TIME MACHINE

Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : Naruto and Hinata

Genre : Adventure, Romance maybe

Rated T

Warning : Typo(s), OOC, abal, humor garing dan kesalahan lainnya.

Kritik dan saran diterima dengan sangat terbuka.

Sebelumnya...

Sasuke membuka matanya dengan cepat. Dia merasakan ada seseorang tepat di belakangnya. Mengeratkan tangan kirinya yang sedang memegang kunai, Sasuke mengayunkannya ke belakang untuk menyerang. Namun sayang, tangannya di tangkap dengan mudah oleh orang itu. Dia melipat tangan sasuke ke punggung dan mengunci pergerakan sasuke.

"S-siapa kau?" ucap Sasuke terbata.

ENJOY

Sasuke terus memberontak, mencoba melepaskan diri dari kuncian orang misterius itu.

"Tenanglah, ini aku" ucap orang itu. Sasuke melirik ke arah wajah orang yang mengunci pergerakannya.

"Sensei?"

Orang itu ternyata guru pembimbingnya. Sang ninja peniru, Kakashi Hatake.

"Aku hanya bunshin"

Kakashi melepaskan lengan Sasuke lalu berjongkok di samping muridnya itu.

"Kondisimu terlihat tidak baik" lanjutnya.

Kakashi melihat ke arah leher sasuke. Dia menyadari ada yang tidak beres dengan muridnya. Dia mengambil sesuatu dari kantong ninjanya lalu memberikannya pada Sasuke.

"Makanlah pil ini! Setidaknya bisa sedikit menghilangkan rasa sakit di lehermu"

Sasuke menerima pil itu dan langsung memakannya.

"Dengar! Mereka hanya ninja perampok biasa. Aku yang asli dan Sakura sudah bergerak menuju bukit di sebelah sana" ucap Kakashi menunjuk ke arah samping kiri.

"Kemungkinan kelompok mereka berada dekat di sekitar sini. Akan merepotkan jika kita bentrok dengan mereka semua. Untunglah ninja yang menyerangmu hanya berjumlah 2 orang. Kita bisa mengalahkannya dan langsung menyusul Sakura. Kau sudah tidak apa-apa?" tanyanya.

Sasuke mengangguk, rasa sakit di lehernya sudah mereda. Dia bersiap untuk bertarung sekarang.

"Baiklah, siapkan kunaimu! Kau tidak boleh menggunakan cakra terlalu banyak"

Sasuke menuruti kata-kata gurunya. Dia mengambil empat buah kunai dari dalam kantongnya.

"Bersiap! Ada serangan datang" ucap Kakashi memperingatkan.

-WUSH-

Beberapa kunai terbang menuju tempat persembunyian mereka. Sasuke melompat sekuat tenaga ke atas untuk menghindarinya. Saat melayang di udara, dia melihat seorang pria besar berdiri di dahan pohon sekitar 10 meter darinya. Tidak membuang waktu, Sasuke langsung melempar 4 buah kunai di tangannya. Kunai itu melaju cepat ke arah si perampok.

-TRANG-TRANG-TRANG-

Perampok itu dengan mudah menangkis serangan Sasuke dengan menggunakan pedang.

"Hah? Ternyata hanya bocah ingusan. Bahkan melempar kunai saja meleset, payah!" ucapnya angkuh. Ada satu kunai Sasuke yang meleset dari si pria besar dan menancap di batang pohon tempat kaki pria besar itu berdiri.

'Kena kau'

Pria besar itu menyeringai karena menganggap mangsanya telah masuk keperangkap.

Tanpa diduga teman si pria besar sudah melompat dan melayang di belakang Sasuke. Dia bersiap mengayunkan pedangnya pada Sasuke. Mustahil bagi Sasuke yang sedang berada di udara untuk menghindarinya. Namun Sasuke malah tersenyum.

Kakashi tiba-tiba berada di belakang pria besar yang berdiri di dahan pohon.

"Kau lengah!" ucap Kakashi padanya.

Pria besar itu membulatkan matanya terkejut. Dia terlalu fokus pada Sasuke hingga tidak menyadari kehadiran Kakashi.

-BUAGH-

Kakashi melayangkan tendangan tepat ke arah kepala pria besar itu. Membuat pri itu jatuh terpental ke bawah. Lalu Kakashi meraih benang yang terikat pada kunai Sasuke yang meleset tadi. Benang itu terhubung ke tangan kiri Sasuke. Ternyata Sasuke sengaja mengarahkan kunai yang sudah terikat dengan benang itu ke dahan pohon untuk hal ini. Kakashi menariknya, membuat Sasuke bisa menghindari serangan pedang yang hampir saja menebas punggungnya.

