Pesta masih berlangsung, dan Naruto masih memandang Hinata. Mengikuti gadis itu ke mana pun. Hingga gadis Hyuuga itu berpisah dengan Sasuke. Melihat sebuah celah, Naruto mengikuti Hinata ke beranda.
Angin dingin berhembus, membuat Hinata sedikit kedinginan. Tubuhnya agak membungkuk di pagar bata beranda, menikmati pemandangan langit malam.
Hinata terkejut dan berbalik ketika merasakan sesuatu menutupi punggung dan lengannya. Iris sewarna mutiara itu membesar ketika melihat sosok Naruto, pria itu memakaikan jas padanya.
"Uzumaki-san." bisik Hinata pelan.
"Pakailah, pasti sangat dingin."
Hinata hanya bisa mengangguk pelan, tidak tahu harus bereaksi apa. Naruto berdiri tepat di sampingnya, saling bersisian. Pria yang kini hanya memakai kemeja putih dan celana bahan itu menatap langit malam.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Naruto pelan, ia mengalihkan pandangannya dan saling menatap dengan Hinata. "Selama ini kau baik-baik saja?"
"Aku baik, sangat baik." Balas Hinata. Sebenarnya gadis itu ingin mengumpat sekarang, setelah ia dan Naruto berpisah tidak ada hal baik yang terjadi. Ia menderita. Sakit hati atas perlakuan Naruto. Dadanya bergemuruh dan nyerti tiap kali harus bertemu dengan Naruto. Dirinya sudah ingin menangis, tapi Hinata memilih tetap tegar. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Naruto. Ia akan kuat!
"Kau... bagaimana bisa mengenal Sasuke?"
"Kami teman sekampus."
Naruto mengangguk, "Kau menyukainya?"
"Tentu saja." Hinata tanpa sadar tersenyum. "Kenapa kau ingin tahu?"
"Hanya penasaran."
Hinata hanya mengatakan 'oh'
"Apa kita bisa menjadi teman?"
Hinata terdiam, terlalu terkejut. "Apa?"
"Kau bisa memaafkanku? Kita masih bisa menjadi teman bukan?" Naruto tampak kikuk. Tidak mengerti kenapa semua itu terucap dari bibirnya.
"Kita-"
"Hinata."
Naruto dan Hinata saling berbalik bersamaan, mendapati Sasuke mendekat dengan wajah gusar. Pria stoic itu dengan cepat menyambar tangan Hinata, menariknya menjauh dari Naruto yang hanya bisa memandang dalam diam.
"Sepertinya mereka benar-benar berpacaran."
"Sepertinya mereka langsung pergi dan pulang."
Naruto terkekeh pada kata-kata Karin yang menghampirinya.
"Kau tidak kesal?" Karin mengernyit bingung pada adiknya.
"Kami akan bertemu lagi."
"Kau dan Hinata? Bagaimana bisa?"
"Aku memberikan jasku padanya."
"Kuno."
Naruto terkekeh lagi. "Tidak masalah."
A New Heart
Sasuke menyeret Hinata cepat menuju mobilnya, menyeret Hinata masuk tanpa menghiraukan sang Gadis yang meringis karena genggaman Sasuke yang sangat kencang. "Sa-Sasuke-san!" Hinata berseru sambil menarik tangannya, membuat genggaman Sasuke terlepas.
"Maaf." Sasuke tampak seperti orang bingung, menatap Hinata dengan wajah bersalah.
"Ada apa?"
"Aku tadi mencarimu, aku harus pulang cepat hari ini. Maaf."
"Mendesak?"
"Ya."
"Baiklah, ayo pulang."
Sepanjang jalan baik Sasuke dan Hinata saling diam. Entah kenapa atmosfirnya terasa agak menyesakkan.
Hinata memasuki kamarnya, ia sedikit terdiam ketika menyadari jas yang diberikan Naruto masih terlampir di bahunya.
"Khe, kenapa dia menjadi sangat baik?" Hinata melepas jas Naruto, dari jas itu menguar wangi segar citrus khas Naruto.
Hinata menghela nafas, dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Jas milik Naruto masih di tangannya, Hinata masih menghirup aroma jeruk Naruto. Rasanya sudah sangat lama wewangian ini tak menyapa penciumannya.
"Hinata Hyuuga, kau mau menjadi pacarku?"
