TIME MACHINE

Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : Naruto and Hinata

Genre : Adventure, Romance maybe

Rated T

Warning : Typo(s), OOC, abal, humor garing dan kesalahan lainnya.

Kritik dan saran diterima dengan sangat terbuka.

ENJOY

Kantor Hokage, sebuah gedung pusat pemerintahan desa Konoha. Merupakan tempat bekerja seorang pemimpin desa yang dikenal dengan sebutan Hokage. Sepanjang hari seorang Hokage bekerja mengurus segala hal tentang desa. Dari keamanan desa, perjanjian dengan desa lain dan tentu saja mengurus misi para ninja. Dialah orang yang menerima permintaan misi dari mereka yang membutuhkan bantuan seorang ninja. Hingga memeriksa dokumen laporan dari para ninja yang telah sukses menjalankan misinya. Maka tidak heran, kertas-kertas dokumen selalu menggunung di meja sang Hokage.

Di luar gerbang kantor Hokage, berdiri seorang pria dewasa dengan rambut silvernya yang bermusuhan dengan gravitasi. Dia adalah Kakashi Hatake, guru pembimbing tim 7 yang beranggotakan Haruno Sakura, Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke. Kakashi sedang menunggu kedatangan anggota timnya untuk melaksanakan misi dari sang Hokage. Sudah satu jam dia menunggu anggota timnya, namun masih belum ada tanda-tanda kedatangan mereka bertiga. Mungkin ini karma, karena biasanya dia lah yang selalu datang terlambat. Dia bisa saja mencari para ninja didikannya itu. Sayang, dia terlalu malas untuk melakukan hal itu dan lebih memilih untuk membaca novel favoritnya.

Dari kejauhan, dua orang anak sedang berlari menuju tempat Kakashi berada. Kakashi melihat ke arah mereka dan menyadari bahwa mereka adalah Sakura dan Sasuke. Setelah semakin dekat, ternyata ada orang ketiga di antara mereka. Orang ketiga tersebut sedang diseret Oleh Sakura. Selama berlari Sakura terus mencengkram kerah baju bagian belakang si orang ketiga.

"Ada apa dengan Naruto?" tanya Kakashi pada Sakura saat ketiga ninja muda itu tiba di hadapannya.

"Dia pingsan sensei, hosh-hosh. Aku terpaksa menghajarnya karena dia terus berkata hal yang aneh-aneh. Hosh-hosh-hosh" jawab Sakura yang terlihat kelelahan akibat aktifitas 'lari paginya'.

"Berkata hal aneh? Jelaskan padaku lebih jelas sambil menuju kantor Hokage! Kita sudah sangat terlambat" Kakashi berjalan mendekati Sakura dan mengambil alih Naruto dari gadis muda itu. Dia mengangkatnya lalu membawa Naruto di atas bahu kanannya. Langkah kakinya menuju ke arah gedung Hokage diikuti oleh kedua murid di belakangnya.

Setelah berada di dalam, Kakashi kembali menanyakan insiden tadi pada Sakura.

"Sekarang jelaskan padaku! Apa maksudmu yang tadi, Sakura?" Kakashi masdih berjalan di depan kelompok itu. Sakura dan Sasuke mempercepat langkahnya untuk menyusul dan berjalan di samping sang guru. Mereka melewati lorong dan tangga menuju ke lantai atas di mana ruangan sang Hokage berada.

"Naruto bertingkah aneh, Sensei. Dia terus berkata dunia apa ini? Apa itu misi? Siapa itu Hokage? Bahkan dia bilang tidak mau ikut karena tidak bisa mengikuti kami melompat di atas pohon. Jadi aku terpaksa menghajarnya" jelas Sakura. Sasuke hanya berjalan di sampingnya tanpa ada niat untuk membantu menjelaskan.

"Begitukah? Apa itu benar Sasuke?" Kakashi mengalihkan matanya pada pemuda raven itu.

"Hn" jawab Sasuke singkat.

'yare-yare, apa aku tidak mempunyai murid yang normal di tim ini? Yang perempuan, dengan alasan terpaksa dia bisa melakukan hal keji pada temannya. Si bocah Uchiha, selalu irit bicara. Lagi pula apa arti kata "hn" itu, iya atau tidak? Dan bocah yang satu lagi, aku tidak perlu lagi menggambarkan betapa merepotkan kelakuannya' batin Kakashi sang ninja bermasker.

