TIME MACHINE

Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : Naruto, Hinata dan Tim 7

Genre : Adventure, Romance maybe

Rated : T

Warning : Typo(s), OOC, dan kesalahan lainnya.

Newbie, kritik dan saran diterima dengan sangat terbuka.

Astaga, sudah lebih dari 2 bulan fic ini tidak update. Maaf minna, filenya yang terhapus membuat saya sempat kehilangan minat untuk meneruskan. Tapi, untung saja salah satu event besar fandom Naruto membawa kembali minat saya, hehehe.

Sebenarnya chapter ini gabungan dari dua chapter, jadi semoga saja bisa mengobati kesalahan saya. Dan banyak juga info-info menarik di dalamnya. Semoga saja enak untuk dibaca.

Satu hal penting lagi, Saya itu laki-laki. Hahaha, banyak juga yang salah sangka karena tulisan romance yang saya buat di event NHFD. Baiklah langsung saja ke cerita...

Sebelumnya...

Kedatangan tim 7 memang berada di waktu yang tepat untuk melihat kemampuan Naruto. Kecepatan itu hampir mengingatkan Kakashi akan gurunya sendiri. Hingga tidak sadar dia bergumam dengan suara agak keras 'Siapa kau sebenarnya?'

ENJOY

"Kau tidak apa-apa, Kiba?" Naruto mengulurkan tangannya untuk membantu Kiba berdiri.

"Ya, aku rasa" balas Kiba. Dia menerima uluran tangan Naruto dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih memijat pelan belakang lehernya yang masih terasa sakit.

"Kau terlalu lengah"

"Bukankah kau yang terlalu cepat?" Kiba menepuk baju bagian depannya yang dikotori tanah. Wajahnya cemberut karena lagi-lagi berhasil dikalahkan oleh bocah pirang itu.

"Kau memang tidak memperhatikan dengan baik" ucap Naruto.

Kiba memiringkan kepalanya tidak mengerti. Sedangkan Naruto berjalan mendekati Akamaru yang terlempar agak jauh. Dia menanyakan keadaan Anjing berwarna putih itu yang dibalas dengan gonggongan sebagai jawaban. Kemudian Naruto melanjutkan kata-katanya.

"Jika kau sedikit jeli, aku sudah memfokuskan cakra pada kakiku saat kau sedang bicara. Tolakan terbesar pada kaki terletak di lutut, jadi aku lebih banyak memfokuskan cakra di sana daripada di pergelangan kaki seperti pada umumnya. Hasilnya? Kau bisa melakukan shunshin 2 kali lebih cepat" Penjelasan panjang Naruto hanya membuat Kiba semakin bingung.

"Kau jadi sering bicara hal yang rumit akhir-akhir ini, Naruto" ucap kiba sambil menggaruk pipinya.

"Sudahlah, ayo kembali ke tempat Kurenai-sensei!" ajak Naruto sambil tersenyum maklum.

Di tempat Kurenai, Kakashi dan 2 muridnya sudah berada di samping kunoichi cantik itu. Setelah beberapa saat mereka saling menyapa, Kakashi membicarakan hal yang sejak tadi menarik perhatiannya.

"Apa Naruto sering ikut latihan dengan tim 8, Kurenai?"

"Iya, beberapa hari ini dia ikut latihan. Aku tidak menyangka, Naruto ternyata anak yang cerdas. Rasanya dia membuat tugasku jadi lebih ringan"

"Benarkah? Haha, maaf sudah merepotkanmu" Kakashi menganggap ucapan Kurenai sebagai sindiran. Maka dia tersenyum bersalah dan menggaruk belakang kepalanya.

"Tidak sama sekali, dia malah banyak membantu murid-muridku. Iya kan anak-anak?" ucap Kurenai mengalihkan pandangan pada kedua muridnya yang dari tadi hanya diam mendengarkan lalu di balas anggukan oleh keduanya.

Hal ini tentu membuat tim 7 tidak percaya. Mustahil seorang Naruto yang selalu melakukan hal konyol saat latihan bisa seperti yang Kurenai katakan. Pikiran mereka masih bergelut dengan banyak pertanyan tentang Naruto. Hingga semuanya terpecah saat terdengar sebuah teriakan.

"Kakashi-sensei"

Teriakan itu sontak membuat mereka semua menoleh. Termasuk Sasuke yang melirik dengan sorot mata tajam yang menusuk. Kepalan tangannya semakin erat menggenggam.

"Cih" Kegeraman yang dirasakannya, mendorong Sasuke untuk berbalik dan pergi menjauh.

"Sasuke-kun?" Sakura menjadi orang pertama yang merespon hal tersebut. Dia meminta izin untuk pergi pada Senseinya, lalu melompat menjauh untuk mengikuti teman ravennya.

"Yare-yare. Aku seperti tidak mempunyai wibawa di depan muridku sendiri" gumam Kakashi.

"Ada apa dengan mereka?" Naruto merasa aneh dengan kedua rekan timnya. Padahal dia baru saja ingin menyambut mereka. Matanya yang melihat kepergian dua rekan setimnya dialihkan pada sosok sang guru pembimbing.

"Apa mereka mau pergi kencan?" tanyanya.

"Tidak, mereka hanya kelelahan dan ingin segera beristirahat di rumah"

"Begitukah? AH, aku sampai lupa untuk marah padamu. Kenapa aku malah ditinggal dalam misi kali ini? dan kenapa hanya aku yang diberi hukuman oleh Tsunade-Baachan? Kau benar-benar menyebalkan-ttebayo" Kata akhiran "ttebayo" yang didapatkan dari informasi Hinata, dia gunakan untuk mengelabui Kakashi. Bahkan kemarahannya pun merupakan sandiwara supaya guru berambut silver itu tidak curiga kepadanya.

