TIME MACHINE

Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : Naruto, Hinata dan Tim 7

Genre : Adventure, Romance maybe

Rated : T

Warning : Typo(s), OOC, dan kesalahan lainnya.

Newbie, kritik dan saran diterima dengan sangat terbuka.

ENJOY

Neji dan Naruto VS Kidomaru

"Kalian anak-anak yang cukup menarik"

Kidomaru bangkit setelah sebelumnya terkena jutsu yang dilayangkan oleh Naruto dan Neji. Tangan kanannya memegang perut lalu terlihat benda berwarna emas mengelupas dari balik tangan dimana serangan Neji sebelumnya mendarat.

"Baiklah, aku akan bermain lebih serius bersama kalian" lanjut Kidomaru. Simbol hitam di seluruh tubuhnya membesar hingga menutupi semua bagian. Dia kini mulai berubah. memunculkan sosok baru di hadapan Naruto dan Neji. Tubuhnya berubah berwarna coklat, tanduk muncul di keningnya dan wajahnya berubah menyeramkan dengan Gigi-gigi runcing muncul dari balik mulutnya.

"Naruto bersiaplah! Cakranya meningkat pesat" Neji mengambil kuda-kuda siap bertarung.

"Ya, aku tahu" respon orang yang diperingatkan oleh Neji. Tatapan kedua genin itu menatap fokus ke arah musuh di depan mereka.

"ho, sungguh menarik. Aku harap kalian tidak mati terlalu cepat" ledek Kidomaru.

Neji yang mendengar kata-kata itu sama sekali tidak terprovokasi, malah senyuman tipis hadir di bibir si jenius Hyuga itu. Urat-urat kecil muncul di pelipisnya, mata lavendernya menyala menadakan Byakugan telah aktif.

"Kami berdua tidak akan kalah dari monster sepertimu" bersamaan saat mengatakan hal itu, Neji berlari menerjang untuk menyerang musuh.

Dibelakang Neji, Naruto sudah menyiapkan dua Fuuma Shuriken. Dia melempar keduanya dengan putaran penuh. Benda itu terbang melewati Neji dan menuju langsung ke arah Kidomaru.

'Cih, lagi-lagi benda menyebalkan itu' batin sang musuh. Dia bereaksi cepat dengan melompat ke arah kiri untuk menghindar. Namun tanpa dia sangka, saat tubuhnya menjauh dari serangan itu, tiba-tiba kedua Fuuma Shuriken beradu di udara dan mengubah arah serangannya. Salah satu Shuriken itu mengikuti arah hindaran Kidomaru. Tidak mampu lagi menghidar, Kidomaru mencoba menangkis dengan menggunakan benda emas berbentuk tombak yang muncul dari mulutnya. Sayang, keterbatasan gerakan, membuatnya tidak mampu maksimal menahan serangan Naruto. Fuuma Shuriken terpental dan mengarah ke leher Kidomaru. Beruntung benda itu hanya memberikan goresan di lehernya karena sedikit meleset dari target. Kidomaru berhasil mendarat di atas tanah sambil memegang lehernya yang mengeluarkan darah.

"Kau kira serangan kami sudah selesai?" ucap Neji yang ternyata sudah berada begitu dekat dengannya. Dia sudah mengambil kuda-kuda untuk melakukan teknik 64 pukulan andalan klan Hyuga.

"A-apa?" Mata Kidomaru melebar menyadari posisinya sangat tidak diuntungkan. 'Apa bocah ini menyadari pola serangan temannya? Bagaimana mungkin dalam waktu bersamaan dia bisa mengikuti arah Shuriken itu?' lanjutnya dalam hati.

"Hakke Rokujuyon Sho" Bersamaan dengan kata-kata itu keluar dari mulutnya, Neji melayangkan dua pukulan pertamanya yeng tepat mengenai dada dan perut Kidomaru hingga membuat sang musuh terseret ke belakang. Tanpa jeda empat pukulan selanjutnya mendarat, dilanjutkan dengan delapan pukulan, enam belas pukulan, tiga puluh dua pukulan dan ditutup dengan enam puluh empat pukulan.

