lebih baik tapi Sehun selalu tidak bisa menerimanya.
"Sudahku katakan Sehun. Jaga ucapanmu. Kau tidak tahu apa – apa yang sebenarnya terjadi." Ujarnya berusaha untuk tenang dan tidak kembali menyulutkan emosinya. Mendengar itu Sehun mendengus.
"Ya, benar. Aku memang tidak tahu apapun tapi yang ku tahu adalah kau dan jalang itu seorang pembunuh! Pembunuh ibuku!"
Setelah mengatakan itu dengan cukup keras, Sehun melangkah masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Kyuhyun sendirian yang masih menatap punggung Sehun yang menghilang di balik pintu rumahnya.
Sejujurnya bukan seperti ini keinginannya untuk menemui Sehun, bukan pertengkaran tapi pamit pada Sehun atau mungkin mengajak Sehun yang untuk ke sekian kalinya karena malam ini juga Kyuhyun harus kembali ke Seoul. Sedari dulu Kyuhyun selalu mengajak Sehun untuk pindah ke Seoul bersamanya namun Sehun selalu menolaknya dan mengatakan jika ia ingin tinggal di sini seorang diri.
Kyuhyun menghelakan napasnya kemudian kepalanya mendongkak menghadap ke langit malam.
"Maafkan aku Songhye-ah. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga anakmu dengan baik."
.
.
Present
- What If -
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Xi Luhan
Oh Sehun
YAOI, SHOUNEN – AI, BOYS LOVE, BOYXBOY
Cerita ini murni punya saya. Dilarang plagiat/copas tanpa izin.
Tolong hargai saya.
.
Christian Bautista & Angeline Quinto – In Love With You
.
Byun Baekhyun seorang yang sangat menyukai perkelahian. Park Chanyeol si pelayan setia Baekhyun. Di kehidupan lainnya terdapat Xi Luhan si korban Bullying dan Oh Sehun yang sangat menyukai membully Luhan. Dan sebuah kejadian yang tak pernah di duga oleh mereka. Jiwa Baekhyun dan Luhan tertukar?!
.
.
Hari ini adalah hari yang paling di nanti – nantikan oleh seluruh murid sekolah. Hiruk pikuk pun sudah terasa sejak pagi hari untuk mempersiapkan acara yang saat ini sudah berjalan setengah acara. Di mulai dengan sambutan dari kepala sekolah, ketua yayasan dan sambutan lainnya lalu di lanjutan berbagai pertunjukan yang di wakil kan dari setiap kelasnya. Ada yang menujukan drama, menyanyi, dan bakat – bakat lainnya. Termasuk di kelas yang di tempati oleh Baekhyun dan Chanyeol, dari kelas mereka akan menampilkan pertunjukan menyanyi dari wakilnya yaitu Chanyeol dan Irene.
Giliran untuk kelas mereka sebentar lagi tapi yang terjadi terlihat kacau di kelas mereka karena sosok yang bernama Irene itu belum menampakan batang hidungnya sampai saat ini. Belum ada yang tahu di mana keberadaan Irene, termasuk Baekhyun – Luhan – yang sedikit panik dengan hal ini sedangkan Chanyeol? Pria itu sangat santai dengan gitar di tangannya dan sesekali bersenandung kecil.
"Aku menyerahhh! Aku tidak tahu Irene dimana. Bagaimana ini?"
Suara teriakan frustasi dari Heera membuat semua mata tertuju padanya termasuk Chanyeol yang menghentikan acara bermain gitarnya. Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dan memasang wajah 'Bagaimana ini?'. Chanyeol yang mengerti bahasa tubuh Baekhyun hanya mengangkat kedua bahunya.
Heera mendekat ke arah Chanyeol dan Baekhyun berada. "Hei, Park Chanyeol. Dimana Irene sekarang?" Tanya Heera dengan sedikit kesal. Chanyeol mengangkat kedua bahunya. "Mana ku tahu dimana dia sekarang."
Mendengar jawaban Chanyeol yang terlampau santai membuat Heera memutar kedua bola matanya malas. "Kau kan kekasihnya! Memangnya dia tidak menghubungimu?" Chanyeol langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan memperlihatkannya pada Heera.
"Ponselku kehabisan baterai." Jawabnya dengan santai kemudian memasukannya kembali. Heera menghembuskan napasnya frustasi kemudian pandangannya teralih pada Baekhyun yang sedari tadi terdiam.
"Kau saja yang menggantikan Irene." Ujarnya pada Baekhyun.
"Aku?"
"Ya tentu, siapa lagi yang memiliki suara semerdu dirimu di kelas ini? Dan juga kau kan yang pertama kali ingin bernyanyi di atas panggung itu, bukan?"
