TIME MACHINE

Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : Naruto and Hinata

Genre : Adventure, Romance maybe

Rated T

Warning : Typo(s), OOC, abal, humor garing dan kesalahan lainnya.

Terima kasih untuk semuanya yang sudah membaca, mereviews dan lain-lainnya. Maaf kalau fic ini masah merusak mata saat dibaca. Semoga author newbie ini bisa jadi lebih baik lagi. Sekali lagi terima kasih banyak minna-san.

Kritik dan saran diterima dengan sangat terbuka.

ENJOY

Hari ini adalah hari kedua Naruto terjebak di dunia shinobi. Naruto memulai hari dengan sangat sibuk. Bangun sebelum matahari bersinar, membereskan apartemen Naruto yang luar biasa berantakan dan membuat sarapan dengan bahan yang seadanya karena di apartemen itu hanya tersedia ramen instan. Naruto tidak menyangka jika dirinya di dunia ini hidup dengan cara yang begitu berantakan. Tidak punya orang tua, tinggal sendiri di apartemen kecil bahkan tidak punya sodara. Naruto merasa dirinya beruntung, walau di dunianya sang ibu juga telah meninggal sejak dia kecil tapi dia masih mempunyai seorang ayah. Sejak kecil dia tinggal di sebuah rumah yang besar dan segala sesuatu di rumah itu sudah ada yang mengurus. Tapi bukan berarti Naruto tidak bisa melakukan semua sendri, dia selalu diajarkan kedisiplinan oleh ayahnya. Bahkan sejak SMA dia sudah tinggal sendiri di apartemen. Di sanalah dia menciptakan banyak penemuan alat-alat canggih.

Mengingat kenangan di dunianya membuat Naruto semakin ingin cepat kembali. Dia melangkahkan kakinya menuju perpustakan konoha demi mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Perkerjaan di gudang penyimpanan konoha sudah dia kerjakan dengan baik. Kini saatnya memulai misi mengembalikan jiwanya dan jiwa Naruto yang asli seperti semula. Tapi langkah kakinya berhenti saat dia menyadari sesuatu.

"Hinata, keluarlah!" ucapnya.

Seorang gadis keluar dari tempat persembunyiannya di balik tiang listrik.

"B-bagaimana kau tahu?" tanyanya gugup.

"Aku bisa merasakan cakramu dari radius 50 meter sebelum aku berbelok di persimpangan tadi. Aku kira kau akan menemuiku. Tapi malah menguntitku seperti itu"

"K-kau bisa melakukan itu?"

Hinata berjalan mendekat ke arah Naruto lalu berdiri di depannya. Wajahnya tetap memerah walau tidak lagi menunduk.

"Merasakan cakra? Ya, aku rasa Naruto ninja tipe sensor. Aku belajar untuk menggunakannya tadi pagi. Kemampuan ini hebat juga"

Hinata malah semakin memerah dan akhirnya kembali menundukan kepala. Memainkan kedua jari telunjuk di depan dadanya menjadi kebiasaan saat dia malu atau gugup.

"Kenapa kau menunduk seperti itu?" tanya Naruto.

Hinata hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Ah, kau sering menguntit Naruto ya? Dan sekarang baru tahu jika Naruto ninja tipe sensor. Hahaha"

"T-tapi Naruto-kun tidak pernah sadar jika aku mengikutinya" bela Hinata.

Naruto berhenti tertawa lalu mendekati Hinata.

"Apa maksudmu?" tanyanya.

"Maksudku, N-naruto-kun tidak pernah menyadari kehadiranku sebelumnya"

Naruto memegang dagunya sendiri.

'Apa ini kemampuan dari diriku sendiri atau Naruto pura-pura tidak sadar dengan kehadiran Hinata?' batin Naruto.

Dia menurunkan tangannya dari dagu lalu kembali memasukannya ke saku celana.

"Hei, Hinata! Bisa kau ceritakan semuanya tentang Naruto padaku?"

Hinata mengangkat wajahnya dan kembali melihat ke arah Naruto.

"B-bisa, tapi-"

Naruto langsung menarik tangan Hinata dan berjalan menuju perpustakan

"Kalau begitu, ayo ikut aku ke perpustakaan. Kau bisa ceritakan semuanya di sana"

"T-tunggu Naruto-kun" ucap Hinata sambil menahan langkah kakinya.