Saat semua pukulannya berakhir, Neji menyadari sesuatu. Tubuh lawan yang seharusnya terpental di akhir jutsunya masih berdiri tegak.

"I-ini?" Dia melihat tubuh lawan yang dia serang tertutup oleh benda berwarna emas.

"Nenkin no Yoroi, untunglah aku masih sempat menggunakannya" ucap Kidomaru dengan senyuman jahat terhias di wajahnya.

"Kau-" Sebelum Neji melanjutkan kalimatnya, Kidomaru menangkap kedua tangan Neji yang masih berada di udara.

"Tertangkap kau bocah" ucap Kidomaru senang.

Neji berusaha melepaskan pegangan itu. Namun tenaganya kalah besar dengan Kidomaru yang sudah dalam wujud sempurna. Ditambah tangan Neji sudah dilapisi oleh jaring dari jutsu Kidomaru.

"Saatnya untuk serangan balik" Kidomaru mengeluarkan tombak emas dari mulutnya, lalu meluncur tepat ke arah kepala Neji.

Beruntung bagi Neji yang memiliki Byakugan. Karena matanya dia bisa melihat Kidomaru mengumpulkan cakra di mulut sebelum menyerang. dengan begitu dia bisa menghindari serangan kejutan itu dengan menundukan tubuhnya. Tidak sampai di sana, ternyata lagi-lagi senyuman muncul dari bibir si Hyuga.

"Kau lah yang sudah tertangkap, Monster!" Neji mengaliri tangannya dengan Cakra untuk merusak jaring sekaligus tangan lawannya. Saat tangannya terlepas, dia langsung memegang balik kedua tangan Kidomaru.

"Paman, jangan lupakan aku!" ucap seseorang dari belakang Kidomaru.

Saat matanya hendak melirik ke belakang. Sebuah tangan dilapisi kilatan listrik melesat mengarah ke wajahnya. Kecepatan pukulan dan keadaan tangan yang ditahan oleh Neji membuat serangan itu telak mengenai Kidomaru. Membuat Ninja dari desa bunyi itu terlempar sejauh belasan meter dari tempatnya berdiri.

'Benar apa yang dikatakan oleh Kiba. Orang ini berbeda dengan Naruto yang dulu' batin Neji. Matanya melihat ke arah pemuda berambut kuning jabrik itu. Pemuda itu tengah mengulurkan tangan padanya yang terjatuh karena efek serangan Naruto.

"Kau tidak apa-apa?" tanya pemuda itu sambil membantu Neji berdiri.

"Ya, terima kasih" Neji membersihkan tangannya dari sisa-sisan jaring yang masih melekat di kedua tangannya.

"Serangan tadi, apa itu jutsu barumu?" tanya Neji.

"Maksudmu ini?" Naruto mengangkat tangan kanannya lalu muncul kilatan-kilatan listrik yang menyelimuti hingga ke pergelangan tangannya.

"Ini Sparkle Glove" lanjut Naruto.

"Spa apa?"

"Fungsi lain dari sarung tanganku selain memanggil senjata" jawab Naruto sambil sebelumnya dia menghela nafas karena lagi-lagi lupa bahwa di dunia ini bahasa inggrisnya tidak berguna.

"Benda ini bisa menghimpun cakra listrik yang aku alirkan ke dalamnya hingga jumlah tertentu. Tapi aku rasa ini terlalu boros cakra" jelas Naruto.

"Kau yang membuatnya?" tanya Neji sedikit penasaran.

"Ya, tidak buruk kan?"

"Lumayan. Dan serangan Fuuma Shuriken-mu tadi. Sepertinya kau sadar aku bisa melihat dan mengikuti arah serangan itu. Apa dugaanku benar?"

"Wow, julukan Sang Hyuga jenius memang pantas untukmu" Naruto tersenyum memberi pujian pada temannya itu.

"Tapi, bagaimana kau yakin aku bisa membaca arah seranganmu?"

