Terima kasih atas review yang masuk dan dukungan dari pembaca semua :) tanpa lama-lama silahkan dinikmati x3

Naruto adalah milik Masashi Kishimoto-Sensei

Sebelumnya

"Jadi, ada hubungan apa antara kau dan adikku?"

A New Heart

Aku hanya dapat menelan salivaku gugup ketika pemilik cafe tempatku bekerja itu memicingkan matanya padaku.

"Ka-Karin-san..."

"Hinata Hyuuga, jadi ada hubungan apa antara kau dan adikku Uzumaki Naruto?"

'Damn! Bahkan aku tidak tahu bahwa bos galakku ini adalah kakak dari si brengsek Naruto.'

"Kami tidak ada apa-apa. Itu hanya masa lalu."

Karin menaikkan alisnya. "Benarkah? Jadi kau salah satu mainannya?"

'Apa-apaan itu?! Frontal sekali?!'

"Tidak!"

"Jadi?" Karin masih menunggu.

"Hentikan itu Karin-nee."

Aku dan Karin langsung memalingkan wajah pada sosok Sasuke yang tiba-tiba saja muncul.

"Apa maksudmu Sasuke-Teme?" Karin sedikit menekan ucapannya. "Para pelayan mulai bergosip soal dia dan itu membuat telingaku sakit."

Sasuke menghela nafasnya. "Dia pacarku, dia bukan gadis murahan yang selalu dibawa Dobe padamu. Meski aku sendiri tidak tahu bagaimana hubungan mereka dulu. Tapi kujamin Hinata anak yang baik."

"Jadi kau mau bilang bahwa Naruto yang kurang ajar?"

Sasuke mengangguk. "Kita semua tahu siapa Naruto."

Karin terlihat mengalah. "Terserah." lalu dengan cepat Karin mendekat pada Hinata yang sejak tadi membisu. "Jadi apa benar kau pacar Sasuke?"

Hinata mengangguk dengan cepat.

"Sudah berapa lama kalian jadian?"

Hinata terkesiap, ia tersenyum kaku. "E-e-etto..."

"Dua bulan." Potong Sasuke cepat. "Hubungan kami masih baru Nee-san."

"Baiklah... Baiklah, aku mengerti. Jangan memelototiku begitu. Aku akan pergi dan tidak menganggu pacarmu lagi." Ucap Karin cuek sambil melenggang melewati Hinata.

"Ka-Karin-san!" Panggilan Hinata menghentikan langkah Karin. "Apa aku tidak akan... Di-di-dipecat?"

Karin berbalik, memandang Hinata tak mengerti. "Kenapa aku harus memecatmu? Lagi pula aku hanya ingin memastikan."

A New Heart

"Te-Terima kasih, Uchiha-san."

Sasuke yang tengah mengendarai mobilnya pun hanya melirik pada Hinata yang duduk di sampingnya.

"Aku hanya tidak suka melihat Naruto seperti itu. Jangan salah paham."

Hinata mengangguk canggung. "Ya, maafkan aku."

"Soal insiden tadi, kuharap kau juga tidak membesarkannya."

"Maksudmu?" Tanya Hinata tak mengerti.

"Kau tahulah. Berisik dan membuat gosip murahan di kampus."

'Ah, aku mengerti. Tapi aku bukanlah fans garis kerasmu loh... Kau juga terlalu percaya diri.'

"Tenang saja, aku sudah sangat berterima kasih karena kau mau menolongku dari si kuning sialan itu."

Sasuke menautkan alisnya. "Kau kenal Naruto?"

"Tentu saja, dia pria brengsek yang hampir memperkosaku dan membuat aku ditendang dari SMA Konoha."

"Apa?"

Hinata terkekeh mengetahui seorang Sasuke bisa terkejut juga.

"Lupakan. Itu bukan hal penting." Ucap Hinata ditengah kekehannya.

"Aku mengerti."

"Terima kasih."

"Oya, dari sini ke mana?" Tanya Sasuke ketika ia melewati kelokan.

"Itu rumahku." Hinata menunjuk sebuah rumah mungil yang tak jauh.

Tak lama mobil Sasuke berhenti di depan rumah Hinata. Hinata segera turun dari mobil Sasuke, begitu pun dengan bungsu Uchiha itu.

"Rumahmu bagus." Puji Sasuke tulus. Ia suka pada pagar kayu dengan cat putih klasik, dan rumah yang dipenuhi oleh tanaman bunga yang berwarna-warni, bahkan Sasuke menyukai sebuah pohon besar yang terdapat sebuah ayunan kecil menggantung di sana.

"Rumahmu klasik, tapi nyaman. Terlebih melihatnya di hari sore seperti ini, sempurna."

Hinata terpana. Sungguh! Sasuke Uchiha benar-benar pribadi yang sulit ditebak. Apa ini pribadi yang selalu di sembunyikan? Atau entahlah. Sasuke Uchiha memang unik.

Hinata bahkan sampai merona. Entah karena sengatan matahari sore atau karena pujian kecil dari Sasuke.