Saat tiba di depan pintu ruangan Hokage, Kakashi berjongkok untuk menurunkan Naruto dan menyenderkannya pada dinding di samping pintu.

"Baiklah, aku akan tanyakan itu pada Naruto nanti. Sekarang kita harus masuk dan menghadap Hokage" ucap kakashi dan dibalas anggukan oleh Sakura.

"Hoi Naruto! Bangun!" Kakashi mencoba membangunkan Naruto dengan menggerak-gerakkan bahunya. Tapi Naruto malah menghiraukan Kakashi dan mengigau "Aku masih ngantuk, Ayah".

'Ayah?' batin Kakashi.

Hal itu membangkitkan amarah Sakura yang berada di belakang Kakashi.

"Biar aku saja, Sensei!" ucap Sakura.

Kakashi berdiri lalu mundur kebelakang, membiarkan Sakura yang mengurus sisanya. Gadis merah jambu itu mengepalkan tangannya dan bersiap membangunkan Naruto dengan cara yang lebih "lembut".

Merasa ada hawa kematian, Naruto mencoba untuk membuka matanya walau berat. Ketika matanya setengah terbuka, dia melihat sosok perempuan di hadapannya.

"Hm? Ternyata kau lagi?" ucapnya.

"Cepat bangun! Atau kau ingin merasakan ini lagi?" ancam Sakura. Dia menunjukan kepalan tangannya di depan wajah Naruto. Terlihat tanda perempatan di kepalan tangan itu dan aura gelap di belakang sakura.

"Astaga, kau tidak harus melakukan kekerasan untuk membangunkan seseorang! Mana ada laki-laki yang mau menikahimu nanti?" ucap Naruto malas. Dia meregangkan tubuhnya lalu mengelus pipi yang masih terasa sakit akibat kekerasan sebelumnya.

"Apa kau bilang?" Sakura bersiap memberikan Naruto satu lagi sentuhan "lembut"nya.

"Sakura, sudah hentikan! Kita harus segera masuk, Hokage-sama sudah menunggu" Kakashi mencegah keributan lebih lanjut antara kedua bocah bimbingannya itu.

"Tapi, Sensei?" protes Sakura, namun tatapan Kakashi padanya menyurutkan amarah yang sempat meluap.

Kakashi mengetuk pintu dan membukanya setelah mendapat izin dari si empunya ruangan tersebut. Naruto yang sudah berdiri, melihat ke arah orang yang disebut Sensei oleh Sakura.

'Sensei? Apa dia seorang guru sekolah? Dan siapa itu Hokage-sama?' tanyanya dalam hati.

Naruto dan tim 7 sudah berada di dalam kantor Hokage dan berdiri sejajar. Mereka disambut dengan tatapan membunuh dari balik kursi di ujung ruangan. Terlihat wanita "muda" berdiri dari kursinya dan menggebrak meja.

"Dari mana saja kalian, HUH?" ucapnya menggelegar.

"Hei, bocah sok keren! Siapa dia?" tanya Naruto pada pemuda raven di sampingnya.

"Urusai!" jawab sang bocah yang ditanya.

"Hah? Kau tidak punya sopan santun ya? Apa keluargamu-"

"NARUTO!"

Ucapan Naruto terpotong oleh raungan wanita di hadapannya.

"Iya?" jawab Naruto, dia langsung mengalihkan pandangannya ke depan.

"Sebelum kau berbicara tentang sopan santun, hargailah orang yang sedang berbicara di depanmu!" hardik wanita "muda" itu.

"Yes mom!" jawab Naruto malas.

Semua orang di ruangan itu melirik dengan tatapan aneh ke arah Naruto.

Merasa bertanggung jawab, Kakashi mencoba mendinginkan suasana "Maafkan ketidaksopanannya, Hokage-sama"

"URUSAI, KAKASHI!" sembur sang Hokage.

'Jadi dia yang dipanggil Hokage' batin Naruto.

"Tidak bisakah kau berhenti membuat ulah, Naruto? Bukankah kau yang meminta misi kali ini? Kenapa kau malah datang terlambat?" Naruto dibuat bingung oleh pertanyaan berutun itu.

"Tapi aku tidak pernah merasa sudah meminta hal itu. Bahkan aku baru saja tiba di-"

"Aku belum selesai bicara, bocah! Jangan memotong saat orang yang lebih tua darimu sedang berbicara! KAU PAHAM?" teriak wanita itu.