Mereka berdua berhenti. Naruto menghadapkan tubuhnya pada Hinata.

"Ada apa, Hinata?"

"A-aku harus latihan dengan anggota tim 8 di lapangan latihan. Aku tidak bisa ikut ke perpustakaan. Maafkan aku Naruto-kun"

Naruto melepaskan tangannya dari Hinata dan menepuk jidatnya sendiri, merasa dirinya bodoh dan tidak sopan. Meminta bantuan orang lain dengan paksa seperti tadi.

"Astaga, aku yang harus minta maaf, Hinata. Aku malah langsung menarikmu tanpa bertanya dulu. Gomen"

Naruto menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada seraya membungkuk.

"T-tidak apa"

Hinata malah tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Naruto.

"Ah, begini saja. Bagaimana kalau aku ikut latihan bersama anggota timmu?" ucap Naruto yang sudah kembali ke posisi semula.

"T-tapi bukan kah Naruto-kun mau ke perpustakaan?

"Melihat langsung latihan shinobi merupakan salah satu cara mencari informasi, Hinata"

"B-baiklah"

Hinata mengangguk menyetujui.

"Kalau begitu, ayo!"

Naruto melompat dengan cepat, seakan menghilang dari pandangan mata Hinata lalu muncul di atas atap rumah yang berada di samping gang itu dan mulai berlari. Hinata sempat terkejut melihat apa yang bisa dilakukan oleh Naruto.

'C-cepat, bukankah dia bilang tidak tahu apa-apa tentang dunia shinobi?'

Hinata menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri. Dia akhirnya melompat dan mengikuti Naruto berlari dari belakang.

Naruto bergerak dengan sangat efisien, melompat dari rumah ke rumah dan berlari dengan senyuman terpampang di bibirnya.

"Naruto-kun!" panggil Hinata saat berhasil menyusul Naruto.

"Ya?"

"Bagaimana kau bisa melakukan sunshin?"

Mereka berdua bergerak berjajar sekarang. Hinata mencoba menyelaraskan kecepatannya dengan Naruto.

"Aku membaca metodenya di buku lalu mencoba mempraktekkannya, itu saja. Aku rasa, ini juga kemampuan dasar Naruto kan? Jadi segala hal yang dapat tubuh Naruto dunia ini lakukan sudah terprogram otomatis" jelasnya.

'Tapi, tidak secepat tadi' batin Hinata.

Dia masih menatap heran ke arah Naruto.

"Lalu bagaimana kau tahu tempat latihanku ke arah sini?

"Kau mengikutiku sejak di persimpangan tadi kan? Dari persimpangan itu hanya ada dua jalan, satu mengarah ke perpustakaan dan satu lagi mengarah ke area lapang. Jadi jika kau berada di persimpangan dan berniat untuk pergi berlatih, satu-satunya area yang cocok untuk latihan hanya area lapang itu, iya kan? Aku sudah hafal semua tempat di desa ini saat kemarin membaca peta"

"S-sugoi" ucap Hinata. Dia sampai terkagum-kagum dengan apa yang bisa Naruto lakukan. Ternyata Naruto yang ini benar-benar berbeda.

"Sudahlah ayo cepat! Aku ingin melihat metode latihan kalian" ucap Naruto.

Hinata dan Naruto mempercepat lajunya. Melompat dan berlari dari rumah ke rumah. Naruto terlihat menikmati perjalanan yang baru pertama kali dia rasakan.

'Aku seperti spider-man' ucapnya sambil tersenyum sendiri.

Setelah sampai di lapangan latihan tim 8, Naruto dan Hinata bergegas menemui tiga orang yang berada di tengah area lapang itu.

"Kau terlambat Hinata" ucap anak laki-laki dengan seekor anjing berwarna putih di atas kepalanya.

"Gomen, Kiba-kun" ucap Hinata menyesal.

"Kenapa kau bersama Naruto?" tanya Kiba lagi.

"Aku ingin ikut latihan bersama kalian" kali ini Naruto yang menjawab.

Seorang wanita dewasa di samping Kiba tersenyum ke arah Naruto.