"Maaf-maaf, aku tidak bisa membantah Hokage-sama kan?" ucap Kakashi menyesal. Dia tersenyum sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Di dalam hati Kakashi, dia masih menaruh curiga yang cukup kuat kepada Naruto.

"Kau berhutang semangkuk besar ramen padaku-ttebayo!" Mendengar perkataan Naruto, sebuah ide muncul untuk menggali informasi lebih dalam tentang muridnya itu.

"Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau sekarang kita makan ramen Naruto? Aku yang traktir"

"Sungguh?"

"Tentu saja" Mata Kakashi menoleh ke arah Kurenai sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kurenai, apa latihannya sudah selesai? Aku mau mengajak bocah ini bersamaku? Apa kau tidak keberatan?"

Kurenai yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka berdua dibuat terkejut oleh rentetan pertanyaan itu.

"Ti-tidak. Tidak masalah. Lagi pula aku memang ingin segera membubarkan latihan ini. kelihatannya latihan hari ini sudah cukup, iya kan anak-anak?" Semua anggota tim 8 hanya mengangguk untuk memberikan jawaban.

"Eh? Kau tidak mengajak mereka Kakashi-sensei?" timpal Naruto.

"Uangku tidak cukup untuk mentraktir semua orang. Untuk tim 8, terima kasih sudah mau berlatih dengan Naruto. Kami pamit dulu ya, Jaa ne" Kakashi berjalan menjauh meninggalkan Naruto yang masih berdiri diam tidak percaya dengan apa yang gurunya katakan.

'Dasar pelit' batinnya.

Naruto kembali mengalihkan perhatiannya kepada tim 8 dan berpamitan pada mereka. Tentu saja dengan terlebih dahulu meminta maaf dengan kepelitan senseinya. Hal itu mengundang tawa ringan dari Kurenai dan murid-muridnya, kecuali satu orang di sana. Gadis kecil itu menatap gelisah teman rambut kuningnya. Hinata tahu jika Kakashi menaruh curiga pada Naruto, karena itu dia menjadi khawatir. Namun ternyata Naruto bisa menangkap hal itu, maka dia berikan senyuman menenangkan yang seolah berkata "Aku akan baik-baik saja". Hati Hinata sedikit tenang dengan hal itu dan sebuah anggukan kepala darinya menjadi jawaban untuk senyum Naruto.

Bocah pirang itu meninggalkan tim 8 dan menyusul langkah gurunya. Dan jangan salah sangka, Naruto tentu paham betul bahwa ajakan Kakashi hanya sebagai topeng dari kecurigaannya. Dia tahu Kakshi tengah merencanakan sesuatu untuk menyelidiki kebenarannya.

'Kita lihat siapa yang sudah mempersiapkan rencana yang lebih baik, Kakashi' batinnya.

.

.

.

Di tempat lain, Sasuke tengah menyendiri di sebuah bukit berbatu yang terletak di belakang desa. Setelah dia berhasil lolos dari kejaran Sakura, pemuda Uchiha itu memutuskan untuk berlatih di sana. Walau tubuhnya masih merasakan kelelahan pasca menjalankan misi, dia lebih memilih memaksakan tubuhnya hingga ke batas maksimal untuk berlatih daripada harus tertinggal lebih jauh dari seseorang yang telah dia anggap sebagai rivalnya. Seseorang yang dulunya tidak dianggap berguna dan tidak bisa melakukan apa-apa selain kekonyolan. Bocah berambut pirang yang mulai menunjukan kekuatannya sejak misi pertama mereka ke luar desa dengan berhasil mengalahkan Haku si pemakai kekkei genkai elemen es. Seorang Uzumaki yang berhasil semakin kuat saat ujian chunin. Dan seorang sahabatnya yang berhasil mengalahkan monster yang sama sekali tidak bisa dia kalahkan dengan kekuatannya sendiri. Uzumaki Naruto, seorang rival yang dia anggap sudah berjalan jauh di depannya. Sasuke mengepalkan tangannya, geram. Dia tidak ingin dikalahkan lebih jauh lagi oleh Naruto. Dia tidak ingin tertinggal di belakang bocah pirang itu. Dia tidak ingin melihat Naruto berdiri jauh di depannya seperti "orang itu".

Sasuke menutup kedua matanya. Membayangkan sosok yang amat dia benci di sana. Seseorang dengan mata Sharingan bersinar terang di matanya. Seorang dewasa yang akan merasakan pembalasan dendam darinya karena telah membantai seluruh clan Uchiha dan membiarkan dia hidup. Sasuke membuka matanya, terlihat Sharingan telah aktif dan memancarkan cahaya merah yang dipenuhi kegelapan. Dia merapalkan beberapa segel tangan hingga muncul kilatan-kilatan biru dari tangan kirinya. Sasuke mengarahkan tangan kirinya ke atas tanah sambil memasang kuda-kuda. Kilatan itu semakin nyata terlihat. Berkumpul dan berbunyi layaknya burung pipit yang memekakan telinga.

Chidori, itulah nama jutsu yang tengah Sasuke keluarkan sekarang. Sasuke melangkahkan kakinya untuk berlari dan menerjang sebuah batu besar di depan sana sebagai target serangannya. Matanya menatap tajam dan fokus. Sosok dewasa yang mirip dengannya tergambar jelas di batu itu. Sosok yang dulu dia sayangi, sosok kakak yang dulu begitu memanjakan Sasuke kecil. Sosok yang sekarang menjadi malapetaka bagi clan Uchiha. Sosok itu adalah...

"Uchiha Itachi" Sasuke berteriak dan mengarahkan chidorinya ke arah bayangan Itachi yang tergambar di batu besar itu.