"A-apa?" ucap pria yang mencoba menyerang Sasuke. Saat masih di udara, Sasuke berbalik dan melempar 2 kunai dengan kertas peledak terikat di belakangnya pada pria berpedang itu. Keadaan berbalik, pria itu tidak bisa menghidar dari serangan dari Sasuke karena masih melayang di udara. Dia hanya bisa membelalakkan matanya terkejut.

-DUARR-

Suara ledakan itu mengakhiri pertarungan.

Sasuke mendarat di samping Kakashi dan mengucapkan terima kasih pada gurunya tersebut. Kakashi hanya tersenyum lalu memberi tanda untuk segera bergerak. Mereka berdua melompat dari dahan ke dahan untuk menyusul ke tempat kakashi asli dan Sakura berada.

Tempat Naruto...

Naruto masih berada di perpustakaan bersama gadis kecil yang tengah tidak sadarkan diri. Dia kebingungan harus melakukan apa lagi untuk membuat gadis kecil itu sadar. Membangunkan dengan cara biasa tidak ada ada kotak P3K dan tidak ada benda berbau menyengat lainnya untuk membangunkan gadis itu. Pada akhirnya, Naruto hanya membaringkan gadis itu kursi panjang tempat dia duduk saat membaca buku tadi. Sementara kaki gadis itu diberi alas beberapa buah buku untuk memperlancar aliran darah ke otak. Sempat terpikir oleh Naruto untuk meminta bantuan penjaga perpustakaan tapi ingatannya tentang kejadian di kantor Hokage menyurutkan niatnya. Jika dia Membawa gadis yang tidak sadarkan diri keluar dari perpustakaan, sudah pasti dia akan dihadapkan pada hal-hal yang merepotkan nantinya. Mungkin dia akan di tuduh berbuat jahat, lalu dipenjara. Atau hokage-monster itu akan memakannya hidup-hidup.

'Dunia ini kan gila' pikirnya.

Untunglah perpustakan itu buka hingga malam dan saat ini pengunjung tengah sepi. Naruto duduk di samping kepala gadis itu dan menunggu dengan sabar.

"Ugh"

Gadis kecil itu mulai memberikan tanda-tanda akan sadar. Naruto melihat ke arah wajah gadis itu dan tersenyum.

'Akhirnya' ucap Naruto dalam hati.

Gadis itu membuka matanya perlahan, mencoba mengontrol cahaya yang masuk ke dalam retina lavendernya "Di mana ini? Kenapa aku tertidur di sini?" tanyanya kebingungan.

Dia mencoba bangun untuk duduk. Naruto dengan sigap menolong gadis itu dengan menahan beban punggungnya.

"Pelan-pelan saja, Hinata!"

Naruto mengetahui nama gadis dengan iris lavender itu dari gantungan kunci di dalam kantong ninja milik si gadis saat dia mencoba mencari obat di sana. Hinata melirik ke arah orang yang menolongnya.

"N-Naruto-kun?" ucapnya kaget. Wajah gadis itu memerah dan langsung memalingkannya ke arah lain.

"Jangan pingsan lagi, Hinata! Ini, Minumlah!" Naruto berdiri di hadapan Hinata, menyodorkan botol minumam yang dia ambil dari kantong ninjanya sendiri. Gadis mata lavender itu menghadap ke arah Naruto, menerima botol minuman dan sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak pingsan.

"T-terima kasih"

Hinata meminum air pemberian Naruto dengan memalingkan wajahnya.

"Manis?" ucapnya.

"Tentu saja, aku menambahkan gula ke dalamnya. Glukosa bagus untuk memulihkan energi. Aku menemukannya di dalam tasmu. Maaf , sudah seenaknya membuka tas milikmu"

"T-tidak apa" balas Hinata.

Naruto mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Dia melihat hari sudah semakin gelap. Dia berpikir untuk segera mengantar gadis ini pulang.

"Apa kau sudah bisa berjalan? Sebaiknya kita segera pulang, Hinata. Aku akan mengantarmu" Naruto mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri.

"T-tidak perlu N-naruto-kun. A-aku bisa pulang sendiri"

"Sudah, cepat! Aku sudah bilang akan mengantarmu. Aku tidak akan menarik kata-kataku. Apa kau ingin aku gendong?"