"Oh, kau mau ikut latihan bersama kami, Naruto-kun?" ucapnya.

"Iya, Kurenai-sensei. Mohon bantuannya!" ucap Naruto membungkukkan tubuhnya.

Wanita dewasa itu adalah Kurenao Yuhi, guru pembimbing tim 8. Dia berparas cantik dengan rambut bergelombang dan mata yang berbentuk indah. Salah satu kunoichi tercantik yang ada di konoha. Dia juga sangat ahli di bidang genjutsu. Begitulah informasi yang di dapat Naruto dari Hinata.

'Hinata menggambarkannya dari sudut pandang pengagum ya?' batin Naruto.

"Hei, Naruto. Bukankah tim 7 sedang menjalankan misi? Kenapa kau tidak ikut? Kau pasti sedang dihukum oleh Hokage-sama ya? Hahaha" ejek anak yang membawa anjing.

Dia tertawa keras diiringi suara gonggongan anjingnya.

"Diamlah Kiba! Kita tidak boleh mencemo'oh seorang teman. Kenapa? Itu disebabkan ucapan kita bisa menyakiti perasaannya" ucap seorang anak berkaca mata hitam di samping kiba.

Anak berkaca mata itu bernama Aburame Shino dan anak yang bertato segitiga terbalik di kedua pipinya bernama Inuzuka Kiba. Shino merupakan ninja yang mampu mengendalikan serangga dan memanipulasinya sebagai sejata untuk menyerang atau bertahan. Bahkan dia bisa menggunakan serangganya untuk hal-hal lain, seperti melacak seseorang dan alat komunikasi jarak jauh. Sedangkan Kiba, dia berasal dari Klan Inuzuka yang selalu khas dengan anjing ninjanya. Dia dan anjingnya yang diberi nama Akamaru mempunyai penciuman yang sangat tajam dan mereka mampu melakukan kombinasi serangan yang sempurna untuk mengalahkan lawan. Mereka berdua selalu terlihat bersama kapanpun dan di manapun.

"Sudah-sudah, sebaiknya kalian segera berlatih!" ucap Kurenai menengahi.

Guru wanita itu menoleh ke arah Naruto.

"Nah Naruto, kau ingin masuk ke dalam menu latihan tim ini? Kami akan melakukan simulasi pelacakan dan penyergapan"

"Tidak sensei. Aku akan latihan dasar saja. Aku akan berlatih melempar kunai" jawab Naruto.

"Hahaha, Kau sudah genin. Tapi masih berlatih melempar kunai? Kau payah Naruto!" ledek Kiba.

"Latihan melempar adalah hal yang bagus, kenapa? Itu karena dengan membentuk pondasi dasar yang baik maka kau bisa menjadi shinobi yang hebat"

Shino mencoba membela Naruto, tapi di balas geraman Kiba dan Akamaru.

"Tapi dia kan selalu payah dalam melempar kunai. Iya kan Akamaru?"

"Gug" Akamaru seperti mengiyakan perkataan Kiba.

-wush-

-cleb-cleb-cleb-

Tiga buah kunai melesat cepat melewati sisi kepala kiba dan menancap di 3 buah batang pohon yang berada di tengah lapangan latihan. Kunai itu menancap sempurna di dalam lingkaran kecil sebagai targetnya.

"Maaf, Aku harus berlatih. Bisakah kau sedikit menyingkir, Kiba-kun" ucap Naruto dengan menekankan nada mengejek saat menyebut nama Kiba.

Semua orang terkejut, yang mereka tahu Naruto tidak pernah pandai dalam melempar kunai.

"K-kau" ucap Kiba geram.

Naruto hanya melirik sombong ke arah Kiba.

"Itu pasti kebetulan kan?" tuduhnya pada Naruto.

"Tentu saja tidak, itu karna aku jenius" jawab Naruto.

"Pasti hanya kebetulan, iya kan Akamaru?"

"Tidak, itu memang kemampuanku"

"Kebetulan" "gug" "tidak" "kebetulan" "tidak" "gug"

-pletak-pletak-

"Urusai, kalian berdua. Cepat latihan sana!" teriak sang tersangka yang ternyata adalah guru cantik pembimbing tim 8.