Sesaat sebelum tangan Sasuke menyentuh batu itu, entah bagaimana sosok yang tergambar berubah. Bayangan sang kakak berubah menjadi sosok riang si rambut pirang, Uzumaki Naruto. Sasuke sempat terbelalak tidak mengerti kenapa sosok itu bisa berubah.

/DUAARRR/

Ledakan terjadi saat jutsu Sasuke berhasil mengenai batu besar itu. Menyebabkan bongkahan batu dan debu berterbangan menutupi sosok Sasuke yang tengah berdiri diam dengan kegeraman yang semakin memuncak di hatinya.

.

.

.

"ENAK!" teriak si bocah kuning setelah menghabiskan satu mangkuk miso ramen porsi jumbo.

"Kau seperti sudah lama tidak memakannya Naruto?" Seseorang di sampingnya hanya tersenyum dan memperhatikan ketika Naruto memakan ramen itu.

Orang itu adalah Kakashi Hatake. Dia dan Naruto sedang berada di kedai ramen Ichiraku. Sebuah kedai ramen yang menjadi tempat makan favorit murid pirangnya tersebut. Yang Kakashi tahu, Naruto bisa menghabiskan banyak mangkuk ramen. Namun yang dia lihat sekarang adalah sesuatu yang tidak wajar. Muridnya hanya mampu memakan satu mangkuk ramen. Dan yang membuat kecurigaannya semakin besar, ekspresi Naruto saat memakan ramen. Wajah Naruto menampakan binar yang luar biasa saat pertama kali menyuapkan mie berkuah itu ke dalam mulutnya. Ekspresi wajah yang tidak berubah saat Naruto melanjutkan suapan berikutnya. Seperti orang yang baru pertama kali memakan ramen yang memang diakui sebagai ramen terlezat di desa Konoha.

"Kau benar Sensei. Sejak berlatih keras bersama tim 8, aku jadi jarang ke sini-ttebayo" jawab Naruto riang. Dia sendiri sadar akan kecurigaan Kakashi. Karena itu dia harus berhati-hati dalam bertindak dan berkata hal apapun di hadapan sang guru berambut silver.

'Ttebayo ya? Kau kira bisa mengelabuiku dengan kebiasaannya?' batin Kakashi. Dia merubah posisi duduknya, yang tadinya menghadap ke arah Naruto dia ubah menjadi menghadap ke arah meja tepat di depan penjual ramen.

"Kau berlatih keras ya? Aku jadi ingat masa lalu" ucap Kakashi dengan ekspresi menerawang jauh. Dia memulai introgasinya yang berupa tes tentang sesuatu yang hanya diketahui Naruto yang asli. Sebuah teknik introgasi lembut yang membuat si target tidak sadar jika dia sedang dikuras habis informasi dalam otaknya.

"Masa lalu apa?" tanya Naruto memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. Tidak hanya Kakashi, Naruto pun tengah memainkan perannya sebagai dirinya yang polos namun siap dengan segala jebakan yang dibuat oleh sang guru.

Mengerikan memang saat dua orang jenius tengah beradu strategi dalam otak mereka masing-masing. Dari luar, keduanya hanya terlihat duduk santai di sebuah warung ramen. Namun di dalam otak mereka sedang terjadi pertarungan sengit antara keduanya. Mirip seperti dua orang ahli genjutsu yang sedang bertarung.

"Kau ingat saat pertama kali tim 7 melakukan latihan?" tanya Kakashi.

"I-iya"

"Saat itu kalian bersaing untuk merebut kunci yang aku pegang. Siapapun yang berhasil mendapatkan kunci itu akan mendapatkan makan siang. Dan yang tidak, akan diikat di sebuah kayu tanpa diberi sedikitpun jatah makan. Sayangnya hanya ada dua kunci yang diperebutkan olehmu, Sakura dan Sasuke. Kalian benar-benar diuji dengan keras waktu itu" Kakashi kini menunggu respon Naruto dalam menjawab tes pertama ini.

"Kau benar-ttebayo. Saat itu kami berusaha keras mendapatkannya" respon Naruto sambil menampilkan cengirannya.

'Kena kau' batin Kakashi.

"Tapi Sensei, yang kami perebutkan waktu itu adalah dua buah lonceng bukannya kunci. Apa kau lupa?" lanjut Naruto. Kakashi yang mendengar itu dibuat sedikit terkejut. Dia tidak menyangka Naruto di sampingnya bisa mengetahui hal itu, padahal harusnya hanya Naruto yang asli dan tim 7 yang mengetahuinya.

'Aku harus melanjutkannya' Kakashi menoleh ke arah Naruto dengan senyum bersalah dari balik topengnya.

"Hahaha,. maaf-maaf. Aku sedikit lupa karena saat itu aku menguji kalian sambil membaca buku latihan Ninja"

"Maksudmu buku Icha-icha Tactic? Kau sepertinya sudah pikun sensei? Apa kau juga lupa sudah menyerangku dengan jutsu bodohmu waktu itu? Jurus penderitaan seribu tahun apanya? Kau hanya membuat bokongku sakit-ttebayo. Dan kenapa juga hanya aku yang diikat di pohon itu? Kau malah muncul tiba-tiba dan menyatakan kami lulus dengan alasan yang aneh" Wajah Naruto memang menunjukan raut merajuk, namun dalam hatinya dia tersenyum menang.

"Ah, benar kah? Hahaha. Maaf-maaf. Tapi itu merupakan pelajaran yang bagus kan? Hingga saat misi pertamamu keluar desa, kau dengan berani mengeluarkan racun di tangan kananmu"

"Kau memang sudah tua dan pikun sensei. Waktu itu tangan kiriku yang terkena racun. Aku memang sedikit ketakutan saat itu. mau bagaimana lagi, itu pertama kalinya aku harus bertarung dengan penjahat sungguhan"

'Sial, kau juga mengetahui hal itu' Kakashi dibuat geram dengan bocah kuning yang dicurigainya itu.