"Yes Mom!" Naruto menjawab dengan lantang.

"Jangan menjawab dengan bahasa yang tidak aku mengerti, Bocah pirang!"

"I-iya hokage-sama" jawab Naruto terbata-bata.

'Ya ampun, muncul satu lagi monster perempuan di sini. Sebenarnya dunia macam apa ini?' batinnya.

Sementara itu Kakashi hanya menggaruk kepala belakangnya dan tersenyum, merasa bersalah atas kelakuan anak didiknya. Sakura menepuk jidatnya sendiri melihat teman satu timnya lagi-lagi membuat ulah. Sedangkan Sasuke hanya mengalihkan perhatiannya ke arah lain tidak peduli.

"Kau bukan lagi murid Akademi, Kau sudah menjadi seorang Genin. Tidak seharusnya kau berbuat hal yang merepotkan lagi!" wanita di depan Naruto memijit pelipisnya saat berbicara kepadanya.

'Murid akademi? Genin? Istilah apa lagi itu?' batin Naruto.

"Bahkan guru pembimbingmu mengalami kesulitan mengurusmu. Kau harusnya bisa lebih bertanggung jawab" lanjut wanita itu.

Naruto melihat ke arah Kakashi dan mulai mengerti situasinya.

'Jadi dia guru pembimbingku ya?' Naruto mulai tersenyum, karena akhirnya paham akan situasi yang menimpanya.

"Kau dengar tidak, Bocah pirang?" sang Hokage kembali duduk di balik meja yang dipenuhi oleh dokumen-dokumen penting di atasnya.

"Aku mengerti, Hokage-sama" jawab Naruto penuh percaya diri.

Semua orang bernafas lega karena bocah pirang itu telah menyadari kesalahannya.

"Baiklah, apa yang sudah kau mengerti, Naruto?" tanya sang hokage melembut.

"Aku minta maaf, hokage-sama. Aku akan memperbaiki kesalahanku" jawab Naruto tulus. Sang Hokage menganggukkan kepala, merasa Naruto sudah mengerti.

"Aku berjanji!" ucapnya lantang. Semuanya bersiap mendengarkan janji itu.

"Aku tidak akan terlambat ke sekolah lagi. Aku akan mengerjakan PR dan semua tugas musim panas yang diberikan oleh Sensei di sekolah ini. Aku akan rajin mengikuti kegiatan klub. Aku akan-"

-BUAGH-

Pukulan Sakura memotong penyampaian janji "suci" Naruto. Membuat Naruto terbang dan menabrak tembok dengan posisi terbalik.

"APA YANG KAU BICARAKAN, BAKA?" teriak Sakura murka.

"ASTAGA, APA KAU TIDAK BISA BERHENTI MEMUKUL ORANG, GADIS MONSTER?" balas Naruto tak mau kalah berteriak pada Sakura. Dia mengalihkan pandangannya ke arah sang Hokage untuk meneruskan protesnya.

"Hei, Kepala sekolah! Apa sekolah ini membiarkan muridnya melakukan kekeras- Eh?" ucapan Naruto kembali terpotong karena dia merasakan aura yang sangat mematikan dari arah sang Hokage.

"NA-RU-TOO!" teriakan itu membuat semua orang mengalihkan pandangan ke sumber suara. Sang Hokage berdiri dan mengepalkan tangannya. Perempatan siku-siku nampak jelas di kening dan kepalan tangannya. Dia mengakat tangannya tinggi dan menghepaskannya ke meja.

-BRAKKKK-

Suara tabrakan tangan dan meja terdengar sangat keras, tubrukan itu membuat kerusakan parah pada meja dan membuat keretakan pada dindin kantor, bahkan mampu menimbulkan debu yang berterbangan hingga menyelimuti seluruh ruangan.

Suara kehancuran itu bahkan terdengar keluar. Para penjaga pintu kantor Hokage dan orang-orang yang kebetulan lewat menatap bingung ke arah kantor tersebut. Sedangkan seorang pria bermasker sedang menatap ruangan yang hancur dan diselimuti asap yang menutupi pandangan mata. Dia sedang berdiri di atas pohon dekat kantor Hokage. Pria bermasker itu tidak lain adalah Hatake Kakashi, Dia satu-satunya yang selamat dari kekacauan itu. Pria berambut silver itu hanya bisa menghela nafas melihat keributan anak didiknya dengan sang pemimpin desa Konoha.