"Padahal aku sangat menyukaimu, Naruto-kun." tanpa dikomando, lelehan air mata itu mengalir. Menghantarkan rasa sesak yang membakar dadanya.
"Aku begitu menyukaimu, Naruto-kun."
Suara getaran ponsel membuat Hinata bangun, segera ia ambil ponsel di atas nakas. Ada nama Sasuke tertera di layar.
"Hallo, Sasuke-kun."
"Kau belum tidur?"
"Belum mengantuk. Ada apa?"
"Kau baik-baik saja? Suaramu serak, kau menangis?"
Hinata berusaha tertawa kecil. "Tidak, sepertinya tenggerokanku sedikit sakit." kilah Hinata cepat.
"Aku ingin minta maaf, aku menyakitimu tadi."
"Tidak apa Sasuke-kun, kau sudah minta maaf tadi."
"Hn, terima kasih, selamat tidur."
"Ah, Sasuke-kun. Bagaimana dengan gaun dan aksesoris yang kau berikan padaku? Akan ku bawa ke binatu dulu, tak apa?"
"Untukmu saja."
"Eh? Aku tidak bisa, ini sangat mahal. Aku tidak bisa menerimanya begitu saja."
"Tidak apa."
"Kalau begitu, aku akan mentraktirmu makan buatan rumah, bagaimana?"
"Tidak buruk. Kuterima. Malam Hinata."
"Ya, selamat malam Sasuke-kun."
A New Heart
Pagi hari di Kampus yang biasanya agak tenang, kini dipenuhi oleh bisik-bisik tukang gosip. Hinata memperhatikan dari mejanya para gadis lain tengah berkumpul dengan kelompok mereka.
"Kudengar tadi malam Sasuke bersama seorang wanita."
Tubuh Hinata tiba-tiba tegang. Namun cupingnya ia pasang lebar-lebar.
"Bohong! Sasuke sudah punya pacar?" Sahut siswi lainnya.
"Apa dari Universitas ini?"
"Aku tidak tahu."
Rasanya Hinata tengah berkeringat dingin sekarang. Bagaimana bila semua orang tahu kalau itu dia? Reaksi macam apa yang akan fans garis keras Sasuke lakukan? Apa dia akan dibully? Membayangkannya saja sudah bisa membuat perutnya mual.
"Hinataaaa...!" Sakura tiba-tiba saja datang ke meja Hinata, menarik kursi dan memandang Hinata dengan wajah sembab.
"Sakura... Ada apa?"
"Sasuke-kun, kudengar dia sudah punya pacar!" Sakura merengek, menghentakkan kakinya. "Kabar ini sudah menyebar ke semua Kampus."
"Ya, aku juga mendengarnya." Hinata gugup. Tapi melihat Sakura seperti ini membuatnya iba. Haruskah ia beri tahu Sakura? Tidak. Ini hanya bohongan, ini cuma permainan. Demi rasa tidak suka mereka berdua pada Uzumaki Naruto.
"Siapa gadis beruntung itu? Aku sebal!"
Hinata menghela nafas, ini jelas tidak baik. Cepat atau lambat pasti akan ketahuan.
"Itu Sasuke!" semua gadis berhamburan menuju jendela, memandang ke lapangan. Begitu pun Sakura dan Hinata.
Di sana Sasuke tengah berjalan bersama seorang gadis berambut pirang, dia menggelayut manja di lengan Sasuke.
Sasuke? Tampaknya dia tidak keberatan.
"Apa dia orang nya?" Para siswi saling bersahutan.
"Aku baru melihatnya."
"Bahkan Sasuke yang biasanya dingin tidak keberatan."
"Hilang sudah kesempatan."
Para siswi lain terus bersahutan dan mengeluh kecewa. Mereka duduk kembali dengan wajah lesu dan tak percaya. Begitupun dengan Hinata, pikirannya terus berkecamuk di kepalanya tentang sosok gadis itu.
"Aku dari Amerika, aku dan Sasuke teman sejak kecil. Kebetulan orang tua kami menjodohkan kami."
Itulah serentetan kata yang didengar Hinata dan Sakura ketika mereka memasuki kantin saat jam makan siang. Kantin yang memang biasanya penuh, kini semakin sesak dengan kerumunan orang-orang yang ingin tahu mengenai gadis yang dibawa Sasuke.