Ketika Kakashi ingin melanjutkan tesnya, seorang Ninja muncul dan memberi tahunya bahwa dia dipanggil oleh Godaime Hokage. Ninja bermasker itu menghela nafas dan memutuskan untuk mencukupkan tes kali ini. Kecurigaannya memang sedikit berkurang namun tidak seluruhnya hilang. Dia membayar uang ramen yang dihabiskan Naruto lalu pamit dan menghilang dari kedai ramen itu.

kini tinggal lah Naruto sendiri di sana.

'Cih, dasar merepotkan' ucapnya dalam hati. Dia mengeluarkan sebuah benda dari kantong ninjanya dan meletakannya di atas meja.

"Apa yang sedang kau baca, Naruto?" tanya Ayame anak penjual ramen yang sedang mengambil uang yang diletakan oleh Kakashi tadi.

"Ah, ini informasi penting yang harus aku pelajari, Nee-chan" Jawaban Naruto hanya dibalas "Oh" oleh Ayame lalu gadis muda itu kembali meninggalkan Naruto sendiri.

"Untunglah aku meminjam benda ini, atau mungkin bisa dibilang mencuri ya? Hahaha" Naruto tertawa senang dengan kemenangannya atas Kakashi.

Sementara itu di tempat lain...

Sakura yang tidak berhasil mengejar Sasuke memutuskan untuk pulang ke rumah. Kini dia tengah sibuk mengobrak-abrik kamarnya mencari sesuatu yang hilang di sana. Sesuatu yang amat berharga dan menyimpan semua rahasianya. Dengan geram dia berteriak.

"DI MANA BUKU DIARY-KU?"

.

.

.

Suasana pagi yang sejuk masih sangat pas untuk melanjutkan mimpi indah. Dengan piyama biru mudanya, Naruto terlihat begitu nyenyak tidur di kasurnya. Rasa lelah telah mengalahkannya hari ini. Menggunakan kagebunshin dari pagi hingga siang, berlatih bersama tim 8 dan membuat alat-alat Ninja hingga larut malam harus diakui oleh Naruto sebagai hal yang berat untuknya. Ditambah dia terus melakukan hal itu selama empat hari berturut-turut. Anggaplah hari ini sebagai akhir pekan untuk berlibur dari rutinitas. Lagi pula tim 7 belum memulai latihan karena baru saja pulang menyelesaikan misinya. Namun sepertinya Kami-sama mempunyai rencana lain. Tidur nyenyak Naruto harus terganggu oleh suara langkah kaki di depan apartemennya. Setelah membiarkan hal itu terjadi selama 15 menit, Suara langkah kaki itu terus saja mondar-mandir di sana. Akhirnya Naruto membuka mata, bangun dari ranjang, berjalan menuju pintu depan dan membukanya.

"Hinata, apa yang sedang kau lakukan di situ?" tanyanya pada seorang gadis kecil yang sedang membelakanginya.

"Na-naruto-kun?" ucapnya saat berbalik menghadap ke arah pintu.

Naruto yang masih mengantuk, menghela nafas karena kelakuan gadis itu masih saja sama seperti saat pertama kali bertemu.

"Masuklah Hinata!" Naruto mempersilahkan Hinata masuk dengan tetap membuka pintu apartemennya, sedangkan dirinya sudah terlebih dahulu masuk ke dalam.

Hinata yang sempat ragu untuk masuk, akhirnya terpaksa membuang rasa malunya karena sebuah teriakan dari dalam.

"Masuk sendiri! Atau aku akan menggendongmu, Hinata!"

Di sini lah Hinata sekarang. Dia duduk di sebuah meja makan dengan air putih terhidang di hadapannya. Naruto menghampiri Hinata dengan membawa handuk di pundak kanannya.

"Aku hanya ingin cuci muka sebentar, kau tunggu saja di sini, Ok?"

"O-ok?" tanya Himata memiringkan kepalanya bingung. Hal itu hanya direspon dengan tatapan bosan oleh Naruto. Dia berjalan menuju kamar mandi lalu menutup pintunya.

Hinata yang ditinggalkan sendiri, memilih untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh apartemen Naruto. Apa yang sering dia dengar dari teman-temannya tentang apartemen Naruto, tidak dia temukan di sini. ada yang bilang, apartemen Naruto selalu di penuhi dengan cup ramen kosong tergeletak sembarangan. Tapi yang dilihat oleh Hinata, tidak ada satupun cup ramen tergeletak di sana. Ada yang bilang, pakaian kotor akan senantiasa mengganggu penglihatan dengan tersebar merata di seluruh ruangan. Tapi lagi-lagi hal itu tidak dia lihat sekarang. Yang Hinata lihat adalah sebuah apartemen kecil dengan kerapian yang bahkan melebihi kamarnya sendiri. Semua letak benda sesuai dengan yang seharusnya. Lantai apartemen yang begitu bersih dan wangi. Sama sekali tidak ada yang salah dengan apartemen ini. Bahkan, kerapian ini bisa membuat semua orang betah untuk berlama-lama berada di dalamnya.

Mata Hinata masih saja menjelajah dengan mata kagum. Hingga dia menemukan area yang membuatnya memicingkan mata dengan apa yang ada di sudut ruangan. Bukan karena berantakan, tapi banyak benda-benda yang berkumpul jadi satu di sana. Rasa penasaran menggelitiknya untuk melihat lebih dekat. Maka, dia taruh sebuah dokumen yang sejak tadi berada di pangkuannya ke atas meja lalu berjalan menuju sudut ruangan tersebut.