"Yare-yare"

Ω

Naruto kini sedang berada di gudang penyimpanan barang desa Konoha. Dia menerima hukuman dari sang Hokage alias Tsunade Senju untuk membersihkan gudang itu dari pagi hingga siang selama satu minggu penuh. Sementara anggota yang lain tetap melanjutkan misi mereka. Naruto benar-benar tidak tahu apa yang salah dari penjelasannya. Dia menganggap semua penjelasannya masuk akal. Apa peraturan di dunia ini berbeda dengan dunia asalnya? Apa semua manusia di dunia ini memang sudah gila? Lagipula kenapa dia harus tersesat di dunia seperti ini? Dia terus memikirkan kesialannya selama mengerjakan hukuman itu.

"Aku harus segera mencari cara untuk kembali ke dunia asalku. Tapi bagaimana caranya? Sejauh yang kulihat dunia ini begitu ketinggalan jaman, mana ada bahan-bahan yang bisa kugunakan untuk membuat mesin waktu" Naruto mengela nafas mengetahui takdirnya.

"Yang dilakukan mereka hanya melompat kesana-kemari. Apa kerennya? Mereka pikir mereka spider-man apa?

-KRIUUUK-

"Aduh, aku lapar" keluhnya.

Dia menatap matahari yang telah mencapai puncak singgasananya "Sepertinya ini sudah waktu makan siang. Sebaiknya aku mencari makan sekarang"

Naruto membereskan peralatan yang dia gunakan untuk bersih-bersih dan menyimpannya di ruang penyimpanan. Mengunci pintu gudang dan melangkah menjauh.

Di tempat lain, anggota tim 7 yang lain masih melanjutkan perjalanan. Mereka melompat dari dahan ke dahan secara konsisten.

"Sensei?" Sakura memecah keheningan yang terjadi sejak keberangkatan mereka dari Konoha. Kakashi hanya melirik ke samping sebagai tanda dia mendengarkan.

"Apa kau tidak merasa aneh? Maksudku, hari ini Naruto seperti bukan dirinya, kan?" lanjut Sakura.

"Aku tahu itu. Aku akan menyelidikinya sepulang dari misi. Jadi, untuk sekarang kita harus fokus pada misi ini" jelas Kakashi.

"Ini berlaku untukmu juga, Sasuke!" Kakashi melirik ke arah Sasuke di belakangnya. Dia bisa merasakan bahwa Sasuke sedang tidak fokus dari tadi pagi.

"Hn" hanya itu yang keluar dari mulut sang pemuda raven. Untuk kesekian kalinya, para ninja muda itu membuat Kakashi menghela nafas.

"Baiklah, ayo bergegas!" perintahnya.

Mereka bertiga menambah kecepatan lajunya. Melewati pohon-pohon dengan cepat dan semakin menjauh masuk ke dalam hutan.

Kembali ke protagonis utama. Naruto telah selesai mengisi perutnya dengan makanan-makanan lezat dari kedai yakiniku. Untunglah dia menemukan sejumlah uang tak bertuan di dalam dompet katak yang terselip di kantong ninjanya. Sebuah tas yang menyerupai tas pinggang itu digunakan untuk menyimpan peralatan ninja ataupun benda penting lainnya.

Saat ini, Naruto sedang berada di depan perpustakaan Konoha untuk menggali infornasi tentang dunia yang sementara menjadi rumahnya.

"Hm?" Merasa ada yang aneh, Naruto melirik ke arah persimpangan jalan di samping kirinya. Namun tidak ada apa-apa di sana.

"Mungkin hanya perasaanku"

Dia mengangkat bahu lalu masuk ke dalam perpustakaan.

Setelah berada di dalam, Naruto mulai mencari berbagai macam buku sebagai bahan informasi. Banyak sekali buku yang disediakan perpustakan. Buku-buku itu tersusun rapi di atas rak besar yang berjejer.

Puas Memilih 10 buku, Naruto memutuskan membawanya ke meja baca di pojok perpustakaan untuk langsung membaca semuanya. Naruto mempunyai daya ingat yang sangat luar biasa. Dengan sekali lihat, dia bisa mengingat dengan jelas objek atau kejadian apapun dan menyimpan semua informasi itu di dalam memori otaknya. Dia sangat menguasai bidang Bio-kimia, Fisika, Matematika dan tentu saja segala hal tentang Teknik mesin. Namun dalam ilmu sejarah dia mendapat nilai nol besar. Otaknya memang jenius namun dia masih sering melakukan hal-hal ceroboh di saat yang tidak tepat.

