Yaaayyyyy akhirnya Update... Terima kasih karena masih menerima ffn ini... Tanpa lama-lama silahkan dinikmati~~~

Naruto adalah milik Masashi Kishimoto-sensei

A New Heart milikku...


"Lihat Naruto, dia sangat manis bukan?"

Naruto memalingkan wajahnya, mengikuti arah telunjuk temannya. Iris aqua miliknya menangkap sosok gadis yang tengah membaca di bawah pohon yang rindang. Bukan gadis yang menarik untuk Naruto.

"Dia dari klan Hyuuga, adik dari Neji Hyuuga. Memang mirip dengan Neji, tapi sifatnya sangat berbeda."

Kata berbeda dari sosok Neji yang angkuh menarik minat Naruto. "Berbeda?" Naruto mengulangi.

"Kudengar dia sangat pemalu dan rajin. Hampir tidak pernah bicara."

Hari setelah sibuk dengan kegiatan klub sepak bola dan diterangkan mengenai wanita bukanlah hal baik. Naruto sangat lelah dan sangat ingin pulang dan tidur. Kakinya sudah pegal dan badannya sangat bau keringat.

Lalu teman satu klub nya hanya menyuruh Naruto memperhatikan gadis pendiam, tidak menarik dan memiliki mata yang aneh. Iris pucat Hinata membuat gadis itu sangat menyeramkan seperti hantu. Meski Naruto sangat tahu bahwa iris itu adalah khas milik klan Hyuuga.

Tidak, Naruto sangat tidak tertarik. Bila pilihannya adalah gadis nyentrik, sexy, dan periang, Naruto akan mempertimbangkan. Tapi Hyuuga Hinata? Bahkan meski gadis itu pilihan terakhir, Naruto akan tetap mengatakan "tidak".

"Lalu?"

"Bagaimana kalau kita taruhan?"

Naruto mengernyit. "Aku tidak tertarik." Naruto kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan kawannya itu.

"Dia menarik Naruto."

Naruto menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Menatap kawannya penuh tanya.

"Gadis yang selalu kau pilih hanyalah gadis-gadis tolol, hanya mau uangmu, hanya ingin memanfaatkanmu. Meski aku tahu kau juga menikmati tubuh mereka, yang yah... Aku yakin sudah dinikmati banyak lelaki lainnya."

"Jaga bicaramu, sialan." Desis Naruto gusar.

"Dia bisa mengubahmu sobat, dia adalah wanita paling mengagumkan yang pernah kukenal."

"Kau mengenalnya?" Ejek Naruto. "Kenapa tidak kau saja yang pacaran dengannya? Kenapa harus aku?"

"..."

"Bahkan aku tidak mengenalnya sama sekali."

A New Heart

"Aku pulang." Sapa Karin ketika ia membuka pintu apartemennya. Mendapati Naruto yang tengah bermalas-malasan di sofa.

"Kau tidak menjawabku, Baka." Protes Karin pada Naruo.

Naruto hanya sedikit melirik pada Kakaknya itu, lalu mengabaikannya.

Karin hanya menghela nafas, lalu duduk di sisi sofa lain yang masih kosong.

Untuk Karin, hal langka ketika ia pulang isi apartemennya rapi. Memang sih ia jarang membereskan apartemennya karena ia juga sibuk mengurus cafe. Tapi bila Naruto ada di apartemennya, setidaknya rumahnya akan berantakan dengan serakan bungkus makanan atau cup-cup ramen instan. Tapi tidak, rasanya tak banyak yang berubah.

"Kau sakit?" Karin penasaran, apa adiknya ini tengah tak selera makan? Tapi tidak mungkin.

Lalu entah bagaimana ia teringat Hinata Hyuuga, gadis yang bekerja dengannya cukup lama, anak yang gesit dan supel, manis dan pandai. Tipe pekerja keras yang disukai oleh Karin. Tapi mengingat kejdian tadi, dirinya sanksi bahwa Hinata penah menjalin hubungan dengan Naruto. Yang Karin tahu, adiknya hanya tertarik pada gadis sexy, cantik, dan aktif.

Dan memang sulit dipercaya bahwa Hinata akan mau dengan Naruto. Lalu Sasuke? Sama sulit dipercaya Karin kalau Sasuke bisa punya pacar, maksudnya Sasuke itu tipikal orang yang sangat pemilih. Jadi berpacaran dengan Hinata yang Karin yakin tidak masuk kriteria Sasuke itu mustahil.

Semua kisah romansa adik dan sahabatnya ini memang bukan urusan Karin, dirinya tahu ia tak punya hak. Tapi tetap saja nyatanya ia penasaran.

"Jadi..." Karin mencoba memulai pembicaraan. "Benar kalau kau dan pegawaiku itu pernah berpacaran?" Karin sedikit mengernyit, sedikit tidak percaya bahwa dirinya sendri benar-benar akan menanyakan ini. "Serius?"

Naruto terlihat agak kesal, namun ia berusaha untuk menenangkan perasaannya yang mumet.

"Dia bahan taruhanku." Jawab Naruto jujur, yang hanya ditanggapi 'oh' oleh Karin.

