Disclaimer: Naruto bu Masashi Kishimoto
Kakashi kembali mencapai orgasme tanpa ejakulasi. Entah yang keberapa kalinya. Yang pasti dia sudah tidak kuat lagi.
Tubuhnya yang kini lemas, tidak lagi kuat menahan serangan rasa sakit ini. Keringat mengalir deras dan membasahi rambutnya, meskipun ruang bawah tanah ini sangat dingin. Kedua tangannya sudah mati rasa, tetapi dia tahu akan ada bekas luka pada pergelangannya. Kepalanya tertunduk, dengan bibir yang meringis kesakitan dan sesekali mengerang. Pandangan matanya buram, pasti karena air mata yang sejak tadi mengalir.
Dia tidak tahu sudah berapa lama sejak Uchiha Obito itu meninggalkannya seperti ini. Besi dingin yang menyumbat lubangnya itu masih bergetar hebat, sampai-sampai membuat kemaluannya yang sakit juga bergetar. Sakit, tentu saja. Sudah berapa lama kemaluannya itu disumbat? Belum lagi besi yang melingkar di pangkal penisnya, membuat darahnya tidak bisa mengalir kembali ke tubuhnya dan tetap ereksi meski dia tidak lagi merasakan kenikmatan sedikit pun. Jangankan ejakulasi, air kencing pun tidak akan bisa keluar.
Sesekali getaran pada dildo buatan Obito bergetar lebih kencang, membuat otot perutnya menegang dan pingulnya bergerak dengan sendirinya. Tetapi bukan kenikmatan yang dirasakannya, melainkan sakit. Gerakan itu semakin membuat kedua testikelnya yang menggantung semakin tertarik ke bawah akibat besi pemberat yang bergerak maju mundur seiring dengan gerakan kecil tubuh Kakashi.
Dalam rasa sakit itu, Kakashi berada di ambang batas kesadarannya. Tiba-tiba seorang wanita berdiri di hadapannya. Bahkan dia tidak tahu saat wanita itu masuk dari pintu besi di depannya. Dalam pikirannya yang sepertinya sudah tidak waras itu, Kakashi mengenali wajah itu. Bisa dibilang wanita itu lah yang mengawali semua ini. Targetnya. Nohara Rin.
Dengan keadaan dunia yang sama sekali tidak tenang, siapa saja bisa memulai perang dan menyeret negara-negara lain dalam kehancuran. Dan Rin, wanita yang sekarang berdiri di depannya, dengan senyum penuh kesenangan dan tangan yang memainkan kedua putingnya, adalah salah satu orang yang memiliki kemampuan yang mempertahankan kedamaian dalam Konoha. Menyembuhkan.
Tetapi itu tidak penting sekarang, karena dunia Kakashi kini mengecil. Dalam pikirannya, hanya ada rasa sakit yang terus menyerangnya. Dalam kenyataannya, hanya ada Rin yang kini mengelus penisnya. Matanya memejam, menahan air mata yang mengancam untuk mengalir dan giginya mengatup keras, menggigit bibirnya menahan erangan menyakitkan itu.
"Obito bilang dia meninggalkan mainan di ruang bawah tanah." Tangan kirinya mengusap rambut Kakashi agar tidak menutupi matanya, tersenyum manis seolah tanpa dosa. Sementara tangan kanannya masih mengelus kemaluannya, dengan jari-jari halusnya Rin menyusuri setiap lekuk penisnya, setiap urat darahnya yang terlihat sangat jelas, dari pangkal sampai ujung, mengusap kepala penisnya yang tersumbat dan sangat sensitif, dan kembali ke pangkalnya. Tubuh Kakashi yang tadinya sudah lemas tak berdaya kembali menegang hebat. "Kalau tahu seperti ini, aku sudah datang sejak tadi. Sayang sekali."
Rin melangkah ke sebelah Kakashi tanpa melepaskan tangannya dari kemaluannya. Dilihatnya pantat Kakashi yang kencang. Tangannya meraba dan mengelus kedua pantatnya, jari tengahnya menyelinap di antara pantatnya itu, ditemukannya besi yang menyumbat lubang kecil di bawah sana.