"Apa itu tidak masalah?" Baekhyun bertanya ragu pada Heera. Gadis itu langsung mengapit leher Baekhyun dengan gemas. "Tentu saja tidak masalah. Benarkan, Chanyeol-ah?"
Chanyeol yang di tanya pun tersenyum dan mengangguk dengan semangat. ini lebih baik jika ia harus bernyanyi dengan Irene dan dalam seketika semangat Chanyeol pun memuncak, awalnya ia memang tidak terlalu bersemangat karena hanya sepanggung dengan Irene namun dewi fortuna sedang berpihak padanya saat ini.
"Baiklah! Baiklah! Sekarang kalian bergegas menuju aula, ayo cepat!" Seru Heera dengan bersemangat menarik kedua manusia adam itu menuju aula.
Di dalam aula begitu penuh dengan murid – murid yang menikmati acara ini. Mereka bertiga bertemu dengan Kim Minseok selaku panitia kordinator acara.
"Apa kalian dari kelas 2-3?" Tanya Minseok yang melihat ketiga orang menghampiri dirinya, ia bertanya seperti karena sebentar lagi kelas merekalah yang akan tampil setelah penampilan ini.
Ketiganya kompak mengangguk. Minseok tersenyum lega kemudian menyuruh mereka untuk bersiap – siap. Heera pun meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol untuk menyaksikan penampilan mereka di depan panggung.
Tangan Baekhyun dengan tiba – tiba menjadi dingin, ini salah satu kebiasaan tubuh Baekhyun jika sedang gugup seperti ini. Di tambah jantungnya berpacu dengan cepat dan juga tiba – tiba perutnya bereaksi tak enak.
Baekhyun terkejut ketika kedua tangan di tarik dan langsung menyalurkan kehangatan karena tangannya di genggam erat oleh kedua tangan yang lebih besar darinya. Tangan itu adalah milik Chanyeol yang tengah tersenyum padanya.
"Aku tau saat ini pasti kau sedang gugup. Tanganmu dingin sekali, apa kau seorang vampire?" Ujar Chanyeol dengan kekehan di akhirnya. Jemari Chanyeol berusaha untuk kembali menghangatkan jemari – jemari Baekhyun yang dingin, inilah yang biasa Chanyeol lakukan jika Baekhyun tengah gugup.
Di dalam hatinya, Luhan. Ia dapat menangkap perlakuan Chanyeol yang selalu tulus pada Baekhyun. Apa mungkin Chanyeol itu sebenarnya mencintai Baekhyun? Jika itu benar, apa itu artinya ia sudah menyakiti hati Chanyeol karena menyuruhnya untuk menerima cinta Irene? Perasaan tidak enak itu langsung masuk menyeruak di hatinya.
"Park Chanyeol-ssi? Byun Baekhyun-ssi? Apa kalian sudah siap? Saat ini penampilan kalian." Ujar Minseok datang menghampiri mereka. Baekhyun kembali menarik tangannya dengan cepat kemudian mengangguk pada Minseok. Begitu pun dengan Chanyeol yang ikut mengangguk dan mengambil gitarnya.
"Semoga penampilan kita sukses, Chanyeol-ah!" Ujar Baekhyun dengan memeluk tubuh tinggi Chanyeol dengan tiba – tiba membuat pria tinggi itu terdiam membeku. Baekhyun melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Chanyeol, tak lupa menepuk – nepuk pundaknya menyalurkan semangatnya untuk Chanyeol.
Dengan tergugup Chanyeol menganggukan kepalanya dan tersenyum pada Baekhyun. Perbuatan Baekhyun tadi membuat jantungnya berdetak lebih cepat dan juga membuatnya tidak bisa berkata – kata. Ia jadi ragu tidak bisa membuka suaranya nanti.
Mereka keluar dan berdiri di atas panggung setelah pembawa acara menyambut mereka. Karena Chanyeol akan memainkan gitarnya maka ia duduk di sebuah kursi yang sudah di sediakan sedangkan Baekhyun berdiri di sampingnya.
Suara alunan gitar dari Chanyeol sudah mengalun sebagai intronya. Ia menatap ke arah Baekhyun ketika sudah waktunya Baekhyun untuk mengeluarkan suaranya yang indah.
"Just a gentle whisper, tell me that you'd gone. Leaving only memories, where did we go wrong? I couldn't find the words then, so let me say them now. I'm still in love with you"
Chanyeol tersenyum ketika mendengar suara indah Baekhyun yang sejak lama ia tak pernah dengar, tentu saja karena dulu Baekhyun tidak suka mengeluarkan suaranya untuk bernyanyi meskipun Baekhyun tahu jika dirinya memiliki suara yang indah.
Kini giliran Chanyeol yang akan mengeluarkan suaranya.
"Tell me that you love me, tell me that you care, tell me that you need me, and I'll be there. I'll be there waiting..."
