Explained

.

.

.

.

.

MarkChan/MarkHyuck

Cast : Mark Lee, Lee Haechan, NCT, Other.

Rate : T+

Warn! : BxB, tidak jelas, typo, dll.


"Kau akan jadi milikku, aku mencintaimu

.

.

.

.

.

Donghyuck-ah." Mark mengusap pelan kepala milik Haechan dan kembali menuju kasur miliknya

.

.

.

.

.

Bunyi berderit tanda bahwa Mark sudah singgah di kasur miliknya. Dengan takut Haechan membuka kelopak matanya, napasnya tersengal-sengal sebab kejadian yang baru saja terjadi. Ya, Haechan sudah bangun sejak Mark dia datang ke ranjang miliknya. Haechan mendudukkan dirinya di atas kasur, ia meremat selimut miliknya. Menggigit bibirnya disertai rona merah disekitar pipinya. Ia merasa malu sekaligus takut dengan kejadian tadi. Malu karena ciuman pertamanya telah direnggut, dan takut karena sifat Mark yang berbeda dari biasanya.

Ia kembali tidur di kasurnya, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Haechan meringkuk di dalamnya sehingga tubuhnya menjadi seperti gumpalan selimut. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, ia berdoa agar bisa tertidur kembali dan melupakan kejadian tersebut.

Ya. Semoga saja.

.

.

.

.

.

Alarm berdering, membuat Mark yang sedang menikmati menikmati bunga tidurnya pun terusik. Ia membuka matanya, mendudukan dirinya lalu menguap pelan. Mark mencium aroma masakan dari dapur? Apa Haechan sedang membuat sarapan? Mark turun dari kasurnya; hendak menyampiri Haechan di dapur. "Kau sedang membuat apa?" Tanya Mark membuat pemuda manis dihadapannya tersentak kaget. "M-mark hyung? Ah! Aku sedang membuat sarapan untuk kita berdua. Kau ingin sarapan atau mandi dahulu?" Tanya Haechan tanpa sedikitpun menatap Mark. "Aku ingin sarapan dulu." Haechan melirik Mark dari ekor matanya "Baiklah. Sarapan sebentar lagi akan siap. Kau duduk saja di ruang makan, nanti aku siapkan."

Mark mendudukkan dirinya dikursi menunggu sarapan yang dibuat Haechan. 5 menit kemudian Haechan datang sambil membawa makanan mereka berdua. Dan dilanjutkan dengan acara makan mereka.

"Haechan-ah mau pergi ke kampus bersama?" Tanya Mark disela-sela acara makan mereka. Haechan menghentikkan kegiatan makannya dan menatap Mark; menimang-nimang ajakkan seniornya tersebut.

"Apa tidak merepottkanmu, hyung?" Tanya Haechan memastikkan.

Mark menggeleng, lalu terkekeh pelan. "Tentu saja tidak. Akhirnya aku ada teman pergi." Lantas pipi Haechan bersemu, "Ba-baiklah aku mau." Sebenarnya Haechan ingin menolak, karena masih malu dengan kejadian tadi malam. Tapi mana mungkin dia menolak rezeki, kan? Hitung-hitung menghemat uang saku juga.

Memang mereka tinggal di Asrama milik Kampus. Tapi Asrama tersebut hanya menyiapkan tempat tinggal saja, letaknya juga sedikit jauh dari kampus. Karena takut mahasiswanya membolos di Asrama. Tapi tenang saja, petugas keamanan selalu mengecek kamar mereka satu persatu saat jam kegiatan kampus berlangsung.

SKIP

09.00 AM

Haechan membungkukkan badannya, berterima kasih karena Mark sudah mengantarnya. "Terimakasih sudah mengantarku hyung!" Mark tersenyum, "Sama-sama. Pulangnya ingin ke jemput?" tawar Mark.

"Um tidak usah hyung." Haechan meringis saat melihat ekspresi kecewa Mark. "Soalnya aku akan pulang dengan Renjun, Jeno dan Jaemin!" jelasnya. "Mereka siapa?" Tanya Mark. "Mereka temanku waktu SMA hyung, ternyata mereka juga lulus di kampus yang sama denganku. " Mark mengangguk paham, "Yasudah sampai jumpa lagi, Haechan." Haechan mengangguk lalu melambaikan tangannya "Dah hyung~"

"Mark?"

sebuah suara mengintrupsinya, Mark mengalihkan pandangannya ke sumber suara. "Doyoung... hyung?" yang dipanggil hanya menganggukkan kepalanya. Doyoung menatap Haechan lalu menatap Mark dengan lekat. "Mungkin nanti malam aku akan datang ke rumahmu. boleh kan, Minhyung?" Mark menimang sebentar, "Boleh saja hyung, tapi jangan malam-malam ya? Sekarang aku punya teman sekamar." Mark tertawa pelan.

Doyoung mendengus, "Tentu saja. Ayo kita ke kelas. Sebentar lagi dosen masuk." Mark mengangguk dan mereka pun jalan bersama.

SKIP

10.00 PM

Mark memainkan game di ponselnya dengan bosan, ia melirik ke arah kasur Haechan dan melihat pemiliknya sudah berjalan-jalan di dalam mimpinya. Ia menghela napas, kalau bukan karena Doyoung, ia tak mau repot repot bangun jam segini.

Tok! Tok!

Terdengar bunyi ketukan pintu, Mark meletakkan ponsel miliknya lalu berjalan ke arah pintu masuk.

Cklek!

Mark membuka pintu dan mendapati Doyoung yang sedang menggigiti kukunya, apa dia sedang resah?