"Sejarah Shinobi?" Naruto sedikit tidak tertarik saat membaca buku pertama. Namun informasi ini sangat penting untuk pengetahuannya tentang dunia yang dia tempati saat ini. Akhirnya dengan terpaksa dia membuka lembar pertama.

lembar demi lembar telah dibacanya. Namun pada lembar kesepuluh dia menutup buku itu.

"Astaga, sejarah benar-benar membosankan" keluhnya. Dia mengambil buku lain untuk dibaca.

"Cakra dan Jutsu" Dia membaca judul buku kedua dan membuka halaman pertama.

"Lumayan menarik" lanjutnya.

Hanya dalam waktu satu jam, Naruto mampu menyelesaikan buku kedua yang tebalnya hingga ratusan halaman dan langsung mengambil buku ketiga.

"Ternyata semuanya masih berhubungan dengan Sains. Di duniaku mungkin dianggap mustahil, memaksimalkan potensi tubuh manusia hingga ketingkat selanjutnya. Tapi pengembangan teknologi pun dianggap hal mustahil dulunya. Sering kali manusia memang membatasi semuanya dengan logika yang dangkal" ucapnya sebelum membuka lembar pertama buku ketiga.

Naruto mempunyai metode sendiri untuk membaca sebuah buku. Dia sering membaca buku hanya pada bagian pengertian dan contoh nyatanya. Setelah itu, otak jeniusnya lah yang akan menyimpulkan sistem kerja dari hal tersebut dan merangkai semuanya menjadi pengetahuan yang utuh. Hal ini dapat terjadi karena informasi lama yang ada dalam otak Naruto tidak pernah pudar atau bahkan hilang. Secara otomatis, informasi lama akan selalu terhubung dengan informasi baru yang berkaitan. Didunianya, Naruto tidak pernah bosan membaca buku tentang Sains. Bahkan dia selalu meneliti dan ingin menciptakan penemuan baru dalam bidang tersebut. Semua informasi yang dia dapat selalu melekat erat pada otaknya. Bisa dikatakan bahwa memori otak Naruto layaknya memori komputer yang menyimpan semua informasi dengan sangat rapi dan teratur. Harus melalui kerja keras, latihan dan adanya bakat alami hingga manusia mampu melakukan hal tersebut.

Tidak terasa, matahari sudah condong ke sisi barat. Sudah berjam-jam waktu yang dihabiskan oleh Naruto di dalam perpustakan. Dia masih membaca buku terakhirnya, namun terpaksa berhenti karena merasa terganggu oleh sesuatu yang berada di balik rak buku tidak jauh dari tempatnya. Dia menutup buku lalu menyusunnya di atas buku lain.

-POOF-

Naruto berhasil menghilang dan berpindah dari tempatnya dukuk ke belakang rak buku yang dia curigai.

'Aku rasa ini yang disebut Sunshin no jutsu. Lumayan juga untuk percobaan pertama, walau masih jauh dari target sebenarnya' batinnya.

Dia melihat ada seseorang di sana. Seorang gadis seumuran dengannya. Rambut indigonya pendek dan mengembang di bagian bawahnya. Posisi gadis itu membelakangi Naruto dan terlihat sedang kebingungan. Naruto mendekatinya perlahan lalu mencoba menegurnya.

"Hei, Gadis kecil! Kau melakukan hal yang mencurigakan. Sedang apa kau di situ?" Daripada menegur, ucapan Naruto lebih seperti mengintrogasi.

Gadis kecil itu dengan cepat membalikan tubuhnya.

"N-Na-Naruto-kun?" Dia gelagapan mengetahui siapa yang ada di belakangnya.

'Hm? Dia mengenalku, Siapa dia?' batin Naruto. "Dari tadi kau terus mengikutiku, bahkan sejak dari kedai yakiniku kan? Apa kau ada urusan denganku?" Naruto menanyai gadis kecil yang sedang menunduk itu.

"A-a-ano, a-ano" Gadis itu meremas baju bawahnya, tidak tahu harus bicara apa. Dia tidak pernah dipergoki seperti ini sebelumnya.

"Ya?" ucap Naruto, mencoba mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu.