Karin lega, ternyata Hinata berkata jujur padanya.

"Tapi aku benar-benar mencintainya."

Baru saja Karin merasa kalau ia lega. Namun kalimat yang Naruto ucapkan seperti sebongkah batu besar yang baru saja jatuh bebas menimpa kepala Karin. Bahkan dirinya merasa otaknya beku beberapa saat.

"Apa?"

Naruto menggeleng, kepalanya pusing. Jadi perlahan ia mengambil sebungkus rokok, mengambil sebatang, melempar pelan bungkus rokok yang masih penuh itu ke meja. Menyalakan rokok, dan menghisapnya cepat. Lalu menghembuskan asap rokok sekaligus. Membuat asap putih penuh racun itu menyebar dan membuat Karin terbatuk.

Wajah Naruto tampak gusar, pemandangan yang tidak biasa untuk Karin.

"Awalnya hanya pura-pura. Tapi aku benar-benar menyukai Hinata." Naruto terlihat agak gelagapan. "Apa benar?" Naruto memelototi Karin. "Apa Sasuke benar-benar mempacari kekasihku?"

Karin terhenyak. Ia baru saja melihat sosok Naruto yang benar-benar asing, seolah Naruto yang ada dihadapannya ini adalah pribadi yang berbeda. Apa memang benar begitu?

"Sasuke dan gadis itu sepertinya memang berpacaran. Bahkan Sasuke menunggu hingga cafe tutup dan mengantarnya pulang."

Tidak ada reaksi apa pun dari Naruto, adiknya itu hanya diam dengan pandangan kosong.

"Naruto, bila dia memang kekasihmu... Kenapa aku tidak tahu? Kau bahkan membawa banyak wanita, selama ini itu yang kuingat."

Naruto mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Dia spesial."

"Hinata-ku tidak murahan." Lanjut Naruto lagi, yang entah mengapa membuat Karin memilih tidak lagi melanjutkan pembicaraan ini.

"Mau kopi?" Tanya Karin sembari bangkit dari sofa. "Sepertinya bukan hanya aku yang butuh cafein." Dan Naruto hanya menjawab dengan anggukan kecil.

A New Heart

Hinata yakin bahwa hari ini ia tidak akan kesiangan ke kampus, tapi tidak. Ia terlambat sepuluh menit, dan dosen kali ini bukan dosen baik hati yang akan memaafkan keterlambatan. Jadi, ia harus merelakan satu mata pelajaran kali ini kosong. Tapi yah, untuk Hinata tak masalah. Karena hari ini bukan hari ujian. Jadi ia tak perlu mengkhawatirkan nilainya.

Jadi di sinilah ia, menikmati secangkir teh, mie ramen, dan suasana sepi di kantin kampus. Memandangi meja dan bangku-bangku yang kebanyakan kosong. Saat istirahat, biasanya tempat ini sangat penuh. Hinata jarang ke kantin karena hal ini. Menurutnya jangankan bisa duduk menikmati makanan dengan tenang. Kau malah hanya akan terjebak di antrian yang seolah tak berujung. Ia tahu bila keadaan seperti itu, sebelum ia bisa menikmati makananannya jam pelajaran berikutnya sudah dimulai.

Maka dari itu biasanya Hinata akan memilih membeli bekal di toko dekat stasiun, lalu memakan bekalnya itu di taman belakang kampus.

Hinata menyuapkan ramen miliknya, ketika tanpa sengaja ia melihat Sasuke yang tengah berjalan ke kantin. Pria itu terlihat memesan dan duduk di dekat jendela. Sepertinya Sasuke tak melihatnya. Sebenarnya Hinata ingin mendekat pada Sasuke. Membawa mangkuk ramen dan jusnya. Tapi ia urungkan, Sasuke sudah memperingatkannya.

Hinata menghela nafas panjang, lalu kembali menyantap mie nya. Tapi ia tiba-tiba berhenti, karena ada sebuah piring berisi omelet yang mendarat di mejanya, beserta segelas jus jeruk yang masih penuh.

Hinata mendongak, dan mendapati Sasuke di mejanya. Pria jangkung itu duduk di hadapan Hinata tanpa suara, dan menyantap omeletnya. Tidak menghiraukan pandangan penuh tanya dari Hinata.

"Bukankah kau bilang kita harus jaga jarak di kampus?" Bisik Hinata pelan.

Sasuke tiba-tiba saja memelototi Hinata marah. Membuat gadis beriris batu bulan itu tergagap takut. "A-apa? Ada apa?!"

"Ada Naruto di sini." Sasuke segera melotot melihat reaksi Hinata yang tampaknya hendak mencari keberadaan Naruto. "Jangan berbalik!"

Hinata langsung mengangguk ketika Sasuke menyentaknya.

"Sepertinya dia memang penasaran dengan hubungan kita."

Hinata tegang dan takut tentu saja, ia merasa tidak enak pada Sasuke.

"Maafkan aku..." Hinata benar-benar menyesal karena telah menyeret Sasuke dalam masalahnya.