"T-tidak. Aku bisa berjalan sendiri, Naruto-kun" sambar Hinata dengan menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Kalau begitu, ayo cepat!"

Naruto memegang paksa lengan Hinata lalu menariknya menuju pintu keluar perpustakaan. Hal tersebut, sudah pasti memberikan efek pada detak jantung dan warna wajah Hinata. Lagi-lagi dia berusaha keras untuk tidak pingsan akibat ulah Naruto.

Setelah keluar dari perpustakaan, Naruto dan Hinata berjalan berdampingan. Naruto berjalan dengan memasukan kedua tanganrnya di saku celana. Sedangkan Hinata masih berjalan dengan kedua tangannya yang saling bertautan di depan dada, wajah memerah dan jantung yang berdebar-debar.

"Wah, desa ini tentram ya? Tidak ada suara berisik seperti di sana. Bahkan bintang-bintang terlihat jelas walau baru menjelang malam"

Naruto mengangkat wajahnya dan memandangan ke arah langit.

"A-apa maksudmu, Naruto-kun?" Hinata bertanya dan menolehkan wajahnya ke arah Naruto. Dia merasa ada yang aneh dengan Naruto hari ini. Makan di kedai yakiniku bukannya di kedai ramen seperti biasanya. Mengunjungi perpustakaan, padahal Naruto biasanya paling anti dengan buku. Bahkan sikapnya sangat berbeda dari biasanya. Dan sekarang Naruto seperti baru pertama kali melihat suasana malam di desa ini.

Naruto menoleh ke arah hinata dan tersenyum.

"Aku baru pertama kali merasakan ketentraman desa seperti ini. Biasanya aku selalu disibukkan dengan urusan peneliti-"

Ucapannya terpotong karena Naruto menyadari sesuatu.

'Benar, semua orang di dunia ini merasa aneh dengan sikapku. Itu karena aku baru saja tiba di dunia ini. Jika aku mengatakannya, sudah pasti mereka akan menganggapku gila. Bagaimanaa aku memberi tahu mereka jika aku bukan naruto yang asli? Yang asli? Ah, aku berada dalam tubuhnya. Bagaimana mungkin jiwaku mengambil alih tubuhnya. Kenapa aku terlempar kedunia ini tanpa tubuhku. Kemana tubuhku yang asli? kemana jiwa Naruto yang asli di dunia ini? apa yang terjadi padanya?' batinnya.

Muncul bayangan samar dalam ingatannya. Dia melihat seorang anak kecil sedang berada di atas ayunan, menatap ke arah kerumunan orang dengan wajah yang sedih. Tiba-tiba dia merasakan ada yang aneh dengan dadanya. Di sana terasa sakit dan sesak.

'I-itu aku? Tidak, i-itu Naruto dunia ini. apa ini ingatannya?'

Naruto berjalan ke samping dan menyenderkan tubuhnya di tembok.

"N-Naruto-kun?" panggil Hinata.

Hinata mengikuti Naruto dengan wajah cemas. Dia berdiri di hadapan Naruto, memegang bahunya mencoba menenangkan.

"K-kau tidak apa-apa, Naruto-kun?" tanyanya cemas.

Bayangan dan rasa sesak itu perlahan menghilang. Naruto mencoba untuk bernafas secara teratur seperti biasanya. Naruto tersenyum namun wajahnya berubah sendu. matanya masih melihat ke bawah. Hinata bisa melihat secara jelas keadaan Naruto.

'Kenapa aku baru memikirkanmu sekarang? Kau ada di mana diriku yang asli?' batinnya.

"Naruto-kun? Kau baik-baik saja?"

Hinata kembali menyadarkannya.

"Tidak, aku tidak apa-apa. Mungkin hanya kelelahan setelah membaca buku. Hehehe" jawab Naruto mencoba memunjukan senyumannya.

"B-benarkah? Tapi kenapa kau terlihat kesakitan?"

"Oh ya? Apa aku terlihat seperti itu? Aku tidak apa-apa kok. Kau perhatian sekali ya?"

Naruto mencoba terlihat seperti biasa. Dia kembali menunjukan senyuman lebarnya, tapi mendadak berhenti saat melihat wajah hinata. gadis itu terlihat sangat khawatir. Seperti kekhawatiran seseorang yang begitu peduli kepada orang terdekatnya.