Namanya Shion, dia adalah asisten dosen. Ia gadis yang sangat cantik dengan iris perak dan rambut pirang panjang. Tubuhnya langsing dan jangkung. Wajahnya perpaduan Asia dan Eropa. Ia pindah ke Amerika saat kelas dua SMA. Shion kembali ke Jepang karena rencana perjodohan dirinya dan Sasuke.
"Cantiknya..." Sakura bergumam, matanya tak lepas memandangi Shion. "Dijodohkan ya? Bikin iri saja. Ya kan Hinata?"
"Um." Hinata tidak tahu harus menjawab atau berkata apa. Tidak mengerti kenapa ia harus merasa kecewa.
A New Heart
Karin tengah membaca pembukuan ketika suara ketukan menginterupsinya. Sosok Hinata menyembul masuk ketika Karin mempersilahkan.
"Karin-san."
"Hinata. Ada apa?" Karin menanggapi dengan wajah ceria seperti biasanya. Tapi dari ekor matanya, Karin memperhatikan bungkusan yang dibawa Hinata.
"Um, tempo hari ketika di pesta Naruto-san meminjamkan jasnya. Maaf karena terlalu lama mengembalikannya." Hinata menyodorkan bungkusan yang di bawanya sambil membungkuk hormat pada Karin. "Bisakah saya menitipkan ini untuknya? Saya mohon maaf karena lancang meminta Karin-san."
Karin menyeringai, tertawa dalam hati. Rencana adiknya yang tampak sangat membosankan itu berhasil, padahal Karin pikir Hinata akan membuang jas itu supaya tidak bertemu Naruto. Bukankah gadis ini membenci adiknya?
"Maaf ya Hinata-chan, aku tidak bisa. Bukan aku tidak mau, tapi aku harus ke luar kota setelah ini. Kau bisa mengantarnya ke rumahku, Naruto pasti ada di sana, dia sedang berlibur panjang dari kerjaannya. Jadi pasti dia tengah bermalasan."
"Tapi, Karin-san."
"Tidak masalah, datang saja oke?"
Maka di sinilah Hinata sekarang, mematung di depan pintu apartamen Karin. Sejak tadi tangannya terpekur di udara, enggan memencet tombol bel.
"Astaga, seharusnya aku tidak datang!" Hinata merutuki keputusannya. "Aku pulang saja." Hinata berbalik, ia terkejut ketika melihat Naruto berdiri di belakangnya dengan dua kantung belanjaan penuh di kedua tangannya.
"Hinata? Sudah lama?" Naruto menyimpan belanjaannya di depan pintu, membukanya dan mempersilahkan Hinata masuk. Hinata? Dia mengekori Naruto.
"Maaf tiba-tiba datang," Hinata mendahului Naruto, sedangkan pria itu tengah mengambil belanjaannya yang tertinggal. "Aku tidak akan lama." Hinata tampak gugup, ia merasa takut karena hanya ada Hinata dan Naruto di sini. Semalam ini.
Naruto menutup pintu. "Santai saja, jarang-jarang kau datang." Naruto berjalan ke dapur, menyimpan belanjaannya di atas meja makan.
"Aku hanya mau memberikan ini." Hinata menyerahkan sebuah kantung karton pada Naruto. "Terima kasih sudah memberikan jasmu tempo hari. Maaf karena baru kukembalikan." dan Naruto menerima bungkusan itu dan menyimpannya di samping belanjaannya. "Aku pamit ya, Naruto-san." Hinata membungkuk dan berjalan. Namun baru dua langkah, ia terhenti. Naruto menyambar tangannya, mencegah langkah Hinata. "Ada apa?" Hinata bingung sekaligus takut, Naruto menatap nyalang padanya tiba-tiba.
"Kau... tidak berpacaran dengan Sasuke kan?" suara Naruto terdengar dingin. "Dia sudah bertunangan dengan Shion, ya kan?"
Hinata menggigil takut, seluruh alarm tubuhnya memperingati Hinata untuk segera lari. Tapi tubuhnya kaku, menghianati Hinata yang kini sudah ingin berlari menjauh dari Naruto yang seperti ini. Menakutkan!
"Itu..." Hinata bingung, tak dapat menjawab, karena bungsu Uchiha itu juga belum menjawab perihal pertanyaan soal Shion, juga bagaimana lanjutan rencana mereka yang sudah keburu hancur karena Shion yang tiba-tiba saja muncul.