"Silahkan masuk hyung." Mark sedikit mundur untuk memberi jalan kepada Doyoung. Doyoung mengangguk dan masuk kedalam.

"Kau mau minum apa hyung?" tanya Mark sambil membuka lemari es. "Apa saja," Doyoung memberi jeda, "Minhyung...?" Panggil Doyoung dengan pelan. "Apa?" Tanya Mark sambil memberi sebotol cola kepada Doyoung.

Doyoung menggeleng pelan, "Aku takut yang sedang berbicara denganku sekarang bukan Minhyung, tapi Mark." Mark mendengus, membuka botol cola miliknya dan meminum dengan rakus. "Kau gila hyung? Padahal kau yang meminta Minhyung, bukan Mark kan?" Doyoung mencebikkan bibirnya. "Tapikan aku meminta kepada Mark!"

Mark tertawa, "Lantas. Ada apa kau kesini, bunny?" Doyoung memutar bola matanya; jengah atas tingkah laku Mark.

"Anak itu. Dia yang kau ceritakan?" Tanya Doyoung. "Donghyuck? Ya dia anaknya." Doyoung menatap Mark dengan sendu. "Kau tau Minhyung- aku sudah mengenal sifatmu lama, dan-"

"Aku memakai Mark." Potong Mark.

"Maksudmu?"

Mark tersenyum kecut, "Hyung. Kau lupa? Sejak dulu, keluargaku tidak puas dengan Minhyung. Akhirnya mereka memasukkan Mark ke dalam tubuh ini. Dan kau tau hyung? Semenjak itu aku selalu melihat dari 'dalam' bagaimana Mark mengendalikan tubuh ini dengan sukses, dia selalu berprestasi. Keluargaku bangga dengan Mark. Hingga akhirnya mereka menghapus Minhyung." Mark mengepalkan tangannya.

"Akte dan semua surat apapun itu yang bernama Minhyung, mereka ganti dengan nama Mark. Mereka menganggapku tidak ada hyung..." Mark menggigit bibir bawahnya. "Saat itu aku sedang ingin 'muncul', lebih tepatnya saat natal. Dan aku bertemu dengan Donghyuck di gereja. Perasaanku saat itu sangat senang, ternyata masih ada seseorang yang mau mendekatiku sebagai Lee Minhyung bukan Mark Lee atau siapapun itu." Mark mendesah pelan, "Tapi saat pulang dari gereja. Orang Tua ku tau bahwa aku Minhyung. Dan merekapun memukulku tanpa ampun."

Doyoung bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju Mark dan memeluk adik kesayangannya itu sambil menepuk punggungnya. "Minhyung... Aku tidak bisa membantu banyak. Mungkin saja Donghyuck mau menerima kalian berdua, tapi kalau tidak? Hanya satu cara. Kau yang tertidur selamanya atau Mark yang tertidur." Doyoung melepaskan pelukannya dan berjalan kearah pintu, "Minhyung." Doyoung menatap ke arah Mark. "Harusnya namamu yang Mark, bukan Minhyung. Nama kalian berdua kenapa terbalik gitu sih?" Doyoung mendengus lalu membuka pintu, "bye Minhyung." Doyoung pun hilang dari pandangan Mark.

.

.

.

Mark menutup pintu kamarnya, ia jadi kepikiran dengan perkataan Doyoung. Bagaimana kalau memang Donghyuck memilih Mark?. Mark berjalan menuju kasur Haechan, menatap pemuda manis tersebut yang sama sekali tidak terusik dengan dirinya. Mark menarik selimut dari tubuh Haechan, mengakibatkan pemuda tersebut meringkuk akibat kedinginnan. Mark yang melihatnya pun tersenyum.

"Biar aku yang menghangatkanmu. Sayang."

Mark merangkak menuju tubuh Haechan, menahan berat badannya agar tidak menimpa tubuh beruang manisnya tersebut. Jarak diantara keduanya sangat dekat sampai-sampai Mark bisa merasakan napas milik Haechan.

Dengan perlahan Mark membuka kancing piyama milik Haechan, hanya 3 kancing, namun sudah bisa membuat dadanya terekspos. Mark sedikit menurunkan piyama di pundak kanan Haechan. Ia menelusupkan kepalanya di perpotongan leher pemuda tersebut.

"Donghyuck Donghyuck Donghyuck Donghyuck Donghyuck Donghyuck Donghyuck Donghyuck Donghyuck-" Bisik Mark pelan, menghirum aroma tubuh Haechan yang terasa seperti vanilla bercampur dengan kayu manis.

Gila.

Mark mabuk dengan aroma Haechan.

Ia mengangkat kepalanya dari leher Haechan. Menatap wajah damai Haechan, tangannya memegang rahang Haechan sedikit menarik kebawah agar mulut itu terbuka.

Sebut saja Mark gila tapi memang itu kenyataannya. Dibanding mencium, Mark malah menuangkan saliva miliknya kedalam mulut Haechan yang terbuka. Tidak hanya mulut, pipi, leher dan dada Haechan mengkilap karena terkena saliva milik Mark.

Setelah selesai Mark menatap karyanya dengan puas. Tak sengaja matanya menatap nipple milik mungil Haechan, tangannya meraba dua nipple tersebut. Mengelus dan menekannya dengan lembut. Hingga Ia merasakkan tubuh dibawahnya menegang dan bergetar karena menerima rangsangan yang ia berikan.

TBC


GILA AKU NGETIK APAAN INI.

Btw kalian kedepannya kalau Minhyung yang muncul, deskripnya mau tetep Mark atau Minhyung? Kalau mau tetep Mark gak bakal ketuker sih, Mark sama Minhyung manggil Echan beda... Atau mau gimana?