"A-no, a-no" Masih tidak bisa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, gadis itu makin keras meremas bajunya. Wajahnya bahkan sampai memerah karena gugup.

Naruto semakin tidak sabar ingin mendengar Alasan dari gadis di depannya. Dia memutuskan memegang bahu sang gadis dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.

"Kau sudah mengatakan itu berkali-kali gadis kecil, bicaralah lebih jelas!" perintahnya.

Wajah gadis itu semakin memerah, cengkramannya pada baju yang dia kenakan semakin keras, detak jantungnya semakin berdebar lebih kencang dan-

Jatuh pingsan.

"Eh? EEEEH? DIA PINGSAN?"

Ω

Di tempat Kakashi...

Kakashi, Sakura dan Sasuke masih berada di tengah hutan. Setelah berjam-jam mereka berlari, Kakashi memutuskan untuk istirahat dan bermalam di sana. Mereka menemukan area yang cukup lapang di tengah hutan. Tempat yang sangat cocok untuk bermalam. Aman dari dahan-dahan pohon yang mungkin bisa terjatuh menimpa mereka ketika tertidur dan cukup luas untuk menghadapi keadaan yang tidak diinginkan lainnya.

"Kita akan bermalam di sini dan melanjutkan perjalanan besok pagi" ucap Kakashi. Dia menaruh tasnya di atas tanah dan memandang ke sekeliling daerah tersebut. Kedua ninja didikannya hanya menganggukan kepala sebagai respon. Sakura mengambil botol minuman di dalam tasnya dan meminum isinya. Sementara Sasuke hanya menyandarkan tubuhnya yang kelelahan pada pohon di belakangnya.

"Sasuke! Tolong kau cari ranting kering untuk dijadikan perapian. Dan Sakura, bantu aku memasang tenda!" perintah Kakashi pada kedua ninja di sampingnya.

Sasuke segera beranjak dari tempatnya lalu berjalan menjauh ke dalam hutan yang lebih lebat. Pikirannya melayang, bayangannya masih terpaku pada kejadian saat Naruto berhasil mengalahkan ninja monster bernama Gaara. Seorang ninja yang bahkan tidak bisa dia kalahkan walau sudah berlatih keras dengan Kakashi. Sasuke berjalan gontai dengan tatapan kosong di matanya.

-WUSH-

Tiba-tiba sebuah kunai melesat ke arahnya. Untunglah, relflek tubuhnya yang terlatih bisa membuatnya menghindari serangan itu. Dia melomat ke samping dan mengambil kunai dari kantong ninjanya. Menatap ke sekeliling, mencoba mencari dalang dibalik serang tadi.

"Tunjukan dirimu, pecundang!" Sasuke mencoba memprovokasi lawannya.

Tidak ada tanggapan, Sasuke mengaktifkan Sharingan-nya. Kekuatan mata khas klan Uchiha yang merupakan salah satu Kenkai genkai terkuat di dunia Shinobi. Retina mata Sasuke berubah menjadi merah dengan satu tomoe di retinanya. Namun itu tidak bertahan lama, Sharingan-nya berubah kembali menjadi mata normal. Tanda kutukan berwarna hitam di lehernya menyala, memberikan rasa sakit pada Sasuke.

'Sial! Apa aku terlalu kelelahan?' ucapnya dalam hati.

Mengetahui situasi tidak menguntungkan untuknya, Sasuke mengeluarkan bom asap dan melemparkannya ke bawah. Asap yang timbul memberikan Sasuke waktu untuk bersembunyi. Dia bersembunyi di balik semak-semak tidak jauh dari tempatnya berada tadi.

'Sial! Kenapa aku lari? Apa aku selemah ini? sial,sial,sial' Sasuke memejamkan matanya menahan rasa kesal dan sakit pada lehernya. Tangan kirinya memegangi leher tempat tanda kutukan itu berada. Sedangkan tangan kanannya menggenggam keras sebuah kunai.

Tiba-tiba sasuke membuka matanya dengan cepat. Dia merasakan ada seseorang tepat di belakangnya. Mengeratkan tangan kanannya yang sedang memegang kunai, Sasuke mengayunkannya ke belakang untuk menyerang. Namun sayang, tangannya ditangkap dengan mudah oleh orang itu. Dia melipat tangan Sasuke ke punggung dan mengunci pergerakan Sasuke.

"S-siapa kau?" ucap Sasuke terbata.

.

Tbc...

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.