Lagu ini adalah lagu kesukaan Chanyeol sebenarnya. Ada beberapa lirik di dalam lagu ini pun mengandung kata – kata yang ingin ia sampaikan pada Baekhyun dan Chanyeol bersyukur ia bisa menyanyikan lagu ini bersama Baekhyun bukan dengan Irene. sebenarnya juga Chanyeol tidak terlalu menyukai Irene, tak pernah terpikirkan oleh dia untuk menjalani suatu hubungan dengan Irene atau pun dengan wanita lain karena Chanyeol sama sekali tidak ingin mengabaikan tugasnya.
Masuk pada bagian reff, Baekhyun dan Chanyeol pun mengeluarkan suaranya bersama dan tak lupa mereka saling memandang satu sama lain seolah dunia hanya miliki mereka saja.
"I will always love you, I will always stay true. There's no one who loves you like I do, Come to me now. I will never leave you, I will stay here with you. Through the good and bad I will stand true. I'm in love with you."
Kalau saja Chanyeol memiliki keberanian yang kuat, ingin sekali menjadikan Baekhyun sebagai kekasihnya. Namun harapan itu hanya bisa terpendam di dalam hati Chanyeol karena ada sebuah peraturan yang tidak boleh di langgar olehnya sebagai pelayan yang setia. Baginya bersama Baekhyun setiap saat meskipun hanya sebagai pelayannya mampu membuat Chanyeol bahagia.
Nyanyian itu berlanjut dengan indahnya oleh mereka berdua. Menjalin cemistry yang kuat membuat para penonton terpanah melihat penampilan mereka hingga suara tepuk tangan yang keras dan seruan nama mereka menjadi akhir yang indah untuk penampilan mereka.
Meskipun mungkin tidak semenarik penampilan kelas – kelas lainnya yang mampu membuat beberapa wanita berjerit histeris namun penampilan Chanyeol dan Baekhyun cukup membuat untuk mereka bertambah penggemar di sekolah ini.
Baekhyun dan Chanyeol membungkukan badan mereka setelah penampilannya selesai. Saat ini Baekhyun – Luhan – merasa sangat lega dan tak bisa ia tutupi senyum bahagianya melihat beberapa orang bertepuk tangan untuknya sampai ketika matanya menatap salah satu murid wanita di sana yang sedang menatap mereka dengan tatapan sedih.
Perasaan bersalah pada Irene menyeruak di hatinya.
.
.
.
Hari itu semenjak insiden penonjokan yang di lakukan Luhan – Baekhyun – pada Oh Sehun membuat image Luhan selama ini berubah dengan drastis. Dulu Xi Luhan hanyalah seorang pemuda culun, berkacamata, penghuni perpustakaan, miskin, korban bullying dari Oh Sehun dan tidak ada yang mau berteman dengannya lalu sekarang Luhan seperti orang lain, pemuda itu berpenampilan menarik, tidak berkacamata karena sudah di gantikan lensa kontak, memiliki keberanian untuk melawan Oh Sehun bahkan menghajarnya membabi buta seperti hari itu, dan Luhan saat ini terlihat – yeah seperti orang kaya.
Kyungsoo – ketua kelasnya yang cerewet bahkan ternganga melihat ada 10 vacuum cleaner terjejer rapih di depan kelasnya. Arah pandangnya langsung ke Luhan yang santai memainkan ponsel Iphone 7 plus – shit! Itu ponsel keluaran terbaru dan sekarang ada di genggaman Luhan? Bagaimana bisa anak semiskin Luhan mendapatkan uang sebanyak itu?
Saat ini Luhan menjadi topik terhangat untuk di bicarakan oleh semua murid di sekolahnya. Tapi Baekhyun tidak memperdulikannya sama sekali meskipun semua memfitnahnya dari mulai menuduh Luhan mencuri, memakai ilmu hitam untuk memperoleh kekayaan sampai dirinya di tuduh menjual diri kepada pria – pria hidung belang.
Sekali lagi, Baekhyun yang berada di dalam tubuh Luhan tidak memperdulikannya. Kecuali Sehun mungkin? Pemuda itu selalu sensitif jika ada murid yang membicarakan Luhan di depannya. Sehun pasti akan selalu marah dan menyuruh murid itu untuk diam dan tidak membicarakan Luhan lagi.
Sehun benar – benar perduli? Entahlah, yang jelas telinga Sehun sudah berdengung terus ketika nama Luhan kembali di sebut – sebut.
Semenjak insiden itu pula, Luhan maupun Sehun tidak terlihat bersama. Eh? Memangnya mereka pernah bersama di sekolah? Hanya dalam bingkai pertengkaran sajalah mereka bersama selebihnya tidak pernah di pikirkan oleh mereka.