'Benar, orang lain mungkin akan menganggapku gila. Tapi, gadis ini mencintai Naruto. Gadis ini mencintai diriku di dunia ini. Aku bisa melihat itu dari pertama kali bertemu dengannya. Mungkin saja dia akan percaya' ucapnya dalam hati.

Naruto menghadapkan tubuhnya di depan Hinata lalu menggenggam tangan hinata.

"Hinata. Apa kau mau berjanji untukku?"

"B-berjanji?" tanya Hinata bingung.

"Ya, dengar aku baik-baik hinata! Kau harus percaya padaku! Aku bukan-"

"Kau bukan Naruto?" potong Hinata.

"Eh? Bagaimana kau tahu?"

Naruto melepas genggamannya pada tangan Hinata.

"Entahlah, aku hanya merasa kau bukan Naruto. kau, kau berbeda"

"Hah? Apa karena kau mencintai Naruto?"

"S-siapa yang bilang padamu?" ucap Hinata sambil menutup mulut sendiri.

"Dengan reaksi seperti itu, sama saja kau mengakuinya Hinata"

Naruto menghela nafas melihat kepolosan gadis di depannya,

"J-jangan bilang pada siapapun tentang itu, kumohon! Ah, jangan-jangan kau bunshin? A-aku sudah mengungkapkan perasaanku pada bunshinnya. Bagaimana nanti jika Naruto asli tahu? D-dia mungkin tidak mau lagi dekat denganku. B-bahkan sekarang saja belum dekat"

Hinata membalikan badan dengan tangan yang menutupi wajahnya.

"Aku bukan bunshin, Hinata"

Naruto memutar bola matanya bosan. Hinata kembali menurunkan tangannya dari wajah lalu kembali menghadap ke arah Naruto.

"J-jadi, kau ini siapa?"

Dia kini memberanikan diri menatap wajah naruto.

"Sebaiknya kita cari tempat lain! Akan aku ceritakan semuanya"

Ω

Naruto dan Hinata kini berada di sebuah taman. Mereka berdua duduk di ayunan yang berdampingan. Naruto menceritakan semuanya dari awal hingga dia bisa berada di dunia shinobi ini. Hinata dengan serius mendengarkan setiap detail cerita yang Naruto sampaikan.

"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai kedunia ini. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Naruto di dunia ini. Aku harus mencari informasi yang berkaitan dengan hal ini. Aku akan mencari cara untuk pulang ke dunia asalku sekaligus mencari tahu di mana Naruto yang asli di dunia ini. Aku yakin semuanya berhubungan"

Naruto mengakhiri ceritanya dengan menunduk lesu.

"k-kau akan memulai dari mana?" tanya Hinata.

"Aku memang seorang ilmuan bidang sains di duniaku. Aku tahu segala hal tentang pekerjaanku. Tapi di sini, aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu apapun tentang shinobi dan tidak tahu cara menjadi seorang Shinobi. Aku akan mulai dari awal, Hinata. Aku akan menjadi seorang Shinobi" ucapnya lalu berdiri dan membungkuk ke arah hinata.

"Karena itu, tolong bantu aku untuk menjadi Shinobi, Hinata! Aku berjanji akan membawa dia kembali ke dunia ini. Tenang saja, kau bisa memegang janjiku, Hinata"

Naruto mengangkat kembali tubuhnya.

"Aku tidak akan menarik kembali kata-kataku, karena itu adalah jalan ninjaku" lanjutnya.

Naruto mengacungkan ibu jarinya ke arah Hinata dan menunjukan senyuman khas seorang Naruto.

Hinata terpana mendengar kata-kata Naruto. Matanya berkaca-kaca melihat senyuman itu.

'Benarkah? Benarkah dia bukan Naruto yang asli?' batinnya.

Hinata menghilangkan keraguan itu. Dia ikut tersenyum bersama Naruto lalu menganggukkan kepalanya pasti sebagai tanda jika dia setuju untuk membantunya. Mereka tersenyum bersama hingga..

Sebuah tangan mendarat di atas kepala Naruto. Dari arah belakang muncul seseorang dengan tatapan membunuh. Mereka berdua berhenti tersenyum seketika.

"Bocah tengik! Ternyata kau di sini" ucapnya.

Naruto membalikan tubuhnya menghadap kearah orang itu lalu mundur beberapa langkah mendekat ke arah Hinata yang sudah berdiri dari ayunan.

"H-hokage-sama" ucap Hinata dan Haruto bersamaan.