Naruto dan kiba berjongkok sambil memegang kepala mereka. Bejolan berwarna merah terlihat jelas di puncak kepala mereka.

"Semua wanita itu memang menyeramkan" ucap Naruto.

"Aku setuju denganmu" sahut Kiba.

Kurenai masih mengepalkan tangannya di dada. Tanda perempatan terlihat jelas di kening dan punggung tangannya. Wajahnya cantik dihiasi seringai menyeramkan. Sedangkan anggota tim 8 yang lain hanya bisa menghelakan nafas. Termasuk Akamaru yang berhasil kabur dari kepala Kiba sebelum tangan kemarahan dewa itu mendarat di kepala majikannya.

Setelah kejadian itu mereka melanjutkan latihan seperti yang di rencanakan. Anggota tim 8 bersama kurenai melakukan latihan simulasinya di hutan dekat lapangan latihan. Sedangkan Naruto tetap berlatih melempar kunai dan shuriken untuk mengenai target. Setelah lebih dari 3 jam, anggota tim 8 mengakhiri latihan mereka dan menuju ke tempat Naruto. Terlihat Naruto sedang tiduran di atas rumput.

"Apa kau kelelahan, Naruto-kun?" tanya Hinata saat tiba di samping Naruto.

Naruto membuka matanya, melihat semua anggota tim 10 sudah berkumpul di sana dia mencoba untuk duduk.

"Tidak, aku hanya bosan. Jadi aku tertidur"

"Hoi, Naruto. K-kau yang membuat ini?" tanya Kiba tiba-tiba.

Dia menunjuk tangannya ke arah batang kayu yang menjadi target lemparan Naruto. Anggota tim 8 yang lain melihat ke arah yang dimaksud oleh Kiba. Semuanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

"I-ini?" ucap mereka bersamaan.

Kunai dan shuriken yang menancap di batang kayu itu membentuk sebuah kalimat "Aku Bosan" dalam bahasa jepang. Tidak hanya satu, tapi ada tiga kalimat di setiap batang kayu itu. Belum lagi, komposisi setiap kalimat di isi dengan jumlah dan letak shuriken serta kunai yang sama.

"Hoi, Naruto cepat jelaskan" ucap Kiba.

Mereka semua menoleh ke arah Naruto.

"Aku kan sudah bilang, kalau aku bosan. Jadi aku buat saja tulisan itu" jawab Naruto malas.

"Maksudku, bagaimana kau melakukannya?"

"Hah? Tentu saja dilempar!"

Ucapan Naruto membuat Kiba sangat geram. Saat Naruto melihat ekspresi kiba, dia tahu bahwa dia harus menjelaskannya.

"Baiklah! Aku melakukannya sesuai buku panduan. Semuanya terletak pada kelenturan. Baik itu pergelangan tangan, siku ataupun pundak. Jika kau mampu mengontrol semuanya, itu jadi lebih mudah. Kombinasi ketiganya dalam porsi yang pas akan memberimu akurasi yang lebih tinggi. Ah, tentu saja sudut saat melempar, kecepatan angin dan kekuatan lemparan juga menentukan akurasi" jelas Naruto.

Dia berdiri lalu melihat ke arah yang lain. Semuanya anggota tim 8 terlihat hanya terbengong mendengarkan penjelasan dari Naruto. Mereka tidak percaya, Naruto yang di anggap paling bodoh di akademi bisa menjelaskan secara detail seperti itu.

"Ada apa dengan kalian?" tanyanya.

Semuanya hanya menggelengkan kepala cepat. Naruto acuh tak acuh dengan sikap mereka.

"Latihannya sudah selesai, kan? Hei Hinata, apa kau ada waktu? Atau kau mau langsung pulang" tanya Naruto pada Hinata.

"T-tidak. Ah, maksudku iya. Eh, maksudku aku masih ada waktu, N-naruto-kun?" jawabnya

"Sebenarnya ada apa? Dan kenapa kalian semua diam saja?" tanya Naruto pada semuanya.

Kurenai segera sadar dari lamunannya dan memerintahkan anak didiknya untuk menyudahi latihan mereka hari ini. Masih dengan suasana yang canggung dia membubarkan latihan dan mempersilahkan semuanya untuk pulang. Kini di area latihan itu hanya ada Naruto dan Hinata. Ketiga anggota lain sudah pulang namun dengan keadaan masih syok.