Tapi bukan Sehun namanya jika ia tidak melihat Luhan menderita – entah secara fisik maupun psikis –. Rasanya sudah cukup lama tidak membully Luhan, sebenarnya ia sudah sedikit jengah karena Luhan selalu berhasil melawannya apalagi ketika ia melihat tatapan tak gentar milik Luhan yang terasa berbeda. Seperti bukan milik Luhan yang dulu. Dan jangan lupakan insiden pemukulan mendadak seperti itu. Sehun masih belum mengerti kenapa Luhan baru memukulnya sekarang karena kejadian itu? kenapa tidak sejak dulu?
"Kau kenapa?"
Sebuah tepukan Sehun rasakan di pundaknya. Ia menoleh dan mendapati Jongin – sahabatnya menatapnya dengan bingung. Sehun mengeluarkan seringai andalannya. "Kau nampak mengerikan, sobat." Lanjut Jongin.
Sehun mengangkat satu alisnya. "Hei, aku sedang ingin melakukan sesuatu yang menarik." Ujarnya dengan senyum yang penuh kelicikan. Jongin pun yang merasa tertarik sedikit memajukan wajahnya.
"Apa?"
"Kau akan tahu nanti, seperti biasa kau hanya perlu mengikuti intruksiku."
Jongin menatap punggung Sehun yang bangkit dari kursinya dan semakin menjauh dari pandangannya. Tapi jika ia pikir lagi, hal menarik yang di maksud oleh Sehun itu pasti tidak jauh dari hal – hal yang menyangkut Luhan.
Apa mungkin Sehun ingin kembali membully Luhan lagi?
Sebenarnya Jongin sedikit tidak tega untuk membully Luhan tapi karena keinginan Sehun jadi mau tak mau ia ikut membully Luhan. Setidaknya ia masih punya hati tidak seperti Sehun, entahlah Sehun punya dendam kesumat apa pada Luhan.
Jongin bangkit dari duduknya dan mulai melangkah untuk mencari dimana keberadaan Sehun. Ia berpikir untuk mencarinya di kelas Luhan tapi ketika tak sengaja ia melintasi kantin matanya di suguhi oleh sesuatu yang 'hal menarik'.
Para murid berusaha mendekat ke arah kantin untuk melihat dan merekam adegan yang terjadi. Di sana ada seorang pemuda yang sedang hangat di bicarakan di sekolahnya, siapa lagi jika bukan Xi Luhan.
Ia berdiri di tengah kerumunan orang banyak dengan noda telur dimana – mana. Kepalanya menunduk dalam dan Jongin tidak bisa melihat ekspresi apa yang Luhan tampilkan saat ini lalu matanya dengan cepat mencari – cari dimana sosok Sehun berada.
Benar saja, pasti ini ulah dari Oh Sehun.
Matanya terus terfokus pada Sehun yang tiba – tiba membawa sebuah ember yang ia yakini berisi air – entah itu air bersih atau air kotor.
Byurr!
Kejadian itu begitu cepat ketika Sehun menyiram tubuh Luhan yang masih berdiri terdiam disana. Seringai Sehun tak pernah lepas di wajah tampannya sejak ia berhasil merencanakan ini dan melihat Luhan sama sekali tidak memberikan bentuk perlawanan. Sebelumnya Sehun sudah memperintahkan beberapa anak perempuan yang memang tidak terlalu menyukai Luhan untuk melemparkan telur pada Luhan dan tugas terakhirnya adalah menyiram Luhan dengan air bekas kain pel.
"Maaf, hidungku mencium aroma yang tak sedap, jadi aku hanya mencoba menghilangkan baunya saja." Ujarnya begitu santai dan membuang ember yang bekas kain pel itu ke sembarang tempat.
Luhan masih tak bergeming sama sekali hingga beberapa detik berlalu. Sehun merasakan sedikit ada yang aneh pada Luhan kali ini – yeah tidak seperti biasanya. Rasa penasaran Sehun terjawab setelah Luhan mulai mendongkakan kepalanya dan pandangan mereka langsung bertemu.
Perlahan tapi pasti Luhan mendekat ke arah Sehun masih dengan tak ekspresinya. Tapi siapa sangka dengan cepat Luhan berhasil meraih tubuh Sehun dan memeluknya dengan erat.
Sehun terbelakak merasakan tindakan Luhan yang di luar dugaannya. Luhan menggesek – gesekan kepalanya dengan brutal pada bahu Sehun agar noda telur itu bisa terbagi untuk Sehun. Luhan pun mengeluarkan seringai yang sejak tadi ia tahan.
"Rasakan ini rasakan! Kau pikir aku akan menikmati ini sendirian? Hahaha! Karena kau adalah orang yang 'kusayangi' jadi kau juga harus menikmatinya."