Sebuah meja belajar lengkap dengan lampunya terletak di sana. Bukan hal itu yang membuat Hinata bingung. Namun di atas meja tersebut banyak tergeletak berbagai macam kunai, shuriken, baterai, google glass, kabel warna-warni dan sebuah fingerless gloves berwarna biru tua. Dan jangan lupakan sebuah pedang dengan panjang 80 cm yang tergantung di dinding tepat di atas meja tersebut.

"Itu benda ciptaanku" ucap seseorang di belakang Hinata.

Sang gadis Hyuga berbalik kaget dan menemukan Naruto tengah mengeringkan rambut dengan handuk di sana. Jangan berharap Naruto keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada. Dia tentu sudah mengerti tentang kegugupan Hinata dan tidak ingin membuat sang gadis kecil itu kembali pingsan. Karena itu Naruto sudah berpakaian lengkap seperti biasanya saat keluar dari kamar mandi.

"Go-gomen, aku-"

"Kau boleh melihatnya, tidak perlu sungkan seperti itu, Hinata" ucap Naruto sambil berjalan ke arah dapur untuk memasak air.

Rasa tidak enak, kaget dan gugup ternyata mampu dikalahkan oleh rasa penasaran. Lihat saja Hinata! Dia dengan mudah menghilangkan semua perasaan itu karena rasa penasarannya terhadap benda-benda di meja itu. Apalagi dia telah mendapat izin dari pemilik benda tersebut.

Hinata kembali memfokuskan perhatiannya pada benda-benda yang dibuat oleh Naruto. Benda yang paling membuatnya penasaran adalah sarung tangan tanpa jari berwarna biru. Dia mengambilnya, membalik-balikkan benda itu di tangannya dan menemukan sesuatu yang janggal di sana. Di punggung sarung tangan ada benda menonjol berbentuk bulat dengan tanda segel di atasnya.

"Naruto-kun" panggil Hinata.

"Iya?" Naruto yang masih sibuk dengan aktifitasnya di dapur hanya mampu berteriak menjawab tanpa menghampiri Hinata.

"Sarung tangan apa ini? Ada benda aneh di punggungnya"

"Oh, itu Magnetic Shuriken Gloves"

"Ma-magnetic apa?"

Naruto yang mendengar pertanyaan lanjutan itu memutar matanya. Dia lupa, menggunakan bahasa inggris di dunia ini benar-benar tidak berguna walau terdengar keren.

"Kau bisa menyebutnya MSG, Hinata"

"Eh? seperti nama bumbu penyedap. Hihihi"

"Hah? Hahaha, kau benar. Aku tidak pandai dalam membuat nama"

"Lalu fungsinya untuk apa, Naruto-kun?" Saat mendengar pertanyaan itu dari Hinata, segala aktivitasnya di dapur dia tinggalkan untuk menghampiri gadis itu. dia bahkan dengan semangatnya menggunakan shunshin untuk menuju ke tempat Hinata berdiri. Sebagai catatan, seorang peneliti atau penemu akan sangat bersemangat untuk mendemonstrasikan alat ciptaannya. Hal itu juga yang sekarang dirasakan Naruto.

"Kau ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh alat ini?" Naruto yang tiba-tiba berada di samping Hinata, membawa kembali rasa gugup dan rona merah di pipi si sulung Hyuga.

"Eh? I-iya" Mata Naruto berbinar mendengar jawaban itu.

Naruto mengambil sarung tangan satu lagi yang berada di atas meja lalu mengenakannya di tangan kanan.

"Ini pasti keren. Kau lihat tombol ini Hinata?" Naruto menunjukan sebuah tombol kecil yang berada di telapak tangan sarung tangan itu. Hinata memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas karena memang tombol itu hanya berupa tonjolan kecil dengan warna yang sama seperti sarung tangan. Setelah melihat Hinata yang menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Naruto membalikkan tangannya hingga punggung tangan berada di atas. Dia melipat jari tengan dan jari manis untuk menekan tombol sedangkan sisa jarinya dibiarkan terbuka. Namun sebelum dia sempat menekan tombol, Hinata menghentikannya dengan bertanya suatu hal.

"Apa itu segel tangan Naruto-kun?" Hinata bertanya dengan menunjukan wajah polosnya.

"Bukan. Sebenarnya kau hanya perlu menekan tombol. Tapi aku rasa gaya tangan seperti ini keren" ucap Naruto sambil terus menunjukan gaya menekan tombol ala gerakan tangan Spider-man.

"Sudahlah, itu tidak penting. Sekarang perhatikan baik-baik!" Naruto kembali menunjukan punggung tangannya kepada Hinata lalu menekan tombol yang berada di telapak tangannya.

/POOF/

Sebuah shuriken muncul dari dalam segel yang terletak di punggung sarung tangan.

"Eh teknik pemanggilan senjata kah?" tanya Hinata.

"Iya, aku menyegel sejumlah shuriken di dalam kertas segel yang berada di punggung tanganku. Dengan menekan tombol, aku menyalurkan cakra yang tersimpan dalam sarung tangan ini sehingga bisa membuka segel itu. walaupun sebenarnya untuk membuka segel kau hanya harus mengetahui caranya saja. Itu kan teknik dasar seorang shinobi. Tapi dengan menekan tombol rasanya lebih keren" Penjelasannya diakhiri dengan kalimat dalam batin Naruto 'Soalnya aku jadi bisa meniru gaya Spider-man, hehehe'

"Ta-tapi bagaimana bisa shuriken itu melayang?" Inilah pertanyaan yang sudah ditunggu oleh Naruto.

Hinata dibuat bingung dengan shuriken yang melayang tepat di atas punggung tangan Naruto. Dan Membuat orang lain kebingungan dengan apa yang telah dibuat olehnya, merupakan kesenangan tersendiri bagi Naruto.