"Kau mau mampir?" Hinata menawari Sasuke dengan senyum ramahnya. "Kau sudah mau mengantarkanku sampai rumah." Hinata terlihat gugup dan malu. "Yah, meskipun aku tahu itu hanya untuk berpura-pura di depan Karin-san. Tapi aku harus berterima kasih. Setidaknya secangkir teh, mungkin?"

'Oh Kamisama, ada apa denganku?! Bukankah hal ini membuatku terlihat sangat genit? Maksudku seperti perayu!'

"Boleh saja, kalau tidak merepotkanmu."

Hinata tersenyum senang. "Tidak, tentu saja tidak. Masuklah." Dengan itu Sasuke mengekori sang tuan rumah.

Sesekali mata Sasuke melirik pernik-pernik mungil yang menghiasi rumah Hinata. Bahkan sebuah gantungan di daun pintu yang berbahan anyaman dengan bunga-bunga kecil juga mampu menarik minat Sasuke.

"Maaf kalau sedikit berantakan."

Aroma lavender yang lembut menyapa indra penciuman Sasuke ketika Hinata membuka pintu rumahnya. Biasanya Sasuke selalu mencium wangi yang sangat menusuk hidung bila ia berkunjung ke rumah wanita lain. Tapi aroma rumah Hinata begitu lembut, tapi tetap kuat.

Sasuke menyapu pandangannya. Ada satu set sofa yang bermotif bunga mawar kecil berwarna pink dengan kain berwarna putih. Ada beberapa bantal mungil yang Sasuke tebak dibuat sediri oleh Hinata. Ada beberapa gantungan berupa lukisan pemandangan, dan foto-foto masa kecil Hinata. Ruangan tamu ini banyak berbahan kayu, bahkan hingga ke pernak-pernik pajangannya. Membuat ruangan ini terasa hangat. Warna ungu muda juga membuat ruang tamu ini terasa elegan.

"Silahkan duduk." sambut Hinata sembari membuka beberapa toples yang berisi kue kering dan permen. "Aku akan membuat minuman."

Sasuke mengangguk, menuruti Hinata. Lalu ia mulai mencicipi kue kering yang disuguhkan.

"Tidak buruk."

A New Heart

Hinata mengambil dua buah mug, mengisinya dengan teh hangat, dan memberinya dua buah blok gula.

"Aku harap teh ini tidak terlalu manis."

'Hah... Bagaimana mungkin aku sekarang mengundang Sasuke Uchiha ke sini? Bukankah baru saja ia merutuki Sakura karena Sasuke?'

'Tapi Sasuke baru saja menyelamatkanku. Mungkin Sasuke tidak seburuk pikiranku. Ya kan?'

"Silahkan nikmati teh nya." Hinata meletakkan mug untuk Sasuke, lalu duduk di samping Sasuke yang masih mengunyah.

"Kau suka kue buatanku?" Tanya Hinata memulai obrolan.

"Lumayan, ini tidak terlalu manis. Aku suka. Kau mahir memasak."

Hinata lagi-lagi tersipu. "Kukira kau bukan orang yang menyenangkan."

Lalu Sasuke tiba-tiba saja mendelik pada Hinata. "Maksudmu?"

Hinata kelabakan. Terkejut akan reaksi Sasuke. "A-aku tidak bermaksud buruk! Sungguh! Hanya saja kau terkenal sebagai pangeran es yang dingin dan kurang menyenangkan. Bahkan kau jarang sekali balik menyapa orang."

"Benarkah? Kupikir tidak." Bela Sasuke. "Aku hanya tidak sempat menyapa. Aku terlaku sibuk. Dan soal pangeran es, aku tidak tahu harus bilang apa. Aku sendiri tidak tahu kenapa mereka mengatakan itu."

"Lalu sebenarnya kau itu bagaimana?"

Sasuke mengernyit. "Kenapa kau begitu ingin tahu?"

"Entahlah, aku hanya bingung. Kau yang kutemui sekarang, dan kau yang dibicarakan mereka tidak sesuai."

Sasuke mendengarkan sembari menyesap teh yang disajikan Hinata tadi. "Karena itu aku tidak terlalu suka berbaur. Mereka hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang lain tanpa mau mengetahui yang sebenarnya."

A New Heart

"Jadi dia itu sebenarnya baik ya?"

"Apa?" tanya Sakura yang sedang membaca majalah tak jauh dari Hinata. "Tadi kau bergumam Hinata."

"Bukan apa-apa Sakura-chan."

"Kau kepikiran sesuatu? Soal Neji?"

Hinata menggeleng mendengar tebakan Sakura. "Bukan apa-apa." Hinata berkeras.

"Yasudah kalau kau tidak mau bilang." Sakura menggembungkan pipinya. "Aku kan cuma khawatir."

Hinata tidak merespon rajukan Sakura, dalam otaknya masih berputar mengenai Sasuke malam tadi.

Harusnya hari ini dirinya datang ke kost-an Sakura untuk membicarakan mengenai acara weekend ini. Tapi dirinya malah terus memikirkan Sasuke.

'Ada yang salah denganku...'

Tbc

Mind to RnR?

Terima kasih telah membaca fict ini. Terima kasih juga karena telah mau menunggu. Hountouni Arigatou minna n_n SeeU~