Luhan seperti orang tak waras saat ini. Sehun berusaha keras melepaskan tubuh Luhan dari tubuhnya yang mungkin ikut tercampur bau dari Luhan tapi sepertinya pelukan Luhan lebih kuat dari yang ia kira. Jongin yang melihat itu dari kejauhan hanya bisa tersenyum kecil.
"Brengsek! Lepaskan aku!" Sehun mencoba menarik helaian rambut Luhan dengan kuat.
"Tidak! tidak akan!" Tapi Luhan masih sanggup untuk bertahan.
"Sialan! Menyingkirlah!" Kini seluruh tubuh Sehun ia kerahkan untuk menyingkirkan Luhan.
"Kau yang sialan! Selamanya kita akan bersama!" Dan entah kekuatan dari mana Luhan bisa mempertahankan pelukannya pada Sehun dan tetap menggesek – gesekan tubuhnya.
"Kepar –"
"OH SEHUN! XI LUHAN!"
Tukk! Tukk!
Kepala Sehun dan Luhan menjadi sasaran empuk dari tongkat guru Kim. Luhan melepaskan pelukannya dan mengaduh kesakitan begitu pula dengan Sehun yang mengikuti gerakan mengaduh Luhan.
"Kekacauan apa lagi yang kalian berdua perbuat, hah?!" Bentak guru Kim yang membuat Sehun maupun Luhan tersentak terkejut mendengar suaranya yang terdengar memeka telinga. Setelah ini Sehun akan pergi ke dokter THT untuk mengecek telinganya.
Guru Kim yang baru saja akan menikmati waktu istirahatnya kembali terganggu ketika ada seorang murid yang melaporkan jika Oh Sehun dan Xi Luhan kembali berulah. Ia berdecak melihat penampilan Luhan dan juga penampilan Sehun yang tidak karuan.
"Ganti baju cepat! Setelah itu temui aku di ruang guru! Hukuman telah menanti kalian!" ujarnya dengan tetap oktaf yang sama.
Sehun menatap sengit Luhan sebelum akhirnya pergi meninggalkan kantin. Luhan hanya terkekeh puas melihat Sehun dengan wajah kesalnya.
"Kenapa masih disini?! Cepat ganti baju!"
Oh dia melupakan guru Kim yang sedari tadi matanya melotot dengan tajam.
.
.
Sehun seharusnya menyadari jika memang ada sesuatu yang aneh pada diri Luhan sejak pembullyan itu terjadi. Setelah mandi dan langsung berganti baju dengan seragam olahraga begitu pun dengan Luhan, mereka berdua di bawa guru Kim menuju perpustakaan. Seperti hukuman mereka sebelumnya, Luhan bertugas untuk membereskan beberapa buku kembali ke tempatnya sedangkan Sehun kebagian untuk membersihkan ruangannya.
Sedari tadi Sehun memang memegang sebuah sapu tapi ia sama sekali tidak mengerjakan tugasnya karena matanya sibuk memandangi Luhan. Bukan tanpa alasan ia memandangi Luhan, ia melihat pergerakan aneh dari Luhan sedari tadi.
Bibir Luhan terlihat sangat pucat dan juga peluh sedari tadi menetes dari dahinya padahal di perpustakaan ini cukup dingin karena adanya pendingin ruangan dan juga beberapa kali Sehun memergoki Luhan menggelengkan kepalanya seperti menghilangkan pusing di kepala.
Apa Luhan sedang sakit?
Ia jadi sedikit merasa bersalah karena sudah menyiramnya.
Eh tunggu, untuk apa ia perduli? Iya benar, untuk apa ia perduli pada Luhan? Biarkan saja, itu bukan urusannya.
Sehun mencoba menyakinkan hatinya untuk tidak perduli dengan Luhan dan kembali fokus pada hukumannya. Tapi itu tidak bertahan lama karena Sehun mendengar suara debuman cukup keras dari belakangnya.
Matanya sedikit terbelakak melihat Luhan tak sadarkan diri dengan buku – buku yang berserakan di lantai. Dengan sedikit kepanikan ia menghampiri Luhan dan menepuk –nepuk pipi Luhan yang terasa sangat panas.
Oh shit! Jadi Luhan sedang sakit sungguhan.
Dengan gerakan cepat Sehun mengangkat tubuh Luhan dan dengan sedikit berlari ia membawa tubuh Luhan menuju ruang kesehatan. Selama perjalanan Sehun sangat menyadari dari tatapan aneh beberapa murid. Oh ya benar saja seorang Oh Sehun yang sangat membenci Luhan harus repot – repot membawa Luhan yang sedang sakit menuju ruang kesehatan. Tapi untuk kali ini saja Sehun tak memperdulikan tatapan orang – orang itu.
Ia menidurkan Luhan di salah satu ranjang di sana dengan hati – hati. Dokter Choi, penjaga ruang kesehatan itu yang melihat Luhan tak sadarkan diri langsung menghampiri Sehun.