"Levitasi magnetik. Secara sederhana, shuriken ini bisa melayang dengan memanfaatkan medan magnet sebagai penangkal terhadap gravitasi bumi. Lingkaran menonjol yang berada di sekeliling segel adalah magnet. Begitu juga dengan shuriken yang di segel di dalamnya, semuanya sudah mengandung magnet. Aku memanfaatkan gaya tolak-menolak antara magnet yang berada di punggung sarung tangan dan magnet yang terdapat pada shuriken. Tentu saja harus menggunakan perhitungan yang sedikit rumit untuk membuatnya seimbang"

Hinata yang mendengarkan penjelasan itu, mulai mengerti dengan teknik yang dilakukan oleh Naruto. Namun masih ada beberapa hal yang mengganjalnya.

"Jika begitu, bukan kah punggung tanganmu harus tetap mengarah ke atas, Naruto-kun?"

"Kau memang jeli, Hinata. Coba kau perhatikan tonjolan berbentuk lingkaran di punggung sarung tangan itu!" ucap Naruto sambil menunjuk ke arah sarung tangan yang dipegang oleh Hinata.

Hinata mendekatkan sarung tangan itu ke matanya agar bisa melihat dengan jelas.

"Ah, ada dua lingkaran?"

"Benar, lingkaran yang berada di dalam adalah magnet yang kutubnya saling menolak dengan shuriken. Sedangkan lingkaran yang berada di luar adalah magnet yang kutubnya saling menarik dengan kutub magnet yang berada dalam shuriken. Sarung tangan ini sudah aku rancang agar mampu menyesuaikan kekuatan tarikan dan tolakan dari magnet sesuai dengan gerakan tangan. Coba kau lihat ini!" Naruto menggerakan tangannya dengan memutar pergelangan tangannya. Namun ternyata hal itu tidak membuat shuriken di punggung tangannya terjatuh walau dengan posisi punggung tangan Naruto menghadap ke bawah.

"Su-sugoi" Hinata terkagum-kagum melihat apa yang sedang terjadi.

"Ini belum seberapa. Dengan membuat shuriken melayang seperti ini, berarti tidak ada gaya gesek yang terjadi antara Shuriken ini dengan benda lain. Di duniaku hal ini disebut sebagai zero resistance. Maka itu, bagaimana jika aku memfokuskan cakra di telapak tangan dan berkonsentrasi untuk membuatnya berputar"

Shuriken yang melayang itu berputar pelan, semakin cepat hingga akhirnya mencapai putaran dengan kecepatan maksimum. Menciptakan angin yang ikut berputar di sekeliling shuriken. Bahkan angin dari putaran shuriken itu mampu mengibarkan rambut pendek Hinata. Padahal sang Hyuga berdiri satu meter dari benda itu.

"Jika kau melempar shuriken dengan putaran maksimum seperti ini. Sama artinya dengan memperluas jangkauan dan memperkuat serangan shuriken hingga 3 kali lipat dari lemparan biasanya"

Hinata terdiam tidak percaya. Seorang Naruto dari dunia lain mampu dengan mudah membuat alat yang luar biasa dalam waktu kurang dari satu minggu.

"Ka-kau membuat ini sendiri, Naruto-kun?"

"Tentu saja tidak Hinata. Aku menggunakan Kagebunshin untuk membantu. Sudah aku bilang, Kagebunshin adalah jutsu yang sangat hebat" Naruto menghentikan putaran shuriken itu lalu menyegelnya kembali dalam sarung tangan itu. melihat Hinata yang masih diam, Naruto memutuskan untuk menunjukan benda apa yang sedang dia ciptakan sebagai langkah awal untuk membuat mesin waktu.

"Hinata!" Gadis yang dipanggil itu sedikit terkejut karena dalam benaknya masih terkagum dengan sosok Naruto.

"I-iya?"

"Kau ingat tentang sumber daya yang aku bicarakan waktu itu?" ucap Naruto sambil berjalan melewati Hinata menuju mejanya. Gerakannya diikuti oleh mata Hinata tanpa sedikit pun terlepas. Dia mengambil sebuah benda dari atas meja lalu kembali berbalik menghadap Hinata.

"Apa yang kau maksud cakra, Naruto-kun?" Hinata bertanya saat Naruto sudah sepenuhnya menghadap ke arah gadis itu.

"Benar, yang menjadi masalah sekarang adalah medianya. Menurutmu benda apa yang mudah menyerap dan menyimpan cakra?" Pertanyaan ini membuat Hinata berpikir lebih keras layaknya sedang menghadapi sebuah ujian tertulis. Dia mengarahkan matanya ke langit-langit tanda tengah berpikir.

"Ah, kunai cakra?" Naruto tersenyum mendengar jawaban dari Hinata.

"Kau memang cerdas, Hinata. Aku membuat baterai ini menggunakan campuran bahan kunai cakra dan karbon sebagai komposisinya" Naruto menunjukan baterai kecil berwarna hitam yang tadi dia ambil.

"Walau seukuran Baterai triple A, namun daya yang dihasilkan lebih dari baterai ukuran D. sederhananya baterai ini bisa menghidupkan sesuatu yang cukup besar. Ditambah baterai ini bisa diisi ulang menggunakan cakra" lanjutnya.

"Lalu benda apa yang kau hidupkan dengan baterai itu, Naruto-kun?"

"Ah, benar juga. Lebih baik menunjukannya langsung padamu. Aku menggunakan baterai ini untuk-"

/TUUTTT/

Suara dari arah dapur menghentikan penjelasan Naruto. Keduanya menoleh ke arah dapur bersamaan.

"Astaga, aku lupa sedang memasak air. Nanti kita lanjutkan ya Hinata. Aku masak Ramen dulu untuk sarapan kita" ucap Naruto yang langsung berlari ke dapur meninggalkan Hinata.