"Jadi, ada kesempatan untukku, ya kan?" tambah Naruto. Lelaki itu mendekat pada Hinata yang membeku. Tangan kanannya yang kosong membelai pipi Hinata pelan, menhantarkan rasa dingin yang menusuk. "Kita bisa bersama lagi. Kita mulai lagi hubungan kita.."
Iris batu bulan Hinata mengecil, ia terlalu terkejut dan takut. Apa maksud Naruto? Kesempatan? Tidakkah ia ingat bagimana hubungan mereka berakhir dengan sangat menyakitkan? Bahkan tidak ada kata memulai, hubungan itu hanya untuk kepuasan Naruto dan teman-temannya yang bertaruh. Hinata dan perasaan sukanya pada Naruto hanya sebuah permainan.
"Kita sudah berakhir Naruto..." ucap Hinata lirih, mengingat masa lalu membuatnya ingin menangis. "Apa kau lupa?" Hinata sesunggukkan. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Padahal, ia bersumpah untuk tidak menangis di hadapan Naruto, lelaki brengsek yang sudah menghancurkan hatinya.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf."
Entah hilang kemana sosok menyebalkan dan arogan milik Naruto. Pria itu berkata sangat lembut pada Hinata, meminta maaf sambil mengecupi puncak kepala Hinata. Menangkup wajah chubby Hinata, membuat iris mereka saling bersirobok.
"Aku mencintaimu Hinata..."
Hinata terkejut ketika Naruto mengucapkan kalimat itu. Dirinya mencari kebohongan dari iris lautan Naruto yang memandangnya sayu.
"Bohong..." gumam Hinata, ia segera menundukkan kepalanya. Mengindari mata Naruto yang jujur, menggoyahkan rasa benci Hinata yang memang sejak awal tak seberapa.
"Hinata!" Suara teriakan Sasuke terdengar marah di balik pintu apartemen Karin.
"Sasuke?" Hinata hendak berlari menuju pintu, namun kali ini Naruto membekap mulutnya. "Hm?!" Hinata dengan refleks meronta.
"Ck, mengganggu." Naruto dengan sigap memukul tengkuk Hinata, membuatnya langsung tak sadarkan diri. Memangggul Hinata di pundaknya dan membawanya menuju kamar kosong yang biasa digunakan Naruto. Mengambil sepatu milik Hinata dan menyembunyikkannya di kamarnya. Sedangkan Sasuke masih menggedor pintu sambil meneriaki Naruto.
Naruto membuka pintu, memandang bingung pada Sasuke yang memandangnya penuh amarah. "Ada apa teme?" tanya Naruto bingung. Sedangkan Sasuke menerobos masuk.
"Di mana Hinata?!" Sasuke mengedarkan pandangannya. "Dia ke sini kan?!"
"Mana mungkin Teme, untuk apa dia ke sini? Karin kan pergi ke luar kota."
"Teman di Cafenya bilang Hinata ke sini. Di mana dia?!" Sasuke langsung menarik kerah baju Naruto, tangannya sudah siap mengepal untuk memberikan tinjuan pada Naruto.
"Ck!" Naruto memandang malas ekspresi Sasuke yang seperti kesetanan. "Mana mungkin dia datang ke rumah di mana orang yang dibencinya ada di sini Sasuke!"
Sasuke terdiam, melonggarkan tangannya di kerah Naruto.
"Kau ini kenapa? Apa kau pikir Hinata mau ke sini?"
Sasuke menghela nafas, ia terlalu bingung. Tapi dirinya tahu apa yang dikatakan Naruto benar. Untuk apa Hinata datang ke sini?
"Kau berlebihan Sasuke, bisa saja dia pergi ke rumah Sakura, ya kan?"
Sasuke tetap diam tak menjawab Naruto. Dirinya memilih pergi sambil membanting pintu.
Naruto? Dia tersenyum senang, sebuah seringaian tercetak di wajahnya.
"Sayang sekali ya Sasuke, kau tidak akan menemukan Hinata..."
TBC
Mind to RnR?
Bagaimana? Apakah ini bagus? Hehe... semoga puas ya karena memang sangat lama Ritsu tidak Up cerita ini... 😁 Tunggu lanjutannya ya... terima kasih pada rider yang masih setia menunggu Ritsu... salam peluk... SeeU ❤️