"Ada apa dengan Luhan?"
"Entahlah, tubuhnya sangat panas."
Dokter Choi tersenyum kecil. "Baiklah kau tunggu sebentar biar aku yang memeriksanya." Sehun mengangguk dan memberikan ruang untuk memeriksa Luhan.
Jujur, Sehun khawatir pada kondisi Luhan saat ini karena biasanya Luhan jarang sakit, ia selalu kuat. Tapi kali ini tubuhnya begitu lemah.
Mata Sehun yang tadinya terfokus pada Luhan kini berganti ketika pintu ruang kesehatan terbuka dan menampilkan wakil kepala sekolah dan juga seorang pria paruh baya yang pernah bertemu dengannya waktu itu. ia pun langsung membungkukan badanya sedikit.
"Ku dengar Xi Luhan berada di sini?" Tanya wakil kepala sekolah pada Sehun yang langsung di jawab anggukan olehnya. "Ya benar, Dia sedang di periksa oleh dokter Choi sekarang. Ada apa?"
"Kami hanya ingin memberitahu pada Xi Luhan jika neneknya saat ini sudah meninggal dunia akibat kecelakaan."
"A-apa?"
.
.
Hari sudah semakin sore dan acara sekolah pun sudah berakhir dengan suksesnya. Beberapa murid pun sudah siap untuk pulang setelah mereka merapihkan kembali kelasnya seperti semula. Termasuk di kelas 2-3, kelas yang di tepati oleh Baekhyun dan Chanyeol.
Chanyeol mensampirkan tasnya di salah satu bahunya dan berjalan menuju Baekhyun yang sedang merapihkan isi tasnya.
"Baek, aku ingin ke kamar mandi sebentar. Kau tunggu di sini sebentar." Ujarnya. Baekhyun langsung menunjukan jempolnya sebagai tanda jika ia mengerti. Chanyeol tersenyum kecil pada Baekhyun sebelum akhirnya pergi meninggalkan kelas menuju kamar mandi.
Setelah selesai merapihkan isi tasnya, Luhan yang berada di dalam tubuh Baekhyun mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan untuk Baekhyun asli. Ia hanya menanyakan kabarnya saja karena jujur perasaannya gelisah pada Baekhyun sejak tadi.
Lama tak mendapatkan balasan, Baekhyun akhirnya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan pandangannya melihat tubuh Irene yang mendekat ke arahnya. Baekhyun tersenyum kecil untuk menyambutnya.
"Hai Baekhyun. Maaf untuk membuatmu menggantikanku untuk bernyanyi tadi." Ucap Irene membuka percakapan mereka. Baekhyun tersenyum maklum.
"Tenang saja, itu bukan masalah besar. Lagi pula kau darimana saja? Kenapa tidak menghubungi kami?"
"Semalam aku sudah mengirimi pesan untuk Chanyeol karena mungkin aku akan datang terlambat tapi dia tidak kunjung membalas pesanku. Dari semalam aku harus menjaga ayahku yang sedang sakit dan saat dirumah sakit aku lupa membawa charger ponselku dan berakhir aku tidak bisa menghubungi kalian." Jelas Irene.
"Chanyeol tidak membalas pesanmu?" Irene menggangguk lemah, kemudian ia mengambil kedua tangan Baekhyun. "Apa aku bisa membuat Chanyeol juga mencintaiku, Baek?" Tanya Irene dengan tiba – tiba pada Baekhyun karena sampai detik ini ia merasa jika Chanyeol tidak mencintainya juga atau lebih parahnya Chanyeol sama sekali tidak menunjukan ketertarikan pada dirinya sama sekali. Perlakuan cuek Chanyeol membuat Irene frustasi dan satu - satunya cara adalah memberitahu Baekhyun dan Baekhyun pasti akan membantunya.
Baekhyun tersenyum. "Tentu saja bisa! Aku akan selalu membantumu."
"Benarkah itu? Terima kasih, Baekhyun-ah." Irene menatap Baekhyun penuh harap. Baekhyun menganggukan kepalanya dan matanya menangkap tubuh tinggi Chanyeol yang sudah kembali. Tak banyak kata ia segera memanggil Chanyeol.
"Ada apa, Baek?"
"Hari ini kau pulanglah dengan Irene dan antar dia sampai rumahnya." Ujar Baekhyun yang langsung dapat kerutan di dahi Chanyeol. Apa Baekhyun tidak sedang bercanda mengatakan hal itu?
"Kau tidak salah mengatakan itu, Baekhyun-ah? Lalu bagaimana denganmu?"
Baekhyun menggeleng pelan. "Tidak, kau tenang saja Chanyeol-ah. Aku baik – baik saja, aku bisa pulang sendiri."