"Sebenarnya kalian kenapa? Apa ada yang salah denganku?"

Naruto memulai pembicaraan walau masih dalam topik yang sama.

"T-tidak, hanya saja kau benar-benar berbeda dengan Naruto-kun"

Hinata menjawab pertanyaan itu dengan tersenyum lembut dan menatap matahari sore. Mereka berdua sedang duduk dan bersender pada batang pohon di belakangnya.

"Berbeda? Ceritakan padaku semua tentang Naruto, Hinata!"

"Semuanya? Mulai dari mana ya?" jawabnya

Hinaya melipat kedua kakinya di depan dada, tangannya memainkan rumput. Dia mencoba mengingat semua hal tentang Naruto.

"Sejak dulu, Naruto sudah sendiri. Aku melihatnya pertama kali saat umurku 4 tahun. Naruto kecil selalu dikucilkan oleh semua penduduk desa. Dia di anggap anak pembawa sial. Mungkin ini ada hubungannya dengan Monster kyubi yang ada di tubuh Naruto-kun"

'Kyubi?' batin Naruto.

"Yang aku dengar monster itu di segel oleh hokage keempat untuk menyelamatkan desa saat terjadi kekacauan 13 tahun yang lalu yang disebabkan oleh kyubi sendiri. Karena kekacauan itu banyak orang-orang yang meninggal, banyak orang-orang yang kehilangan keluarganya dan harta bendanya. Itulah sebabnya Naruto begitu dibenci oleh penduduk desa. Tapi, dia tidak pernah balik membenci mereka semua. Dia tidak pernah ingin membalas dendam atas perlakuan mereka. Dia selalu berusaha untuk mendapatkan pengakuan dari penduduk desa. Dia selalu mengejar mimpinya untuk menjadi seorang Hokage"

Hinata hampir mengeluarkan air mata saat menceritakan tentang orang yang dikaguminya itu.

"Aku mengerti, dia selalu berbuat konyol untuk mendapat perhatian penduduk desa kan?" tanya Naruto.

"ya, dia melakukan apapun untuk mendapatkan pengakuan itu"

Hinata kembali menatap langit, membayangkan wajah Naruto di sana.

"Ternyata dia orang yang hebat. Aku semakin ingin bertemu dengannya" ucap Naruto.

"Oh ya, jelaskan soal kemampuan Naruto! Kau bilang Naruto bukan ninja tipe sensor?" lanjutnya.

"A-aku rasa bukan, dia tidak pernah menunjukkan kemampuan seperti itu sebelumnya. Aku juga tidak pernah mendengar hal itu dari yang lain. Bahkan dari Kakashi-sensei sekalipun"

Naruto memegang dagunya sendiri dan berpikir.

'Jika bukan kemampuan Naruto, apa ini kemampuanku?' batinnya.

Tiba-tiba dia menurunkan tangannya lalu menoleh ke arah Hinata.

"Lalu, Apa saja kemampuan Naruto yang kau tahu, Hinata?"

Hinata yang sedang melihat awan menoleh ke arah Naruto lalu menggerakkan matanya ke kiri atas tanda jika dia mencoba mengingat sesuatu.

"Yang aku tau kage-bunshin, rasengan, kuchiyose dan..."

Hinata mencoba mengingat jutsu apa lagi yang dikuasai oleh Naruto dan ingatannya tertuju pada saat Naruto berubah menjadi seorang perempuan dewasa yang hanya menggunakan bikini.

"Ah! Hanya tiga. Ya, hanya tiga itu saja" ucapnya cepat.

"Kau kenapa?"

Hinata menggelengkan kepalanya sebagai respon. Dia tidak bisa membayangkan jika Naruto yang ini menggunakan jutsu pamungkas itu di hadapannya. Wajahnya sudah memerah hanya dengan membayangkannya.

"Baiklah. Apa kau bisa menunjukkan padaku, bagaimana cara membuat kage-bunshin?"

Naruto berdiri dan bersiap mencoba jurus itu.

"Em, Segelnya seperti ini!"

Hinata menunjukan segel kage-bunshin sambil ikut berdiri berhadapan dengan Naruto.