"Sedang apa kau di sini berduaan dengan Hinata? Oh, tadi pagi kau menghancur kan mejaku. Sekarang kau menculik anak gadis seseorang. Kau mau menuruti tingkah si mesum Jiraiya ya?" tuduh sang Hokage kelima.

"Itu tidak mungkin, kan?" balas Naruto. 'lagi pula yang menghancurkan meja kan kau sendiri' lanjutnya dalam hati.

Tsunade mengalihkan tatapan kepada Hinata.

"Hinata, kau sebaiknya cepat pulang. Ayahmu sampai mencarimu ke kantor hokage. Kau malah pacaran di sini dengan si bocah mesum" ledek Tsunade padanya.

Hinata terkejut dengan apa yang dikatakan Tsunade. Wajahnya kembali memerah karena di tuduh pacaran dengan orang yang memang dicintainya. Walaupun saat ini dalam tubuh orang itu bukanlah Naruto yang asli. Tapi tetap saja itu tubuh Naruto. Sedangkan Naruto hanya menatap malas kearah sang Hokage.

"K-kami tidak pacaran, H-hokage-sama. Kami hanya sedang ngobrol" dalih Hinata.

Tiba-tiba muncul seorang ninja dan mendarat di samping Hinata.

"Hinata-sama, ternyata kau di sini. Hiashi-sama mencarimu, sebaiknya kita cepat pulang" ucapnya lalu menganguk ke arah sang Hokage. "Hokage-sama" sapanya. Dan dibalas anggukan oleh orang yang di sapa.

Yang lain terlihat akrab dengan pemuda berambut panjang itu. Sedangkan Naruto menatap heran ke arahnya dan dibalas dengan tatapan yang sama oleh orang itu.

'Siapa anak itu? Matanya sama seperti hinata. Klan Hyuga ya?' batinnya.

"Maaf membuatmu repot, Neji-nisan" ucap Hinata.

'Oh, kakaknya' batin Naruto.

Hinata dan Neji akhirnya pamit kepada Tsunade dan Naruto. Mereka melompat ke atas pohon di samping taman lalu menghilang. Kini tinggal tersisa Naruto dan Tsunade di taman itu.

"Hei, bocah! Kenapa masih di sini? Cepat pulang sana!" perintah sang Hokage.

"I-iya, aku pamit Hokage-sama" ucap Naruto lalu berjalan menjauh. Dia bernafas lega karena terhindar dari monster itu. Tapi tidak lama dia kembali ke arah Tsunade karena melupakan sesuatu.

"Kenapa kau kembali?"

"Begini Hokage-sama. Aku ingin pindah rumah. Di sana jauh dari kedai makanan, tetangga yang tinggal di atas juga terlalu berisik. Aku ingin pindah saja" keluh Naruto.

Tsunage dibuat geram dengan keluhan naruto yang semakin aneh dari pagi. Tanda perempatan di dahinya kembali muncul tanda jika kemarahannya mulai meluap.

"Apa yang kau bicarakan, bocah? Kau sudah tinggal di sana bertahun-tahun. Komplek C sangat dekat dengan kedai ramen yang biasa kau datangi. Lagi pula kau tinggal di lantai 2, mana ada yang berisik di atasnya jika apartemen itu hanya 2 lantai, BAKA!"

"Tapi, aku ingin pindah ke gedung apartemen sebelah saja. Lantai 2 di sana lebih bagus"

"TIDAK ADA LAGI GEDUNG APARTEMEN BERLANTAI DUA DI DAERAH ITU, BAKA!" Teriak Tsunade. Dia benar-benar dibuat geram oleh bocah di depannya.

"Baiklah, terima kasih. Jaa ne!" ucap Naruto lalu berjalan menjauh.

'Apartemen kecil di komplek C, lantai 2 dan kamar nomor 1. Seseorang yang sedang emosi memang bisa memberikan informasi yang bagus' batinnya.

Naruto berjalan sambil memutar kunci apartemennya di jari telunjuk. Terlihat angka 1 di gantungan kunci tersebut. Sedangkan Tsunade hanya terbengong melihat kelakuan Naruto. Dia merasa di permainkan oleh bocah pirang itu. Amarahnya meluap keluar dari tubuh yang masih tetap terlihat muda walau di usia 50 lebih itu.

"NA-RU-TOO"

Teriakan Tsunade-sama mengakhiri chapter kali ini. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca.

Tbc...