ACCA 13-ku Kansatsu Ka sepenuhnya adalah mahakarya Natsume Ono. Fiksi ini diperuntukkan hanya untuk kesenangan batin. Tidak ada keuntungan material diperoleh.

Somekind of Hero © Imorz

Jean berada di puncak. Nino bersedia membantunya turun dengan selamat.

[ 30 Days Fanfiction Challenge: Day 1—ABO Universe ]


Nino menemukan Jean meringkuk di samping lemari sedang memeluk lutut, beserta ruangan yang penuh dengan aroma omega melimpah dan mata Jean bergulir menghitung jumlah jari kakinya terus-menerus; sekiranya mampu mengatasi nafsu seksual yang membuncah yang merundung otak dan tubuhnya.

Hidung Nino menghirup aroma itu—aroma yang membuatnya menyesal terlahir dan hidup sebagai seorang alpha. Menjadikannya makhluk yang dipuja sekaligus ditakuti karena kaumnya dianggap superior dan di atas rata-rata. Bodoh sekali. Jika alpha memiliki kasta lagi, maka Nino ingin menjadi alpha urutan terakhir, yang mendekati beta, karena ia condong lebih tertarik dengan kamera dan motor; enggan sekali berbaur ke dalam kelab malam atau tempat kumpul kebo, karena Nino tahu hewan buas dalam dirinya akan menjadikannya setan dalam sehari.

"Jean, mana obatmu?"

Jean menggigit bibir bawahnya, ia tidak bisa menjawab, ia tidak bisa berbicara. Selain meminta pertolongan, Jean terus menyumpahi dirinya dan dunia ini.

Kemungkinan besar Jean meninggalkan obatnya di suatu negeri ketika dia sedang melakukan audit dan kebetulan heat-nya datang bukan disaat yang tepat.

Insting bergerak. Nino terpantik.

Sekali alpha, tetaplah alpha. Sial sekali. Demi apapun, Jean adalah orang terakhir yang harus ia setubuhi, jika itu diperlukan. Berteman dengan seorang omega memang memiliki risiko yang besar, dan mereka hampir dapat melaluinya sejak masih berseragam sekolah hingga Jean menekuni pekerjaannya di ACCA.

Kesalahan seperti ini baru kali ini Jean lakukan. Baru kali ini Jean teledor.

Wajahnya begitu merah disertai cucuran peluh. Nino menatap kasihan pada tubuh yang gemetar itu (ia sendiri dilema, siapa yang harus dikasihani: Jean atau selangkangannya?).

"Mari, Jean."

Suara berat Nino menelusuk ke dalam telinganya; alih-alih memanfaatkan, kehadiran Nino ada untuk membantu. Jean seratus persen percaya pada lelaki ini. Ia berpasrah dan berserah, awal hingga akhir.

Mungkin baru kali ini Jean melihat ekspresi Nino yang seperti itu? Bagaimana sobatnya itu mati-matian menahan hasrat demi sebuah jalinan persahabatan. Ia setengah mati membendungnya karena tidak ingin merusak Jean. Lain cerita jika yang meminta adalah orang lain.

Jean menyibak rambut, ia perlihatkan lehernya pada Nino yang menggeram.

"Lakukan," ujarnya dengan mantap. Tanpa getir dan takut. Setiap risiko akan ia terima dikemudian hari.

Nino terkesiap. "Jangan. Aku bukan orang yang baik untuk kau."

"Aku pun bukan orang yang baik, Nino."

Nino menambahkan jeda pada aksinya. Pada akhirnya memutuskan untuk tidak menyerahkan Jean pada siapa pun, bahwa Jean adalah separuh hidupnya dan Nino akan mati jika Jean mati. Ia berikan simbol di leher Jean, juga sebagai perkenalan untuk lelaki lain yang coba ingin memilikinya.

Hari itu Nino berhasil menyelamatkan Jean, sekaligus memperoleh pendamping hidup.

.

.

.

Selesai.