"Mungkin hanya kau yang baik – baik saja tapi tidak denganku, Baek. Aku tidak –"
"Ya kau bisa Chanyeol-ah. Ini perintah dan aku tidak mau penolakan."
Chanyeol terdiam setelah mendengarkan itu. Mata bulatnya menatap Baekhyun dengan datar, hatinya terasa teremas begitu kuat. Baekhyun yang seperti ini semakin tidak bisa ia kenali. Chanyeol tidak mengerti sama sekali apa yang ada di dalam otak Baekhyun.
"Baik, ayo kita pergi." Ajak Chanyeol pada Irene langsung meninggalkan tubuh Baekhyun. Irene tersenyum dan melambai pada Baekhyun sebelum menyusul tubuh tinggi Chanyeol yang sudah terlebih dahulu keluar dari kelas.
Baekhyun menatap punggung mereka yang akhirnya menghilang. Sebenarnya ia tidak ingin memaksa kehendak Chanyeol tapi ketika ia melihat tatapan penuh luka milik Irene tadi membuatnya merasa melihat dirinya.
Yah, Luhan tau bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan itu.
.
.
.
[TBC]
.
.
.
[Epilog]
.
.
.
"Hyung!"
Teriakan kencang dari seorang anak berusia 7 tahun itu berlari menuju anak laki – laki yang usianya lebih tua satu tahun darinya. Yang di panggil olehnya pun langsung menolehkan kepalanya dan tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya serta melambaikan tangan padanya.
"Oh Sehun!"
Yah, anak itu bernama Oh Sehun berlari menghampiri teman bermainnya dengan semangat sampai tidak melihat ada batu yang membuatnya hingga terjatuh ke tanah.
Teman Sehun yang melihat itu begitu terkejut lalu menghampiri Sehun yang masih dalam posisi tengkurap di tanah. "Kau tidak apa – apa?" Tanyanya dengan nada yang begitu khawatir. Ia membantu Sehun untuk berdiri.
Tak bisa di tutupi lagi jika sebentar lagi Sehun akan menangis akibat rasa sakit yang bersarang di lututnya. "Luhannie hyung... ini sakit hiks..." Rengeknya pada temannya yang ia panggil sebagai 'Luhannie hyung' sambil menunjuk ke arah lututnya yang lecet.
Luhan tersenyum kecil pada Sehun yang sudah menangis kemudian ia menghapus airmata Sehun yang mulai berjatuhan di pipinya. "Anak laki – laki itu tidak boleh menangis, Sehunnie. Anak laki – laki itu harus kuat kalau kuat nanti bisa melindungi orang yang kita sayangi."
Sehun yang masih sesegukan hanya menatap bingung ke arah Luhan. Ia tidak terlalu mengerti apa yang Luhan katakan hanya bisa terdiam. Luhan menarik tangan Sehun hingga mereka terduduk di bawah pohon yang cukup rindang.
"Tahan ne?"
Luhan membasahi jarinya dengan air liurnya kemudian air liurnya itu ia olesi di luka lecet Sehun sehingga membuat tangis Sehun semakin kencang karena merasa perih yang luar biasa.
"Hyung... sakit hiks..."
"Kan sudahku bilang. Anak laki – laki itu harus kuat!" Seru Luhan dengan tegas. Ia mengeluarkan sebuah plester dari kantongnya. Luhan memang suka membawa plester ketika bermain di luar. Ibunya yang menyuruhnya, antisipasi jika Luhan ataupun temannya ada yang terluka.
"Tapi ini sakit hyung." Luhan mengabaikan rengekan Sehun, ia memakaikan plester itu pada luka Sehun lalu mengecupnya dengan lembut membuat tangisan Sehun kecil terhenti. "Kata ibuku, kalau mengecup luka seperti tadi bisa mempercepat kesembuhan luka Sehunnie."
"Benarkah?" Sehun menatap Luhan dengan tatapan polos khas anak kecil. Luhan tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. "Tentu saja!"
Senyum yang Luhan berikan menular ke Sehun. Namun tak beberapa lama senyum di wajah mungil Sehun hilang dan tergantikan bibir mengerucut, begitu lucu. Ia menundukan kepalanya dan menatap lukanya yang telah di tutupi oleh plester.
Luhan yang merasakan ekspresi aneh Sehun langsung mengerutkan dahinya.
"Tapi Sehunnie tidak bisa bermain bola dengan Luhannie hyung karena luka ini." Lirihnya. Luhan mengusap surai hitam Sehun dengan gemas. Saat ini Sehun benar – benar menggemaskan di matanya.
"Tidak apa – apa. Lagian hari sudah mulai sore. Ayo biar hyung antar Sehunnie pulang." Luhan bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya di hadapan Sehun yang langsung di terima olehnya.