"Eh? Ramen? Sarapan berdua? Dengan Naruto-kun? Di sini? Eehhh?" Hinata bergumam sendiri di samping meja. rasanya dia belum siap jika harus makan bersama dengan Naruto sekarang. Wajahnya sudah sangat merah dengan jantung yang berdetak lebih cepat.

"Kau tidak perlu repot, Naruto-kun. Aku pulang sekarang saja" ucap Hinata setengah berteriak. Gadis itu langsung berlari ke arah pintu keluar. Hal itu membuat Naruto yang sedang berada di dapur langsung menoleh ke arah pintu keluar.

"Eh? Pulang? Kau bahkan belum memberitahu tujuanmu datang ke sini, Hinata"

"Aku hanya ingin menyerahkan dokumen di atas meja makan itu. Jaa ne"

/BRUK/

Setelah kalimat dari Hinata selesai terdengar suara pintu yang ditutup oleh gadis itu.

"Dasar gadis aneh" ucap Naruto sambil berjalan menuju meja yang Hinata maksud. Dia melihat ada sebuah dokumen di sana. Dokumen berwarna abu-abu itu diambilnya lalu dia baca.

"Ah, Ini kan data-data Shinobi desa Konoha yang dikenal oleh diriku yang lain. Hm, aku bahkan belum sempat berterima kasih padanya untuk ini" Naruto memandang keluar jendela yang menampilkan cahaya matahari pagi yang menghangatkan.

.

.

.

Hari-hari berikutnya, Naruto jalani seperti biasanya. Mencari informasi di pagi hari, siang berlatih dengan tim 8 dan malam meneruskan bekerja dengan segala alat yang diciptakannya. Di tiga hari pertama, dia tidak melakukan latihan bersama dengan tim 7 karena anggota yang lain mendapat libur pasca menjalankan misi. Namun di hari keempat yang seharusnya dijadwalkan untuk berkumpul, kembali tidak bisa dilaksanakan karena Kakashi mendapatkan misi sendirian dari sang Hokage. Pada akhirnya, tim 7 jarang bertemu. Sasuke sibuk berlatih sendiri, Sakura banyak mengisi waktunya di rumah dan Naruto melakukan aktifitas seperti sebelumnya. Melakukan penelitian dan menciptakan alat-alat baru memang menyenangkan bagi Naruto. Apalagi di dunia ini begitu banyak hal baru yang dia ketahui dan bisa dia eksplor lebih jauh. Namun seminggu semenjak kedatangan Hinata ke apartemennya, semua itu berubah. Malam ini Naruto terlihat begitu frustasi. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur apartemennya dan memandang langit-langit. Wajahnya tampak kusut dan menunjukan raut kesal yang amat sangat.

"Sial, dengan keuangan seperti ini mana mungkin aku bisa membeli alat-alat yang aku butuhkan? Bahkan dengan tubuh anak 13 tahun aku jadi tidak bisa bekerja untuk mendapatkan uang tambahan. Kalau begini kapan aku akan menyelesaikan mesin waktunya? Sial,sial,sial!"

Keadaan memang serba tidak menguntungkan bagi Naruto. Alat-alat yang saat ini terkumpul, hanya lah alat bekas ataupun alat yang dijual secara murah di pasar barang elektronik. Untuk membuat mesin waktu, Naruto membutuhkan persediaan bahan yang tidak sedikit. Hal itu tidak mungkin dia dapatkan dengan mudah dengan keadaannya sekarang.

"Maafkan aku Sam, Amanda, Alex dan semuanya. Aku belum bisa pulang untuk menemui kalian" ucapnya sendu. matanya menerawang jauh membayangkan wajah-wajah sahabat penelitinya. Dan dia juga membayangkan wajah seseorang di sana.

"Maafkan aku, diriku yang lain. Kau harus menunggu lebih lama untuk kembali ke duniamu"

Perlahan tapi pasti Naruto mulai memejamkan matanya. Rasa lelah dan putus asa dengan mudah membelainya untuk terlelap dalam mimpi. Mimpi yang memberinya informasi baru yang mengerikan.

/TES-TES-TES/

"Suara ini?" Naruto membuka matanya perlahan untuk melihat sekeliling. Bunyi tetesan air itu, lagi dan lagi tertangkap oleh telinganya. Dia edarkan matanya di tempat yang gelap itu.

"Tempat apa ini?" gumamnya.

Naruto sedang berada di sebuah lorong gelap dengan pipa besar di atas kepalanya. Air menggenang setinggi mata kakinya, membuat tempat itu kian menyeramkan. Jauh di depan sana, terlihat cahaya yang merupakan ujung dari lorong itu. Naruto memutuskan untuk berjalan dan melihat ada apa di sana. Kakinya melangkah pelan, matanya terus saja meneliti setiap sudut lorong yang dihimpit oleh dinding tembok yang basah. Semakin dekat dengan cahaya itu, Naruto semakin merasakan sesuatu yang membuat hatinya gusar. Hanya tinggal beberapa meter lagi untuk sampai ke ujung lorong yang diisi oleh cahaya itu. Naruto semakin tidak sabar dan gusar, memutuskan berlari ke arah cahaya. Hingga akhirnya dia tiba di ruangan itu dan melihat semuanya.

"S-sugoi! Sebenarnya tempat macam apa ini?" ucapnya kagum.

Di hadapan pemuda pirang itu terbentang sebuah ruangan yang amat luas dengan dinding yang mengelilinginya menjulang amat tinggi. Bahkan langit-langit ruangan itu sama sekali tidak terlihat di mata Naruto. Matanya menatap sekeliling ruangan itu dengan rasa tidak percaya. Namun ketika matanya sedang asik mengagumi tempat itu, dia melihat sosok anak kecil di tengah-tengah ruangan itu. Naruto melangkah perlahan untuk mendekatinya. Alis matanya mengkerut tanda jika dia mencoba fokus melihat bocah itu. Hanya dalam beberapa langkah, dia harus menghentikan kembali langkahnya karena menyadari sesuatu. Matanya menangkap sosok anak kecil itu dengan penampilan yang amat dikenalnya.

