Are you serious want to meet me again?

Babe, I've warned you.


Aku akan bercerita, jauh jauhh sebelum aku bertemu Chanyeol.

Kau tahu, aku mempercepat kematian pamanku, bukannya membunuhnya. Setelah itu, aku terlunta-lunta di jalan. Sial sekali bukan? Untungnya aku membawa uang dan perhiasan peninggalan bibi, jadi aku tak akan takut kehabisan uang.

Paman memang menyebalkan, kau tahu. Selain dia yang selalu menyodokkan penis besarnya ke lubangku, dia juga suka menyiksaku. Dari kecil, ah aku lupa umur berapa. Pokoknya aku sudah tinggal dengan paman ketika ku pergoki dia yang sedang mencongkel mata bibi. Seru sekali, kedua mata itu kemudian aku berikan kepada mong-mong, anjing peliharaanku yang sudah mati.

Ah, kalau aku ingat mong-mong perutku jadi lapar. Mong-mong mati di penggorengan, salah siapa tak ada makanan, jadi aku menggorengnya.

Peninggalan bibi disimpan rapi oleh paman untuk berjudi dan membeli pelumas. Hihihi, lubangku kan masih saja sempit, jadi paman tetap butuh lubricant untuk memasukiku.

Sekarang paman sudah mati. Aku tak khawatir mayatnya akan berbau, karna aku sudah menyimpannya dalam kulkas yang menyala dengan banyaaakk sekali kapur barus. Jahat-jahat begitu, aku tetap sayang pada paman. Pemuas nafsuku.

Setelah berjalan kesana kemari, kini aku telah mendapatkan penginapan. Ibu pemiliknya sangat baik, membuatku kasian. Sama sekali tak bertanya apapun kepadaku, hanya menyuruhku untuk segera beristirahat.

Aku merebahkan diri ke kasur. Memikirkan tuan penolong yang sama sekali tak ku ketahui keberadaannya. Dia sangat tampan, pasti penisnya sebesar paman atau lebih? Aku jadi senyum-senyum sendiri membayangkan betapa lubangku akan penuh oleh kenikmatan. Kapan-kapan akan ku ceritakan ketika paman menggagahiku, jadi kau bisa mengira-ngira standar yang ku berikan ketika bertemu tuan penolong nanti. Kan, aku jadi tertawa cekikikan tidak jelas. Tapi, ah, tunggu sebentar ya, ada yang mengetuk pintu kamarku!

.

.

Oh halo Ibu pemilik penginapan!