"Pantas saja kau tidak bisa berhenti bergerak." Ucap Rin sekenanya. Jari tengahnya itu diletakkannya pada dildo yang masih bergetar, mendorongnya semakin masuk, terus menekan prostatnya semakin dalam sampai tubuhnya tidak bisa lagi bergerak karena rantai yang menggantung kedua tangannya dan menahan kakinya pada lantai. Kakashi mengerang lebih keras.
"Nnnnnggghh!"
"Aku senang kalau kau juga menikmatinya."
Rin kembali ke hadapan Kakashi. Dia memegang ujung penisnya dan memutar-mutar besi tipis yang menyumbatnya. Kemudian Rin menarik besi itu ke kanan, ujung jari-jarinya menelusuri urat-urat kemaluannya yang terpampang jelas di bawah sinar terang lampu di ruangan itu. Tidak lama, kemudian Rin menarik besi itu ke kiri, kini ujung kukunya menelusuri bagian kemaluannya yang lain. Kemudian Rin menariknya ke bawah, dan ujung jari itu juga menelusuri bagian atas penis Kakashi. Dan akhirnya, Rin menariknya ke atas, bukan hanya membuat bagian bawah penis Kakashi terlihat jelas, tetapi juga menampilkan kedua testikel yang sejak tadi belum disentuh Rin.
"Oh, lihat itu."
Rin berlutut di depannya. Kedua matanya tertuju pada dua kantong sperma berwarna keunguan, seperti penisnya, yang menggantung rendah akibat besi yang dilingkarkan Obito pada organ itu, juga pada besi pemberat yang mengayun kecil di bawahnya. Seperti baru pertama kali melihatnya, dengan tangan penasaran, Rin mengelus testikel Kakashi, memutar-mutarnya hingga dia bisa melihat jelas dari semua sisi, memijatnya, mencubit dengan sedikit kasar, dan memeras keduanya dengan kencang. Kakashi sontak berteriak kesakitan.
"Aaaarghh!" Mendengarnya, Rin hanya tertawa kecil. Kembali diulanginya perbuatan itu. Dia tidak akan bosan mendengar jerit kesakitan Kakashi.
Setelah merasa sedikit puas dengan testikel Kakashi, Rin menyentuh besi yang melingkarinya. Kalau saja keadaan Kakashi tidak seperti ini, dia akan mengetahui kenapa Rin sangat ditakuti. Bukan hanya menyembuhkan luka dan penyakit, kemampuan Rin yang sebenarnya adalah menyembuhkan segalanya, termasuk kemampuan spesial orang-orang. Tetapi Kakashi tidak peduli. Yang ada di pikirannya hanyalah Rin yang melepaskannya dari belenggu besi yang menyiksanya. Yang Kakashi tahu, Rin melepaskan kedua testikelnya dari besi pemberat yang terus menarik dan berayun.
Rasa sakit yang menyerangnya ternyata lebih mengerikan daripada saat besi itu membelenggu organnya. Darah yang tadinya tersumbat kini mengalir dengan lancar. Rasanya sangat sakit dan Kakashi mengerang dengan keras.
"Kasihan sekali, pasti sakit, ya? Aku akan membantumu." Rin berkata ringan. Bukannya membantu, apa yang dilakukan oleh wanita itu malah membuat rasa sakit itu menjadi lebih parah lagi. Rin memijat kedua testikelnya. Tidak hanya itu, dia juga terus memijat penisnya yang masih nyeri.
"... tikan ..."
"Hm? Kau mengatakan sesuatu?" Rin menggenggam penisnya sambil menarik besi tipis yang masih tertancap dari lubang uretra Kakashi. Kakashi bernapas berat.
"Berhenti ..."
"Berhenti apa?" Tanya Rin sekali lagi. Dengan perlahan, dimasukkannya kembali besi tipis itu. Rin terkikik melihat Kakashi yang meringis kesakitan sambil menahan napasnya. "Bukankah kau senang kalau ada wanita yang menyentuh kemaluanmu, hah?"
"Hentikan."
"Kau mau aku berhenti?"
Kakashi hanya mengangguk, rasa sakit itu masih saja menyerangnya.
"Kenapa?" Kakashi memejamkan matanya saat tangan wanita itu menarik dua kantung bolanya, kemudian melepaskannya, dan menariknya lagi.
"Sa-"
"Kau kesakitan?" tanya Rin seolah penderitaan Kakashi bukanlah perbuatannya. "Tapi kau mencoba emmbunuhku, kan, Kakashi? Aku bisa saja mati. Kenapa kau menyuruhku untuk berhenti menyakitimu, hah?"