"I-itu? Bukankah dia Na-naruto?"

Sosok itu memang berpenampilan seperti Naruto. baju kuning dengan lambang lingkaran merah di punggungnya, rambut pirangnya, dan semua hal yang sama dengan penampilan Naruto di dunia Ninja. Bisa dipastikan dia adalah Naruto Uzumaki.

"A-aku menemukannya? A-aku... Hoi Naruto" Kegembiraan yang dirasakan Oleh pemuda itu, membuatnya berlari sekuat tenaga untuk menghampiri dirinya yang lain. Dia benar-benar melihatnya, matanya tidak mungkin salah, dia adalah Naruto dunia Ninja. Langkah kakinya yang berat karena genangan air sama sekali tidak mengurangi kecepatan larinya. Dia begitu bahagia bisa bertemu dengan sosok lain dirinya yang tengah berdiri diam membelakanginya.

/GOARRR/

Raungan itu menghentikan langkah Naruto. dia baru menyadari jika ada sebuah pagar besi besar di hadapan dirinya yang lain. Pagar besi besar itu menjulang tinggi dan berbentuk layaknya sebuah penjara. Ukuran penjara yang begitu besar tentu diisi oleh sesuatu yang besar pula. Seperti sosok yang dilihat Naruto Namikaze saat ini. mata besar gelap dan gigi tajam yang menyeramkan itu terlihat jelas oleh Naruto. walau hanya melihat sebagian kecil wajah sosok itu, sang pemuda sudah dibuat gemetar karenanya. Sosok yang hanya memperlihatkan mata dan taringnya sedangkan anggota tubuh lainnya diselimuti kegelapan itu, kini bergerak mendekat ke arah besi yang memenjarakannya.

"H-hei, Na-naruto k-kecil cepat la-lari!" ucap si pemuda pirang pada bocah di depannya. Kakinya yang gemetar mencoba melangkah untuk menarik Naruto.

/GOAAARRR/

Sosok itu kembali menghentikan Naruto. kini dia menampakan jelas sosoknya. Kepalanya keluar dari sela-sela besi penjara itu dan hanya berjarak beberapa meter saja dari kedua Naruto yang berdiri diam di sana. Menyeramkan, itulah yang Naruto rasakan saat ini. Baru pertama kali dia melihat sosok monster seperti itu dengan matanya sendiri. Dia bisa melihat monster itu tersenyum bengis dan menunjukan gejala-gejala akan beraung kembali. Monster itu membuka mulut yang di penuhi gigi besar dan tajam itu perlaha. Sorot matanya menunjukan kemarahan yang besar. Mulut itu telah terbuka dan-

"Aaaarrrrggghhh" Naruto terbangun dari tidurnya dengan keringat membanjiri wajah dan tubuhnya. Nafasnya terengah-engah seperti habis berlari puluhan kilometer. Wajahnya pucat dengan gigi saling beradu, menggigil. Dia menelan ludahnya berkali-kali. jantungnya benar-benar berpacu kencang.

"Ma-mahluk a-apa itu?" Tidak tahan dengan keadaan, dia langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju ke lemari pendingin untuk mengambil minum.

"M-mimpi itu, te-terasa nyata" gumamnya setelah meminum segelas air. Naruto melihat ke arah jam yang menunjukan sekarang baru jam 6 pagi. Dia mencoba mengatur nafasnya dan memejamkan mata untuk menenangkan dirinya. Mimpi itu sungguh membingungkan. Apakah mimpi itu sungguhan terjadi? Atau hanya ketakutannya saja yang membuat dia jadi bermimpi buruk. Di tengah-tengah kemelut pikirannya, sang pemuda Namikaze kembali mengingat apa yang pernah Hinata ceritakan padanya. Cerita tentang sosok monster yang bersemayam di tubuh Naruto dan membuat bocah kecil itu dibenci oleh penduduk desa Konoha. sang pemuda membuka kembali matanya cepat.

"Mu-mungkinkah?"

/TOK-TOK-TOK/

Suara ketukan itu membuat Naruto menoleh. Dirinya yang sudah agak tenang memutuskan untuk melihat siapa yang datang. Setelah berada di depan pintu dan membukanya dia harus kembali di kagetkan oleh berita yang dibawa oleh sosok pemuda di depan apartemennya.

"Sasuke telah diculik. Kita diperintahkan untuk segera berkumpul di tempat Hokage" ucap pemuda dengan rambut nanas itu.

"A-apa maksudmu?" tanya Naruto tidak percaya.

'Apa lagi ini? Aku bahkan belum selesai dengan masalah mimpi burukku dan sekarang masalah baru muncul?'

-TBC-

Akhirnya... Update juga, Hahahaha.

Di chapter depan, akan diisi dengan banyak pertarungan dan strategi. Semoga saja penjelasannya mudah dimengerti.

Untuk yang baru baca atau yang mau mengulang dari chapter awal karena fic ini lama tidak update, saya sudah memperbaiki chapter-chapter awal untuk lebih enak dibaca.

Kritik dan saran diterima dengan sangat terbuka. Silahkan utarakan pendapatnya dan koreksi saja bila ada yang salah dengan tulisan saya!

Dan untuk yang penasaran alat-alat apa lagi yang Naruto ciptakan, silahkan tunggu chapter depan. Saya tidak mungkin mengungkapkan semuanya di chapter ini. Biarkanlah pembaca jadi penasaran. Hahaha...

Sampai ketemu di chapter selanjutnya!

Salam FatraKey...