"Bagaimana? Tentu saja karena aku sering latihan dengan orang yang memiliki mata sepertimu. Walaupun harus aku akui kemampuanmu sedikit berada di atas orang itu"

"Maksudmu Hinata-sama?"

"Tentu saja. Memangnya kau pikir siapa lagi? Jangan membuatku menarik kata-kata kalau kau sang jenius"

"Baiklah, maaf" ucap Neji sambil membungkuk.

"Apa yang kau lakukan? Itu hanya candaan, kenapa kau menganggapnya serius?"

"Tidak ada waktu untuk bercanda. Pertarungan kita belum selesai, Naruto" Neji melompat menuju ke arah Kidomaru yang terlempar. Meninggalkan Naruto yang membatu dengan mulut terbuka lebar.

"HEI! AKU TARIK KATA-KATAKU, DASAR KAU BOCAH HYUGA KAKU" teriak Naruto pada akhirnya melampiaskan kekesalan yang dia rasakan.

'Kau memiliki partner latihan yang hebat, Hinata-sama' Untuk kesekian kalinya Neji menunjukkan senyuman di wajahnya.

Ω

Shikamaru dan Naruto Vs Tayuya

Tayuya, anggota perempuan satu-satunya dari kelompok yang telah menculik Sasuke. Dia dihadapkan dengan dua bch jenius dari Konoha. Setelah sebelumnya berkali-kali kelompoknya dibuat tidak berdaya oleh bocah-bocah itu, kini dia memutuskan untuk mengeluarkan semuanya untuk membaas dendam. Tato yang nampak di tubuhnya telah hiang berganti dengan penampakan baru yang hampirb serupa dangan kedua temannya yang lain. Lima buah tanduk mucul di atas kepalanya. Menandakan dia telah dalam wujud sempurnanya.

"Kuchiyose no jutsu"

Tidak membuang waktu, Tayuya melakukan jutsu kuciyose. Dia memanggil tidak hanya satu raksasa seperti sebelumnya, kini ada tiga raksasa yang dia panggil.

"Jadi ini kekuatan penuhnya?" tanya Naruto entah pada siapa.

"Sial, ini akan merepotkan" Kini Shikamaru mengeluarkan gerutuan khasnya.

"Aku tidak ingin bermain-main lagi. Kalian akan aku cincang dengan ketiga Doki-ku" Tayuya bersiap meniup serulingnya untuk menyerang.

Shikamaru dan Naruto merespon dengan mengangguk ke arah masing-masing sebagai kode. Lalu keduanya melompat saling menjauh.

'Berpencar adalah satu-satunya jalan untuk meneliti kemampuan lawan dan membuatnya kehilangan fokus. Aku rasa Shikamaru mengerti hal itu juga' batin Naruto.

'Sepertinya Naruto memikirkan hal yang sama sepertiku. Untunglah Naruto satu ini lebih pintar dari biasanya'

Kedua bocah jenius itu bersembunyi di balik pohon. Menunggu saat yang tepat untuk bergerak.

Tayuya yang sudah kehilangan kesabarannya memulai serangan membabi buta. Dia meniup serulingnya untuk memberi perintah pada raksasa pertamanya yang membawa sebuah tongkat pemukul besar. Raksasa itu menuju tempat persembunyian Shikamaru. Dia mengayunkan tongkatnya hingga merubuhkan beberapa pohon di sekitar Shikamaru. Tentu Shikamaru dengan sigap menghindar dan menjaga jarak aman dari serangan itu.

'Ini saatnya' batin Naruto.

Saat Naruto keluar untuk menyerang, di depannya sudah berdiri raksasa dengan dua cakar dipunggung tanganya menunggu Naruto.

"Kena kau" ucap Tayuya yang merasa senang karena berhasil membaca strategi lawannya.

Si raksasa melayangkan tinjunya dan tepat mengenai Naruto. Membuat si Uzumaki terlempar dan mendarat di atas tanah dengan keras sehingga menimbulkan kepulan debu yang berterbangan.

Namun dari arah lain Naruto muncul dengan Fuuma Shuriken di kedua tangannya.