Getaran besi yang menyumbat anusnya itu sedikit menurun, tidak lagi bergetar hebat seperti sebelumnya. Entah Kakashi harus merasa lega atau tidak. Itu berarti getaran yang menyerang titik kenikmatannya itu tidak lagi menyiksanya dengan kenikmatan, tetapi sebagai gantinya, Kakashi hanya bisa merasakan kesakitan yang luar biasa sekarang.
"Aku bisa saja membunuhmu saat ini juga. Tetapi aku tidak melakukannya. Aku mengampunimu, Kakashi."
Napas Kakashi kembali tercekat ketika Rin menggenggam kuat testikelnya, menariknya maju, padahal dengan rantai di kedua tangan dan kakinya, Kakashi tidak bisa bergerak kemana-mana.
"Aaaaaarrgggghhh!"
"Aku mengampunimu. Sekarang kau milikku dan Obito. Kau milik kami, Kakashi. Kami akan melakukan apapun padamu. Kamiakan menyakitimu, tetapi kami juga akan menikmatimu. Kau dengar?" Kakashi mengangguk cepat. Dia sudah tidak kuat lagi. Rasanya dia mau pingsan.
"Bagus." Rin melepaskan genggamannya, membuat testikel Kakashi menggantung tak berdaya, berkedut hebat di bawah penisnya.
"Kalau kau sudah mengerti., aku akan memberimu hadiah."
Tiba-tiba Kakashi merasakan sebuah jilatan pada puting kirinya. Ketika da membuka mata, dia melihat Rin yang menjilati putingnya. Kemudian dia mengulumnya, dan sesekali menggigitnya. Puting yang satunya pun tak luput darinya, jari-jari halus itu kini memelintir putingnya, mencubit, dan kembali memelintirnya. Kenikmatannya itu sedikit mengaburkan rasa sakit yang dideritanya di bawah sana.
Setelah itu, Rin menciumi dadanya, menelusuri dengan lidahnya sampai ke leher Kakashi, menciumnya di sana, dan sampailah dia pada bibir Kakashi. Dengan cepat, wanita itu mencium Kakashi. Dia memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Kakashi, mengajak lidahnya untuk menari, dan menelusuri bagian atas rongga mulut Kakashi, membuatnya melenguh nikmat meski masih merasakan sakit.
Rin menarik bibirnya, menyeringai pada Kakashi sambil memijat puting dan penisnya yang masih tersumbat.
"Kau mau aku melepaskan ini, Kakashi?" tanyanya sambil memutar-mutar besi tipis di dalam penisnya. Kakashi mengangguk pelan, napasnya masih terengah-engah.
"Baiklah."
Dilepaskannya puting Kakashi, dan tangan itu kini mengenggam kemaluan Kakashi lagi. Dengan perlahan, Rin menarik ujung besi itu hampir sepenuhnya. Kemudian dimasukkannya lagi ke dalam. Melihat wajah Kakashi yang nampak kesakitan, Rin mengulanginya lagi. Dia menarik besi itu, lalu dimasukkannya lagi. Terus seperti itu, seperti bagaimana Obito mendorong masuk penisnya yang keras, panas, dan panjang ke dalam lubang vaginanya. Lama kelamaan, dilihatnya Kakashi yang sudah tidak meringis kesakitan lagi. Kakashi melihat ke bawah, penisnya yang berwarna keunguan dan lebih besar dari biasanya itu masih terasa sakit, namun kini ada sebuah kenikmatan yang menemaninya.
Tangan Rin yang memeganginya tidak tinggal diam. Seirama dengan besi yang ditarik dan didorongnya itu, tangan tersebut memompa penis tegang Kakashi dengan cepat. Dengan rangsangan luar dalam, rasa sakit yang sejak tadi menyiksanya kini bercampur nikmat yang kembali membuatnya ingin orgasme. Kakashi melenguh keenakan.
"Nnnggghh ..."
"Kau senang sekarang?" tanya Rin yang memompanya dengan keras.
"Haaa ... haah ... haaaah ..."
"Aku akan mengeluarkan ini sekarang." Dengan pompaan yang semakin keras dan cepat, Rin mencabut besi tipis yang menyumbat lubang penisnya. Cairan putih ikut keluar bersamanya, menetes perlahan pada tangan Rin yang memegangi batang penis Kakashi.