"Sudah terlanjur." Jawab Sasuke cepat. Mata Sasuke menyipit. "Naruto menuju kemari."

Hinata membeku, ia takut. Ia merasa seperti tengah didekati hantu, seperti tokoh utama dalam film horror yang suka ia tonton dengan Sakura.

"Aku mencarimu, Teme."

Sapaan Naruto seperti alarm peringatan bahaya untuk Hinata. Jantung Hinata berdegup cepat, kepalanya sejak tadi tertunduk, menghindari kontak dengan Naruto.

"Kami sedang makan siang Dobe. Lagi pula aku masih ada kelas setelah ini."

"Aku hanya ingin mengajakmu ke pesta perusahaanku besok." Naruto melirik Hinata yang masih menunduk. "Juga dengan pacarmu."

Hinata seolah baru saja kehilangan nafasnya selama lima detik.

Pergi ke pesta dengan Sasuke? Oh tidak! Apa tujuan si brengsek ini hingga harus mengundangku segala sih?!

"Baiklah." Setuju Sasuke cepat.

Naruto tersenyum. "Bagus. Sampai besok malam."

Setelah dirasa Naruto sudah pergi, Hinata melayangkan tanya dari binar matanya. Membuat Uchiha Sasuke menghela nafas.

"Hanya pesta Hyuuga..." Dan kalimat Sasuke diputus cepat oleh bola mata Hinata yang membesar memelototinya tak percaya. "Apa?" Sasuke tidak nyaman. "Kau belum pernah pergi ke pesta?"

"Tidak!" Hinata langsung bersuara. "Uchiha-san! Demi Tuhan, aku memang dulu pernah. Tapi itu saat umurku delapan tahun!"

"Kalau begitu tidak masalah." Sasuke benar-benar cuek dan tidak peka.

"Aku tidak akan mengorbankan uang dari kerja kerasku hanya untuk sebuah gaun yang hanya dipakai sekali!"

Sasuke menyesap minumannya. "Kalau begitu aku akan kirimkan gaun untukmu..."

Hinata terperangah, mulutnya terbuka seperti orang bodoh. Hinata terlalu terkejut. "A-apa?" Hinata merasa dirinya idiot seketika.

"Kau tidak tuli kan?" Sasuke berdiri dari kursinya. "Berdandanlah dan aku akan jemput jam 7. Jangan permalukan dirimu di depan mantan kekasih brengsekmu Hyuga..."

Dengan itu Sasuke pergi, meninggalkan Hinata yang masih membeku di sana.

A New Heart

Sasuke tidak main-main..

Sebuah kotak kado besar putih, dengan pita hitam besar benar-benar datang. Seorang kurir baru saja datang, dan kotak hampir setengah tinggi badan Hinata tiba.

Hinata langsung meletakkan kotak itu di atas tempat tidurnya, membuka kotak pemberian Uchiha Sasuke.

Hinata hampir saja membuat matanya meloncat keluar ketika melihat sebuah gaun, sepatu, bahkan kalung mutiara ada dalam satu box! Tangan Hinata langsung gemetar, meraba gaun yang terasa lembut itu. Perlahan Hinata menarik gaunnya, dan mengepaskan gaun itu di depan dada, lalu berlari ke depan cermin. Gaun tanpa lengan itu terlihat pas, dengan warna ungu tua yang anggun. Lalu Hinata melirik sepatu berhak tipis yang berwarna perak, juga kalung mutiara putih itu.

Sasuke benar-benar sulit ditebak. Kenapa dia begitu bersungguh-sungguh membantu Hinata?

Apa sebenarnya Sasuke menyukaiku?

Hinata langsung menggelengkan kepalanya cepat.

Tidak... Sasuke hanya membantu, aku tidak boleh berlebihan!

"Baiklah, aku akan menjadi cantik! Akan kubalas kau, Uzumaki Naruto!"

A New Heart

Sasuke tiba tepat waktu, mengetuk pintu rumah Hinata.

"Sebentar!" Terdengar teriakan Hinata meski samar, lalu tak lama pintu terbuka. Memperlihatkan Hinata dengan gaun yang dibeli Sasuke siang tadi.

"Apa aku cantik?" Goda Hinata, "Aku tak percaya, pasti semua ini sangat mahal!"

"Yah, tak seberapa kalo hanya untuk mempermalukan Naruto."

Eh? Sesuatu yang menyakitkan baru saja dirasakan Hinata. Gadis cantik itu langsung terdiam dengan senyuman yang luntur.

Jadi... Ini memang hanya permainan untumu ya?

Hinata tersenyum kecut, "Ya, akan kubuat Naruto malu..."

Ada yang salah, seharusnya Hinata senang bukan? Lalu kenapa dirinya kecewa sekarang?

Tbc

Mind to RnR?


Terima kasih atas masukan review penyemangatnya... Dan Ritsu minta maaf atas keterlambatan yang terjadi. Ritsu kehilangan ide dan baru lanjut. Semoga ini bisa menghibur. Arigatou buat silent reader... Special pake pelukkkkkk dan cintaaa untuk para pengirim review kritik dan penyemangat... Hountou ni Arigatou~~~~ x3 SeeU