"Seperti ini?"

Naruto meniru segel tangan yang ditunjukan oleh Hinata. Dia mencoba untuk berkonsentrasi.

-poof-

Muncul tiruan yang sama persis dengan Naruto di samping kirinya. Naruto dan bunshinnya berhadapan satu sama lain. Naruto asli mencoba meneliti tampilan bunshinnya.

"Begitu ya?" ucapnya setelah selesai meneliti bunshinnya.

"Bunshin ini menerima cakra yang sama rata dengan penggunanya. Bunshin ini juga jauh lebih tahan lama daripada bunshin biasa, walaupun penggunaan cakranya juga lebih banyak" lanjutnya.

Naruto kembali berkonsentrasi lalu menghilangkan bunshinnya. Tapi dia terbengong saat menyadari sesuatu.

"Ada apa, Naruto-kun?" tanya Hinata.

"Tunggu sebentar"

Naruto memejamkan matanya lalu kembali membuat segel tangan untuk membuat kagebunshin.

-poof-

Bunshin Naruto muncul di sampingnya tapi Naruto asli tetap menutup matanya. Bunshin itu menghampiri Hinata, membisikkan sesuatu di telinganya setelah itu menghilang. Naruto asli membuka matanya lalu tersenyum.

"Ternyata benar. Memori dan pengalaman bunshin ini kembali pada pengguna aslinya ketika menghilang. Ini jutsu yang benar-benar hebat" ucapnya girang.

Sedangkan Hinata hanya menunduk dengan wajah memerah. Naruto yang melihat ekspresi Hinata menyesali apa yang telah dilakukan oleh bunshinnya.

"Hinata, Kau tidak apa-apa?" ucap Naruto hati-hati.

Wajahnya semakin merah, pandangannya mulai kabur, dadanya berdebar kencang dan dia sudah tidak kuat lagi.

-BRUK-

Dia pingsan...

"H-hinata? Astaga, Dasar bunshin bodoh kenapa dia melakukan hal itu hanya untuk menguji?"

Hari itu berakhir dengan Hinata yang pingsan dihiasi rona merah di pipinya dan Naruto yang kebingungan bagaimana membawa Hinata pulang.

Sudah 4 hari semenjak Naruto menguasai kagebunshin. Setiap pagi dia akan membuat tiga bunshin untuk diberi tugas masing-masing. Satu bunshin bertugas untuk mencari informasi di perpustakaan, satu lagi berlatih sendiri di area latihan tim 7 yang ditunjukkan oleh Hinata dan yang terakhir akan berkeliling desa mencari barang-barang yang bisa Naruto manfaatkan. Sedangkan Naruto asli setiap pagi tetap pergi ke gudang penyimpanan untuk melaksanakan hukuman. Dia tidak mau mengalihkan tanggungjawab yang diberikan kepadanya, apalagi ini sebuah hukuman. Saat Naruto menyelesaikan tugasnya di gudang, dia akan melepaskan jutsu kagebunshinnya. Selain untuk menghemat cakra, hal itu dilakukan untuk mencegah penumpukan informasi yang diterima oleh tubuhnya.

Seperti biasa, setelah makan siang Naruto akan ikut berlatih bersama dengan tim 8. Dia mulai ikut masuk dalam latihan simulasi atau latih tanding. Seperti saat ini, dia sedang bertarung satu lawan satu dengan Kiba. Sejak Naruto menunjukkan kejeniusannya, tim 8 tidak lagi meremehkannya termasuk Kiba. Saat ditanya oleh Kiba bagaimana dia bisa berubah seperti itu. Naruto hanya menjawab bahwa sudah saatnya untuk berubah dan menunjukkan pada penduduk desa siapa dia sebenarnya. Kiba yang tidak ingin lagi meremehkan Naruto, memutuskan untuk percaya dan menjadikannya rival. Dia ingin mengalahkan Naruto yang sudah berubah ini. (Ini hanya alasan, karena sebenarnya Kiba tidak mau memikirkan hal yang rumit)

"Hei, kau bahkan tidak bisa menyentuhku, anak kucing!" ledek Naruto.

"Urusai, bocah pirang!" balas Kiba.