Mereka berjalan beriringan meskipun Sehun berjalan tertatih di bantu oleh Luhan. Di perjalanan tak ada hentinya Luhan mengeluarkan cerita leluconnya agar Sehun bisa lupa akan rasa sakitnya. Dan itu semua tidaklah sia – sia sampai mereka berada di depan rumah Sehun.
Mereka terhenti sesaat di depan rumah Sehun karena ia mendengar suara jeritan wanita dan juga suara pecahan benda kaca.
"Apa kau bertemu dengannya lagi? Aku sedang sakit, Kyuhyun! Demi Tuhan, istrimu ini sedang sakit!"
Mereka berdua terkejut ketika pintu rumah Sehun tiba – tiba terbuka dan menampilkan seorang pria dengan wajah yang tampan dan juga di belakangnya ada seorang wanita yang penampilannya sudah sangat kacau.
Pria itu menatap Sehun dan Luhan secara bergantian.
"Ayah." Lirih Sehun menatap sang ayah kemudian menatap sang ibu dengan keadaan yang sangat kacau.
"Kyuhyun!" Teriak wanita itu – Songhye yang tak lain adalah ibu kandung dari Sehun yang berhasil menahan tangan kanan Kyuhyun – suaminya. Pria itu melepaskan tangan Songhye dengan perlahan, ia membalikan tubuhnya menghadap ke arah Songhye dan menatapnya lembut.
"Sebelumnya kita sudah pernah sepakat bukan? kau tidak akan mengurusi hubungan percintaanku dan juga – "
"Tidak Kyuhyun! A-aku tidak bisa – "
"Ya kau bisa karena kita sudah berjanji dulu!"
Setelah mengucapkan itu Kyuhyun kembali membalikan tubuhnya kembali karena emosinya kembali memuncak, padahal niat awalnya ia ingin berbicara baik – baik pada istrinya, ia berjalan beberapa langkah dari pintu rumahnya. Ia berusaha untuk mengabaikan segala bentuk panggilan yang Sehun berikan untuknya.
"Pergi! Pergilah untuk jalang itu!" Teriakan Songhye berhasil membuat Kyuhyun menghentikan langkahnya. Dengan perasaan kalut wanita muda itu menarik tubuh mungil Sehun ke dalam pelukannya kemudian matanya tak lepas menatap Luhan dengan tajam. Kebenciannya meluap pada bocah yang selama ini menjadi teman akrab Sehun, anaknya.
"Jalang itu adalah ibumu Luhan! Jangan pernah bermain lagi dengan Sehunku!" Serunya dengan kencang pada Luhan.
Anak laki – laki berusia 8 tahun itu dengan cepat menggelengkan kepalanya karena apa yang dikatakan oleh ibu Sehun tidaklah benar. "Ibuku bukan jalang! Ibuku wanita baik – baik!" Sergahnya dengan tak kalah kencang tak terima dengan penghinaan yang ibu Sehun berikan untuk ibunya.
"Bukan jalang katamu? Mana ada wanita yang merebut suami orang seperti ibumu! Ibumu telah menghancurkan keluarga Sehun! Ibumu – "
"Cukup Songhye!"
Dengan cepat Kyuhyun membalikan tubuhnya dan berjalan mendekat ke arah mereka, wajah kesalnya menatap ke arah wanita yang telah menjadi istrinya selama 7 tahun ini lalu Ia memandangi Luhan yang sudah beruraian air mata, Kyuhyun tau perasaan Luhan saat ini. Mana ada seorang anak seusia Luhan yang akan tahan jika ibunya di jelek – jelekan seperti itu? Songhye benar – benar sudah keterlaluan.
Kyuhyun meraih tangan mungil Luhan. "Cukup Songhye, hentikan semua omong kosongmu itu. Sehun, kau ajak ibumu masuk ke dalam dan suruh dia untuk beristirahat." Setelah mengucapkan itu Kyuhyun mengajak Luhan untuk pergi dari tempat ini.
Perasaan kalut kembali menghampiri Songhye karena awalnya Songhye hanya menggertak suaminya saja. Tidak, suaminya tidak boleh pergi lagi. Ketika ia ingin berteriak lagi tiba – tiba saja di bagian dadanya merasakan sakit yang luar biasa. Sehun yang melihat pergerakan aneh ibunya, kemudian menjerit histeris.
"Ibuuuu!" Jeritnya ketika melihat ibunya terjatuh di lantai.
A/N:
Hai~ What If back. sebelumnya maaf updatenya ngaret soalnya bimbang mau ngasih enceh atau engga wkwk :'v. thnks banget yang udh mau ngereview, follow ataupun ngefav di semua ff saya yang abal-abal ini dan juga siders, sekali2 komen lah biar tau wkwk.
Yosh! ga usah banyak omong lagi, Mind to review for next chapter?
Bogor, 5 Oktober 2010/6:40