"Oooops." Rin membuang besi tipis yang berlumur cairan putih itu ke lantai, suara yang ditimbulkannya terdengar nyaring di telinga Kakashi. Dengan telujukknya, Rin menutup lubang penis Kakashi yang masih meneteskan cairan tersebut ketika dilihatnya otot perut Kakashi yang menegang dan tubuhnya yang bergetar, seolah dirinya akan mencapai klimaks yang hebat. "Aku tidak mengizinkanmu untuk orgasme."
Kakashi berusaha mengatur napasnya. Meski berkata begitu, Rin tetap saja memompa penis Kakashi, memberikan rangsangan pada ereksinya yang terlalu sensitif. "Ku ... mohon ..."
"Apa?"
"Please ..."
"Biar kutebak. Kau mau aku berhenti?" mendengar hal itu, Kakashi menggelengkan kepalanya. "Hm?"
" ... tidak ..."
"Lalu?" Rin mengelus-elus kepala penis Kakashi, memainkan lubangnya dan menyebarkan cairan yang sedikit keluar dari sana. "Oh. Maksudmu kau mau orgasme yang sempurna, huh?"
"Please ..."
"Rupanya kau belajar dengan cepat, ya. Baiklah, karena kau menurut, aku akan mengabulkan permintaanmu." Rin mencium bibir Kakashi, dan berbisik dengan lembut. "Aku akan membiarkanmu orgasme saat aku melepaskan besi yang melingkari testikelmu. Tidak sebelumnya, tidak setelahnya. Begitu aku melepasnya, kau harus orgasme saat itu juga. Kau mengerti?"
Kakashi mengangguk dengan antusias. Dia sudah tidak tahan lagi menghadapi rasa sakit sekaligus nikmat itu.
"Kau siap?" tanya Rin sekali lagi sambil sedikit bergeser ke samping Kakashi. Tangannya mengelus pantat kenyal Kakashi, kemudian meletakkan jarinya pada besi bergetar yang menyumbat lubang pantatnya. Tangan yang satunya masih memompa kemaluannya, kemudian disentuhnya besi yang melingkar di pangkal penis Kakashi.
"Kakashi!" Ucapnya begitu dia melepaskan besi yang membelenggu pangkal penis tegang itu.
Seketika itu pula dipompanya dengan keras penis itu dan didorongnya besi yang bergetar itu masuk lebih jauh ke dalam, membuat tubuh Kakashi yang tegang sampai-sampai otonya keram itu ikut terdorong sedikit ke depan. Rasa teramat sakit yang menyerang penisnya dan rangsangan berlebihan akibat ulang Rin saat itu langsung membuat Kakashi orgasme dan ejakulasi. Cairan sperma yang sejak tadi mendesak keluar kini menyembur dengan bebas dari lubang penisnya yang tidak lagi tersumbat. Benar saja Rin berdiri di samping Kakashi, kalau tidak dirinya pasti sudah terkena air mani Kakashi. Cairan yang menyembur itu mendarat dua tiga meter di depannya, dan masih menyembur dengan kencang. Tangan Rin masih memompa Kakashi, dengan genggaman kuat wanita itu seolah memerah susu sapi dari penis Kakashi yang masih menyemburkan spermanya. Teriakan Kakashi menjadi musik indah di telinganya.
Sampai hampir satu menit kemudian, barulah penis Kakashi sedikit lemas dan pandangan Kakashi menjadi buram. Rasa nikmat kembali menjadi sakit yang luar biasa ketika tangan Rin tidak berhenti memerahnya meskipun sudah tidak ada lagi cairan sperma yang keluar. Kedua testikelnya yang tadi menggantung berat, kini sudah menciut. Tetapi besi itu masih bergetar di lubang pantatnya, merangsang prostatnya dengan kenikmatan yang berlebih.
Kakashi tidak sadarkan diri.
Kakashi membuka matanya. Dadanya terasa berat. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit ruangan dengan lampu indah di atasnya.
"Kau sudah bangun, Kakashi?"
Kakashi menoleh ke arah sumber suara di sampingnya. Uchiha Obito duduk di ranjang, dekat kepala Kakashi, sambil memainkan tabletnya. Separuh wajahnya yang terluka menunjukkan senyuman. Kakashi terdiam.