"K-kau? Bagaimana bisa?" Tayuya merasa heran. Dia melihat kembali ke arah jatuhnya Naruto. Di sana hanya terlihat sebuah Kayu yang tergeletak di atas tanah yang rusak.

Naruto melempar kedua Fuma Shurikennya ke arah Tayuya.

"Jangan main-main, Bocah" Kekesalan Tayuya semakin menjadi-jadi. Dia perintahkan raksasa terakhir untuk menahan serangan itu. Naruto yang melihat serangannya dapat dengan mudah di tahan, kembali bersembunyi. Karena raksasa yang tadi menyerangnya kembali mendekat.

Dari arah sebaliknya Shikamaru meloncat keluar dan mencoba menyerang dengan melempar sebuah kunai yang diberi kertas bom. Namun lagi-lagi dapat ditahan oleh raksasa di dekat Tayuya. Hal ini berualang kali dilakukan oleh Naruto dan Shikamaru saling menjaga jarak dan menyerang saat ada kesempatan.

Hingga di saat Tayuya merasa geram dengan kedua bocah itu. Dia memutuskan untuk menghancurkan samua pohon di radius dua puluh meter di sekelilingnya. Hingga tempat itu menjadi sangat terbuka.

"Dengan begini kalian tidak bisa lagi bersembunyi" ucapnya yakin.

Tanpa disadari oleh tayuya, kedua shinobi jenius yang dilawannya sudah mempersiapkan Sesuatu. Seorang Raksasa yang tadi menyerang Shikamaru tiba-tiba terpental karena ledakan dari arah kakinya. Membuat sang raksasa sempoyongan ke belakang tepat dimana raksasa yang menjaga Tayuya berada. Begitu juga dengan raksasa yang menyerang Naruto.

"A-Apa yang terjadi?" Tayuya menjadi kebingungan dibuatnya.

Saat ketiga raksasa itu berdekatan muncullah ledakan beruntun di sekeliling mereka. Ledakan yang ditimbulkan cukup besar hingga membuat kepulan asap tinggi ke angkasa dan tentu saja bisa membahayakan nyawa Tayuya yang berada tidak jauh dari tempat ledakan itu terjadi. Ledakan yang telah dipersiapkan oleh Naruto dan Shikamaru selama mereka bergerak menyerang dan menghindar dari serangan raksasa. Mereka berdua menaruh kertas peledak di setiap batang pohon yang kini tergeletak di sekeliling Tayuya dan ketiga raksasanya.

"Bukankah itu sedikit berlebihan?" tanya Shikamaru yang kini berdiri di samping Naruto. Mereka menyaksikan ledakan dari jarak aman.

"Mungkin. Mau bagaimana lagi kan?" jawab Naruto.

"Berapa banyak yang kau pasang?"

"Semuanya" jawab Naruto enteng.

"Cih, merepotkan. Pantas saja sebesar ini efeknya"

"memangnya berapa yang kau pasang?"

"Hanya separuh"

"Benarkah? Aku tidak yakin" Naruto memasang wajah curiga pada Shikamaru.

"Ya, separuh aku pasang. Separuh lagi terjatuh saat menghindari serangan brutal terakhirnya" balas Shikamaru dengan Nada malasnya.

"ITU SAMA SAJA KAU MEMASANG SEMUANYA, KEPALA NANAS" teriak Naruto.

"Terserah saja"

Sebuah suara dari hasil ledakan yang kini sudah berakhir memotong Naruto yang masih ingin memprotes temannya. Membuat Naruto menoleh ke arah asal suara lalu beralih ke arah Shikamaru.

"Apa itu sudah selesai?" tanyanya pada Shikamaru.

"Ya" pemuda Nara membalas singkat sambil memberikan sebuah benda pada Naruto.

"Aku harap ini berhasil" lanjut Shikamaru.