Naruto terus menghindari serangan-serangan yang datang dari Kiba dan Akamaru. Bahkan saat Akamaru berubah menjadi Kiba dan kombinasi serangan mereka lebih cepat, Naruto masih bisa mengimbanginya.

"Kombinasi serangan kalian mudah terbaca. Akamaru akan selalu melengkapi celah dari seranganmu yang berantakan" ucapnya saat berada di udara.

"Sekarang sudah berakhir, Naruto"

Kiba dan Akamaru bersiap melakukan serangan terkuat mereka. Mengincar Naruto yang sedang melayang di udara.

"Gatsuga" teriak Kiba.

Serangan gabungan berbentuk sebuah bor raksasa itu bergerak cepat mengenai tubuh Naruto, membuatnya terhempas dan jatuh ke atas tanah. Kiba dan Akamaru berhenti berputar dan melihat ke arah Naruto. Tubuh Naruto tidak bergerak, membuat Kiba penasaran hingga akhirnya memutuskan Untuk menghampiri Naruto dan mencoba membalikkan tubuhnya yang telengkup.

"A-apa?" ucapnya kaget.

Tubuh itu ternyata hanya sebuah boneka kayu yang berbaju sama dengan Naruto.

"Hoi, anak kucing" teriak Naruto.

Kiba dan akamaru menoleh ke arah suara itu. Ternyata Naruto yang asli sedang duduk di samping Hinata dan memakan bentonya. Di sana juga berdiri guru pendamping tim 8, Kurenai dan anggota tim 8 lain, Shino. Kurenai sedang menahan tawa sedangkan shino menggeleng-gelengkan kepala melihat Kiba dikerjai oleh Naruto.

"Apa yang kau lakukan di situ, huh? Kita belum selesai" teriak Kiba geram.

"Aku lapar, nanti saja kita lanjutkan" balas Naruto.

"Kalau kau takut kalah, bilang saja! Jangan banyak alasan, pirang"

Tiba-tiba muncul lampu imajiner di atas kepalanya. Kiba mendapatkan cara untuk memprovokasi Naruto.

"Hei, pirang! Kau boleh makan jatah makananku jika bisa mengalahkan aku dan Akamaru" lanjutnya.

"Yang benar? Baiklah, aku setuju"

Naruto langsung berdiri dan memasang kuda-kuda bersiap menyerang. Begitu pula dengan Kiba dan Akamaru, mereka Siap untuk ronde kedua dan akan membalas Naruto kali ini.

"Kau siap?" tanya Naruto.

"Tentu saja, jangan banyak bicara- eh?"

Ucapan Kiba terpotong saat melihat Naruto sudah tidak ada di samping Hinata. Tanpa diduga Naruto sudah berada di tengah-tengah mereka berdua. Naruto langsung memukul belakang kepala mereka membuat kedua sahabat sejati itu tersengkur ke depan. Bahkan Akamaru langsung berubah kembali menjadi sosok anjing.

"Kau yang terlalu banyak bicara, bocah kucing!" ledek Naruto.

Tim 8 yang melihat itu lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Namun di belakang mereka ada tiga orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Mereka terkejut dengan apa yang ditunjukan oleh Naruto. Anggota tim 7 yang baru saja pulang dari misi melihat kecepatan luar biasa yang membuat Naruto berpindah sejauh lebih dari 20 meter dalam sekejap.

"Ce-cepat. A-apa itu Naruto?"

Sakura mengawali komentarnya.

"Cih" Sasuke hanya membuang muka. Merasa semakin kesal terhadap peningkatan kekuatan yang dimiliki Naruto.

Sementara Kakashi masih diam tak berkomentar.

'Siapa kau sebenarnya?'

Tbc...

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

Selanjutnya...

Kakashi mengajak Naruto untuk bicara empat mata. Dia curiga terhadap perubahan Naruto dan ingin menyeledikinya. Di sisi lain Hinata malah datang ke apartemen Naruto.

Apakah Naruto akan memberi tahu Kakashi? Dan apa yang dilakukan Hinata di apartemen Naruto?

Nantikan kelanjutannya!

Nb: saya menggunakan kata 'anak kucing' untuk Kiba karena rasanya tidak sopan jika menggunakan julukan nama hewan peliharaannya.