"Hmm?"
Rin, yang ternyata menidurkan kepalanya di dada Kakashi juga ikut membuka matanya dan menoleh menatap Kakashi. "Akhirnya kau bangun juga."
Rin kembali menidurkan kepalanya di dada Kakashi, tangannya kini usil memainkan puting Kakashi, merangsangnya dengan jari-jari lembut itu. Obito pun tidak ketinggalan. Dia meletakkan tabletnya entah dimana, kemudian mencium bibir Kakashi dengan kasar, memasukkan lidahnya dan mengusap rongga atas mulutnya. Tanpa sadar, Kakashi melenguh. "Nnngggh."
"Aku merindukanmu." Ucap Rin. Kini tangannya bergerak ke bawah, mengelus perut Kakashi, pusarnya, dan rambut-rambut kasar yang menutupi kemaluannya. Dan Obito menciumi lehernya, menghisap keras tepat di atas pembuluh darahnya. "Kau tidak sadar kemarin. Kini aku sudah tidak sabar."
"Apa ...?" suara Kakashi terdengar aneh. Pasti karena sudah tidak digunakannya selama dua hari, seperti kata Rin.
"Kau pingsan setelah orgasme kemarin. Karena kau sudah bangun sekarang, aku ingin mencicipi dirimu." Kata Obito disela-sela gigitannya. Kakashi kini sudah tidak terlihat seperti orang bingung. Potongan ingatan-ingatan itu kini kembali.
"Ya. Kau itu mainan kami Kakashi. Kau milik kami."
Tangan Obito menggerayangi tubuh Kakashi. Seperti Rin yang masih memainkan rambut kemaluan Kakashi, tangan Obito langsung menjamah kemaluannya. Tanpa segan-segan, tangan kasar itu menggenggam penis Kakashi yang masih lemas. Namun, akibat perlakuan Obito, penis itu membesar dan memanjang, sedikit demi sedikit mengeras dan berdiri tegak di bawah selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka.
Rin menarik selimut itu. Angin kecil berhembus dari pintu balkon yang terbuka di samping ranjang mereka, membuat Kakashi merinding karena kedinginan dan rangsangan Obito dan Rin. Dia tidak bisa menghentikan mereka. Tangannya meremas sprei kasur yang mereka tempati. Rin kini beralih menciumnya sambil memainkan putingnya yang juga mengeras. Sementara itu, Obito memompa penisnya dengan penuh semangat. Napas Kakashi memburu, tubuhnya memanas, dan jantungnya berdegup kencang.
Tiba-tiba Obito melepaskan kemaluannya. Dengan seringai di wajahnya, dia berkata. "Kakashi, tenanglah. Kau baru saja bangun, jangan memaksakan dirimu."
"Obito benar. Kau harus memulihkan tenagamu terlebih dahulu. Istirahatlah." Rin menambahkan, seolah-olah bukan salah mereka kalau Kakashi terangsang dan hampir saja orgasme tidak lebih dari lima belas menit setelah dia terbangun. Meskipun begitu, Rin tetap memainkan puting Kakashi. Memelintirnya dan mencubitnya. Kakashi mengatur napasnya dan mencoba menenangkan dirinya.
"Akan kubawakan makanan."
Obito sekali lagi mengulum bibir Kakashi, kemudian bangkit dari ranjang dan mengambil sebuah yukata tipis dari bangku di bawah tempat tidur. Sebelum pergi meninggalkan mereka, Obito menarik selimut sampai menutupi pinggang Rin. Sayangnya selimut itu hanya sampai paha atas Kakashi, menyisakan kemaluannya yang masih berdiri tegak untuk dipandang Rin.
Rin menidurkan dirinya di dada Kakashi lagi, jemarinya membiarkan puting Kakashi untuk beristirahat. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi organ di bawahnya. Sambil menggumamkan sebuah lagu, jari telunjuk Rin mengelus-elus penis Kakashi. Dari lubang penisnya sampai pangkal sebelum testikel Kakashi, kemudian kembali ke atas. Bagaimana dia bisa beristirahat kalau seperti ini?
Angin dingin kembali berhembus dan penis Kakashi masih berdiri tegak.
Hai! Maaf baru update setelah beberapa tahun saya lupa soal fanfic ini. Maaf maaf!