Kepulan asap telah menghilang hingga dapat terlihat tiga raksasa menumpuk satu sama lain membentuk kubah. Dari balik Kubah itu muncul Tayuya yang ternyata berhasil berlindung di saat-saat terakhir untuk menyelamatkan diri. Dia menggunakan ketiga Doki-nya sebagai tameng dan bersembunyi di balik kubah yang terbentuk dari ketiganya.

"Bocah sialan, aku tidak akan memberikan ampun pada Kalian" Tayuya merangkak naik ke atas tumpukan raksasanya.

"Merindukan kami?" ucap sebuah suara tidak jauh dari tempat Tayuya kini berdiri.

"KALIAN? KALIAN AKAN MATI" teriak Tayuya saraya meniup serulingnya untuk mengerakan salah satu raksasanya.

"Tidak secepat itu" Naruto melempar sebuah Shuriken dengan kecepatan tinggi. Sayang walau sempat membuat lawannya terkejut, serangan itu tidak berhasil mengenai lawan malah melewati kedua kaki Tayuya lalu menancap di tubuh si raksasa.

"Hahaha! Kemana kau mengarahkan seranganmu bocah tengik? Aku rasa kau sudah mencapai ba-" Sesuatu terjadi dan memotong kalimat yang ingin diucapkan oleh Tayuya.

'A-Apa ini? Tubuhku tidak bisa bergerak' batin Tayuya keheranan.

"Ternyata berhasil" ucap Naruto.

"Tidak aku sangka kau mempunyai Shuriken dengan bahan yang bisa menyerap cakra penggunannya" balas Shikamaru. Si pemuda Nara merapalkan segel, lalu bayangannya mulai memanjang dan menyentuh bayangan dari Tayuya. Kini dia berhasil mengikat tubuh musuh dengan jutsu khas klan Nara.

"Katakanlah keberuntungan Saintist" ucap Naruto tersenyum.

Ω

Ditempat lain.

Naruto asli yang tengah menggendong sebuah tong berisikan seorang temannya yang tidak lain adalah Sasuke, masih melopati dahan demi dahan pohon untuk segera kembali ke desanya. Kini dia telah tiba di sebuah area lapang yang hanya ditumbuhi ilalang yang tidak begitu tinggi. Dalam pikirannya masih terus terlintas tentang teman-temannya yang sedang berjuang menahan para penculik yang kemungkinan besar sedang berusaha mengejar. Dia berharap tidak ada sesuat yang buruk terjadi pada teman-temannya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah meninggalkan teman-temannya dalam bahaya walau itu untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.

Kegelisahannya membuat fokusnya berantakan. Hingga dia yang selalu mampu menyadari kehadiran seseorang lima puluh meter jauhnya, kini begitu terkejut karena kemampuan sensornya malah bekerja saat sebuah serangan tepat akan mengenainya dari belakang. Untunglah gerakan reflek tubuh Naruto masih bekerja. Dia mampu menghindari serangan dan menyerang balik dengan Shuriken dari tangan kirinya yang ternyata dengan mudah dihindari oleh musuhnnya. Kini keduannya tengah berdiri berhadapan dengan masing-masing tangan kanan memegang tong yang ada didepan mereka. Naruto dapat melihat musuhnya kini mengeluarkan sebuah tulang dari telapak tangan kirinya dan langsung mencoba menusuknya. Secepat mungkin Naruto mengeluarkan pedangnya dari punggung untuk menangkis serangan itu. Setelah berhasil menepis, Naruto melopat ke atas tong, mengayunkan kakinya untuk menedang sang lawan. Tidak disangka, sanglawan melakukan hal yang sama. Kaki masing-masing tepat mengenai perut lawan. Serangan itu membuat keduanya terlempar beberapa meter kebelakang menjauh dari tong di tengah-tengah mereka.

Naruto berdiri, melihat sosok dihadapannya. Sosok berambut putih dengan tato kecil di dahinya. Orang itu bukan dari kelompok penculik. Bukan juga Shinobi dari Konoha.

"Siapa kau?"

TBC

Terima kasih sudah membaca.

Sekali lagi, Jika ada Saran dan Kritiknya silahkan sampaikan. Supaya cerita ini bisa lebih dinikmati semuanya.